Wednesday, March 13, 2013

Natuna Sebelum Kemerdekaan (Part II)

baca part I, klik di sini.

PEREKONOMIAN SAAT ITU
Berdasarkan inisiatif Kerajaan Riau Lingga, di Pulau Midai di buka lahan untuk di tanam pohon kelapa (1895) untuk kesejahteraan Kerajaan sehingga didirikanlah sebuah serkah atau sejenis koperasi yang di beri nama “Ahmadi” tahun 1906 yang oleh Bung Hatta di nyatakan Koperasi yang tertua di Indonesia. Setiap tahun oleh kerajaan memungut dan mengambil hasil dari hasil kopra yang di jual di Singapura dan termasuk pungutan pajak hasil bumi di setiap wilayah yang dikuasai Datok.

Ahmadi & Co.

Waktu itu wilayah Pulau Tujuh (Kabupaten Natuna) merupakan gudang kelapa kering terbesar di Kerajaan Riau Lingga, Sehingga bermunculan Sekah-serkah (koperasi) di wilayah Pulau Tujuh. seperti : Koperasi yang pertama kali didirikan adalah “Syarikat Natoena Co. Sedanau” tahun 1318 H yang di pelopori oleh Amir Raja Idris, kemudian menyusul “Syarikat Ahmadi” di Midai tahun 1324 H (1906) dan “Syarikat Terempa tahun 1332 H (1913) yang di beri nama”Syarikat Maatschappailijk Kapital“.


Ahmadi & Co.

Setelah penguasa Belanda menghapuskan Kerajaan Riau Lingga berdasarkan Stbld. 1913 No.51, maka di terbitkan pula surat keputusan baru berdasarkan “Javache Ceorant dan Cewestelijkkeur 11.C” yang menetapkan bahwa pungutan cukai oleh Datuk Kaya diteruskan dengan catatan orang luar di kenai cukai, sedangkan bagi anak negeri bebas cukai.

Gedung Ahmadi & Co. Midai Natuna


Untuk menguatkan kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda di Wilayah Pulau Tujuh, maka diterbitkanlah sebuah keputusan Stbld.1913 No.19 agar dibentuk “Onderdistricht dan District” dengan menempatkan seorang Amir dimana adanya Datok sangat jelas begitu dibubarkannya Kerajaan Riau Lingga makin leluasalah Kolonial Belanda menjalankan roda Pemerintahan, dan terakhir dengan Stbld 1917 No. 55 menetapkan belasting (cukai) hasil kopra di wilayah Pulau Tujuh dan Kekuasaan Datok Kaya semakin lemah karena tindakan sepihak oleh penguasa Belanda. Habisnya kekuasaan Datuk Kaya di Wilayah Pulau Tujuh sampai menjelang penyerahan kedaulatan.

sumber : natuna.org dan media.kompasiana.com

baca part III, klik disini

No comments:

Post a Comment