Wednesday, March 13, 2013

Natuna Sebelum Kemerdekaan (Part III, habis)

baca partII, klik disini

Pemerintahan Menjelang Perang Dunia II (1941-1945).
Sebelum pecah Perang Dunia II tahun 1941-1945 para pejabat yang masih menjabat sebagai “Amir” di Kepulauan Anambas dan Natuna adalah sebagai berikut :
  1. Pulau Jemaja : Almarhum Moehammad Yoenoes.
  2. Pulau Siantan : Almarhum Moehammad Dahlan.
  3. Pulau Midai : Almarhum Raja Moehammad (mantan Sekretaris Gubernur pertama Propinsi Riau).
  4. Pulau Serasan : Almarhum Amir Bismarack.
  5. Bunguran Barat : Almarhum amir Rd. Soewardiono.
  6. Bunguran Timur : Almarhum Amir Ibrahim.
  7. Pulau Tembelan : Almarhum Encik Moehammad Apan (mantan Bupati pertama di Kepulauan Riau).
Para Pejabat ini tidak lagi keterkaitannya dengan penguasa Kerajaan Riau Lingga dan Kekuasaan Amir (Camat) waktu itu adalah penempatan yang diangkat oleh penguasa Belanda yang memperbantukan atasannya (Kontelir) di Wilayah Kepulauan Anambas dan Natuna.

Para Amir inilah yang selalu mewaspadai dirinya selaku Kepala Daerah, karena begitu jepang masuk di antara pejabat yang di internir adalah Almarhum M. Dahlan hingga tidak diketahui dimana meninggalnya.

Setelah Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, rupanya tentara Belanda masih ingin menjajah di Republik Indonesia ini dan terjadilah agresi melawan Belanda. Di Pulau Midai terjadi pemberontakan Merah Putih pimpinan H. Basri Sabeh dan di Ranai terjadi penembakan tentara Belanda oleh Sareng dan MS. Kambay. Sersan Yansen kena tembakan dan Komandan Letnan Engels sempat menyelamatkan diri.

sumber : natuna.org
Sumber Buku :
Imbas Perang Pasifik di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau)

Oleh Wan Tarhusin, Bsc.

No comments:

Post a Comment