Wednesday, December 30, 2015

Eksplor Kepulauan Seribu : Kelor, Onrust dan Cipir

Mengisi liburan akhir pekan di Jakarta merupakan hal wajib bagi sebagian orang, termasuk saya. Saya yang dulu pernah menggerutu untuk tinggal di Jakarta karena mindset awal yang "tak bertanggungjawab" tentang hiruk pikuk ibukota, akhirnya lambat laun sangat menikmati tinggal di ibukota negara tercinta ini. Ternyata ada 1001 cara untuk menikmati Jakarta, sesuai bidang yang kamu suka tentunya. Berhubung saya menyukai jalan-jalan dan juga suka bersosial, bergabung dalam sebuah komunitas adalah hal yang harus bagi saya. Dan, hal itu mengantarkan saya berada di komunitas Backpacker Jakarta (BPJ) dengan anggota ribuan orang. Saking ramenya, grup whatsApp BPJ sampe dibagi-bagi, dan saya tergabung dalam grup whatsApp BPJ #9 (kami biasanya menyebut RT, jadi grup whatsApp 9 bilangnya RT 9) yang isinya makhluk-makhluk astral dengan otak sengklek. -_-

BPJ mempunyai banyak agenda yang kebanyakan dilakukan saat weekend, sangat memfasilitasi kebanyakan anggotanya yang sebagian besar bekerja dan mempunyai waktu saat weekend saja. Biaya ngetrip bareng BPJ yang terjangkau dengan sistem sharecost (patungan), membuat setiap perjalanan mempunyai nilai dan kesan tersendiri. Sayangnya, berkali-kali trip yang diadakan BPJ saya lewatkan begitu saja karena waktu yang kurang tepat. Namun minggu ini (kemarin) BPJ mengadakan ODT (one day trip) ke 3 Pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Kelor, Pulau Onrust dan Pulau Cipir. I must join that!

Dan Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga ikut tripnya BPJ setelah 8 bulan gabung, sebulan lagi melahirkan ni. Biayanya 65 rebu doank lo, dengan meeting point di Muara Kamal. Namun panitia menawarkan opsi lain bagi yang ingin berangkat bareng, nyumbang 20rebu lagi, ngumpul di depan Museum Indonesia, dan dari sana berangkat bareng naik kopaja ke Muara Kamal.

Saya antusias sekali karena ini trip kali pertama, hahaha. Jadi pagi-pagi udah bangun, jam 5 pagi ke stasiun Cawang naik KRL ke Stasiun Kota, di stasiun nemu beberapa orang (dari RT tetangga) dan akhirnya berangkat bareng ke tempat meeting point di museum Indonesia, tik tok tik tok nunggu bentar dan capcuss ke pelabuhan Muara Kamal.
Pelabuhan Muara Kamal
Nyampe disana rupanya udah ada beberapa anak BPJ yang sampe duluan. Duduk bentar pesen kopi 3 ribuan sambil nunggu panitia (entah apa yang mereka lakuin). Peserta kali ini ada sekitar 60an orang dibagi dalam 2 perahu. Sekitar jam 8 kita briefing bentar sebelum naik ke perahu menuju pulau. Do'a jangan lupa ya..
Berangkaaaaaat.
Temen Baru, Pengalaman Baru, hobby sama : Jalan2men!. Potooo dulu lah.

Pulau Kelor
Destinasi pertama adalah pulau Kelor, perjalanannya memakan waktu 30 menit aja dari pelabuhan Muara Kamal. Sepanjang perjalanan saya mengambil posisi paling depan, sambil jejemuran kaya turis lokal. B)
Ngerasa kaya Nahkoda, keren sendiri gitu kalo udah berdiri diujung perahu. hha

Hampir sampeee
Naik perahu dengan posisi duduk paling depan ini jadi mengingatkan saya dengan kampung halaman, (tiba-tiba homesick). Disana tiap nyebrang ke pulau-pulau selalu duduk didepan, ditemani laut biru. Bedanya disini ya itu, sepanjang jalan ditemani dengan hitamnya laut dan banyaknya sampah yang mengapung, sedikit merusak mata. -_-
Pulau Kelor memiliki Pasir Putih yang indah
Setelah berlayar selama 30 menit akhirnya kami sampai di pulau Kelor, tak terlalu luas memang, namun pulau Kelor memiliki pasir pantai putih yang menawan dan khas nya pulau ini adalah ia memiliki benteng peninggalan Belanda dari tahun 1600 - 1700an dan masih kokoh berdiri hingga saat ini : Benteng Martello namanya. Dahulu benteng Martello sangat besar dan digunakan sebagai pertahanan dari serangan bangsa Portugis. Namun kini hanya satu bagian saja yangmasih terlihat utuh, sisanya hanya kenangan mantan reruntuhan-reruntuhan benteng yang masih bisa kita lihat. Cuaca cerah, tempat bagus, dan kamera di tangan. Apalagi yang ditunggu? Hajarrrrr!!! hahaha
Potopoto dulu laaah.
Keindahan pulau ini juga sering menjadi tempat-tempat pribadi para artis dan konglomerat menyewanya untuk sebuah hajatan, biasanya sih resepsi pernikahan gitu.
Potoo duluuu


Pulau Onrust
Pulau Onrust dari kejauhan
Setelah puas di Pulau Kelor, perjalanan berlanjut ke Pulau Onrust. Pulau ini tak kalah kerennya dengan pulau Kelor. Pulau Onrust ini dulunya merupakan asrama Haji bagi para calon jemaah haji yang akan berangkat ke Mekkah, juga terdapat dok kapal yang dulunya digunakan untuk perbaikan kapal yang akan berlayar ke daerah Asia. 
Pulau Onrust

Pulau ini ditetapkan sebagai museum pulau, karena hampir seluruh isinya merupakan benda yang mengandung nilai sejarah. Terdapat reruntuhan asrama haji, benda-benda arkeologi, kuburan Belanda dan Pribumi, serta bangunan kuno dan reruntuhan benteng. Disini juga terdapat penjara yang digunakan saat kependudukan Jepang di Indonesia. 
Explor Pulau Onrust

Kami tiba disana saat sudah siang, jadi berjalan sebentar dan istirahat sambil makan siang, ini ni yang saya bilang tadi, trip bareng BPJ gak akan kelaperan deh, banyak banget makanan yang dibawa, ditambah lagi makan bareng2 semua diacampurin, semua sama, sama semua. hahaha. Maknyosss.. 
Ohya, tapi jika kamu lupa bawa bekal, jangan khawatir, disini terdapat beberapa kantin kok untuk membeli makan dan minuman.Harga "menyesuaikan" ya. :D
Ritual Wajib : Potoooooo
Pulau Cipir 
Pulau Cipir
Jembatan yang dibangun kembali
Destinasi terakhir adalah Pulau Cipir. Letaknya tak jauh dari pulau Onrust, bahkan zaman dulu pernah ada jembatan untukmenghubung kedua pulau ini. Dan saat ini jembatan tersebut akan dibangun kembali. Fasilitas pulau Cipir tak jauh beda dengan pulau Onrust, ada asrama Haji, barak2, rumah sakit, kakus umum, dan perkantoran. Juga terdapat reruntuhan benteng seperti benteng Martello di pulau Kelor. 
 
Pulau Cipir

Sekilas info ya, pulau Cipir dan Onrust dijadikan barak Asrama Haji pada masa kolonial, sebelum berangkat ke Mekkah dengan kapal laut, mereka dikarantina disini dulu selama beberapa hari, saat pulang dari Mekah juga mereka harus kembali ke karantina untuk dicek kesehatannya dan lain-lain sebelum kembali pulang ke keluarga mereka. Namun ada maksud lain bagi Belanda, mereka takut akan pergerakan islam yang akan memberontak di Nusantara, dan disini jugalah awal gelar Haji disematkan pada jemaah yang sudah pulang dari Mekah. Agar Belanda mudah mengontrolnya.
Kota Mati
Berada di pulau Cipir seperti ada di kota mati. Terlihat dari beberapa reruntuhan bangunannya, ada yang rata dengan tanah, ada pula yang runtuh sebagian, yang jelas bagus untuk spot foto. Loh.?!


Hari sudah sore, saatnya pulang, perjalanan dari Pulau Cipir ke pelabuhan Muara Kamal memakan waktu 20 menitan saja. Matahari yang hendak kembali ke peraduan menemani perjalanan pulang kali ini. Sayup bunyi mesin perahu serta ombak kecil yang menghempas ujung kapal menjadi simponi indah menuju dermaga. :)
Setelah sampai di pelabuhan Muara Kamal, kami berpisah, kembali pulang. Bagi kami yang tadi naik kopaja yang bayar 20rebu, masih nunggu kopaja nya datang dulu, trus pulaaaang. see u next trip.
Alhamdulillah.




Sumber :
http://www.pulauseribujakarta.com
nuswantaranews.blogspot.co.id

Tuesday, December 29, 2015

Wisata Kota Tua : Museum Bank Indonesia

Jalan-jalannya belum usaiiii, dan masih terus berlanjut. Nah kalo udah ke Museum Bank Mandiri, sekalian aja ke tetangganya : Museum Bank Indonesia. Letaknya persis di sebelah Museum Bank Mandiri, kalian hanya perlu keluar dari Museum Bank Mandiri, berjalan ke arah Kota Tua melewati para penjual makanan dan minuman di tepi jalan, trus nyampe deh ke Museum Bank Indonesia, perjalanan yang luar biasa kan? :D

Museum Bank Indonesia menyimpan sejarah tentang uang-uang dari berbagai negara. Dahulunya museum ini merupakan sebuah rumah sakit binnen Hospital, lalu digunakan menjadi sebuah bank. Yaitu De javasche bank pada tahun 1828 lalu setelah kemerdekaan pada tahun 1953, Bank ini dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia. Tidak lama yaitu tahun 1962 Bank Indonesia pindah ke gedung yang baru. Gedung ini dibiarkan kosong namun dewan Gubernur Bank Indonesia menghargai nilai sejarah yang tinggi atas gedung tersebut, sehingga memanfaatkan dan melestarikan nya menjadi museum Bank Indonesia. Museum ini diresmikan pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah. (Sumber : google) 


Beli tiket dulu, trus tas harus dititipin. Tapi dompet, kamera, HP boleh kok dibawa. Kenangan bareng mantan dititip aja daripada nyusahin ntar, kalau perlu dibuang. . . . . . tik tok tik tok...
Nanti ikuti arah panah sesuai dengan petunjuk yang ada  di museum dan kita bisa melihat seluruh benda-benda yang dipamerkan. 
Proses Dagang, dan Rempah-rempah yang Diinginkan Belanda
Di ruang galeri pertama di Museum Bank Indonesia, para pengunjung diajak untuk mengenal mata uang Indonesia melalui teknologi hologram. Sementara di ruang galeri berikutnya, para pengunjung bisa melihat bagaimana rempah-rempah Indonesia menjadi incaran para penjelajah Eropa. Semua penjelajah Eropa dan Asia yang pernah berkunjung ke Indonesia ditampilkan di ruang galeri ini. Mulai dari Marco Polo, Laksamana Cheng Ho, Juan Sebastian Del Cano, Alfonso d’Albuquerque hingga Cornelis De Houtmen. Bahkan diorama yang menceritakan penjelajah Eropa ketika datang ke Indonesia juga ditampilkan di Museum Bank Indonesia Jakarta ini. 
Selain memperkenalkan para penjelajah Eropa, para pengunjung akan diperlihatkan dan diberikan informasi mengenai dunia perbankan ketika para penjajah kolonial Belanda tiba di Indonesia. Bahkan informasi dunia perbankan ketika Jepang menjajah Indonesia juga ditampilkan di museum ini. Yang menarik tentu saja diorama 3 dimensi yang semakin membuat informasi menjadi lebih menarik.
Perkembangan mengenai mata uang Indonesia juga ditampilkan di museum ini. Para pengunjung juga bisa melihat replika dari ruang penyimpanan emas negara. Bahkan para pengunjung juga bisa berfoto di lembar mata uang Indonesia yang juga sudah disediakan oleh pengelola objek wisata Museum Bank Indonesia. 
 
Banyak lagi yang ditampilkan oleh Museum Bank Indonesia, mulai dari proses perdagangan jaman dulu, cerita tentang perjuangan bangsa, duplikat pakaian-pakaian jaman Kolonial Belanda, alat-alat tukar menukar jaman dulu hingga sekarang. Hingga tumpukan emas batangan. Asli.
Horang Kaya
Museum ini buka setiap selasa hingga jum'at dari jam 8pagi hingga jam 3 sore, namun saat weekend bukanya sampai jam 4 sore. Hari senin dan libur nasional tutup yak. Biaya masuknya saya lupa, antara gratis n bayar 5000. Tapi kayanya gratis deh, tapai bawa aja 5000, jaga jaga. ckckck.
Wassalam. baaaaaayy.


sumber :
http://wisatanesia.co/wisata-sejarah-museum-bank-indonesia/

Monday, December 28, 2015

Wisata Kota Tua : Museum Bank Mandiri

Masih mengeksplor Kawasan Kota Tua, kali ini tujuannya adalah Museum Bank Mandiri. Sebenarnya saya kesini sudah lama banget, tapi baru bisa posting saat ini, gak papa lah ya. ya iya lah blog blog gue. -_-
Museum Bank Mandiri
Museum ini terletak tepat diseberang halte Busway Jakarta Kota. Bangunan museum pada mulanya adalah kantor Nederlandsch Handel-Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias Maskapai Dagang Belanda. Kantor pusat NHM berada di Amsterdam, sedangkan Batavia (Jakarta) adalah kantor cabang. Akses menuju museum ini tidaklah sulit, naik busway koridor 1 dengan biaya 3.500 atau naik comutter line tujuan Jakarta Kota dengan biaya 2.000 saja kita sudah bisa sampai ke museum ini. 


Komputer Jadul
Museum Bank Mandiri merupakan bangunan cagar budaya yang menempati area seluas 1.039 m². Pada awalnya, gedung yang dibangun tahun 1929 dengan gaya arsitektur Neiuw-Zakelijk ini merupakan bangunan yang digunakan untuk kantor Nederlandsche Handel Maatschappij NV di Batavia. NHM Batavia dikenal dengan sebutan Factorij atau factory dalam bahasa Inggris yang berarti agen dagang di negara asing. Setelah Indonesia merdeka, NHM dinasionalisasi (1960), kemudian berkembang menjadi Bank Exim dengan kantor pusat di Gedung Factorij. Bank Exim kemudian bergabung kedalam Bank Mandiri (1999). Sejak 2005 Gedung Factorij difungsikan sebagai Museum Mandiri.
ATM Jadul
Mesin Pemotong
Saat masuk saja kita sudah disuguhi oleh suasana bank tempo dulu, dimana terdapat ruang teller lengkap dengan petugas-petugasnya. Kemudian disisi kiri terdapat komputer jadul, mesin pemotong serta ATM Bank Mandiri generasi awal. Serta berbagai mesin kerja pendukung di pojok ruangan yang ditata secara unik.


Susunan Mesin Ketik

Kemudian lanjut lagi masuk ke dalam kita akan menemukan koleksi-koleksi yang lain, ruang rapat, serta gambar-gambar pimpinan serta sejarah dari Bank itu sendiri. Berbagai koleksi perbankan diantaranya perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, buku besar, mesin hitung uang, brankas, dan lain-lain. Semua koleksi tersebut dapat kita nikmati di ruang tata pamer yang didesain menarik sehingga kita dapat merasakan nuansa perbankan tempo dulu. 
Museum Bank Mandiri
Hmmm, waktu kami berkunjung, museum ini digunakan sebagai tempat lokasi syuting film Comic 8. Itu lo, di scene-scene awal film yang merampok bank, nah rupanya disini lokasinya. Bonus deh, kunjungan museum + liat artis. Hahaha :D
Proses Syuting Film Comic 8
Biaya masuk museum ini adalah gratis bagi anda yang pelajar, mahasiswa, dan nasabah bank Mandiri. Namun jika anda tidak ketiganya, maka akan dikenakan biaya Rp 2000 perorang, atau 1000 perorang jika anda berada dalam rombongan lebih dari 20 orang.
Museum ini buka setiap hari selasa hingga minggu, dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, sedangkan hari senin dan hari libur nasional museum ini tidak dijadwalkan untuk menerima tamu. :D



Sumber :
http://www.wisatamuseum.com/id/mandiri-profile.php
http://www.museumindonesia.com/museum/54/1/Museum_Mandiri_Jakarta

Monday, December 14, 2015

Wisata Kawasan Kota Tua : Museum Fatahillah

Masih di sekitaran komplek Kota Tua Jakarta, perjalanan berlanjut ke Museum Fatahillah yang letaknya tak jauh dari Museum Wayang. Museum Fatahillah juga sering disebut dengan Museum Sejarah Jakarta. Museum ini terletak di Jalan Taman Fatahillah no 2, Jakarta Barat, atau tepat sebelah selatan alun-alun Kota Tua. 
Museum Fatahillah dari Alun-alun
Namun sebelum menuju ke Museum Fatahillah, sempatkan waktu dulu untuk menikmati asyiknya bermain-main di alun-alun Kota Tua. Berkeliling dengan menyewa sepeda onthel, berfoto dengan manusia-manusia patung, hantu-hantu dan beragam atraksi khas Betawi biasanya juga ditampilkan di alun-alun ini. Perut terasa lapar? hmmmm disana juga tersedia berbagai kuliner khas daerah, atau bisa juga nongkrong bentar di Cafe Batavia di seberang Museum dan Cafe Djakarte di sebelah barat museum. Ngerasa udah fresh, baru deh lanjutkan perjalanan ke Museum Fatahillah nya.


Museum ini awalnya merupakan Balai Kota (Stadhuis) yang diresmikan oleh Gubernur Jendral Abraham Van Riebeeck pada tahun 1710. Pembangunan gedung ini sendiri telah dimulai pada era Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen, pada tahun 1620. Kondisi tanah Jakarta yang labil membuat gedung ini sempat anjlok, sehingga dilakukan beberapa kali usaha pemugaran hingga peresmiannya.
Koleksi-koleksi Museum Sejarah Jakarta
Pada masa selanjutnya, gedung ini sempat mengalami beberapa kali peralihan fungsi. Gedung ini pernah berfungsi antara lain sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat (1925-1942), kantor pengumpulan logistik Dai Nippon (1942-1945), markas Komando Militer Kota/Kodim 0503 Jakarta Barat (1952-1968). Baru pada tahun 1968, gedung secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta pada 1968 dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

Museum ini menyimpan 23.500 koleksi barang bersejarah, baik dalam bentuk benda asli maupun replika. Koleksi ini berasal dari Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum) yang sebelumnya terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, yang saat ini ditempati Museum Wayang

Halaman Belakang Museum
Diantara koleksi yang penting untuk diketahui masyarakat adalah Prasasti Ciaruteun peninggalan Tarumanagara, Meriam Si Jagur, Patung Dewa Hermes, sel tahanan dari Untung Suropati (1670) dan Pangeran Diponegoro (1830). Ada pula lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda dari 1602-1942, alat pertukangan zaman prasejarah dan koleksi persenjataan. Selain itu, terdapat koleksi mebel antik peninggalan abad ke-17 hingga abad ke-19, sejumlah keramik, gerabah dan prasasti.

Berbagai koleksi yang ada dipamerkan dalam beberapa ruangan, sesuai periode asalnya. Ruang-ruang pameran yang ada yaitu, Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung dan Ruang MH Thamrin. Pembagian ruangan ini dan penataan koleksi yang ada sangat mempertimbangkan aspek artistik dengan harapan dapat berfungsi seoptimal mungkin sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Koleksi yang dipamerkan ke publik hanya sekitar 500 buah saja, sedangkan sisanya disimpan dalam ruang penyimpanan. Secara berkala, koleksi ini dirotasi sehingga dapat dilihat oleh masyarakat.
Penampakan Penjara Bawah Tanah
Ternyata, dahulu sebelum difungsikan sebagai Museum, bangunan tua ini tak hanya sekedar balai kota, namun juga merangkap menjadi penjara bawah tanah bagi para tahanan. Dan bila tiba saatnya, para tahanan yang mendapat vonis hukuman mati akan dieksekusi di halaman depan gedung dan dilihat oleh banyak orang. serem yak. :D

Biaya masuk Museum sebesar 3000 untuk mahasiswa, 5000 untuk umum dan 1000 untuk anak-anak. Harga bisa berubah-ubah yaa. Museum ini buka pada Selasa dan Minggu dari jam 9 pagi sampai 4 sore. 
Selamat bereksplorasiii. :)

sumber : http://www.indonesiakaya.com


Baca Juga: Museum Wayang

Puncak Bogor

Masih tentang Bogor, daerah yang yang mendapat julukan Kota Hujan ini memang menyimpan banyak tempat rekreasi. Wajar saja kalau Bogor selalu padat dengan kendaraan plat B terutama, ketika hari libur tiba. Bogor merupakan kota utama tujuan wisata sebagian masyarakat yang bekerja di wilayah Jabodetabek untuk melepas lelah setelah bekerja penuh pada weekdays.

Bogooor.
Perjalanan ke Kota Bogor bisa ditempuh dengan commuter line / KRL jalur Jatinegara-Bogor. Jika kita naik dari Stasiun Cawang, perjalanan ke Bogor memakan waktu sekitar 45 - 60 menit dengan harga tiket 4000 rupiah saja. Saat keluar dari kereta, udara sejuk sudah mulai terasa, meski kata orang-orang sudah tidak sesejuk dulu. Tapi bagiku ini sudah lumayan membuat "gigil" badan.

Rute hari ini adalah Museum Peta, jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun Bogor, berjalan kaki mungkin memakan waktu 15-20 menit saja. Namun sayangnya, karena kekurangan informasi, kami tidak mengetahui bahwa saat weekends museum malah tutup. Museum Peta Bogor hanya buka saat weekdays saja. Hmmm hal serupa ini pernah saya alami ketika akan berkunjung ke museum Polri di Jakarta, sama seperti museum Peta Bogor, Museum Polri tutup saat weekends. Aneh saja saya pikir, tempat rekreasi malah tutup saat hari libur. Ah sudah lah ya..
Salah satu tips hemat jalan-jalan di Bogor adalah dengan "memanfaatkan" teman terdekat untuk mengorbankan mobilnya, lumayan bisa keliling Bogor tanpa harus naik angkot. Jangan lupa isi bensinnya aja. :D
Perjalanan selanjutnya adalah Kebun Raya Bogor, ini merupakan ikon kota Bogor. Di dalam Kebun Raya Bogor, terdapat Museum Zoologi, Istana Presiden, Bunga Raflesia, beberapa macam tumbuhan. Biaya masuk adalah 15ribu /orang, jika menggunakan mobil, akan dikenakan biaya 30rb dan bisa berkeliling Kebun Raya dengan mobil tersebut.
Kebun Raya Bogor
Perjalanan berlanjut menuju puncak Bogor. Lama perjalananan tergantung kondisi jalan, waktu yang dibutuhkan antara 1 - 4 jam. Biasanya diakhir minggu jalan ke puncak akan macet, macet panjang. Jika menggunakan kendaraan umum, kita harus menaiki angkot dengan biaya 5.000 rupiah hingga perempatan besar, kemudian naik bus (bisa juga angkot) menuju ke puncak dengan biaya 15.000 - 20.000 rupiah. 
Kerja Sampingan
Banyak tempat rekreasi bila sudah sampai di puncak Bogor. Bila badan terasa letih, disisi-sisi jalan juga banyak terdapat tempat nongkrong untuk makan dan minum. Istirahat sejenak sambil menghangatkan badan dengan meminum jahe hangat dan mie rebus sembari menikmati indahnya pemandangan dari puncak yang indah baik siang maupun malam. Jika ingin bermalam di Bogor, disepanjang jalan puncak juga banyak terdapat penginapan dan vila dengan harga mulai dari 150.000 per malam. Di kawasan Puncak Bogor terdapat banyak kebun teh, telaga warna, dan masjid Atta'awun yang merupakan ikonnya puncak. Tempat-tempat menarik untuk mengabadikan moment indah bersama teman-teman.

Pemandangan di Puncak
Kebun Teh dan Telaga Warna, Kawasan Puncak

CURUG CILEMBER

Selain kebun teh, dan telaga warna. Bogor juga terkenal memiliki banyak Curug (air terjun). Pada kesempatan ini Curug Cilember adalah tujuan kami berikutnya. Jika perjalanan menuju puncak maka jalan ke Curug Cilember berada di kiri jalan, pointnya adalah Hotel USSU di sebelah kanan, sedangkan jalan menuju Curug Cilember adalah sebelah kiri. Jarak dari jalan utama menuju Curug Cilember berkisar 3 km. Curug Cilember merupakan tempat wisata yang indah, merupakan sebuah taman / komplek dengan 7 air terjun yang berada di dalamnya. Fasilitas yang ditawari juga banyak, selain 7 air terjun, juga terdapat kubah kupu-kupu, mushala, kantin, bungalow, dan beberapa area yang disewakan untuk berkemah.
Curug Cilember
Harga tiket masuk Curug Cilember 13 ribu perorang + menginap 8 ribu perorang. Setelah masuk, kami mendirikan tenda dan bermalam disana. Jangan khawatir jika lupa membawa bekal, di sekitar Curug Cilember banyak terdapat kantin yang menjual berbagai makanan dan minuman khas dataran tinggi. Setelah mendirikan tenda, kami beristirahat.
Sejatinya jika waktu mencukupi pada pagi harinya, kami ingin menjelajahi ke 7 air terjun di sana. Namun karena bangun yang udah kesiangan dan waktu yang mepet, akhirnya hanya pergi ke Curug terdekat saja, kemudian menuju perjalanan pulang ke Jakarta.

see u next trip. :)

Sunday, December 13, 2015

Wisata Kawasan Kota Tua : Museum Wayang

Tinggal di Jakarta sebetulnya bukan merupakan impian saya sejak lama. Entah karena pengaruh media yang saya baca : dengan macet dan kriminalnya itu, belum lagi dengan banjir dan lain-lainnya. Pokoknya jika bisa memilih, Jakarta tidak akan masuk dalam daftar tempat untuk saya tinggali besar kali pengaruh media ini-. Namun keadaan berkata lain, tanda seseorang mendapatkan kasih sayang dari Tuhan nya adalah dia akan diuji. Dan itu lah yang saya dapatkan, :D alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk mecari rezeki di Jakarta. Dengan mindset awal yang "gak banget" tentang Jakarta ini membuat saya ogah-ogahan, sehingga segala sesuatunya terkesan rumit.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk beradaptasi, googling tentang tempat-tempat menarik di Jakarta pun menjadi agenda tiap hari selama awal-awal berada di sini. Kebetulan saya menyukai sejarah, jadi yang saya cari ya wisata sejarah terlebih dahulu. Jakarta cukup banyak menyimpan wisata sejarah, secara dulu saat zaman penjajahan Jakarta merupakan tempat yang paling sering dikunjungi oleh para penjajah, tak ayal banyak situs-situs bersejarah yang bisa ditemui di sini.

Sebut saja Kawasan Kota Tua, terletak di Jakarta Barat, Kawasan Kota Tua terdiri dari bangunan-bangunan tua berarsitektur khas Belanda. Unik dan full of art. Itulah gaya khas arsitektur zaman kolonial. Kawasan Kota Tua merupakan komplek yang menyediakan lokasi wisata yang banyak. Disana ada stasiun Kota Jakarta, Berbagai Museum dan Galeri Seni, dan alun-alun Kota yang tak pernah sepi pengunjung. Berjalan sedikit ke arah utara maka kita akan sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar dan Museum Bahari. 

Transportasi untuk mencapai ini juga sangat mudah, tinggal naik TransJakarta tujuan koridor Blok M - Jakarta Kota dengan biaya 3.500 saja. Atau juga bisa mengakses Comutter Line dengan rute Bogor - Jakarta Kota atau Bekasi Jakarta Kota dengan biaya maksimal 5.000.

Kali ini objek yang dituju di Kota Tua adalah adalah Museum Wayang. Namun berhubung saya rada-rada parno terhadap boneka, jadi hanya sedikit gambar yang saya dapatkan, sisa nya minta dari file temen. hhe
Khas Wayang
Gedung Museum Wayang memiliki sejarah yang cukup panjang. Gedung yang terletak di sebelah barat alun-alun Kota ini beberapa kali sempat mengalami perubahan fungsi. Dibangun pada tahun 1640, bangunan gedung museum ini pertama kali digunakan sebagai gedung gereja dengan nama De Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Lama Belanda. 
Museum Wayang
Pada tahun 1732 gedung ini mengalami renovasi dan berubah nama menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk atau “Gereja Baru Belanda”. Di tahun 1808 gedung ini luluh lantak akibat gempa bumi yang melanda Batavia kala itu. Baru pada tahun 1975 tepatnya tanggal 13 Agustus gedung ini diresmikan penggunaannya sebagai Museum Wayang. Di beberapa bagian dalam gedung ini masih terlihat beberapa bagian gereja lama dan baru. 
Koleksi Wayang/Boneka Unyil
Museum Wayang memiliki koleksi lebih dari 4.000 buah wayang dan boneka dari berbagai jenis dan macam. Jenis wayang yang dipamerkan mulai dari wayang golek dan wayang kulit, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, dan wayang beber. Selain itu museum ini juga memiliki koleksi gamelan, topeng, dan beberapa boneka. Koleksi-koleksi tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja koleksi boneka Unyil dan teman-teman, juga ada Wayang khas dari Sumatera Utara, dan berbagai bentuk wayang khas dari masing-masing daerah.
Wayang Boneka dari Jepang
Bukan hanya koleksi dari Indonesia, Museum Wayang juga menyimpan koleksi boneka dan wayang dari beberapa negara, seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia. Museum Wayang juga secara rutin mengadakan pagelaran wayang setiap minggu ke-2 dan 3 setiap bulan. Museum Wayang buka setiap hari Selasa hingga Minggu jam 09.00 – 15.00 WIB dengan harga tiket Rp. 5000-, untuk Dewasa, Rp. 3000-, untuk mahasiswa dan Rp. 1000-, untuk anak-anak. 



sumber :
http://infojakarta.net/wisata-kota-tua-jakarta-museum-wayang/ 

Wednesday, November 4, 2015

Gimana Cara ke Natuna?


Negara Indonesia ini terdiri dari ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing pulau memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari letak, bentuk, seni budaya, serta keindahan dan keunikan yang ditawarkan oleh masing-masing pulau tersebut.

Sebut saja Natuna yang sudah banyak dibahas dalam beberapa artikel diblog saya ini. Mulai dari keindahan alamnya, seni dan budayanya, letaknya, dan hampir semua segmen sudah dimasukkan, cuma ada yang kurang yang saya rasakan, setelah fikir-fikir apa kekurangannya, akhirnya ketemu deh: 
"how to go there?"

Yak, gimana cara ke Natuna? Rasanya percuma donk upload foto pemandangan dan segala macamnya yang bagus-bagus tapi tidak ada panduan secara rinci untuk kesananya. Betul tak? Betul betul betul. Nah berikut ini sedikit panduan bagi anda agar bisa ke Negeri Mutiara di Ujung Utara ini.
Transportasi Udara :
Perjalanan ke Natuna bisa ditempuh lewat jalur udara, bandara yang melayani rute ke Natuna saat ini hanya ada satu, yakni Bandara Internasional Hang Nadim di Batam. Penerbangan komersial dari Batam ke Natuna dilayani setiap senin hingga sabtu, dengan dua maskapai pesawat yang bergantian. Nah jika ingin ke Natuna lewat jalur udara dari mana saja anda berada, Batam adalah tempat yang harus anda singgahi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Natuna. 
Terminal Sipil Bandar Udara Natuna (via instagram @natuna.tv)
Saat ini hanya ada satu penerbangan langsung, yaitu dari Jakarta - Batam - Natuna. Dari Jakarta anda harus mengambil penerbangan dari paling awal, karena penerbangan dari Batam ke Natuna dijadwalkan sekitaran pukul 10.00 WIB. Jika anda berada di luar Jakarta, Jogja misalnya, mau tidak mau harus menginap di Batam semalam, dan perjalanan ke Natuna dilanjutkan pada esok harinya. Jangan menginap di Batam saat malam minggu, kecuali jika anda ingin menikmati indahnya Batam dalam 2 malam, karena tidak ada penerbangan dari dan ke Natuna pada hari minggu. Perjalanan ke Natuna bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam dari Batam.
Harga tiketnya, ummmmmmm, mungkin bisa cek sendiri kali ya. Hhe. Banyak agen-agen tiket yang bisa ditanyakan mengenai harga tiket pesawat dari Batam ke Natuna, kisarannya kurang lebih 800 - 1.300ribu rupiah persekali jalan. #harusmerogohsakulebihdalam.
Rute Pesawat dari Batam - Natuna (sumber gambar : archive.kaskus.co.id)


Transportasi Laut :
Karena Natuna merupakan kepulauan. Transportasi Laut merupakan  moda transportasi andalan bagi masyarakat Natuna. Jika anda berada di Jawa, cara untuk ke Natuna adalah naik KM Bukit Raya milik PT Pelni. Ada dua rute yang bisa dipilih, yang pertama dari Tanjung Priok di Jakarta, rutenya Tj Priok - Belinyu (Bangka Belitung) - Kijang (Bintan, Kep. Riau) - Jemaja - Siantan (Anambas, Kep. Riau) - Natuna, waktu yang dibutuhkan adalah 4 hari 3 malam, keberangkatan dari Tj. Priok dijadwalkan pada hari kamis.
KM Bukit Raya
Rute kedua adalah dari Jawa bagian timur, pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, rutenya Tj Perak (Surabaya) - Pontianak (Kalimantan Barat) - Serasan - Midai - Natuna. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih sama dengan perjalanan Tj. Priok Natuna (4 hari 4 malam). Keberangkatan dari Tanjung Perak biasanya pada hari minggu malam. Lihat jadwal.
Harga tiket untuk sekali perjalanan dengan KM Bukit Raya berbeda-beda tergantung asal keberangkatan. Jika dari Tj. Priok ke Natuna, harga tiket tidak lebih dari 500.000, hal yang tak jauh berbeda dengan harga tiket dari Tj. Perak - Natuna.
Atau cara lain mengguakan transportasi laut yang agak murah adalah dengan menggunakan kapal perintis dari Pelabuhan Tanjung Pinang dan/atau Pontianak menuju Natuna.
Rute Kapal ke Natuna (sumber gambar : archive.kaskus.co.id)

Nah itu adalah beberapa penjelasan rute menuju Natuna. Anda bisa memilih untuk menggunakan transportasi laut atau udara. Atau, anda bisa mengkombinasikan diantara keduanya. Biasanya beberapa dari kami, mahasiswa dan perantau yang berada di Jawa dan Sumatera menggunakan 2 moda transportasi ini, dari Jawa maupun Sumatera menggunakan pesawat menuju Pulau Batam, kemudian menyebrang ke Pulau Bintan, lalu naik KM Bukit Raya menuju Natuna.
Dan ingat, rute yang saya jelaskan diatas adalah hanya mencapai pulau utama di Kabupaten Natuna, Pulau Bunguran namanya, nah jika ingin mengunjungi tempat-tempat lain seperti Pulau Laut, Pulau Tiga, Sedanau (Kecamatan Bunguran Barat), Midai, Subi dan Serasan, kita harus naik transportasi laut lain untuk mencapai kesana.

Dari Pulau Bunguran ke tempat (pulau) lain di Natuna :
1. ke Sedanau (ibukota Kecamatan Bunguran Barat), kita bisa menaiki kapal veri dari pelabuhan Binjai, atau bisa menggunakan perahu / pompong (masyarakat Natuna menyebutnya mutur), dari pelabuhan Selat Lampa, Binjai dan pelabuhan desa Batubi.
Mutur
2. ke Pulau-pulau di Kecamatan Pulau Tiga, naik pompong / mutur dari Pelabuhan Selat Lampa.

3. ke Pulau-pulau di kecamatan Bunguran Barat, Bunguran Utara dan Pulau Laut bisa menaiki mutur dari pelabuhan Kelarik kecamatan Bunguran Utara.

4. ke Kecamatan Pulau Laut, naik kapal perintis dari Pelabuhan Selat Lampa dan dari pelabuhan Penagi, juga bisa naik mutur dari pelabuhan di Kelarik (Bunguran Utara).
Kapal-kapal Perintis
5. ke Kecamatan Midai, bisa menggunakan kapal Perintis dari Pelabuhan Selat Lampa dan Pelabuhan Penagi dengan waktu tempuh 4 - 7 jam. Bisa juga menggunakan KM Bukit Raya dengan rute Natuna - Midai - Serasan - Pontianak - Tj. Perak. Perjalanan ke Midai dengan KM Bukit Raya memakan waktu 4 jam.

6. ke Kecamatan Serasan dan Serasan Timur, menggunakan KM Bukit Raya dengan rute Natuna - Midai - Serasan - Pontianak - Tj. Perak. Perjalanan Natuna - Serasan dengan KM Bukit Raya memakan waktu 12-14 jam. Bisa juga dengan Kapal perintis dari pelabuhan Penagi dan Selat Lampa.

7. ke Kecamatan Subi bisa menggunakan kapal Perintis dan mutur dari Pelabuhan Penagi dan Selat Lampa.

Harga tiket kapal ini bervariasi, tergantung dari destinasi dan kapal yang digunakan, harga tiket berkisar dari 15.000 hingga 200.000 rupiah.

Nah setelah sampai ke Natuna, rasa letih dalam perjalanan akan hilang seketikan dengan suguhan alamnya yang begitu indah. Pantai, bebatuan, gunung, batu karang yang indah akan menyambut serta menemani anda menikmati indahnya paduan ciptaan Yang Maha Kuasa ini.

So, enjoy amazing Natuna.

Semoga bermanfaat. :)