Sunday, May 10, 2015

"Ngandek", tradisi pencarian barang-barang antik di Natuna

Pada postingan sebelumnya, telah di bahas bahwa di Laut Natuna tersimpan banyak harta karun peninggalan kerajaan zaman dahulu. Kapal-kapal dagang dari Kerajaan di Sumatera dan di Asia selalu menggunakan Natuna sebagai tempat berlindung ketika badai datang, atau hanya sekedar mengisi logistik untuk perbekalan. Namun jika nasib tidak memihak, maka belum sempat lagi kapal-kapal tersebut berteduh, sudah tenggelam dengan seluruh barang bawaannya seperti keramik, kerajinan, rempah-rempah dan lain-lain.

Namun, ada pula yang singgah di Natuna, khususnya di Pulau Bunguran besar, melakukan perniagaan dengan penduduk bahkan kerajaan setempat, seperti di Mahligai, Sekalong, Kelarik, dan daerah lain. Perniagaan menggunakan sistem barter atau sistem tukar menukar barang karena belum tersedianya alat pembayaran pada masa itu. Pertukaran bisa dilakukan antara bahan makanan, pakaian, logistik-logistik yang lainnya dengan keramik, logam mulia dan benda-benda pusaka.

Oleh karena itu pula lah, barang-barang antik seperti yang ditemukan di laut Natuna, juga bisa ditemukan di darat. Terlebih lagi dahulu ditempat tersebut merupakan perkampungan dan kerajaan zaman dahulu.

Sebut saja di Sekalong, kecamatan Bunguran Timur Laut kini, dahulu di Sekalong terdapat istana kerajaan, yang reruntuhan masih bisa dilihat. Disekitar daerah ini, penduduk setempat mempunyai pekerjaan unik, mereka menamainya dengan "NGANDEK", yang dalam bahasa Indonesia berarti mencari barang antik.

Pemacok, alat yang digunakan untuk "ngandek"

Alat yang digunakan disebut dengan pemacok, bentuknya sangat sederhana, besi kira-kira sepanjang satu meter, dengan pegangan yang dibuat dari kayu, caranya juga sangat mudah. Kita hanya tinggal menusuk-nusuk tanah dengan alat tersebut, jika beradu dengan benda keras maka bisa diindikasikan bahwa itu adalah barang-barang antik yang dimaksud. Peraturannya adalah jika seorang alat seorang mencari berhasil "mendeteksi" barang tersebut, maka dalam radius 2x2 meter dari tempat penemuan adalah hak milik sang penemu.
Warga sedang mencari barang-barang antik, via youtube.com
Nadine Chandrawinata mencoba "ngandek", via youtube.com


Tradisi "ngandek" ini dilakukan saat musim utara, yaitu disaat angin sedang bertiup kencang, belum ditemukan alasan mengapa musim ini dipilih sebagai cara untuk "ngandek". Lokasi ngandek dilakukan di pantai-pantai, padang tandus, serta pohon-pohon besar, karena zaman dahulu saat menanam barang-barang, mereka menandai dengan tanaman atau tunas pohon.

Serpihan-serpihan barang antik yang ditemukan, via youtube.com
Jika beruntung, kita akan menemukan barang-barang antik yang bersejarah tersebut, temuan bisa berupa serpihan-serpihan, bisa juga dalam keadaan utuh, tergantung hoki. Barang-barang yang didapat, bisa dijual ke kolektor dengan harga yang sangat tinggi, atau dikoleksi dan dibuat museum seperti yang dilakukan oleh Bang Ding, beliau mendirikan museum Srindit di Ranai Darat, museum ini mengoleksi barang-barang antik dan peninggalan sejarah yang lain.

Koleksi barang-barang antik di Museum Srindit Natuna.

Semoge saje bisa dilestarikan barang-barang berharga ini.
Aamiin

sumber :
www.youtube.com : Hidden Paradise KompasTV
sebagian gambar dan informasi : Soni Hendra