Friday, August 14, 2015

Pramuka Indonesia dan Sejarahnya

Salam Pramuka!!!
Logo Pramuka, via www.tunas-kelapa.net
Yap tepat hari ini, 14 Agustus, diperingati sebagai hari Pramuka di Indonesia. Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang diberbagai penjuru tanah air merupakan ekstrakulikuler (ekskul) wajib di sekolah-sekolah. Dari SD hingga SMA, bahkan di bangku perkuliahan pun Pramuka masih ada, biasanya masuk dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Hmm, tunggu dulu, sebelum ngomongin tentang Pramuka lebih jauh, yuk kita selami dulu sejarah kePRAMUKAan di Indonesia. 

Sejarah berdirinya gerakan Pramuka ini tidak terlepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Gagasan Lord Baden Powell (bapak Pramuka dunia) dalam mendirikan gerakan pramuka dengan cepat menyebar di berbagai negara, termasuk Belanda. Di Belanda, kepramukaan disebut sebagai Padvinder. Di Indonesia, Belanda mendirikan organisasi Kepramukaan yang dikenal dengan istilah NIPV (Netherland Indische Padvinder Vereniging) yang berarti Persatuan Pandu-Pandu Belanda. Organisasi ini dikhususkan bagi anak-anak Belanda.

Oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Karenanya kemudian muncul organisasi-organisasi kepramukaan pribumi yang kala itu jumlahnya mencapai lebih dari seratus organisasi semisal; JPO (Javananse Padvinders Organizatie); JPP (Jong Java Padvinderij), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvinderij); HW (Hisbul Wathon) dll. Melihat maraknya organisasi kepramukaan milik pribumi yang bermunculan, Belanda akhirnya membuat peraturan untuk melarang organisasi kepramukaan di luar milik Belanda menggunakan istilah Padvinder. Karena itu kemudian KH. Agus Salim menggunakan istilah "Pandu" dan "Kepanduan". 
 
Hizbul Wathan, "Pramuka" Muhammadiyah 1922, via kompasiana.com

Sejak tahun 1930, dua tahun setelah Peristiwa Sumpah Pemuda, timbul kesadaran dari tokoh-tokoh Indonesia untuk mempersatukan organisasi kepramukaan. Maka terbentuklah KBI (Kepanduan Republik Indonesia). KBI merupakan gabungan dari organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra). Dan pada tahun 1931 terbentuk PAPI (Persatuan Antar Pandu-Pandu Indonesia), kemudian diubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persatuan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938. Pada waktu pendudukan Jepang, kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA.  
Kepanduan Jong Java, via kompasiana.com
Setelah masa kemerdekaan dibentuklah organisasi kepanduan yang bersifat nasional  yaitu Pandu Rakyat Indonesia yang dideklarasikan di Solo pada tanggal 28 Desember 1945. Pandu Rakyat Indonesia menjadi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia saat itu. Namun pada masa leberalisme, kembali bermunculan berbagai organisasi kepanduan seperti; HW, SIAP, Pandu Indonesia, Pandu Kristen, Pandu Ansor, KBI dll yang jumlahnya mencapai seratusan lebih. Sebagian organisasi tersebut terhimpun dalam tiga federasi yaitu; IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia, berdiri tanggal 13 September 1951), POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Putri Indonesia, berdiri tahun 1954) dan PKPI (Persatuan Kepanduan Putri Indonesia).

Pada 1953 IPINDO berhasil menjadi anggota kepramukaan sedunia. Pada tanggal 10-20 Agustus 1955 IPINDO juga berhasil menyelenggarakan Jambore Nasional I di Pasar Minggu Jakarta. Sedangkan POPPINDO dan PKPI pernah bersama-sama  menyambut singgahnya Lady Baden Powell (istri Baden Powell) ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia. Pada tahun 1959, PKPI mengadakan perkemahan besar untuk pramuka putri yang disebut “Desa Semanggi” di Ciputat. Pada tahun ini juga IPINDO mengirimkan kontingen ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.  

Menyadari kelemahan yang ada, ketiga federasi tersebut akhirnya meleburkan diri menjadi PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia). Namun ternyata Perkindo sendiri kurang solid sehingga coba dimanfaatkan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pionir Muda seperti di negara komunis lainnya. Mulai tahun 1960-an, berbagai pihak termasuk pemerintah dan MPRS melakukan berbagai upaya untuk melakukan penertiban organisasi kepanduan termasuk upaya untuk mendirikan Gerakan Pramuka.  

Pada hari Kamis malam tanggal 9 Maret 1961 Presiden mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr. A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA. Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.
 
Kepres Nomor 238 Tahun 1961 ini ditandatangi oleh Perdana Menteri Ir. Juanda sebagai Pejabat Presiden Karena Presiden RI, Ir. Soekarno saat itu sedang berkunjung ke Jepang. Pada tanggal 30 Juli 1961, bertempat di Istora Senayan (Sekarang Stadiun Gelora Bung Karno), tokoh-tokoh organisasi kepanduan di Indonesia yang menyatakan dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.
Penyerahan panji Pramuka, via http://pramukaria.blogspot.com
Pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan Pelantikan Mapinas (Majlis Pimpinan Nasional), Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, dilanjutkan penganugerahan Panji-panji Kepramukaan dan defile Pramuka untuk memperkenalkan Pramuka kepada masyarakat yang diikuti  oleh sekitar 10.000 Pramuka. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA yang diperingati hingga sekarang. 

Presiden dan Sri SUltan HB IX, via kaskus.co.id
Mapinas saat itu diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno (Presiden RI) dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh. Sementara Kwarnas, diketuai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Brigjen TNI Dr. A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari. 

Hingga saat ini, Pramuka di Indonesia berkembang dengan sangat pesat dan prestasi-prestasi membanggakan pun pernah ditoreh, baik di dalam maupun di luar negeri. Semangat Pramuka. Semoga terus jaya!!!


sumber inspirasi :
http://pramukaria.blogspot.com

Wednesday, August 12, 2015

Tokoh : Bung Hatta, sang Bapak Koperasi

via twitter.com
12 Agustus 1902, hari ini tepat 113 tahun yang lalu, seorang manusia hebat dilahirkan di dunia. Seorang lelaki yang 43 tahun kemudian ikut merubah bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan berdaulat, seorang lelaki yang turut serta melepas cengkraman penjajah selama ratusan tahun. Seorang lelaki visioner, sang pencetus ide ekonomi kerakyatan. Seorang lelaki mungil dari Sumatera Barat : Mohammad Hatta.

Beliau terlahir dengan nama Muhammad Athar, namun beliau lebih dikenal dengan Mohammad Hatta atau Bung Hatta, dilahirkan di  Fort de Kock (sekarang Bukit Tinggi), dari pasangan H.M. Djamil dan Siti Saleha, beliau adalah anak kedua dari 2 bersaudara, Ayah Bung Hatta meninggal ketika ia masih berumur 7 bulan. Kemudia ibu nya menikah laki dengan Agus Haji Ning dari Palembang dan mempunyai empat orang anak yang kesemuanya perempuan. 

Bung Hatta, via kompasiana.com
Hatta kecil bersekolah di sekolah swasta, setelah 6 bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga. Ia lalu pindah ke ELS di Padang (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913, kemudian melanjutkan ke MULO sampai tahun 1917. Selain pengetahuan umum, ia telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada M. Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya. Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap perekonomian. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Usaha dan juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Kemudian di tahun 1921 ia tiba di Negeri Belanda untuk belajar di Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging, yang berganti nama menjadi Indoneische Vereniging, yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumulan Hindia Poetra terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antar anggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian Handels Ecomonie (Ekonomi Perdagangan) pada tahun 1923, kemudian melanjutkan di jurusan Hukum Negara dan Hukum Administratif karena terdorong oleh minatnya yang besar dibidang politik. Hatta mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932 dan kemudian kembali ke Indonesia.

Pembacaan Teks Proklamasi
Dengan berbagai pergerakan yang beliau lakukan, akhirnya pada 17 Agustus 1945, bersama dengan Bung Karno yang mewakili nama seluruh rakyat Indonesia memploklamirkan kemerdekaan Indonesia lewat teks proklamasi yang bersejarah tersebut. Beliau juga menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama mendampingi Presiden Ir. Soekarno.

Pada tanggal 12 Juli 1947 Bung Hatta mengadakan Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya. Pada hari itu juga, Hari Koperasi Indonesia ditetapkan dan Bung Hatta ditetapkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Kemudian pada sekitaran 1949 Bung Hata ke Pulau Midai, satu dari sekian ratus pulau-pulau kecil di gugus perairan Natuna dalam rangka kunjungan kerja. Bapak Koperasi Indonesia juga dibuat takjub dengan keberadaan serikat dagang orang Melayu Ahmadi & CO tersebut sangat maju pesat. Para patani menjual Hasil bumi Natuna berupa Kopra dan Cengkeh hingga ke penjuru Malaysia, Singapura serta deretan Negara Asia Tenggara mengunakan Kapal Niaga Menembus Laut Cina Selatan.

Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di RSCM Jakarta setelah sebelas hari ia dirawat di sana. Selama hidupnya, Bung Hatta telah dirawat di rumah sakit sebanyak 6 kali pada tahun 1963, 1967, 1971, 1976, 1979, dan terakhir pada 3 Maret 1980. Keesokan harinya, dia disemayamkan di kediamannya Jalan Diponegoro 57, Jakarta dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada saat itu, Adam Malik. Ia ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada 23 Oktober 1986 oleh pemerintahan Soeharto dan pada 7 November 2012, Bung Hatta secara resmi bersama dengan Bung Karno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional.



2. https://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta

Monday, August 10, 2015

Legenda Batu Kapal

Batu Kapal merupakan sebongkah batu granit besar menyerupai kapal yang terletak di Batu Kapal, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna. Tidak sulit bagi anda untuk mencapai tempat ini, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 10 menit saja dengan berkendara dari kota Ranai. 
Batu Kapal, dok pribadi
Batu ini disebut dengan Batu Kapal karena bentuknya memang seperti Kapal besar yang sedang bertengger di pelabuhan. Ada beberapa cerita yang menceritakan tentang asal usul batu yang besar ini. Salah satunya adalah cerita yang kurang lebih mirip seperti cerita Malin Kundang dari Sumatera Barat.


Batu Kapal ini, konon pada saat dahulu kala adalah sebuah Kapal besar yang sarat akan muatan, pemilik kapal ini adalah seorang pemuda yang sombong serta seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Ketika sang pemuda sudah menjadi orang sukses dan kaya raya, namun sang Ibunda masih tetap hidup serba kekurangan.

Sang ibunda sudah lama menanti kepulangan anak tercintanya dari kampung seberang, akhirnya berita kepulangan anak sampai di telinga ibunda melalui kabar dari tetangga-tetangga. Sang Ibunda mendengar ada seorang pemuda kaya yang pulang untuk memaerkan harta kekayaannya.
Batu Kapal, via sinarpelangionline.com

Sang ibu pun langsung menuju ketempat dimana kapal berlabuh untuk melihat seorang anak yang lama sudah tak dijumpainya, rindu dalam dada seolah sirna ketika ia melihat putranya sudah menjadi orang yang sukses. Seketika itu pula ia berlalri dan ingin memeluk sang anak. Melihat ada seorang wanita tua renta yang datang dan ingin memeluknya, maka ia pun menepis tangan sang ibunda, bahkan sang pemuda menyangkal bahwa wanita tua renta tersebut bukanlah ibu yang telah melahirkannya. 

Dengan rasa malu yang teramat sangat untuk mengakui bahwa itu adalah ibu kandungnya, namun keangkuhan pemuda mengalahkan segalanya. Ia menghardik sang ibu serta mengusirnya dari kapal dengan cara menendangnya. Sontak seakan tak percaya, kerinduan bertahun-tahun seorang ibu dibalas dengan hardikan dan makian, serta tendangan dari anak kandungnya sendiri. Seketika itu pula, rindu berubah menjadi murka, lalu secara spontan sang ibu berdoa agar si pemuda mendapat bala dari Yang Maha Kuasa.
Batu Kapal tampak belakang, via www.tumblr.com
Seketika itu pula doa ibu diijabah oleh Tuhan, langit menghitam, disertai dengan badai dan gemuruh yang dahsyat. Angin topan mengamuk sehingga menerbangkan apa-apa yang ada disekitaran kapal. Gelombang meninggi menghempas kapal sang pemuda hingga terbelah menjadi dua. Sang pemuda karena takutnya berlari ke buritan kapal untuk menyelamatkan diri, namun terlambat. Kapal beserta isinya termasuk sang pemuda berubah menjadi batu. Hingga kini masyarakat menyebutnya Batu Kapal.

Dulu saat saya masih SD, guru saya menceritakan saat mereka kecil, jika mereka bermain di sekitaran batu kapal, banyak ditemukan manik-manik dan asesoris-asesoris perhiasan. Guru yang lain menceritakan, jika air sedang pasang, dan saat gelombang menghantam "buritan" di Batu Kapal itu,akan terdengar suara "bu, bu, bu" yang konon adalah suara sang pemuda memohon ampun kepada ibu nya.

Jauh dari lokasi Batu Kapal ini, terdapat Pulau Kemudi dan Pulau Jantai, tepatnya di kecamatan Bunguran Selatan, konon cerita ini adalah kemudi dan rantai kapal yang terpental karena dihantam oleh badai yang dahsyat saat "proses" kutukan terjadi.

Apapun itu, baik nyata maupun hanya cerita, kisah-kisah zaman dulu yang diceritakan oleh orag tua kita sangat sarat akan makna dan pesan moral, untuk membimbing kita menjadi lebih baik. :)

sumber :
http://sinarpelangionline.com

Untuk Kamu Generasi 90an : Masih Ingat gak Dengan Mereka?

Banyak yang bilang kalau generasi 90an adalah generasi terbaik, generasi 90an adalah generasi transisi antara "kejadulan" dengan teknologi. Kami generasi90an adalah generasi yang kreatif, membuat mainan sendiri, bukan langsung membeli. Bersosialisasi dengan baik, janji selalu ditepati walau belum punya HP. Sudah menjadi"arsitek" cilik dengan mebuat rumah dari pelepah pohon kelapa, atau kain-kain sarung yang diikat disana sini.

Dari segi hiburan, acara-acara televisi saat itupun sangat mendidik, kalaupun ada yang "brengsek" itu pun boleh dibilang sedikit. Contohnya saja sinetron keluarga Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, Jinny oh Jinny, Bidadari, Saras 008, Gerhana, hingga Panji Manusia Milenium. Sinetron-sinetron yang saya sebut tadi adalah yang seta menemani sore hingga malam hari generasi 90an, entah nonton berkumpul bersama keluarga, atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

Nah, bagi kamu penggemar sinetron-sinetron diatas, masih ingatkah kamu dengan mereka?
Yuk nostalgila bentar. :)

1. Kentung "Tuyul dan Mbak Yul"
Nama aslinya adalah Bambang Triyono, artis yang tenar di era 90an berkat peran Kentung, jin Tambun dalam serial Tuyul dan Mbak Yul ini mengalami hidup yang miris dimasa tuanya. Beliau hanya tinggal di kost-kostan dengan ukuran 3x4 meter di daerah Sleman, Yogyakarta.
Hidup beliau sangat memprihatinkan, ia tak sanggup lagi berdiri, bahkan untuk berpindah tempat saja, dia harus bersusah payah dengan mengelundungkan badan.
Ini dikarenakan pada saat tenar dahulu ia sering berfoya bagai "ayam lupa daratan". Ibarat sehari bisa mendapatkan 5 juta, sehari itu pula uang tersebut habis olehnya.

sumber : http://www.brilio.net/news/ingat-si-kentung-film-tuyul-mbak-yul-kini-kabarnya-sungguh-tragis-150628s.html

2. Om Jin "Jin dan Jun"
via m.gayahidup.rimanews.com
Artis berikutnya adalah "Om Jin" dalam serial Jin dan Jun, bernama lengkap M Amin. Beliau juga mendapatkan cobaan dimasa tuanya. Bahkan saat beliau meninggal di tahun 2013, media pun tak banyak yang meliputnya.
Setelah berhenti memerani Om Jin, M Amin tidak memiliki pekerjaan tetap,yang ia lakukan hanya berkeliling-keliling komplek di sekitar rumahnya di kawasan Rawa Belong, Kebon Jeruk Jakarta.

sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-om-jin-pemeran-jin-dan-jun-hidup-sengsara-di-ujung-karir.html


3. Jinny : "Jinny oh Jinny"
via youtube.com
Artis yang tenar era 90an ini bernama Diana Pungky, sempat tak terdengar kabarnya di dunia hiburan rupanya dia sudah memutuskan untuk berhenti jadi artis. Dan sekarang tengah sibuk dengan bisnis spa yang ia kembangkan.


sumber : http://hiburan.metrotvnews.com/read/2014/10/10/303042/alasan-diana-pungky-mudur-dari-sinetron


4. Gerhana, "Gerhana"
Piere Roland "Gerhana" via hot.detik.com
Anak Generasi 90an pasti tau sinetron ini, GERHANA. Film superhero Indonesia yang berkisah tentang seorang anak yang lahir saat Gerhana dan memiliki kekuatan super untuk membela kebenaran. Sang Gerhana dimainkan oleh Piere Roland. Namun setelah film Gerhana tidak lagi ditayang di TV, sosok sang bintang pun hilang entah kemana. Lama menghilang dari dunia hiburan, ternyata kini sang Gerhana telah hidup bahagia dengan keluarga yang lengkap.

sumber : http://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/indonesia/foto-ingat-pierre-roland-si-gerhana-apa-kabar-dia-sekarang.html

Wisata Batu Kapal

Nama Batu kapal dewasa ini menjadi terkenal oleh masyarakat Natuna, terlebih masyarakat Ranai. Selain adanya batu besar yang menyerupai Kapal, daerah ini juga terkenal dengan wisata malamnya. Disini terdapat tempat pesta hiburan rakyat dan pujasera yang didirikan oleh Perusahaan Daerah (Perusda) Kabupaten Natuna.

Desa Batu Kapal terletak di Kecamatan Bunguran Timur, sekitar 2 km sebelah utara dari pusat kota Ranai, selain adanya batu besar yang menyerupai Kapal, disini kita juga disuguhi dengan pemandangan bebatuan granit lain yang tak kalah indahnya. Memang, daerah Natuna terkenal dengan Bebatuan Granit besar yang indah.

Batu Kapal diambil dari Batu Datar.
Ada beberapa objek wisata batuan lain yang berada disekitaran Batu Kapal, yakni Batu Datar dan Batu Sindu, kedua tempat ini berada dilokasi yang tidak terlalu jauh, sehingga kita pergi kesana dalam satu waktu. Jika kita masuk jauh ke dalam perkampungan batu kapal, akan kita temukan tumpukan bebatuan yang berjejer membentuk semacam suatu formasi, sangat pas sekali untuk melepas lelah sambil menikmati indahnya alam Natuna. Penasaran? Song detang jek.





Pulau Kemudi, Destinasi Baru Bunguran Selatan

Beberapa waktu lalu saya memposting tentang indahnya pulau Senoa di Kecamatan Bunguran Timur, yang memiliki pantai hingga pemandangan bawah laut yang luar biasa. Nah, Kabupaten Natuna yang merupakan kepulauan ternyata masih banyak menyimpan pulau-pulau eksotik yang sangat sayang bila kamu tidak mengunjunginya.

Sebut saja pulau Kemudi di Kecamatan Bunguran Selatan. Pulau Kemudi merupakan 1 dari 7 pulau-pulau kecil indah yang ada di Kecamatan Bunguran Selatan, untuk mencapainya cukup menggunakan atau menyewa pompong / perahu warga setempat dan perjalanan dimulai dari dermaga Batu Kasah di Desa Cemaga Tengah. 

Saat liburan mudik lebaran kemarin, saya bersama dengan saudara dan rekan-rekan dari UGM yang kebetulan sedang melaksanakan program KKN di sana, berangkat menuju Pulau Kemudi. Perjalanan kami hampir sempat tertunda selama 2 jam dari waktu yang ditentukan karena hujan deras serta angin ribut melanda daerah Bunguran Selatan, bahkan saking derasnya hujan, pulau Kemudi sempat "menghilang". Setelah sabar menunggu, alhamdulillah cuaca menjadi cerah dan perjalananpun dimulai. 

Selama perjalanan, pompong / perahu kami berkali-berkali diterjang gelombang, bahkan rekan-rekan yang duduk di anjungan depan pompong sudah basah kecipratan air laut yang masuk ke dalam. Sedikit kekhawatiran sempat saya alami, takut saja bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hujan dan angin memang sudah reda, namun ternyata gelombang masih menyisakan sedikit "galak"nya. Namun dengan sedikit kepiawayan sang kapten (juru kemudi) pompong -yang saya tidak tahu namanya-, akhirnya kami sampai ke pulau Kemudi dengan selamat. Batu karang bawah laut seakan mengucapkan selamat datang ketika kami baru akan tiba dipulau tersebut, air laut yang jernih, pepohonan kelapa menari ditiup angin seakan menyambut kedatangan kami dengan gembira.
Pantai Pulau Kemudi

Pulau Kemudi sangat bersih karena belum banyak yang mengetahui tentang pulau ini, saat kami kesana ada beberapa orang lokal yang sudah datang duluan menikmati indahnya pulau ini. Di pulau ini belum terdapat bangunan untuk tempat beristirahat, dan juga dermaga untuk bersandarnya pompong, sehingga saat tiba disana pompong yang kami tumpangi labuh jangkar dan "menabrak" pantai. :)
Pompong labuh jangkar.
Saat tiba di pulau, kami langsung menurunkan perbekalan, dan sebagian kami langsung berkeliling pulau sambil mencari tempat berteduh dari sengatan matahari. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 -15 menit dengan berjalan santai untuk mengelilinginya. Setelah tempat didapat, bekal-bekal kami pindahkan dan lanjut beristirahat sejenak, berlindung dari teriknya matahari yang berada di atas kepala. 

Sebagian dari rekan-rekan UGM sudah berenang duluan, tak peduli panasnya matahari di atas sana. Maklum, fikirku, di Jogja jarang bisa ditemui pantai untuk bisa direnangi dengan aman, pantai-pantai di Jogja yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia memiliki ombak-ombak yang besar sehingga tidak aman untuk berenang di sana. Beda dengan disini, gelombang kecil, air laut yang cenderung tenang, berenangnya juga ditemani dengan pemandangan-pemandangan yang luar biasa. Nah, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sudah lama tak berenang di laut, tak tahan juga melihat keasyikan teman-teman yang berenang, maklum udah setahun lebih tidak merasakan asinnya laut Natuna, akhirnya saya juga ikut menceburkan diri, tak peduli dengan sengatan matahari, memang tubuh ini sedang membutuhkan vitamin sea. :D
Jalan-jalan Men!
Setelah puas berenang, saya naik ke pantai dan beristirahat sambil meminum air kelapa, makan singkong rebus dan bakar ikan yang tadi diberikan oleh sang kapten, terbayang bagaimana sempurnanya liburan kali ini. Memang awalnya kami berniat untuk memancing, namun berhubung umpan tidak tersedia, akhirnya rencana memancing kami tiadakan.

Waktu menunjukkan pukul 2.30 sore, saatnya pulang, sambil berkemas, kami juga mengumpulkan sampah-sampah untuk dibakar, sampah-sampah ini sebagian besar berasal dari barang-barang yang hanyut terbawa ombak. Jika tidak dibakar maka ia akan menumpuk di pantai dan berujung dengan pencemaran laut. Dan ada juga sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung yang dibiarkan berserakan. Jika tidak kita yang membersihkan lalu siapa lagi? mulai lah dari diri sendiri untuk sebuah perubahan yang lebih baik, benar kan?

Dan saatnya pulang, setelah semua barang dimasukkan ke pompong, kami berangkat pulang menuju pulau Bunguran, air laut pun normal, tak bergelombang seperti saat perjalanan pergi tadi pagi. 
Perjalanan Pulang. :)

Selama perjalanan, bunyi mesin dan gemercik air laut merupakan simponi irama indah sambil menikmati indahnya alam Bunguran Selatan, di sebelah kanan terpampang sebuah pulau namanya belum tau) ditambah dengan susunan bebatuan granit yang indah, di sebelah kiri terpampang Bukit Pian Padang dari kejauhan serta pulau Jantai (saudara pulau Kemudi), di depan tersaji pemandangan Batu Kasah, Batu Serapong, serta Gunung Ranai dari kejauhan yang gagah berdiri meski sedikit tertutup awan sore. Rasanya terlalu singkat untuk menikmati perpaduan keindahan ciptaan Sang Maha Indah ini, namun waktu juga yang memisahkan. Sampai ketemu lagi, Kemudi. :)

ini baru satu pulau, sedangkan Kabupaten Natuna memiliki ratusan pulau yang menyimpan sejuta rahasia keindahan. ENJOY NATUNA. :)