Wednesday, October 7, 2015

Jogjaku, Selamat Ulang Tahun :')

Keraton Yogyakarta Hadiningrat, via www.tourdjogja.com
Saat pulang kantor tadi sore, sambil menunggu KRL tujuan Bogor, saya membuka akun path yang sudah nganggur sejak tadi malam, menyekrol sampai ke bawah dan terhenti disalah satu postingan seorang teman, sebuah postingan gambar tugu Jogja serta foto-foto kecil disampingnya. Tugu Jogja, itu memang ikonnya Jogja, sebuah kota yang saya tinggali selama kurang lebih 4,5 tahun sambil menuntut ilmu di kampus yang mempunyai (katanya) jurusan favorit yang ada di Indonesia ini. Namun mata tertuju pada caption yang ia berikan, yang intinya adalah "selamat ulang tahun kota Jogja ke 259".

Oh my God! hari ini ulang tahun kota Jogja? Baru tahu saya. Kemudian cepat-cepat pulang dan mencari sejarahnya lewat bantuan mbah gugel. Lumayan kan bisa dimasukin juga ke blog. Hhe. Jogja sudah berumur 259 tahun, tua untuk ukuran sebuah kota, tentu banyak lika liku yang dihadapinya. Teringat saya saat kali pertama menginjakkan kaki di Jogja, 6 tahun yang lalu. Seperti mendapat sambutan hangat dari alamnya, meski harus beradaptasi dulu dengan rasa makanannya yang "jawa banget", manis -kaya gue-, rasa yang boleh dibilang tidak biasa bagi seorang anak melayu-minang ini. Pernah saat itu saya dibelikan lontong oleh abang, tak lama "masuk" ke perut malah langsung "keluar", hhe.
Berada di Jogja membuat saya langsung betah dan tak mau pulang, meskipun saat itu hanya 6 hari saja disana karena mengikuti tes masuk kampus, saya dan teman-teman harus kembali pulang untuk menamatkan sekolah. Setelah lulus SMA, kami langsung melanjutkan kuliah di Jogja, iya Jogja. Sambutan hangat yang dulu masih saya rasakan, orang-orang sekitar, alamnya yang (dulu) asri, hiruk pikuk kota yang sangat sesuai untuk ratusan ribu manusia dari seluruh pelosok Nusantara yang menuntut ilmu disini. Belum lagi acara malamnya yang tak pernah sepi, komunitas motor, sepeda, kali code, kopi joss, alun-alun kidul, titik nol, tugu, ditambah lagi dengan atraksi seni + musisi jalanannya, kreatif! Gimana coba gak betah? Yang bikin ingat rumah adalah kadang-kadang musik melayu yang diputar di leptop, pagelaran acara daerah, masakan emak, dan akhir bulan. hha. Itu faktor yang baru bisa bikin kita ingat kampung halaman. Selain itu, hmmmmmm boleh dibilang gak ada. :D 
 
Yuk dah, kita mengulang kaji, flashback sebentar tentang kota yang memiliki sejuta kenangan ini. Sejarah lahirnya Kota Yogyakarta tidak bisa lepas dari keberadaan Kasultanan Yogyakarta. Adik dari Sunan Paku Buwana II yang bernama Pangeran Mangkubumi, yang memperjuangkan kedaulatan Kerajaan Mataram dari pengaruh Belanda. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya pada hari Kamis Kliwon tanggal 29 Rabiulakhir 1680 (Tahun Jawa) atau bertepatan dengan 13 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi yang telah bergelar Susuhunan Kabanaran menandatangani Perjanjian Giyanti atau sering disebut dengan Palihan Nagari yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Palihan Nagari inilah yang menjadi titik awal keberadaan Kasultanan Yogyakarta. Isi Perjanjian Gianti adalah Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Pada saat itulah Susuhunan Kabanaran kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I. 
Sri Sultan Hamengku Buwono I, via goblokku.wordpress.com
Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, dan Grobogan.

Sebulan setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tepatnya hari Kamis Pon tanggal 29 Jumadilawal 1680 atau 13 Maret 1755, Sultan Hamengku Buwana I memproklamirkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta dan memiliki separuh dari wilayah Kerajaan Mataram. Proklamasi ini terjadi di Pesanggrahan Ambarketawang dan dikenal dengan peristiwa Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram – Ngayogyakarta. Pada hari Kamis Pon tanggal 3 sura 1681 atau bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1755, Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintahkan untuk membangun Kraton Ngayogyakarta di Desa Pacethokan dalam Hutan Beringan yang pada awalnya bernama Garjitawati yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategis menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu. Setelah penetapan tersebut diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton. Sementara Sri Sultan mesanggrah di Ambarketawang sambil menunggui pembangunan fisik kraton. 
Pohon Beringin di Keraton, via bernadetadotty.wordpress.com
Pembangunan ibu kota Kasultanan Yogyakarta ini membutuhkan waktu satu tahun. Pada hari Kamis pahing tanggal 13 Sura 1682 bertepatan dengan 7 Oktober 1756, Sri Sultan Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah atau boyongan dari Pesanggrahan Ambarketawan masuk ke dalam Kraton Ngayogyakarta. Peristiwa perpindahan ini ditandai dengan candra sengkala memet Dwi Naga Rasa Tunggal berupa dua ekor naga yang kedua ekornya saling melilit dan diukirkan di atas banon/renteng kelir baturana Kagungan Dalem Regol Kemagangan dan Regol Gadhung Mlathi. Momentum kepindahan inilah yang dipakai sebagai dasar penentuan Hari Jadi Kota Yogyakarta dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Mulai saat itu berbagai macam sarana dan bangunan pendukung untuk mewadahi aktivitas pemerintahan baik kegiatan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun tempat tinggal mulai dibangun secara bertahap. Berdasarkan itu semua maka Hari Jadi Kota Yogyakarta ditentukan pada tanggal 7 Oktober dan dikuatkan dengan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2004.
Kota Jogja saat pembentukannya hingga kini telah banyak melalui berbagai perkembangan dan ikut serta pula dalam berbagai peristiwa besar di Nusantara. Diantaranya adalah sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional. Dan juga, pada tahun 2009 terjadi peristiwa tentang status Jogja, dan masyarakat akhirnya melakukan referendum untuk mempertahankan status Keistimewaan Yogyakarta.
"tanah lahirkan tahta, tahta untuk rakyat, 
dimana rajanya bercermin di kalbu rakyat,
demikianlah singgasana bermartabat, 
berdiri kokoh tuk mengayomi rakyat"
-Jogja Hiphop Foundation
HUT Jogja, via gambaranehunik.com
Yah, apapun itu. Selamat ulang tahun Kota Jogja tercinta. Terimakasih telah mengijinkanku menginjakkan kaki ditanahmu untuk menuntut ilmu. Terimakasih atas segala pengalaman dan kenangan, terimakasih atas segala proses yang telah diberikan sehingga aku bisa mendapatkan pelajaran baru dalam menjalani kehidupan. 
Jogja, via 999-logo.blogspot.com
 JOGJA TETAP DAN SELALU ISTIMEWA 
"Istimewa Negerinya Istimewa Orangnya"




http://www.jogjakota.go.id/about/sejarah-kota-yogyakarta
http://yogyatugu.blogspot.co.id/2012/03/berdirinya-kota-jogjakarta.html

Tuesday, October 6, 2015

5 Oktober : HUT TENTARA NASIONAL INDONESIA

Logo TNI, via komprominews.com

Tanggal 5 Oktober setiap tahunnya di Indonesia diperingati sebagai hari lahirnya Tentara Nasional Indonesia. Saat ini 5 Oktober 2015, TNI sudah berumur 70 tahun. 70 tahun mengawal Indonesia dengan ribuan kisah di dalamnya, 70 tahun menjadi abdi negara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, 70 tahun dengan segala prestasi yang dimiliki ditiap angkatannya. Untuk itu, mari sejenak kita membaca lagi sejarah, asal muasal terbentuknya TNI ini. :)

Sejarah berdirinya TNI bermula sejak Pemerintah Indonesia yang baru saja merdeka dengan sengaja segera membentuk tentara nasional dengan pertimbangan politik yaitu pembentukan tentara nasional pada saat itu bakal mengajak kecurigaaan serta bakal memunculkan pukulan perpaduan tentara Sekutu serta Jepang. Menurut prediksi bahwa kekuatan nasional belum sanggup menghadapi pukulan tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah hanya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang bermanfaat sebagai penjaga keamanan umum pada masing-masing daerah.
Tentara Indonesia, via creatifbasoka.blogspot.com
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah Indonesia merdeka, Jepang membubarkan PETA dan Heiho. Kemudian tanggal 19 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan sidang dan memutuskan untuk membentuk Tentara Kebangsaan. Baru pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI dalam sidangnya memutuskan untuk membentuk tiga badan sebagai wadah untuk menyalurkan potensi perjuangan rakyat. Badan tersebut adalah Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dua anggota PPKI, yaitu Abikoesno Tjokrosoejoso dan Otto Iskandardinata yang mengusulkan pembentukan badan pembelaan negara tersebut.
BKR merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang semula bernama Badan Pembantu Prajurit (BPP) dan kemudian menjadi Badan Pembantu Pembelaan (BPP). BPP sudah ada dalam zaman Jepang dan bertugas memelihara kesejahteraan anggota-anggota tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho. Pembentukan BKR diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus 1945, dengan pemimpin BKR pusat sebagai berikut :
  • Ketua umum : Kaprawi
  • Ketua I : Sutalaksana
  • Ketua II : Latief Hendraningrat
  • Anggota : Arifin Abdurahman, Mahmud serta Zulkifli Lubis
"Saya mengharap kepada kamu sekalian hai prajurit bekas Peta, Heiho, dan pelaut-pelaut serta pemuda-pemuda lainnya untuk sementara waktu masuklah dan bekerjalah dalam Badan-badan Keamanan Rakyat. Percayalah nanti akan datang saatnya kamu dipanggil untuk menjadi prajurit dalam tentara"
- Soekarno
Karena pada saat itu komunikasi masih sulit, tidak semua daerah di Indonesia mendengar Pidato Presiden Soekarno tersebut. Mayoritas daerah yang mendengar itu adalah Pulau Jawa. Sementara tidak semua Pulau Sumatera mendengar. Sumatera bagian timur dan Aceh tidak mendengarnya. Walaupun tidak mendengar pemuda-pemuda di berbagai daerah Sumatera membentuk organisasi-organisasi yang kelak menjadi inti dari pembentukan tentara. Pemuda Aceh mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API), di Palembang terbentuk BKR, tetapi dengan nama lain yaitu Penjaga Keamanan Rakyat (PKR) atau Badan Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR), kemudian juga ada Barisan Rakyat Indonesia (BARA), serta Barisan Buruh Indonesia (BBI). Kemudian menyusul Badan-badan perjuangan lainnya yang dibentuk diseluruh Indonesia, semacam Barisan Banteng Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Pemuda Indonesia Maluku (PIM), Hisbullah Sabilllah, Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), Barisan Pemuda Indonesia (BPI), serta Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Pada tanggal 16 September 1945 South East Asian Comand (SEAC) yang merupakan angkatan perang Inggris mendarat di Jakarta serta membuat tekanan terhadap Jepang untuk mempertahankan status quo. Faktor itu memunculkan keberanian serdadu Jepang untuk mempertahankan diri terhadap pemuda Indonesia yang sedang melucuti senjata. Pada tanggal 29 September 1945 datang lagi tentara Sekutu yang tergabung dalam Alied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dengan mengangkat pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Faktor ini menimbulkan perlawanan sengit dari para pemuda Indonesia terhadap sedadu NICA serta sekutu pada umumnya. Pemerintah memanggil mantan anggota KNIL Mayor Oerip Soemohardjo ke Jakarta. Sementara itu, Wakil Presiden Dr (HC) Drs Mohammad Hatta diangkat sebagai Kepala Staf Umum TKR dengan pangkat Letnan Jenderal dan diberi tugas membentuk pasukan tentara. Pada saat itu Markas Utama TKR berada di Yogyakarta.
Oerip Soemohardjo, via www.jakarta.go.id
BKR tidak berada di bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang maupun di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. Lembaga ini berada di bawah komando Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan KNI Daerah. Akhirnya melalui Maklumat Pemerintah pada 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Perubahan nama itu hingga kini diperingati sebagai hari lahir TNI. Pada saat itu, tanggal 6 Oktober 1945, Presiden Soekarno mengangkat Soeprijadi, tokoh PETA dalam memimpin pemberontakan di Blitar untuk menjadi Menteri Keamanan Rakyat dan Pemimpin Tertinggi TKR. Tapi dia tidak pernah muncul sampai awal November 1945, sehingga TKR tidak memiliki pemimpin tertinggi.


Untuk mengatasi hal ini, maka pada 12 November 1945 TKR mengadakan Konferensi yang diselenggarakan di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Kepala Staf Umum Letjen Oerip Soemohardjo. Hasil dari konferensi itu adalah terpilihnya Kolonel Soedirman sebagai Pemimpin Tertinggi TKR. Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 18 Desember 1945 mengangkat pejabat Komandan Kolonel Sudirman menjadi TKR, dengan pangkat Jenderal.

Selanjutnya, pada 7 Januari 1946, pemerintah mengeluarkan Keputusan Pemerintah No.2 / SD 1946 dan mengubah nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian nama Departemen Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Departemen Pertahanan. Kemudian pada 24 Januari 1946, melalui Keputusan Pemerintah 4 / SD 1946, Tentara KEselamatan Rakyat diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Lantaran Indonesia kala itu memiliki barisan bersenjata lainnya, maka pada 5 Mei 1947, Presiden Sukarno mengeluarkan keputusan untuk mempersatukan TRI dengan barisan bersenjata tersebut. 

Akhirnya, pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden meresmikan penyatuan TRI dengan perjuangan paramiliter ke dalam wadah tentara nasional dengan nama Tentara Nasional Indonesia. Presiden juga menetapkan komposisi tertinggi militer. Kepala angkatan bersenjata Jenderal Soerdiman ditunjuk sebagai Kepala pimpinan TNI Shoots anggota adalah Letnan Jenderal Oerip Sumohardjo, Laksamana Nazir, Commodore Suryadarma, Sutomo Mayor Jenderal, Mayor Jenderal Ir. Sakirman, dan Mayor Jenderal Jokosuyono.
Jenderal Soedirman, via en.wikipedia.org

Indonesia sempat mengalami perubahan menjadi negara federasi dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Perubahan itu terjadi usai Konferensi Meja Bundar (KMB) yang digelar pada Desember 1949. Seiring perubahan itu, dibentuk pula Angkatan Perang RIS (APRIS). Di dalamnya tergabung TNI dan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Pada 17 Agustus 1950, RIS dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negera kesatuan, sehingga APRIS berganti nama menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

Pada tahun 1962, upaya penyatuan antara angkatan bersenjata dengan polisi negara menjadi sebuah organisasi yang disebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Penyatuan perintah dilakukan dengan tujuan untuk mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan peran dan mempertahankan pengaruh kelompok politik tertentu. 

Era Presiden Soeharto, banyak orang-orang militer ditempatkan di berbagai perusahaan dan instansi pemerintahan. Di lembaga legislatif, ABRI mempunyai fraksi sendiri di Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang anggota-anggota diangkat dan tidak melalui proses pemilu yang disebut dengan Fraksi ABRI atau biasa disingkat FABRI.
TNI sekarang, via jakartagreater.com

Usai Soeharto lengser pada 1998, TNI mengalami perubahan tertentu, seperti penghapusan Dwifungsi ABRI dan pemisahan Polri dari TNI. Pada tanggal 1 April 1999 militer dan polisi secara resmi dipisahkan menjadi lembaga yang berdiri sendiri. Polri secara resmi kembali berdiri sendiri dan merupakan sebuah entitas yang terpisah dari militer. Tak hanya itu, nama resmi militer Indonesia juga berubah dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kembali berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
HUT TNI, via gambaranehunik.com

SELAMAT ULANG TAHUN TNI
SELALU JAYA DI DARA, LAUT, DAN UDARA



http://www.gurusejarah.com/2015/03/sejarah-lahirnya-tni.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Tentara_Nasional_Indonesia
http://news.liputan6.com/read/2333261/awal-mula-ditetapkannya-5-oktober-jadi-hut-tni?
http://www.gurupendidikan.com/sejarah-terbentuknya-tentara-nasional-indonesia-menurut-ahli-sejarah/