Saturday, December 17, 2016

Review Film : Headshot!

Satu lagi ni film buatan anak negeri yang membanggakan, pertama liat posternya udah dari bulan oktober lalu, jadi penasaran sama film ini, diposter ditempeli muka Iko Uwais, Julie Estelle dan Chelsea Islan, piker ane bakal seru ya ni film. Dan akhirnya bisa nonton juga pas lagi free gak ada kerjaan kantor : Headshot!!!
Headsho, via http://www.imdb.com

Sinopsis.
Abdi (Iko Uwais) kehilangan ingatan setelah sisi kepalanya ditembak oleh "keluarganya" karena kedapatan berkhianat dengan memberitahu keberadaan "ayah" mereka kepada polisi. Ia hanyut ke pantai dan diselamatkan oleh seorang bapak tua yang kemudian diantar ke RS di daerah tersebut, adalah dokter Ailin (Chelsea Islan) yang merawatnya dalam keadaan koma hingga sadarkan diri. 
 
Masih hidupnya Abdi ini terdengar oleh sang "Ayah" yg sudah bebas (kabur) dari penjara. Kemudian sang Ayah yg dikenal dg nama Lee (Sunny Pang) tsb memerintahkan para "anak-anaknya" utk membunuh Abdi karena pengkhianatannya dulu.

Kilas balik, Abdi, Rika (Julie Estele), Tejo, Besi, dan Tono awalnya adalah korban penculikan anak-anak yang dilakukan oleh Lee. Lee sendiri merupakan sindikat penjahat besar dengan bisnis obat-obatan terlarangnya. Anak-anak yang diculik ini diajarkan untuk bertahan hidup dengan cara apapun, dan mereka dididik untuk menjadi penjahat dibawah asuhan ayah mereka. Abdi yang sadar akhirnya membelot dan menjadi informan polisi untuk menangkap Lee.

Berbagai cara dilakukan oleh saudara-saudara Abdi untuk membunuhnya, termasuk menculik dan menahan Ailin, sehingga Abdi kembali ke sarang nya untuk menjemput Ailin sekalian menghabisi Lee dan para anak asuhnya.
--------------
Pemain-pemain Headshot, via cityonfire.com
 
Film aksi ini disutradarai oleh Mo Brother (Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto), sutradara asli Indonesia. Dan mengambil lokasi syuting di Batam (Kepulauan Riau) dan Jakarta. Film ini dimainkan oleh artis-artis papan atas Indonesia, sebut saja Iko Uwais, nama yang mulai melambung setelah akting suksesnya dalam debut film Merantau (2009), kemudian lanjut pada The Raid 1 dan 2, juga ada Julie Estelle, Chelsea Islan, Zack Lee, David Hendrawan, dan Very Yulisman, serta artis luar negeri Sunny Pang.
Beberapa adegan dalam film, via http://hpu.hiff.org/
Di produksi oleh Screenplay Infinite Films dan diproduseri oleh Shinjiro Nishimura, Mike Wiluan, Wicky V. Olindo, Sukhdev Singh. Film ini mendapat banyak penghargaan, diantaranya Dua buah Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2016 untuk kategori Penata Suara Terbaik dan Visual Sound Efek Terbaik, padahal film ini belum ditayangkan di Indonesia (saat penghargaan ini diberikan). Pernghargaan lain juga didapati dari luar negeri diantaranya di Toronto dan Paris.

Hanya saja ada beberapa adegan yang tak masuk akal (bagi saya) dalam film ini, yang pertama saat diawal-awal adegan tembak menembak antara polisi dan tahanan yang kabur, adegan tembak menembak terjadi di gang sempit disebuah penjara, dalam adegan itu, meski suara tembakan sudah terdengar, namun mereka tetap saja saling maju tanpa terlihat ada yang terkena efek tembakan, terlebih yang berada didepan, rasanya tidak logis aja, jarak sedekat itu, terkena tembakan masih bisa jalan, gak langsung tewas, atau paling tidak jatuh lah, padahal tidak mengenakan rompi peluru. Namun, untuk sekelas film aksi, film ini harus diacungi jempol, kepiawaian Iko Uwais dalam teknik beladiri secara total dikeluarkan dalam film ini, full aksi, hanya diawal-awal saja yang beralur agak selooow. 
Headshot movie, via www.brilio.net
Kualitas gambar juga setara The Raid, dengan kesadisan yang 11:12 lah. Darah, tom tam tom tam bunyi senapan, dan adegan silat sampe patah-patah tulang. Meski diawal kebanyakan penonton beranggapan ini sama seperti The Raid, apalagi banyak alumni The Raid/Berandal yang main lagi di film ini. Namun oleh sang sutradara, hal itu ditepis dengan membuat perbedaan-perbedaan sehingga film ini tak terlihat seperti “The Raid 3”. Perbedaan mencolok adalah dilibatkannya Chelsea Islan. Yap, ini sepertinya merupakan film aksi pertama Chelsea. Jadi, para fansnya, jangan harap, kalau di film ini Chelsea bakal tampil anggun atau berwajah polos tanpa dosa, yang ada malah ia diperlakukan agak kasar, bahkan Chelsea juga membunuh penjahat dengan senapan, ajeeeb. Dan Chelsea memegang peranan penting mengapa film ini harus ditonton hingga selesai. Perbedaan lain yang membuatnya bukan “The Raid banget” adalah alur cerita yang bercampur antara aksi, humor (sedikit) dan romantis. 
 
Dan karena ini film garapan anak negeri, jadi unsur dalam negeri namun yang sudah mendunia tetap dibawa : Pencak Silat. Tidak hanya itu, ada berbagai beladiri di film ini, Kungfu dan Wushu, Street Fighter dan sebagainya yang menjadi satu buah kombinasi luar biasa untuk action laga. Ini satu-satunya film Action Indonesia, Martial Art. So, bagi kamu yang menyukai film aksi, apalagi ini buatan anak negeri sendiri, this movie is worth watching guys. Cintailah film-film Indonesia.


Sumber-sumber :
Liputan6.com/showbiz/
Bintang.com
davincioners.blogspot.co.id
http://raditherapy.com

Tuesday, December 13, 2016

Museum Lambung Mangkurat, Wisata Sejarah Kalimantan Selatan

Terbangun dari tidur yang tak begitu panjang setelah pulang dari Taman Siring tadi malam. Waktunya pulang kembali ke Tanjung hari ini. Setelah sarapan di alpamaret samping tempat nginap, kami langsung pulang menuju Tanjung. Namun atas saran saya, kami singgah dulu ke museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru yang kebetulan searah jalan pulang ini. Istirahat sebentar sambil mempelajari sejarah Kalimantan Selatan, terutama Kesultanan Banjar.
Gedung Utama Museum
Museum ini merupakan museum umum milik pemerintah Kalimantan Selatan, museum ini terletak di Kota Banjarbaru. Lambung Mangkurat sendiri merupakan nama tokoh yang merupakan cikal bakal Kesultanan Banjar. Museum ini berdiri sudah lama, diresmikan pada tanggal 10 Januari 1979 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr Daoed Yoesoef. Memiliki bangunan seluas 2000 m2 yang dibangun di atas lahan seluas 15.000 m2. Fasilitas gedung tersebut terdiri dari Gedung Induk Pameran Tetap dua lantai, Ruang Pameran Temporer, Kantor dan Rumah Dinas Kepala. 
Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dan Tawing Halat
Kami terlebih dahulu mengisi buku tamu dan membeli tiket masuk seharga 3 ribu rupiah perorang. Saat pertama masuk gerbang. Mata saya sudah langsung terpana akan bentuk museum ini. Bentuk yang khas yang belakangan saya ketahui merupakan bentuk dari rumah adat Banjar yang disebut "Rumah Bubungan Tinggi" namun didesain secara modern, mewah, dan elegan. Ini merupakan bangunan utama museum. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan yang terpisah dengan fungsi dan bentuk bangunan yang berbeda pula, ada Ruang Pameran Temporer dan ruang pameran kain, keramik, lukisan bergaya eropa. Kantor Tata Usaha, ruang Kepala dan Perpustakaan bentuk atap pisang sasikat. Kantor tenaga teknis dan gudang koleksi dengan bangunan atap hidung bapicik.
Koleksi Museum Lambu Mangkurat #1
Ragam Koleksi Museum Lambu Mangkurat #2
Saya masuk ke bangunan utama yang terdiri dari dua lantai, saya masuk ke lantai atas terlebih dahulu. Dimana disana terdapat berbagai macam koleksi mengenai Banjar, foto-foto Banjar tempo doeloe, flora fauna, adat serta sejarah. Ada miniatur rumah tradisional Banjar "Rumah Bubungan Tinggi" yang terletak di aula utama. Dibelakang miniature rumah, terdapat sekat dengan ukiran dan hiasan beberapa pintu yang bernama “Tawing Halat”. Tawing Halat merupakan penyekat antara ruang tamu (paluaran) dan ruang tengah (paledangan) pada rumah tradisional Banjar. Oke, lanjuut. Kemudian ada pameran alat musik dan kesenian tradisional, juga menampilkan beberapa miniatur rumah adat yang lain. Lalu lanjut dengan beragam koleksi-koleksi mengenai adat Banjar, mulai dari permainan tradisional, kerajinan tangan, kegiatan sehari-sehari masyarakat Banjar, senjata tradisional, adat menikah, khitan, hingga persalinan. 
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Masih di lantai 2, di bagian belakang, terdapat sejarah mengenai tokoh Banjar yang termasyhur, seorang ulama terpandang. Beliau bernama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, semoga Allah merahmatinya. Beliau merupakan putra asli Banjar yang banyak berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Ayahnya bernama Abdullah, sejak usia belia, beliau sudah pandai melukis dan fasih membaca quran. Sehingga oleh Sultan Hamidullah, ia dibawa ke Kraton Kesultanan Banjar untuk dididik agama islam serta mendapat “beasiswa” dari kesultanan untuk belajar di Mekkah selama 30 tahun. Usia beliau terbilang cukup panjang dengan umur 102 tahun, dan telah banyak membuat kitab-kitab yang dicetak diberbagai negara, seperti Mekkah, Mesir dan Turki. Luar biasa, Alhamdulillah. Dan, mungkin gambar beliau-beliau ini yang kerap dipasang di rumah makan-rumah makan Banjar, sebagai bentuk penghormatan. link Wallahu a’lam. 
 
Setelah khatam disemua ruangan lantai 2, saya melanjutkan perjalanan ke lantai satu. Ada hal yang tak boleh terlewatkan disini menurut firasat saya, hhe. Di teras lantai satu, tepatnya di bawah tangga, terdapat tulang ikan paus serta miniature candi Borobudur dan Prambanan. Miniatur candi-candi ini kerap kali ditemukan di beberapa museum di Indonesia, seperti ada keterkaitan gitu deh ya. Hmm. Memasuki ruangan di lantai satu terdapat pameran peralatan yang dipakai oleh manusia purba, dan fosil gajah purba. Lalu terdapat foto-foto gubernur Kalimantan Selatan dari periode pertama hingga sekarang, serta lambang seluruh pemerintahan daerah yang ada di Kalimantan Selatan. Selain itu, juga menampilkan pameran di era penjajahan Belanda, terdapat tokoh-tokoh pahlawan, hingga senjata yang digunakan ketika berperang.
Gubernur-Gubernur Kalimantan Selatan
Dari beberapa tokoh tersebut, ada satu nama yang menarik perhatian saya, yaitu Demang Leman, dia merupakan pemimpin perang Banjar yang divonis mati oleh pengadilan militer Belanda. Nama Demang, mengingatkan saya tentang sejarah daerah saya sendiri, di Natuna. Bahwasanya seorang bernama Demang Megat yang merupakan suami dari seorang Putri Kerajaan yang “diasingkan” ke pulau Bunguran. Apa mungkin ada kecocokan? Jangan-jangan sepupuan lagi.. Hmmmm #cocoklogi. 
Tokoh Pejuang Banjar
Lalu yang terakhir yaitu penjelasan singkat mengenai Kerajaan Banjar, mulai dari Lambang, pernak-pernik hingga silsilah Kerajaannya. Saya sangat suka bagian ini. Pertama mengenai Lambang, yang hampir seluruh tulisannya bertuliskan arab, menandakan pengaruh budaya arab sangat kental menghiasi perjalanan bangsa ini, #gakkayaorangorangdimedsosyanggakngertisejarahitu. Makanya agak heran sama mereka yang agak alergi ke-arab-an. Ups. Lalu pernak-pernik kerajaan seperti dokumen, cap, senjata dan lambang kerajaan itu. Juga terdapat silsilah Kerajaan Banjar dari awal hingga berakhirnya tahun 1859. Menurut poster tersebut silsilah kerajaan Banjar erat kaitannya dengan ajaran Hindu/Budha, dari Khayangan dan dilemparkan ke Bumi, hingga akhirnya menjadi kerajaan Islam yang besar seperti yang kita ketahui ini. Dan Lambu Mangkurat yang merupakan cikal kerajaan Banjar ini merupakan putra dari Ampu Jatmika, dan cucu dari Raja Keling. Dari Lambu Mangkurat inilah lahir keturunan yang menjadi raja kerajaan Banjar dari Hindu/Budha hingga Islam yang tercatat dimulai pada tahun 1527 Masehi. 
Kesultanan Banjar
----------------------
Hari sudah mulai siang, sebenarnya masih ada ruangan-ruangan lain yang ingin saya kunjungi. Hanya saja waktu yang tidak memungkinkan dan didukung oleh batre android saya yang sudah memerah. Jadi tour de museumnya kami sudahi saja, dan bergegas untuk pulang ke Tanjung. Beberapa dokumentasi yang ada telah memenuhi rasa pengetahuan saya tentang sejarah Kalimantan Selatan, meskipun tak semua. Alhamdulillah.

#takmerantaukautaktau



Referensi :
http://kerajaanbanjar.com
http://wisatadanbudaya.blogspot.co.id/2009/10/museum-negeri-kalimantan-selatan.html

Tulisan Perantau : Banjarmasin, Jelajah Kota Sungai yang Super Kaya (2)

Setelah hanya melihat-lihat dan membayar rasa penasaran akan uniknya pasar terapung, serta bercengkerama dengan ratusan monyet di pulau Kembang, kami memutuskan untuk pulang, mencari sarapan dan istirahat sejenak di hotel. Lalu memikirkan perjalanan berikutnya.


Jembatan Barito
Saya telah googling tempat-tempat wisata yang ada disekitaran Banjarmasin ini, namun yang keluar kebanyakan yang terletak jauh dari kota, ditambah passion teman-teman yang memang kurang untuk explore-explore jadi ya begitulah ya, hmm. Jadi yang terdekat yang bisa dikunjungi adalah Jembatan Barito. Namun sebelumnya kami pergi mengisi perut untuk menambah sedikit tenaga. Tujuan kali ini adalah Soto Banjar, nah ini baru bener-bener Banjar, karena soto banjarnya terletak di Banjarmasin, di “sarang”nya. 

Kulineran dulu bray.....
Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan ke Jembatan Barito, Jembatan kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Jembatan yang melintasi sungai Barito selebar 800 m dan melewati sebuah pulau kecil di bawahnya, pulau Bakut namanya, sebuah objek wisata mangrove untuk melihat hewan asli Kalimantan : Bekantan. Pulau Bakut ini memiliki lebar 200 m dan jika dilihat dari gugel mep, bentuknya hampir sama seperti pulau Kumala yang ada di Tenggarong.
Jembatan Barito
Jembatan Barito ini juga merupakan akses penting masyarakat, Jembatan yang memiliki lebar sekitar 10 meter ini menghubungkan jalan lintas provinsi ke provinsi Kalimantan Tengah, atau biasa disebut dengan jalan Trans Kalimantan. Berjarak 15 km dari Kota Banjramasin dan membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai tempat ini. Jembatan yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1997 ini memiliki tinggi ruang bebas jembatan berkisar 15-18 meter, sehingga dibawahnya bisa dilalu kapal-kapal yang kerap lalu lalang. Setelah sampai dijembatan Barito kami hanya berfoto dengan latar belakang tulisan jembatan Barito saja, tidak ada yang spesial (atau mungkin belum), karena saya tidak menemukan spot yang tepat untuk mengabadikan jembatan ini dengan molek. Keterbatasan daya, dan waktu. Hanya sebentar saja, lalu kami beranjak pulang dan istirahat, menunggu malam.





Wisata Sungai, dan Pasar Terapung Malam
Tujuan berikutnya adalah menikmati malam di kota seribu sungai. Nah tadi sore, si temen yang nyupir mengeluh tidak enak badan. Kami menyuruh dia istirahat, dan teman-teman lain menyuruh saya untuk nyetir. What! Tempat baru ini, langsung disuruh nyetir aje, tapi gak apa-apa lah, dari pada bengong sampai besok, mending nekat dengan bantuan gugel mep.

Pasar Terapun Taman Siring

Pasar Terapung Taman Siring
Tujuannya kali ini ke Taman Siring yang terletak di tepi Sungai Martapura. Alhamdulillah bisa sampai kesana dengan bantuan dek gugel mep. Taman ini selalu ramai dikunjungi, seperti alun-alunnya lah ya. Tempat nongkrong juga banyak tersedia disini, disisi darat maupun sungai. Nah, ada pasar terapung lagi saat malam, di taman ini kegiatan jual-beli diatas perahu masih tetap dilakukan, untuk menarik wisatawan akan termahsyurnya kegiatan ini. Banyak barang yang dijual, sayur, buah, dan lain-lain. Atau mungkin mau coba nongkrong dengan sensasi bergelombang? Ada beberapa kios-kios terapung yang menjual aneka makanan dan minuman, beli dan minum disitu sambil menikmati gelombang-gelombang kecil yang dibuat oleh arus pelan sungai juga bekas perahu-perahu klotok yang lewat sepertinya bakal menyenangkan.
Cafe Terapung
Kami berjalan kaki menyusuri  taman di tepian sungai ini, terdapat menara pandang, rumah adat, dan beberapa fasilitas umum. Tak jauh dari situ, berdiri gagah patung Bekantan yang menyemburkan air dari mulutnya, ala-ala Singapur gitu. Bekantan merupakan hewan asli Kalimantan, dan tempat ini merupakan spot foto yang paling digemari.
Patung Bekantan Taman Siring

Patung Bekantan Taman Siring
Kemudian kami mencoba untuk berwisata sungai naik perahu klotok. Dengan harga karcis 5000 rupiah, kita dibawa untuk menyusuri sungai ditengah-tengah kota ini. 5000 perorang untuk 20 menit wisata sungai di malam hari. worth it lah. Hari sudah mendekati tengah malam, taman Siring perlahan-lahan sepi, para pengunjung sudah banyak yang pulang. Tidak seperti tempat-tempat nongkrong yang biasanya selalu ramai hingga pagi, hmmm ini bertanda kami juga harus pulang, istirahat, untuk kembali ke Tanjung esok hari.
Wisata Sungai

Sumber : 
wikipedia

Tulisan Perantau: Banjarmasin, Jelajah Kota Sungai yang Super Kaya

Rumus : kerja sedang standby + temen ngajakin ke Banjarmasin + pake mobilnya temennya temen itu = perfect!

Masih diseputaran Kalimantan Selatan ni, kali ini perjalanannya ke Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimatan Selatan. Perjalananan dari Tanjung ke Banjarmasin normalnya memakan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Namun karena ini bareng temen yang bisa berhenti seenaknya aja, jadi 7 jam deh. Safety first kan. Start dari mess/apartemen saat magrib dan tiba di Banjarmasin jam 1 dinihari. Mencari-cari tempat nginap, akhirnya dapat di hotel Metro, biaya 175rb dengan fasilitas 3 kasur, kipas angin, kamar mandi dalam, free wifi dan sarapan teh n roti paginya. Penginapan yang pas banget untuk traveler ni. Recomended! 
Hotel Metro

Pasar Terapung dan Pulau Kembang
Setelah istirahat sekitar 4 jam, lalu setelah subuh kami langsung berangkat, tujuan pertama dan utamanya kesini adalah ke pasar terapung yang ter-famous itu. Ingat gak (generasi 90an) saat nonton R*TI, ada nenek-nenek diatas perahu sambil milih-milih sayur kalo gak salah, terus kamera makin deket-makin deket tiba-tiba si nenek langsung ngacungin jempolnya tanda semboyan R*TI OKE itu? Nah disini ni tempatnya. Jadi tujuan pribadi saya mau cari itu nenek-nenek, hhe. :D 
R*TI okeeeee, via id.crowdvoice.com
Menuju pasar terapung harus menggunakan perahu klotok, kalau bahasa tempat saya adalah mutur. Tak susah menemukannya karena banyak tersedia perahu klotok di anak-anak sungai disini. Dan kami berhenti di pelabuhan depan sebuah masjid, yang katanya adalah masjid tertua di Banjarmasin ini, Masjid Sultan Suriansyah namanya, mungkin nanti ada bagian khusus untuk membahas masjid ini (mbe ajin nulis pulak). :)



Dermaga Wisata
Setelah menyewa perahu dengan harga 175k, harga paketan, pasar terapung dan pulau Kembang. Kami berangkat menuju pasar terapung itu, dari anak sungai menuju sungai Barito yang mengaliri 2 provinsi di Kalimantan ini membutuhkan waktu 15-20 menit. Perjalanan kami ditemani oleh pemandangan kegiatan-kegiatan pagi masyarakat sekitar yang berumah diatas sungai. 


Hampir semua aktifitas dilakukan disini, mandi, mencuci pakaian, dan lain-lain. Lalu-lalang perahu-perahu kecil menghiasi perjalanan pagi yang cerah ini. Sesekali juga mereka melemparkan tersenyum atau bahkan melambaikan tangan ketika pandangan kami berpas-pasan dengan mereka, #khasIndonesia, #banggaIndonesia. Pemandangan awal yang saya dapati ketika memasuki sungai Barito adalah kapal-kapal tongkang yang mengangkut hasil bumi Borneo yang berasal dari berbagai tempat dan tak tau mau dibawa kemana, mungkin diolah sebelum dijual, atau apalah itu namanya ya. 
Sungai Barito


Setelah berjalan sekitar 20 menitan, perahu klotok kami melambatkan jalannya, lalu disambut dengan perahu-perahu kecil (bahasa daerah saya menyebutkan samban kulek) yang merapat di perahu kami menawarkan jajakannya, ada buah-buahan, sayuran, roti, air minum, sarapan pagi, wade/wadai (sebutan untuk makanan, kalau bahasa Ranai nya adalah "tambul"), kopi, bahkan sate sekalipun. Hmmm sepertinya asyik ya, makan sate di perahu yang dibuat sedemikian rupa seperti kafe terapung kecil dengan ayunan ombak-ombak kecil sungai. 
"kios" wadei (makan-makanan)

"Kios" buah-buah

"kios" buah-buah


Setelah sempat bengong beberapa saat, akhirnya saya sadar bahwa inilah pasar terapung itu. Hahaha. Soalnya dulu saya menganggap, pasarnya berada disatu tempat yang tetap, namun kios-kiosnya diganti oleh perahu-perahu. Hah, ternyata imajinasi saya salah. Awalnya mungkin kegiatan jual-beli ini merupakan kegiatan sehari-hari warga lokal yang memang daerahnya dialiri banyak sungai, namun lambat laun menjadi daya tarik wisata, terbukti ternyata tak hanya kami dipagi itu, ada sekitar 2 - 4 perahu klotok lain yang membawa wisatawan untuk pergi kepasar terapung ini. Yah, sekedar belanja, atau bisa juga hanya untuk update location di path kan.
"kios" souvenir



Kata temen yang membawa kami kesini, jam saat kami pergi ini sudah termasuk siang, jam 6.30 pagi, jadi perahu-perahu penjual pun sudah tidak banyak, waktu ideal ketempat ini adalah setelah subuh katanya. Yah, termasuk telat berarti saya dan kawan-kawan, alhasil nenek-nenek RCTI itu tidak bisa saya jumpa. Ya sudahlah, apa mau dikata. :D

Floating Market

Pasar Terapung

Pulau Kembang
Welcome to Kembang Island
Perjalanan berlanjut ke Pulau Kembang, salah satu dari sekian banyak pulau-pulau yang terbentuk di Sungai Barito ini. Belum juga sampai di pulau ini kami sudah disambut oleh puluhan monyet yang sudah menunggu di dermaga. Dan mereka seperti "senang" kami datang, sehingga ada yang melompat-lompat ke perahu, bagi yang tak biasa, teriak-teriaklah jadinya. Tapi ada acil-acil (sebutan untuk ibu-ibu atau mbak-mbak dalam bahasa Banjar) tourguide di pulau tersebut yang membuat aman.
Dermaga Pulau Kembang

Yang punya pulau ni.


Setelah membeli karcis masuk 7000an perorang, kami memasuki pulau Kembang tersebut, sebuah pulau berisi rawa-rawa yang dihuni oleh ratusan monyet, ini termasuk salah satu wisata mangrove di Banjarmasin, rute jalannya pun tidak panjang, hanya sedikit memutar di tepian pulau. Tidak ada monyet ketika kami masuk ke pulau, setidaknya belum, begitu kata si acil.
Koloni monyet Pulau Kembang
Ada beberapa koloni monyet ditengah-tengah pulau, namun enggan ke tepi, dan yang ini agak liar dan ganas, katanya lagi. Setelah memutar pulau tersebut kami kembali menuju dermaga, istirahat disana, sambil mendengar teriakan-teriakan pengunjung lain yang kaget mendapat "sambutan" para monyet ini. Jika ingin berinteraksi kita bisa membeli makanan dan memberinya, dan juga hati-hati dengan barang bawaan ya.

The Island of Apes, hhe
Hari sudah mulai siang, mataharipun sudah mulai memans, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan sambil memikirkan kegiatan apa selanjutnya. Perahu kami datang menjemput dan mengantar kami kembali ke dermaga pemberangkatan.
Masjid Sultan Suriyansyah
Saat sampai saya kembali kagum dengan masjid Sultan Suriyansyah ini, saya hanya mengambil beberapa gambar, ingin sekali mengetahui sejarah tentang masjid tertua di Banjarmasin ini. Namun waktu juga yang membatasi, akhirnya kami pulang istirahat di penginapan.


Saturday, November 19, 2016

Tulisan Perantau : Tanjung Tabalong (2), Yang Unik

Masih di Tanjung Tabalong vrooh, masih ada waktu beberapa minggu lagi disini (menurut kontrak kerja), masih sempat untuk explorasi tempat-tempat (sambil menunggu waktu yang pas untuk explorasi). Hal yang bisa dilakukan adalah mengamati yang bisa diamati dulu saja. Kali ini tentang kehidupan dan keunikan di Tanjung. Setiap kota atau daerah punya keunikannya to. Tak terkecuali Tanjung Tabalong ini. Ada beberapa keunikan yang menurut saya sayang untuk tidak dituliskan. Hahai.

Yang unik, yang unik :
Unik yang pertama :
Plat Kendaraan. Pernah mengamati plat kendaraan bermotor? Seperti plat kendaraan dari Sumatera yang diawali dengan huruf B, plat kendaraan di Jawa yang beraneka ragam, plat kendaraan di Bali dan Nusa Tenggara yang awalnnya D, di Kalimantan plat kendaraan berawal dari huruf K, KB untuk KalBar, KH untuk KalTeng, KT untuk Kaltim, KU (masih dalam usulan) untuk KalTara, dan KS untuk Kalimantan Selatan.  
Plat DA
Eeet, tunggu dulu, disini yang uniknya, plat kendaraan KalSel yang Tanjung Tabalong masuknya didalamnya bukanlah KS, melainkan DA. Nah jauh banget kan? Saat pertama-pertama belajar memahami kode plat kendaraan dulu, saya sendiri merasa bingung mengapa KalSel ini beda sendiri, mengapa harus DA gitu? Ada yang bilang DA untuk singkatan Dayak Asli, hweew, SARA coy. Ada juga yang bilang DA untu singkatan Daerah Air, karena KalSel memiliki banyak sungai. Tapi untuk menghilangkan rasa penasaran, yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah tanya mbah gugel dah, jadi katanya dulu Kalimantan merupakan satu kesatuan provinsi, oleh pemerintah pusat plat kendaraannya ditetapkan DA, setelah Kalimantan dimekarkan menjadi beberapa provinsi seperti sekarang ini dan masing-masing memiliki kode plat kendaraan sendiri, tinggallah KalSel dengan tetap menggunakan kode plat kendaraan DA, gitu aja deh sejarahnya. Hhe.

 
Unik yang kedua :
*ceritanya lagi laper, mau makan, pergi lah ke warteg*
"buk, pesen nasi campur ya"
"ia, ikan nya apa?"
*trus kamu lihat dipilihan lauk tidak ada lauk ikan sama sekali, dan kamu mulai bingung (bengong, garukin kepala)*
Ikannya apa?
Ternyata, istilah "ikannya apa?" setiap kita beli makan berarti menanyakan lauk, lauk apa yang akan kita pilih. Tak hanya di KalSel, di KalTim juga yang ada warung Banjar dan penjual asli Banjar nya rata-rata akan menanyakan hal yang sama ketika kita akan makan. Setelah saya tanya dengan ibu pemilik warung makan yang asli sini, jawabnya itu karena kebiasaan aja makan nasi dengan lauk ikan, jadinya setiap makan nasi yang ditanya itu apa ikannya, lama kelamaan jadi kata ikan ini pengganti kata lauk deh. Cmiiw. :D

"Ikannya apa?" berarti "mau lauknya apa?". Ya nanti jawab aja biasa, gini :

"bu, nasi campur, ikannya ikan harwan ya,"
"bu nasi campur, ikannya ayam goreng". :D
 
Unik yang ketiga,
Pernah liat lukisan ini atau semacamnya ketika makan di warung Banjar?
Jika kalian makan di warung banjar, atau pergi ketempat-tempat usaha lainnya. Sebagian besar akan kita temui figura seorang atau beberapa orang laki-laki, bersorban, sebagian ada yang berjanggut. Ya, khas tampilan ustadz atau ulama gitu. Ketika saya bertanya kepada ibu yang tadi tempat saya tanya tentang "ikan", secara singkat dan cepat beliau menjelaskan itu ada ulama dari Banjar, boleh juga dibilang "Wali Songo" nya Kalimantan, meskipun bukan songo (sembilan), ya berarti Wali lah ya. Beliau menyebut ada empat nama, ulama-ulama dari Banjar tersebut. Jadi menurut saya pemajangan gambar-gambar beliau ini merupakan suatu bentuk kehormatan kepada para ulama.

Saya rasa masih banyak unik-unik yang lain, sementara saya mencari, biarlah 3 unik ini dulu yang saya ceritakan ya. See ya.

Tuesday, November 15, 2016

Kopi Loper? Monggo mblo neng kene wae.

Satu lagi ni tempat nongkrong asik di Jogja "yang tetap istimewa" ini. Nongkrong sambil nikmati citarasa kopi Nusantara, spesial dari provinsi paling ujung barat sana : Nanggroe Aceh Darussalam. Berawal dari pesbuk, kakak saya ngetag foto mirip gerobak angkringan, tapi tulisannya “ngopi”. Trus dia bilang :

"mbe agik kat Jogja, au gi hini ye,"
(kalo lagi ke Jogja, mampir sini ya).
Gayo Ngopi, via facebook.com

Oke deh jawab ane kan. Sambil mencari-cari alasan untuk bisa ke Jogja lagi. Dan kebetulan tak lama setelah itu ada pelatihan di Jogja. Kesempatan ni, muleh nang Jogja, sambil cari waktu kosong sebentar untuk pergi ketempat itu.

Mbe se ndek lak…..

Trus ane jadi ingat, dulu punya temen satu kampus, satu angkatan, beda jurusan tapi. Trus saat mau lulus kita sempat ngobrol tentang rencana masa depan, dia mantap bilang pengen usaha. Weweh ternyata bener, bikin usaha kopi dia nya. Udah maju gini pula. Warbiyasaaak. Emang ya, usaha yang bagus itu adalah usaha yang dikerjakan, kata alm Om Bob. 
Yap, pas ada (curi-curi) waktu kosong gak ada kegiatan, langsung deh nancepin si kuda besi pinjaman ke TKP. Tidak sulit menemukan tempat nongkong ini. Letaknya di jalan Taman Siswa no 13, di dekat Asrama Mahasiswa Provinsi Aceh, tepat di seberang Lapas. Kalo dari utara, tempatnya disebelah kiri (sisi timur) jalan. 
Gayo Ngopi Arabica
Nama tempatnya adalah Gayo Ngopi Arabica. Gayo itu merupakan nama suatu dataran tinggi di Aceh, Tanah Gayo namanya. Ya seperti Dieng-nya Jateng, atau Bogor-nya Jabar kali ya. Nanggroe Aceh Darussalam selain dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah, juga dikenal dengan negeri penghasil kopi, kopi Gayo yang dikembangkan secara organic ini disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia, #banggaIndonesia. Karena itu pula, ngopi sudah menjadi "urat nadi", kegiatan yang tak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Ingat kata-kata legenda dari Teuku Umar, salah seorang pahlawan dari Tanah Rencong ini yang paling populer saat masa perang dulu? 
“Singoh beungoh tanjoe ta djeb kupi di Meulaboh atawa ion akan sjahid”
"Besok pagi kita akan ngopi di Meulaboh atau kita akan syahid."
Motivasi yang membakar semangat pejuang kemerdekaan untuk merebut apa yang sudah diambil, juga motivasi untuk berjihad, dan syahid. 
Tanah Gayo, via atjehkopi.blogspot.com

Berbicara tentang dataran tinggi Tanah Gayo, ada tiga kabupaten yang berada di dataran tinggi penghasil kopi nikmat khas Aceh itu, yakni Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Nah mungkin asal owner nya dari sana kali ya, makanya nama Gayo Ngopi yang dipilih. Nama ownernya adalah Agam, alumni kampus Energi di Jogja (kampus ane juga ni), dan dia juga baristanya (tukang ngeracik kopi). Perkenalan dengannya dulu emang gak disangka-sangka, tapi tentunya sudah ada Yang Ngatur kan, kakaknya dan kakak ane sekampus, trus kita ketemu di awal-awal jadi mahasiswa baru, dan silaturahim terus berlanjut hingga sekarang. Alhamdulillah. 
Barista s doing his job.
Gayo Ngopi ini baru berdiri diawal taun 2015 lalu. Namun untuk tempat yang baru, Gayo Ngopi Arabica boleh dikatakan tempat favorit, terbukti saat ane ngopi disana aja, sudah ramai pengunjung yang datang untuk menikmati kopi hasil racikan barista Aceh yang ganteng ini. 
Barista
Tempat Gayo Kopi Arabica didesain ala-ala angkringan gitu, gerobak dan bangku panjang di depannya, khas Jogja banget kan. Juga ada tambahan bangku dan meja ditempat lain untuk menambah kesan modern dan “nongkrong” nya. Simple place, great taste. Itu jargonnya. 
Peralatan "tempur"
Tempat yang sederhana, dengan rasa istimewa. Bijikopi pilihan langsung dikirim dari asalnya di Aceh sana. Rasa yang bener-bener istimewa bagi anda pecinta kopi, atau seperti saya hanya yang hanya penikmat sunyi ini. Rasa kopi Gayo dibilang berbeda karena hampir tidak meninggalkan rasa pahit, ditambah lagi dengan aroma yang harum dan rasa yang gurih. Ada beberapa varian kopi yang ditawarkan di Gayo Ngopi ini : Gayo Spesial, Gayo Abyssina, dan Gayo Peaberry, kesemuanya diracik menjadi 4 “spesies” kopi : Tubruk, V60, Aeropress dan Chemex. Gayo Spesial diproses dengan cara semi wash, Gayo Abysinna memiliki rasa agak manis, dan Gayo Peaberry (biji tunggal) memiliki karakter yang kuat dalam rasa. Juga ada tambahan kopi biasa jika kamu yang tidak atau belum terbiasa dengan kopi Gayo, ada kopi susu, espresso, es kopi dan es kopi susu. 
Menu
Harganya juga terjangkau, harga mahasiswa, harga Jogja pula. Dibandrol mulai dari 9k aja. So, para kopi lovers, Gayo Ngopi Arabica merupakan alternatif pilihan yang bijak untuk nongkrong karo konco-konco sambil bercerita tentang Jogja, tentang rasa yang tak pernah habis, bercerita tentang kisah-kisah kehidupan sambil menikmati citarasa kopi dari ujung barat Indonesia ini.

"Karena kopi mengajarkan kepada kita bahwa hitam tak selalu kotor, dan pahit tak selalu menyedihkan."

Sumber : 
http://pusatkopigayoaceh.blogspot.com/2013/02/sejarah-kopi-gayo-aceh.html