Thursday, February 11, 2016

Baca ini : Pesan Untuk Kalian, Adik-adik SMA

Ada suatu masa dimana murid-murid berlarian karena takut gerbang sekolah keburu ditutup, biasanya ini keliatan saat hari senin (upacara bendera) dan hari sabtu (senam kesegaran jasmani), kalau ada razia diomelin guru karena nggak pake sepatu hitam, tidak pakai ikat pinggang, kaus kaki yang sengaja dipendekkan & seragam ketat kekecilan, nyari-nyari alasan buat keluar kelas (biasanya nyolong-nyolong ke kamar mandi, trus balik kelas pas jam pelajaran udah mau habis), ngerjain PR di sekolah, satu catatan dijadikan contekan masal, ketiduran di kelas sampe ditegur guru, senyam-senyum sendiri di kelas kalau lagi kasmaran, ada murid cewek yg suka pake kerdus (kerudung dusta) buat dengerin lagu pake headset kalau guru yang gak asyik lagi nerangin, ada murid cowok -mungkin juga cewek- sembunyi-sembunyi ngerokok di tempat sepi (kantin luar sekolah dan gedung belakang sekolah) - biasanya cuma mau nunjukin kalo dia hebat (bahasa kami : sok ambung) -, trus dilabrak rame-rame sm kakak kelas, atau kadang-kadang melampiaskan dengan sok-sokan labrak adek kelas biar dibilang keren, kisah kasih di sekolah, nyolong-nyolong ke kantin pas jam kosong, remedial waktu nilai ulangan jelek, minta tugas tambahan utk perbaikan nilai, pura-pura jadi anak baik supaya dapet nilai afektif bagus diraport, rebutan masuk OSIS biar bisa ngeMOS adik kelas, dan masiiiiiiih banyak lagi.

Waktu SMA, guru-guru yang ngejar kita. Kalau nggak ikut ulangan atau ujian langsung disuruh ikut ujian susulan. Di dunia kuliah, mahasiswa yg harus ngejar dosen, karena mahasiswa yg butuh dosen. Dosen nggak mau ambil pusing. Kalau mahasiswa nggak datang, tinggal dikasih nilai seadanya sesuai kelakuan. Di SMA yang males masih dinaik kelasin, di kuliah, yg males ditinggalin. Di kelas, guru yg nyamperin murid dari kelas satu ke kelas lain. Muridnya cukup diem, nyiapin alat tulis. Bahkan udah segitu mudahnya pun, masih aja ada yg males. 
 
Kalau kuliah mahasiswa yg mesti pindah-pindah kelas ngikutin dosen itu ‘nongkrongnya’nya di ruangan mana. Tiap hari yang ada ya pemandangan slide berganti slide sebagai bahan pembelajaran dikelas, ujiannya jelek ya tinggal pasrah, telat masuk kelas ya terpaksa ngerelain jatah absen. Mondar-mandir ke perpus cari bahan referensi buat tugas makalah, mondar-mandir nyari jadwal kelas dimana, UTS, UAS, tugas, presentasi, tiada hari tanpa si Ms Power Point. Sirik sama temen itu biasa, gak peduli mereka mau kuliah atau cuma setor muka, bodo amat sama temen yang lagi ngulang dikelas junior. 
Uang jajan mulai menipis ya nikmati warteg atau mie instan, nasi kucing serasa resto bintang lima. Salah-salah cari pacar malah bikin hari-hari tambah nista, salah-salah atur jadwal kuliah malah banyak ngulang bareng adek junior. Apes adalah makanan sehari-hari. Apalagi saat bertempur di medan skripsi. Gak kuat iman, rasa-rasanya mau bunuh diri. Skripsi merupakan periode mahasiswa ingin bunuh diri, dan mahasiswi ingin dinikahi. Harus banyakin stock sabar, hati besi, mental baja, otot kawat, muka asbes. :D
Masa-masa SMA, via www.kaskus.co.id
Makin akhir kuliah, makin susah ketemu temen. Pertengahan semester susah ngumpul alasannya banyak tugas, semester akhir alasannya karena skripsi. Setelah lulus, janji-janji tetap ngumpul tinggallah wacana belaka. Udah lulus makin susah buat ngumpul, alasannya sibuk kerja. Belum lagi kalau udah ada yang berkeluarga. Ujung-ujungnya, sampe tua sudah, ngumpul reuni hanya wacana.

Tanpa kita sadari, atau mungkin sebenarnya sudah sadar cuma nggak terlalu kita pedulikan, bahwa ada satu tempat, lebih tepatnya satu fase kehidupan yg begitu indah dan kita pernah berada dalam fase itu. Begitu mudahnya kebahagiaan dirasakan pada fase itu. Ya, fase itu adalah masa sekolah, khususnya, masa SMA.

Adek-adek yg sekarang masih SMA pasti banyak yg bilang "gue pengen cepet lulus, pengen cepet kuliah!" -saya juga merupakan orang yang pernah mengatakan demikian-. Tanpa berfikir, emang kuliah itu mudah? Kuliah itu gak kaya di tipi-tipi yang kalian nonton, yang hanya nangkring di kantin cekaka cekiki gak jelas. Itu pembodohan dek, pembodohan! Nanti saat kuliah kalian akan ketemu banyak temen yang datang kalau ada butuhnya aja, bakal kesel kalau ada dosen tiba-tiba gak datang padahal udah nunggu beberapa jam, bakal ketemu dosen baik tau-tau dpt nilai C, ketemu dosen galak tapi dapat nilai A. Siap gak tidur seharian demi tugas & sediakan jurus pasrah saat hari yang mestinya libur kemudian masuk karena ada kelas pengganti. Belum lagi udah ngerjain skripsi semalaman, pasa besoknya sudah menunggu berjam-jam di depan ruang dosen, pas ketemu dosen nya dengan santai bilang "besok aja ya, saya capek". 

Sudah siap dengan itu semua? Kuliah bukan ajang keren-kerenan, kuliah merupakan amanah lanjutan dari orang tua untuk masa depan kalian yang lebih baik. Jangan mencela mata kuliah : fucksika, matemashita, dan apa lah bahasa-bahasa tak berpendidikan yang kalian buat nantinya. Gimana SARJANA kalian mau berkah jika prosesnya saja sudah kalian maki seperti itu. Kuliah itu untuk orang-orang bermental kuat dan sungguh-sungguh dek, jangan main-main, karena embel-embel mahasiswa merupakan kata yang dianggap semua orang tau segalanya, meski kita tak juga sebegitunya.

Kalau kalian nanti udah seumuran saya, udah lulus SMA bertahun-tahun, udah lulus kuliah, udah ngelewatin masa dimana ngeliat sosial media isinya banyak postingan orang tentang pernikahan, akan ada saatnya bilang "Eh, rasa-rasanya aku kangen pengen balik lagi ke jaman SMA". Di tambah lagi jika kalian masih menyimpan file foto dan video ketika "alay" SMA dulu, (nangis bombay kali ya). Mau baik ataupun buruk tetap itu adalah masa yang paling gak bisa dilupakan. 
 
Bakal Kangen Dengan Ini, via ask.fm
So, buat adek-adek, gunakan masa-masa sekolah kalian dengan having fun bareng temen-temen, masa itu gak akan pernah balik lagi! Nikmati hari-hari sekolah seperti remaja sewajarnya, manfaatkan waktu dengan hal-hal yg baik, jangan terlalu hedonis, masih sekolah gak usah neko-neko kebanyakan gaya, pinter-pinter jaga diri, jaman sekarang kebebasan jadi kebablasan, jangan pula banyak mengeluh ini itu, ingat selalu perjuangan orang tua yang mati-matian memberi pendidikan terbaik untuk kalian, anaknya. Ketika nanti kalian sudah ngerasain suka dukanya di perguruan tinggi itu seperti apa, dan sudah ngerasain perihnya jatuh bangun cari duit sendiri itu bagaimana, ketika itu pulalah kalian akan betul-betul mengerti kenapa kalian perlu belajar keras & serius saat kalian masih duduk di bangku sekolah. Berjuang tidak semudah yang kalian kira dek. Kalian harus punya banyak tabungan mental yg cukup kuat dan ilmu pengetahuan dan wawasan yang sangat luas. 
Kangen Sekolah, via chipstory.com


Salam sayang dari abangmu.

Wednesday, February 10, 2016

Harus Ku Ceritakan Bahwa Kami : Generasi Terbaik yang Pernah Ada

Generasi paling bahagia menurut saya adalah generasi kelahiran 1980-1995, dan itu adalah kami.

Kami adalah generasi terakhir yang bermain di halaman rumah yang luas. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan suasana kental persahabatan. Main petak umpet (pek kong, endop, serta cip), gerobak sodor, ling-lingkap, daun kelapa didudukin terus yang lain narik sambil lari. Bikin rumah dari pelepah kelapa dan ranting-ranting pohon, masak-masakan, yeye (lompat tali), gambar tepuk, main guli (kelereng). Kami merupakan anak-anak kreatif yang bahkan menemukan sampah untuk bahan mainan, gelang karet, biji karet, dan terkadang mengejar pesawat terbang yang entah apa tujuannya. -_-
Biji Karet, via ayosebarkan.com
Kami juga merupakan generasi yang menelpon teman, gebetan, pasangan dengan telpon wartel dan juga telpon koin di tepi jalan, rela mengantri berjam-jam untuk sebuah suara diujung bagian dunia lain. Berkirim surat melalui pos yang entah kapan tahun baru sampai tujuan. Tiap malam berkirim salam lewat kartu "suara pendengar" nya di RRI. Kami juga generasi yang membeli buku diary kemudian diisi biodata teman-teman kelas, mengoleksi perangko, bertukar binder. Kami pula generasi SD yang masih menggunakan papan tulis hitam, bermain kasti jika waktu istirahat tiba, bermain gelanggang jika saat jam olahraga. Kami generasi SMP yang menjadikan meja sebagai satu set alat drum sehingga dihukum guru keliling sekolah sambil mengangkat meja tersebut. Kami merupakan generasi yang SMA yang mejanya penuh dengan coretan-coretan tinta dan tipe-x. Generasi yang mencuri pandang dan bertitip salam melalui teman dekatnya.

Kami generasi yang merasakan kemunculan awal HP Nokia yang melegenda itu, generasi awal merasakan canggihnya komputer dengan dos serta pentium 1. Kami generasi yang bangga memegang disket kapasitas 1,44 Mb. Kami generasi baru mengerti internet dan chatting menggunakan yahoo "hi... Asl plz". Generasi PS One dan Sega, serta memiliki "e-pet" TAMAGOCTHI. Kami juga generasi yang bermain gamboy dengan permainan tetris sebagai game legendanya.
Tamagotchi, via ayosebarkan.com
Mungkin kami lah generasi terakhir yang mengetahui hubungan antara pensil dan kaset tape. Bangga sekali bila telinga sudah ditempeli headset walkmen. Kami juga merupakan generasi yang masih menonton kuda lumping saat 17an di lapangan bola, menonton paling depan namun paling cepat lari ketika sang pemain sudah kesurupan. Kami generasi penikmat Sheila On 7 memulai karir dengan tembang JAP nya hingga jadi band legenda seperti saat ini. Juga generasi yang tumbuh diantara legenda seperti Dewa 19, Padi, Project Pop "dangdut is the music of my country", T-five, dan Slank, ketika Peterpan dan Ungu masih berupa embrio.
Sheila on 7, via asal-usul-motivasi.blogspot.com
Kami generasi penikmat bola dengan pemain legenda seperti Ronaldo, Batistuta, Oliver Kahn, Zidane, R. Carlos -yang selalu di pake jadi striker ketika main PS One-, Recoba, Zanetti. Generasi kami pula yang sudah memainkan futsal meski olahraga itu belum terkenal. Lapangan kecil dengan sendal sebagai gawangnya, tinggi gawang tergantung tinggi sang kiper, dan biasanya teman yang lebih besar -badan- nya yang akan menjadi kiper.

Dan jika minggu tiba, rumah bagai home theater yang memutar film kartun kesayangan dari jam 5.30 pagi hingga siang. Dragon Ball, Ultraman, Power Ranger "ayayayayaaay -Alfa", Digimon, Tsubatsa, Doraemon, Tom and Jerry, Ksatria Baja Hitam dll. Tidak seperti sekarang, hari minggu kami dirampas oleh siaran musik gak jelas ditambah FTV yang alur ceritanya itu-itu aja. Siaran tidak mendidik yang entah mengapa tidak ditegur LSI dan KPI. Kami pula generasi penikmat sinteron Tuyul dan Mba Yul, Jinny oh Jinny, Jin dan Jun serta sinteron tersanjung yang gak pernah habis. Kami generasi remaja dengan telenovela Amigos sebagai idola, Kera Sakti dan Legenda Siluman Ular Putih sebagai drama asia. Kami bangga dengan superhero nasional seperti Saras 008 dan Panji Manusia Milenium. Kami generasi penikmat lawakan Warkop DKI dan Patrio, yang mebuat tertawa tanpa menghina. Penggemar film laga Deru Debu dan film-film Horor Suzanna, "bang satenya bang".
Favorit, via twitter.com
Kami generasi yang makan cup-cup pop untuk mendapat stiker Pokemon dan terus selalu mencari Raichu -perubahan Pikachu-, selalu bertukar stiker bila telah mendapat stiker yang sama. Generasi yang selalu mencari N nya YOSAN yang sampai saat ini masih jadi misteri. Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm, bebas dari sakit leher karena kebanyakan melihat ponsel, bebas mandi disungai dan laut, bebas manggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab. Meski todak memiliki HP, kamimerupakan generasi yang selalu menepati janji kala berjanji.

Sebagai putra-putri bangsa Indonesia, kami hafal Pancasila, lagu Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, Garuda Pancasila, Teks Proklamasi, Sumpah Pemuda, nama nama para Menteri kabinet pembangunan IV dan Dasadharma Gerakan Pramuka dan nama-nama seluruh provinsi di Indonesia. Dengan RPUL sebagai google berbentuk buku yang menjadi pedomannya.
RPUL, via mostlikedtags.com

Kini disaat kalian sedang sibuk-sibuknya belajar dengan kurikulum yang njelimet, kami tengah asik-asikan mengatur waktu untuk bisa ngumpul reunian dengan generasi kami. Menceritakan cerita indah, bahwa kami bisa lebih bahagia walau tanpa gadget sekalipun.

Maaf adik-adik ku sayang. kalian belajarlah yang keras untuk mendapatkan kebahagian dengan cara kalian sendiri.
Salam sayang dari kami.. 
90an, via twitter
Kakak-kakak #generasi90an :)









inspirasi : LINE

Tuesday, February 9, 2016

Untuk Anak Kost : Ini cara rebus Mie yang Sehat

Siapa yang belum pernah makan mie instan? Hampir sebagian orang, dari anak-anak hingga dewasa, pernah merasakan menu ini. Cara membuatnya mudah dan harganya pun tidak membuat tipis kantong. Selain itu, tersedia berbagai pilihan rasa yang menggugah selera. 
Memasak mie, via jelajahsehat.com

Namun, sebaiknya jangan sampai kecanduan dengan produk cepat saji ini. Karena, jika konsumsi melebihi batas kewajaran dan dilakukan rutin tiap hari, bisa mendatangkan efek tidak sehat bagi tubuh Anda.

Menurut rilis SuaraMerdeka CyberNews, ada satu bahan yang tidak disebutkan dalam produk kemasan, yaitu zat lilin. Zat ini membuat potongan mie tidak melekat satu sama lain saat dimasak. Efeknya buat tubuh, zat lilin bisa menghadang proses penyerapan makanan dan gizi pada usus. Usus pun menjadi iritasi karenanya.

Natrium karbonat yang terkandung di mie instan berkisar 30-40 persen yang dapat meningkatkan tekanan darah. Maka, penderita jantung dan kolesterol tinggi sebaiknya menghindari makan mie instan.

Nah, ada tips yang bisa digunakan untuk menghilangkan — atau setidaknya mengurangi — zat lilin dan membuat mie instan Anda lebih bergizi. Terutama untuk para mahasiswa dan para perantau yang kadang-kadang mengalami kanker (kantong kering) diakhir bulan.
Masak Mie, infomieinstan.blogspot.com

Saat memasak mie instan — baik mie goreng atau kuah — tiriskan dulu mie yang sudah Anda rebus. Buang air bekas merebus karena zat lilin banyak terlepas di air itu. Untuk mie rebus, pakai air panas baru untuk digunakan sebagai kuah yang dicampurkan dengan bumbu. Sedangkan pada mie goreng, mie yang telah ditiriskan dicuci dengan air matang dulu, baru dicampurkan dengan bumbu. Setelah itu mie bisa disantap.

Kalau Anda bisa berkreasi soal rasa, ganti bumbu bawaan dari mie instan dengan bumbu racikan Anda sendiri. Mungkin Anda bisa memadukan antara bawang putih, merica, kemiri, garam, dan minyak sayur. Atau, batasi penggunaan bumbu bawaan semaksimal mungkin.
Racikan rempah, via  seputarmakan.com
Mie instan itu kurang gizi. Untuk mendapatkan nilai gizi maksimal, tambahkan pelengkap seperti sayuran, daging, telur, dan bahan lainnya. Selain menambah nikmat masakan, juga akan meninggikan kandungan gizi pada mie.







sumber : admin regi @ceritadunia line

Merantaulah

Merantau, menurut kamusbahasaindonesia.org berarti berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dari satu sungai ke sungai yang lain dsb) atau pergi ke pantai (pesisir), pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb). Intinya merantau merupakan kegiatan meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu, bekerja dengan tujuan merubah penghidupan ke arah yang lebih baik.
Merantau, via chud.com

Namun begitu, ada juga sebagian orang yang tak ingin meninggalkan kampung halamannya dengan berbagai alasan, takut jauh dari orang tua, jauh dari dari orang-orang tersayang dsb. Dan sebagian lain ada pula yang menjadikan merantau sebagai misi hidupnya. Kuliah di luar pulau merupakan bentuk kecil merantau, kita meninggalkan kampung halaman untuk menimba ilmu dan cita-cita yang kelak -insha Allah- akan berguna bagi orang banyak.

Untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik, tentulah ada yang harus dikorbankan. Waktu, materi, bahkan keluarga-keluarga serta teman-teman dekat. Kita harus rela meninggalkan mereka kala merantau. Rindu akan mereka pun kerap menghampiri kala kita berada di negeri orang, dan hanya bisa kita obati dengan memandang gambar atau sekedar menelpon mereka. Namun untuk sebuah cita-cita indah, kita menahannya untuk bertemu hingga waktu yang tepat untuk kembali bersama.

Berikut saya ingin share nasehat dari Imam Syafi'i mengenai merantau. Imam Syafi'i merupakan satu dari 4 Imam Besar yang mahzabnya banyak dipakai di negara kita ini. Beliau berkata :


Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).



Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam.. tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.



Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.


Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)



Jika tiap orang memiliki jatah merantaunya masing-masing, maka habiskan itu saat kau masih muda. Keruk semua ilmu dan pengalaman di rantau orang. Namun ingat, kampung halaman selau menunggumu untuk pulang. Jika saatnya tiba, maka pulanglah, bangunlah daerahmu dengan seribu pengalaman dan ilmu yang telah kau dapat.
Greget, via indonesia.coconuts.co