Saturday, February 13, 2016

Momen-momen Greget Saat Kita Bergelut dengan Skripsi

Skripsi merupakan momen sakral bagi mahasiswa. Skripsi merupakan bukti dan "laporan tertulis" kita kepada orang tua bahwa kita selama ini benar-benar menjalankan amanahnya. Skripsi merupakan bukti dari hasil jerih payah kita selama bertahun-tahun mengenyam bangku kuliah. Mahasiswa harus memiliki mental baja kala sudah mengklik skripsi di daftar KRS (Kartu Rencana Studi) nya. Skripsi juga merupakan satu periode dimana mahasiswanya ogah-ogahan, dan mahasiswinya udah mulai minta dinikahkan saja.
 
Berbagai macam cara mahasiswa dalam menjalaninya. Ada yang malas-malasan, sambil kerja sana-sini, hingga akhirnya skripsi keteteran. Mahasiswa tipe ini berprinsip kalau skripsi bisa belakangan, yang penting banyak pengalaman. Ada yang sama sekali gak ngerjain karena asik ngegame onlen, akhirnya keteteran juga. Ada juga yang malah "sengaja" dilambatin sampai akhir mau dilulusin -baca : lolosin- oleh program studi. Ada juga yang terlalu idealis. Namun, banyak mahasiswa akan fokus dulu ngerjain skripsi. Setiap ada kesempatan ngadep pasti akan dilakukannya, supaya bisa lulus paling duluan.  
Menyebalkan, sangat! Meski begitu, momen-momen kampret saat mengerjakan skripsi sebenarnya merupakan momen paling berkesan yang akan kita rasakan setelah kita lulus nanti. Bakal kamu ingat sampai tua, bisa juga jadi bahan cerita atau bahkan motivasi untuk minimal ke anak-cucumu kelak. 
Bagi para mantan mahasiswa, yuk dah kita mengulang kembali momen-momen greget ini, nostalgia membuka cerita lama, daripada pusing mikirin dunia yang kadang tak selalu memihak pada kita. cieeileeh.


1. Hal Menyebalkan Pertama Adalah : PENENTUAN JUDUL.
Pecah Ndase, via belajarmengajar1.blogspot.com


*TING!!! lampu ide menyala terang di atas kepala*  
Ah! Akhirnya aku tau mau nulis apa!” 
-lompat-lompat kegirangan- 

*Besok Ngadep Dosen*

Heeehh (ketawa sinis). Mas, tema ini sih udah banyak banget yang nulis. Coba ajukan yang lain ya.” 


*tiba-tiba semangat hidup jadi padam, barengan dengan lampu ide*


Yap, judul skripsi merupakan hal awal yang pertama datang. Bagi kamu mahasiswa pas-pasan yang tanpa rencana matang. Yang dulunya bodo amat, yang penting skripsi diambil dulu. Trus pas mau nentuin tema baru bingung dah, selalu terfikirkan, terngiang-ngiang dikepala, ngalahin ingatnya kamu sama cinta pertamamu yang udah nikah duluan. Upss.

Difase ini, kamu harus rajin-rajin baca koran, googling, baca jurnal, pahami isu-isu terbaru, atau apa aja deh biar kamu nemuin banyak inspirasi. Kemudian setelah ketemu juga kamu harus cek-ricek lagi ke perpustakaan, apakah ide mu ini sudah pernah dibuatatau belum, kalau udah ya nyari lagi. Yang tabah ya.


2. Dapat Dosen Pembimbing Udah Kayak Ikut Lotere. Enak Atau Nggaknya Tergantung Keberuntunganmu.
Dosbing, via www.idntimes.com
Hal berikutnya yaitu dosen pembimbing. Biasanya mahasiswa sudah punya bidikan nanti saat skripsi mau dibimbing siapa. Biasanya yang jadi primadona adalah dosen yang sehari-hari ngajarnya enak juga terkenal baik, sertagak neko-neko saat bimbingan -refrensi ini kamu dapat dari nguping pembicaraan senior-senior dulu-. Ini juga kita harus bersaing dengan rekan yang juga barengan ambil skripsi, biasanya kita disuruh isi angket dulu, nah disitu tu kita mulai menerawang keberuntungan kita. Kalau bisa nulis angket atau temanya dicocok-cocokin sama dosen incaran itu. Tapi ya namanya keinginan. Ngedapatin dosen incaran itu hoki-hokian dah. Bisa jadi dosen incaranmu sedang nggak bisa bimbing skripsi, atau udah terlanjur bimbing beberapa anak lain.

Akhirnya karena kurang beruntung, kamu harus dapat dosen lain yang nggak sesuai keinginan. Kalau segitu doang sih nggak apa-apa, masalahnya kamu bisa saja dapat dosbing yang paling dihindari semua orang, dengan alasan temamu ini emang cocok kalau beliau yang bimbing. Kalau benar terjadi, maka bersabarlah! Hanya sabar dan shalat yang bisa membantumu.


3. Bimbingan Sesi Pertama : Bimbingan Proposal
Plisssss, via tips.skripsiword.com
Jejeeeng. Setelah dapat pembimbing, tema juga sudah oke, saatnya bimbingan proposal. Di fase ini kamu jangan langsung senang. Saat kamu mengajukan proposalmu, ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

Beruntung :
Dosbing : "oke, lanjut sidang proposal" sambil ACC proposalmu

Kamu : Girang bukan kepalang, senyum merekah yang tahan sampe malam.



Kurang beruntung :
Dosbing : "Kasus seperti ini udah kuno mas, teorinya cocok. Gini aja mas, blablablaaaaaa."

Dosbingmu menyarankan teori lain, dan memberi referensi buku untuk kamu baca.

Kamu: "baik pak" senyum kecut.



Nggak beruntung :
Dosbing : "Proposal seperti ini udah banyak mas, kreatif dikit donk, cari masalah yang baru, blablablaaa.......... Ganti topik!!!"

Dosenmu menolak proposalmu secara keseluruhan karena alasan-alasan yang kamu kurang paham, dan memintamu membuat topik yang baru dengan masukan dari dosenmu yang kamu juga kurang paham.

Kamu : "baik, pak, terimakasih" -padahal belum ngerti-



Apes :
Dosenmu : "maaf mas, proposal ini saya tolak"

Dia menolak topik yang kamu ajukan, tapi dia juga nggak ngasih masukan tentang topik apa yang bisa kamu tulis.

Kamu : "ia......" -tatapan kosong, pandangan hampa-

Sampai akhirnya 1 bulan berlalu, dan kamu belum juga menemukan topik lain baru


4. Bagaimanapun Juga, Tiada Skripsi Tanpa Revisi.
Skripsi, via catatanku.web.unej.ac.id
Skripsi dan revisi merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Setelah kerja keras tak tentu jam tidur dan makan, diskusi berjam-jam, debat sana-sini akhirnya proposal skripsimu diterima, dan kamu mulai mengerjakan draft -calon- mahakaryamu itu. Dan itu pun belum tentu berjalan mulus-mulus aja. Setelah menyelesaikan draft bab pertama, kamu akan merasa sangat lega dan dengan bangga kamu menyerahkan hasil jerih payahmu itu ke dosbing. 

Namun kamu juga harus siapkan mental baja, saat draft mu kembali dengan coretan sana-sini penuh revisi. Beruntung jika yang perlu kamu revisi hanya hal-hal kecil perihal metode penulisanmu yang nggak terlalu menghambat. Kadang, dosenmu mempertanyakan kemana sebenarnya arah hidup skripsi mu itu. Ini baru bab pertama loh ya. Kamu pun hanya bisa merenung, menanyakan diri sendiri apa yang sudah kamu tulis. Momen-momen inilah yang kadang-kadang mebuat mahasiswa/i yang lemah mentalnya tereliminasi, yang cowok entah hilang kemana, yang cewek minta cepat-cepat dilamar.


5. Bimbingan Juga Gak Selalu Lancar. 

On whatsApp
Kamu :  "Siang Pak, besok jadi bimbingan kan?"

Dosbing : "Saya lagi di Cepu, Do. Bimbingannya diganti hari ya"

Kamu : "Oh… oke Pak. Kapan pak kira-kira saya bisa bimbingan?"

Dosbing : "Sepulangnya saya"

Kamu : ***heniiiiiing
Cepat lambatnya skripsi mu juga tergantung dosenmu. Jika dosbingmu adalah dosen yang sibuk ngerjain proyek bahkan sering ngisi seminar di luar kota, nah itu alamat dan tanda-tanda skripsimu calon terbengkalai. Belum lagi kalau ketemu dosen yang moody. Nulis udah bener disalahin dan disuruh ganti, bimbingan berikutnya masih anter skripsi yang sama -gak diganti- malah dibilang bagus. Emang kadang dosbing suka becanda gitu.


6. Tiba-Tiba Blank, Tak Tau Apa Yang Harus Dikerjakan, Serasa Otak Berhenti Bekerja Adalah Momen Biasa.
Plongo, via www.walltor.com

Pernah gak, udah duduk manis didepan leptop, udah buka Ms. Word. Lalu tiba-tiba fikiran mu blank, tak tau apa sebabnya? Otakmu bagai kosong seperti terlahir kembali. Kalau pernah, berarti kita sama! Dan kamu coba fokus dan kembali membaca ulang skirpsi mu, dan kamu juga bingung harusmulai dari mana, tak jarang kamu juga tiba-tiba gak ngerti dengan apa yang sendiri kamu tulis. Di momen ini kamu mulai stress karena merasa bego. Dan akhirnya, kamu nangis-nangis curhat ke Mama Papa atau teman sejurusan. Atau jongkok dipojok kamar sambilngais-ngais dinding.


7. Rasa Bosan Kerap Menghampiri. Kalau Keluar Takut Kebablasan dan Malah Skripsi Keteteran, Aku Kudu Piye?
Kudu Piye?, via papasemar.com
Ya kali, sepanjang waktu berada dalam kamar ngebut ngerjain skripsi karenadeadline yang dikasih dosbing. Kadang membuatmu suntuk sendiri. Ruangan 3x4 mu itu membuatmu bosan, otak mu konslet dan akhirnya inspirasimu macet. Kamu pun bisa berujung dengan memandangi lembar Microsoft Word dengan pandangan hampa. Kadang pengin juga ganti suasana. Keluar dan mengerjakan skripsi di mana gitu yang asyik. Tapi khawatir jadinya malah main-main saja.

Kalau momen seperti ini melanda, coba deh tenangkan diri sejenak. Dan gak ada salahnya kamu "putusin" dulu skripsimu dan bilang ke dia "hanya sementara kok, nanti aku balik lagi". Dan kamu seharian keluar, untuk sekedar melepaskan stress yang menumpuk di otak. Ingat, jangan lama-lama, jika semangat dan inspirasimu telah kembali, pacarin lagi noh skripsi.



8. Godaan Datang Dari Berbagai Penjuru.
Nongkrooong, via www.anekawisata.com
Lagi ngetik, Temen datang 
Temen : "Bro, nongkrong yuk"

Kamu : "lagi nyekripsi ni, deadline bro, deadline"

Temen "ah elah bro, masih jaman skripsian? Nongkrong dulu lah, malam ini aja, kapan lagi coba"

Kamu berhenti ngetik, berfikir, dan berkata "bener juga ya, ayuk dah",

-matiin leptop-

-Dan nongkrongpun terus berlanjut ke malam-malam berikutnya-

Nah itu dia, salah satu godaan yang datang saat skripsi. Bagi yang awal-awalnya suka nongkrong bareng temen-temen. Saat ngerjain skripsi, teman nongkrong yang udah lama ngilang itu kembali datang dan kembali ngajakin nongkrong lah, futsal lah, nonton lah, apa aja deh. Dan bagi kamu yang suka ngegame onlen juga bahaya ni, godaan teman dan game onlen yang datang padamu terasa seperti saat orang makan ayam goreng didepanmu saat kamu sedang puasa. Harus kuat iman boo. Hati-hati dengan ini ya.


9. Masa Nyekripsi Biasanya Merupakan Waktu yang Longgar, Tapi Jangan Terlena Dengan Itu Ya. Mau Magang Atau Part Time Harus Dengan Perencanaan yang Matang.
Magang, via riauposting.com
Hati-hati, nah ini dia. Biasanya skripsi yang kita ambil di semester akhir kuliah sudah nggak ada jadwal kuliah lagi. Ke kampus pun cuma buat bimbingan atau nyari bahan di perpus. Tak jarang dari kamu berpikir lebih baik disambi magang, supaya dapat pengalaman untuk mengisi CV. Atau bahkan mau part time untuk nambah-nambah uang jajan. Toh masih banyak waktu kosong juga untuk ngerjain skripsi. Ternyata eh ternyata, kamu malah keasyikan. Kamu malah jadi loyal dengan magang / part time mu. Waspadalah, waspadalah!


10. Lagi Enak-Enak Ngetik Tiba-Tiba Laptop Eror, Mati Tiba-Tiba, dan File Nggak Ke-Save. = STROKE!
SHOCK!!!!!, via cara-memperbaiki-laptop.blogspot.com
Ini merupakan peristiwa yang samasekali tidak diinginkan terjadi saat proses penyelesaian skripsi. Leptopmu yang berumur atau mungkin karena kesalahan teknis bisa saja eror dan mati tiba-tiba saat kamu tengah semangat-semangatnya nyekripsi. Parahnya lagi file mu balum kamu save sementara kamu udah ngetik beberapa lembar, nah kan?

Atau tak jarang, laptopmu rusak total dan harus diformat ulang sementara -calon- mahakaryamu sudah hampir rampung kamu kerjakan.


Kamu cuma bisa berkata : Yaa Rabb, apa salah ku? Sambil mengingat-ingat maksiat apa yang sudah kamu kerjakan hingga dapat cobaan seperti ini. Looh..

Agar hal seperti itu tak terulang dan tak terjadi padamu, ada perlunya kamu menyiapkan banyak back up-an. Entah itu simpan di hardisk ekxternal, atau simpan di drop box juga boleh. Persiapan agar sewaktu-waktu jika leptopmu mati, kamu masih bisa ngelanjutin skripsi.






--------------
Begitulah suka duka para pejuang skripsi, namun jika kita mengerjakan dengan sungguh, tentu kita kan dapat hasil maksimal. Karena hasil takkan pernah menghianati proses. Selamat bagi kalian yang menyelesaikan skirpsinya, sebuah mahakarya agung yang mungkin tak akan kalian lupa (prosesnya). Dan bagi kalian yang sedang atau akan menghadapi hal ini. Bersiaplah, siapkan mental baja, dan berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk membahagiakan orang-orang tersayang.
Skripsweet, via S 11 arisubagio.blog.unej.ac.id




Salam supret.

Mantan pejuang skripsi.







Sumber inspirasi : hipwee.com via @faktual

Wednesday, February 10, 2016

Baca ini : Pesan Untuk Kalian, Adik-adik SMA

Ada suatu masa dimana murid-murid berlarian karena takut gerbang sekolah keburu ditutup, biasanya ini keliatan saat hari senin (upacara bendera) dan hari sabtu (senam kesegaran jasmani), kalau ada razia diomelin guru karena nggak pake sepatu hitam, tidak pakai ikat pinggang, kaus kaki yang sengaja dipendekkan & seragam ketat kekecilan, nyari-nyari alasan buat keluar kelas (biasanya nyolong-nyolong ke kamar mandi, trus balik kelas pas jam pelajaran udah mau habis), ngerjain PR di sekolah, satu catatan dijadikan contekan masal, ketiduran di kelas sampe ditegur guru, senyam-senyum sendiri di kelas kalau lagi kasmaran, ada murid cewek yg suka pake kerdus (kerudung dusta) buat dengerin lagu pake headset kalau guru yang gak asyik lagi nerangin, ada murid cowok -mungkin juga cewek- sembunyi-sembunyi ngerokok di tempat sepi (kantin luar sekolah dan gedung belakang sekolah) - biasanya cuma mau nunjukin kalo dia hebat (bahasa kami : sok ambung) -, trus dilabrak rame-rame sm kakak kelas, atau kadang-kadang melampiaskan dengan sok-sokan labrak adek kelas biar dibilang keren, kisah kasih di sekolah, nyolong-nyolong ke kantin pas jam kosong, remedial waktu nilai ulangan jelek, minta tugas tambahan utk perbaikan nilai, pura-pura jadi anak baik supaya dapet nilai afektif bagus diraport, rebutan masuk OSIS biar bisa ngeMOS adik kelas, dan masiiiiiiih banyak lagi.

Waktu SMA, guru-guru yang ngejar kita. Kalau nggak ikut ulangan atau ujian langsung disuruh ikut ujian susulan. Di dunia kuliah, mahasiswa yg harus ngejar dosen, karena mahasiswa yg butuh dosen. Dosen nggak mau ambil pusing. Kalau mahasiswa nggak datang, tinggal dikasih nilai seadanya sesuai kelakuan. Di SMA yang males masih dinaik kelasin, di kuliah, yg males ditinggalin. Di kelas, guru yg nyamperin murid dari kelas satu ke kelas lain. Muridnya cukup diem, nyiapin alat tulis. Bahkan udah segitu mudahnya pun, masih aja ada yg males. 
 
Kalau kuliah mahasiswa yg mesti pindah-pindah kelas ngikutin dosen itu ‘nongkrongnya’nya di ruangan mana. Tiap hari yang ada ya pemandangan slide berganti slide sebagai bahan pembelajaran dikelas, ujiannya jelek ya tinggal pasrah, telat masuk kelas ya terpaksa ngerelain jatah absen. Mondar-mandir ke perpus cari bahan referensi buat tugas makalah, mondar-mandir nyari jadwal kelas dimana, UTS, UAS, tugas, presentasi, tiada hari tanpa si Ms Power Point. Sirik sama temen itu biasa, gak peduli mereka mau kuliah atau cuma setor muka, bodo amat sama temen yang lagi ngulang dikelas junior. 
Uang jajan mulai menipis ya nikmati warteg atau mie instan, nasi kucing serasa resto bintang lima. Salah-salah cari pacar malah bikin hari-hari tambah nista, salah-salah atur jadwal kuliah malah banyak ngulang bareng adek junior. Apes adalah makanan sehari-hari. Apalagi saat bertempur di medan skripsi. Gak kuat iman, rasa-rasanya mau bunuh diri. Skripsi merupakan periode mahasiswa ingin bunuh diri, dan mahasiswi ingin dinikahi. Harus banyakin stock sabar, hati besi, mental baja, otot kawat, muka asbes. :D
Masa-masa SMA, via www.kaskus.co.id
Makin akhir kuliah, makin susah ketemu temen. Pertengahan semester susah ngumpul alasannya banyak tugas, semester akhir alasannya karena skripsi. Setelah lulus, janji-janji tetap ngumpul tinggallah wacana belaka. Udah lulus makin susah buat ngumpul, alasannya sibuk kerja. Belum lagi kalau udah ada yang berkeluarga. Ujung-ujungnya, sampe tua sudah, ngumpul reuni hanya wacana.

Tanpa kita sadari, atau mungkin sebenarnya sudah sadar cuma nggak terlalu kita pedulikan, bahwa ada satu tempat, lebih tepatnya satu fase kehidupan yg begitu indah dan kita pernah berada dalam fase itu. Begitu mudahnya kebahagiaan dirasakan pada fase itu. Ya, fase itu adalah masa sekolah, khususnya, masa SMA.

Adek-adek yg sekarang masih SMA pasti banyak yg bilang "gue pengen cepet lulus, pengen cepet kuliah!" -saya juga merupakan orang yang pernah mengatakan demikian-. Tanpa berfikir, emang kuliah itu mudah? Kuliah itu gak kaya di tipi-tipi yang kalian nonton, yang hanya nangkring di kantin cekaka cekiki gak jelas. Itu pembodohan dek, pembodohan! Nanti saat kuliah kalian akan ketemu banyak temen yang datang kalau ada butuhnya aja, bakal kesel kalau ada dosen tiba-tiba gak datang padahal udah nunggu beberapa jam, bakal ketemu dosen baik tau-tau dpt nilai C, ketemu dosen galak tapi dapat nilai A. Siap gak tidur seharian demi tugas & sediakan jurus pasrah saat hari yang mestinya libur kemudian masuk karena ada kelas pengganti. Belum lagi udah ngerjain skripsi semalaman, pasa besoknya sudah menunggu berjam-jam di depan ruang dosen, pas ketemu dosen nya dengan santai bilang "besok aja ya, saya capek". 

Sudah siap dengan itu semua? Kuliah bukan ajang keren-kerenan, kuliah merupakan amanah lanjutan dari orang tua untuk masa depan kalian yang lebih baik. Jangan mencela mata kuliah : fucksika, matemashita, dan apa lah bahasa-bahasa tak berpendidikan yang kalian buat nantinya. Gimana SARJANA kalian mau berkah jika prosesnya saja sudah kalian maki seperti itu. Kuliah itu untuk orang-orang bermental kuat dan sungguh-sungguh dek, jangan main-main, karena embel-embel mahasiswa merupakan kata yang dianggap semua orang tau segalanya, meski kita tak juga sebegitunya.

Kalau kalian nanti udah seumuran saya, udah lulus SMA bertahun-tahun, udah lulus kuliah, udah ngelewatin masa dimana ngeliat sosial media isinya banyak postingan orang tentang pernikahan, akan ada saatnya bilang "Eh, rasa-rasanya aku kangen pengen balik lagi ke jaman SMA". Di tambah lagi jika kalian masih menyimpan file foto dan video ketika "alay" SMA dulu, (nangis bombay kali ya). Mau baik ataupun buruk tetap itu adalah masa yang paling gak bisa dilupakan. 
 
Bakal Kangen Dengan Ini, via ask.fm
So, buat adek-adek, gunakan masa-masa sekolah kalian dengan having fun bareng temen-temen, masa itu gak akan pernah balik lagi! Nikmati hari-hari sekolah seperti remaja sewajarnya, manfaatkan waktu dengan hal-hal yg baik, jangan terlalu hedonis, masih sekolah gak usah neko-neko kebanyakan gaya, pinter-pinter jaga diri, jaman sekarang kebebasan jadi kebablasan, jangan pula banyak mengeluh ini itu, ingat selalu perjuangan orang tua yang mati-matian memberi pendidikan terbaik untuk kalian, anaknya. Ketika nanti kalian sudah ngerasain suka dukanya di perguruan tinggi itu seperti apa, dan sudah ngerasain perihnya jatuh bangun cari duit sendiri itu bagaimana, ketika itu pulalah kalian akan betul-betul mengerti kenapa kalian perlu belajar keras & serius saat kalian masih duduk di bangku sekolah. Berjuang tidak semudah yang kalian kira dek. Kalian harus punya banyak tabungan mental yg cukup kuat dan ilmu pengetahuan dan wawasan yang sangat luas. 
Kangen Sekolah, via chipstory.com


Salam sayang dari abangmu.

Tuesday, February 9, 2016

Harus Ku Ceritakan Bahwa Kami : Generasi Terbaik yang Pernah Ada

Generasi paling bahagia menurut saya adalah generasi kelahiran 1980-1995, dan itu adalah kami.

Kami adalah generasi terakhir yang bermain di halaman rumah yang luas. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan suasana kental persahabatan. Main petak umpet (pek kong, endop, serta cip), gerobak sodor, ling-lingkap, daun kelapa didudukin terus yang lain narik sambil lari. Bikin rumah dari pelepah kelapa dan ranting-ranting pohon, masak-masakan, yeye (lompat tali), gambar tepuk, main guli (kelereng). Kami merupakan anak-anak kreatif yang bahkan menemukan sampah untuk bahan mainan, gelang karet, biji karet, dan terkadang mengejar pesawat terbang yang entah apa tujuannya. -_-
Biji Karet, via ayosebarkan.com
Kami juga merupakan generasi yang menelpon teman, gebetan, pasangan dengan telpon wartel dan juga telpon koin di tepi jalan, rela mengantri berjam-jam untuk sebuah suara diujung bagian dunia lain. Berkirim surat melalui pos yang entah kapan tahun baru sampai tujuan. Tiap malam berkirim salam lewat kartu "suara pendengar" nya di RRI. Kami juga generasi yang membeli buku diary kemudian diisi biodata teman-teman kelas, mengoleksi perangko, bertukar binder. Kami pula generasi SD yang masih menggunakan papan tulis hitam, bermain kasti jika waktu istirahat tiba, bermain gelanggang jika saat jam olahraga. Kami generasi SMP yang menjadikan meja sebagai satu set alat drum sehingga dihukum guru keliling sekolah sambil mengangkat meja tersebut. Kami merupakan generasi yang SMA yang mejanya penuh dengan coretan-coretan tinta dan tipe-x. Generasi yang mencuri pandang dan bertitip salam melalui teman dekatnya.

Kami generasi yang merasakan kemunculan awal HP Nokia yang melegenda itu, generasi awal merasakan canggihnya komputer dengan dos serta pentium 1. Kami generasi yang bangga memegang disket kapasitas 1,44 Mb. Kami generasi baru mengerti internet dan chatting menggunakan yahoo "hi... Asl plz". Generasi PS One dan Sega, serta memiliki "e-pet" TAMAGOCTHI. Kami juga generasi yang bermain gamboy dengan permainan tetris sebagai game legendanya.
Tamagotchi, via ayosebarkan.com
Mungkin kami lah generasi terakhir yang mengetahui hubungan antara pensil dan kaset tape. Bangga sekali bila telinga sudah ditempeli headset walkmen. Kami juga merupakan generasi yang masih menonton kuda lumping saat 17an di lapangan bola, menonton paling depan namun paling cepat lari ketika sang pemain sudah kesurupan. Kami generasi penikmat Sheila On 7 memulai karir dengan tembang JAP nya hingga jadi band legenda seperti saat ini. Juga generasi yang tumbuh diantara legenda seperti Dewa 19, Padi, Project Pop "dangdut is the music of my country", T-five, dan Slank, ketika Peterpan dan Ungu masih berupa embrio.
Sheila on 7, via asal-usul-motivasi.blogspot.com
Kami generasi penikmat bola dengan pemain legenda seperti Ronaldo, Batistuta, Oliver Kahn, Zidane, R. Carlos -yang selalu di pake jadi striker ketika main PS One-, Recoba, Zanetti. Generasi kami pula yang sudah memainkan futsal meski olahraga itu belum terkenal. Lapangan kecil dengan sendal sebagai gawangnya, tinggi gawang tergantung tinggi sang kiper, dan biasanya teman yang lebih besar -badan- nya yang akan menjadi kiper.

Dan jika minggu tiba, rumah bagai home theater yang memutar film kartun kesayangan dari jam 5.30 pagi hingga siang. Dragon Ball, Ultraman, Power Ranger "ayayayayaaay -Alfa", Digimon, Tsubatsa, Doraemon, Tom and Jerry, Ksatria Baja Hitam dll. Tidak seperti sekarang, hari minggu kami dirampas oleh siaran musik gak jelas ditambah FTV yang alur ceritanya itu-itu aja. Siaran tidak mendidik yang entah mengapa tidak ditegur LSI dan KPI. Kami pula generasi penikmat sinteron Tuyul dan Mba Yul, Jinny oh Jinny, Jin dan Jun serta sinteron tersanjung yang gak pernah habis. Kami generasi remaja dengan telenovela Amigos sebagai idola, Kera Sakti dan Legenda Siluman Ular Putih sebagai drama asia. Kami bangga dengan superhero nasional seperti Saras 008 dan Panji Manusia Milenium. Kami generasi penikmat lawakan Warkop DKI dan Patrio, yang mebuat tertawa tanpa menghina. Penggemar film laga Deru Debu dan film-film Horor Suzanna, "bang satenya bang".
Favorit, via twitter.com
Kami generasi yang makan cup-cup pop untuk mendapat stiker Pokemon dan terus selalu mencari Raichu -perubahan Pikachu-, selalu bertukar stiker bila telah mendapat stiker yang sama. Generasi yang selalu mencari N nya YOSAN yang sampai saat ini masih jadi misteri. Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm, bebas dari sakit leher karena kebanyakan melihat ponsel, bebas mandi disungai dan laut, bebas manggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab. Meski todak memiliki HP, kamimerupakan generasi yang selalu menepati janji kala berjanji.

Sebagai putra-putri bangsa Indonesia, kami hafal Pancasila, lagu Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, Garuda Pancasila, Teks Proklamasi, Sumpah Pemuda, nama nama para Menteri kabinet pembangunan IV dan Dasadharma Gerakan Pramuka dan nama-nama seluruh provinsi di Indonesia. Dengan RPUL sebagai google berbentuk buku yang menjadi pedomannya.
RPUL, via mostlikedtags.com

Kini disaat kalian sedang sibuk-sibuknya belajar dengan kurikulum yang njelimet, kami tengah asik-asikan mengatur waktu untuk bisa ngumpul reunian dengan generasi kami. Menceritakan cerita indah, bahwa kami bisa lebih bahagia walau tanpa gadget sekalipun.

Maaf adik-adik ku sayang. kalian belajarlah yang keras untuk mendapatkan kebahagian dengan cara kalian sendiri.
Salam sayang dari kami.. 
90an, via twitter
Kakak-kakak #generasi90an :)









inspirasi : LINE

Monday, February 8, 2016

Untuk Anak Kost : Ini cara rebus Mie yang Sehat

Siapa yang belum pernah makan mie instan? Hampir sebagian orang, dari anak-anak hingga dewasa, pernah merasakan menu ini. Cara membuatnya mudah dan harganya pun tidak membuat tipis kantong. Selain itu, tersedia berbagai pilihan rasa yang menggugah selera. 
Memasak mie, via jelajahsehat.com

Namun, sebaiknya jangan sampai kecanduan dengan produk cepat saji ini. Karena, jika konsumsi melebihi batas kewajaran dan dilakukan rutin tiap hari, bisa mendatangkan efek tidak sehat bagi tubuh Anda.

Menurut rilis SuaraMerdeka CyberNews, ada satu bahan yang tidak disebutkan dalam produk kemasan, yaitu zat lilin. Zat ini membuat potongan mie tidak melekat satu sama lain saat dimasak. Efeknya buat tubuh, zat lilin bisa menghadang proses penyerapan makanan dan gizi pada usus. Usus pun menjadi iritasi karenanya.

Natrium karbonat yang terkandung di mie instan berkisar 30-40 persen yang dapat meningkatkan tekanan darah. Maka, penderita jantung dan kolesterol tinggi sebaiknya menghindari makan mie instan.

Nah, ada tips yang bisa digunakan untuk menghilangkan — atau setidaknya mengurangi — zat lilin dan membuat mie instan Anda lebih bergizi. Terutama untuk para mahasiswa dan para perantau yang kadang-kadang mengalami kanker (kantong kering) diakhir bulan.
Masak Mie, infomieinstan.blogspot.com

Saat memasak mie instan — baik mie goreng atau kuah — tiriskan dulu mie yang sudah Anda rebus. Buang air bekas merebus karena zat lilin banyak terlepas di air itu. Untuk mie rebus, pakai air panas baru untuk digunakan sebagai kuah yang dicampurkan dengan bumbu. Sedangkan pada mie goreng, mie yang telah ditiriskan dicuci dengan air matang dulu, baru dicampurkan dengan bumbu. Setelah itu mie bisa disantap.

Kalau Anda bisa berkreasi soal rasa, ganti bumbu bawaan dari mie instan dengan bumbu racikan Anda sendiri. Mungkin Anda bisa memadukan antara bawang putih, merica, kemiri, garam, dan minyak sayur. Atau, batasi penggunaan bumbu bawaan semaksimal mungkin.
Racikan rempah, via  seputarmakan.com
Mie instan itu kurang gizi. Untuk mendapatkan nilai gizi maksimal, tambahkan pelengkap seperti sayuran, daging, telur, dan bahan lainnya. Selain menambah nikmat masakan, juga akan meninggikan kandungan gizi pada mie.







sumber : admin regi @ceritadunia line

Merantaulah

Merantau, menurut kamusbahasaindonesia.org berarti berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dari satu sungai ke sungai yang lain dsb) atau pergi ke pantai (pesisir), pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb). Intinya merantau merupakan kegiatan meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu, bekerja dengan tujuan merubah penghidupan ke arah yang lebih baik.
Merantau, via chud.com

Namun begitu, ada juga sebagian orang yang tak ingin meninggalkan kampung halamannya dengan berbagai alasan, takut jauh dari orang tua, jauh dari dari orang-orang tersayang dsb. Dan sebagian lain ada pula yang menjadikan merantau sebagai misi hidupnya. Kuliah di luar pulau merupakan bentuk kecil merantau, kita meninggalkan kampung halaman untuk menimba ilmu dan cita-cita yang kelak -insha Allah- akan berguna bagi orang banyak.

Untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik, tentulah ada yang harus dikorbankan. Waktu, materi, bahkan keluarga-keluarga serta teman-teman dekat. Kita harus rela meninggalkan mereka kala merantau. Rindu akan mereka pun kerap menghampiri kala kita berada di negeri orang, dan hanya bisa kita obati dengan memandang gambar atau sekedar menelpon mereka. Namun untuk sebuah cita-cita indah, kita menahannya untuk bertemu hingga waktu yang tepat untuk kembali bersama.

Berikut saya ingin share nasehat dari Imam Syafi'i mengenai merantau. Imam Syafi'i merupakan satu dari 4 Imam Besar yang mahzabnya banyak dipakai di negara kita ini. Beliau berkata :


Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).



Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam.. tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.



Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.


Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)



Jika tiap orang memiliki jatah merantaunya masing-masing, maka habiskan itu saat kau masih muda. Keruk semua ilmu dan pengalaman di rantau orang. Namun ingat, kampung halaman selau menunggumu untuk pulang. Jika saatnya tiba, maka pulanglah, bangunlah daerahmu dengan seribu pengalaman dan ilmu yang telah kau dapat.
Greget, via indonesia.coconuts.co