Friday, March 11, 2016

Wisata Edukatif di Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong

Masih disekitaran Tenggarong nih. Udah pernah dibilangkan kalo saya suka banget yang namanya ke museum. Museum akan selalu masuk dalam daftar pencarian saya ketika saya berada ditempat yang baru. Yeaay.. Nah berhubung lagi di Tenggarong Kota Raja ini, setidaknya ada dua museum yang ingin saya kunjungi. Salah satunya yaitu museum Kayu Tuah Himba Tenggarong.

Museum Kayu ini terletak di belakang Waduk Panji Sukarame, Tenggarong. Areanya tidak begitu luas, jika dari luar seperti rumah adat minimalis berukuran 20 x 20. Memasuki area museum ini terdapat area parkir yang lumayan luas, dan disambut dengan pedagang-pedagang yang menjajakan makan dan minuman ringan. Memasuki pagar terdapat taman kecil dibagian kiri, dan sebuah bangunan kecil (seperti gudang penyimpanan) di sebelah kanan, lurus di depan adalah bangunan utama museum. Dan terdapat loket penjualan tiket disebelah kiri dekat beranda museum, harga tiket dibandrol 3000 /orang. 
Ruangan Hasil Olahan Dari Kayu
Bangunan museum ini berbentuk kontak dengan 4 bilik dan satu ruangan tengah yang besar. Saya memasuki museum dengan disambut oleh patung campuran binatang, sama seperti yang kemarin saya lihat di Pulau Kumala saat lewati jembatan diruang utama. Kemudian saya memasuki ruang pojok kiri belakang dimana terdapat berbagai olahan dari kayu. Terdapat baju adat, dan alat keperluan sehari-hari bagi suku dayak. Disini juga terdapat miniatur rumah adat beberapa suku dayak yang ada di Kalimantan.
Ruangan Olahan Dari Rotan
Dari ruangan itu, saya berpindah ke ruangan sebelahnya, kalau dari pintu masuk utama letaknya tepat disebelah kiri, pojok kiri depan tepatnya. Ini merupakan ruangan hasil olahan dari rotan. Ruangan ini menampilkan berbagai bentuk kerajinan yang terbuat dari rotan, diantaranya kursi, meja dan beberrapa furniture rumah tangga.
Ruang Herbarium
Lanjut ke ruangan pojok kanan belakang yang merupakan ruangan herbarium. Di ruangan ini ditampilkan berbagai jenis daun dari berbagai pohon yang diawetkan (seperti praktek pelajaran biologi saat SMA dulu). Kemudian berbagai macam tanaman / daun yang bisa dijadikan obat-obat herba, untuk makanan binatang sampai tanaman hias. Serta gambar dan foto berbagai macam pepohonan.
Ruang Jenis Kayu-kayu
Ruangan berikutnya adalah ruangan jenis kayu kayu. Di ruangan ini ditampilkan berbagai macam potongan-potongan batang kayu, serta biji-bijian dari pepohonan itu sendiri. Di sini juga terdapat perta penyebaran kayu-kayu di Kalimantan.

Setelah semua ruangan saya masuki, yang terakhir adalah ruangan utama, selain patung "campuran binatang" tadi tadi, juga terdapat beberapa hal yang dipamerkan di ruangan ini, baju adat, potongan melintang Kayu Kapur yang berdiamter 1,5 meter. Kayu ini bisa tumbuh pada ketinggian 60 meter, dan bisa mencapai umur 350 tahun lebih, penggunaan kayu kapur ini adalah sebagai bahan bangunan sampai pembuatan kapal.
Irisan Kayu Kapur Dengan Diameter 1,5 meter.
Yang paling menarik perhatian saya adalah dua ekor buaya (sepasang) yang sudah diawetkan. Konon buaya ini ditangkap karena sudah memakan manusia. Seekor Buaya Muara Badak betina ditangkap pada tahun April 1996 setelah memangsa seorang lelaki. Seekor laki adalah buaya Sangatta jantan yang ditangkap pada maret 1996 setelah memangsa seorang wanita. Menurut dokumentasi, saat dibedah perutnya masih terdapat anggota tubuh para korban. Usia buaya-buaya ini adalah 60 dan 70 tahun saat ditangkap, dan memiliki panjang sekitar 5 sampai 6 meter dengan berat 450 - 850 kg. Dan kemudian baru diawetkan dan dipamerkan di museum Kayu.
Buaya-Buaya Pemangsa yang Diawetkan
Ada artikel unik yang saya baca yang ditempelkan di dinding samping buaya yang diawetkan ini. Artikel tersebut menunjukkan gambar sepasang manusia berpakaian layaknya seorang raja dan ratu. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa sepasang buaya yang ditangkap dan diawetkan di museum ini merupakan jelmaan dari sepasang manusia yang mempelajari ilmu kedigjayaan yang sudah mencapai sempurna sehingga mereka mampu merubah wujud mereka menjadi buaya. Mereka sangat disegani dan bahkan menjadi raja diwilayah tempat tinggal mereka. Untuk menambah kesaktian, mereka harus mencari korban yang harus mereka bunuh dan makan. Begitulah, mau percaya atau tidak, kembali pada diri kita masing-masing ya. Ini juga ditayangkan di acara Mr. Tukul Jalan Jalan yang ditayangkan pada tanggal 24 Februari 2013. 
Artikel "Mistis" Mengenai Buaya-Buaya Tersebut
Pameran ternyata tak hanya di dalam museum, saat saya keluar ingin pulang ada beberapa kayu lagi yang dipamerkan diluar dekat taman kecil museum, yakni berbagai bentuk kayu yang terkena penyakit, dan juga kayu yang digunakan untuk sesaji. Museum ini selain dilengkapi dengan taman kecil untuk bersantai juga terdapat toilet di sebelah kanan museum, juga terdapat jembatan penyebrangan kecil yang menghubungkan museum dan jalan raya, bentuknya yang unik kerap dijadikan ajang cekrek-cekrek bagi anak-anak gaul yang kekinian.
Jenis Penyakit Kayu

Yap, perjalanan saya selesai disini. bhaay.

Thursday, March 10, 2016

Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari, via news.liputan6.com

"Jangan teriak, istighfar nak, istighfar!"

Begitu kata seorang ibu kepada anaknya saat bulan dengan perlahan sempurna menutupi pusat tata surya. Suasana cerah khas pukul 8 pagi perlahan menjadi "magrib" sementara. Gelap, asli seperti magrib, jika kalian pernah menonton film-film bertema sihir, salah satu adegan tukang sihirnya mengubah duniamenjadi gelap? nah seperti itulah keadaan saat itu.

"Tidak kah kau ngeri melihatnya?" Begitu pula kata seorang rekan satu kost kepada temannya. Sepertinya ibu dan rekan kost ini paham betul, gerhana matahari bukan sesuatu yang untuk di "hore" kan, gerhana matahari merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Ta'ala. Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam menganjurkan kita untuk shalat sunnah gerhana apabila kita melihatnya.

Dan alhamdulillah, gerhana matahari total kali ini Allah berikan kepada Indonesia sebagai "jalurnya". Ada sekitar 11 provinsi di Indonesia yang mendapat kesempatan melihat langsung Gerhana Matahari ini. Kalimantan Timur salah satu nya. Tak ayal, banyak ahli astronomi bahkan turis-turis yang rela datang ke Indonesia hanya untuk melihat fenomena ini. Memang langka, karena ini terjadi dalam beberapa tahun sekali saja. Aku hanya melihat gerhana di depan kost ku saja. bersama dengan sebagian jemaah setelah shalat sunnah gerhana. Aku meminjam kacamata hitam yang telah dilapisi dengan kacamata-kacamata lainnya untuk melihat gerhana ini. 
Jalur Gerhana, via nendangbanget.net

Proses bulan menutup matahari dimulai sekitar pukul 7.45 WITA, ditandai denga shalat sunnah gerhana, kemudian dilanjutkan dengan khutbah. Lalu setelah pulang, sebagain jemaah memilih untuk melihat prosesnya, dan sebagian lagi memilih untuk pulang. Gerhana matahari total terjadi pada pukul 08.37 WITA, hanya berlangsung beberapa menit saja, gelap, kemudian kembali terang seperti biasa.
Suasana Balikpapan, 08.37 WITA
Seperti yang telah banyak diberitakan, gerhana matahari bukanlah sesuatu yang untuk dirayakan. Bisa jadi ini juga merupakan tanda-tanda kiamat. Maka dari itu perbanyaklah dzikir dan taubat.
Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah! Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Shahih Muslim No.1499)

Berbicara tentang gerhana, ini merupakan pengalaman kedua ku, pertama kali aku merasakan gerhana adalah ketika SD, sekitar tahun 1997. Saat itu hari berubah gelap kemerahan, akusudah mengira akan kiamat setelah itu. Namun teman ku bilang bahwa itu adalah gerhana. :)

Fenomena-fenomena alam seperti ini harusnya membuat kita semakin yakin akan kebesaran Allah Ta'ala. Sebagian orang bilang bahwa gerhana merupakan tanda-tanda kiamat (entah kecil atau besar), namun sebagian lagi bilang tidak. Bagiku itu sama saja, karena akhir zaman sudah dekat.

Istighfar nak, istighfar!


Gerhana Matahari Total.
Balikpapan, 9 Maret 2016 : 08.37 WITA

Tulisan Perantau : Melipir ke Kota Raja Tenggarong Kutai Kartanegara

Gerbang Raja
Setelah dari Masjid ICS Samarinda, perjalanan saya berlanjut ke Kota Tenggarong. Perjalanan dari Samarinda ke Tenggarong memakan waktu 45 menit untuk jalan kendaraan dengan kecepatan sedang. Perjalanan dari Samarinda ke Tenggarong melewati hutan-hutan kota dan area pertambangan. Jalan yang berkelok-kelok membuat peut saya mual ingin mengeluarkan isi, mana duduk di mobil bagian belakang lagi. :D
Jalan Samarinda - Tenggarong, via huhulwinda.blogspot.com

Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya sampai juga saya di Kota Tenggarong ini. Kota Tenggarong merupakan ibukota dari Kabupaten Kutai Kartanegara, kabupaten dengan luas wilayah terluas di Provinsi Kalimantan Timur, juga merupakan Kabupaten Terkaya dengan APBD terbesar se Indonesia. Sekarang ini kami berada di Tenggarong Seberang, dan masih dalam perjalanan menuju kota Tenggarong nya. Dibagian kanan saya melihat sekomplek bangunan megah yang merupakan Pusat Olahraga Tenggarong, terdiri dari Stadion Sepak Bola Aji Imbut, sebuah stadion sepak bola yang berdiri megah, markas bagi tim Sepakbola Mitra Kukar, juga beberapa sarana olahraga lainnya yang dulu digunakan saat PON 2008. 
Jembatan Kartanegara, via www.1news.id

Perjalanan terus berlanjut melewati jembatan Kartanegara, sebuah jembatan kebanggaan masyarakat dan ikon kota Tenggarong itu sendiri. Jembatan yang dulu sempat ambruk ini kini telah kembali berdiri gagah yang menghubungkan Tenggarong Seberang dan Kota Tenggarong dan berdiri kokoh di atas Sungai Mahakam. Saat melewati jembatan, pandangan saya tertuju di bagian kanan jalan, terdapat pulau besar di tengah-tengah Sungai Mahakam. Pulau ini diketahui bernama Pulau Kumala, sebuah pulau berbentuk kapal jika dilihat dari atas, merupakan tempat wisata andalan warga Tenggarong. Di ujung pulaunya berdiri sebuah patung, entah apa bentuknya itu. Seperti campuran dari beberapa binatang, berbadan sapi, bersayap, berbelalai, bermahkota? Hmmm. Lembu Suana, itulah nama dari "campuran Binatang" tersebut. Sebuah mitologi masyarakat Kutai Kartanegara. Ada juga yang bilang bahwa ini merupakan transportasi para Raja Kutai.
Lembu Suana di Pulau Kumala, via www.indonesiakaya.com

Setelah melewati jembatan Kartanegara, akhirnya sampailah saya di Kota Tenggarong, pemandangan pertama saya tertuju pada daerah konstruksi yang sepertinya akan dijadikan taman kota, di bagian kanan juga terdapat seperti menara yang akan dibangun. Geliat pembangunan yang tak pernah berhenti. Tak jauh dari jembatan, berdiri megah kantor Bupati Kutai Kartanegara, khas dengan corak Kalimantan Timur nya. Didekatnya juga juga terdapat beberapa kantor-kantor penting, dan beberapa kantor lain yang akan dan sedang dibangun. Sepertinya tempat ini akan menjadi pusat perkantoran kabupaten.
Tulisan Tenggarong di Creative Park
Sama seperti Samarinda, Kota Tenggarong terletak di tepian Sungai Mahakam. Kota ini mendapat julukan sebagai Kota Raja. Karena dulu disini berdiri kerajaan besar Kutai Kartanegara, atau dengan lengkap bernama Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura dan Tenggarong merupakan ibukota Kerajaan terakhir setelah sempat beberapa kali berpindah tempat. Berada di tepian sungai Mahakam ditambah lagi dengan hasil bumi Kalimantan yang melimpah merupakan nilai plus tersendiri bagi kerajaan Kutai, yang menjadikannya kerajaan makmur. Hingga saat ini Kerajaan Kutai Kartanegara masih tetap ada. Meski tak sedaulat Kesultanan di Jogja, Kerajaan yang juga memimpin daerah, namun Kesultanan Kutai Kartanegara memegang peranan penting bagi kota dan masyarakat Tenggarong itu sendiri. Kerajaan Kutai pertama kali berdiri pada abad 13 merupakan Kerajaan Hindu, dan baru menjadi Kerajaan Islam pada abad ke 17. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1960, namun pada tahun 2001 Kesultanan Kutai Kartanegara dibangkitkan kembali untuk menjaga eksintensi dan budaya Kerajaan Kutai, bangkitnya kerajaan ini ditandai dengan dinobatkannya sang pewaris tahta yakni putera mahkota Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adinigrat sebagai Sultan Kutai dengan gelar Sultan Aji Muhammad Salehuddin II pada tanggal 22 september 2001. Istana Kerajaannya di Tenggarong disebut dengan Kedaton. Hmmm, menarik ni, sepertinya ada ulasan tersendiri ntar mengenai kerajaan Kutai ini. ;)
Jembatan Repo-repo yang Menghubungkan Tenggarong dan Pulau Kumala
Balik ke Kota Tenggarong ya. Kota Tenggarong sendiri tidak begitu luas. Pusat pembangunan memang berada di sini sebagai ibukota kabupaten. Selain pembangunan infrastruktur pemerintahan, pemerintah juga membangun sarana hiburan seperti taman kota, taman kreatif, tempat nongkrong yang unik di tepian sungai. Juga terdapat jembatan Repo-repo yang menghubungkan kota Tenggarong dengan Pulau Kumala. Program pemerintah Kutai Kartanegara adalah GERBANG RAJA, yang merupakan akronim dari Gerakan Membangun Untuk Rakyat Sejarhtera, hampir sama dengan daerah saya (baper untuk yang kesekian kalinya). Program pemerintah di kampung saya sana adalah GERBANG UTARAKU, sebuah akronim dari Gerakan Mebangun Untuk Kesejahteraan Sampai Ke Anak Cucuku. Ya hampir sama, sama-sama daerah tingkat II, sama-sama memiliki APBD yang besar (dua-duanya masuk dalam 20 besar daerah dengan APBD besar di Indonesia), sama-sama "gerbang" programnya. Bedanya aja "membangun" nya lebih kelihatan disini daripada disana. Hhaaaah, oke, skip.
Creative Park, Tenggarong
Karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa bermain di Creative Park Tenggarong, sebuah taman Kota di pinggiran sungai Mahakam, yang menjadi tempat nongkrong semua kalangan. Pemandangannya adalah pulau Kumala dan kapal-kapal tongkang yang membawa hasil bumi Kalimantan untuk diolah. Sebenarnya masih banyak lagi tempat yang mesti dieksplor jika masih punya waktu yang lebih.

"Berjalanlah dimuka bumi dan perhatikanlah....."

Sebuah arti dari ayat alquran, yang menyuruh kita untuk selalu "berjalan", agar kita banyak bersyukur. Jangan berdiam diri di kamar, karena kamar bukan semesta. Jangan berdiam diri, karena hanya air yang mengalirlah yang akan sampai ke samudera luas, meski melewati berbagai tempat dan rintangan. Maka, berjalanlah. :)

Wednesday, March 9, 2016

Tulisan Perantau : Islamic Center KalTim, The Awesome Palace

Pagi-pagi sekali saya sudah membuka mata. Menang saya dengan fajar yang belum juga nampakkan tanda-tanda kemunculannya. Setelah menunaikan beberapa kewajiban dipagi ini. Saya mulai bersiap-siap menuju terminal "taxi" di Balikpapan Permai dengan berjalan kaki, lumayan jaraknya sekitar 10 menit perjalanan. Karena hari masih pagi, dan udaranya Balikpapan pun masih segar untuk dihirup (sebenarnya sih biar hemat ongkos). Kemudian naiklah saya di taxi dengan jalur 2A dengan tujuan terminal bis Batu Ampar, cukup jauh perjalanannya. Saya diturunkan di tepi jalan di seberang terminal dimana ada salah satu bis yang sudah ngetem siap untuk berangkat, dan saya membayar 7000 rupiah untuk jasa angkutan taxinya.

Saya naik ke bis dan mengambil tempat duduk di belakang agar bisa berisitirahat. Lumayan lama juga menunggu untuk berangkat, baru pada pukul 08.30an bis yang saya tumpangi ini berangkat menuju Samarinda, penumpang di dalam tak terlalu banyak rupanya. Sambil menikmati indahnya alam Kalimantan dipagi hari, tiba-tiba bis kembali berhenti, kali ini di Kecamatan Samboja, ngetem untuk yang kedua kalinya. Dan kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 2-4 jam. Tergantung waktu dan situasi. Menikmati alam selama perjalanan yang didominasi oleh hutan lebat dan hijau, cocok dengan gelar pulau ini sebagai paru-paru dunia. Segar. Pukul 11an bis ini sudah akan sampai di terminal Sungai Kunjang di Samarinda, melewati jembatan Mahakam yang terletak di atas sungai Mahakam, jembatan ini menghubungkan Samarinda Seberang dan Kota Samarinda itu sendiri. Tiket bus sekelas ini untuk perjalanan Balikpapan-Samarinda dikenakan sebesar 37000 rupiah.

Panas, khas kota tambang minyak, itu adalah kesan pertama ketika saya berjalan di kota ini. Julukan Kota Tepian disematkan karena memang kota ini berada di tepian sungai Mahakam, satu dari dua sungai besar yang mengalir di pulau Kalimantan ini. Sungai ini merupakan tumpuan ekonomi rakyat Samarinda dan Kalimantan Timur sejak zaman dulu. 

Ramai, menjadi kesan kedua saya. Dibandingkan dengan Balikpapan, jalanan di sini agak sedikit ekstrim, sering macet karena volume kendaraan yang banyak. Maklum lah, ini adalah ibukota provinsi yang hampir segala kegiatan berpusat di sini. Samarinda juga memiliki kampus ternama bernama Universitas Mulawarman, yang membuat tempat ini merupakan kota pelajarnya Kalimantan Timur, banyak mahasiswa baik lokal maupun perantau yang melanjutkan studinya di sini. Tak heran jika memang banyak pendatang yang berimbas pada kemacetan dan tidak teraturnya jalan, belum lagi perusahaan-perusahaan besar tambang, migas, kayu dan sawit yang juga menempatkan kantor representatif bahkan berkantor pusat disini. Belum lagi di tempat-tempat tertentu masih diserang banjir ketika hujan deras. Hmmmm

Dibalik itu semua, Samarinda merupakan kota yang megah dan modern, saat melewati jembatan Mahakam tadi, di sisi kiri kita sudah disuguhkan oleh bangunan mall besar Samarinda, mall di tepi sungai, Big Mall namanya. Buat yang galau diputusin pacar saat berada di mall ini merupakan tempat yang pas....... Hha. Kemudian kantor-kantor pemerintahan, kantor Gubernur, Bupati, dan DPRD nya juga memiliki arsitektur yang luar biasa bagi saya. Sayang saat melewati kantor-kantor tersebut saya lupa untuk mengambil gambarnya.
Islamic Center Samarinda
Perjalanan saya berhenti dan sambil istirahat di sebuah bangunan indah dan megah berwarna coklat keemasan. Bangunan yang memiliki bentuk khas ini terletak persis di tepian sungai Mahakam dan juga menghadap ke sungai tersebut. Yap, bangunan ini merupakan Masjid Baitul Muttaqin yang merupakan bagian dari Islamic Center Kaltim (ICK). 
Tampak Depan ICK
Saya mencari tahu tentang masjid ini. Sercing-sercing neng gugel, akhirnya ketemu juga sejarah pembangunan masjid megang ini. Pencanangan pembangunan lokasi ini dimulai pada tahun 2000 dan diresmikan langsung oleh Presiden RI Bp. K. H. Abdurrachman Wahid. Pada november 2004, bangunan ini diresmikan untuk penggunaan shalat baru pada tahun 2008 bangunan ini secara utuh diresmikan oleh Presiden RI. Bp. DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono. 
Gerbang Utama ICS yang Langsung Menghadap Sungai Mahakam
Masjid yang memiliki gaya khas arsitektur 3 bangsa (Eropa, Arab dan Indonesia) ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi, luas bangunan penunjang 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi. Tak heran jika masjid ini menjadi masjid terluas dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal Jakarta. 
Istirahat di Selasar Masjid
Saya berisitirahat sebentar di selasar masjid ini. Selasar masjid ini terbentang dari sisi timur, utara hingga sisi selatan bangunan utama masjid, hingga gerbang dan menara utama yang terhubung ke bangunan utama masjid. Bentuk tapal kuda tersebut sangat mencerminkan arsitektur Islam yang dikenal sebagai arsitektur gaya moorish yang banyak ditemukan pada bangunan Masjid Kordoba, Spanyol. 
Menara Asmaul Husna
Dengan latar depan berupa tepian sungai Mahakam, masjid ICS memiliki menara dan kubah besar yang berdiri tegak. Konon, untuk rancangan menara diilhami menara masjid Nabawi di Madinah Almukarromah, dan kubah utamanya diilhami masjid Haghia Sophia di Istanbul Turki (yang sekarang sudah menjadi museum). Masjid ICS memiliki menara utama setinggi 99 meter yang terdiri dari bangunan sebanyak 15 lantai, dengan masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Angka 99 meter itu sendiri bermakna Asmaul Husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Yang menakjubkan, dinding luar menara dikelilingi lafadz Asmaul Husna yang dilapis batu granit, dengan teknik pembuatan water jet. 

Selain tangga, menara utama dilengkapi lift berkapasitas 10 orang dewasa. Di lantai paling atas menara, dinding ruangnya dilapisi kaca. Namun, udara di ruangan ini tetap sejuk karena dilengkapi dengan AC. Dari tempat tertinggi inilah saya bisa memandang indahnya kota Samarinda. Menyaksikan kapal-kapal tongkang yang berlayar membawa muatan, serta kelak-kelok sungai Mahakam yang menawan.
Bedug yang Terbuat Dari Kayu Bengkirai Utuh
Waktu zuhur sudah hampir tiba, matahari pun sudah tengah panas-panasnya berada di atas kepala. Saya memutuskan untuk masuk ke dalam untuk mengambil wudhu dan bersiap menghadap_Nya. Memasuki masjid dari pintu utama kita sudah disuguhkan dengan bedug raksasa yang terbuat dari kayu bengkirai utuh yang terdapat di gerbang dalam masjid. Kemudian saya memasuki lantai utama tempat dilaksanakannya shalat. Decak kagum saya kepada interior masjid ini, perbaduan marmer-marmer membentuk mozaik indah yang menhiasi bagian dalam masjid ICS ini, sekilas ada juga kemiripan dengan masjid Agung Natuna di tempat saya, -baper-.
Interior ICS (tempat shalat)

Interior ICS (hiasan kubah masjid)
Setelah menyelesaikan kewajiban, saatnya saya kembali melanjutkan perjalanan, teman saya pun sudah menunggu di luar. Tujuan berikutnya adalah Tenggarong. See ya...


sumber dan web resmi.
http://www.travelerien.com/2016/05/masjid-islamic-center-samarinda-sebuah.html
http://islamiccenterkaltim.or.id

Tuesday, March 8, 2016

Ayah, Ibu...... Maaf Belum Bisa Berbuat Banyak...:')

Ayah, Ibu, apa kabar kalian di rumah? Semoga selalu dalam limpahan keberkahan Allah Ta'ala. 

Dulu masih kuingat saat kekhawatiranku tentang biaya kuliah, pembelian modul-modul, kuliah lapangan serta biaya seminar yang mahal, lalu Ayah mengatakan dengan penuh keyakinan :
“Tugasmu di sana adalah kuliah. Jangan fikirkan soal biaya, itu urusan kami di sini. Untuk masa depanmu nak, rejeki akan selalu ada”
Bergetar dada saat kau mengatakan itu padaku. Salah satu kata-kata terindah nan menyentuh yang pernah aku dengar.

Kini masa itu sudah lama berlalu. Dengan kerja keras serta doa tulus Ayah dan Ibu, aku berhasil mengenyam bangku kuliah dengan tuntas. Sudah ku pakai jubah sakral beserta toga itu. Aku seorang Sarjana, Sarjana Teknik tepatnya. Aku juga sudah bekerja, meski dengan penghasilan minim yang hanya cukup untuk hidup sehari-hari di tanah rantau. 


Aku mau Ayah dan Ibu berhenti bekerja. Kini saatnya biarlah aku yang menggantikan perjuangan.
Bersantailah Yah, Bu, biar aku yang berjuang, via semakinra.me
Ayah, Ibu, perjuangan kalian sudah begitu lama. Bahkan sejak aku belum ada hingga akhirnya aku sudah menyelesaikan pendidikan sarjana. Selama kuliah aku selalu berharap cepat lulus, cepat mendapat pekerjaan, dan segera bisa menggantikan perjuangan yang kalian lakukan sekian lama. Ingin rasanya melihat kalian duduk tenang di teras rumah, tak perlu lagi memikirkan apa menu makan esok hari ataupun biaya sekolah adik. Tak perlu Ayah dan Ibu bekerja lagi. Karena kini ada anakmu yang sarjana ini yang siap memenuhi semua kebutuhan.

Hah, tapi hidup selepas kuliah ternyata tak semudah yang kubayangkan. Ekspekstasi tinggi tentang penghasilan hanya ada di angan-angan.
Lelah, via www.satuharapan.com
Baru kusadari pikiran itu begitu naifnya. Dulu kupikir dengan gelar sarjana yang kupunya, aku bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar di kota orang. Lalu aku akan rutin mengirim uang kepada Ayah dan Ibu. Tapi kenyataannya, mencari kerja tidak semudah yang kukira. Menganggur berapa bulan juga pernah ku rasakan, bahkan aku masih bergantung pada kalian, betapa malunya. Ketika bekerja, gaji tinggi yang kubayangkan selama kuliah ternyata masih jauh dari jangkauan. Ini baru permulaan, jalani saja, begitu kata orang-orang.

Ribuan niat di hati yang dulu kuucapkan belum bisa kutepati. Nyatanya penghasilan kecilku hanya cukup untuk diri sendiri.
Terus bekerja
Aku pernah berjanji dalam hati untuk melakukan ini dan itu. Banyak konsep kehidupan yang telah kurencanakan. Dan kini aku mengerti, bahwa mewujudkan janji-janji tidak semudah yang kupikirkan. Ah, sedih rasanya mengingat itu semua. Karena kenyataannya, sekeras apapun aku berusaha menyisihkan uang, penghasilan kecilku saat ini hanya cukup untuk diri sendiri. Ibu bilang tak apa, yang penting kamu sudah mandiri, bersyukur atas apa yang kamu dapati saat ini. Tapi dalam lubuk hati ini Bu, aku ingin sekali memberikan sesuatu. Ini dan itu ingin kuberikan dan kubelikan. Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa memberikan janji untuk berusaha lebih keras lagi.

Bayangan gurat wajah yang menua dan lelah semakin memacu semangatku. Suatu saat nanti semoga menjadi senyuman bangga yang menghangatkan hati.
Senyum Bahagia, Penyemangat Jiwa, Penggugur Dosa, via www.kompasiana.com
Bekerja memang membuat lelah. Dulu kukira, bila aku bekerja di dunia yang kusukai, setiap hari hanya ada senang yang kurasa. Tapi ternyata tidak juga. Rasa lelah, bosan, dan rindu rumah serta pelukan-pelukanmu nyaris kurasakan setiap harinya. Masakan ibu yang lezat tiada tara, bunyi radio tua yang selalu menyala menemani setiap kegiatan di dapur. Ketika semangat untuk meraih mimpi terasa pudar, kutatap foto kalian yang kuselipkan didompet. Senyum tua di kulit keriput Ayah dan Ibu tak pernah gagal memacu semangatku. Suatu saat nanti, akan kuubah senyum lelah dan ikhlas itu menjadi senyuman bangga penghapus dosa, aamiin. Dan bila nanti saatnya tiba, Ayah dan Ibu tinggal duduk saja, menikmati masa tua dengan tenang dan bahagia. Saat ini aku memang belum bisa memberikan apa-apa. Bahkan sesekali, aku masih membutuhkan bantuan dari kalian. Tapi Ayah dan Ibu yakin saja. Saat ini anakmu sedang berjuang mati-matian untuk berkembang. Suatu saat nanti, janji dalam hati yang dulu kuucap insya Allah akan kutepati. 

Meski tak akan pernah sepadan dengan pengorbanan kalian, selama masih bisa, aku akan terus berusaha.
Terus berusaha dan berdoa, via www.fotodakwah.com
Semua yang kulakukan, Ayah dan Ibu, bukan untuk membalas ataupun mengembalikan segala yang sudah kalian berikan. Karena aku tahu sampai kapan pun aku itu tidak akan pernah sepadan. Bahkan jika aku menggendong mu untuk berjalan Sa'i dari Safa dan Marwah pun belum sedikitpun membalas apa yang telah kalian lakukan padaku. Aku hanya ingin membuat kalian sedikit bangga, tersenyum bahagia. Sebagai tanda terima kasih karena Ayah dan Ibu sudah membawaku ke dunia, dan memberi kehidupan yang luar biasa. 

....................................

Hidup memang tak pernah mudah. Ayah dan Ibu tentu yang paling tahu. Tetapi aku tidak akan menyerah. Mimpi-mimpi untuk membahagiakan orang tua hanya sejengkal lagi untuk kugapai. Ayah, Ibu, sabarlah dahulu. Berilah anakmu ini restu, karena restu Tuhan pun terletak pada restumu. Dan rangkaian doa yang keluar dari hati ikhlas mu adalah doa paling mustajab yang tak akan tertolak. Doa kan aku agar bisa segera mewujudkan mimpi-mimpi yang kalian titipkan kepadaku. Insya Allah, aamiin.



Sumber Inspirasi : 
Hipwee.com