Friday, November 18, 2016

Tulisan Perantau : Tanjung Tabalong (2), Yang Unik

Masih di Tanjung Tabalong vrooh, masih ada waktu beberapa minggu lagi disini (menurut kontrak kerja), masih sempat untuk explorasi tempat-tempat (sambil menunggu waktu yang pas untuk explorasi). Hal yang bisa dilakukan adalah mengamati yang bisa diamati dulu saja. Kali ini tentang kehidupan dan keunikan di Tanjung. Setiap kota atau daerah punya keunikannya to. Tak terkecuali Tanjung Tabalong ini. Ada beberapa keunikan yang menurut saya sayang untuk tidak dituliskan. Hahai.

Yang unik, yang unik :
Unik yang pertama :
Plat Kendaraan. Pernah mengamati plat kendaraan bermotor? Seperti plat kendaraan dari Sumatera yang diawali dengan huruf B, plat kendaraan di Jawa yang beraneka ragam, plat kendaraan di Bali dan Nusa Tenggara yang awalnnya D, di Kalimantan plat kendaraan berawal dari huruf K, KB untuk KalBar, KH untuk KalTeng, KT untuk Kaltim, KU (masih dalam usulan) untuk KalTara, dan KS untuk Kalimantan Selatan.  
Plat DA
Eeet, tunggu dulu, disini yang uniknya, plat kendaraan KalSel yang Tanjung Tabalong masuknya didalamnya bukanlah KS, melainkan DA. Nah jauh banget kan? Saat pertama-pertama belajar memahami kode plat kendaraan dulu, saya sendiri merasa bingung mengapa KalSel ini beda sendiri, mengapa harus DA gitu? Ada yang bilang DA untuk singkatan Dayak Asli, hweew, SARA coy. Ada juga yang bilang DA untu singkatan Daerah Air, karena KalSel memiliki banyak sungai. Tapi untuk menghilangkan rasa penasaran, yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah tanya mbah gugel dah, jadi katanya dulu Kalimantan merupakan satu kesatuan provinsi, oleh pemerintah pusat plat kendaraannya ditetapkan DA, setelah Kalimantan dimekarkan menjadi beberapa provinsi seperti sekarang ini dan masing-masing memiliki kode plat kendaraan sendiri, tinggallah KalSel dengan tetap menggunakan kode plat kendaraan DA, gitu aja deh sejarahnya. Hhe.

 
Unik yang kedua :
*ceritanya lagi laper, mau makan, pergi lah ke warteg*
"buk, pesen nasi campur ya"
"ia, ikan nya apa?"
*trus kamu lihat dipilihan lauk tidak ada lauk ikan sama sekali, dan kamu mulai bingung (bengong, garukin kepala)*
Ikannya apa?
Ternyata, istilah "ikannya apa?" setiap kita beli makan berarti menanyakan lauk, lauk apa yang akan kita pilih. Tak hanya di KalSel, di KalTim juga yang ada warung Banjar dan penjual asli Banjar nya rata-rata akan menanyakan hal yang sama ketika kita akan makan. Setelah saya tanya dengan ibu pemilik warung makan yang asli sini, jawabnya itu karena kebiasaan aja makan nasi dengan lauk ikan, jadinya setiap makan nasi yang ditanya itu apa ikannya, lama kelamaan jadi kata ikan ini pengganti kata lauk deh. Cmiiw. :D

"Ikannya apa?" berarti "mau lauknya apa?". Ya nanti jawab aja biasa, gini :

"bu, nasi campur, ikannya ikan harwan ya,"
"bu nasi campur, ikannya ayam goreng". :D
 
Unik yang ketiga,
Pernah liat lukisan ini atau semacamnya ketika makan di warung Banjar?
Jika kalian makan di warung banjar, atau pergi ketempat-tempat usaha lainnya. Sebagian besar akan kita temui figura seorang atau beberapa orang laki-laki, bersorban, sebagian ada yang berjanggut. Ya, khas tampilan ustadz atau ulama gitu. Ketika saya bertanya kepada ibu yang tadi tempat saya tanya tentang "ikan", secara singkat dan cepat beliau menjelaskan itu ada ulama dari Banjar, boleh juga dibilang "Wali Songo" nya Kalimantan, meskipun bukan songo (sembilan), ya berarti Wali lah ya. Beliau menyebut ada empat nama, ulama-ulama dari Banjar tersebut. Jadi menurut saya pemajangan gambar-gambar beliau ini merupakan suatu bentuk kehormatan kepada para ulama.

Saya rasa masih banyak unik-unik yang lain, sementara saya mencari, biarlah 3 unik ini dulu yang saya ceritakan ya. See ya.

Monday, November 14, 2016

Kopi Loper? Monggo mblo neng kene wae.

Satu lagi ni tempat nongkrong asik di Jogja "yang tetap istimewa" ini. Nongkrong sambil nikmati citarasa kopi Nusantara, spesial dari provinsi paling ujung barat sana : Nanggroe Aceh Darussalam. Berawal dari pesbuk, kakak saya ngetag foto mirip gerobak angkringan, tapi tulisannya “ngopi”. Trus dia bilang :

"mbe agik kat Jogja, au gi hini ye,"
(kalo lagi ke Jogja, mampir sini ya).
Gayo Ngopi, via facebook.com

Oke deh jawab ane kan. Sambil mencari-cari alasan untuk bisa ke Jogja lagi. Dan kebetulan tak lama setelah itu ada pelatihan di Jogja. Kesempatan ni, muleh nang Jogja, sambil cari waktu kosong sebentar untuk pergi ketempat itu.

Mbe se ndek lak…..

Trus ane jadi ingat, dulu punya temen satu kampus, satu angkatan, beda jurusan tapi. Trus saat mau lulus kita sempat ngobrol tentang rencana masa depan, dia mantap bilang pengen usaha. Weweh ternyata bener, bikin usaha kopi dia nya. Udah maju gini pula. Warbiyasaaak. Emang ya, usaha yang bagus itu adalah usaha yang dikerjakan, kata alm Om Bob. 
Yap, pas ada (curi-curi) waktu kosong gak ada kegiatan, langsung deh nancepin si kuda besi pinjaman ke TKP. Tidak sulit menemukan tempat nongkong ini. Letaknya di jalan Taman Siswa no 13, di dekat Asrama Mahasiswa Provinsi Aceh, tepat di seberang Lapas. Kalo dari utara, tempatnya disebelah kiri (sisi timur) jalan. 
Gayo Ngopi Arabica
Nama tempatnya adalah Gayo Ngopi Arabica. Gayo itu merupakan nama suatu dataran tinggi di Aceh, Tanah Gayo namanya. Ya seperti Dieng-nya Jateng, atau Bogor-nya Jabar kali ya. Nanggroe Aceh Darussalam selain dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah, juga dikenal dengan negeri penghasil kopi, kopi Gayo yang dikembangkan secara organic ini disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia, #banggaIndonesia. Karena itu pula, ngopi sudah menjadi "urat nadi", kegiatan yang tak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Ingat kata-kata legenda dari Teuku Umar, salah seorang pahlawan dari Tanah Rencong ini yang paling populer saat masa perang dulu? 
“Singoh beungoh tanjoe ta djeb kupi di Meulaboh atawa ion akan sjahid”
"Besok pagi kita akan ngopi di Meulaboh atau kita akan syahid."
Motivasi yang membakar semangat pejuang kemerdekaan untuk merebut apa yang sudah diambil, juga motivasi untuk berjihad, dan syahid. 
Tanah Gayo, via atjehkopi.blogspot.com

Berbicara tentang dataran tinggi Tanah Gayo, ada tiga kabupaten yang berada di dataran tinggi penghasil kopi nikmat khas Aceh itu, yakni Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Nah mungkin asal owner nya dari sana kali ya, makanya nama Gayo Ngopi yang dipilih. Nama ownernya adalah Agam, alumni kampus Energi di Jogja (kampus ane juga ni), dan dia juga baristanya (tukang ngeracik kopi). Perkenalan dengannya dulu emang gak disangka-sangka, tapi tentunya sudah ada Yang Ngatur kan, kakaknya dan kakak ane sekampus, trus kita ketemu di awal-awal jadi mahasiswa baru, dan silaturahim terus berlanjut hingga sekarang. Alhamdulillah. 
Barista s doing his job.
Gayo Ngopi ini baru berdiri diawal taun 2015 lalu. Namun untuk tempat yang baru, Gayo Ngopi Arabica boleh dikatakan tempat favorit, terbukti saat ane ngopi disana aja, sudah ramai pengunjung yang datang untuk menikmati kopi hasil racikan barista Aceh yang ganteng ini. 
Barista
Tempat Gayo Kopi Arabica didesain ala-ala angkringan gitu, gerobak dan bangku panjang di depannya, khas Jogja banget kan. Juga ada tambahan bangku dan meja ditempat lain untuk menambah kesan modern dan “nongkrong” nya. Simple place, great taste. Itu jargonnya. 
Peralatan "tempur"
Tempat yang sederhana, dengan rasa istimewa. Bijikopi pilihan langsung dikirim dari asalnya di Aceh sana. Rasa yang bener-bener istimewa bagi anda pecinta kopi, atau seperti saya hanya yang hanya penikmat sunyi ini. Rasa kopi Gayo dibilang berbeda karena hampir tidak meninggalkan rasa pahit, ditambah lagi dengan aroma yang harum dan rasa yang gurih. Ada beberapa varian kopi yang ditawarkan di Gayo Ngopi ini : Gayo Spesial, Gayo Abyssina, dan Gayo Peaberry, kesemuanya diracik menjadi 4 “spesies” kopi : Tubruk, V60, Aeropress dan Chemex. Gayo Spesial diproses dengan cara semi wash, Gayo Abysinna memiliki rasa agak manis, dan Gayo Peaberry (biji tunggal) memiliki karakter yang kuat dalam rasa. Juga ada tambahan kopi biasa jika kamu yang tidak atau belum terbiasa dengan kopi Gayo, ada kopi susu, espresso, es kopi dan es kopi susu. 
Menu
Harganya juga terjangkau, harga mahasiswa, harga Jogja pula. Dibandrol mulai dari 9k aja. So, para kopi lovers, Gayo Ngopi Arabica merupakan alternatif pilihan yang bijak untuk nongkrong karo konco-konco sambil bercerita tentang Jogja, tentang rasa yang tak pernah habis, bercerita tentang kisah-kisah kehidupan sambil menikmati citarasa kopi dari ujung barat Indonesia ini.

"Karena kopi mengajarkan kepada kita bahwa hitam tak selalu kotor, dan pahit tak selalu menyedihkan."

Sumber : 
http://pusatkopigayoaceh.blogspot.com/2013/02/sejarah-kopi-gayo-aceh.html