Thursday, July 6, 2017

Nongkrong Asyik di Awan Cafe, Cafe Gahol anak Natuna

Alhamdulillah, kali ini masih diberi kesempatan untuk kembali mudik ke kampung halaman. Memang sejak kuliah dulu, dapat jatah pulang kampung hanya 1 sekali dalam setahun, saat momen hari Raya Idul Fitri saja, lainnya ya di rantau orang terus, terus, turun naik turun naik teruss. Dan setiap pulang kampung ada saja perubahan di kampung saya ini, meskipun banyak yang tidak berubahnya, nah lo bingungkan?

Mulai dari dirobohkannya bangunan bersejarah saat pulkam tahun 2014. adanya tempat-tempat wisata baru saat pulkam tahun 2013, dan lain-lain. Dan hasil pengamatan saya saat pulkam tahun 2017 ini adalah banyaknya barbershop dan cafe-cafe gahool yang muncul. Mengadopsi gaya kekinian dari media sosial, anak-anak muda di Natuna banyak yang terinspirasi rupanya.
Awan Cafe, Ranai
Dari sekian banyak cafe yang ada, saya memilih Awan Cafe untuk disambangi. Berhubung setelah lebaran, sebelum berangkat kembali merantau. Saya dan keluarga nongkrong di tempat ini. Awan Cafe terletak di jalan Dt. Kaya Wan Muhammad Benteng, di Jemengan, tepat sebelum jalan masuk ke Masjid Agung jika kita dari arah kota.

Ownernya bernama Agus, -cewek lo ini-, adik kelas di SMA dulu. Konsep Awan Cafe saat unik, mengingatkan saya akan Jogja. Tata letak gambar-gambar, adanya permainan uno yang disediakan, serta desain susunan lampu ditata sangat unik.
Menu andalannya saya tebak adalah mie dalam kelapa, namun berhubung saat kami kesana sedang tidak tersedia, jadi kami hanya memesan beberapa snack, kentang goreng, nuget, dan beberapa minuman. Harganya lumayan terjangkau untuk daerah Ranai, saat kami kesana kami mendapat diskon, jadi tidak tahu harga aslinya berapa. Hhe.


Nah, jika sedang di Ranai, dan bingung mau kongkow bareng temen-temen dimana, Cafe Awan merupakan alternatif terbaik untuk kamu-kamu semua. Cafe gahool untuk anak gahool Ranai.

Wednesday, July 5, 2017

Sisa Lebaran di Pulau Terluar Bagian Timur Natuna : Senua

Kebiasaan masyarakat disini adalah ketika setelah idul fitri, syawal hari ke 3, atau weekend pertama dibulan syawal, mereka memanfaatkan momennya dengan tetap bersilaturahim dengan sanak saudara, namun dalam bentuk "outdoor". Ya, berekreasi bersama keluarga, sejawat, kerabat, dan handai taulan biasa dilakukan masyarakat sini ketika bulan syawal. Memanfaatkan momen-momen libur keluarga, biasanya menuju tempat-tempat wisata yang ada disekitaran pulau.Terkadang ditempat rekreasi sana kita juga akan menemukan rekan-rekan lain yang juga melakukan kegiatan yang sama, jadi nilai silaturahmi idul fitri masih terasa meski tak harus berkunjung kerumah-rumah.

Itu juga yang saya lakukan, mengingat waktu libur yang sebentar lagi ini, sebelum kembali ke perantauan. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk bersilaturahim "outdoor". Tujuannya tidak jauh-jauh, namun sayang untuk ditinggalkan : Pulau Senua. Saya terakhir ke pulau ini ketika tahun 2014 lalu saat menemani rekan-rekan mahasiswa UGM yang sedang mengabdi KKN di Natuna, saat itu pergi dengan menggunakan kapal nelayan yang kami carter.

Sejak itu, saya belum lagi datang kesini. Melihat perkembangan pulau Senua hanya dari media sosial. Dari foto yang diposting menggambarkan Senua sudah banyak berubah. Tahun 2015 pemerintah mengadakan pembuatan pelabuhan terapung untuk meningkatkan pariwisata pulau ini, ada juga gerbang "welcome to Senua" yang dibuat pemuda-pemuda biar lebih instagramable. Ada juga rumah portable yang disediakan pemerintah. Lalu berbagai acara juga dilaksanakan di Senua baik oleh Karang Taruna hingga Pemda. Tugu atau monumen perbatasan juga dibangun di sana.

Ohya, pulau Senua, meski terbilang dekat dengan pusat kota di pulau Bunguran, ia merupakan salah satu pulau terluar penjaga batas Indonesia. Oleh Karena itu pulau ini harus dijaga dengan baik, karena jika "hilang", maka batas negara pun akan berubah. Letaknya yang sangat dekat, yaitu di sebelah timur pulau Bunguran membuat akses ke sana sangat mudah, masyarakat biasa ke Pulau Senua dengan menyewa perahu nelayan atau boat raider milik TNI AD, harga carteran perahunya sebesar 500k pulang-pergi, (harga sewaktu-waktu bisa berubah, ya).
on the way to Senua Island
Kami berjumlah belasan orang, dan memutuskan untuk menyewa boat raider TNI menuju ke Senua. Perjalanan ke Senua dengan boat raider milik TNI ini sangat cepat, kami hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit perjalanan dari pelabuhan Teluk Baruk ke Senua. Lebih cepat 20an menit jika menggunakan perahu nelayan. Sensasi melompat-lompat terkena gelombang saat boat membelah laut menemani perjalanan tujuh menit itu.
Narsis dulu.
Setelah sampai, perahu ditambatkan di pelabuhan, dari awal saya sudah penasaran dengan pelabuhan baru Senua ini, dan ternyata dibangun dengan sangat bagus, memudahkan perahu-perahu yang bersandar. Karena sebelum ada pelabuhan ini, perahu akan labuh jangkar atau "menabrak" pulau untuk menurunkan pengunjung. Kami langsung mencari tempat untuk berteduh, membersihkan area dan lalu menyiapkan bekal, sambil berfoto ria. Keindahan Senua tidak pernah berubah, tiada dua nya, pantai dengan pasir putih berkilau, laut yang jernih, dan merupakan lokasi snorkling dan diving yang sempurna sambil melihat karang-karang yang super indah. Karang-karang indah ini bahkan sudah bisa ditemukan hanya beberapa meter saja dari pantai. 

Baca juga : Senua : Bunaken Natuna

Saya mencoba berenang, hanya di sekitaran pelabuhan, karena tanpa persiapan, jadi alat-alat untuk berenang tidak saya bawa, kacamata renang saja saya pinjam, Hahaha. Lumayan, bisa sedikit melihat indahnya karang yang ada disekitaran pelabuhan. Sayangnya lagi, tidak punya kamera underwater, alhasil tidak bisa mengabadikan dan membagi apa yang saya lihat. padahal bagus lo, hhe. Setelah berenang badan terasa lelah, sehingga saya beristirahat dan tidak ikut rombongan lain ke belakang pulau. Hmmm padahal view disana sangat indah. Saya melewatkan momen ini, hiks. 
Sans dulu lah.
Saya tertidur lumayan lama, saat tersadar hari sudah petang, saat nya pulang. Boat raider TNI pun sudah menunggu di pelabuhan. Setelah berberes bersih, kami menuju pelabuhan dan pulang. Ada yang asik ketika pulang ini, saat akan jalan, Abang "supir" boat menanyakan, apakah ada yang sakit lemah jantung disini. Kami menjawab tidak ada, dan dibalas dengan anggukan kecilnya. Belum tau apa maksudnya, dan itu terjawab saat ditengah-tengah perjalanan. Kami dilibatkan dalam "atraksi" boatnya. 

Oleh si Kapten, boat dimiringkan kekiri dan kanan, bahkan berputar 360 derajat bak sedang tawaf. Baru kembali menuju pelabuhan Teluk Baruk. Teriakan gembira dan tawa ruang mengiri atraksi kecil tersebut. Seru dan luar biasa. Dan ini menjadi penutup yang luar biasa untuk liburan mudik saya kali ini. Mantap!!!!!!