Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Friday, August 26, 2022

Silsilah Ulama Masjid Jamik Sabang Barat Midai (bagian 4)

---sambungan dari bagian 3---

10. Haji Sabki bin Haji Musa
Tulisan mengenai al-Fadhil Haji Sabkie bin Haji Musa saya dapat dengan menanyakan tentang beliau ke berbagai sumber, termasuk anak-anak, ponakan, cucu-cucu saudara yang pernah bertemu dengan beliau.
Sabki bin Musa
Nama lengkap beliau adalah Sabki bin Musa. Ayahnya, Haji Musa bin Kasim merupakan imam masjid Jamik Sabang Barat yang kedelapan. Sabki merupakan anak ke 5 dari 14 bersaudara. Beliau lahir pada 1 oktober 1931M / Jumadil ula 1349H.

Semasa hidupnya, beliau menuntut banyak ilmu dari berbagai guru. Selain ilmu agama sebagai bekal di akhirat, beliau juga banyak mempelajari ilmu pengetahuan lain sehingga beliau banyak menguasai ilmu pengobatan, hingga silat. Oleh saudara-saudara serta keturunan setelahnya, beliau disebut sebagai a multitalent person (orang yang banyak bakatnya). Bagaimana tidak, beliau pandai bersyair, mahir dalam seni silat, membacakan do'a tepung tawar, mengobati penyakit mata, sampai menjadi dukun beranak.
Kehebatan ilmu yang dimiliki oleh beliau diakui oleh rekan-rekan beliau semasanya. Bapak H. Wan Zawali, Ketua LAM Kepri-Natuna pernah mengatakan pada salah satu anak beliau:
"saya dengan ayahmu (H. Sabki) itu tak jauh berbeda ilmunya, semua bisa saya imbangi. Hanya satu saja yang saya akui keunggulannya, beliau bisa menjadi dukun beranak, dan saya tidak"
Masa muda beliau tinggal di rumah orang tuanya di kaki gunung Bakau atau biasa disebut dengan seghindeng Gunung Bakau. Adiknya (Faroek Musa) menceritakan bahwa Sabki Musa orang yang senang membaca, sehingga di rumah tersebut oleh ayahnya (Musa bin Kasim), hanya Sabki saja yang memiliki kamar, untuk beliau belajar. 
 
Saat sudah dewasa dan menikah, ia tinggal di gedung BKIA (di depan masjid Baiturrahman saat ini). Kemudian berpindah ke Kampung Gelam setelah mendapatkan sebidang tanah berkat bagi hasil pengelolaan tanah bersama rekannya yang bernama Dulah (atau biasa disebut dengan Cik Dulah). Di Kampung Gelam ini, Sabki Musa pelan-pelan memulai dakwahnya. Pertama-tama ia membangun Surau Kampung Gelam bersama teman-temannya. Adiknya, Faroek Musa yang membuat sketsa masjid. Sementara tukangnya adalah rekan-rekannya yang lain. 
Sabki Musa (kiri) berada di toko adiknya, Faruk Musa (kanan), tahun 1980an
Surau Kampung Gelam yang dibangun, berikutnya bernama Surau Al-Hidayah, dan sekarang sudah menjadi rumah wakaf yang lokasinya di seberang masjid Al-Hidayah Desa Air Putih saat ini. Di Surau Al Hidayah inilah Sabki Musa mengajarkan ilmu agama. Ia dan sang istri, Siti Zaleha, bersama dengan yang lainnya menjadi pengajar di surau tersebut, mulai dari wudhu, shalat, baca quran, wirid-wirid, hingga doa-doa lain.
Surau Kampung Gelam yang sudah menjadi rumah wakaf (kanan)
Di samping itu, ia juga banyak menimba ilmu dengan berbagai guru. Salah satu anak beliau menceritakan, bahwa beliau sering pergi keluar Pulau Midai untuk berguru kepada tetua-tetua di kampung seberang seperti Kelarik, Pulau Tiga, Subi, Serasan, dan tempat-tempat lainnya. Maka tak heran jika beliau menguasai banyak ilmu, mulai dari ilmu agama, seni, hingga pengobatan tradisional.

Keluarga dan keturunan
Al-Fadhil Haji Sabki Musa menikah dengan Siti Zaleha binti Haji Bujang (Haji Bujang merupakan imam masjid Jamik Sabang Barat Midai yang ke 4 yang pernah kita bahas pada tulisan sebelumnya). Dari pernikahan dengan Siti Zaleha, Haji Sabkie Musa memiliki 8 orang anak diantaranya Ramlah, Auzar, Baharudin, Rasidah, Salmah, Sabariah, Nurmalina dan Syamsul Bahar. Hingga saat ini, zuriyat dari Haji Sabki Musa dan Siti Zaleha Bujang sudah memiliki 30 cucu, 35 cicit, dan 2 orang piyut.
Anak-anak H. Sabki Musa dan Siti Zaleha
Wafatnya 
Al-Fadhil Haji Sabkie bin Musa wafat di Tanjungpinang, di rumah adik iparnya ketika hendak shalat fardu subuh. Beliau menderita "sakit di dalam perut" yang sudah diderita sejak lama, namun tidak terdiagnosa oleh medis. Beliau meninggal pada tahun 1995M dan dikebumikan di pemakaman umum Batu 8 Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.






Friday, September 28, 2018

Mengenal Sosok Arie Lasut, Pahlawan Energi dan Pertambangan Indonesia

"Bangsa yang besar merupakan bangsa yang tak pernah lupa akan jasa-jasa para pahlawannya."
Begitulah yang diucapkan oleh Sang Proklamator kita, bapak Soekarno. Para Pahlawan telah mengorbankan segalanya untuk bangsa yang kita cintai ini. Maka dari itu, menghargai jasa-jasa mereka, meneladani mereka, merupakan suatu bentuk penghormatan kita terhadap jasa-jasa pahlawan yang telah dulu pergi meninggalkan kita semua.

Indonesia merupakan negeri luas yang membentang dari Sabang sampai Merauke, memanjang dan tepat berada di tengah-tengah garis khatulistiwa. Memiliki sejuta kekayaan yang terkandung di dalamnya, di laut, hutan, termasuk di dalam perut buminya. Kekayaan alam yang terkandung di perut bumi Indonesia bukanlah sembarangan, selain memiliki potensi yang besar, ia memiliki kekhasan dan kualitas yang baik. Dan ini pula yang menjadikan Indonesia dulu (Nusantara) sebagai daerah rebutan para penjajah.

Kita mengetahui bahan tambang yang berada di bumi Papua memiliki kualitas terbaik di dunia, begitu pula timah yang ada di Bangka Belitung, batu bara di Kalimantan juga tak ingin ketinggalan menyumbang devisa untuk negara. Tarakan memiliki kualitas minyak bumi yang baik sehingga menjadi incaran Jepang guna memenuhi bahan bakarnya saat perang pasifik, potensi panas bumi di "komplek" gunung api yang tersebar di Jawa dan Sumatera sangat besar, coal bed methane yang merupakan sumber energi fosil yang baru dikembangkan di Sumatera Selatan, hingga cadangan gas raksasa yang masih tersimpan di laut Natuna. Semuanya merupakan kekayaan alam di sektor pertambangan dan energi yang dimiliki oleh Indonesia dan harus dijaga.

Oleh karena itu, sektor energi berperan penting dalam perkembangan bangsa yang kita cintai ini. Dan kamu harus tau, Indonesia memiliki pahlawan nasional disektor ini. Selain dengan mengangkat senjata, jasa para pahlawan juga ditetapkan melalui tindakan-tindakan heroik yang ia lakukan dalam mempertahankan segala bentuk yang berhubungan kedaulatan kemerdekaan Indonesia. Entah itu daerah, asset, bahkan dokumen sekalipun!

Nah tulisan saya kali ini akan membahas tentang satu tokoh penting dalam keberlangsungan sektor pertambangan dan energi di Indonesia. Tak banyak yang mengenalnya, namun di beberapa tempat namanya abadi dikenang. Selain aksi heroiknya, ia juga dikenal sebagai pahlawan tampan 😍 : Arie Frederick Lasut.

--------------
Arie Frederick Lasut
Pertama kali saya melihat nama ini adalah ketika masuk kuliah dulu. Gedung Fakultas kami, Fakultas Teknologi Mineral (FTM) bernama Arie Frederick Lasut (AFL). Semula saya sama sekali tidak ngeh dengan nama ini, pun tidak tahu bahwa Arie Lasut merupakan seorang Pahlawan Nasional. Foto dan profil singkat beliau yang saya lihat di dalam gedung fakultas baru membuat saya mengerti, bahwa nama gedung ini diambil dari nama Pahlawan Nasional disektor energi pertambangan. Namun saat itu belum terbesit untuk menuliskan profil tentang Arie Lasut, karena belum memiliki blog. Lama berlalu, baru kemarin ketika sedang nyekrol-nyekrol akun instagram kementrian ESDM dan ketemu tentang profl singkat AFL, terus -- terus --- hingga akhirnya alhamdulillah bisa chatting sama cucunya langsung! Dari beliau lah saya mendapatkan berbagai sumber di internet untuk menulis biografi singkat bapak Arie Frederick Lasut ini. Jom lah!

Lahir dan Pendidikan Awal (1918 - 1937) : Murid Pintar
Arie Frederick Lasut lahir di Desa Kapataran dekat Tondano, Sulawesi Utara pada 6 Juli 1918 sebagai anak pertama dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Darius Lasut asal Tulap dan ibunya Ingkan Supit. Arie lahir dari keluarga sederhana, ayahnya yang berprofesi sebagai seorang guru sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya, Arie Lasut dan saudara-saudara kandungnya juga dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat. 
Orang tua dan kediaman tempat Arie dan saudaranya dibesarkan.
Arie Lasut memulai pendidikannya pada tahun 1924 di Hollands Inlandse School (HIK) di Tondano. Setelah lulus dengan prestasi terbaik, Arie kemudian melanjutkan ke sekolah guru Hollands Inlandse Kweekschool (HIK) di Ambon dan lulus tahun 1933. Sebagai pelajar terbaik, ia terpilih ke HIK di Bandung, setingkat diatas HIK Ambon. Namun sekolah guru ini tidak ia selesaikan, ia pindah ke Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (Algemeene Middlebare School) bagian B (Wisen Natuurkundiege Afdeling -IPA-) di Jakarta. 

Pendidikan Lanjut dan Pekerjaan (1937-1941) : Pemuda Tangguh
Setelah tamat dari AMS tahun 1937, ia masuk ke Geneeskundige Hooge School, Sekolah Kedokteran di Jakarta (FKU UI sekarang). Ternyata sekolah itu pun tak ia teruskan karena kesulitan biaya waktu itu. Sekolah kedokteran itu hanya mampu ia tempuh selama setahun.
"Diceritakan oleh Nelly Lasut -adik Arie Lasut : (geomagz)-, ketika sekolah di Jakarta, Arie tinggal dengan pamannya dari pihak ayah. Untuk membantu meringankan beban finansial keluarga dalam membiayai kuliahnya, Arie memberikan les privat kepada siswa SMA, dan dia pernah belajar di bawah penerangan lampu jalan demi menghemat biaya listrik di rumah pamannya itu."
Nelly Lasut, adik Arie Lasut
Pada tahun 1938, ia sempat bekerja di Departemen Urusan Ekonomi (Departement van Ekonomische Zaken). Lalu ditahun 1939  ia melamar beasiswa dan diterima masuk Techniche Hoogeschool te Bandung (kini ITB). Lagi, kuliah di sini tidak ia teruskan karena masalah biaya (sumber lain menyebutkan adalah karena prasyarat yang diberikan Belanda : Arie harus menyatakan bersedia menjadi orang Belanda gelijkgesteld dan Arie menolak persyarat itu). Sumber lain juga mengatakan bahwa tidak dilanjutkannya pendidikannya tersebut adalah karena Perang Dunia ke II, -link-. Arie Lasut pun batal menjadi dokter dan Insinyur.

Pada tahun 1939 dia mengikuti ujian masuk kursus asisten geologi pada Dienst van den Mijnbouw (selanjutnya menjadi Jawatan Tambang dan Geologi dan sekarang menjadi Direktorat Jendral Geologi dan Sumber Daya Mineral). Arie melamar beasiswa. Lamaran diterima dan ia lulus dua terbaik diantara 400 pelamar beasiswa pendidikan tinggi geologi. Arie Frederick Lasut bersama rekannya R. Soenoe Soemosoesastro kemudian menjadi asisten ahli geologi pertama di Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki mental pejuang.
Arie dan Soenoe
Arie dan Soenoe bertemu di Bandung ketika mereka sama-sama diterima sebagai siswa kursus asisten geologi yang diselenggarakan oleh Dienst van den Mijnbouw. Mereka merupakan murid dari dari RW Van Bemmelen, seorang geologis berkebangsaan Belanda yang meneliti dan menulis buku Geology of Indonesia. Banyak manuskrip yang beliau pelajari dan disimpan semasa belajar dan meneliti bersama sang guru (geopedia).

Kursus di Dienst van den Mijnbouw berlangsung selama tiga tahun (1939-1941) dan lulusannya langsung diangkat menjadi pegawai Dienst van den Mijnbouw. Arie dan Soenoe adalah siswa bumiputera pertama sekaligus terakhir yang diterima dikursus tersebut.  Perubahan peta politik kala itu membuat kursus asisten geologi ditutup bersamaan dengan datangnya Jepang ke Nusantara.  Selama masa studinya di Dienst van den Mijnbouw, Arie juga dilatih sebagai Corps Opleiding Rerserve Officer (CORO) oleh Belanda untuk membantu pertahanan melawan serangan tentara Jepang. 
Kantor Dienst van den Mijnbouw, sumber

Menikah dan Keluarga (1941) : Putri Semata Wayang
Pada 31 Desember 1941, Arie Frederick Lasut menikah dengan Nieke Maramis. Arie tak sempat menikmati bulan madu karena harus ditugaskan ke medan perang melawan Jepang karena Arie masuk dalam anggota CORO. Dari perkawinannya, lahir putri cantik jelita yang diberi nama Winny Lasut pada tanggal 23 Maret 1944. Saat dewasa, Winny Lasut menikah dengan Lukman Arifin hingga melahirkan 3 orang putera yakni Iskandar Zulkarnaen Arifin, Arie Arifin, dan Sandy Arifin.
Arie, Nieke, dan Winny Lasut.
Masa Kependudukan Jepang (1942-1945)
Saat Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang tanggal 8 Maret 1942 pada perjanjian Kalijati, secara otomatis segala aset Belanda berpindah tangan ke Jepang. Berikut gambaran awal-awal pendudukan Jepang lewat tulisan Soenoe :
8 Maret 1942 : Gencatan senjata. Ternyata benar, kelompok-kelompok pejuang (prajurit? – pen.) dengan secarik kain putih melilit di leher mereka, lewat dengan pakaian penuh lumpur, berjalan terseok, dan mata yang lapar. Empat hari tanpa makan, dan berada dibaris depan, mereka sungguh menderita. Beberapa kelihatan gembira dan bersemangat, mereka beruntung masih dapat hidup, sedang teman-teman mereka tidak akan kembali lagi. Kantor kami kosong, orang-orang dari ML (Militaire Luchtvaart) sibuk membakar dokumen. Tugasku sebagai penjaga kebakaran (dokumen itu) selesai. Kantor-kantor milik pemerintah kolonial Hindia Belanda segera diduduki dan diambil alih oleh Jepang, termasuk Dienst van den Mijnbouw.
11 Maret 1942 : Hari ini kantor sudah diduduki oleh Jepang. Saya pikir, untuk sementara waktu kami tidak diizinkan untuk masuk. Apa lagi yang akan terjadi sekarang? Kehidupan kota mulai hari ini diharuskan berjalan normal kembali. Toko dan restoran harus buka kembali. Bagaimana semua aturan ini bisa berjalan dengan adanya jam malam?

Jepang juga merubah nama Dienst van den Mijnbouw menjadi Zogyo Zimusho dan kemudian diubah lagi menjadi Chishitsu Chosacho. Arie dan Soenoe serta beberapa karyawan Indonesia masih tetap bekerja di departemen ini. Arie juga diangkat menjadi asisten di departemen yang berkedudukan di Bandung ini. Ia merupakan salah satu dari tiga orang pribumi yang memiliki jabatan strategis di departemen yang dikuasai Jepang tersebut, dua orang lagi adalah Soenoe dan Ali Tirtosuwirjo. Arie dan rekan-rekan juga melakukan penelitian tentang geologi. Salah satu hasil penelitiannya adalah temuan bahan mineral yang disebut "yarosit" yang ditemui di daerah Ciater. Laporan-laporan hasil penelitian tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Pusat Survei Geologi, Badan Geologi di Bandung.


Masa Awal Kemerdekaan (1945-1949) : Cerita Perjuangan
Tahun 1945 merupakan tahun terakhir kependudukan Jepang di Indonesia, setelah melalui berbagai peristiwa, termasuk peristiwa bom Atom Hiroshima Nagasaki dan kalah dalam perang pasifik. Akhirnya Jepang mengakui kedaulatan Negara Indonesia. Indonesia merdeka dengan diproklamirnya proklamasi kemerdekaan oleh bung Karno di rumah syekh Farad bin Marta di jalan Pegangsaan Timur no 56. Dengan ini, serta merta pula aset-aset dan instansi-instansi yang dimiliki Jepang beralih tangan menjadi milik Indonesia sesuai dengan Instruksi Presiden.
 

Arie Lasut berperan penting dalam perebutan aset-aset di Chishitsu Chosacho. Bersama Raden Ali Titosuwirjo yang berjiwa ”tut wuri handayani”, bangkitlah Arie Frederick Lasut dan rekan-rekannya dengan jiwa ”ing madya mangun karso” dan sekaligus berdiri di barisan depan dengan jiwa pejuang ”ing ngarso sing tulodo”. Akhirnya pada 11 September 1945 (sumber lain menyebutkan tanggal 28 September 1945, link), pada pukul 09.00 Chishitsu Chosacho diambil oleh para karyawan Indonesia dari Jepang tanpa ada pertumpahan darah dan namanya diganti menjadi Poesat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG).
Kantor PDTG
Pengalaman yang ia dapatkan sewaktu bekerja di lembaga tersebut memberikan manfaat bagi negara ketika proklamasi kemerdekaan berkumandang. Karena pengetahuannya akan Geologi Indonesia yang baik itu pulalah, tanggal 16 Maret 1946 Arie F. Lasut dipilih dan diserahi tugas menjadi Kepala Djawatan Tambang dan Geologi, pada saat usianya baru menginjak 28 tahun. Sementara Soenoe menjadi wakilnya. Kecerdasan, keuletan kerja, serta kepeloporan Arie Lasut membuat beliau yang masih muda mampu mengelola suatu jawatan yang saat itu merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Memang sangat luar biasa ketika pemuda mampu mengelola suatu lembaga ilmiah dan kekayaan bangsa dan negara Indonesia yang sangat bermanfaat yang terasa manfaatnya hingga saat ini.

Masa awal-awal kemerdekaan Indonesia ternyata tak berjalan mulus. Belanda ternyata bernafsu kembali ingin menjajah Indonesia. Mereka kembali datang dengan membonceng tentara sekutu untuk mengambil alih Indonesia. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Agresi Militer Belanda I dan II. 

Kedudukan yang diemban serta pengetahuannya akan aset Pertambangan dan kekayaan negara membuat ia menjadi incaran Belanda. Arie yang semula diragukan kesetiaannya kepada Indonesia karena ia berasal dari Manado (orang dulu beranggapan bahwa orang Manado lebih memihak kepada Belanda - M.M. Poerbo), ternyata malah menolak bekerjasama dengan Belanda. Bahkan Arie berjuang dalam laskar rakyat bersama KRIS.
Pasukan / Relawan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi)
Kepahlawanan Arie Lasut ternyata tak hanya dibidang ilmu dan teknologi saja. Darah pejuang titisan Dotu Lolong Lasut yang mengalir dalam diri pemuda Arie Frederik Lasut semakin bergejolak sejak datangnya Belanda setelah Indonesia merdeka. Arie F. Lasut turut aktif dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang memiliki tujuan membela kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga berjuang bersama adik kandungnya Welly Lasut yang saat itu menjabat sebagai Komandan Kompi BS (Berdiri Sendiri) Brigade 16, Kesatuan Reserse Umum X. Dalam rangka perjuangannya itu, Arie F. Lasut sering memasok bahan-bahan kimia untuk membuat bom molotov yang diperlukan oleh para pejuang kemerdekaan. Bahan-bahan kimia itu diperoleh dari laboratorium geologi. Arie juga beberapa kali menyerang pos Belanda dan merebut senjata dari tangan Belanda kemudian dibagi-bagi kepada anak buahnya dan digunakan untuk melawan Belanda.
Willy Lasut, adik Arie

Merasa pentingnya dokumen-dokumen yang berisi tentang informasi kekayaan negara ini, ia pun beberapa kali memindahkan kantor Djawatan Tambang dan Geologi ke berbagai tempat guna menyelamatkan dokumen-dokumen tersebut agar tak jatuh di tangan Belanda.
"Poerbo Hadiwidjojo, murid Arie Lasut menjelaskan tentang sosok sang guru. Ia menceritakan bahwa Arie merupakan orang yang lugas dan pemberani, ia adalah tipe pejuang yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda."
Jalur penyelamatan dimulai pada tanggal 12 Desember 1945 dari Gedung Museum Geologi ke Braga 3 toko Onderling Belang (sekarang ”Sarinah”). Setelah makin tidak-amannya Kota Bandung saat itu, akhirnya Arie memindahkan kantornya ke Tasikmalaya pada tanggal 24 Maret 1946 jam 12 malam atas petunjuk dari Asykari, seorang perwira TRI (Tentara Republik Indonesia). Setelah situasi di Jawa Barat juga semakin genting, dan kantor Jawatan tidak bisa dipertahankan lagi di Tasik, Arie memindahkan kantornya ke Magelang karena mempertimbangkan dekatnya jarak Magelang dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta saat itu. Kantor Jawatan secara berangsur-angsur pindah ke Magelang pada tanggal 6 september 1946. 
Rute perpindahan kantor Djawatan Tambang dan Geologi semasa dipimpin Arie Lasut
Merasa pentingnya ilmu geologi dan pertambangan bagi bangsa ini, maka perlu pula untuk mencetak generasi penerus. Oleh karena itu saat masa pengungsian di Magelang, atas gagasan Soenoe, mereka mendirikan Sekolah pelatihan geologis. Soenoe sadar, masih sedikit orang Indonesia yang memiliki keahlian dibidang geologi dan pertambangan. Dia berusaha mengisi kekosongan tenaga Indonesia dibidang tersebut dengan cara mendirikan sekolah. Sekolah-sekolah yang ia dirikan antara lain Sekolah Pertambangan dan Geologi Rendah, Sekolah Laboratorium Geologi, dan Sekolah Pertambangan Tinggi. Arie juga turut mengajar di sekolah tersebut. Jasa terbesar duo Soenoe dan Arie dibidang geologi adalah perubahan istilah-istilah geologi dari bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia.  Nelly Lasut (adik Arie Lasut) menuturkan bahwa ketika ia ikut dengan Arie tinggal di Magelang, dia diminta membantu Arie menerjemahkan buku-buku geologi berbahasa Belanda ke Bahasa Indonesia untuk keperluan Arie mengajar.  

Segi lapangan dari segi geologi tambang adalah usaha Soenoe memperkenalkan geologi kepada siswanya. Bagi Soenoe geologi adalah salah satu cara untuk menanamkan rasa cinta kepada Tanah Air, dan kunjungan ke lapangan akan menunjang tumbuhnya rasa cinta tersebut. Demikianlah, Soenoe dan Arie bahu-membahu dalam berjuang didunia pendidikan. Soenoe lebih banyak memegang mata pelajaran; walaupun demikian Arie tetap turut memberi warna tersendiri pada sekolah tersebut. Namun sekolah-sekolah tersebut tak bertahan lama karena adanya Agresi Militer Belanda I.
M.M. Poerbo, Senior Geologist, salah satu murid Soenoe dan Arie
Keadaan Republik Indonesia semakin sulit dan areanya semakin sempit semasa Agresi Militer Belanda. Magelang pun tak luput dari serbuan Belanda. Arie sempat mengamankan dokumen-dokumen penting negara hingga dibawa ke Sumatera tepatnya di Bukittinggi. Arie kembali ke Magelang tanggal 7 Mei 1947. Akibat Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, kantor Jawatan Tambang dan Geologi kembali dipindahkan, kali ini ke Yogyakarta atas surat perintah dari Menteri Muda Kemakmuran No. 92/T.O/JO tanggal 20 November 1947.
Tahun 1947 merupakan tahun kesedihan bagi Arie, istri tercintanya Nieke, meninggal beberapa hari menjelang natal. Nieke meninggal karena kekurangan darah ketika melahirkan anak kedua mereka. Segala daya upaya telahpun dilakukan oleh Willy Lasut (adik Arie Lasut) yang membantu untuk mendapatkan bantuan darah, namun gagal. Nieke meninggal dalam usia yang sangat muda serta meninggalkan Winny Lasut, putri mereka yang baru berusia 3 tahun. Malang nasib Arie, perjuangannya belum selesai namun ia sudah ditimpa musibah. Arie F. Lasut sangat menghormati istri dan keluarganya. Dia tidak ingin mengecewakannya. Dalam keadaan yang sangat terpukul ia tetap meneruskan perjuangannya.
Di Yogyakarta, kantor Jawatan Tambang dan Geologi menempati suatu bagian dari rumah paman Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Pugeran. Arie dan keluarga yang belum mendapat tempat tinggal menumpang di rumah Paman Sultan tersebut. Di Jogja ia kembali membangun kantor Jawatannya karena baru saja pindah dari Magelang, ia selalu mendapat kesulitan terlebih masalah pegawai karena setiap kepindahan kantor, ada saja pegawai yang tidak ikut serta. Perlahan tapi pasti, ia mengumpulkan kembali pegawai-pegawainya yang mengungsi ke Jogja. Sekolah Geologi yang ia dan Soenoe dirikan di Magelang yang sempat tutup akibat Agresi Militer Belanda kini dapat dibuka kembali di Jogja. Selama pengungsian dan penyelamatan dari Bandung hingga ke Jogja ini ia dibantu oleh Amsir, Wana, Rd. Subroto S. Masdar, dan lain-lain. 
Soenoe dan murid sekolah nya
Sekolah Geologi yang ia dirikan bersama Soenoe beberapa waktu lalu berhasil mencetak beberapa anak didiknya yang ternyata mampu menjadi mata rantai penerus kegiatan kerja geologi. Mereka antara lain adalah Djajadi Hadikusumo, Suryo Ismangun, Mohammad Jasin Rachmat, Oemar Chatab, Prajitno, dan M.M. Purbo Hadiwidjojo. 

Disamping jabatannya sebagai kepada Djawatan Tambang dan Geologi. Ia juga diangkat menjadi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjalankan fungsi legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sekarang. Ia terlibat dalam berbagai perundingan dengan Belanda untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia. Dia juga adalah salah satu anggota delegasi Mohamad Roem dalam berunding dengan Van Roijen.

Agar lebih fokus dengan jawatan yang ia pegang dan dengan perjuangannya melawan Belanda. Arie mengungsikan Winny Lasut dan Utje Dengah, sekretaris pribadinya yang sudah menjadi tunangannya ke Jakarta. Mereka berangkat ke Jakarta setelah mendapat izin dari Pemerintah RI dan Pemerintah Pendudukan Belanda di Yogyakarta. Ia, anaknya dan tunangannya pergi ke Jakarta pada bulan februari 1949. Selama di Jakarta pun ia tak membuang-buang waktu. Ia gunakan untuk berunding dengan pengusaha-pengusaha tambang asing (selain Belanda) yang ada di Jakarta dengan maksud jika nanti Belanda sudah pergi meninggalkan Indonesia maka Jawatan Tambang dan Geologi telah siap untuk mengurus tambang-tambang yang dikuasai asing tersebut.

Maret 1949, ia kembali ke Yogyakarta. Sebelumnya ia sudah ditahan oleh sang tunangan untuk tidak kembali ke Yogyakarta dengan berbagai alasan. Lantas Arie berkelakar :
”Ah, kasihan Nieke, dia terbaring sendirian (di sana)!”
Begitu kata Arie mengenang istri tercintanya. Sederhana namun bermakna sangat dalam.
-Sang tunangan, Utje Dengah, sampai akhir hayatnya diusia 80an, tetap setia dengan ikatan tunangannya bersama Arie Lasut. Setiap saat ia selalu membanggakannya, dengan barang-barang peninggalan, surat-surat cinta, dan lainnya. (Arie Arifin, cucu AFL, komunikasi pribadi, 2018)-

Gugur (1949) : Pahlawan Nasional
Pengetahuannya akan dokumen-dokumen kekayaan negara serta jabatan yang diembannya membuat Arie Lasut menjadi target incaran Belanda. Rumah dan kantornya di Jogja pun sering dimasuki oleh orang-orang tak dikenal. Surat-surat yang berada di laci-laci meja di rumah dan kantornya sering berantakan. Jelaslah orang tersebut ingin mencari dokumen-dokumen penting. Sejak saat itu pula, rumah dan kantor Arie menjadi sasaran geledah Belanda, dan ruang geraknya pun makin terbatas.

Beragam bentuk bujukan diterima Arie oleh Belanda agar Arie berpihak pada mereka. Bahkan Belanda pernah mengutus Prof. Ir. Achersdijk, seorang guru besar yang pernah mengajarinya saat sekolah geologi dulu untuk membujuknya agar mau bekerja sama dengan Belanda. Berbagai rayuan mulai dari fasilitas yang baik, gaji yang tinggi hingga disekolahkan ke luar negeri ia terima. Namun sedikitpun Arie tak tertarik dengan tawaran dari Belanda tersebut.
Ada satu kebiasaan aneh Arie sepulangnya ia dari Jakarta yang diucapkan pembantunya. Ia sering mengeluarkan baju istrinya dan ia gantung digantungan pakaian, lalu menangis. Ia juga bercerita pada teman-teman dekatnya bahwa ia telah membeli tanah di samping kuburan istrinya agar tak "didesak" orang lain. Arie juga menulis surat untuk putri semata wayangnya berupa nasehat bagaimana cara hidup yang baik sebagai wanita. Kepada rekannya R.I Soebroto Imam Wirejo ia menunjukkan tempat dimana ia menguburkan bahan-bahan untuk kepentingan laboratorium.
Arie yang memegang jabatan sebagai Kepala Djawatan Tambang dan Geologi tentulah mengetahui dokumen-dokumen rahasia negara. Oleh karena itu Belanda sangat ingin agar ia berpihak kepada Belanda. Berbagai cara dilakukan Belanda namun tak kunjung berhasil. Usaha terakhir Belanda adalah menariknya saat perundingan Roem Roijen. Itu juga gagal.

Tanggal 3 Mei 1949, waktu itu ia baru kembali dari perundingan Roem Roijen. Ia didatangi oleh dua orang pegawainya, Amsir dan Saloran. Kepada mereka, Arie mengatakan bahwa naskah perundingan Roem Roijen sebentar lagi akan ditandatangani. Ia juga meminta pegawainya itu tetap tenang, hati-hati dan waspada dalam tindakan. Arie berharap kepada pegawainya itu agar dapat merasakan nikmatnya negara yang merdeka. Ia juga berpesan agar menghormati siapa saja yang menghormati kita sebagai bangsa yang merdeka dan jangan merasa rendah diri.

Merasa segala daya upaya yang dikerahkan Belanda tak menuai hasil, Belanda semakin meradang. Puncaknya, pada 7 Mei 1949 jam 9 pagi, datang pesan radiogram dari Pemerintah Belanda di Jakarta kepada Komandan Pasukan Belanda yang ada di Yogyakarta. 
"A.F. Lasut zoospoedig mogelijk wegwerken"
Begitu isi pesan radiogram yang diterima oleh I.V.G (inlichtingen veilig heid grop -dinas rahasia Belanda-), kurang lebih berarti "A. F. Lasut secepat mungkin dihilangkan". Mendengar perintah yang masuk tersebut, Arie langsung "dijemput" oleh Belanda di kediamannya di Jogja jam 9.30 kemudian dibawa ke Pakem (Kaliurang, Sleman). Kejadian penjemputan Arie oleh Belanda merupakan hal yang biasa terjadi, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan biasanya Belanda juga bersikap ramah. Namun tidak untuk saat itu. Dalam perjalanan Arie dipukul, disiksa dengan kejam agar mau memberitahukan rahasia negara berupa kekayaan tambang dan geologi. Penyiksaan kejam tersebut ternyata tidak membuat Arie F. Lasut berkhianat bagi negaranya, juga bagi tanah leluhurnya Toar Lumimuut, tapi justru memicu semangat berani mati untuk kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia.

Setelah dihajar dengan popor senjata, ditampar dan dipukul, serta disiksa habis-habisan, Arie F. Lasut tetap tidak mengeluarkan sepatah-katapun dari mulutnya. Akhirnya sambil menatap tentara Belanda dengan gagah berani, beliau ditembak dengan keji oleh Belanda yang putus asa. Arie gugur tepat pada hari saat perjanjian Roem Roijen ditandatangani di Jakarta. Saat itu usianya 30 tahun dan masih menjabat sebagai kepala Djawatan Tambang dan Geologi.
Jenazahnya ditemukan terbujur mengenakan celana dan kaus putih serta tangannya memegang granat. 

Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 13 Agustus 1949 makamnya digali kembali dan pada keesokan harinya kerangkanya dikuburkan kembali di sisi makam istrinya di Pemakaman Umum Kristen Kintelan Yogyakarta dengan Upacara Kenegaraan. Upacara penguburan dihadiri pejabat presiden Republik Indonesia pada saat itu, Mr Assaat.
Atas jasa-jasanya, terutama dalam menyelamatkan dokumen geologi dan pertambangan, Arie Frederick Lasut ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 012/T.K/1969 tanggal 20 Mei 1969. Prasasti untuk mengenang jasa-jasa Arie dipasang di tangga menuju lantai 2 Museum Geologi di Bandung.

Nama Arie F. Lasut juga diabadikan menjadi nama sebuah gedung Fakultas Teknologi Mineral di kampus energy -UPN "Veteran" Yogyakarta-. Bersama Soenoe, Arie F. Lasut dinobatkan menjadi Bapak Pertambangan Indonesia. Menurut pak Arie Arifin, nama Arie F. Lasut juga diabadikan pada nama sebuah gelanggang olahraga dan jalan protokol di Manado, Sulawesi Utara, tempat dimana sang pahlawan dilahirkan.
GOR dan gedung Fakultas Teknologi Mineral UPN Jogja yang mengabadikan nama Arie Lasut
----------- 
Arie Lasut sudahpun gugur meninggalkan kita semua, namun keteladanan dan semangat dalam mempertahankan kemerdekaan patutlah kita teruskan. Keteladanan yang bisa diambil dari dua sosok ini adalah kesederhanaan, kesetiaan, dan semangat pantang menyerah demi menjaga harkat martabat bangsa agar tak jatuh ketangan asing. Khususnya kepada para pemuda "penerus" Arie dan Soenoe dibidang Geologi dan Pertambangan. Para pelajar dan mahasiswa. Jika dulu mereka mengorbankan segalanya untuk bangsa, maka saat ini kita diwariskan ilmu dan keteladannya untuk belajar dengan baik, sehingga bisa menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka disegala sektor.
Arie Lasut, sumber

----------
Ucapan terimakasih saya kepada bapak Arie Arifin (cucu pak Arie Lasut) atas berkenannya untuk membagi berbagai sumber, mereview, dan mengoreksi data sehingga saya bisa buatkan tulisan biografi singkat pahlawan nasional dibidang yang pernah saya tekuni ini.




Sumber-sumber :
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/sang-perintis-arie-frederick-lasut-a-soenoe-soemosoesastro/
http://civitasbook.com/singo.php?cb=non&_i=wall&id1=aaaaaaaatamu&id2=&id3=aaaaatkp55_pahlawan
http://djokja1945.blogspot.com/2015/07/pahlawan-kemerdekaan-nasional-arie.html?m=1
https://tokoh.id/biografi/3-pahlawan/berjuang-simpan-rahasia-negara/ 
http://archive.li/bx0Kf#selection-969.247-975.154
https://wikivisually.com/wiki/Arie_Frederik_Lasut
https://geopedia.co/blog/2016/03/19/arie-frederick-lasut-bapak-pertambangan-indonesia/
http://museum.geology.esdm.go.id/tokoh-geologi/arie-frederick-lasut
https://www.youtube.com/watch?v=U29AN4wV0UM
https://www.youtube.com/watch?v=rMEOGzluCdM

Friday, September 14, 2018

Sejarah Tarakan, dari "Pulau Singgah" hingga Kota Minyak

Merantau, menjadi sebuah tradisi bagi keluarga kecil kami. Dimulai dari kakak yang sudah merantau dari SMA, sementara saya dan adik mulai meninggalkan kampung halaman saat akan berkuliah. Dalam beberapa kesempatan, hanya tiap lebaran idul fitri saja kami berkumpul lagi. Setelahnya lanjut merantau lagi.

Seperti yang pernah saya katakan. Menjadi perantau itu ngeri-ngeri sedap. Namun bila kita bisa membawa diri, maka itu akan jadi hal yang mengasyikkan. Bisa bertambah wawasan, teman dan pengalaman hidup. Setelah hampir 3 tahun di Balikpapan. Kali ini saya dirotasi perusahaan tempat saya bekerja ke Tarakan, sebuah Kota dan Pulau kecil yang berada di Provinsi Kalimantan Utara. Nah kali ini, saya akan mengulas tentang sejarah Tarakan, sebuah tempat yang baru 2 bulan saya tempati.

Tarakan........
Tarakan merupakan nama dari sebuah pulau sekaligus satu-satunya daerah tingkat II (kotamadya) yang ada di Provinsi Kalimantan Utara (Kal-Tara), provinsi termuda nan kaya raya di Indonesia. Dan Tarakan pun merupakan kota terkaya ke 17 di Indonesia. Luas kota dengan semboyan BAIS (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera) ini kurang lebih 250 km persegi. Kota Tarakan juga disebut dengan Bumi Paguntaka, yang berarti "Kota Kita", diambil dari bahasa Tidung. Suku Tidung merupakan suku asli yang mendiami pulau Tarakan.

Tarakan juga dikenal sebagai Kota Transit. Banyak orang yang singgah ke Tarakan untuk melanjutkan perjalanan ke Nunukan, Bunyu, Tanjung Selor, Derawan bahkan ke Tawau (Malaysia). Berstatus sebagai kota transit bukanlah tanpa alasan, fasilitas-fasilitas pendukung memang tersedia di Tarakan, seperti bandara Internasional dan pelabuhan internasional. Status kota transit juga dimanfaatkan oleh pebisnis-pebisnis hotel. Banyak terdapat penginapan dengan berbagai kelas di Tarakan ini.

Sama seperti Balikpapan, Tarakan sepertinya juga pantas menyandang julukan Kota Minyak. Ada ratusan sumur tua di sini yang sudah dieksplorasi dari tahun 1900an awal sejak era Hindia Belanda. Perusahaan besar migas juga menginvestasikan assetnya disini seperti Pertamina EP, Medco EP, dan Manhattan Kalimantan Investment (MKI). Tak hanya migas, Perusahaan Tambang, Sawit, Kayu dan Pelayaran juga banyak terdapat di sini.  Yap, Tarakan seperti jantungnya industri untuk wilayah Kalimantan Utara, ditunjang dengan fasilitas-fasilitas yang memadai.
Lambang Kota Tarakan, via wikipedia

Asal Usul Nama Tarakan
Menurut beberapa sumber yang saya temukan saat googling, asal mula nama Tarakan berawal dari Bahasa Tidung, Turakon. Dikisahkan dulu ketika para saudagar mengunjungi warga masyarakat Tidung. Terjadilah miskomunikasi, lantaran sama-sama tidak saling mengerti komunikasi akhirnya hanya menggunakan bahasa isyarat saja. Suatu saat, sang tuan rumah (orang Tidung) mengajak tamunya untuk makan, karena sulitnya menyebutkan “Mari makan”, maka sang tuan rumah mengatakan dengan bahasa Tidung, ”Ngakan”.

Ajakan makan tadi tidak mendapat respon dari sang tamu karena tak paham. Padahal sudah berulang kali di sebut sang tuan rumah tapi sang tamu hanya senyum-senyum saja. Akhirnya karena sudah kesal sang tuan rumah menawarkan makan dengan kata lain “Ngenturak”. (Ngenturak merupakan sebuah umpatan atau bahasa kasar sebagai tanda kekesalan). Lucunya, dengan nada umpatan yang diucapkan tuan rumah dengan nada keras, justru sang tamu malah tertawa. Melihat tamu tertawa sang tuan rumah semakin berang seolah mengejek tuan rumah. Karena saking kesalnya, muncullah kata-kata lebih kasar lagi sambil membentak tamunya tadi “Turakon”.

Komplek Rumah Adat Baloy Suku Tidung
Dengan bentakan tadi sang tamu kemudian mengingat-ingat kata “Turakon” itu. Lalu ketika para tamu itu tadi kembali dan berkumpul dengan teman-teman lainnya sesama pendatang, ia malah menyebut dari “Turokan”. Akhirnya kata Turakon menjadi santer bagi para pendatang termasuk para saudagar dari kolonialis Belanda. Lama kelamaan kata Turakon ini mengalami beberapa perubahan lafal, tergantung siapa yang mengatakannya baik warga setempat maupun pendatang. Ketika itu Adji Raden yang menjadi pimpinan masyarakat tidak setuju dan akan meluruskan Turakon yang terbilang kasar itu. Dan Adji Raden lah yang mengubah nama itu menjadi Tarakan.

Cerita lain mengatakan juga bahwa Tarakan berasal dari dua kata bahasa Tidung, “Tarak” (bertemu) dan “Ngakan” (makan) yang secara harfiah dapat diartikan "Tempat para nelayan untuk istirahat makan, bertemu serta melakukan barter hasil tangkapan dengan nelayan lain".


Tarakan dari Masa ke Masa 
  • Kerajaan Tidung Kuno (1076 - 1557 M)
    • Kerajaan Tidung atau dikenal pula dengan nama Kerajaan Tarakan (Kalkan/Kalka) adalah kerajaan yang memerintah Suku Tidung di Kalimantan Utara. Ia berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di Salimbatu (Kabupaten Bulungan sekarang). Sebelumnya terdapat dua kerajaan di kawasan ini, selain Kerajaan Tidung, terdapat pula Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Tanjung Palas. Berdasarkan silsilah (Genealogy) yang ada, bahwa di pesisir timur Pulau Tarakan yaitu di kawasan Dusun Binalatung sudah ada Kerajaan Tidung Kuno (The Ancient Kingdom of Tidung), kira-kira pada tahun 1076-1156, kemudian berpindah ke pesisir selatan Pulau Tarakan di kawasan Tanjung Batu pada tahun 1156-1216, lalu bergeser lagi ke wilayah barat yaitu ke kawasan Sungai Bidang kira-kira pada tahun 1216-1394, setelah itu berpindah lagi, yang relatif jauh dari Pulau Tarakan ke daerah Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning, sekitar tahun 1394-1557, dibawah pengaruh Kesultanan Sulu.
    • Dari riwayat-riwayat yang terdapat dikalangan suku Tidung tentang kerajaan yang pernah ada dan dapat dikatakan yang paling tua di antara riwayat lainnya yaitu dari Kerajaan Menjelutung di Sungai Sesayap (kabupaten Tana Tidung sekarang) dengan raja terakhirnya bernama Benayuk. Kerajaan Menjelutung berakhir  karena ditimpa malapetaka berupa hujan ribut dan angin topan yang sangat dahsyat sehingga mengakibatkan perkampungan di situ runtuh dan tenggelam kedalam air (sungai) berikut sebagian warganya. Peristiwa tersebut dikalangan suku Tidung disebut Ghasab yang kemudian menimbulkan berbagai mitos tentang Benayuk dari Menjelutung. 
      Sejarah Kerajaan, via tirto.id
    • Dari beberapa sumber didapatkan riwayat tentang masa pemerintahan Benayuk yang berlangsung sekitar 35 musim. Perhitungan musim tersebut adalah berdasarkan hitungan hari bulan (purnama) yang dalam semusim terdapat 12 purnama. Dari itu maka hitungan musim dapat disamakan lebih kurang dengan tahun Hijriah. Apabila dirangkaikan dengan riwayat tentang beberapa tokoh pemimpin (Raja) yang dapat diketahui lama masa pemerintahan dan keterkaitannya dengan Benayuk, maka diperkirakan tragedi di Menjelutung tersebut terjadi pada sekitaran awal abad XI (tahun 1000an). Kelompok-kelompok Suku Tidung pada zaman Kerajaan Menjelutung belumlah seperti apa yang terdapat sekarang ini, sebagaimana diketahui bahwa dikalangan Suku Tidung yang ada di Kalimantan Timur dan Utara sekarang terdapat 4 (empat) kelompok dialek bahasa Tidung, yaitu Dialek bahasa Tidung Malinau, Tidung Sembakung, Tidung Sesayap, dan dialek bahasa Tidung Tarakan yang biasa pula disebut Tidung Tengara yang kebanyakan bermukim di daerah air asin. 
    • Dari adanya beberapa dialek Bahasa Tidung yang merupakan kelompok komunitas berikut lingkungan sosial budayanya masing-masing, maka tentulah dari kelompok-kelompok dimaksud memiliki pemimpin masing-masing. Sebagaimana diriwayatkan kemudian bahwa setelah Kerajaan Benayuk di Menjelutung runtuh maka anak keturunan beserta warga yang selamat berpindah dan menyebar kemudian membangun pemukiman baru. Salah seorang dari keturunan Benayuk yang bernama Kayam selaku pemimpin dari pemukiman di Linuang Kayam (Kampung si Kayam) yang merupakan cikal bakal dari pemimpin (raja-raja) di Pulau Mandul, Sembakung dan Lumbis. 
    • Berikut adalah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Tidung :
      1. Benayuk dari sungai Sesayap, Menjelutung (± 35 Musim)
      2. Yamus (Si Amus) (± 44 Musim)
      3. Ibugang (Aki Bugang)
      4. Itara (29 Musim)
      5. Ikurung (25 Musim)
      6. Ikarang (35 Musim), di Tanjung Batu (Tarakan)
      7. Karangan (± Semusim)
      8. Ibidang (± Semusim)
      9. Bengawan (± 44 Musim)
      10. Itambu (± 20 Musim)
      11. Aji Beruwing Sakti (± 30 Musim)
      12. Aji Surya Sakti (± 30 Musim)
      13. Aji Pengiran Kungun (± 25 Musim)
      14. Pengiran Tempuad (± 34 Musim)
      15. Aji Iram Sakti (± 25 Musim) di Pimping, Bulungan
      16. Aji Baran Sakti (± 20 Musim)
      17. Datoe Mancang ± 49 Musim)
      18. Abang Lemanak (± 20 Musim), di Baratan, Bulungan
      19. Ikenawai bergelar Ratu Ulam Sari (± 15 Musim)
  • Dinasti Tengara / Kerajaan Tarakan / Kerajaan Tidung (1557 - 1916)
    • Setelah Kerajaan Tidung Kuno runtuh akibat bencana alam yang dahsyat pada 1557. Maka bangkit lah setelah itu Kerajaan Tidung atau juga dikenal dengan Kerajaan Tarakan, dibeberapa sumber menyebutnya dengan Era Dinasti Tengara. Kerajaan / Dinasti ini berlokasi di kawasan Pamusian, Tarakan Tengah. Era bermulai pada tahun 1557-1916 Masehi, pemimpin pertamanya adalah Amiril Rasyid Gelar Datoe Radja Laoet pada tahun 1557 Masehi dan merupakan masa kejayaan Kerajaan ini. Era Datoe Radja Laoet berakhir pada tahun 1571. Dan diganti oleh penerus-penerusnya hingga 12 Raja. Raja yang terkenal adalah Raja Baki dengan gelar Datoe Adil yang memerintah selama 20 tahun (1896 - 1916). 
    • Pada masa pemerintahan Datoe Adil, saat itu Bumi Tarakan sudah "kedatangan" Belanda untuk mengeksplor minyak bumi di Tarakan. Kepemimpinan Datoe Adil dikenal arif dan bijaksana, serta tegas. Uniknya ia tidak ingin memungut pajak dari rakyat karena tak ingin membenani rakyatnya.
    • Namun karena campur tangan Belanda, akhirnya pada tahun 1916 Datoe Adil diasingkan ke Manado. Dua perdana menteri, Datu Jamalul (Adik Datu Adil) diasingkan ke Makassar dan Aji Maulana (Paman) diasingkan ke Banjarmasin. Tak hanya 3 orang pembesar kerajaan, 62 bangsawan juga diasingkan oleh Belanda ke Tanjung Selor (Kerajaan Bulungan). Pengasingan ini berdampak besar pada jalannya roda pemerintahan Kerajaan. 
    • Pusat Kerajaan yang berada di belakang stadion Datu Adil sekarang ini dihancurkan oleh Belanda. Kekuasaan akan wilayah Tarakan diambil alih oleh Kerajaan Bulungan dan Belanda. Belanda sepertinya memang berniat untuk menghapus habis Kerajaan Tidung di Bumi Tarakan.
      Selang 6 tahun setelah itu (1921), Datu Adil dan Aji Maulana dibawa ke Tanjung Selor Kesultanan Bulungan. Pada tahun 1922 Datu Adil meninggal dunia.

      Diasingkannya Raja Baki (Datoe Adil) pada tahun 1916 menandakan berakhirnya era Kesultanan / Dinasti Tengara di tanah Tarakan.
    • Raja-raja dari Dinasti Tengara
      1. Amiril Rasyid, Raja dengan gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)
      2. Amiril Pengiran Dipati I (1571-1613)
      3. Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)
      4. Amiril Pengiran Maharajalila I (1650-1695)
      5. Amiril Pengiran Maharajalila II (1695-1731)
      6. Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)
      7. Amiril Pengiran Maharajadinda (1765-1782)
      8. Amiril Pengiran Maharajalila III (1782-1817)
      9. Amiril Tadjoeddin (1817-1844)
      10. Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)
      11. Ratoe Intan Doera/Datoe Maoelana (1867-1896), Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana adalah putera Sultan Bulungan Muhammad Kaharuddin II
      12. Raja Baki dengan gelar Datoe Adil (1896-1916) 
  • Hindia Belanda (1916 - 1942)
  • Menara Pemboran oleh BPM di Tarakan, via wikipedia.org
    • Belanda dikatakan masuk ke Tarakan pada tahun 1896, dalam misi ekspansi dan mencari sumber daya alam. Setelah gencarnya pengeboran minyak yang dilakukan oleh Belanda di Nusantara sejak pemboran minyak pertama di Cibodas (Jawa Barat) dan pemboran besar-besaran di Langkat (Sumatera Utara), serta temuan minyak bumi yang besar di Kalimantan Timur, Belanda ternyata belum puas dan masih ingin mengeksplorasi minyak bumi di Hindia Belanda, dan Tarakan menjadi targetnya. Pada akhirnya ketenangan masyarakat Tarakan agak terganggu ketika pada tahun 1896, sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) menemukan adanya sumber minyak di pulau ini. Banyak tenaga kerja didatangkan terutama dari pulau Jawa seiring dengan meningkatnya kegiatan pengeboran. Permainan politik Belanda pun berperan penting dalam menghapus kedigdayaan Kerajaan Tarakan pada tahun 1916. Hingga Belanda menguasai sepenuhnya Tarakan mulai saat itu.
    • Mengingat fungsi dan perkembangan wilayah ini, pada tahun 1923 Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang Asisten Residen di pulau ini yang membawahi 5 (lima) wilayah, yakni: Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau. Belanda terus berada di Tarakan dan menyedot hasil minyak bumi hingga tahun 1942. Ketika Jepang memulai ekspansi mereka, Tarakan merupakan kota pertama di Hindia Belanda yang dijajah Jepang pada tahun 1942.
  • Pendudukan Jepang (1942-1945)
    • Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan pasukan Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari dimana separuh pasukan Belanda gugur. Saat itu ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, namun Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944. 
    • Menyusul menyerahnya Belanda pada Jepang, 5.000 penduduk Tarakan saat itu menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan yang berakibat banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai "jugun ianfu" (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.
    • Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat pada tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu. Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia. Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, pasukan Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.
Masa kependudukan Jepang di Tarakan

  • Negara Kesatuan Republik Indonesia
    • Setelah menyerahnya Jepang pada tahun 1945, Indonesia mengklaim kemerdekaannya. Lantas tak serta merta penjajah menerima hal itu. Berita tentang merdekanya Indonesia tak langsung menyebar keseluruh penuru Nusantara karena terbatasnya alat komunikasi. Di Balikpapan saja berita kemerdekaan dibawa oleh para pekerja minyak yang datang dari Jawa. Mungkin di Tarakan juga sama, hanya saya belum mendapat sumber jelasnya. Wilayah Tarakan berada dalam wilayah provinsi Kalimantan setelah merdekanya Indonesia. Lebih tepatnya lagi dibawah keresidenan Kalimantan Timur. 
    • Berturut-turut pada tahun 1956 Tarakan merupakan sebuah kecamatan dalam wilayah kabupaten Bulungan provinsi Kalimantan Timur. Letak dan posisi yang strategis telah mampu menjadikan kecamatan Tarakan sebagai salah satu sentra industri di wilayah Provinsi Kalimantan Timur bagian utara sehingga pemerintah perlu untuk meningkatkan statusnya menjadi Kota Administratif dibawah kabupaten Bulungan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1981. Status Kota Administratif kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-undang RI No. 29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 15 Desember 1997. Tarakan menjadi Daerah Otonom ke 7 di Provinsi Kal-Tim. Tanggal 15 Desember 1997 pun diperingati sebagai Hari Jadi Kota Tarakan. 
    • Seiring dengan perkembangan zaman dan disertai proses yang panjang. Sejak tahun 2012, Kota Tarakan merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Utara, seiring dengan pemekaran provinsi baru tersebut dari Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kaltara. Dan pada 22 April 2013, sesuai dengan Keputusan presiden (Keppres) Republik Indonesia (RI) Nomor 48/2013, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) atas nama Presiden RI saat itu melantik H. Iranto Lambrie sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Kaltara yang setelah itu menandatangani prasasti peresmian Provinsi Kaltara dengan cakupan wilayahnya terdiri dari 4 kabupaten (Nunukan, Tana Tidung, Bulungan dan Malinau), serta satu Kota Madya, yaitu Kota Tarakan.
Tarakan jaman now




Sumber-sumber refrensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tarakan
http://www.getborneo.com/kota-tarakan-kalimantan-utara/ 
http://risky-nurul.blogspot.com/2012/03/asal-usul-kota-tarakan.html
https://www.plukme.com/post/1522247141-runtuhnya-kerajaan-tidung 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur
http://kaltara.prokal.co/read/news/18466-begini-loh-asal-usul-terbentuknya-provinsi-kaltara.html

Thursday, September 7, 2017

Jan Reerink dan Sumur Eksplorasi Minyak Pertama di Indonesia

Sejarah Industri perminyakan di Hindia Belanda (Indonesia) sudah dimulai sejak lama. Berawal dari laporan penemuan minyak bumi oleh Corps of the Mining Engineers, institusi milik Belanda, pada dekade 1850-an, antara lain di Karawang (1850), Semarang (1853), Kalimantan Barat (1857), Palembang (1858), Rembang dan Bojonegoro (1858), Surabaya dan Lamongan (1858). Temuan minyak terus berlanjut pada dekade berikutnya, antara lain di daerah Demak (1862), Muara Enim (1864), Purbalingga (1864) dan Madura (1866). Cornelis de Groot, yang saat itu menjabat sebagai Head of the Department of Mines, pada tahun 1864 melakukan tinjauan hasil eksplorasi dan melaporkan adanya area yang prospektif. Laporannya itulah yang dianggap sebagai milestone sejarah perminyakan Indonesia (Abdoel Kadir, 2004). 
Sumur Explorasi Pertama Indonesia, via facebook

Awal Mula....
Mari berkenalan dengan Jan Reerink (1836-1923). Menurut Poley (2000: 65), dia berasal dari Haarlem, Belanda. Anak ketiga H.J. Reerink, pemilik toko grosir terkenal H.J. Reerink & Zonen. Setelah berkecimpung di toko ayahnya, di pengujung tahun 1860, saat ia berusia 24 tahun Jan Reerink berangkat ke Hindia Belanda dengan kapal laut, dan mendapatkan pekerjaan di pabrik penggilingan padi. Kemudian ia membuka toko seperti ayahnya di Cirebon atas saran seorang teman yang ia jumpai di kapal. Namanya Toko Contant. Setelah bisnisnya berkembang pesat, pada 1867, Jan meminta saudaranya Johannes untuk bergabung mendirikan toko “Gebroeders Reerink”.
Jan Reerink, via poltekmigas.wordpress.com

Pada tahun 1871, Jan Reerink, saudagar toko kelontong di Cirebon ini mendengar cerita bahwa di lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, (Maja), Majalengka itu ada rembesan (seepage) minyak yang kerap dimanfaatkan penduduk untuk berbagai keperluan. Minyak tersebut merembes dari lapisan batuan tersier yang tersingkap ke permukaan. 
"Mungkin diinspirasi pengeboran sumur minyak oleh Kolonel Drake di Titusville, Pennsylvania, AS yang dilakukan di atas rembesan minyak juga pada tahun 1859, Reerink ingin melakukan yang sama. Minyaknya bisa banyak keluar bila dibor, begitu pikir Reerink."
Berdasarkan temuan itu, ia pun menghubungi teman-teman Belandanya untuk bekerja sama mendanai pengeboran sumur minyak, nanti hasilnya dibagi (sistem bagi hasil). Dan dana yang cukup pun terkumpul. Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink juga tak menemui kesulitan ketika ia melobi NV Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk menyokong usahanya mencari minyak. Ia bahkan berangkat kembali ke Belanda untuk negosiasi lebih lanjut. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke Lemberg dan Gracow di Galicia untuk mengunjungi perusahaan minyak dan menimba ilmu. Lalu ia pergi ke Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.

Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake saat mengebor sumur minyak pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia. 

Sumur pertama itu dinamai Maja-1 atau Cibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari generator yang dihela beberapa ekor kerbau (buffalo mill). Pada kedalaman sumur 700 kaki, ia mendapati minyak yang bagus mutunya walaupun sedikit. Reerink dan teman-temannya tentu bergembira. Minyaknya dibawa ke Cirebon setelah dibersihkan dari sedimen dan kandungan air dengan cara pengolahan sederhana. Lalu beberapa sumur lagi dibor untuk meningkatkan produksi. Sumur-sumur ini ada yang berhasil menemukan minyak ada yang gagal. Kegagalan tersebut karena mata bor menumbuk formasi batuan keras yang ada diluar batas kemampuan alatnya. Percobaan selanjutnya juga menunjukkan hasil yang sama, kualitas bagus namun jumlah yang sedikit, terlalu kecil untuk dikomersilkan. Total sumur yang dibor sebanyak empat sumur, dan menghasilkan 6000 liter minyak bumi yang merupakan produksi minyak bumi pertama di Indonesia.  
-Pengeboran ini berlangsung hanya berselang 12 (dua belas) tahun setelah pengeboran minyak pertama di dunia oleh Kolonel Edwin L Drake dan William Smith de Titusville (1859). Dengan sumur pertama yang dibor tahun 1871 di Maja, Cibodas, Majalengka, kaki Ciremai ini, menjadikan Indonesia (Hindia Belanda) termasuk satu dari negara-negara pioneer di dunia yang paling awal mengekplorasi dan memproduksi minyak bumi. Namun, sektor pertambangan khususnya minyak bumi, belum menjadi andalan pendapatan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu. Hal ini bisa dilihat dari adanya Indische Mijnwet, produk undang-undang pertambangan pertama, yang baru dibuat pada tahun 1899.- 
Lukisan Reerink mengenai lokasi dan gambaran pengeboran saat itu, via tatangmanguny.wordpress.com

Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka pada tahun 1873 Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap buatan Kanada, sebagai pengganti tenaga kerbau. Pada 25 Juli 1874, Reerink memulai periode kedua kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa sumur di Panais, Maja, dan Cipinang, semuanya berlokasi di lereng barat Gunung Ciremai, Majalengka. Namun semuanya gagal. Sumur lain di Palimanan bukan menghasilkan minyak, melainkan air panas yang menyembur setinggi 40 kaki. Meski mesin baru sudah dipakai, tapi nampaknya tidak cocok untuk lingkungan Pulau Jawa.

Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini. Dalam kurun waktu dari 1870, NV Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) telah mengeluarkan 200.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, sementara NHM mau-mau saja menghabiskan uang lagi untuk menggapai tujuan pengeboran, tapi sayangnya cadangan uang Reerink yang ia gunakan untuk berdagang di Cirebon sedang kosong. Karena seolah ditinggalkan begitu saja, toko Reerink terus merugi karena tidak ketat pengelolaannya.  
Peta letak Cibodas (Aardolie, minyak bumi) dekat sungai Cibodas, via tatangmanguny.wordpress.com
Sehingga akhirnya, masih pada tahun 1876, ia memutuskan menutup sumur-sumur tersebut dan kembali ke usaha dagang sebelumnya. Ia kembali memegang kendali usahanya dan saat Johannes meninggal pada 1882, bisnisnya sudah kembali lancar. Pada 1884, setelah menetap lebih dari 20 tahun di daerah tropis Hindia Belanda ini, Reerink menjual bisnisnya kepada asistennya, dan ia pulang ke kampung halamannya di Belanda.
---Selang beberapa tahun setelah Jan Reerink mengakhiri usahanya itu, pada tahun 1884, di kebun tembakau di tanah Deli Sumatera Utara, ada rembesan minyak yang biasa digunakan masyarakat untuk menyalakan obor. Dan Aeyko Ziljker, saudagar kebun tembakau, mengingat kisah Reerink di Majalengka tersebut. Diborlah rembesan minyak itu. Dan itulah penemuan lapangan minyak komersil pertama di Indonesia, Telaga Said.---
Setelah Jan Reerink kembali ke Belanda, dia tetap memonitor perkembangan pengeboran minyak di Pulau Jawa. Mesin yang digunakan untuk pengeboran di Maja masih tersimpan di Cirebon. Ia terus mengikuti perkembangan produksi minyak di Jawa. Sudah agak lama ia ingin mempelajari yang dilakukan “Royal Dutch” dengan wilayah kerja nya. Karena Reerink yakin Royal Dutch akan berhasil di sana. Reerink sebenarnya ingin kembali berkecimpung dalam dunia minyak yang ia rintis, namun kesehatan yang memburuk dan usia tua menghalanginya untuk melakukannya. Reerink hidup sampai tahun 1923.

Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut kemudian penemuan lapangan-lapangan penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju Ciremai. Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. 
Lokasi rembesan minyak di dekat sungai Cibodas, via http://geomagz.geologi.esdm.go.id/minyak-di-maja/
Apakah Ciremai, Kuningan, Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah minyak? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing eksplorasi. Sebuah keunikan geologi, tektonik, volkanisme, dan petroleum system terjadi di wilayah dari Majalengka-Banyumas.
"Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang pribadinya di lereng Ciremai. Ia hanya belum beruntung saja."
Keuntungan barangkali akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal ini. Perburuan bisa dimulai (lagi) dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, teliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut (Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data, sains, rekayasa, dan segala macam ilmu pendukungnya.

Keberhasilan rintisan yang dilakukan oleh Jan Reerink ini, meskipun secara ekonomi tidak menguntungkan, telah menjadi tonggak awal pengeboran minyak bumi di Indonesia. Segera setelah pengeboran minyak bumi di Maja, berturut-turut dilakukan pengeboran oleh pihak Belanda di Telaga Said (Sumatera Utara), Jawa Timur, Kutai dan Balikpapan (Kalimantan Timur), Sumatera Selatan dan beberapa lokasi lainnya. Ini merupakan era pioneer eksplorasi sumur minyak di Indonesia. Kini, ribuan sumur migas tersebar di seluruh pelosok Indonesia yang telah menjadi tumpuan roda perekonomian bangsa. Apapun, sejarah pengeboran minyak di Hindia Belanda atau Indonesia sekarang akan senantiasa mengingat nama Jan Reerink sebagai orang yang merintisnya. Ia patut dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak. 

Jan Reerink adalah independen pertama pengusaha minyak. Dan sumur Maja-1 adalah sumur ekaplorasi pertama di Indonesia. Dan Reerink benar, sumur lebih dalam harus dibor. Sumur-sumur Reerink hanya menembus kedalaman permukaan. Kita, para eksplorer Indonesia, yang harus melakukannya sekarang, bor lebih dalam. Seawal 1871 Reerink sudah mengebor di Cekungan Bogor pada play type intravolkanik. Luar biasa Reerink, meskipun tak disadarinya. ***



Sumber-sumber refrensi :
Tulisan Awang Satyana, SKK Migas : Sumur Minyak Pertama di Indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perminyakan_di_Indonesia
https://tatangmanguny.wordpress.com/sejarah-kabupaten-majalengka-bunga-rampai/1527-2/
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/minyak-di-maja/

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...