Showing posts with label Kalimantan Timur. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Timur. Show all posts

Tuesday, July 9, 2019

Balikpapan, Terimakasih

Bercerita tentang pertemuan, tentu ada perpisahan yang mengikuti. Dua kejadian ini merupakan satu paket dalam kehidupan yang tak bisa dipisahkan. Hanya saja masih menjadi misteri soal waktunya, kapan hal itu akan terjadi. Yah begitulah hidup, barangkali.
sumber : youtube.com
Tentang Balikpapan, kota minyak ini merupakan salah satu dambaan para perantau untuk ditaklukan. Banyak perusahaan-perusahaan dan besarnya peluang untuk bekerja membuat kota ini kian hari semakin ramai dan padat didatangi oleh makhluk sosial yang bernama manusia dari berbagai penjuru negeri.

Saya salah satunya. 

Sejatinya, datang ke Balikpapan bukanlah keinginan saya sepenuhnya. Bermula dari dinas kantor pertengahan tahun 2015, Balikpapan merupakan daerah di Provinsi Kalimantan Timur yang pertama kali saya datangi. Sepadan, karena ia merupakan pintu masuk segala jenis transportasi utama ke bumi lumbung energi ini. Tidak lama di Balikpapan saat itu, dinas kantor hanya beberapa hari saja. Puncaknya adalah akhir 2015, dikuatkan dengan surat tugas dari kantor, saya dirotasi dari kantor pusat di Jakarta menuju Balikpapan untuk mengisi kekosongan karyawan pada unit bisnis yang baru dibentuk.
First time in Balikpapan, 2015
Saat itu perjalanan ke Balikpapan terasa berbeda, saya harus mengatur ulang mindset saya. Yang dulu hanya pergi dinas, namun sekarang adalah bakal menetap di Balikpapan dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Sebelum berangkat, saya sudah gugling dulu tentang kota ini, apa saja yang ada di dalamnya. Wisata, komunitas, transportasi, kost hingga biaya makan. Tak lupa juga saya menghubungi teman-teman alumni kampus yang barangkali ada yang bekerja dan berdomisili di Balikpapan.

Ternyata Balikpapan juga menyenangkan, teman-teman kerja yang baru, tempat nongkrong baru, komunitas baru hingga keluarga baru saya dapati di sini. Dan dari Balikpapan pulalah, batu loncatan bagi saya untuk menjelajah beberapa tempat di Kalimantan. Sulawesi sebenarnya juga masuk dalam list, namun sampai pulang kampung ini belum pernah saya menjejakkan kaki di Pulau Rempah-rempah itu. 

Teman dan Keluarga Baru
Saat membuka unit bisnis baru, perusahaan juga merekrut beberapa orang untuk dijadikan karyawan. Diutamakan yang berdomisili di Balikpapan dan sekitarnya. Setelah melalui berbagai proses, didapatlah Pak Bro Salim, Gilang, Jono, Ahmad, Arnold, Ardy, Nanda dan Indra, yang merupakan karyawan baru perusahaan dan menjadi partner kerjaku di Balikpapan. Mereka kesemuanya asyik dan gokil, mengerti sekali diriku sebagai satu-satunya "orang baru" di Balikpapan.
Partner Kerja
Beberapa dari kami juga intens bertemu di luar jadwal kantor hanya untuk sekedar nongkrong dan bahkan menjelajahi berbagai tempat di seputaran Balikpapan. Nongkrong, nobar, ke pantai, sampai pergi ke rumah tua angker -sebagai bahan untuk ngisi blog- pun mereka temani. Balikpapan, selain kaya akan sumber daya alamnya, ia juga menjadi saksi bisu beberapa peristiwa besar saat penjajahan hingga kemerdekaan dulu. Tak heran, banyak peninggalan bersejarah yang berada di tempat ini.
Halan-halan

Komunitas Baru
Indobarca Chapter Balikpapan. Ini merupakan komunitas pertama yang aku "susupi" ketika di Balikpapan. Sebagai pecinta -bukan fanatik- klub Catalan tersebut, aku selalu mencari komunitas ini di tempat dimana aku merantau setelah pertama kali bergabung di Indobarca Jogja saat kuliah dulu. Sebenarnya masih mencari komunitas Melayu Kepri di sini, namun belum juga menemukan titik terang. IBCB (Indobarca Chapter Balikpapan) pertama ku lihat lewat twitter, lalu chat adminnya. Singkat cerita langsung diajak ikut kopi darat (kopdar). Kopdar IBCB pertama dulu merupakan waktu yang pas, dimana saat itu anggota komunitas sedang rapat guna membahas musyawarah chapter. Berkat pengalaman organisasi saat kuliah dulu, aku dapat memberi beberapa masukan kepada peserta rapat yang 90% tidak kukenal, namun akhirnya akrab bak konco kentel.
Indobarca Balikpapan
Komunitas kedua, Ikatan Alumni Kampus - Chapter Balikpapan, sudah lama menunggu momen ini. Karena di kota yang banyak perusahaan tambang dan minyak, alumni kampusku pasti banyak. Hanya saja dulu tidak tahu harus menghubungi siapa untuk dapat bergabung dengan alumni 'kampus energi' ini. Perkenalan dengan beberapa "pentolan" alumi mengantarkanku pada petualangan baru : resign dan pindah kerja. Di Ikatan Alumni pun aku dipercayai sebagai sekretaris organisasi. Dari sini pulalah, aku banyak mengenal dengan para alumni baik yang seangkatan sampai dengan sesepuh kampus. Bertukar ide, bertukar cerita dan pengalaman. Tak salah memang ketika jadi maba (mahasiswa baru) dulu, salah satu senior mengatakan kampus ini memiliki ikatan alumni yang solid, dimanapun berada. Dan itu terbukti dan sangat terasa bagiku di negeri rantau ini. Alhamdulillah.
Ikatan Alumni Kampus, tetap menggema di udara

Balikpapan : Batu Loncatan 
Tercatat selama di Balikpapan, saya pernah mengunjungi -baik sekedar hang out maupun dinas- beragam tempat di Kalimantan. Samarinda, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser, Bontang, dan Berau, sudah ada jejak kakiku disana. Tanjung Tabalong dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Barito Timur di Kalimantan Tengah. Bahkan sampai menetap di Tarakan, lalu jalan-jalan ke Tanjung Selor dan Pulau Bunyu di Kalimantan Utara.
Masjid Agung Penajam Paser Utara, 2017
Tempat-tempat baru ini memberikan pengalaman yang baru pula padaku. Mengenal berbagai bahasa dan budaya, kebiasaan dan tradisi. Setidaknya akan ada bahan ceritaku kelak ke anak cucu, sebelum kelak sampai waktuku. Luas dan indahnya alam Indonesia yang harus kita syukuri karena telah menjadi bagian dari semestanya.
Pasar Terapung, Sungai Barito, Banjarmasin, 2016
Kesemuanya ini merupakan pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Balikpapan hampir mengajarkannya dengan sempurna. Menjadi pelengkap puzzle-puzzle cerita hidup merantau, menjadi penambah rangkaian cerita hidup di luar pulau. 
Situs Sejarah PD II, Peningki Lama, Tarakan, 2017

----------

Balikpapan, mungkin ceritanya belum usai, namun untuk saat ini kuanggap telah selesai. Barangkali sejenak menutup buku, untuk kelak akan terbuka lagi dengan lembaran baru. Sebab hidup adalah tentang menghargai masa lalu, menghadapi saat ini, dan bergerak maju menuju perjalanan baru. 


Dari Perbatasan Utara Indonesia,
Balikpapan, Terimakasih.

Wednesday, June 26, 2019

Lamaru, Wisata Pantai dan Jejak Jepang di Timur Balikpapan

Hampir tiga tahun saya pernah numpang hidup di kota minyak dan baru kali ini saya pergi mengunjungi pantai yang konon merupakan yang terbaik di Balikpapan. Ya minimal versi eike lah ya. Hmmm, selain tak sempat waktu, saya juga sudah terdoktrin oleh rekan-rekan di Balikpapan tentang harga masuk pantai ini yang agak "wow" dari wisata pantai-pantai lain yang ada di Balikpapan. Maka dari itu, sejak dulu saya belum pernah kesini. Dasar sobat misqueen, dasar aku.

Ho'oh, apalagi kalau bukan pantai Lamaru. Pantai yang terletak di daerah Lamaru, Balikpapan Timur ini bertetanggaan dengan pantai Manggar Segara Sari yang udah saya kunjungi dan juga sudah saya tulis diblog diawal-awal masa perantauan saya di kota minyak ini.

(Baca Pantai Manggar) 

Pantai Lamaru terletak sekitar 25 km dari pusat Kota Balikpapan. Atau sekitar 2 km dari pantai Manggar. Transportasi menuju kesini sangat mudah. Bisa dengan kendaraan pribadi, maupun transportasi umum. Kalo saya kemarin kesini nebeng mobil orang, karena ikut acara liburan keluarga. Hhaha. Perjalanan kami mulai dari Tenggarong selama kurang lebih 2,5 jam. Kalau dari Balikpapan kurang lebih 30 menitan saja.
Pantai Lamaru, Balikpapan

Biaya :
Biaya masuk pantai ini dikenakan 20k/orang diluar ongkos kendaraan. Untuk mobil dikenakan 20k, sedangkan roda 2 dikenakan 5k. Bagi yang menginap atau camping , dikenakan biaya 100k/orang, bagi yang mau foto pre-wedding dikenakan biaya 500k. Begitu lah kalau saya gak salah lihat ye.

Nah, 20k itu lah yang temen-temen saya bilang lumayan mahal untuk biaya masuknya. Dibanding dengan biaya masuk objek wisata pantai lain di Balikpapan. Tapi "sesuai" dengan fasilitas yang ada nanti, begitu kata temen-temen tadi melanjutkan omongannya. Emang ia juga sih menurut saya. Apalagi saya yang dari kampung di sana kalo ke pantai gak pernah bayar, mana cantik-cantik lagi pantainya. Makanya agak kaget saat tau biaya masuk pantai ini. Tapi saya penasaran dengan fasilitas yang ada di dalamnya. Hmmmm.
Pohon Pinus di sekitaran pantai
Setelah membayar tiket masuk, kami berjalan menuju pantai, bermobil maksudnya. Jarak dari gerbang masuk menuju pantai lumayan jauh. Sekitar 800an meter. Ditemani oleh pohon-pohon pinus dan jalan pasir keras berbatu. 

Fasilitas :
Setelah sampai, baru saya menyadari mengapa biaya masuknya agak "wow" gini. Pertama karena memang pantai ini dikelola oleh swasta, bukan pemerintah. Kedua, pantainya bersih gilaaa. Rapi dan teratur. Pohon pinus (yang memang menjadi khasnya pantai-pantai di pesisir timur Kalimantan ini) ditanam dengan rapi sehingga ia tumbuh dengan rapi pula, bangunan-bangunan fasilitas pendukung bisa kita jumpai disini, seperti aula terbuka, kantor informasi, gazebo, toilet dan tempat bilas gratis, dan tempat jualan makanan dan souvenir yang sudah teratur letaknya. Pantai ini juga punya klinik dan mushala. Juga dilengkapi dengan CCTV dan WiFi donk ya. 
Ragam fasilitas di Pantai Lamaru
Beberapa wahana lain juga tersedia seperti flying fox, sewa mobil golf, area berkuda (sepertinya). Di sekitaran pantai banyak orang-orang yang menyewakan pelampung, alat main pasir pantai dan layang-layang. Saya tidak sempat eksplor banyak tempat di pantai ini, (maklum gantian momong anak). Hanya sedikit spot saja yang bisa saya ambil gambarnya.

Jejeran pohon pinus yang tumbuh di sekitaran pantai menjadi daya tarik tersendiri bagi pantai Lamaru. Membuat teduh pengunjung, sambil bisa pasang hammock dengan mengaitkan antara 2 pohon, tidur-tiduran tampan sambil menikmati angin pantai timur Balikpapan. Keindahan pepohonan pinus yang tumbuh di sepanjang pantai ini juga jadi incaran bagi para penyuka fotografi atau para pengejar "like" di media sosial. Deretan pepohonan pinus yang tumbuh ini sebagai spot foto yang instagramable nan eksotis bingitz untuk dipajang bin upload dimedsos. Tak ayal, pihak pengelola bahkan memasang tarif khusus bagi para calon pengantin yang ingin foto pre-wedding disini.
Deretan "mobil golf" siap disewa

Gazebo Pantai Lamaru
Selain pepohonan pinus yang indah, pantai Lamaru juga memiliki pasir putih dengan pantai yang landai. Berada di sebelah timur pulau Kalimantan membuat pantai ini secara otomatis langsung mendapat "cipratan" ombak Selat Makassar. Ombak yang tak begitu besar sehingga aman untuk berenang meski juga harus dengan bimbingan orang tua. Atau kita juga bisa bermain di pinggir pantai sambil mencari kerang, kelomang atau mengumpul cangkang-cangkang kerang untuk dibuat kerajinan tangan. Anjungan pemboran dan tongkang pengangkut batubara yang tampak dari kejauhan menjadi pemandangan tambahan saat berkunjung kesini.
Kantor Pengelola

Wahana Flying Fox
Wisata Alam dan Wisata Sejarah
Selain pinus dan pantai berpasir putih, di pantai sini juga bisa kita temukan situs sejarah perang lho. Yeay. Ada benteng Jepang yang berada tepat di samping kantor pengelola. Benteng berbentuk segiempat berukuran sekitar 2 x 2 meter itu masih kokoh berdiri meski tinggal setengahnya yang tersisa. Barangkali hancur saat perang, atau termakan usia.

Peninggalan sejarah di kawasan sini memang banyak. Menurut akun instagram @bppn_doeloe yang saya follow, kawasan Manggar dahulu merupakan kota jadoel saat masa kolonial hingga perang. Bahkan konon ada Bandara juga disini. Terbukti dari fot-foto jadoel yang kerap diposting @bppn_doeloe dan temuan-temuan situs sejarah oleh warga. Monumen kuburan Jepang juga bisa Kita temui disini, letaknya sekitaran 5km dari pantai Lamaru. Juga pernah saya kunjungi dan saya tulis disini saat awal-awal berada di Balikpapan beberapa waktu lalu.
Benteng Jepang


Melihat sisa benteng peninggalan Jepang, saya langsung teringat dengan Tarakan Tempo Doeloe, sebuah komunitas pecinta sejarah di Tarakan yang saya dirikan bersama beberapa rekan di Tarakan kemarin. Memang secara sejarah, antara Balikpapan dan Tarakan tak jauh berbeda. Mulai dari yang hanya area kosong lalu berubah menjadi Kota karena temuan minyak, masa invasi Jepang, hingga pembebasan perang oleh tentara Australia. Maka dari itu, situs-situs sejarahnya pun tak jauh berbeda, seputaran Bunker, pillbox, benteng, dan lain lainnya yang masih banyak bisa ditemukan.

Mungkin ada lagi situs lain di sekitaran Lamaru ini, hanya saja waktu saya yang terbatas untuk mengeksplor lebih lanjut ke tempat-tempat lainnya. Saya juga tak sempat menikmati fasilitas-fasilitas lain seperti flying fox, mungkin karena bukan weekend makanya tidak dibuka (pergi hari selasa). But overall, masukkan Pantai Lamaru ini dalam list kunjungan wisata kalian di Balikpapan ya, gak nyesel dah. Sip. Bhay!

Wednesday, April 3, 2019

Semalam di Dynasty Hotel Tarakan, Hotel Transit Untuk Backpacker dan Bussinessman

Jarang-jarang ni bisa ngreview hotel. Kali ini "korbannya" adalah salah satu hotel yang terletak di jalan Kusuma Bangsa, Gunung Lingkas, Tarakan. Letaknya bisa dibilang tidak umum bagi hotel-hotel yang ada di Tarakan, karena berada dipinggiran kota. Dan memang, hotel ini "tanpa teman" hotel-hotel lain tak seperti kebanyakan hotel di Tarakan yang tetangga-tetanggaan. Meskipun begitu, tidaklah sulit menemukan hotel ini, letaknya meskipun di pinggiran kota tapi strategis. Dekat dengan kantor Pelni (gampang kalau mau cek tiket), Masjid, dan Pom Bensin. Hehehe
Hotel Dynasty
Harganya juga bervariasi, mulai dari 190k untuk kelas standart hingga 400k untuk kelas suite. Saya mengambil kelas standar saja untuk kali ini. Lumayan, harga terjangkau dengan fasilitas waw. Kamar kelas standar tidak begitu besar namun tetap nyaman, berukuran 2.5 x 6 meter dilengkapi dengan kasur, AC, lemari, meja cermin, TV, air mineral dan kamar mandi. Toiletries yang tersedia adalah sikat gigi yang terletak di meja cermin, lalu sabun-sampo dan handuk yang ada di kamar mandi dengan shower dan warm waternya. Fasilitasnya bukan kaleng-kaleng memang. Pas dan sebanding dengan harga yang kita keluarkan.
Penampakan Kamar dan Kamar Mandi

Penampakan Kamar dan Kamar Mandi
Fasilitas lainnya yang ada di hotel ini adalah ruangan multifungsi yang biasa digunakan sebagai restoran dan hall untuk meeting, workshop, gathering dan lain-lain. Di dalamnya sudah dilengkapi dengan LCD projector dan sound system. Sudah komplit satu paket. 
Salah satu sisi ruangan multifungsi
Hotel ini berjarak sekitar 2 - 3 km dari Pelabuhan Kapal dan pelabuhan speedboat SDF / Tengkayu. Dan berjarak sekitar 7 km menuju Bandar Udara Juwata Tarakan. Jadi, menginap disini merupakan pilihan yang pas untuk kamu kamu yang sedang dalam perjalanan bisnis, atau kamu kamu yang seorang backpacker dan atau yang mungkin hanya transit sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Ada hal yang membuat saya suka menginap disini, yang pertama pemandangan salah satu sisi Kota Tarakan terlihat apik dari atas lantai 5 hotel ini, pemandangan sisi selatan pulau lengkap dengan aktivitas maritimnya membuat kita harus mengabadikan pemandangan yang indah ini. Terlebih saat matahari sedang akan terbit. 
Viewnya donk, emeziiing
Yang kedua adalah adanya fasilitas rental kendaraan dengan harga yang terjangkau, ini yang saya bilang sangat pas untuk yang hanya sekedar transit. Jika menginap di hotel ini dan ingin menikmati kota Tarakan bisa hubungi resepsionis dan rental sepeda motor yang sudah disediakan hotel. 
Daftar Harga Sewa Kendaraan
Yang ketiga adalah sarapan paginya yang enaak abis, ada beragam pilihan, mulai dari roti, snack jajanan pasar hingga makanan berat. Jadi cocok kan untuk kita yang backpackeran, harga kamar terjangkau, lalu disuguhi sarapan enak, bisa isi tenaga banyak-banyak sebelum check out dan melanjutkan perjalanan.
Makaaaaaan

Makaaaaaan

-----------------

Dynasty Hotel.
Alamat : Jalan Kusuma Bangsa, RT. 05 RW.03 No. 96 Tarakan 77126
HP : 0811 5403 012
Email : hoteldynastytarakan@yahoo.co.id

Kamar : 💗💗💗💗💛
 
Lokasi :💗💗💗💗💛  
Pelayanan : 💗💗💗💗💛
Sarapan : 💗💗💗💗💛


Sunday, March 31, 2019

Jalan-jalan ke Museum Batiwakal, Wisata Alternatif di Berau

Derawan dan Berau Coal, saya yakin akan jadi hal yang pertama-tama muncul di dalam benak kebanyakan orang saat mendengar kata Berau. Memang tak bisa dipungkiri, 2 hal tersebut telah menjadi ikon utama bagi daerah ini. Derawan dengan segala macam keindahan alamnya telah menjelma menjadi pariwisata unggulan yang sudah terkenal hingga mancanegara. Sementara Berau Coal, ia merupakan perusahaan Tambang raksasa yang telah beroperasi sejak lama di Berau, juga merupakan salah satu penghasil batu bara terbanyak yang dimiliki Indonesia.
Lokasi Kabupaten Berau
Berau, merupakan sebuah Kabupaten paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Menuju lokasi ini biasanya melalui udara dan jalan darat. Tergantung kesiapan badan dan dompet. Saya memilih menuju ke Berau melalui jalan darat dari Samarinda. Ada beberapa biro perjalanan yang melayani rute ke Berau, kita bisa menemukan lewat gugling di internet. Biayanya juga terjangkau, berkisar 300 - 400ribu rupiah. Biasanya perjalanan menuju Berau dimulai saat sore hari, tergantung moodnya driver dan jumlah penumpang (driver nunggu sampai penuh). Waktu yang ditempuh dari Samarinda menuju Berau berkisar 14 sampai 16 jam dengan beberapa titik istirahat. 
Biro Perjalanan dan Kendaraan Samarinda-Berau, istirahat makan, dan salah satu jalan menuju Berau
Saya berangkat jam 7 malam, dan tiba di Berau pukul 11 siang esok harinya. Dengan beberapa titik singgah, yaitu makan malam di Sangatta, istirahat subuh karena kabut sedang turun di Muara Wahau, dan sarapan pagi di Kecamatan Kelay. Fuuiihhh. Perjalanan ke Berau ini merupakan dalam rangka dinas kerja dari kantor. Dan rencana akan saya sisipkan lalan-lalan ketika waktu kosong dan pekerjaan sudah selesai. Survey sambil eksplor. Maklum, ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Berau.

Pusat pemerintahan Kabupaten Berau berada di Tanjung Redeb. Kota ini sekilas sama seperti kota Tenggarong dan Samarinda yang merupakan kota tepian yang dialiri sungai Segah. Lalu lalang Kapal Tunda dan Tongkang yang membawa hasil bumi Berau merupakan pemandangan sehari-hari di sini. Saat nongkrong ditepian bersama dengan teman, sambil mengecek gugel mep tempat-tempat menarik apa yang ada di sini, lalu tertuju pada satu tempat yang selalu jadi "target operasi" jika berkunjung ke suatu tempat baru : MUSEUM.
Pemandangan sehari-hari kota Tanjung Redeb

Museum Batiwakal
Museum Batiwakal, begitu namanya, letaknya di seberang Tanjung Redeb, orang sekitar menyebutnya daerah Gunung Tabur. Menuju ke Gunung Tabur bisa dengan 5 menit menyeberangi sungai menggunakan perahu klotok dengan biaya Rp. 5.000 saja, atau melewati jembatan melalui jalan poros Kaltim - Kaltara dengan waktu tempuh 20 menit. Saya memilih rute kedua dengan sepeda motor, karena memungkinkan saya leluasa sambil survey dan eksplorasi tempat-tempat lain.
Komplek Kesultanan / Museum Batiwakal
Museum Batiwakal, merupakan museum yang berisi koleksi peninggalan sejarah dari Kerajaan / Kesultanan Berau dan Kesultanan Gunung Tabur. Batiwakal berasal dari bahasa Banua yang berarti bertawakal. Banua merupakan suku asli yang mendiami Berau, namun masyarakat lebih familiar dengan penyebutan suku Berau. Sebagai informasi, dahulu kala Berau merupakan satu Kesultanan yang membentang hingga ke wilayah Kalimantan Utara saat ini. Namun lambat laun terpisah menjadi beberapa Kerajaan. Kesultanan Berau sendiri terpisah menjadi dua, yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung yang konon berasal dari anak-anak kedua istri Sultan Berau terakhir.
Luas Wilayah Kesultanan di Kaltimtara, serta Lambang Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur
Museum Batiwakal menempati bekas komplek Kesultanan Gunung Tabur yang lumayan luas. Bangunan yang dijadikan museum saat ini merupakan bangunan utamanya, ia adalah replika bangunan asli yang hangus terbakar. Memasuki halaman museum kita sudah disuguh dengan beberapa bangunan-bangunan berwarna kuning, warna khas Kesultanan-Kesultanan Melayu Nusantara. Memasuki museum, kita disapa oleh penjaga museum yang ramah, mengisi buku tamu dan bebas mengeksplor gedung yang terdiri dari 6 ruangan ini.
Bangunan utama Museum
Masing-masing ruangan berisi beragam peninggalan sejarah Kesultanan, mulai singgasana, perabotan rumah tangga, pelaminan, pakaian kebesaran Sultan, senjata, dan koleksi-koleksi lainnya serta foto-foto kegiatan Kesultanan zaman lampau. Saya mengitari ke 6 ruangan yang didominasi dengan warna kuning tersebut dan mengambil beberapa gambar. Warna kuning merupakan warna khas Kerajaan dan Kesultanan Melayu, biasanya dipadukan juga dengan warna hijau dan merah, seperti di Kesultanan Kutai dan Tidung, serta Kerajaan-Kerajaan Melayu yang ada di Sumatera.
Replika pelaminan pengantin adat Berau

Sejarah Kerajaan Berau dan Silsilah Raja dan Sultan Berau, Sambaliung dan Gunung Tabur

Yang menarik perhatian saya di Museum ini adalah silsilah para Raja dan Sultan Kesultanan Berau hingga ia terbagi menjadi dua Kesultanan, Gunung Tabur dan Sambaliung. Saya sangat excited ketika bertemu dengan yang berbau asal-usul ini, karena dari situlah kita bisa mengetahui sejarah awal suatu peristiwa dan kejadian. 

Dan ternyata setelah melihat peta dan sharing dengan penjaga museum, Keraton Kesultanan Sambaliung hanya berada di seberang Kesultanan Gunung Tabur dan hanya dipisah oleh sungai Segah. Sebenarnya saya juga berencana menuju ke Kesultanan Sambaliung, hanya saja 2 kali saya kesana lokasinya selalu tutup. Yang kedua adalah baju kebesarannya yang warna hitam - kuning. Saya yang black lover ini selalu excited kalau melihat sesuatu yang berwarna hitam, ditambah lagi perpaduan warna kuning dengan motif-motif yang indah menambah keeleganan pakaian kebesaran Sultan ini. 
Ragam Koleksi Museum

Ragam Koleksi Museum
Setelah saya mengitari semua ruangan museum, saya menuju kembali ke ruang utama. Sharing dengan dua orang penjaganya yang kebetulan salah satunya merupakan keturunan dari Kesultanan Gunung Tabur. Beberapa informasi yang saya tulis diatas itu merupakan hasil sharing saya bersama mereka. Selain itu, banyak informasi yang saya dapat, tak hanya mengenai museum dan kesultanan saja, diskusi kecil kami ini merambat hingga tempat-tempat bersejarah lainnya di Berau serta mengenai suku, adat, dan budaya di Berau yang disebut dengan suku Banua yang bahasa aslinya adalah juga bahasa Banua, berlogat hampir mirip dengan Banjar di Kalimantan Selatan. Museum Kesultanan Gunung Tabur buka dari jam 9 pagi hingga 4 sore. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke dalam museum ini. 

Berkunjung ke Museum Batiwakal adalah salah satu wisata alternatif di Kabupaten Berau yang sudah terkenal dengan Derawan dan kawan-kawannya. Bagi pecinta sejarah dan budaya, berkunjung ke situs-situs seperti ini adalah cara lain menikmati Berau. Setelah museum ini ada 3 situs lagi yang ingin saya kunjungi, yaitu Keraton Sambaliung, Museum Siraja Teluk Bayur dan Kawasan Kota Tua di sekitar Bandar Udara Kalimarau. Namun karena waktu yang terbatas, akhirnya saya urungkan, next time maybe, Insya Allah.
Tau sejarah dan asal usul akan menambah kecintaan kita pada negeri ini.
Salam Perantau.


Tuesday, March 26, 2019

Wisata Sejarah di Balikpapan - Museum Kodim Mulawarman dan Dahor Heritage

Berpredikat sebagai sebuah kota besar sekaligus kota industri tak membuat Balikpapan melupakan sejarahnya. Kota yang telah berusia lebih dari seratus tahun ini menyimpan banyak peninggalan yang bernilai sejarah tinggi yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Mulai dari zaman kolonial Belanda, kepedudukan Jepang, hingga zaman kemerdekaan Indonesia. Sejarah kota Balikpapan juga tak lepas dari peran industri perminyakan ketika Belanda mengebor pertama kali di daerah ini.

Untuk itu, sebagai pecinta sejarah, perlu rasanya bagi saya untuk menelurusi beragam peristiwa sejarah yang terjadi di Kota Minyak ini. Sebagai kota tua, banyak situs bersejarah yang tersebar di Balikpapan. Bangunan-bangunan tua dan bunker serta meriam bertebaran di berbagai tempat di Balikpapan. Mengingat dahulu Balikpapan merupakan daerah penghasil minyak serta memiliki kilang penyulingan minyak besar yang dioperasikan oleh penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Dari situ pulalah segala fasilitas umum hingga fasilitas pertahanan menghadapi perang dibuat di kota ini. Hingga saat ketika Indonesia merdeka sisa-sisa bangunan ini masih bisa kita nikmati beberapa adanya.

Menurut akun instagram @bppn_doeloe, banyak situs bersejarah yang ada di Balikpapan, sebagiannya masih utuh sebagian lagi sudah rusak, bahkan hilang, foto-foto jadoel yang terarsipkan dengan rapi saja yang bisa menunjukkan keberadaan situs-situs tersebut. Ada sedikit sesal juga saat masih berada di Balikpapan dulu tidak saya manfaatkan untuk mengeksplor lokasi-lokasi ini. Berhubung waktu singkat yang saya miliki saat ini (ke Balikpapan, cuma dinas kerja), membuat saya tidak sempat untuk menelusuri semua situs yang ada. Akhirnya saya memilih museum dan Dahor Heritage Balikpapan saja yang saya kunjungi. 

Museum Kodam Mulawarman TNI AD
Ini merupakan museum pertama yang ada di Balikpapan, ia diresmikan pada tahun 2008 oleh Pangdam VI/Tpr Mayor Jenderal Tono Suratman. Semula museum ini bernama Museum Tanjung Pura sesuai dengan nama Daerah Militernya, seiring dengan dibentukan Kodam baru menjadi Mulawarman, maka nama Museum juga ikut menyesuaikan. Museum yang letaknya di Jalan Letjend Suprapto, di Kampung Baru ini merupakan kawasan konservasi yang dimiliki TNI AD dan berisi banyak koleksi tentang TNI AD, dokumen-dokumen, buku-buku dan beberapa senjata yang digunakan pada era kemerdekaan dulu.
Gerbang Museum, Panser dan Meriam - Museum Kodim Mulwarman
Setelah masuk gerbang dan menuju ke museum, kita sudah disambut dengan meriam dan panser yang terletak di depan bangunan museum. Kemudian setelah mengisi buku tamu, kita dipersilahkan masuk dan ditemani oleh penjaga museum yang ramah. Ruang pertama dari bangunan yang sudah digunakan dari era perang dunia II ini berisi prasasti nama-nama para pejuang yang gugur saat melaksanakan tugas. Dan juga ada patung dengan seragam lengkap yang biasa digunakan dilingkungan TNI AD. Jika pengunjung ramai, terutama anak-anak sekolah, maka di ruangan ini mereka harus menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan beberapa lagu wajib nasional, baru meneruskan ke ruangan berikutnya.
Sebuah program yang bagus untuk generasi penerus agar ingatan akan perjuangan bangsa tak tergerus.
Ruang pertama dan kedua - Museum Kodim Mulawarman
Ruangan berikutnya diisi oleh lambang-lambang kesatuan yang ada dilingkup TNI AD, mulai dari lambang-lambang Kodam yang ada di seluruh Indonesia, hingga logo unit-unit satuan dan duplikat bendera-bendera kesatuan yang harus dibawa saat bertugas. Foto sejarah Kodim VI beserta para Komandan nya juga dipamerkan disini. Ada juga peralatan perang yang dipajang dilemari. Alat musik jadoel menggantung di didinding di dalam lorong yang menuju keruangan berikutnya.
Ruangan ke tiga (kiri atas), empat (kanan atas) dan lima (bawah) - Museum Kodim Mulawarman
Ruangan berikutnya berisi alat-alat komunikasi dan perlatan medis yang digunakan saat perang dahulu. Di dinding juga terdapat plakat-plakat penghargaan milik TNI AD. Ruang kelima yang saya masuki berisi koleksi senjata-senjata api yang digunakan saat melawan penjajah, dari senjata mesin hingga senjata tradisional seperti mandau dan tameng khas suku Dayak. Berlanjut ke ruangan terakhir, berisi foto-foto kegiatan para tentara saat bertugas, miniatur kapal, pesawat dan tank serta buku-buku bacaan tentang ketentaraan. Sebenarnya ada satu ruangan lagi, yaitu ruangan audiovisual, tempat diputar film-film dokumenter. Hanya saja itu akan dibuka jika pengunjungnya ramai.

Museum ini terbuka untuk umum, dari jam 9 pagi hingga pukul 3 sore. Kebanyakan pengunjung datang dari kalangan pelajar. Dan tidak dipungut biaya untuk memasukinya. Jangan lupa isi buku tamu dan kesannya juga ya, oke.

Dahor Heritage / Museum Balikpapan
Tak jauh dari museum Kodim Mulawarman ini, berjarak sekitar 2 km menuju arah Pertamina, disebelah kiri jalan akan kita temukan salah satu cagar budaya yang saat ini dijadikan museum oleh Pemerintah Kota. Orang biasa menyebutnya Rumah Dahor, dan kini menjadi Museum Balikpapan. Rumah Cagar Budaya Dahor / Dahor Heritage yang terletak di jalan Dahor no 1 ini merupakan komplek perumahan milik Pertamina yang sudah berumur. Barangkali dahulu merupakan rumah bagi para karyawan BPM, perusahaan minyak Belanda saat mengoperasikan sumur minyak di sini, lalu beralih menjadi miliki Pertamina ketika kemerdekaan telah direbut.
Dahor Heritage
Ada beberapa rumah cagar budaya di sekitar sini, namun yang saya datangi hanya satu saja. Mengingat waktu yang terbatas. Rumah Dahor seperti rumah biasa pada umumnya, namun ia berbentuk panggung yang tinggi, dengan pintu-pintu yang tinggi pula, menyesuaikan dengan ukuran tubu orang Belanda. Di dalamnya terdiri dari beberapa ruangan yang kini dijadikan ruang pameran museum. 
Koleksi Dahor Heritage
Koleksinya bisa dibilang sedikit untuk ukuran museum daerah. Hanya terdapat kursi jadoel di ruangan utama, sepeda onthel, lemari, telepon dan radio jadoel. Selebihnya adalah foto-foto Balikpapan era kependudukan Belanda hingga masa kemerdekaan. Termasuk peta perang hingga peta Kota Balikpapan zaman dulu yang terfokus pada kilang-kilang minyaknya. 

Menurut artikel yang saya baca, ada 9 rumah Cagar Budaya yang akan dijadikan museum. Saat ini baru 2 rumah yang dimanfaatkan. Si penjaga museum ini juga mengatakan, rumah serupa yang terletak tepat disebelah rumah ini juga difungsikan sebagai museum yang berisi buku-buku sejarah. Namun saya tidak meneruskan kesana, karena waktu yang terbatas. Semoga Dahor Heritage semakin baik dengan penambahan koleksi-koleksinya. Untuk diketahui, tempat ini dibuka pukul 9 hingga 3 sore dengan tidak dipungut biaya saat memasukinya.

Jasmerah!

Sunday, January 27, 2019

Peristiwa Merah Putih di Sangasanga: Jejak Perjuangan di Kota Tua Minyak

Dunia perminyakan mendapat peranan penting dalam perkembangan bangsa Indonesia. Banyak peristiwa besar yang terjadi di negeri ini dilatarbelakangi oleh cairan hitam ini. Dalam pembahasan dulu, saya pernah menjelaskan beberapa tempat di Indonesia yang mempunyai kaitan erat dengan minyak dan gas.

Peristiwa Pangkalan Brandan Lautan Api, Hari Jadi Kota Balikpapan, sampai Tarakan yang menjadi saksi bisu perang pasifik merupakan sederet peristiwa besar di Nusantara Indonesia yang minyak dan gas menjadi "dalangnya". Dan kali ini akan ada satu bahasan lagi mengenai peristiwa besar di tanah air yang dilatar-belakangi oleh migas. Bahkan rakyat tempat daerah tersebut sekarang ini meminta agar hari tersebut diangkat menjadi hari besar dan hari libur : 
Sanga-sanga, Kalimantan Timur.

Sanga-sanga, kini ia merupakan sebuah kecamatan di bagian pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara. Di bumi Sanga-sanga ini dulu dikenal sebagai lokasi batubara, lalu berubah menjadi "Kota Minyak" kala cairan hitam itu ditemukan J.H. Menten pada akhir 1890an. Louise 1, merupakan nama sumur yang kali pertama memuntahkan minyak mentah dari bumi Sanga-sanga dengan produksi awal 88 BOPD. 
Sumur Louise 1, Sanga-sanga (niaga.asia)
Sanga-sanga, dari negeri terpencil yang berada di pesisir Kutai Kartanegara, dengan cepat berubah menjadi kota modern dizamannya pasca penemuan minyak oleh Menten. Berbagai fasilitas ada di Sanga-sanga sebagai penunjang lancarnya operasi perminyakan disana. Pada tahun 1939, Sanga-sanga sudah memiliki 7 dermaga, 613 sumur dengan produksi 70 ribu ton minyak sebulan. Bahkan, pesawat amfibi Catalina sering mendarat di sungai di Sanga-sanga ini. Daerah yang sebelumnya sepi menjadi berpenduduk ribuan lebih yang diisi oleh para pekerja minyak, baik dari Eropa, Asia, maupun dari berbagai tempat dan pulau di Nusantara Indonesia. Adalah NV de Bataafshe Petroleum Maatschappij (BPM) yang bekerja sama dengan Shell, dua perusahaan raksasa dari Eropa ini yang mengeruk hasil bumi Sanga-sanga.
Pompa Angguk Sanga-sanga jaman dulu, (bontangpost.id)

-----------
Masa kejayaan Belanda mengelola minyak di Sanga-sanga tergolong lama, hampir setengah abad. Sebelum akhirnya dipaksa menyerah tanpa syarat oleh Jepang. Pada 1942, tentara Jepang melakukan serangan dadakan kepada Belanda. Jepang yang telah sukses menduduki Tarakan terlebih dahulu itu lalu melanjutkan invasinya ke pesisir timur pulau Kalimantan. Salah satu tujuannya adalah untuk mencari sumber bahan bakar guna mendukung lancarnya peralatan untuk menggerakkan alat-alat perang yang digunakan Jepang dikancah perang dunia II.

Setelah menundukkan Belanda, Jepang secara "resmi" mendapatkan Nusantara pada tahun 1942. Lapangan minyak di Sanga-sanga yang semula hancur akibat gempuran saat perang berkecamuk dengan cepat diperbaiki Jepang dan kembali berfungsi. Untuk mendukung kelancaran operasi minyak, Jepang mendatangkan para pekerja dari Jawa untuk dijadikan romusha. Mereka dijanjikan pekerjaan dan pendidikan yang layak bagi sesiapa yang ikut ke Kaltim. Mereka berasal dari Malang, Jogjakarta, Semarang, dan kota-kota di Jawa Barat. Sebagian pekerja adalah para cendekiawan. Para pekerja dari berbagai daerah terbagi dalam rombongan-rombongan seperti rombongan Malang I, Malang II, rombongan Yogyakarta, dan lain-lain. Para pekerja ini lah yang kelak akan ikut ambil bagian dalam peristiwa bersejarah yang akan selalu dikenang masyarakat Sanga-sanga.

Selama menduduki Hindia Belanda (Indonesia), Jepang memeperlakukan para pekerja dan bekas anggota KNIL dengan tidak manusiawi. Mereka dipaksa bekerja keras, tinggal dibarak-barak dengan penjagaan yang ketat. Makanan dan obat-obatan tidak tersedia. Semua hanya untuk tentara Jepang. Mereka hanya fokus pada peperangan dan pertahanan.

Usaha sekutu untuk menggempur Jepang juga masih dilakukan. Oleh karena itu pula Jepang membentuk organisasi-organisasi sosial yang berfungsi membantu pihak Jepang, seperti Seinendan, Konan Hokoku Dan, dan Fujinkai. Pemuda-pemuda ini dilatih militer hingga bela diri selama beberapa bulan. Hingga akhirnya mereka resmi menjadi Kaigun Heiho dan dilantik menjadi Nyitun Heiho (prajurit). Setelah itu mereka disatukan dengan tentara Jepang dan dipisah menurut kompi-kompi yang bertugas membantu tentara Jepang melawan sekutu.
Namun disisi lain, para pekerja khususnya dari Jawa juga membentuk organisasi bernama Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD) yang menghimpun para pekerja yang didatangkan Jepang dari Jawa beberapa waktu lalu.
Usia Jepang di Indonesia tak bertahan lama, awal tahun 1945 tentara sekutu menggempur habis-habisan Jepang yang membuat mereka kalang kabut, hingga puncaknya Jepang mengaku kalah ketika dua kota besarnya dijatuhkan bom atom oleh Amerika Serikat, agustus 1945. Indonesia merdeka. Kemerdekaan Indonesia terdengar oleh rakyat Sanga-sanga beberapa waktu setelahnya. Soedirin, yang merupakan anggota BPPD mencoba mencari radio-radio yang disembunyikan dan dapat digunakan lalu mencuri berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia secara sembunyi-sembunyi.

Selain melakukan tugas sosial, anggota BPPD juga memiliki tugas sebagai penerang dan memberitakan kepada warga tentang proklamasi Indonesia. Berita tentang kemerdekaan ini didapat oleh Soedirin yang bekerja di stasiun radio Markas Tentara Pendudukan Sekutu Australia. Soedirin mencatat hal-hal penting lalu disebarkan kepada anggota BPPD. Selain itu BPPD juga kerap membuat pertunjukan seni, seperti Ketoprak, Ludruk dan SANDISA (Sandiwara Sanga-sanga) yang kebanyakan ceritanya mengangkat tentang semangat perjuangan dan kemerdekaan.
Pengibaran Bendera Merah Putih di Sanga-sanga, (bontangpost.id)

BPPD juga melatih para pemuda di tempat yang tersembunyi untuk latihan baris-berbaris, taktik perang, menggunakan senjata, dan lain-lain hingga mengadakan tugas-tugas rahasia dalam rangka menjalin kerjasama dengan para pejuang di Balikpapan dan Samarinda.
Tanggal 21 Agustus 1945 Jepang menarik diri dari Sanga-sanga, sehingga membuat ex-romusha dan pasukan Heiho yang dibentuk Jepang pun terbengkalai dan terputus hubungannya begitu saja dengan pemerintah Jepang. Bendera Merah Putih baru berkibar di Sanga-sanga pada tanggal 26 Oktober 1945. Selasa pagi di depan markas BPPD di distrik IV atas persetujuan dan pengawasan tentara sekutu Australia.

Tentara Australia dianggap sebagai pembebas dari apa yang telah mereka rasakan selama ini. Kedatangan mereka disambut dengan kesenian-kesenian rakyat sebagai bentuk rasa gembira telah terbebas dari cengkraman penjajahan Jepang. Namun hal itu tak memakan waktu lama, tentara sekutu kembali ditarik ke negara masing-masing pada tanggal 17 Desember 1945. Lalu diganti dengan KNIL Korps Manila (bekas KNIL dari Manila yang dipersenjatai). Ternyata Belanda masih ingin kembali menjajah Indonesia. Sebab saat  tentara sekutu menyerang Jepang hingga Jepang menyerah dan Indonesia merdeka, Belanda mengirimkan mata-matanya untuk "mensurvey" keadaan yang ada di Sanga-sanga serta mencari tentara NICA yang masih pro-Belanda untuk kembali masuk ke barisan Belanda nantinya.

Saat NICA mengambil alih Sanga-sanga, segala bentuk kegiatan dilarang, termasuk kegiatan yang menjurus ke politik dan perjuangan kemerdekaan. Dengan adanya larangan ini maka gerak organisasi BPPD menjadi terhambat, sementara mata-mata NICA terus mengawasi gerak-gerik anggota BPPD. 
Pasukan NICA dari Balikpapan datang ke Sanga-sanga. (bontangpost.id)

Tanggal 30 Desember 1945, BPPD mengadakan malam kesenian bertajuk "Merah Hijau" yang disutradarai oleh Soedirin. Ini merupakan "kode" dan pesan kepada para pemuda dan pengurus BPPD bahwa seolah-olah mereka akan dihadapkan ke meja hijau (akan ditangkap). Puncaknya pada 31 Desember 1945 pagi, Belanda mengadakan pembersihan di Sanga-sanga khususnya di markas BPPD, segala alat, dokumen, bahkan bendera disita, ratusan anggota BPPD ditawan.

Aksi Belanda ini berlanjut tanggal 2 Januari 1946, NICA kembali mencari anggota BPPD yang belum tertangkap atas petunjuk dan informasi dari NICA Belanda, pribumi yang berkhianat dengan bangsa sendiri. Sejumlah tahanan dibebaskan setelah menjalani pemeriksaan intensif, tahap pertama bersisa 28 orang, kemudian dilakukan pemeriksaan lagi sehingga menjadi 16 orang, termasuk Soedirin dan Soekasmo.
Penjara Belanda di Sanga-sanga, (http://pbkukar.blogspot.com/)
Tanggal 14 Juli 1946, 16 tawanan ini dipindahkan ke Balikpapan dan pada tanggal 26 Juli mereka dibebaskan setelah dipaksa membuat pernyataan setia kepada NICA Belanda. Sementara itu, di Sanga-sanga tidak berhenti organisasi perjuangan, malah semakin banyak, bertunas, dan bertumbuh. FONI (Fonds Nasional Indonesia) dan INI (Ikatan Nasional Indonesia) yang berpusat di Balikpapan, KNI (Keputusan Nasional Indonesia) dan PPK (Pers Pemuda Kalimantan) adalah organisasi-organisasi yang lahir dimasa pendudukan Belanda "kedua" ini.

Pejuang BPPD yang dibebaskan ini kemudian menyebar ke berbagai daerah. Soedirin dan beberapa yang lain ke Samarinda, Kasman Hadiwidjono ke Pare-pare Sulawesi Selatan untuk membentuk badan-badan perjuangan di daerah yang baru. Dan beberapa yang lain pulang ke Sanga-sanga untuk meneruskan perjuangan, termasuk Soekamso. Ia dan beberapa yang lain mulai memikirkan dan merencakan serta mangtur kembali organisasi perjuangan, lalu terbentuklah BPRI (Badan Pembela Rakyat Indonesia).
Pejuang BPRI (https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ)
BPRI merupakan gabungan dari badan-badan perjuangan yang ada di Sanga-sanga termasuk eks KNIL yang pro Indonesia. Mereka selalu mengadakan rapat untuk menyatukan pendapat serta bertukar informasi tentang para warga Indonesia yang pro-Belanda dan harus diwaspadai. Gaung kemerdekaan yang sudah terngiang di telinga rakyat Kaltim membuat mereka tidak mau lagi didatangi penjajah. Lalu berbagai strategi dilakukan untuk memukul mundur Belanda dari Sanga-sanga. 

Pemberontakan
Rakyat Sanga-sanga sudah merencanakan untuk melakukan penyerangan. Penyerangan pertama dilakukan pada tanggal 26 Desember 1946, ketika Natal. Para tentara Belanda akan pergi beribadah ke Samarinda karena di Sanga-sanga saat itu tidak terdapat gereja. Namun rencana pemberontakan ini diketahui oleh Militer Intelegence Departmen (MID) sehinga gagal lah pemberontakan pertama ini.

Pemberontakan kedua dilakukan pada tanggal 1 januari 1947. Para pemuda dan pejuang tengah berada pada puncak semangat. Mereka juga mendesak pimpinan untuk mengambil sikap tegas dan cepat mencetuskan pemberontakan. Soekasmo sebagai pimpinan dan beberapa petinggi lainnya sudah sepakat untuk melakukan pemberontakan pada tanggal yang telah ditetapkan karena pada malam pergantian tahun akan dilaksanakan hiburan semalam suntuk dan pagi harinya para tentara beribadah ke gereja. Pada saat itu lah dilakukan penyerangan di beberapa tempat strategis lainnya. 

Pada sore hari terdengar suara raung yang ternyata merupakan suara kapal yang datang dari Samarinda dan merapat di dermaga. Kapal tersebut bermuatan anggota KNIL pimpinan sersan mayor Van Dijk. Kedatangan mereka ini diduga karena kebocoran informasi dari rencana pemberontakan dan sekaligus menangkap pejuang Sanga-sanga.
Belanda menawan para pejuang dalam serangan balik ke Sanga-sanga. (bontangpost.id)
Tanggal 25 Januari 1947, Soekamso mendapat surat dari Koesnan, pejuang di Balikpapan yang berisi pemberitahuan tentang adanya bantuan yang datang untuk membantu pejuang di Sanga-sanga. Mereka adalah Herman Runturambe, Basoemi dan lain-lain. Oleh Soekamso disuruh tinggal di kampung Jawa dan tidak keluar disiang hari, karena wajah mereka sangat bisa dikenali sebagai orang baru. Sementara Soekasmo memberikan informasi tentang kedatangan bantuan ini kepada pejuang di Anggana yang dipimpin oleh Marsudi, R. Pringgosoemarto, Sambijo dan Soedarsono untuk dikoordinasikan. 

Gerakan pemberontakan yang akan dilakukan ini adalah upaya untuk membebaskan diri dari cengkraman penjajahan. Mereka sudah lama mempersiapkan hal ini. Gerakan bawah tanah yang tergabung dalam BPRI juga telah siap bergerak menunggu komando. Begitu pula pasukan KNIL yang Pro-Republik, merekalah yang turut andil dalam lolosnya "keluar masuk" para pejuang dari dan ke Sanga-sanga, sebab Belanda yang mengira mereka masih setia kepada Belanda memerintahkan mereka untuk menjaga dan mengamati keluar masuk para pejuang.

Soekasmo juga memerintahkan Soedirin yang berada di Samarinda untuk bersiap siaga bersama anggota KNIL yang Pro-Republik disana. Diinformasikan bahwa tak lama lagi Sanga-sanga akan melakukan pemberontakan, dan diharapkan para pejuang di Samarinda, Anggana, dan Kutai secara serentak memberontak dan menyerang Belanda jika mendengar meletusnya pemberontakan di Sanga-sanga.

Persiapan di Sanga-sanga pun sudah matang, sudah terbentuk kelompok-kelompok kecil. Salah satunya adalah Angkatan Darat pimpinan Boedioyo anggota KNIL, dan beberapa kelompok lain yang sudah siap berjuang membela bangsa dan negara.

Tanggal 26 Januari 1947, tiba-tiba terjadi keributan di pasar. Herman yang sedang sarapan di warung diketahui identitasnya oleh Police Intelligence Department (PID). Herman langsung melarikan diri melalui jalan Nanas Kampung Jawa Distrik VII. Kejadian ini dilaporkan kepada Letnan Kisbery dan ia segera memerintahkan PID/MID serta anjing pelacak untuk mengejar Herman.
Pasar Sanga-sanga (https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ)
Siang harinya, pasukan PID/MID melihat gubuk di hutan distrik VII, dimana disana ada Soecipto dan dua pejuang lain yang sedang mencuci beras di sungai. Soecipto ditangkap, sementara satu pejuang berhasil melarikan diri. Soecipto disiksa, gubuknya digeledah dan ditemukan dokumen yang berisi daftar nama dan cap jempol pejuang yang telah bersumpah setia kepada bangsa Indonesia. Soecipto yang ditanya mengenai dokumen tersebut diam dan tak mau menjawab memberikan keterangan. Lalu ia ditusuk dengan bayonet dan ditembak hingga gugur, jenazahnya diseret lalu dibuang di distrik VII Sanga-sanga.

Kejadian ini dilaporkan kepada Letnan Kisbery di Samarinda. Anggota KNIL Pro-Republik juga mengetahui kejadian ini dan memperkirakan Belanda akan menangkap semua nama-nama yang tercantum di dalam dokumen yang didapati di gubuk tadi. Maka sebelum Belanda bertindak, para pejuang harus mengambil langkah. Pimpinan BPRI, Soekasmo pun diamankan di rumah Lurah Kampung Jawa, pak Simoen.

Tanpa diketahui oleh pimpinan BPRI, sore hari tanggal 26 Januari 1947, tokoh BPRI Soekirman dan tokoh KNIL Pro-Republik Soepandi Ronodiwirjo juga ditangkap oleh MID Belanda. Kejadian ini diketahui oleh Boedioyo, ia langsung memerintahkan anggotanya untuk menggunakan senjata lengkap lalu layaknya berpatroli dengan jeep terbuka di Distrik V menuju bangsal bekas Heiho. Toekiman, salah satu pimpinan BPRI dan beberapa lainnya dijemput menuju muara. Disitu dijelaskan bahwa kemungkinan besok semua pejuang akan ditangkap, dan Boedioyo memerintahkan untuk menurunkan senjata-senjata dan amunisi serta menyuruh Toekiman dan pejuang lainya untuk berkumpul di rumah R.F. Romokarto seorang pastur.

Malam harinya, diadakan rapat rahasia di rumah Lurah Kampung Jawa, pak Simoen. Rapat tersebut untuk mengambil keputusan kilat yaitu pemberontakan terhadap kolonialis Belanda harus segera dilakukan. 
Merdeka atau ditangkap Belanda lalu dibunuh atau dipenjara
"Hari Mantoe", merupakan kode yang dibuat untuk dimulainya operasi pemberontakan ini. Pimpinan kelompok Heiho yang bermarkas di distrik V memerintahkan kepada semua ketua-ketua kelompok untuk memberitahukan secara rahasia kepada seluruh eks-Heiho yang tersebar di kampung-kampung dan pelosok-pelosok agar bersiap-siaga menunggu instruksi pimpinan BPRI, bergerak merebut kembali tanah Sanga-sanga dari Belanda. Untuk melakukan kamuflase dan mengalihkan pantauan musuh terhadap persiapan ini, oleh BPRI diadakan malam kesenian secara serentak ditiap-tiap kampung.

Semua ketua kelompok dan komandan sektor diperintahkan untuk mengirimkan anggotanya untuk mengambil senjata lengkap dari tangsi Belanda atas usaha para pejuang KNIL Pro-Republik. Beberapa pejuang yang lain diperintahkan untuk menghubungi dan memberitahukan pejuang di Samboja dan Balikpapan, serta pejuang di Samarinda dan Anggana akan rencana pengambilan kekuasaan ini. Para pejuang ini siap membantu perjuangan rakyat di Sanga-sanga. Namun rencana ini diketahui Belanda dikarenakan radio yang mereka gunakan disadap sehingga informasi dari Balikpapan jelas diketahui, imbasnya pemimpin BPRI di Balikpapan ditangkap.

Boedioyo juga mendapatkan informasi dari sumber lain yang mengatakan bahwa ada pasukan yang dikirim dari Balikpapan melalui sungai Tiram. Beberapa pejuang ditugaskan untuk mengecek keberadaan informasi tersebut di Gunung Krukut. Menjelang tengah malam, terdengar suara pasukan di jalan berbatu, hal tersebut dilaporkan ke Sanga-sanga melalui radio, kemudian salah seorang pejuang menegur dan memberi arah jalan, namun tak digubris, malah disambut dengan suara tembakan. Dua pelempar granat dari pejuang mengimbangi tembak-menembak pada malam itu. Namun karena kekuatan tidak seimbang, akhirnya Boedioyo memerintahkan untuk mundur dan kembali ke Sanga-sanga.

Tengah malam, masuk pada tanggal 27 Januari 1947, senjata pertama dikirim ke Kampung Soumil dan diterima oleh Toekimin. Sementara Boedioyo memerintahkan semua pasukan untuk menempati tempat yang sudah ditentukan guna kelancaran operasi penyerangan. Pukul 1 dinihari, gelombang kedua distribusi senjata dilakukan oleh pasukan eks KNIL yang diserahkan langsung kepada pemimpin pasukan untuk dibagikan pada anggotanya. Kemudian para pejuang diperintahkan menempati pos masing pada pukul 2 dinihari dengan memakai lencana merah putih di dada kanan.

Sebelum memulai penyerangan, para pemimpin kembali mengadakan rapat kilat, menyatukan suara  untuk menyerang Belanda, merebut kembali Sanga-sanga. Para pejuang juga diperintahkan untuk mengawasi gerak gerik orang-orang yang memihak Belanda. Soekamso memerintahkan kepada Boedioyo untuk memimpin operasi ini dikarenakan pengalaman militer yang ia miliki, selain itu ia juga mengetahui banyak tempat strategis seperti kediaman orang-orang penting para pejabat Belanda termasuk Letnan Kisbery.

Semua pejuang diperintah untuk bersiap siaga mulai dari Distrik Ujung hingga Distrik VII. Para pembantu di rumah-rumah Belanda juga diperintahkan untuk menggunakan kesempatan sebaik-baiknya dan mengambil senjata milik majikannya lalu diserahkan kepada pejuang.

Operasi yang dipimpin langsung oleh Boedioyo ini dimulai dengan bergerak mengepung Detasemen KNIL Sanga-sanga. Komandan jaga saat itu Soemiran dan anak buahnya. Boedioyo memerintah untuk tidak mengeluarkan tembakan, lalu dengan senyap berjalan melalui tangki-tangki minyak, pompa air dan melewati kantor BPM. Para pejuang menempati pos masing-masing dan menunggu instruksi dari komandan jaga Soemiran. Sebagian pejuang yang lain memasuki sel dan membebaskan para tahanan perang termasuk Soekiman dan Ronowirjo. Mereka berada dalam kondisi yang parah dan berlumuran darah. Selanjutnya para pejuang menangkap KNIL pro-Belanda yang merupakan kaki tangan Sersan Mayor Van Heck dan Letnan Kisbery.

Komandan jaga Soemiran dan anggotanya yang menyamar menggunakan seragam KNIL pergi ke kediaman Soeparman. Setelah mengetuk pintu dan menginfokan bahwa Soeparman dipanggil Sersan Mayor Van Heck. Setelah Soeparman keluar, ia langsung disekap dan dibawa ke sel penjagaan lalu disiksa hingga tewas. Begitu juga yang para pejuang lakukan pada prajurit Saman. Prajurit Saman merupakan orang yang membunuh Soecipto saat penggeledahan gubuk yang berisi dokumen-dokumen penting milik pejuang di Distrik VII.

Di sisi lain, tiga kendaraan truk militer pimpinan kopral Soewito telah siap menunggu di depan pos penjagaan, warga sipil beserta logistik dibawa ke Distrik VII agar aman. Oleh kopral Soewito, disana sudah dibuatkan dapur umum.

Komandan jaga Soemiran melakukan tugas penyamaran dengan baik setelah ia dan anggota berhasil menangkap dua tentara KNIL dan Sersan Mayor Van Heck. Mereka ditangkap ketika melapor di pos jaga, dan tiba-tiba langsung disergap oleh pejuang dan dimasukkan ke sel penjagaan. Namun beberapa sersan yang tinggal di luar tangsi militer lolos dari penangkapan, seperti Van Nierop, ia adalah wakil Letnan Kisbery. Boedioyo memerintah untuk mengejar mereka, namun usaha ini gagal, Van Nierop berhasil meloloskan diri.

Setelah tangki KNIL Belanda berhasil direbut, ramai pejuang dan rakyat yang keluar masuk tangsi tersebut. Mereka mengambil segala kebutuhan termasuk senjata untuk kembali ke medan perang, mempertahankan sejengkal tanah yang sudah dikuasai. Kendaraan juga keluar masuk tangsi, untuk mengambil senjata dan mendistribusikannya kepada para pejuang di lapangan.

Dan di dalam tangsi dilaksanakan upacara bendera yang sederhana, namun tertib dan hikmat. Soekasmo memerintahkan prajurit untuk merobek bendera biru Belanda hingga menyisakan warna merah putihnya saja. Upacara dipimpin oleh Boedioyo. Soekamso dalam amanatnya mengintruksikan kepada para pejuang dan rakyat untuk turut serta mempertahankan kota Sanga-sanga yang telah direbut dari kolonial Belanda, serta terus berjuang dengan semboyan lebih baik mati dari pada dijajah kembali oleh Belanda.

R.F. Soekarto, Kapten Fathamsyah, Abdullah Thomas dan Soekiman ditunjuk untuk untuk bertugas pada beberapa bagian di markas BPRI. Para pekerja BPM berkebangsaan Indonesia sebelum bekerja berkumpul di markas BPRI untuk mendapatkan pengarahan dari pimpinan BPRI yang berbunyi :
"Saudara-saudara sekalian, sekarang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Sanga-sanga telah kita buktikan. Sebagaimana saudara-saudara maklum, Sanga-sanga sudah diduduki oleh Barisan Pembela Rakyat Indonesia, dan kekuasaan Belanda di Sanga-sanga sudah kita hancurkan. Sebentar lagi mungkin Samarinda akan segera menyusul. Karena kami sudah menyerukan kepada saudara Soedirin dan kawan-kawan untuk merebut Kota Samarinda dari kekuasaan kolonial Belanda. Selanjutnya kami juga mengharapkan supaya roda perusahaan ex BPM berganti nama menjadi Perusahaan Minyak BPRI jalan terus tanpa ada hambatan. Perusahaan minyak ini kepunyaan kita, punya saudara-saudara sekalian dan kami berharap bekerjalah seperti biasa untuk mencegah macetnya produksi minyak sebagai sumber yang vital untuk perjuangan kita semua. Saudara-saudara pejuang BPRI yang bertempur di garis depan supaya tetap bertempur. Semuanya, selamat bekerja dan berjuang terus sampai titik darah penghabisan."
Setelah selesai amanat diberikan, pimpinan BPRI kembali mengadakan rapat bersama unsur pimpinan untuk menentukan langkah mempertahankan kota Sanga-sanga dari serangan balik Belanda. Para ex KNIL berkutat dengan kegiatan administrasi mengenai pembuatan pengumuman tentang telah merdekanya Sanga-sanga. Para pejuang lain memberikan pelatihan pada mereka yang belum mengerti menggunakan senjata. Lalu juga disibukkan dengan pendistribusian logistik kepada para pejuang di garis depan dan kesibukan lain-lain yang berhubungan dengan masyarakat dan pertahanan.

Kepala penjawat (Camat) Onderdistrict Sanga-sanga, Awang Ishak datang ke markas BPRI, kemudian melapor serta menyerahkan kekuasaan kepada pimpinan BPRI. Oleh pimpinan BPRI kekuasaan tersebut diterima dan diserahkan kembali kepada Awang Ishak untuk menjalankan pemerintahan sipil agar tidak terjadi stagnasi. Pimpinan markas BPRI juga mengintruksikan agar gudang-gudang, rumah-rumah serta aset-aset lainnya di Sanga-sanga untuk diberi plakat milik Republik Indonesia dan dijaga agar tidak terjadi pencurian, pembakaran dan lain-lain yang merugikan perjuangan rakyat Sanga-sanga. Sementara pembantu-pembantu di rumah Belanda pegawai BPM diperintahkan untuk menangkap para pegawai BPM berkebangsaan Belanda serta keluarganya untuk digiring ke gedung Sandisa dan dijadikan tawanan.

Gerakan selanjutnya adalah merebut markas PID/MID di Distrik IV. Disini pejuang mendapat perlawanan sengit karena Letnan Kisbery dan anak buahnya berada disana. Namun akhirnya bisa direbut oleh Soemiran dan kawan-kawan, Namun Letnan Kisbery pergi meloloskan diri. Kemudian bendera merah putih kembali dikibarkan di markas PID/MID dengan merobek warna biru milik Belanda. Dengan begini, sudah jelas daerah Sanga-sanga dan sekitarnya sudah dikuasai para pejuang BPRI sejak minggu 27 Januari 1947 sejak pagi hari.

Sementara di markas BPRI dan Distrik Louise, para pejuang sibuk memberikan pelajaran kepada rakyat yang sudah dipersenjatai. Para pimpinan yang lain berpatroli untuk memastikan keadaan sambil merencanakan teknik pertahanan untuk berjaga-jaga jika Belanda kembali menyerang, patroli dilakukan di Muara Ujung, Louise, dan sentral Listrik. Kemudian Soekasmo dan Soekisman memeriksa para tahanan di gedung Sandisa, para tahanan ini terdiri dari pekerja BPM Belanda non-tentara beserta keluarganya. Para tahanan ini diperlakukan dengan baik dan jaminan keamanan yang cukup, asal tidak melawan. Begitu juga dengan tawanan KNIL Belanda.

Sementara itu, Boedioyo mulai memerintahkan para pejuang untuk menduduki pos pertahanan. Pos I di Ujung Muara di bawah pimpinan Lomban eks-KNIL. Pos II di Muara Jembatan dipimpin oleh Toekiman. Pos III di gunung merah dipimpin oleh Soemiran. Mereka juga dibantu oleh pasukan Heiho dan rakyat yang dipersenjatai.
Gunung Merah, (https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ)
Peristiwa perang pun terjadi, dikala para pejuang tengah sibuk dengan pengaturan pertahanan, terdengar suara kapal yang akan merapat. Para pejuang sudag bersiap-siap di pos jaga masing. Kapal tersebut berisi seorang Letnan yang dikawal empat tentara KNIL. Oleh Toekiman dan anggotanya, mereka disergap dan dilucuti senjatanya. Lalu satu kapal Belanda bertuliskan Zee Arend juga merapat dan ikat tali di jembatan Muara, langsung disambut dengan tembakan para pejuang di pos III, akhirnya kapal tersebut mundur ke arah Muara Ujung.

Di tengah-tengah konflik seperti ini juga terjadi penghiatanan. Adalah Lomban, pimpinan pos I beserta dua orang kawannya, bergabung dengan Alegeeme Polisi Belanda dan dengan menggunakan perahu milik rakyat pergi menuju tengah laut Anggana. Hal itu terlihat dari pos III lalu dilaporkan ke markas. Penghianatan ini berakibat pada gugurnya beberapa pejuang.

Sore harinya, dua pos jaga ditembaki mortir berat dan senapan mesin dari kapal musuh. Hal ini dapat terjadi karena dibantu oleh para penghianat dari pos I yang telah mengetahui lokasi-lokasi pertahanan pejuang. Kapal Belanda berdatangan dan menggempur habis-habisan hingga malam, para pejuangpun mempertahankan lokasinya dengan membalas gempuran Belanda hingga malam hari. Sementara di Sentral Listrik, Distrik Louise, Distrik IV, V, VI, dan kampung Jawa, para pejuang terus siap siaga menghadapi serangan, sehingga Belanda belum bisa menembus pertahanan, dan Sanga-sanga masih berada di tangan rakyat Indonesia.


--------

Demikianlah, gambaran aksi heroik para pejuang dalam mempertahankan tanah Indonesia dari penjajahan kolonial Belanda. Perjuangan dan pengorbanan yang besar yang hasilnya bisa kita rasakan saat ini. 

Banyak para pejuang yang gugur dalam mempertahankan Sanga-sanga, termasuk Boedioyo yang menjalani eksekusi mati oleh Belanda setelah aksi pemberontakan ini. Namun apa yang telah dilakukannya layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Juga para pejuang lain yang telah ambil bagian dalam perebutan Kota Minyak Sanga-sanga.

Tugu Perjuangan Rakyat Sanga-sanga
Yang perlu kita teladani adalah semangat juang mereka yang pantang mundur. Kerjasama yang baik. Serta saling percaya satu sama lain. Peristiwa Merah Putih Sanga-sanga merupakan peristiwa besar yang layak untuk dikenang. Dan di Sanga-sanga kini, masih bisa kita lihat dan melakukan napak tilas jejak sejarah perminyakan hingga perjuangan merebut kembali Sanga-sanga dari Belanda.

Dan untuk mengenang peristiwa heroik rakyat Sanga-sanga ini dibangun monumen perjuangan yang diberi nama Tugu Perjuangan Merah Putih, dan setiap tanggal 27 Januari diadakan upacara layaknya hari besar di Sanga-sanga. 
Sanga-sanga (sumber)







Tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber. Jika ada sumber yang lebih valid, saya dengan senang hati menerima koreksi untuk perbaikan tulisan ini.


Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ
https://humas.kukarkab.go.id/berita/sosial-budaya/sejarah-singkat-peristiwa-merah-putih-sangasanga
https://indonesiainside.id/news/2020/01/27/ini-sumur-migas-sanga-sanga-tonggak-sejarah-rakyat-kaltim-melawan-belanda
https://www.pertamina.com/id/news-room/energia-news/sumur-louise-1-destinasi-wisata-sejarah-baru-di-sangasanga-
https://kaltimkece.id/historia/peristiwa/sejarah-panjang-sangasanga-tanah-juang-yang-kini-terkepung-tambang
https://indonesiainside.id/news/2020/01/27/ini-sumur-migas-sanga-sanga-tonggak-sejarah-rakyat-kaltim-melawan-belanda
https://bontangpost.id/29636-berangkat-dari-gerakan-bawah-tanah-menentang-belanda/
Kristianto, Kevin Topan, 2018. Pertempuran 27 Januari 1947 di Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Skripsi, Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta.

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...