| Kekah di Desa Mekar Jaya |
![]() |
| Cek Gu Ahdiani (baju loreng) sang inisiator mantau kekah. |
| Kekah di Desa Mekar Jaya |
![]() |
| Cek Gu Ahdiani (baju loreng) sang inisiator mantau kekah. |
Yap, sampai juga. Ini merupakan hari terakhir dari agenda studi komparasi wisata di Bintan. Ada beberapa kegiatan hari ini yang "harus" kami ikuti sebelum menuju ke Batam untuk kembali pulang ke Natuna esok harinya.
Setelah puas berenang di Crystal Lagoon, sarapan, dan check out dari The Anmon Hotel. Perjalanan kami teruskan ke Desa Wisata Ekang. Desa Wisata Ekang masih terletak di Teluk Sabong, namun bukan termasuk di dalam kawasan atau manajemen BRC.
![]() |
| Salah satu tempat menginap di D'Bamboo Kamp Desa Wisata Ekang |
Desa Wisata Ekang berkonsep alam dan lingkungan, sangat pas untuk mengisi liburan bersama keluarga. Desa wisata dengan luas sekitar 14 hektar yang menjadi desa wisata terbaik di Indonesia ini merupakan buah dari hasil kerjasama antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna.
![]() |
| Tempat menginap yang lain dengan konsep berbeda |
Ada beberapa tipe kamar tempat menginap yang terdapat di desa wisata ini. Fasilitas lain yang terdapat di sini adalah kolam renang dan restoran yang terletak di dekat loby. Selain menginap, kita juga bisa melakukan aktifitas lainnya seperti berkebun, bermain bersama kelinci, berkuda, memancing, dan lain-lain.
![]() |
| Kawasan perkebunan Desa Wisata Ekang |
Kami mengitari sebagian dari lokasi Desa Wisata yang kece ini, selanjutnya kami meneruskan perjalanan menuju Tanjungpinang untuk makan siang di Manabu Resto. Sebelum berpisah, kami mendapat berbagai cendera mata dari BRC, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga berharap kerjasama antara Pemkab dan BRC terus terjalin untuk bersama-sama memajukan pariwisata di Kepri, khususnya Natuna dan Bintan.
![]() |
| Cekrek dulu sebelum berpisah, trims BRC... |
-----------------------
Sebuah catatan :
Perjalanan selama kurang lebih tiga hari dalam rangka studi komparasi wisata di Bintan banyak memberikan pelajaran serta wawasan, terutama di bidang pariwisata. Dalam beberapa sisi, alam yang dimiliki oleh Bintan dan Natuna relatif sama, sehingga tidak menutup peluang wisata yang serupa bisa berkembang juga di Natuna.
![]() |
| Wisata Mangrove |
![]() |
| Kebun Binatang Mini |
Banyak tempat potensial yang bisa dijadikan desa wisata di Natuna, baik di dengan tema agrowisata, wisata bahari, maupun wisata alam. Hutan mangrove yang dimiliki Natuna juga sangat luas dan tersebar di beberapa pulau. Berbicara tentang kuliner, Natuna gudangnya makanan laut yang lezat dan kaya protein. Dan yang tak kalah penting adalah kebudayaannya, cerita rakyat, kesenian, dan lain-lain.
![]() |
| Desa Wisata |
![]() |
| Glamping |
Semuanya bisa dikembangkan menjadi lebih baik. Syaratnya adalah kolaborasi, kerjasama lintas sektor, baik pemerintah maupun swasta serta melibatkan masyarakat lokal sebagai ujung tombak pengelolaan. Semoga pariwisata Natuna menjadi semakin baik kedepannya. Aamiin.
Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan, selesai.
Hari kedua dalam rangkaian Studi Komparasi Wisata di Kabupaten Bintan ini sungguh luar biasa. Sepuluh destinasi wisata super keren di kawasan terpadu BRC kami kunjungi dalam waktu kurang lebih 10 jam. Mulai dari sarapan di Pujasera hingga makan malam di Cassia Hotel sambil menikmati angin pantai dan sunset.
Setelah selesai santap malam, mobil membawa kami menuju kembali ke Chill Cove, tempat kolam renang terbesar se Asia Tenggara yang kami kunjungi pagi tadi. Selain terdapat kolam renang, wisata mangrove dan area outbond, kawasan Chill Cove juga terdapat 2 hotel dengan konsep unik dan menarik. Dan, kami akan menginap di salah satunya. 😁
![]() |
| The Anmon Hotel di malam hari |
Anmon dan Natra, nama dua hotel dengan tema glamping tersebut. Glamping merupakan akronim dari glamour camping, konsep berkemah dengan didukung oleh fasilitas dan akomodasi yang memadai, begitulah kira-kira definisi glamping ini. Konsep glamping sudah mulai populer di beberapa negara dalam beberapa tahun terakhir. Menjadikan ia alternatif menginap ala kemah meski tak punya "skill" berkemah.
Natra Hotel lebih dahulu beroperasi, dulu bernama The Canopy Bintan. Baru pada 1 agustus 2019, ia berubah nama menjadi Natra yang terinspirasi dari bahasa arab. Sementara Anmon baru saja beroperasi dalam beberapa bulan terakhir.
Oleh pihak BRC, kami diinapkan di The Anmon Hotel. Baik Natra maupun Anmol sama-sama mengusung konsep glamping yang berpadu dengan alam. Semuanya wah. Bedanya hanya dibentuk tenda saja menurut saya. Natra Bintan memiliki tenda yang lebih besar dan lebar, sementara The Anmon bentuk tendanya lebih kecil dan mengerucut khas tenda suku indian atau perkemahan di padang pasir.
![]() |
| Foto bareng pak Imam (baru biru paling kiri), dan mbak Putri (tiga dari kiri), LO yang sudah menemani kami selama 2 hari ini |
Di tempat check in, terdapat restoran yang kece abis, lobby hotel juga dikemas dengan modern sehingga sangat cocok untuk hanya sekedar nongkrong. Proses check in sudah selesai, sebelum kami diantar menuju kamar, kami berfoto dulu dengan LO yang sudah menemani kami dari kemarin hingga hari ini. Sebab, agenda besok hingga lusa akan berganti LO. Terimakasih banyak mbak Putri dan pak Imam sudah mau menemani kami jalan-jalan di Bintan. 😀
Kami diantar menuju kamar masing-masing. Saya mendapat kamar no 106. Kamar dengan bentuk khas tenda khas gurun pasir ini begitu tampak sederhana dari luar. Dibaluti "kain" putih berbentuk kerucut dengan teras kecil di depannya. Hal yang kontras saat saya masuk ke dalam, fasilitas hotel yang mewah lengkap dengan kamar mandinya beserta perlengkapan lainnya. Yap, jadi inilah dia glamping itu ya, ternyata. Saya berberes-beres sebentar, setelah seharian berada di luar badan ini meminta haknya untuk dibersihkan. Setelah berberes-beres, mandi, dan sejenak beristirahat. Saya mencoba mengitari komplek "tenda" mewah ini.
Anmon menerapkan tema gurun pasir, pasir putih ala-ala gurun, hingga tanaman kaktus dan pohon palm terdapat di area komplek kemah. Lampu pelita di tepi-tepi jalan membuat malam semakin syahdu, lengkap dengan kilauan bintang di langit. Tamu-tamu lain yang menginap mengadakan acara "api unggun", barbaque-an di sekitar kemah. Ada alun-alun kecil tempat berkumpul di luar tenda.
Saya tak meneruskan untuk sksplor lebih jauh Anmon ini, dikarenakan hari semakin larut dan letih di badan masih tersisa setelah seharian berkegiatan. Saya kembali ke kamar dan beristirahat. Di dalam kamar, kita juga masih bisa melihat bintang-bintang, karena atap kamar hotel bisa dibuka-tutup.
--------
Pagi harinya saya bangun agak kesiangan. Cepat-cepat keluar tenda untuk menikmati udara pagi di sekitaran kemah. Tak lama di luar, lalu kembali masik ke kamar untuk ambil perlengkapan, berenang di crytal lagoon. 😆
Hanya ada beberapa orang saja yang sedang berenang pagi ini, termasuk saya dan bang Jono. Sementara buk Kasi, pak Kabid dan pak Kadis sudah lebih dahulu jalan-jalan pagi di sekitaran kemah dan kolam. Segar rasanya berenang di kolam yang berasal dari air laut hasil penyulingan ini, kolamnya yang begitu luas serasa sedang berenang di laut sungguhan.
![]() |
| Basah-basah, pagi-pagi |
Namun saya tak bisa berlama-lama karena agenda berikutnya sudah menunggu. Saya langsung bergegas kembali ke kamar, berbilas dan bersiap-siap. Di ruang tamu kamar sudah tersedia sarapan. Sarapan di Anmon modelnya diantar ke kamar, tak seperti hotel kebanyakan yang menyajikan prasmanan di hotel. Makan untuk sarapan dan lain-lainnya juga dipesan saat kita akan check in. Lalu keesokan harinya barulah makanan diantar, seperti itu.
Beres-beres sudah, sarapanpun sudah, selanjutnya adalah kembali menuju lobby, dan check out. Lalu melanjutkan ke agenda berikutnya.
![]() |
| Biar kayak orang-orang |
![]() |
| Check ouuuuut |
Thank you, The Anmon Hotel for the great experience.
Refrensi :
https://www.bintan-resorts.com/resorts/anmon/
Kami bagaikan artis hari ini, agenda dari pagi hingga siang ini sangatlah padat. Tak kurang dari tujuh tempat wisata yang sudah kami kunjungi pada giat studi komparasi wisata di Kabupaten Bintan ini. Setelah berkeliling-keliling kawasan Chill Cove di Treasure Bay, kami melanjutkan jalan-jalan wisata kami ke Safari Lagoi & Eco Farm. Safari Lagoi & Eco Farm merupakan kebun binatang dan lahan perkebunan yang menjadi bagian kawasan wisata terpadu Bintan Resort.
![]() |
| Safari Lagoi, Foto dulu coy! |
![]() |
| Kebun bunga di depan pintu masuk |
![]() |
| Numpang eksis di Lagoi Bay |
![]() |
| cosplay cicak |
![]() |
Masih dihari kedua. Perjalanan masih berlanjut seakan tiada henti. 😈 Setelah melihat megahnya Doulos Phos The Ship Hotel. Kami diajak menuju kolam renang terbesar se Asia Tenggara. Crystal Lagoon namanya. Saat tiba, kami disambut oleh manager pengelola dengan ramah. Kami mengobrol santai dan menjelaskan secara singkat tentang kolam renang ini. Saat akan masuk ke dalam area, kami diberi gelang sebagai penanda tamu.
![]() |
| Kasih tanda, biar gak hilang |
Tidak seperti biasanya, kolam ini sepi, imbas dari belum berakhirnya pandemi. Sedih pula rasanya melihat tempat semegah ini namun sepi pengunjungnya. Banyak fasilitas-fasilitas yang tak terpakai, dan hanya terlihat beberapa pegawai yang melakukan perawatan-perawatan. Kami diajak berkeling-keliling kolam dengan mobil taman. Terlihat ada beberapa pengunjung yang menikmati kolam ini.
![]() |
| Crystal Lagoon, Bintan |
Crystal Lagoon yang merupakan kolam renang terbesar ini terletak di area BRC yang bernama Chill Cove. Luasnya lebih dari 6 hektar dengan panjang sekitar 800 meter dengan kedalaman sampai 2,5 meter. Air kolam merupakan air laut asli yang melalui proses penyulingan.
![]() |
| Potopoto sama pengelola |
Selain berenang sampai puas, crystal lagoon juga menawarkan beberapa atraksi bahari, seperti water jet, paddleboarding, flyboarding, kayak, hingga water ski. Taman bermain di darat serta tempat bersantai juga tersedia di dekat kolam. Jika bosan dengan kegiatan air, bisa menjajaki berbagai fasilitas lain seperti ATV dan menyusuri hutan mangrove di sekitar kolam. Pun jika bosan dengan kegiatan outdoor, kita juga menikmati beragam fasilitas indoor yang disediakan. Untuk paket dan harga bisa langsung mengunjungi situs resminya, ya. 😊
Perjalanan kami masih berlanjut menuju Treasure Bay Mangrove, letaknya tak jauh dari Crystal Lagoon. Treasure Bay Mangrove merupakan wisata bakau yang ada di BRC, berbeda dengan Bintan Mangrove yang kami kunjungi tadi pagi, yak. Konsepnya sama seperti Bintan Mangrove, hanya dermaga kecil tempat "transit" sebentar untuk menuju perahu dan diajak museng-museng (jalan-jalan) mengitari hutan bakau.
![]() |
| Pintu Masuk Treasure Bay Mangrove |
Jika beruntung kita bisa melihat dugong, sejenis mamalia air tawar yang habitatnya memang di sekitar bakau dan beberapa hewan khas hutan mangrove lainnya. Beragam paket wisata tersedia di treasure bay mangrove ini. Di dekat dermaga, ada "tongkang mini" yang biasa digunakan untuk mengantarkan wisatawan dinner di tengah-tengah muara, atau mengantarkan turis untuk melakukan yoga di tengah-tengah mangrove sambil menyatu dengan alam.
![]() |
| Dermaga Treasure Bay Mangrove |
Sepertinya seru ya, dinner dengan pasangan di tengah-tengah muara bakau, atau beryoga dengan ditemani musik alam. Di Natuna ada banyak spot wisata bakau, beberapa sudah dikembangkan, dan yang lain sedang dalam tahap pengembangan. Semoga bisa memberikan warna lain dalam wisata Natuna yang masih berfokus pada pantai dan pulau.
Lanjut lagiii .........
Masih dalam cerita studi komparasi wisata di Bintan. Hari kedua. Waktu sudah mulai siang, matahari mulai menanjak naik ke atas di balik awan yang menutupi langit Bintan, sehingga panasnya cuaca tak terasa. Mendung-mendung syahdu, gitu. Perjalanan dari pagi hingga beranjak siang ini dimulai dari pujasera hingga ke marina.
![]() |
| Mercu suar. |
Hotel Doulos Phos, merupakan hotel kapal yang ada di kawasan BRC. Bukan bangunan yang dibuat menyerupai kapal, namun kapal asli yang diubah menjadi hotel mewah nan megah. Jom kite ulas fakta-faktanye sikit-sikit.
Kapal Tua Dengan Umur Satu Abad
Doulos Phos The Ship Hotel ini merupakan jelmaan dari kapal yang telah berumur seabad, lebih tepatnya 107 tahun. Kapal ini mulai dibangun pada tahun 1914, lebih muda 2 tahun dari kapal legendaris Titanic. Kapal ini diluncurkan pada 22 agustus ditahun yang sama. Lokasi pembuatannya di Newport News Shipbuilding and Dry Dock Company untuk Mallory Steamship Company, Amerika.
Doulos Phos dengan nama awalnya SS Medina berfungsi sebagai kapal penumpang untuk kaum bangsawan dan juga pengangkut barang dagangan dengan rute dari Pantai Timur ke Teluk Meksiko. Sama seperti kapal besar pada eranya, doulos phos juga pernah mendapat tugas "wajib militer", dengan mengantar bahan makanan dan obat-obatan saat perang dunia kedua terjadi.
![]() |
| SS Medina, via opposite-lock |
Tahun 1952, perusahaan Italia, Linea Costa membeli SS Roma dan mengganti namanya menjadi MS Franca C. Selain merubah nama, Linea Costa juga mengganti mesin uap ke mesin diesel ganda, mengikuti arus zaman. Kapal berkapasitas 900 orang ini berlayar antara Italia dan Argentina. Tahun 1959, MS Franca C direnovasi menjadi kapal penumpang mewah kelas 1 yang berlayar sekitar Mediterania, dan sesekali mengarungi Luat Hitam.
Terakhir, ia menjadi MV Doulos, yang berfungsi sebagai kapal pameran buku terapung hingga 2009.
![]() |
| MS. Franca C, via opposite-lock |
Mendapat Penghargaan Dunia
Karena memiliki sejarah yang panjang, nama Doulos Phos ditorehkan di Guinness World Record sebagai kapal penumpang tertua di dunia.
![]() |
| Hotel Doulos Phos |
Dibeli Oleh Saudagar Singapura
Setelah menyelesaikan tugasnya dan pensiun sebagai kapal penumpang aktif tertua di dunia, pada 2010 MV Doulos Phos dibeli oleh saudagar dari Singapura. Dengan proses yang panjang, akhirnya ia dibawa ke Bintan, duduk menikmati masa pensiunnya dengan damai dengan dikonversikannya menjadi hotel megah oleh Biznaz Resources International Pte Ltd.
Banyak Fasilitas.
Hotel Kapal yang terdiri dari 8 deck ini memiliki 104 kamar (kami tak bisa mendeskripsikan karena tidak menginap 😃). Selain kamar-kamar mewah, Doulos Phos The Ship Hotel juga memiliki beragam fasilitas, baik di dalam kapal, maupun di anchor isle nya. Fasilitas tersebut meliputi restoran, bar, dan tempat spa. Mau berfoto ala Jack and Rose di Titanic juga bisa. Museum maritim dan lobby terletak di B-Deck. Aula dan ruang rapat terdapat di Boat Deck. Fasilitas lainnya adalah ruang perjamuan, perpustakaan, club lounge, kabin tamu di darat, bar, kolam renang, ruang fitnes, sauna dan restoran.
![]() |
| Bagian Belakang Kapal, Anchor Isle |
-----------
Hotel Kapal ini merupakan ikon baru pariwisata di Kabupaten Bintan. Saat kami datang, hotel ini sedang dalam tahap pekerjaan akhir sehingga kami belum boleh diijinkan untuk masuk ke dalam kapal. Kami hanya "bermain" di luar saja, sambil berdiskusi dengan LO dan foto-foto tentunya.
Untuk informasi lain bisa dilihat di website resmi Bintan Resort dan www.doulosphos.com, yap. Selamat bersenang-senang. Agenda studi komparasi kami masih berlanjut ke tempat-tempat menarik berikutnya. Bye... 👋
Prolog . . .
Tahun 2020 lalu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Natuna mengadakan suatu pelatihan wisata bertajuk Management Homestay. Pelatihan yang dilaksanakan selama 3 hari ini bekerjasama dengan Politeknik Bintan Cakrawala (PBC) sebagai pemateri. PBC merupakan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan PT. Bintan Resort Cakrawala (BRC), sebuah perusahaan besar yang mengelola kawasan pariwisata terpadu dan terintegrasi di Kabupaten Bintan.
Hari kedua pelatihan, salah seorang general manager datang dan memberi motivasi, serta berbagi pengalaman mengenai pariwisata. Satu yang saya notice saat itu adalah ucapannya dengan bahasa melayu Singapura yang khas terdengar.
![]() |
| Pillbox di sekitaran Bandara (bukit dekat MAF Tarakan) |
![]() |
| Lokasi bunker di seberang ujung landasan pacu |
![]() |
| Pillbox di kantor Kargo Bandara Juwata |
![]() |
| Pintu masuk bunker di daerah Markoni |
![]() |
| Bangunan Tua dan Perumahan pekerja minyak BPM. |
![]() |
| Dua buah loopgraf di Kampung 1 |
![]() |
| Loopghraf yang berada di dalam rumah warga |
![]() |
| Tugu Australia |
![]() |
| Tugu Perabuan Jepang |
![]() |
| Tugu 10 Nopember Tarakan |
Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...