Showing posts with label Perminyakan. Show all posts
Showing posts with label Perminyakan. Show all posts

Tuesday, September 1, 2026

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, tepatnya di Pangkalan Brandan yang berhasil dikomersilkan dan resmi menandai fajar era migas Indonesia. Kali ini izinkan saya menulis babak baru migas di belahan lain Sumatra. Sebuah wilayah bernapas rawa dan hutan lebat yang sepintas tampak liar tak tersentuh, namun di balik sunyinya, tersembunyi "emas hitam" raksasa yang kelak mengguncang peta energi dunia dan mengubah wajah industri migas era modern secara drastis. Yap, inilah Sejarah Migas di Bumi Lancang Kuning: Riau.

Siapa tak kenal Riau. Provinsi beribukotakan Pekanbaru ini mendapat julukan Kota Minyak (selain Bumi Lancang Kuning). Julukan yang bukan tanpa sebab, "emas hitam" itu memang banyak terdapat di Provinsi ini, bahkan menjadi salah satu penyumbang devisa negara yang kita cintai ini. Nah tulisan kali ini akan membahas sejarah tentang penemuan migas raksasa tersebut. Gas!

Perjalanan besar industri minyak di bumi Lancang Kuning berawal pada tahun 1924, ketika para geolog dari Standard Oil Company of California (Socal) menempuh pelayaran selama 35 hari dari San Francisco untuk mencoba peruntungan di Hindia Belanda. 

Dikutip dari buku Pipeline to Progress keluaran 1983, Hindia Belanda merupakan tujuan pertama Socal mencari minyak di luar belahan bumi bagian barat. Misi utama tim geolog tersebut yakni menguji cekungan sedimen Hindia Belanda dan berusaha mendapatkan hak eksplorasi di wilayah yang menjanjikan minyak. Tim geolog ini dipimpin alumni University of California, Emerson McMilin Butterworth. Dia dibantu oleh Richard Nelson, Milo Orr dan Earl Wall.

Selama dua tahun tim geolog Socal berkeliling Hindia Belanda. Setiap kali melihat potensi minyak dan mengajukan hak eksplorasi, Socal selalu ditolak Pemerintah Kolonial. Tampak jelas Pemerintah Kolonial berusaha mempertahankan semaksimal mungkin posisi cadangan minyak Hindia Belanda untuk Royal Dutch Shell.

Socal tidak menyerah begitu saja. Butterworth melobi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk menekan Pemerintah Kolonial. Bersama Francis B Loomis dia memutuskan untuk berangkat ke Belanda demi memuluskan upaya Socal mendapatkan hak eksplorasi.
Demi memenuhi regulasi lokal, Socal kemudian mendirikan anak perusahaan bernama NV Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM) pada Juni 1930.
Namun, langkah mereka tidak langsung berjalan mulus. Pemerintah kolonial Belanda menerapkan Policy of Prudence untuk melindungi dominasi Royal Dutch Shell sekaligus menahan laju ekspansi perusahaan asing. Sikap skeptis tersebut makin diperkuat oleh laporan Louis Jean Chretien van Es, geolog Belanda yang bekerja untuk Dienst van den Mijnbouw in Nederlands Indies (Dinas Pertambangan Hindia Belanda) pada tahun 1930 yang menyebut kawasan Sumatera Tengah (wilayah Provinsi Riau saat ini) tidak berpotensi mengandung hidrokarbon karena didominasi lapisan kawasan granit lapuk dari zaman pre tersier, yang artinya kecil sekali kemungkinan adanya minyak bumi di daerah tersebut. Laporan yang keliru ini bahkan sempat memicu ejekan dari para pesaing yang memelesetkan kepanjangan NPPM menjadi "Non Producing Petroleum Maatschappij" (Perusahaan Minyak Tanpa Hasil).

Di lain tempat, pada tahun 1933 perusahaan migas bernama NV. SVPM didirikan. Perusahaan yang kemudian dikenal STANVAC ini merupakan gabungan antara perusahaan Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM) dengan Standard Oil of New Jersey. Mereka beroperasi di wilayah Lirik yang kini berada di wilayah administrasi Indragiri Hulu.

Keyakinan pemerintah Belanda bahwa wilayah tersebut "kering" justru menjadi celah keuntungan bagi NPPM. Pada tahun 1935, permohonan eksplorasi mereka akhirnya dikabulkan dengan konsesi seluas 600.000 hektar di Sumatera Tengah. Karena bentuk konsesi wilayah usahanya menyerupai hewan khas Australia akibat penyesuaian geologis, area ini pun dijuluki Blok Kanguru, wilayah ini yang di kemudian hari kita kenal sebagai Blok Rokan.

Untuk memperkuat operasional bisnisnya, Socal kemudian berpatungan dengan Texas Oil Company (Texaco) pada tahun 1936 dan membentuk California Texas Oil Company (Caltex), yang di Indonesia beroperasi dengan nama NV Caltex Pacific Petroleum Maatschappij.
Logo Standar Oil dan Caltex


Pada 1939, Socal mengirim geolog Richard Hutchinson Hopper. Ketika itu dia baru saja mendapatkan gelar PhD dari California Institute of Technology. Hopper ditugaskan untuk melanjutkan pekerjaan eksplorasi yang pernah dikerjakan oleh ahli Socal sebelumnya, yaitu Arthur Brown, Oscar van Beveren dan Walter Nygren. Richard Hopper bersama timnya nekat menerobos belantara hutan Sumatera yang ekstrem, menantang buaya, ular, nyamuk malaria, hingga ancaman keberadaan harimau di sekitar perkemahan mereka. 
Richard Hopper (kanan) saat melakukan eksplorasi di belantara Sumatera (sumber: PT. Chevron Pacific Indonesia)

Usaha pantang menyerah tersebut akhirnya membuahkan penemuan sejarah penting sepanjang periode 1939 hingga 1941. Melalui eksplorasi geologi dan seismik yang intensif, temuan rembesan gas di hulu Sungai Sebanga, Bengkalis, pada tahun 1939 resmi dicatat sebagai penemuan migas pertama di Riau. Hanya berjarak tujuh bulan setelah keberhasilan di Sebanga, tim kembali menemukan potensi minyak berukuran besar di Lapangan Duri. Memasuki akhir tahun 1941, setelah mengidentifikasi jejak minyak dan struktur cekungan (dome) yang masif di Minas, Siak, tim langsung membangun anjungan pengeboran senilai US$ 1 juta.

Sayangnya, berkecamuknya Perang Dunia II merusak rencana tersebut. Invasi tentara Jepang pada awal tahun 1942 memaksa proses pengeboran di Minas terhenti seketika. Menariknya, Richard Hopper kelak mengakui bahwa peta keliru yang dibuat oleh geolog Belanda pada tahun 1930 itu sebenarnya merupakan "kekeliruan terbesar dalam sejarah industri minyak". Sebab tanpa peta salah tersebut, mereka mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di Indonesia.

Di bawah masa pendudukan Jepang (1942–1945), unit teknis khusus tentara Jepang yang dipimpin Toru Uki, seorang geolog muda lulusan Universitas Kyushu mengambil alih seluruh peralatan pengeboran yang ditinggalkan dan melanjutkan operasi pencarian migas. Tepat pada 1 Desember 1943, pendudukan Jepang berhasil menemukan sumur monumental Minas #1, dan pada tahun 1944 minyak resmi mengalir dari kedalaman 2.107 kaki (sekitar 700 meter). 
Nama "Minas" sendiri diambil dari perkampungan suku Sakai setempat, merujuk pada nama pohon Minei yang buahnya diolah sebagai bahan baku minyak goreng.
Namun, Jepang tak lama menikmati migas di Riau. Hancurnya 2 kota besar di negara asal mereka, membuat mereka menyerah dan "undur diri" dari panggung perang dunia, dan Indonesia merdeka!

Rig Pemboran di Riau (sumber: Komunitas Facebook PT Caltex)

Hopper kembali ke Indonesia Seusai Perang Dunia II, Hopper bergegas menuju Jakarta dari Australia bersama seorang Belanda sesama pegawai NPPM sebelum perang, AJL Wenink.

"Misi kami saat itu membuka kembali kantor Jakarta dan Medan, menolong pegawai NPPM dan keluarganya yang telah selamat dari perang, dan mencari informasi tentang apa yang terjadi di Jawa dan Sumatera selama masa perang" kata Hopper dalam artikel "Indonesia: 50 Years of Good Fortune", majalah Chevron World, Fall edition 1986.

Ketika tiba di Medan, dia dikejutkan oleh berita yang disampaikan GN Laive, insinyur Belanda yang bekerja untuk NPPM. Ketika perang berlangsung, Laive menjadi tawanan perang di sebuah kamp yang tak jauh dari Pekanbaru.

Saat perang usai, Gedok dan Saadi, dua kru lokal pengebor lapangan Minas, datang ke kamp tempat Laive ditahan. Berita yang mereka bawa adalah Jepang telah berhasil mengebor minyak di Minas pada kedalaman 800 meter, sesuai dengan lokasi pengeboran yang ditentukan perusahaan sebelum perang.

Hopper yang gelisah mendengar kabar itu segera berusaha menuju Minas. Mengutip dari buku “Ribuan Tahun Sumatera Tengah” yang ditulis Hopper, terbitan Penerbit Komunitas Bambu, 2016, bermodal selembar surat jaminan khusus yang ditanda tangani Wakil Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim, Hopper berhasil mencapai Padang.

Langkahnya terhenti di kota itu karena dilarang masuk ke Pekanbaru oleh Markas Tentara Inggris yang berkedudukan di Padang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Hopper kemudian meminta bantuan Brigadier Hutchinson (Komandan Tentara Inggris Sumatera Tengah) dan Kolonel Tsushima (liaison officer Tentara Jepang untuk Inggris).

Hopper meminta tolong mereka untuk mengambil contoh sampel minyak mentah Minas dan laporan harian uji eksplorasinya. Toru Oki yang saat itu masih berada di Minas, memberikan dua jeriken minyak Minas dan data yang diminta Hopper kepada Tsushima. Barang tersebut akhirnya dibawa Hopper ke Jakarta dengan menumpang pesawat milik Angkatan Udara Inggris atau Royal Air Force (RAF).

Sampel minyak bumi Minas tersebut akhirnya dikirim ke petinggi Socal di San Francisco dengan menggunakan kapal SS Cape Constance untuk diteliti. Hasil laboratorium Socal menyatakan minyak Minas memiliki kadar belerang yang rendah dan bermutu tinggi. Daerah Minas pada saat itu merupakan cadangan minyak terbesar di Asia Tenggara. Di dunia perminyakan, minyak Minas itu dikenal sebagai Sumatran Light Crude.

Tahun 1950, nama operasional di Indonesia disesuaikan menjadi Caltex Pacific Oil Company (CPOC), lalu menjadi Caltex Pacific Company (CPC). Pada tahun 1952, produksi minyak Minas diresmikan dengan dihadiri berbagai pejabat negara. 

Pasca-kemerdekaan Indonesia, terjadi pergeseran dinamika regulasi pengelolaan sumber daya alam. Berdasarkan amanat Pasal 33 UUD 1945 bahwa kekayaan alam dikuasai oleh negara, sistem konsesi lama (Indische Mijn Wet) resmi dihapuskan melalui UU No. 44 Tahun 1960. Pengusahaan kekayaan migas dialihkan sepenuhnya kepada Perusahaan Negara (PN), sementara entitas asing bergeser status menjadi kontraktor.

Pada Februari 1963, didirikan PT. Caltex Pacific Indonesia (PT. CPI). Selanjutnya pada September 1963, PN Pertamina menandatangani Perjanjian Kontrak Karya (Contract of Work) bersama PT. CPI untuk mengelola Blok Rokan I dan III. Wilayah kerja CPI terus mengepakkan sayap hingga mencakup areal seluas 9.898 km² pada tahun 1968 yang meliputi Sebanga, Minas, Duri, Libo, dan sekitarnya (selain operasional STANVAC atau NV SVPM yang juga berproduksi di daerah Lirik). Dari perut bumi Riau ini lahir dua jenis minyak mentah unggulan kelas dunia: Minas (Sumatran Light Crude / SLC) yang bermutu tinggi dan ber-sulfur rendah, serta Duri yang berkarakter heavy crude dengan kandungan tar dan aroma belerang yang khas.

Gelombang Era Reformasi turut mengembuskan semangat otonomi daerah melalui lahirnya UU No. 22 Tahun 2001. Undang-undang ini membuka pintu lebar-lebar bagi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk terlibat langsung dalam pengelolaan hulu dan hilir migas. Kebijakan ini sekaligus mengobati aspirasi masyarakat Riau yang selama puluhan tahun merasa hanya menjadi "penonton" di daerahnya sendiri (di mana penyerapan tenaga kerja lokal sebelumnya berada di bawah 5%).

Proses pengambilalihan blok migas oleh konsorsium lokal pun dimulai. Pada 6 Agustus 2002, Blok Coastal Plain and Pekanbaru (CPP) resmi dialihkelolakan dari PT. CPI ke konsorsium BUMD PT. Bumi Siak Pusako (BSP) bersama BUMN (Pertamina Hulu). Pada tahun 2005, PT. Caltex Pacific Indonesia menjadi Chevron Pacific Indonesia setelah mengakuisisi penuh Texaco. 

Chevron Pacific Indonesia

Pengambilalihan blok migas juga disusul oleh beralihnya Blok Langgak (Mountain Front Kuantan) pada 20 April 2010 ke konsorsium BUMD PT. Sarana Pembangunan Riau (SPR) dan Kingswood Capital Ltd. Transisi blok-blok lainnya seperti Blok Siak dan Blok Kampar juga terus berjalan seiring habisnya masa kontrak PSC (Production Sharing Contract).

Sejak diproduksi secara komersial pada tahun 1954, Blok Rokan secara akumulatif telah menyumbang lebih dari 11 hingga 12 miliar barel minyak mentah yang bersumber dari ratusan lapangannya (seperti Minas, Duri, Bangko, Bekasap, Balam South, Kotabatak, Petani, Pematang, Petapahan, dan Pagar), di mana Lapangan Minas sendiri menyumbang lebih dari 2,75 miliar barel.

Kini, estafet pengelolaan Blok Rokan sepenuhnya berada di bawah kendali PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Walau mengoperasikan brownfields (lapangan tua), PHR berhasil mengukir prestasi dengan menekan laju penurunan produksi alamiah dari 11% menjadi hanya 6% per tahun, serta menjaga rata-rata produksi harian di kisaran 160 ribu barel minyak per hari (bopd).

Keberhasilan ini didukung oleh penerapan teknologi modern. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama PHR Rubi Mulyawan (dengan FID yang disetujui pada 30 Juni 2024), proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Minas Stage-1 ditargetkan melakukan injeksi perdana pada Desember 2025 demi menambah cadangan hingga 2,1 juta barel. Selain itu, di bawah arahan tim perwira PHR dan EVP Upstream Business Andre Wijanarko, PHR mengoperasikan Advanced Reservoir Management berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui aplikasi VENUS (pengembangan dari inovasi e-MARS). Inovasi evaluasi sub-surface berbasis AI yang pertama di dunia ini sukses menciptakan nilai tambah (value creation) sebesar Rp200 miliar dari 150 sumur tua yang sempat mati (idle) tanpa perlu melakukan pengeboran sumur baru.

BUMD dan BUMN yang mengelola Lapangan Migas di Riau

Secara keseluruhan, perjalanan panjang migas Riau yang dimulai dari langkah awal geolog Socal pada tahun 1924, pembuktian keteguhan di Sebanga dan Duri, penemuan sumur Minas #1 di tengah Perang Dunia II, hingga penguasaan teknologi AI oleh Pertamina Hulu Rokan dan BUMD Riau saat ini, merupakan gambaran nyata dari kegigihan perjuangan manusia, rekayasa teknologi, dan transformasi kedaulatan energi nasional Indonesia.

Sumber:

Thursday, June 6, 2024

Sejarah Perminyakan di Bumi Lambung Mangkurat

Sudah lama kiranya aku tak menulis. Ku akui semangat ini menurun beberapa waktu terakhir. Banyak hal-hal dan informasi yang tertinggal. Namun setelah mengumpulkan niat dan membulatkan tekad, sekarang mari kita lanjutkan lagi berbagi ilmu ini. Kali ini kita lanjut dengan sejarah penemuan migas di bumi Lambung Mangkurat: Kalimantan Selatan. Yap, jom!

Kalimantan Selatan yang biasa disingkat dengan Kalsel merupakan sebuah provinsi yang terletak di Pulau Kalimantan / Borneo. Meski menyandang predikat provinsi dengan luas terkecil di Kalimantan (38.744,23 km2), Kalsel merupakan salah satu provinsi tertua di Kalimantan. Ia berdiri pada tahun 1950 setelah sebelumnya merupakan 1 dari 3 keresidenan di Provinsi Borneo. 

Sebagai salah satu pulau besar di dunia, Kalimantan memiliki berbagai macam sumber daya alam yang dikandungnya. Mulai dari permukaan tanah berupa air, dan ribuan jenis tanaman dan hewan, hingga sampai ke perut bumi yang berisi emas, batubara hingga migas.

Menara pengeboran minyak di Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong. (PERTAMINA)

Sejarah perminyakan di Bumi Lambung Mangkurat -julukan Kalsel- ini bermula di suatu tempat bernama Murung Pudak yang menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Tabalong saat ini. Di suatu tempat bernama Warukin, pada tahun 1898, perusahaan Belanda bernama Mijn Bouw Maattschappij Martapoera mulai mencari minyak di daerah tersebut, namun belum menemukan hasil yang memuaskan.

Pada tahun 1912, eksplorasi migas dilakukan oleh lagi perusahaan migas Belanda lainnya yang bernama Dortsche Petroleum Maattschappic. Karena keterbatasan sesuatu dan lain hal, pada tahun 1930 Dortsche Petroleum Maatschappic tak mampu bekerja untuk mengeksplorasi migas di daerah tersebut hingga akhirnya memilih bergabung dengan NV BPM (Bataafsche Petroleum Maattschappic), perusahaan minyak yang berhasil mengeksplorasi wilayah Kalimantan Timur.

BPM adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Royal Dutch Shell yang mengkhususkan kegiatannya pada eksploitasi dan produksi, sedangkan Royal Dutch Shell sendiri merupakan merger dari dua perusahaan yaitu Royal Petroleum Company (De Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij) dengan Shell Transport and Trading Company pada tahun 1907. Untuk kegiatan pemasaran dilakukan oleh perusahaan afiliasi BPM yaitu Asiatic Petroleum sedangkan untuk transportasi ditangani oleh perusahaan afiliasi BPM yang lain yaitu Anglo Saxon Petroleum Company. BPM pada saat itu memiliki wilayah konsesi minyak di Sumatera Utara (Telaga Said & Perlak), Kalimantan (Sanga sanga, Balikpapan, Tarakan, Samboja, Bunyu dan Tanjung), serta Jawa (Cepu). Selain menangani operasional dan produksi, BPM juga memiliki unit kerja yang lain yaitu instalasi pipa-pipa penyalur serta operasional pengolahan berupa kilang-kilang penyulingan minyak bumi. Pada rentang waktu tahun 1930 – 1939 di bawah pengelolaan BPM, di daerah Tabalong ditemukan pula sumur-sumur minyak yang lain yaitu lapangan Warukin, lapangan Dahor dan lapangan Kambitin.
Wilayah Murung Pudak (Kabupaten Tabalong saat ini)

Di Murung Pudak, BPM aktif mengeksplorasi hidkrokarbon. Hingga akhirnya mereka menemukan struktur minyak di daerah Tanjung Tabalong (1934), Warukin Tengah (1937) dan Kambitin (1939). Pencarian tersebut terus dilakukan hingga tahun 1940 meski tak sempat diproduksi dalam skala besar karena pecahnya perang dunia II saat itu.

Pada tahun 1942, di saat wilayah Nusantara dikuasai Jepang. Pencarian migas di Murung Pudak-Tanjung dilakukan oleh Jepang. Dengan segala sisa yang ada, Jepang kembali mengeksplorasi migas yang pernah dilakukan oleh BPM tersebut. Usaha Jepang ini dilakukan untuk mensuplai kebutuhan energi guna mendukung perang Asia Timur Raya yang sedang bergejolak.

Jejak Jepang dalam pencarian migas di wilayah Murung Pudak-Tanjung tak berlangsung lama. Setelah kalah pada perang tahun 1945, secara otomotatis semua kegiatan ke-Jepang-an di Nusantara juga ikut terhenti. 

Setelah lama terhenti, kegiatan migas di Murung Pudak ini kembali aktif pada sekitar tahun 1957-1958. Perusahaan BPM kembali mendapat kepercayaan untuk mencari sang "emas hitam" tersebut. Karena perkembangannya yang cukup signifikan. BPM membangun jaringan pipa penyalur sepanjang lebih dari 200 km menembus gunung dan hutan belantara dari Tanjung menuju Balikpapan yang memiliki kilang minyak. Jalur pipa dengan fasilitas pemompanya yang terletak di Manunggul ini selesai dibangun selama 3 tiga tahun dan selesai pada tahun 1961.

Pengelolaan minyak di Murung Pudak diambil alih oleh Royal Dutch Shell, dan mereka mencapai jayanya pada tahun 1963 dengan angka produksi 46.800 bopd. Namun kiprah perusahaan tersebut tak lama. Ia berakhir pada nasionalisasi perusahaan. Semuanya diserahkan pada PN Permina yang dipimpin Letjend Dr. Ibnu Sutowo pada tahun 1965 yang selanjutnya menjadi Pertamina pada tahun 1968.

Usaha eksplorasi minyak di wilayah Kalimantan Selatan terus berlanjut di era Pertamina. Lapangan-lapangan baru ditemukan, produksi ditingkatkan. Situs Tapian Timur ditemukan tahun 1967 dan baru diproduksi tahun 1977 dan dipompakan langsung ke Balikpapan. Situs Kambitin yang semula juga terkendala transportasi berhasil diatasi dengan membangun Test Unit dan saluran pipa yang juga dikirim ke Balikpapan. 


Minyak Tanjung Raya berasal dari jebakan cekungan Barito. Sekalipun bersumber dari cekungan yang sama, uniknya minyak Tanjung Raya bervariasi titik tuangnya (pour point). Guna meningkatkan produksi minyak Tanjung (Murung Pudak), PN Pertamina berusaha menemukan sumur-sumur minyak baru, dan menjalin kerja sama dengan perusahaan asing yang berminat mengelola minyak bumi di Tanjung (Murung Pudak).

Beberapa perusahaan asing yang menjalin kerja sama dengan PN Pertamina untuk mengelola minyak bumi di Tanjung (Murung Pudak) di antaranya adalah PT Shoutern Cross, PT Bow Valley, dan yang terakhir sampai saat ini adalah PT Talisman dari Kanada.

Pertamina mengundang Talisman Energy pada era 1990an karena keahlian mereka pada kegiatan Perolehan Minyak Tahap Lanjut / Enhanced Oil Recovery (EOR), khususnya metode waterflood (injeksi air). Hal ini menjadikan Lapangan Tanjung menjadi lapangan pertama di lingkungan Pertamina yang menerapkan EOR waterflood. Teknologi ini menaikkan produksi ke level sekitar 5.000–10.000 bopd (puncak waterflood), meski kemudian menurun lagi. Mereka juga menerapkan program hydraulic fracturing (propped hydraulic fracturing) yang membantu menjaga produksi stabil di sekitar 7.000 bopd selama beberapa tahun dan menambah cadangan recoverable.

Kerja sama pengelolaan minyak bumi di Tanjung (Murung Pudak) tersebut kemudian dikenal dengan nama JOB PTTL (Join Operating Body Pertamina Talisman Tanjung Limited).

Saat ini, PT. Pertamina terus berusaha menemukan sumur-sumur minyak baru dan menjalin kerjasama dengan perusahaan asing yang berminat mengelola minyak di bumi Tabalong.

Salah satu sumur yang di kelola Pertamina EP Tanjung (foto diambil tahun 2016)

Meskipun sudah berumur 100 tahun lebih sejak pemboran pertamanya (mature field), lapangan Tanjung saat ini masih berproduksi dan dikelola 100% oleh PT Pertamina EP Tanjung Field (Zona 9, Regional 3 Kalimantan), di bawah naungan Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dan bekerjasama dengan SKK Migas.



Sumber:
https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/11/04/menelusuri-tempat-bersejarah-di-kalsel-penggalian-minyak-di-murung-pudak
http://nurindarto.blogspot.com/2011/06/ladang-minyak-tabalong-1898-sekarang.html
https://hasanzainuddin.wordpress.com/2012/06/30/kota-tanjung-dengan-ratusan-subur-minyak/
https://metro7.co.id/daerah/kalimantan-selatan/tabalong/dari-tabalong-untuk-indonesia-seabad-tetesan-minyaknya-melayani-dengan-tulus-pembangunan-negeri/2020/

Friday, November 18, 2022

Cerita Tenis Lapangan: Masuknya Tenis ke Natuna dan Perkembangannya

Setelah terbentuk pada tahun 1935, PELTI dengan segala lika-liku perjalanannya telah melewati berbagai masa. Mulai dari pengaruh kolonial Belanda, tidak aktif dimasa Jepang, hingga perjuangan menghidupkan kembali pada masa pasca kemerdekaan. Semua dilalui PELTI dengan teguh dan pantang menyerah, sesuai dengan slogan pada logonya: PANTANG SURUT.  Pelti terus mengembangkan program kerjanya dalam mengenalkan tenis ke seluruh pelosok Nusantara. 

Dan itu terbukti dengan banyaknya atlet-atlet tenis di luar Jawa yang ikut serta dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung sejak tahun 1948 di Solo. Masa keemasan tenis Indonesia pada kurun 1968 hingga 1987 berimbas juga pada penyebaran olahraga ini di pelosok tanah air. Tak terkecuali di Natuna, sebuah kepulauan di ujung utara Republik ini.

Tenis diperkirakan masuk ke Natuna pada tahun 1970an, ia kemungkinan besar dibawa oleh para pekerja minnyak dan gas pada awal mula eksplorasi di laut Natuna ini berlangsung. Tahun 1960-1980 merupakan tahun-tahun dimana eksplorasi migas besar-besaran dilakukan di laut Natuna setelah ditemukannya cadangan hidrokarbon yang besar di perairan sebelah barat kepulauan itu. 

Dalam kurun waktu 1970an itu pula, beberapa pulau di Natuna mendapat kunjungan tamu dari luar, baik dari pusat maupun negara asing. Ada yang tinggal dalam beberapa waktu, ada pula yang sebentar seperti melakukan perjalanan dinas kerja. Orang-orang dari luar inilah kemungkinan yang berperan besar dalam membawa tenis lapangan ke Natuna.

Lapangan tenis pertama di Natuna ada di pusat kota Ranai, tepatnya di dekat Simpang Empat. Lapangan tenis ini berjumlah dua buah dan terbuat dari semen. Menurut keterangan papa saya, Noorhidayat (Buyung), tahun 1970an ia sudah menjadi ballboys ketika ayahnya (kakek saya) bermain tenis dengan bule di lapangan tersebut. Raketnya yang digunakan masih berbahan kayu. Daerah tersebut memang merupakan pusat olahraga sekaligus pusat hiburan, karena di sebelahnya juga terdapat lapangan bola dan gedung pertemuan yang digunakan dalam berbagai acara.

Bekas Lapangan Tenis di SMP Negeri 1 Bunguran Timur

Tenis lapangan lambat laun mendapat tempat di hati masyarakat Natuna khususnya di Ranai dan sekitarnya. Pada tahun 1980an ada dua lapangan tenis tambahan yang dibangun, yang pertama di dekat SMPN 1 Bunguran Timur, papa menceritakan bahwa lapangan tenis ini berasal dari lapangan voli yang dialihfungsikan. Lalu yang kedua adalah di pangkalan udara TNI AU, lapangan ini dibuat oleh TNI AU dan perusahaan minyak (yang saat itu memiliki basecamp di hangar LANUD Ranai). Belum diketahui yang mana terlebih dahulu dibangun antara dua lapangan ini.

Seiring berjalannya waktu, tenis mendapat perhatian dari pemerintah. Ini terlihat dengan dibangunnya lapangan tenis pemda Natuna di kawasan Batu Kapal. Karena lokasi yang dekat dengan kota, lapangan tenis ini menjadi tempat lokasi favorit baru bagi para pecinta tenis. Sehingga lahir komunitas tenis yang diberi nama Natuna Tennis Community.

Lapangan Tenis Batu Kapal

Giat tenis di lapangan pemda (selanjutnya lebih akrab dengan sebutan Lapangan Tenis Batu Kapal) ini semakin berkembang. Tak hanya sebagai ajang melepas hobi bagi para pemain dewasa, namun juga membuka kesempatan latihan bagi petenis muda untuk regenerasi kedepannya. Bahkan tenis junior Natuna pernah ikut serta dalam ajang Batam Tennis Junior Open pada tahun 2005. Dan pada tahun yang sama, salah satu atlet tenis junior Natuna menjadi delegasi kontingen Provinsi Kepulauan Riau (kontingen peninjau) dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2005 di Medan.

Saya kembali mengingat, kala itu masih kelas 3 SD, papa mengajak saya ke lapangan tenis, bermain, dan kemudian dilatih oleh bang Yanto, lalu dilanjutkan oleh bang Udin. Pertengahan taun 2000an, Pengkab Pelti Natuna mendatangkan pelatih tenis junior nasional asal Pontianak, bapak Zulkarnain (pak Jul) untuk melatih para petenis junior Natuna. 

Latihan intens mulai dilakukan oleh pak Jul, metode pelatihan yang menyenangkan menarik banyak peminat petenis muda. Sayang, program ini tak bertahan lama. Pak Jul kembali ke Pontianak. Kepelatihan Tenis dilanjutkan oleh pak Rahman (alm), bang Kas, coach Nyat (Jamiat), dan lain-lain.

Kian hari, tenis di Natuna semakin banyak peminatnya, ia datang dari berbagai kalangan. Lalu, agar terciptanya wadah tempat para petenis ini bernaung, akhirnya dibentuklah Pengurus Kabupaten (Pengkab) PELTI Natuna dengan ketua pertamanya Darmansyah (alm). Pengurus PELTI pertama ini banyak melakukan kegiatan-kegiatan seperti tur persahabatan dengan Pengurus Kota (Pengkot) PELTI Pontianak, Kalimantan Barat, ikut serta dalam berbagai lomba tingkat provinsi, bahkan sampai ke negeri jiran, dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, pembinaan atlet muda juga terus dilakukan. 

Tim Tenis Natuna pada Porprov Kepri 2022 di Bintan

Tenis Natuna juga ambil bagian dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau, dari edisi pertama tahun 2006, hingga yang ke V di tahun 2022 ini. Meski dengan prestasi yang naik turun, namun tenis Natuna sudah bisa unjuk gigi dalam beberapa ajang perlombaan. 

Ketua PELTI kedua adalah bapak Kamaruddin, yang menjadi plt Ketua Umum setelah bapak Darmansyah meninggal dunia. Lalu dilanjutkan dengan bapak Marsidi yang menjadi ketua Pengkab PELTI Natuna hingga tahun 2020. Tampuk kekuasaan Pengkab PELTI Natuna berpindah dari bapak Marsidi ke bapak Iskandar Dj, sayang baru beberapa hari menjabat, beliau wafat secara mendadak karena serangan jantung. Ketua Umum Pengkab PELTI Natuna selanjutnya dipegang oleh Daeng Ganda Rahmatullah untuk periode 2020-2025.

Pelantikan Penkab PELTI Natuna 2020-2025

Sunday, January 27, 2019

Peristiwa Merah Putih di Sangasanga: Jejak Perjuangan di Kota Tua Minyak

Dunia perminyakan mendapat peranan penting dalam perkembangan bangsa Indonesia. Banyak peristiwa besar yang terjadi di negeri ini dilatarbelakangi oleh cairan hitam ini. Dalam pembahasan dulu, saya pernah menjelaskan beberapa tempat di Indonesia yang mempunyai kaitan erat dengan minyak dan gas.

Peristiwa Pangkalan Brandan Lautan Api, Hari Jadi Kota Balikpapan, sampai Tarakan yang menjadi saksi bisu perang pasifik merupakan sederet peristiwa besar di Nusantara Indonesia yang minyak dan gas menjadi "dalangnya". Dan kali ini akan ada satu bahasan lagi mengenai peristiwa besar di tanah air yang dilatar-belakangi oleh migas. Bahkan rakyat tempat daerah tersebut sekarang ini meminta agar hari tersebut diangkat menjadi hari besar dan hari libur : 
Sanga-sanga, Kalimantan Timur.

Sanga-sanga, kini ia merupakan sebuah kecamatan di bagian pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara. Di bumi Sanga-sanga ini dulu dikenal sebagai lokasi batubara, lalu berubah menjadi "Kota Minyak" kala cairan hitam itu ditemukan J.H. Menten pada akhir 1890an. Louise 1, merupakan nama sumur yang kali pertama memuntahkan minyak mentah dari bumi Sanga-sanga dengan produksi awal 88 BOPD. 
Sumur Louise 1, Sanga-sanga (niaga.asia)
Sanga-sanga, dari negeri terpencil yang berada di pesisir Kutai Kartanegara, dengan cepat berubah menjadi kota modern dizamannya pasca penemuan minyak oleh Menten. Berbagai fasilitas ada di Sanga-sanga sebagai penunjang lancarnya operasi perminyakan disana. Pada tahun 1939, Sanga-sanga sudah memiliki 7 dermaga, 613 sumur dengan produksi 70 ribu ton minyak sebulan. Bahkan, pesawat amfibi Catalina sering mendarat di sungai di Sanga-sanga ini. Daerah yang sebelumnya sepi menjadi berpenduduk ribuan lebih yang diisi oleh para pekerja minyak, baik dari Eropa, Asia, maupun dari berbagai tempat dan pulau di Nusantara Indonesia. Adalah NV de Bataafshe Petroleum Maatschappij (BPM) yang bekerja sama dengan Shell, dua perusahaan raksasa dari Eropa ini yang mengeruk hasil bumi Sanga-sanga.
Pompa Angguk Sanga-sanga jaman dulu, (bontangpost.id)

-----------
Masa kejayaan Belanda mengelola minyak di Sanga-sanga tergolong lama, hampir setengah abad. Sebelum akhirnya dipaksa menyerah tanpa syarat oleh Jepang. Pada 1942, tentara Jepang melakukan serangan dadakan kepada Belanda. Jepang yang telah sukses menduduki Tarakan terlebih dahulu itu lalu melanjutkan invasinya ke pesisir timur pulau Kalimantan. Salah satu tujuannya adalah untuk mencari sumber bahan bakar guna mendukung lancarnya peralatan untuk menggerakkan alat-alat perang yang digunakan Jepang dikancah perang dunia II.

Setelah menundukkan Belanda, Jepang secara "resmi" mendapatkan Nusantara pada tahun 1942. Lapangan minyak di Sanga-sanga yang semula hancur akibat gempuran saat perang berkecamuk dengan cepat diperbaiki Jepang dan kembali berfungsi. Untuk mendukung kelancaran operasi minyak, Jepang mendatangkan para pekerja dari Jawa untuk dijadikan romusha. Mereka dijanjikan pekerjaan dan pendidikan yang layak bagi sesiapa yang ikut ke Kaltim. Mereka berasal dari Malang, Jogjakarta, Semarang, dan kota-kota di Jawa Barat. Sebagian pekerja adalah para cendekiawan. Para pekerja dari berbagai daerah terbagi dalam rombongan-rombongan seperti rombongan Malang I, Malang II, rombongan Yogyakarta, dan lain-lain. Para pekerja ini lah yang kelak akan ikut ambil bagian dalam peristiwa bersejarah yang akan selalu dikenang masyarakat Sanga-sanga.

Selama menduduki Hindia Belanda (Indonesia), Jepang memeperlakukan para pekerja dan bekas anggota KNIL dengan tidak manusiawi. Mereka dipaksa bekerja keras, tinggal dibarak-barak dengan penjagaan yang ketat. Makanan dan obat-obatan tidak tersedia. Semua hanya untuk tentara Jepang. Mereka hanya fokus pada peperangan dan pertahanan.

Usaha sekutu untuk menggempur Jepang juga masih dilakukan. Oleh karena itu pula Jepang membentuk organisasi-organisasi sosial yang berfungsi membantu pihak Jepang, seperti Seinendan, Konan Hokoku Dan, dan Fujinkai. Pemuda-pemuda ini dilatih militer hingga bela diri selama beberapa bulan. Hingga akhirnya mereka resmi menjadi Kaigun Heiho dan dilantik menjadi Nyitun Heiho (prajurit). Setelah itu mereka disatukan dengan tentara Jepang dan dipisah menurut kompi-kompi yang bertugas membantu tentara Jepang melawan sekutu.
Namun disisi lain, para pekerja khususnya dari Jawa juga membentuk organisasi bernama Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD) yang menghimpun para pekerja yang didatangkan Jepang dari Jawa beberapa waktu lalu.
Usia Jepang di Indonesia tak bertahan lama, awal tahun 1945 tentara sekutu menggempur habis-habisan Jepang yang membuat mereka kalang kabut, hingga puncaknya Jepang mengaku kalah ketika dua kota besarnya dijatuhkan bom atom oleh Amerika Serikat, agustus 1945. Indonesia merdeka. Kemerdekaan Indonesia terdengar oleh rakyat Sanga-sanga beberapa waktu setelahnya. Soedirin, yang merupakan anggota BPPD mencoba mencari radio-radio yang disembunyikan dan dapat digunakan lalu mencuri berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia secara sembunyi-sembunyi.

Selain melakukan tugas sosial, anggota BPPD juga memiliki tugas sebagai penerang dan memberitakan kepada warga tentang proklamasi Indonesia. Berita tentang kemerdekaan ini didapat oleh Soedirin yang bekerja di stasiun radio Markas Tentara Pendudukan Sekutu Australia. Soedirin mencatat hal-hal penting lalu disebarkan kepada anggota BPPD. Selain itu BPPD juga kerap membuat pertunjukan seni, seperti Ketoprak, Ludruk dan SANDISA (Sandiwara Sanga-sanga) yang kebanyakan ceritanya mengangkat tentang semangat perjuangan dan kemerdekaan.
Pengibaran Bendera Merah Putih di Sanga-sanga, (bontangpost.id)

BPPD juga melatih para pemuda di tempat yang tersembunyi untuk latihan baris-berbaris, taktik perang, menggunakan senjata, dan lain-lain hingga mengadakan tugas-tugas rahasia dalam rangka menjalin kerjasama dengan para pejuang di Balikpapan dan Samarinda.
Tanggal 21 Agustus 1945 Jepang menarik diri dari Sanga-sanga, sehingga membuat ex-romusha dan pasukan Heiho yang dibentuk Jepang pun terbengkalai dan terputus hubungannya begitu saja dengan pemerintah Jepang. Bendera Merah Putih baru berkibar di Sanga-sanga pada tanggal 26 Oktober 1945. Selasa pagi di depan markas BPPD di distrik IV atas persetujuan dan pengawasan tentara sekutu Australia.

Tentara Australia dianggap sebagai pembebas dari apa yang telah mereka rasakan selama ini. Kedatangan mereka disambut dengan kesenian-kesenian rakyat sebagai bentuk rasa gembira telah terbebas dari cengkraman penjajahan Jepang. Namun hal itu tak memakan waktu lama, tentara sekutu kembali ditarik ke negara masing-masing pada tanggal 17 Desember 1945. Lalu diganti dengan KNIL Korps Manila (bekas KNIL dari Manila yang dipersenjatai). Ternyata Belanda masih ingin kembali menjajah Indonesia. Sebab saat  tentara sekutu menyerang Jepang hingga Jepang menyerah dan Indonesia merdeka, Belanda mengirimkan mata-matanya untuk "mensurvey" keadaan yang ada di Sanga-sanga serta mencari tentara NICA yang masih pro-Belanda untuk kembali masuk ke barisan Belanda nantinya.

Saat NICA mengambil alih Sanga-sanga, segala bentuk kegiatan dilarang, termasuk kegiatan yang menjurus ke politik dan perjuangan kemerdekaan. Dengan adanya larangan ini maka gerak organisasi BPPD menjadi terhambat, sementara mata-mata NICA terus mengawasi gerak-gerik anggota BPPD. 
Pasukan NICA dari Balikpapan datang ke Sanga-sanga. (bontangpost.id)

Tanggal 30 Desember 1945, BPPD mengadakan malam kesenian bertajuk "Merah Hijau" yang disutradarai oleh Soedirin. Ini merupakan "kode" dan pesan kepada para pemuda dan pengurus BPPD bahwa seolah-olah mereka akan dihadapkan ke meja hijau (akan ditangkap). Puncaknya pada 31 Desember 1945 pagi, Belanda mengadakan pembersihan di Sanga-sanga khususnya di markas BPPD, segala alat, dokumen, bahkan bendera disita, ratusan anggota BPPD ditawan.

Aksi Belanda ini berlanjut tanggal 2 Januari 1946, NICA kembali mencari anggota BPPD yang belum tertangkap atas petunjuk dan informasi dari NICA Belanda, pribumi yang berkhianat dengan bangsa sendiri. Sejumlah tahanan dibebaskan setelah menjalani pemeriksaan intensif, tahap pertama bersisa 28 orang, kemudian dilakukan pemeriksaan lagi sehingga menjadi 16 orang, termasuk Soedirin dan Soekasmo.
Penjara Belanda di Sanga-sanga, (http://pbkukar.blogspot.com/)
Tanggal 14 Juli 1946, 16 tawanan ini dipindahkan ke Balikpapan dan pada tanggal 26 Juli mereka dibebaskan setelah dipaksa membuat pernyataan setia kepada NICA Belanda. Sementara itu, di Sanga-sanga tidak berhenti organisasi perjuangan, malah semakin banyak, bertunas, dan bertumbuh. FONI (Fonds Nasional Indonesia) dan INI (Ikatan Nasional Indonesia) yang berpusat di Balikpapan, KNI (Keputusan Nasional Indonesia) dan PPK (Pers Pemuda Kalimantan) adalah organisasi-organisasi yang lahir dimasa pendudukan Belanda "kedua" ini.

Pejuang BPPD yang dibebaskan ini kemudian menyebar ke berbagai daerah. Soedirin dan beberapa yang lain ke Samarinda, Kasman Hadiwidjono ke Pare-pare Sulawesi Selatan untuk membentuk badan-badan perjuangan di daerah yang baru. Dan beberapa yang lain pulang ke Sanga-sanga untuk meneruskan perjuangan, termasuk Soekamso. Ia dan beberapa yang lain mulai memikirkan dan merencakan serta mangtur kembali organisasi perjuangan, lalu terbentuklah BPRI (Badan Pembela Rakyat Indonesia).
Pejuang BPRI (https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ)
BPRI merupakan gabungan dari badan-badan perjuangan yang ada di Sanga-sanga termasuk eks KNIL yang pro Indonesia. Mereka selalu mengadakan rapat untuk menyatukan pendapat serta bertukar informasi tentang para warga Indonesia yang pro-Belanda dan harus diwaspadai. Gaung kemerdekaan yang sudah terngiang di telinga rakyat Kaltim membuat mereka tidak mau lagi didatangi penjajah. Lalu berbagai strategi dilakukan untuk memukul mundur Belanda dari Sanga-sanga. 

Pemberontakan
Rakyat Sanga-sanga sudah merencanakan untuk melakukan penyerangan. Penyerangan pertama dilakukan pada tanggal 26 Desember 1946, ketika Natal. Para tentara Belanda akan pergi beribadah ke Samarinda karena di Sanga-sanga saat itu tidak terdapat gereja. Namun rencana pemberontakan ini diketahui oleh Militer Intelegence Departmen (MID) sehinga gagal lah pemberontakan pertama ini.

Pemberontakan kedua dilakukan pada tanggal 1 januari 1947. Para pemuda dan pejuang tengah berada pada puncak semangat. Mereka juga mendesak pimpinan untuk mengambil sikap tegas dan cepat mencetuskan pemberontakan. Soekasmo sebagai pimpinan dan beberapa petinggi lainnya sudah sepakat untuk melakukan pemberontakan pada tanggal yang telah ditetapkan karena pada malam pergantian tahun akan dilaksanakan hiburan semalam suntuk dan pagi harinya para tentara beribadah ke gereja. Pada saat itu lah dilakukan penyerangan di beberapa tempat strategis lainnya. 

Pada sore hari terdengar suara raung yang ternyata merupakan suara kapal yang datang dari Samarinda dan merapat di dermaga. Kapal tersebut bermuatan anggota KNIL pimpinan sersan mayor Van Dijk. Kedatangan mereka ini diduga karena kebocoran informasi dari rencana pemberontakan dan sekaligus menangkap pejuang Sanga-sanga.
Belanda menawan para pejuang dalam serangan balik ke Sanga-sanga. (bontangpost.id)
Tanggal 25 Januari 1947, Soekamso mendapat surat dari Koesnan, pejuang di Balikpapan yang berisi pemberitahuan tentang adanya bantuan yang datang untuk membantu pejuang di Sanga-sanga. Mereka adalah Herman Runturambe, Basoemi dan lain-lain. Oleh Soekamso disuruh tinggal di kampung Jawa dan tidak keluar disiang hari, karena wajah mereka sangat bisa dikenali sebagai orang baru. Sementara Soekasmo memberikan informasi tentang kedatangan bantuan ini kepada pejuang di Anggana yang dipimpin oleh Marsudi, R. Pringgosoemarto, Sambijo dan Soedarsono untuk dikoordinasikan. 

Gerakan pemberontakan yang akan dilakukan ini adalah upaya untuk membebaskan diri dari cengkraman penjajahan. Mereka sudah lama mempersiapkan hal ini. Gerakan bawah tanah yang tergabung dalam BPRI juga telah siap bergerak menunggu komando. Begitu pula pasukan KNIL yang Pro-Republik, merekalah yang turut andil dalam lolosnya "keluar masuk" para pejuang dari dan ke Sanga-sanga, sebab Belanda yang mengira mereka masih setia kepada Belanda memerintahkan mereka untuk menjaga dan mengamati keluar masuk para pejuang.

Soekasmo juga memerintahkan Soedirin yang berada di Samarinda untuk bersiap siaga bersama anggota KNIL yang Pro-Republik disana. Diinformasikan bahwa tak lama lagi Sanga-sanga akan melakukan pemberontakan, dan diharapkan para pejuang di Samarinda, Anggana, dan Kutai secara serentak memberontak dan menyerang Belanda jika mendengar meletusnya pemberontakan di Sanga-sanga.

Persiapan di Sanga-sanga pun sudah matang, sudah terbentuk kelompok-kelompok kecil. Salah satunya adalah Angkatan Darat pimpinan Boedioyo anggota KNIL, dan beberapa kelompok lain yang sudah siap berjuang membela bangsa dan negara.

Tanggal 26 Januari 1947, tiba-tiba terjadi keributan di pasar. Herman yang sedang sarapan di warung diketahui identitasnya oleh Police Intelligence Department (PID). Herman langsung melarikan diri melalui jalan Nanas Kampung Jawa Distrik VII. Kejadian ini dilaporkan kepada Letnan Kisbery dan ia segera memerintahkan PID/MID serta anjing pelacak untuk mengejar Herman.
Pasar Sanga-sanga (https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ)
Siang harinya, pasukan PID/MID melihat gubuk di hutan distrik VII, dimana disana ada Soecipto dan dua pejuang lain yang sedang mencuci beras di sungai. Soecipto ditangkap, sementara satu pejuang berhasil melarikan diri. Soecipto disiksa, gubuknya digeledah dan ditemukan dokumen yang berisi daftar nama dan cap jempol pejuang yang telah bersumpah setia kepada bangsa Indonesia. Soecipto yang ditanya mengenai dokumen tersebut diam dan tak mau menjawab memberikan keterangan. Lalu ia ditusuk dengan bayonet dan ditembak hingga gugur, jenazahnya diseret lalu dibuang di distrik VII Sanga-sanga.

Kejadian ini dilaporkan kepada Letnan Kisbery di Samarinda. Anggota KNIL Pro-Republik juga mengetahui kejadian ini dan memperkirakan Belanda akan menangkap semua nama-nama yang tercantum di dalam dokumen yang didapati di gubuk tadi. Maka sebelum Belanda bertindak, para pejuang harus mengambil langkah. Pimpinan BPRI, Soekasmo pun diamankan di rumah Lurah Kampung Jawa, pak Simoen.

Tanpa diketahui oleh pimpinan BPRI, sore hari tanggal 26 Januari 1947, tokoh BPRI Soekirman dan tokoh KNIL Pro-Republik Soepandi Ronodiwirjo juga ditangkap oleh MID Belanda. Kejadian ini diketahui oleh Boedioyo, ia langsung memerintahkan anggotanya untuk menggunakan senjata lengkap lalu layaknya berpatroli dengan jeep terbuka di Distrik V menuju bangsal bekas Heiho. Toekiman, salah satu pimpinan BPRI dan beberapa lainnya dijemput menuju muara. Disitu dijelaskan bahwa kemungkinan besok semua pejuang akan ditangkap, dan Boedioyo memerintahkan untuk menurunkan senjata-senjata dan amunisi serta menyuruh Toekiman dan pejuang lainya untuk berkumpul di rumah R.F. Romokarto seorang pastur.

Malam harinya, diadakan rapat rahasia di rumah Lurah Kampung Jawa, pak Simoen. Rapat tersebut untuk mengambil keputusan kilat yaitu pemberontakan terhadap kolonialis Belanda harus segera dilakukan. 
Merdeka atau ditangkap Belanda lalu dibunuh atau dipenjara
"Hari Mantoe", merupakan kode yang dibuat untuk dimulainya operasi pemberontakan ini. Pimpinan kelompok Heiho yang bermarkas di distrik V memerintahkan kepada semua ketua-ketua kelompok untuk memberitahukan secara rahasia kepada seluruh eks-Heiho yang tersebar di kampung-kampung dan pelosok-pelosok agar bersiap-siaga menunggu instruksi pimpinan BPRI, bergerak merebut kembali tanah Sanga-sanga dari Belanda. Untuk melakukan kamuflase dan mengalihkan pantauan musuh terhadap persiapan ini, oleh BPRI diadakan malam kesenian secara serentak ditiap-tiap kampung.

Semua ketua kelompok dan komandan sektor diperintahkan untuk mengirimkan anggotanya untuk mengambil senjata lengkap dari tangsi Belanda atas usaha para pejuang KNIL Pro-Republik. Beberapa pejuang yang lain diperintahkan untuk menghubungi dan memberitahukan pejuang di Samboja dan Balikpapan, serta pejuang di Samarinda dan Anggana akan rencana pengambilan kekuasaan ini. Para pejuang ini siap membantu perjuangan rakyat di Sanga-sanga. Namun rencana ini diketahui Belanda dikarenakan radio yang mereka gunakan disadap sehingga informasi dari Balikpapan jelas diketahui, imbasnya pemimpin BPRI di Balikpapan ditangkap.

Boedioyo juga mendapatkan informasi dari sumber lain yang mengatakan bahwa ada pasukan yang dikirim dari Balikpapan melalui sungai Tiram. Beberapa pejuang ditugaskan untuk mengecek keberadaan informasi tersebut di Gunung Krukut. Menjelang tengah malam, terdengar suara pasukan di jalan berbatu, hal tersebut dilaporkan ke Sanga-sanga melalui radio, kemudian salah seorang pejuang menegur dan memberi arah jalan, namun tak digubris, malah disambut dengan suara tembakan. Dua pelempar granat dari pejuang mengimbangi tembak-menembak pada malam itu. Namun karena kekuatan tidak seimbang, akhirnya Boedioyo memerintahkan untuk mundur dan kembali ke Sanga-sanga.

Tengah malam, masuk pada tanggal 27 Januari 1947, senjata pertama dikirim ke Kampung Soumil dan diterima oleh Toekimin. Sementara Boedioyo memerintahkan semua pasukan untuk menempati tempat yang sudah ditentukan guna kelancaran operasi penyerangan. Pukul 1 dinihari, gelombang kedua distribusi senjata dilakukan oleh pasukan eks KNIL yang diserahkan langsung kepada pemimpin pasukan untuk dibagikan pada anggotanya. Kemudian para pejuang diperintahkan menempati pos masing pada pukul 2 dinihari dengan memakai lencana merah putih di dada kanan.

Sebelum memulai penyerangan, para pemimpin kembali mengadakan rapat kilat, menyatukan suara  untuk menyerang Belanda, merebut kembali Sanga-sanga. Para pejuang juga diperintahkan untuk mengawasi gerak gerik orang-orang yang memihak Belanda. Soekamso memerintahkan kepada Boedioyo untuk memimpin operasi ini dikarenakan pengalaman militer yang ia miliki, selain itu ia juga mengetahui banyak tempat strategis seperti kediaman orang-orang penting para pejabat Belanda termasuk Letnan Kisbery.

Semua pejuang diperintah untuk bersiap siaga mulai dari Distrik Ujung hingga Distrik VII. Para pembantu di rumah-rumah Belanda juga diperintahkan untuk menggunakan kesempatan sebaik-baiknya dan mengambil senjata milik majikannya lalu diserahkan kepada pejuang.

Operasi yang dipimpin langsung oleh Boedioyo ini dimulai dengan bergerak mengepung Detasemen KNIL Sanga-sanga. Komandan jaga saat itu Soemiran dan anak buahnya. Boedioyo memerintah untuk tidak mengeluarkan tembakan, lalu dengan senyap berjalan melalui tangki-tangki minyak, pompa air dan melewati kantor BPM. Para pejuang menempati pos masing-masing dan menunggu instruksi dari komandan jaga Soemiran. Sebagian pejuang yang lain memasuki sel dan membebaskan para tahanan perang termasuk Soekiman dan Ronowirjo. Mereka berada dalam kondisi yang parah dan berlumuran darah. Selanjutnya para pejuang menangkap KNIL pro-Belanda yang merupakan kaki tangan Sersan Mayor Van Heck dan Letnan Kisbery.

Komandan jaga Soemiran dan anggotanya yang menyamar menggunakan seragam KNIL pergi ke kediaman Soeparman. Setelah mengetuk pintu dan menginfokan bahwa Soeparman dipanggil Sersan Mayor Van Heck. Setelah Soeparman keluar, ia langsung disekap dan dibawa ke sel penjagaan lalu disiksa hingga tewas. Begitu juga yang para pejuang lakukan pada prajurit Saman. Prajurit Saman merupakan orang yang membunuh Soecipto saat penggeledahan gubuk yang berisi dokumen-dokumen penting milik pejuang di Distrik VII.

Di sisi lain, tiga kendaraan truk militer pimpinan kopral Soewito telah siap menunggu di depan pos penjagaan, warga sipil beserta logistik dibawa ke Distrik VII agar aman. Oleh kopral Soewito, disana sudah dibuatkan dapur umum.

Komandan jaga Soemiran melakukan tugas penyamaran dengan baik setelah ia dan anggota berhasil menangkap dua tentara KNIL dan Sersan Mayor Van Heck. Mereka ditangkap ketika melapor di pos jaga, dan tiba-tiba langsung disergap oleh pejuang dan dimasukkan ke sel penjagaan. Namun beberapa sersan yang tinggal di luar tangsi militer lolos dari penangkapan, seperti Van Nierop, ia adalah wakil Letnan Kisbery. Boedioyo memerintah untuk mengejar mereka, namun usaha ini gagal, Van Nierop berhasil meloloskan diri.

Setelah tangki KNIL Belanda berhasil direbut, ramai pejuang dan rakyat yang keluar masuk tangsi tersebut. Mereka mengambil segala kebutuhan termasuk senjata untuk kembali ke medan perang, mempertahankan sejengkal tanah yang sudah dikuasai. Kendaraan juga keluar masuk tangsi, untuk mengambil senjata dan mendistribusikannya kepada para pejuang di lapangan.

Dan di dalam tangsi dilaksanakan upacara bendera yang sederhana, namun tertib dan hikmat. Soekasmo memerintahkan prajurit untuk merobek bendera biru Belanda hingga menyisakan warna merah putihnya saja. Upacara dipimpin oleh Boedioyo. Soekamso dalam amanatnya mengintruksikan kepada para pejuang dan rakyat untuk turut serta mempertahankan kota Sanga-sanga yang telah direbut dari kolonial Belanda, serta terus berjuang dengan semboyan lebih baik mati dari pada dijajah kembali oleh Belanda.

R.F. Soekarto, Kapten Fathamsyah, Abdullah Thomas dan Soekiman ditunjuk untuk untuk bertugas pada beberapa bagian di markas BPRI. Para pekerja BPM berkebangsaan Indonesia sebelum bekerja berkumpul di markas BPRI untuk mendapatkan pengarahan dari pimpinan BPRI yang berbunyi :
"Saudara-saudara sekalian, sekarang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Sanga-sanga telah kita buktikan. Sebagaimana saudara-saudara maklum, Sanga-sanga sudah diduduki oleh Barisan Pembela Rakyat Indonesia, dan kekuasaan Belanda di Sanga-sanga sudah kita hancurkan. Sebentar lagi mungkin Samarinda akan segera menyusul. Karena kami sudah menyerukan kepada saudara Soedirin dan kawan-kawan untuk merebut Kota Samarinda dari kekuasaan kolonial Belanda. Selanjutnya kami juga mengharapkan supaya roda perusahaan ex BPM berganti nama menjadi Perusahaan Minyak BPRI jalan terus tanpa ada hambatan. Perusahaan minyak ini kepunyaan kita, punya saudara-saudara sekalian dan kami berharap bekerjalah seperti biasa untuk mencegah macetnya produksi minyak sebagai sumber yang vital untuk perjuangan kita semua. Saudara-saudara pejuang BPRI yang bertempur di garis depan supaya tetap bertempur. Semuanya, selamat bekerja dan berjuang terus sampai titik darah penghabisan."
Setelah selesai amanat diberikan, pimpinan BPRI kembali mengadakan rapat bersama unsur pimpinan untuk menentukan langkah mempertahankan kota Sanga-sanga dari serangan balik Belanda. Para ex KNIL berkutat dengan kegiatan administrasi mengenai pembuatan pengumuman tentang telah merdekanya Sanga-sanga. Para pejuang lain memberikan pelatihan pada mereka yang belum mengerti menggunakan senjata. Lalu juga disibukkan dengan pendistribusian logistik kepada para pejuang di garis depan dan kesibukan lain-lain yang berhubungan dengan masyarakat dan pertahanan.

Kepala penjawat (Camat) Onderdistrict Sanga-sanga, Awang Ishak datang ke markas BPRI, kemudian melapor serta menyerahkan kekuasaan kepada pimpinan BPRI. Oleh pimpinan BPRI kekuasaan tersebut diterima dan diserahkan kembali kepada Awang Ishak untuk menjalankan pemerintahan sipil agar tidak terjadi stagnasi. Pimpinan markas BPRI juga mengintruksikan agar gudang-gudang, rumah-rumah serta aset-aset lainnya di Sanga-sanga untuk diberi plakat milik Republik Indonesia dan dijaga agar tidak terjadi pencurian, pembakaran dan lain-lain yang merugikan perjuangan rakyat Sanga-sanga. Sementara pembantu-pembantu di rumah Belanda pegawai BPM diperintahkan untuk menangkap para pegawai BPM berkebangsaan Belanda serta keluarganya untuk digiring ke gedung Sandisa dan dijadikan tawanan.

Gerakan selanjutnya adalah merebut markas PID/MID di Distrik IV. Disini pejuang mendapat perlawanan sengit karena Letnan Kisbery dan anak buahnya berada disana. Namun akhirnya bisa direbut oleh Soemiran dan kawan-kawan, Namun Letnan Kisbery pergi meloloskan diri. Kemudian bendera merah putih kembali dikibarkan di markas PID/MID dengan merobek warna biru milik Belanda. Dengan begini, sudah jelas daerah Sanga-sanga dan sekitarnya sudah dikuasai para pejuang BPRI sejak minggu 27 Januari 1947 sejak pagi hari.

Sementara di markas BPRI dan Distrik Louise, para pejuang sibuk memberikan pelajaran kepada rakyat yang sudah dipersenjatai. Para pimpinan yang lain berpatroli untuk memastikan keadaan sambil merencanakan teknik pertahanan untuk berjaga-jaga jika Belanda kembali menyerang, patroli dilakukan di Muara Ujung, Louise, dan sentral Listrik. Kemudian Soekasmo dan Soekisman memeriksa para tahanan di gedung Sandisa, para tahanan ini terdiri dari pekerja BPM Belanda non-tentara beserta keluarganya. Para tahanan ini diperlakukan dengan baik dan jaminan keamanan yang cukup, asal tidak melawan. Begitu juga dengan tawanan KNIL Belanda.

Sementara itu, Boedioyo mulai memerintahkan para pejuang untuk menduduki pos pertahanan. Pos I di Ujung Muara di bawah pimpinan Lomban eks-KNIL. Pos II di Muara Jembatan dipimpin oleh Toekiman. Pos III di gunung merah dipimpin oleh Soemiran. Mereka juga dibantu oleh pasukan Heiho dan rakyat yang dipersenjatai.
Gunung Merah, (https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ)
Peristiwa perang pun terjadi, dikala para pejuang tengah sibuk dengan pengaturan pertahanan, terdengar suara kapal yang akan merapat. Para pejuang sudag bersiap-siap di pos jaga masing. Kapal tersebut berisi seorang Letnan yang dikawal empat tentara KNIL. Oleh Toekiman dan anggotanya, mereka disergap dan dilucuti senjatanya. Lalu satu kapal Belanda bertuliskan Zee Arend juga merapat dan ikat tali di jembatan Muara, langsung disambut dengan tembakan para pejuang di pos III, akhirnya kapal tersebut mundur ke arah Muara Ujung.

Di tengah-tengah konflik seperti ini juga terjadi penghiatanan. Adalah Lomban, pimpinan pos I beserta dua orang kawannya, bergabung dengan Alegeeme Polisi Belanda dan dengan menggunakan perahu milik rakyat pergi menuju tengah laut Anggana. Hal itu terlihat dari pos III lalu dilaporkan ke markas. Penghianatan ini berakibat pada gugurnya beberapa pejuang.

Sore harinya, dua pos jaga ditembaki mortir berat dan senapan mesin dari kapal musuh. Hal ini dapat terjadi karena dibantu oleh para penghianat dari pos I yang telah mengetahui lokasi-lokasi pertahanan pejuang. Kapal Belanda berdatangan dan menggempur habis-habisan hingga malam, para pejuangpun mempertahankan lokasinya dengan membalas gempuran Belanda hingga malam hari. Sementara di Sentral Listrik, Distrik Louise, Distrik IV, V, VI, dan kampung Jawa, para pejuang terus siap siaga menghadapi serangan, sehingga Belanda belum bisa menembus pertahanan, dan Sanga-sanga masih berada di tangan rakyat Indonesia.


--------

Demikianlah, gambaran aksi heroik para pejuang dalam mempertahankan tanah Indonesia dari penjajahan kolonial Belanda. Perjuangan dan pengorbanan yang besar yang hasilnya bisa kita rasakan saat ini. 

Banyak para pejuang yang gugur dalam mempertahankan Sanga-sanga, termasuk Boedioyo yang menjalani eksekusi mati oleh Belanda setelah aksi pemberontakan ini. Namun apa yang telah dilakukannya layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Juga para pejuang lain yang telah ambil bagian dalam perebutan Kota Minyak Sanga-sanga.

Tugu Perjuangan Rakyat Sanga-sanga
Yang perlu kita teladani adalah semangat juang mereka yang pantang mundur. Kerjasama yang baik. Serta saling percaya satu sama lain. Peristiwa Merah Putih Sanga-sanga merupakan peristiwa besar yang layak untuk dikenang. Dan di Sanga-sanga kini, masih bisa kita lihat dan melakukan napak tilas jejak sejarah perminyakan hingga perjuangan merebut kembali Sanga-sanga dari Belanda.

Dan untuk mengenang peristiwa heroik rakyat Sanga-sanga ini dibangun monumen perjuangan yang diberi nama Tugu Perjuangan Merah Putih, dan setiap tanggal 27 Januari diadakan upacara layaknya hari besar di Sanga-sanga. 
Sanga-sanga (sumber)







Tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber. Jika ada sumber yang lebih valid, saya dengan senang hati menerima koreksi untuk perbaikan tulisan ini.


Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=_qjvrpnL1zQ
https://humas.kukarkab.go.id/berita/sosial-budaya/sejarah-singkat-peristiwa-merah-putih-sangasanga
https://indonesiainside.id/news/2020/01/27/ini-sumur-migas-sanga-sanga-tonggak-sejarah-rakyat-kaltim-melawan-belanda
https://www.pertamina.com/id/news-room/energia-news/sumur-louise-1-destinasi-wisata-sejarah-baru-di-sangasanga-
https://kaltimkece.id/historia/peristiwa/sejarah-panjang-sangasanga-tanah-juang-yang-kini-terkepung-tambang
https://indonesiainside.id/news/2020/01/27/ini-sumur-migas-sanga-sanga-tonggak-sejarah-rakyat-kaltim-melawan-belanda
https://bontangpost.id/29636-berangkat-dari-gerakan-bawah-tanah-menentang-belanda/
Kristianto, Kevin Topan, 2018. Pertempuran 27 Januari 1947 di Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Skripsi, Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta.

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...