Monday, September 1, 2025

Cerita Pickleball: Dari Belakang Rumah Hingga Mendunia

Beberapa tahun terakhir, dunia olahraga kedatangan “tamu” baru. Sebuah jenis olahraga yang disebut-sebut sedang naik daun terutama di Amerika Serikat dan mulai merambah Asia (setidaknya itu yang sering saya lihat dari berbagai video di YouTube).

Lapangan Pickleball di AS (sumber: californiasportssurfaces(dot)com)
Olahraga ini bernama Pickleball. Hingga tulisan ini dibuat, saya belum menemukan padanan kata yang pas untuk meng-Indonesia-kan namanya. Meski terkesan baru, sebenarnya Pickleball sudah ada cukup lama dan kini sedang naik daun.

Permainannya yang simpel serta lapangan yang tak begitu besar membuat permainan ini banyak disukai oleh berbagai kalangan. Bagi yang "sudah berumur", pickleball sebagai "pelarian" di kala bermain tenis sudah tidak sanggup karena lapangannya yang besar. Atau karena kaki sudah tidak bisa selincah bermain badminton. Dan bagi anak-anak dan pemula, pickleball menjadi alternatif baru olahraga yang simpel sebagai bagian dari penerapan hidup sehat.

Apa itu Pickleball?

Secara sederhana, Pickleball adalah olahraga yang menggabungkan tiga “leluhur” olahraga sekaligus, yakni tenis, bulutangkis, dan pingpong. Ia dimainkan di lapangan seukuran lapangan bulutangkis, dengan teknik permainan mirip tenis, namun menggunakan alat pemukul yang bentuknya menyerupai bet pingpong -disebut paddle-, serta bola plastik padat berlubang.

Dimensi lapangan pickleball dalam satuan kaki (ft). (sumber: oldworldgardenfarms(dot)com)

Secara rinci, Pickleball dimainkan di dalam lapangan persegi panjang, yang dibatas net dengan tinggi 82 cm dari atas permukaan. Ukuran lapangan terdiri dari panjang 13,41 meter, lebar 6,10 meter, dan ukuran kitchen 2,13 meter dari net pada masing-masing sisi. Kitchen merupakan area non-volley, dimana pemain tidak boleh melakukan pukulan volley apabila berada di dalamnya.

Sejarah dan Asal Nama Pickleball

Mengutip laman ppatour.com, Pickleball pertama kali dimainkan pada tahun 1965 di Pulau Bainbridge, sebuah pulau yang berada di sebelah barat Kota Seattle, Washington, Amerika Serikat. Olahraga ini diciptakan oleh Joel Pritchard, seorang Kongres Washington bersama dua temannya Bill Bell seorang pengusaha dan Barney McCallum.

Pencipta olahraga pickleball, Joel Pritchard, Barney McCallum, dan Bill Bell. (sumber pickleballhalloffame(dot)global)

Awalnya, Pickleball sama sekali tidak dirancang sebagai olahraga serius. Ceritanya bermula dari situasi yang sangat “rumahan”. Kala itu musim panas, Pritchard dan Bell mencari cara untuk "menghilangkan" kebosanan menghadapi musim panas tersebut. Karena rumah Pritchard memiliki lapangan badminton, Pritchard dan Bell mulai mencari peralatan badminton, tetapi tidak dapat menemukan cukup raket. 

Beruntung, mereka menemukan dua raket pingpong dan bola whiffle, yang mereka gunakan untuk memukul bola melintasi jaring badminton setinggi 60 inci. Saat terus bermain, mereka menyadari bola whiffle melambung dan memantul dengan baik di permukaan aspal. Jadi, mereka memutuskan untuk menurunkan jaring hingga ke tanah (36 inci di ujung dan 34 inci di tengah) dan membolehkan bola dipukul setelah memantul seperti permainan tenis.

Pekan berikutnya, Pritchard dan Bell mengundang Barney McCallum untuk mencoba permainan baru tersebut, dan ketiganya mulai mengembangkan aturan-aturan permainan. Dikenal sebagai orang yang “terampil,” McCallum yang merupakan tukang kayu itu membuat raket (yang selanjutnya disebut dengan paddle) secara manual di bengkel kayunya. Ia juga salah satu yang mencetus aturan zona non-volley di daerah kitchen. Hal tersebut menaruhnya menjadi anggota penting dalam sejarah pembentukan pickleball. 

Pada tahun 1967, Pritchard membangun lapangan belakang rumah yang permanen. Dalam beberapa artikel menyebutkan, tetangganya bernama Bob O'Brian yang membangun lapangan pickleball yang permanen.

Padle pertama? (sumber: dupr(dot)com)

Tak disangka, permainan itu justru terasa menyenangkan. Aturannya pun disesuaikan sedikit demi sedikit agar bisa dimainkan dengan nyaman, adil, dan tidak terlalu melelahkan. 

Dari sekadar permainan keluarga, Pickleball mulai dimainkan oleh tetangga dan komunitas di sekitar. 

Soal nama “Pickleball”, ada dua versi cerita yang sering beredar. Versi pertama menyebutkan bahwa nama ini diambil dari anjing keluarga Pritchard bernama Pickles, yang gemar mengejar bola saat permainan berlangsung. Versi lain menyebutkan istilah pickle boat dalam olahraga dayung, yaitu perahu yang diisi oleh atlet campuran dari berbagai tim.

Nah, masih menurut lama ppatour.com, istilah pickleball berasal dari istri Pritchard yang bernama Joan. Sesaat setelah olahraga ini mulai diperkenalkan, Joan menamakannya pickleball yang terilhami dari olahraga dayung. Dalam olahraga dayung, para pendayung yang tidak ikut balapan utama akan mengikuti balapan mereka sendiri. Para pendayung sisa tersebut berkompetisi hanya untuk bersenang-senang dalam balapan yang disebut dengan “pickle boat”. Atas dasar itu, Joan menamakannya sebagai pickleball, permainan yang tercipta dari sisa-sisa olahraga lain.

Joel Pritchard dan istrinya Joan (sumber pickleballhalloffame(dot)global)

Mengenai versi yang kedua, tentang nama anjing dari keluarga Pritchard, Pickles. Versi ini diragukan sebab anjing yang dimaksud baru ada pada tahun 1968, 3 tahun setelah permainan ini diciptakan, atau 1 tahun setelah Pritchard membuat lapangan pickleball yang permanen. Nama pickles diberikan karena anjing tersebut kerap mengejar bola ketika mereka bermain pickleball. 

Dan dalam tujuh tahun sejak permainan dikembangkan, yakni pada tahun 1972 sebuah organisasi resmi bernama Pickle-Ball Inc. dibentuk untuk mengakomodasi olahraga baru yang mereka ciptakan ini. Permainan ini dengan cepat menarik minat teman dan tetangga, sehingga berkembang pesat hingga keluar Pulau Bainbridge.

Pada tahun 1975, surat kabar National Observer menyoroti dan menulis artikel tentang pickleball. Hal ini menandai pengakuan awal terhadap pickleball di media arus utama. 

Selanjutnya, pickleball terus berkembang hingga keluar Pulau Brainbrigde. Perkembangan pickleball sampai ke Indonesia akan dibahas di tulisan berikutnya, yap!


Sumber:
https://ppatour.com/the-origins-of-pickleball/
https://pickleballhalloffame.global 
https://oldworldgardenfarms.com
https://dupr.com
https://www.playpickleball.com
https://www.californiasportssurfaces.com

Monday, June 23, 2025

Dapoer Cik Milah Natuna, "Obat Piwang" Masakan Natuna di Batam

Bicara tentang kuliner memang tiada akan ada habisnya. Selalu ada hal baru yang datang dari dapur untuk disajikan di atas meja. Mulai dari tradisional hingga modern. Mulai dari resep turun temurun, hingga resep yang baru saja "turun". 

Hampir di semua tempat memiliki sajian khas. Entah itu di kampung, atau resepnya yang dibawa ikut merantau. Termasuk di Batam yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Banyak pilihan kuliner yang bisa dicicipi. 

Kemarin saat sedang berada di Batam karena ada sesuatu hal yang harus dilakukan, tiba-tiba saya merasa piwang (rindu) dengan makanan kampung. Sempat bingung ingin kemana sebab secara masakan sebenarnya tak jauh beda dengan Natuna yang sama-sama Melayu. Namun tiba-tiba langsung teringat suatu tempat yang sering seliweran di beranda medsos saya: Dapoer Cik Milah Natuna.
Dapoer Cik Milah Natuna
Dapoer Cik Milah Natuna berlokasi di Tiban, tepatnya di Jalan Raya Tiban BTH, Komplek Ruko Golden Wealth Development blok C nomor 10. Tak sulit mencarinya, baik dengan cara konvensional, apalagi sekarang bisa dengan bantuan gugel mep.

Perjalanan ku mulai dari kawasan Nagoya dengan kuda besi bersama teman. Menurut pembacaan gugel mep, perjalanannya hanya memakan waktu 10an menit saja. Melewati jalan Gajah Mada, lalu belok kanan menuju jalan Tiban 1. Check pointnya adalah Supermarket Primart. Dapoer Cik Milah berada di deretan ruko belakang Supermarket Primart ini. Saat tiba kami langsung disambut dengan senyum ramah oleh owner yang kebetulan sedang duduk melayani pelanggan di luar.

Cik Milah merupakan nama pengelola warung ini. Ia mengelola warung ini bersama dengan keluarganya. Dapoer Cik Milah Natuna di Batam ini merupakan warung kedua, dan sekaligus cabang pertama yang dibuka di luar Natuna. Warung pertama yang berada di Natuna berlokasi di Jalan Hang Tuah, Kelurahan Ranai Kota. Dapoer Cik Milah Natuna yang di Batam ini beroperasi dari pukul 7 pagi hingga 2 sore setiap hari kecuali hari jumat.

Dianterin langsung

Warung makan ini menyediakan berbagai makanan khas Natuna mulai dari Bubur Lambuk, Nasi Dagang hingga Lontong Tauco. Selain menu utama yang disebutkan di atas, ada pilihan menu lain seperti berbagai tambul (makanan ringan) yakni Uti Gendong (roti goreng), Kernas, Lempar, dan Cuco Lemak. Juga tersedia beberapa tapok (semacam toping atau pelengkap makanan) seperti telur rebus, duyok (gurita) dan sambal bilis (sambal teri). Dan beberapa pilihan minuman, baik panas maupun dingin. Kami memesan beberapa makanan untuk jadi pengganjal perut hari ini. Nasi Dagang, Bubur Lambuk Komplit dan beberapa minuman. 

Tak menunggu terlalu lama, pesanan kami tiba. Pesanan diantar langsung oleh Wak Yal, abang dari Cik Milah. Ssstttt, fyi, Wak Yal ini adalah Wakil Bupati Natuna periode 2021-2025, Rodhial Huda namanya. Memang sebelum terjun ke dunia politik, beliau seorang nelayan dan enterpreneur. Jadi beliau kembali meneruskan passionnya ini. Nah tadi senyum ramah yang kami terima saat tiba di sini adalah senyum dari beliau, sebab Cik Milah sendiri saat itu sedang tidak berada di tempat.

Nasi Dagang nya benar-benar enak, dengan lauk sambal tempe dan telur, serta gulai ikan yang jadi pelengkap rasa. Benar-benar seperti makan di rumah. Bubur Lambuk-nya juga juara. Dan menurut Wak Yal, menu spesialnya adalah si Bubur Lambuk ini, karena resepnya merupakan resep temurun dari kedua orang tua beliau.
Bubur Lambuk dan Nasi Dagang
Minuman juga tak kalah segar, kami memesan teh serai dan teh unyot (teh tarik). Aku memesan teh serai karena piwang sudah lama tak menyeruput teh ini di Natuna. Aku biasanya disuguhi teh ini ketika berkunjung ke rumah Wak Yal di Natuna. Jadi semenjak beliau di Batam sudah jarang berkunjung dan menikmati teh serai ini. 
Teh Unyot dan Teh Serai
Sambil menikmati makanan dan menyeruput teh serai ini, kami berbicara sejenak dengan Wak Yal. Namun tak begitu lama sebab beliau juga sedang melayani pelanggan lain yang lumayan ramai pagi itu. Namun nasi dagang yang sudah diproses di dalam perut ini sudah menjadi pengganti piwang akan masakan di kampung. Apalagi harganya terjangkau, dan worth it untuk rasa yang kamu dapat.

Jadi, bagi kamu yang sedang merantau atau yang saat ini berada di Batam, lalu piwang dan ingin mencoba makanan-makanan dari Natuna? Kamu kamu semua bisa mampir ke sini: Dapoer Cik Milah Natuna. 



Thursday, November 23, 2023

Kembali ke Ranah Minang Setelah Dua Dekade

Burung besi yang ku tumpangi mulai lepas landas dari Hang Nadim, meninggalkan kepulauan Melayu, terbang menuju barat mencari kitab suci. Aku sengaja memilih kursi di jendela, karena pada penerbangan kali ini ku begitu antusias, bukan karena untuk mengambil gambar yang biasa jadi bahan feed IG dari atas pesawat, namun karena tujuan pesawat ini. 

Penampakan di bawah selama lebih kurang 60 menit penerbangan ini didominasi oleh daratan luas pulau Sumatera yang masih tampak hijau. Agak berbeda dengan beberapa penerbangan ku sebelum-sebelumnya yang didominasi hamparan laut biru.

Burung besi yang ku tumpangi kali ini akan membawa ku pada suatu tempat, yang baru dua kali ku injakkan kaki di sana. Tempat dimana ulama hingga tokoh-tokoh besar dilahirkan, tempat dimana saksi perjuangan ditampakkan, tempat dimana adat dan budaya dipegang erat, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah: Ranah Minang, tanah leluhur.

Kampuang den, Sumatra Barat

Roda pesawat mendarat mulus sempurna setelah lebih kurang 60 menit di langit Sumatra. Minangkabau International Airport atau Bandara Internasional Minangkabau (BIM), satu dari puluhan bandara internasional di Indonesia (yang kabarnya akan dikurangi beberapa nanti). Aku baru pertama ke bandara yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman ini, karena saat pergi pertama kali ke sini puluhan tahun lalu itu, aku dan ayahku lewat jalur darat dari Pekanbaru, naik mobil. Melewati Lembah Anai dan Kelok Sembilan yang berhasil buatku unyai, mabuk tak berdaya.

Sambil menunggu bagasi di ruang tunggu, kami bertemu dengan panitia dan beberapa peserta kegiatan. Ohya, perjalananku kesini dalam rangka menghadiri kegiatan yang diadakan di Kabupaten Sijunjung. Setelah urusan selesai, kami menaiki bus yang ditentukan panitia. Roda bus berputar keluar dari bandara, menuju Kabupaten Sijunjung. Jarak dari BIM ke Sijunjung sekitar 150km, jika waktu normal, perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam perjalanan.

Gass menuju Sijunjung

Aku kembali memilih di jendela, menyandarkan kepala pada dinding kaca bus sambil melihat sekeliling. Melihat alam minangkabau, membuka memori masa kecilku tentang kampung leluhurku ini. Saat pertama pergi, usiaku baru 6 tahun, belum menyadari banyak hal. Ssaat itu aku hanya ingat, kami ke Padang, tempat keluarga nenek, bermain ke Jam Gadang, dan ke pantai Air Manih (tapi tak ke patung Malin Kundang nya). Lalu lanjut lagi ke Bukit Tinggi, kampung keluarga inyiak (kakek). Bermain ke kebun binatang dan taman bermain di sana. Bertemu saudara-saudara dari keluarga ayahku, yang aku sudah lupa namanya.

Bus terus melaju melewati jalan raya yang sedikit lengang. Singgah sebentar untuk istirahat makan siang, bukan di Rumah Makan Padang, tapi masakannya full khas RM Padang. Memang jarang ditemukan RM Padang di Sumatera Barat, sebab masakannya sudah menjadi bagian dari budaya, sehingga tidak perlu lagi melabeli "RM Padang" di rumah-rumah makannya.

Nasi Kapau jadi pengganjal perut di hari pertama ini. Sambil berkenalan dengan beberapa peserta kegiatan lain yang berasal dari berbagai tempat di seluruh Indonesia. Setelah makan siang, kami lanjut ke perjalanan ke Sijunjung.

Perjalanan ke Sijunjung ternyata cukup jauh, kami berhenti di beberapa titik, Baik untuk buang hajat dan belanja makanan ringan untuk dikunyah selama perjalanan. Kami juga melewati tikungan yang sedang viral-viralnya: Sitinjau Lauik. Jalanan ekstrim ini kerap kali lewat di beranda media sosial saya, dan akhirnya bisa lewat secara langsung, dan memang benar-benar ekstrim dan ngeri-ngeri sedap.

Sitinjau Lauik merupakan dataran tinggi dengan jalan berkelok yang terletak di jalan lintas Kota Padang dan Kabupaten Solok. Sitinjau Lauik berarti melihat laut dari kejauhan. Karena terletak di ketinggian lebih dari 1000 mdpl, kita bisa melihat laut di sisi barat pantai Sumatera. Selain terkenal dengan jalur yang ekstrim, jalur yang kerap tertutup awan ini memegang peranan penting bagi jalur transportasi dan distribusi logistik dari dan ke Padang, jalan ini juga menjadi penghubung beberapa daerah di ranah minang.

Rute ini juga melewati Tahura (Taman Hutan Raya) Bung Hatta. Penamaan ini merupakan suatu penghormatan kepada Proklamator asal minang tersebut. Tahura Bung Hatta berada pada ketinggian 300 - 1800an mdpl, dan merupakan rumah bagi ragam jenis flora dan fauna, termasuk jenis bunga bangkai dan beberapa jenis burung endemik.
Melewati Sitinjau Lauik
Perjalanan ke Sijunjung ternyata tak semulus yang dikira. Dari perkiraan awal berkisar 4 jam. Kami baru tiba di Sijunjung pada jam 7 malam. Kurang lebih 8 jam perjalanan. Setelah sampai di Sijunjung, kami disambut oleh "pemilik lahan" dalam acara gala dinner, yap Bupati Sijunjung dan Gubernur Sumatra Barat hadir dalam kegiatan ini.

Setelah semua kegiatan selesai, kami kembali ke tempat menginap, dan rebaaaaah. Akumulasi rasa letih selama 12 jam total perjalanan ditumpahkan di kasur tempat menginap. Mengumpulkan tenaga untuk mengikuti kegiatan besok, dan beberapa hari ke depan.