Tuesday, December 4, 2018

Yuk, Kenalan Dengan Geosite & Geo-area di Geopark Natuna

Pengangkatan status Kawasan Natuna menjadi Geopark Nasional yang ditandai dengan penyerahan sertifikat dari Komite Nasional Geopark Indonesia akhir November lalu memberikan angin segar bagi Natuna untuk terus melanjutkan program yang didukung oleh lintas sektoral pemerintahan ini. Pencanangan kawasan Natuna menjadi Geopark Nasional memang sudah lama dilakukan. Dengan berbagai sosialisasi, kajian-kajian, dan berbagai rekomendasi, akhirnya secara administrasi dan teknis kawasan Natuna disetujui sebagai Geopark Nasional Indonesia.

Geopark merupakan sebuah konsep manajemen pengembangan suatu kawasan (dengan luas tertentu) secara berkelanjutan yang memadu-serasikan tiga keanekaragaman alam, yaitu geologi (geodiversity), hayati (biodiversity) dan budaya (culturaldiversity). Dalam pengembangannya, konsep ini berpilar pada aspek Konservasi, Edukasi, Pemberdayaan Masyarakat, dan Penumbuhan Nilai Ekonomi Lokal melalui geowisata. 

Sejalan dengan itu, dari hasil cuap-cuap saya dengan bang Kiki, salah satu anggota tim promosi Geopark Natuna via pesan WA, dia menyebutkan bahwa konsep geopark adalah sebuah kawasan yang tidak boleh berubah bentuk alaminya dan melibatkan masyarakat tempatan untuk menjaga dan mengolahnya sehingga bisa dimanfaatkan untuk menjadi objek wisata, tempat penelitian, konservasi flora dan fauna dan lain-lain yang sifatnya tidak merubah tatanan. Dari situ, maka nanti akan menjadi acuan bagi pemerintah dalam menentukan arah pembangunan yang disesuaikan dengan konsep geopark itu sendiri. Bayangkan saja, 30 tahun yang akan datang kita masih bisa menikmati indahnya Batu Sindu di Senubing dengan pemandangan yang sama seperti sekarang ini. Karena ia sudah "dipatenkan" sebagai kawasan geopark dimana geosite tidak boleh dirubah tatanannya.
Situs-situs Geopark Natuna
Nah menurut pengertian diatas, suatu kawasan bisa disebut sebagai geopark jika didalamnya terdapat keanekaragaman geologi, biologi dan budaya serta luasan area yang cukup untuk pembangunan ekonomi lokal serta mengajak peran serta masyarakat sekitar untuk sama-sama saling menjaga dan mendukung kelestarian alam yang ada di sekitar situs Geopark.  Luasan area yang dimiliki oleh Natuna sudah memenuhi syarat untuk ditetapkannya sebagai Geopark Nasional, ia terbentang dari bagian selatan hingga ke utara dan menutupi hampir separuh sisi timur pulau Bunguran. Batuan granit merupakan daya tarik utama dari situs Geopark Natuna. Konon usia batuan granit beragam ukuran ini sudah mencapai ratusan juta tahun, sangat menarik untuk diteliti bukan? Nah kali ini saya akan ajak kalian untuk "berkenalan dengan geosite-geosite yang -sejauh ini- masuk dalam Geopark Natuna. Kita mulai "virtual tour" kita ini dari site yang terdekat dari bandara dan kota, asumsi saja kita adalah para wisatawan atau para peneliti dan "tukang" konservasi yang berkunjung ke Geopark Natuna.


1. Senubing (Bunguran Timur)
Ini merupakan geosite pertama dan yang terdekat dengan bandara dan kota yang memungkinkan dikunjungi pertama kali. Letaknya berjarak sekitar 3 sampai 5 km dari pusat kota Ranai, kita akan melewati Masjid Agung Natuna jika akan pergi ke geosite ini. Boleh lah mampir sebentar untuk wisata religi. Senubing merupakan sebuah semenanjung indah dengan hiasan batuan granit yang terhampar. Laut Natuna Utara dan Pulau Senua juga siap melengkapi pemandangan di sini. Ada beberapa objek yang berada di sekitar Senubing ini seperti Batu Kapal, Batu Datar, Batu Sindu dan Batu Rusia. Site Senubing memang banyak "dihuni" oleh batuan granit beragam ukuran yang beberapa telah saya sebutkan diatas. Disamping geodiversity, area Senubing merupakan habitat dari Kekah (Presbytis Natunae) yang merupakan primata endemik nan unik yang berasal dari Natuna. Dari segi budaya dan sejarah, ada Batu Rusia yang menjadi saksi bisu para korban selamat dari kapal yang tenggelam di perairan sekitar Pulau Senua. Ada juga Batu Kapal yang punya cerita mirip seperti Malin Kundang di Sumatera Barat.
Senubing
2. Taman Batu Alif (Bunguran Timur) 
Siapa yang tak kenal geosite yang satu ini. Letaknya sekitar 5 km dari geosite yang pertama tadi, kita hanya tinggal meneruskan perjalanan ke arah utara sekitar 10 menit berkendara. Baru-baru ini Alif Stone Park menyabet penghargaan bergengsi dunia pariwisata Indonesia dalam kategori wisata terunik dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) award 2018. Yap, memang unik, tanjung kecil di Desa Sepempang ini dipenuhi oleh tumpukan batuan granit yang berserakan dari darat hingga ke laut. Oleh pengelolanya, Batu Alif ini disulap jadi taman bebatuan yang ngademin, ragam tanaman hias mengisi sela-sela batuan dan ditambah dengan fasilitas homestay yang siap mengakomodasi kamu kamu semua. Pulau Senua masih jadi pemandangan indah baik di waktu pagi, siang sampai petang dari sini. Batu Alif juga tempat yang pas untuk para pecinta sunrise dan sunset. Penasaran, makanya datang. 😃
Batu Alif
3. Gua dan Pantai Bamak (Bunguran Timur Laut)
Geosite ketiga ini terletak di Kecamatan Bunguran Timur Laut, kira-kira membutuhkan waktu 30 menit berkendara dengan kecepatan rata-rata dari geosite kedua untuk sampai ketempat ini. Kawasan Bamak merupakan semenanjung kecil yang terdiri dari pantai berpasir putih dengan singkapan batuan sedimen di tepain pantai hingga laut. Di sekitar situs Bamak ini terdapat Pulau Sahi, sebuah gundukan batu besar berjarak 100 - 200 meter dari bibir pantai. Sangat unik untuk diteliti secara geologi bagaimana terbentuknya pulau ini. Meski secara kultur, cerita-cerita rakyat sudahpun berkembang luas di masyarakat mengenai pulau batu ini.
Pantai dan Gua Bamak
4. Tanjung Datuk (Bunguran Utara)
Menurut bang Rodhial Huda (pakar Maritim asli Natuna), beliau mengatakan pulau Bunguran ini memiliki 4 pemecah ombak alami di empat penjuru pulau, (sssstttt, tiga diantaranya masuk dalam wilayah Geopark Natuna, lho). Ini merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang Ia berikan kepada Natuna. Nah Tanjung Datuk ini adalah salah satu diantara yang berada di penjuru utara. Berjarak sekitar 20 - 30 menit berkendara ke arah utara dari geosite Bamak, tebing batuan raksasa berdiri gagah menantang ombak Lautan Natuna Utara untuk dijinakkan. Di area ini juga terdapat singkapan lapisan batuan yang menarik untuk diteliti. Dalam ilmu geologi, batuan-batuan yang tersingkap umunya bisa menunjukan peristiwa dan gejala geologi di suatu tempat tersebut, juga bisa menunjukkan  mineral dan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, seperti migas dan bahan tambang. Di area ini vegetasi sudah agak berubah, berbeda dengan geosite sebelumnya. Tanaman kantong semar bisa kita temukan disini. Untuk culturaldiversitynya, Tanjung Datuk merupakan cerita rakyat yang sudah melegenda, erat kaitannya dengan Senubing, geosite pertama tadi. Dan geosite Tanjung Datuk menjadi geosite terakhir untuk sebelah utara ini.
Tanjung Datuk
5. Batu Kasah (Bunguran Selatan) 
Perjalanan berlanjut ke arah selatan, geosite Batu Kasah. Jarak dari kota Ranai menuju site ini berkisar antara 25 - 30 km, sekitar 45 menit berkendara dengan kecapatan rata-rata (jangan ngebut, tidak bisa nikmatin alamnya nanti). Sama seperti Batu Alif, Batu Kasah merupakan hamparan bebatuan granit yang tersebar dan ada juga yang bertumpuk-tumpuk seakan membentuk formasi di tengah laut. Di sekitar situs ini ada banyak batu-batu yang sangat sayang untuk dilewati, mulai dari Batu Kuoun, Batu Madu, Batu Serapong, dan Batu Kasah itu sendiri, masing-masing punya hikayat untuk melengkapi culturaldiversity situs ini.
Batu Kasah
6. Pulau Akar (Bunguran Selatan)
Terus melanjutkan perjalanan ke arah selatan, maka kita akan sampai ke Desa Cemaga, ibukota Kecamatan Bunguran Selatan. Kita membutuhkan waktu 15 menit dari situs Batu Kasah ke situs Pulau Akar ini. Pulau Akar merupakan tumpukan bebatuan berukuran sedang yang bertumpuk tak jauh dari pinggir pantai Cemaga. Tumpukan bebatuan itu menjadi sebuah pulau kecil nan imut yang menghiasi pemandangan alam pantai Cemaga. Oleh pemerintah dibuatkan jembatan dan pelabuhan agar kita bisa dengan mudah untuk menuju kesana dengan berjalan kaki. Ikan-ikan kecil, kepiting, udang dan binatang laut lain juga seakan siap menemani jalan singkat kita di pelabuhan menuju pulau ini. Pulau kecil seluas 50 meter persegi ini ditumbuhi oleh pepohonan yang jika dilihat dari jauh seperti serabut, itu yang mendasari masyarakat menamainya dengan Pulau Akar. Dari jauh pula terlihat pohon kelapa yang tumbuh tinggi menjulang ditengah-tengah pulau, sehingga kami kadang menyebutnya bikini bottom-nya Natuna (pulau diserial kartun Spongebob).
Pulau Akar

7. Pulau Setanau (Pulau Tiga)
Setelah dari Pulau Akar, perjalanan kita lanjutkan menuju Pulau Setanau. Pulau Setanau terletak di kecamatan Pulau Tiga, akses untuk menuju kesana adalah melewati pelabuhan Selat Lampa. Dari situs Pulau Akar, kita membutuh waktu 45 - 60 menit berkendara untuk sampai ke daerah Lampa. Baru kemudian kita menyewa perahu mesin dan menyebrang menuju Pulau Setanau. Perahu mesin (orang Ranai menyebutnya mutur), merupakan transportasi utama bagi masyarakat Pulau Tiga, juga digunakan untuk mencari ikan. Pulau Setanau merupakan pulau kecil dari yang berada di tengah-tengah Selat Lampa, ini situs geopark Natuna yang terindah menurut saya. Pasir putih dengan laut biru merupakan pemandangan utama situs ini. Di sekitar Pulau Setanau juga bisa dijadikan tempat diving bagi kamu kamu yang suka dengan kegiatan yang memacu adrenalin ini. Di seberang pulau Setanau berdiri kokoh tebing raksasa yang siap memecah ombak, kami menyebutnya Setekul, pemecah ombak yang "bertugas" di wilayah selatan pulau Bunguran. Dan ini merupakan ujung selatan dari situs Geopark Natuna.
Setanau
8. Gunung Ranai (Bunguran Timur)
Saya sengaja menaruh Gunung Ranai didaftar-daftar akhir.  Gunung Ranai merupakan gunung tertinggi di Kabupaten Natuna. terletak di Kecamatan Bunguran Timur, Gunung ini memiliki tiga cabang di puncaknya yang terdiri dari batuan granit besar. Menikmati geosite gunung Ranai kita bisa berjalan dari pos pertama melewati jalur pendakian. Jangan lupa singgah ke air terjun untuk sekedar istirahat sebentar sambil membasuh muka, merasakan segarnya mata air Natuna, air yang sejak dulu kala menjadi pilihan para pelaut untuk dijadikan bekal melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan kita dikelilingi oleh vegetasi khas dataran tinggi, ada juga pohon belian yang bisa tumbuh hingga berdiamter 5 meter lebih. Hati-hati dengan lintah jika kita mendaki saat musim hujan, kita juga bisa menemukan kepiting kecil berwarna merah, ulat kaki seribu berukuran besar, dan beragam fauna lain untuk melengkapi biodiversity situs ini.
Gunung Ranai
9. Pulau Senua (Bunguran Timur)
Saya juga sengaja meletakkan Pulau Senua dibagian akhir. Meski ia berada di tengah kota dan sejalur dengan 4 situs pertama tadi, mengunjungi pulau Senua harus memiliki waktu yang lebih, karena jika digabung dengan perjalanan ke situs lain, maka tidak akan puas untuk bergeowisata di pulau ini. Pulau Senua merupakan salah satu pulau terluar yang dimiliki kabupaten Natuna, terletak di sisi timur pulau Bunguran, pulau ini merupakan destinasi unggulan wisatawan. Dari kota Ranai, kita menuju ke pelabuhan Teluk Baruk yang terletak diantara geosite Senubing dan geosite Batu Alif, sekitar 20 menit berkendara. Setelah tiba dipelabuhan, kita bisa menyewa mutur untuk menuju kesana, waktu yang ditembuh untuk membelah selat Senua berisar 25 - 40 menit. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah. Batu Sindu di sisi kanan, Batu Alif, hingga Tanjung Datuk di sisi kiri, pantai dan gunung Ranai di belakang, dan pulau Senua menanti di depan, duhai nikmat mana lagi yang kau ingin dustakan? Setelah sampai, maka nikmatilah sepuas hati pulau kecil diperbatasan NKRI ini. Pulau Senua juga merupakan surga snorkling dan diving bagi kamu kamu yang suka dengan kegiatan ini, terumbu karang indah serta biota laut lainnya akan siap menemani kamu  kamu menjelajah alam di salah satu geosite terbaik milik Geopark Natuna ini.
Senua

-----------------
Nah itu tadi penjelasan singkat mengenai situs-situs Geopark Natuna, lebih banyak dan berfokus ke geodiversitynya. Nanti insya Allah akan kita ulas satu persatu yaps. Adapun biodiversity atau keragaman hayatinya adalah flora dan fauna yang ada di sekitaran geosite yang mesti kita lestarikan dan melakukan konservasi lebih lanjut. Sementara untuk keragaman budaya atau culutraldiversity sedang dalam proses, dan beberapa masih dalam penelitian dan kajian yang nanti akan diajukan kembali untuk masuk dalam daftar Geopark Natuna. Biodiversity sejauh ini yang diketahui adalah tanaman mangrove, kekah, kupu-kupu, pohon belian, kepiting gunung, burung serindit, dan lain-lain. Sementara culturaldiversity yang berpotensi dan kemungkinan besar akan ada dalam list Geopark Natuna adalah kesenian Mendu, Gasing, Alu, Hadrah, Batik Tikar, Museum Sejarah (Srindit) Natuna, dan lain-lain. 

Mari dukung Geopark Natuna sebagai Geopark Nasional, untuk selanjutnya masuk dalam Jaringan Geopark Dunia.

Natuna bisa!




Sumber Foto : 
Akun FB Raja Darmika
Akun FB Kiki Firdaus (IG @qqfirdaoes)
Naen Noan

Sunday, December 2, 2018

Sah! Natuna Dinobatkan Jadi Geopark Nasional

Penghujung November lalu Natuna dihadiahi hadiah yang istimewa. Komite Nasional Geopark Indonesia atau KNGI melalui Menteri Pariwisata Indonesia bapak Arief Yahya menyerahkan sertifikat Geopark Nasional kepada bupati Natuna, Bapak Abdul Hamid Rizal. Penyerahan sertifikat ini bertepatan dengan acara penandatangan Prasasti Geopark Pongkor di Pongkor, Bogor, Jawa Barat. Dengan ini, maka Geopark Natuna secara resmi diangkat statusnya untuk masuk dalam Jaringan Geopark Nasional atau Indonesia Geopark Network (IGN).
Sertifikat Geopark Natuna, via facebook
Bersamaan dengan Natuna, ada beberapa wilayah lain yang juga diakui statusnya masuk dalam Jaringan Geopark Nasional, diantaranya Silokek (Sumbar), Sianok Maninjau (Sumbar), Sawah Lunto (Sumbar), Natuna (Kepri), Pongkor (Jabar), Karangsambung (Jateng), Karangbolong (Jateng), Banyuwangi (Jatim), dan Meratus (Kalsel). Dengan ini total Geopark yang ada di Indonesia menjadi 19 Geopark, dimana 4 Geopark diantaranya sudah masuk dalam Jaringan Geopark Dunia (Global Geopark Network) yang diakui UNESCO.


Geopark atau Taman Bumi merupakan sebuah konsep manajemen pengembangan suatu kawasan secara berkelanjutan yang memadu-serasikan tiga keanekaragaman alam, yaitu geologi (geodiversity), hayati (biodiversity) dan budaya (culturaldiversity) yang dikemas sedemikian rupa dengan salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan ekonomi lokal yang berkesinambungan. Sehingga bila suatu daerah sudah ditetapkan sebagai Geopark Nasional maka di daerah tersebut bisa digunakan minimal untuk tiga kegiatan, seperti konservasi, pendidikan dan wisata.
Bupati Natuna menerima Sertifikat Geopark Natuna, via FP FB Kai Humas Natuna

Persiapan Natuna
Wilayah Natuna mulai santer diberitakan untuk dijadikan kawasan Geopark sudah saya dengar dari beberapa waktu lalu melalui media sosial dan beberapa artikel hasil gugling. Berbagai kajian-kajian tentang Geopark ini juga sudah dilakukan dan didiskusikan oleh Asosiasi Negara-Negara di Lingkar Samudra Hindia (IORA) dan Lokakarya Laut China Selatan tahun 2016. Setahun berikutnya pada 2017, kajian-kajian tentang usulan Natuna menjadi kawasan Geopark mulai dilakukan, sejalan pula dengan program SIDI (Small Island Development Initiative) dari Kementerian Luar Negeri yang merupakan program untuk mengembangkan pulau-pulau kecil di dekat daerah perbatasan, juga bekerjasama dengan Badan Geologi KESDM. Sejatinya Geopark ini merupakan program lintas sektoral baik dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah. Tercatat berbagai kementrian saling dukung dan bersinergi dalam program Geopark ini, seperti KESDM, Kemenpar, Kemenrisdikti, KemenPU, Maritim, dan lain sebagainya.
Branding Geopark Natuna
Potensi geologi, keberagaman hayati dan warisan budaya yang dimiliki Natuna dinilai masuk dalam kriteria suatu kawasan untuk dijadikan Geopark. Sehingga Natuna direkomendasikan sebagai Geopark Nasional. Pemerintah Natuna pun sangat serius menyambut hal ini, Badan Pengelola Kawasan Geopark Natuna dibentuk guna mendukung terwujudnya Geopark Natuna. Beberapa waktu lalu, branding Geopark Natuna pun sudah diluncurkan oleh pemerintah. Ini menunjukkan pemerintah sangat antusias alam mewujudkan Geopark Natuna.

Dengan diresmikannya Natuna sebagai Geopark Nasional ini maka tugas kita bersama untuk mewujudkannya. Sertifikat yang diberikan oleh Menteri Pariwisata kemarin berlaku statusnya hingga November 2022. Namun dalam kurun waktu tersebut, KNGI akan meninnjau kembali  terutama pada tahun 2019 guna melihat perkembangan Geopark yang ada, termasuk Natuna. Status Geopark Nasional bisa saja ditarik kembali oleh KNGI jika didapati suatu daerah dianggap belum mampu untuk mengelolanya. 

Maka ini adalah PR kita bersama, peran masyarakat sebagai ujung tombak menjaga dan melestarikan area-area geopark sangatlah diharapkan -minimal sah nyacak sambah- guna mewujudkan Geopark Natuna yang nanti juga berimbas pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan wisata daerah itu sendiri. Kerjasama dan sinergi lintas sektoral merupakan hal yang harus dilakukan, mari bahu-membahu membantu membantu mewujudkan Geopark Natuna. Karena akan berdampak pada berbagi sektor bila suatu kawasan ditetapkan menjadi Taman Bumi atau Geopark ini, diantaranya adalah percepatan pembangunan dan pariwisata.

Siap. Natuna bisa!!!

Friday, November 9, 2018

Ini Dia Beberapa Geopark yang Ada di Indonesia, 4 Diantaranya Diakui Dunia.

Bahasan kita masih diseputaran Geopark ya. Entah kenapa excited sekali saya membahas yang satu ini, mungkin karena ada kaitannya dengan ilmu yang pernah saya pelajari dulu waktu kuliah, meskipun hanya sedikit. Lagi pula, jujur, Geopark ini merupakan istilah baru bagi saya yang menyukai hal-hal baru.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa Geopark (taman bumi) merupakan sebuah konsep manajemen pengembangan suatu kawasan secara berkelanjutan yang memadu-serasikan tiga keanekaragaman alam, yaitu geologi (geodiversity), hayati (biodiversity) dan budaya (culturaldiversity) yang dikemas sedemikian rupa dengan salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan ekonomi lokal lewat geowisata. Geopark ini berawal dari organisasi non-profit di Eropa (Europe Geopark Network - EGN) hingga jadi program dari organisasi dunia UNESCO-PBB yang diberi nama GGN (Global Geopark Network) atau Jaringan Geopark Dunia. Kini GGN UNESCO telah memiliki ratusan Geopark terdaftar yang tersebar di seluruh dunia. Geopark terbanyak berada di Republik Rakyat Tiongkok.

Untuk menjadi bagian dari Jaringan Geopark Dunia harus memenuhi beberapa kriteria yang telah ditetapkan oleh UNESCO, diantaranya adalah kawasan tersebut sudah masuk dalam Jaringan Geopark di negaranya dengan memiliki batas-batas yang ditetapkan oleh pemerintah setempat dengan jelas dan memiliki kawasan yang cukup luas untuk pembangunan ekonomi lokal serta minimal ada tiga kegiatan yang berlangsung yaitu konservasi, pendidikan, dan geowisata. Syarat-syarat lainnya adalah pengenalan geopark melalui pendidikan ke sekolah-sekolah sudah harus dila­kukan secara merata kepada masyarakat di sekitar Kawasan Geopark. Panel informasi-edukasi harus sudah terpasang di sejumlah lokasi baik di geo-area maupun di geosite. Pe­masaran dan konsep promosi yang berskala internasional. Jika semua persyaratan terpenuhi, pemerintah akan mengajukan kawasan ini kepada UNESCO untuk dimasukkan dalam daftar Jaringan Geopark Dunia. Selanjutnya, pada pertemuan rutin yang diadakan oleh UNESCO setiap tahunnya, barulah akan diumumkan suatu wilayah yang diajukan layak atau tidak masuk ke dalam Jaringan Geopark Dunia (Global Geopark Network).

Selain memiliki alam yang indah, masing-masing daerah di Indonesia juga memiliki ragam peristiwa geologi yang menarik untuk dipelajari. Kekayaan sumber daya alam yang tersimpan di perut bumi pertiwi ini merupakan salah satu kekayaan dari peristiwa geologi yang bisa kita nikmati. Didukung pula dengan beragam seni dan budaya serta sejarah yang melekat ditiap-tiap daerahnya. Dasar ini pulalah yang pemerintah jadikan dasar untuk terus mendukung daerah-daerahnya agar masuk dalam daftar GGN UNESCO. 

Salah satu keuntungan masuknya daerah dalam Jaringan Geopark Dunia adalah terjaganya kelestarian situs hingga peningkatan kunjungan wisata sehingga berdampak pada ekonomi warga setempat. Karena UNESCO juga akan ikut mempromosikan geopark yang masuk dalam daftar GGN nya sebagai destinasi yang sudah bertaraf internasional. Serta, memberikan standar-standar untuk menjaga dan merawat geoparknya.
Komite Nasional Geopark Indonesia
Indonesia memiliki banyak taman bumi atau Geopark yang tergabung dalam Indonesia Geopark Network (IGN) atau Jaringan Geopark Indonesia. Websitenya adalah geoparks.or.id yang langsung dikelola oleh Komite Nasional Geopark Indonesia, sebuah wadah koordinasi, sinergi, dan sinkornisasi berbagai lembaga pemerintahan baik pusat, provinsi maupun daerah serta pemangku kepentingan dalam rangka penetapan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan, pengelolaan, serta pembinaan dan pengawasan Geopark. Bahkan, empat Geopark yang ada di Indonesia sudah diakui keberadaannya oleh GGN UNESCO. Berikut kita ulas secara singkat daftar Geopark yang ada di Indonesia.

1. Gunung Batur (Bali)
Geopark Gunung Batur terletak di provinsi Bali. Dan ini merupakan Geopark pertama Indonesia yang masuk dalam daftar GGN UNESCO. GGN UNESCO menetapkan kawasan Gunung Batur sebagai bagian dari Jaringan Geopark Dunia dalam pertemuan The 11th European Geoparks Conference yang diadakan di Arouca, Portugal, pada 19 –21 September 2012 lalu. Bali sangat kental dengan adat dan budayanya, didukung oleh alam indah dengan fenomena geologi yang menawan, sangat wajar bila Gunung Batur menjadi geopark pertama Indonesia yang diakui dunia.
Geopark Batur, via google
2. Gunung Sewu (Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur)
Geopark Gunung Sewu merupakan bentangan pegunungan Karst yang terbentang di tiga provinsi di wilayah selatan pulau Jawa. Ia adalah Gunung Kidul (DIY), Pacitan (Jawa Timur), dan Wonogiri (Jawa Tengah). Kawasan Gunung Kidul memang menjadi laboratorium alam bagi mahasiswa ilmu kebumian baik dari kampus sekitaran Jogja maupun di luar Jogja, gejala-gejala geologi seperti singkapan lapisan batuan sedimen, batuan beku, gunung api purba, aliran sungai purba hingga sungai bawah tanah bisa kita temui di sini. Gunung Sewu masuk dalam daftar GGN UNESCO pada tahun 2015 dalam The 14th Asia-Pacific Geoparks Network San’in Kaigan Symposium, yang berlangsung pada 15-20 September 2015 di Tottory City, Jepang.
Gunung Sewu Global Geopark, gambar : google

3. Ciletuh Pelabuhanratu (Jawa Barat)
Kawasan Geopark Ciletuh Pelabuhanratu terletak di Sukabumi, Jawa Barat. Kawasan Geopark ini terdiri dari beberapa air terjun, gunung, sungai hingga pantai. Ciletuh ditetapkan sebagai Geopark UNESCO dalam sidang Executive Board UNESCO ke-204 di Prancis pada april 2018 lalu. Geopark Ciletuh juga merupakan tempat Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng yang berfungsi sebagai area perlindungan untuk satwa liar yang dilindungi yaitu penyu (Chelonia mydas dan CheloniaImbricata), Banteng (Bosjavanicus), dan menjangan (Muntiacus muntjak). Selain itu juga di jumpai hewan lainnya seperti Macan tutul, Raptor (elang laut, elang ularbido, dan elang brontok), Surili, Julang emas dan Rangkong badak, Owa Jawa, Lutung Jawa, Kera ekor panjang; Babi hutan, Musang, Tupai, Biawak, Ular, Ayam hutan, dan aneka jenis burung. Di kawasan ini didiami oleh masyarakat dengan budaya sunda yang melekat erat serta tradisi-tradisi dan acara-acara rakyat.
Geopark Ciletuh Pelabuanratu, gambar : google
4. Rinjani (NTB)
Sama halnya dengan Ciletuh, Geopark Rinjani yang berada di pulau Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat ini juga ditetapkan sebagai Geopark Dunia dalam sidang Executive Board UNESCO ke-204 di Prancis pada april 2018 lalu. Siapa yang tidak kenal Rinjani, gunung api aktif milik provinsi NTB ini memiliki segudang keindahan alam serta sejarah dan geologi yang kuat dan mendalam. Kawasan Geopark Rinjani ini mencakup separuh bagian pulau lombok bagian utara (Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur). Tradisi Ngayu-ayu Tirta di Lembah Sembalun, tradisi Mulang Pekelem di danau Segara Anak, Kampung Tradisional Sembalun dan situs-situs lainnya yang lahir dari kebudayaan setempat seperti Masjid Beleq Bayan, Masjid Kuno Gumantar merupakan bagian dari budaya (culturaldiversity) yang bisa kita temui di kawasan geopark ini.
Rinjani Geopark, via google
5. Kaldera Toba (Sumatera Utara)
Geopark Kaldera Toba terletak di provinsi Sumatera Utara. Geopark inilah yang sedang diusahakan oleh tim dan pemerintah Indonesia agar masuk dalam GGN UNESCO. Sebelumnya Kaldera Toba berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Nomor: 20/KEP/D.PDP/III/2012 tanggal 25 Maret 2012 telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional Indonesia. Kaldera Toba merupakan suatu gejala geologi terdahsyat yang pernah tercatat. Toba pada puluhan ribu tahun yang lalu merupakan sebuah gunung api aktif, peneliti menyebutnya Toba Supervolcano, dan kemudian mengalami erupsi besar-besaran pada 74.000 tahun yang hingga mempengaruhi iklim dunia, menyebabkan kepunahan makhluk hidup pada zamannya. Setelah memuntahkan apa yang ada didalamnya, terbentuklah cekungan besar yang disebut kaldera hingga menjadi danau toba seperti sekarang ini. 
Kaldera Toba Geopark, via google

6. Merangin (Jambi)
Kawasan Geopark Merangin terletak di provinsi Jambi, tepatnya di Kabupaten Merangin, disebelah barat sejauh kurang-lebih 280an km dari kota Jambi. Geopark yang terdiri singkapan bebatuan disepanjang sungai, ada juga air terjun dan goa ini sudah ditetapkan menjadi Geopark Nasional pada tahun 2010 lalu. Lalu pada 2014 sudah diajukan untuk masuk dalam GGN UNESCO namun ditolak karena ada beberapa persyaratan yang belum lengkap, tahun berikutnya pada 2015 Geopark Merangin kembali diajukan ke UNESCO dan belum mendapat jawaban hingga saat ini.
Geopark Merangin, via google


7. Belitong (Bangka Belitung)
Geopark Belitong terletak di provinsi Bangka Belitung, tersebar di kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Kawasan Geopark ini hampir mirip dengan kawasan Geopark Natuna yang baru akan diajukan. Hamparan pantai indah, beserta batuan granit berusia jutaan tahun menjadi unggulan di kawasan geopark ini. Ada juga lokasi bekas tambang timah. Belitung yang merupakan jalur timah purba sampai saat ini merupakan daerah penghasil timah nasional yang dikelola oleh PT. Timah. Belitung ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada November 2017 oleh Kemenko Maritim dalam seminar Nasional Geopark.
Geopark Belitong, sumber gambar : google

8. Raja Ampat (Papua Barat)
Raja Ampat dikenal sebagai kawasan wisata baru Indonesia sejak beberapa tahun silam. Terletak di Kabupaten Raja Ampat provinsi Papua Barat dengan ibukotanya adalah Waisai. Keindahan alam Raja Ampat dengan 610 pulaunya serta ragam budaya dan khasnya menjadikan wilayah Raja Ampat memenuhi persyaratan untuk ditetapkan menjadi kawasan Geopark Nasional pada tahun 2017 oleh Kemenko Maritim dalam seminar Nasional Geopark Belitung pada november 2017.
Geopark Raja Ampat, gambar : google
9. Tambora (Nusa Tenggara Barat)
Geopark Tambora juga termasuk dalam "lima serangkai" geopark nasional yang ditetapkan oleh Kemenko Maritim pada november 2017 lalu. Dengan begini, NTB memiliki 2 geopark yang salah satunya sudah diakui oleh UNESCO. Tambora merupakan gunung yang berada di pulau Sumbawa provinsi NTB, gunung yang berlubang ditengahnya ini merupakan hasil letusan dahsyat gunung api Tambora pada masa lampau yang biasa disebut dengan kaldera. Letusan dahsyat yang pernah terekam sejarah ini terdengar hingga Batavia (Jakarta), Bangka dan Makassar yang jaraknya ribuan km dari pusat letusan. Juga menyebabkan beberapa kepunahan makhluk hidup bahkan budaya. Bahkan efek dari letusan gunung Tambora ini sampai hingga perubahan iklim di Eropa.
Geopark Tambora, via google

10. Maros Pangkep (Sulawesi Selatan)
Kawasan Maros Pangkep ini lebih dikenal dengan daerah karst dan memiliki sinkhole yang besar. Selain itu, geopark yang masuk dalam wilayah provinsi Sulawesi Selatan ini juga merupakan rumah bagi beberapa flora dan fauna, salah satunya adalah beragam jenis kupu-kupu sehingga disebut dengan Kingdom of Butterfly. Gua-gua karst yang ada juga menyimpan jejak-jejak kehidupan manusia prasejarah. Maros Pangkep termasuk dalam "lima serangkai" kawasan yang ditetapkan menjadi geoparks Nasional pada seminar nasional di Belitung dengan predikat nilai C yang berarti lulus dengan beberapa rekomendasi.
Geopark Maros - Pangkep, via google

11. Bojonegoro (Jawa Timur)
Geopark Bojonegoro yang terletak di Jawa Timur ini memiliki keunikan fenomena geologi yakni batuan reservoir yang termasuk dangkal, berkisar antara 100 meter di bawah permukaan tanah. Ini menjadikan wilayah Bojonegoro menjadi lapangan minyak terdangkal di Indonesia. Saat saya kuliah dahulu, Bojonegoro merupakan "area wajib" untuk didatangi saat kuliah ataupun study lapangan. Singkapan-singkapan batuan yang ada mewakili petroleum system, terdapat juga kawasan antiklin di daera Kawengan, serta jejak-jejak fosil banyak ditemukan di geopark ini. Selain itu, ada juga suku yang dikenal dengan Masyarakat Samin. Ini merupakan keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, dimana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap belanda dalam bentuk lain diluar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala aturan yang dibuat pemerintah kolonial. Kawasan Bojonegoro ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada november 2017 dengan nilai D, artinya ada beberapa hal yang harus dipenuhi, untuk tahun depan ditinjau kembali.

Geopark Bojonegoro, via google
Itu dia daftar Geopark / Taman Bumi yang ada di Indonesia dimana empatnya sudah diakui oleh UNESCO. Sementara Taman Bumi yang masuk dalam Jaringan Geopark Nasional Indonesia ada tujuh geopark daerah yang sudah bersertifikat Nasional, dua dari tujuh geopark (Kaldera Toba dan Merangin) tersebut sedang dalam proses pengajuan untuk didaftarkan masuk dalam Jaringan Geopark Dunia, bahkan Geopark Belitung yang baru diangkat menjadi Geopark Nasional pada 2017 lalu juga mendapat perhatian khusus pemerintah untuk diajukan menjadi Geopark Global. Sementara Indonesia memiliki puluhan situs geoheritage yang berpotensi untuk menjadi Geopark Nasional. Termasuk Natuna.
Potensi Geopark di Indonesia
 






sumber :
http://www.geoparks.or.id/id/
https://alamendah.org/2012/09/25/gunung-batur-bali-geopark-pertama-di-indonesia/
https://travel.detik.com/travel-news/d-3976588/bangga-indonesia-kini-punya-4-unesco-global-geopark
http://www.unesco.org/new/en/natural-sciences/environment/earth-sciences/unesco-global-geoparks/list-of-unesco-global-geoparks/indonesia/ 
https://djangki.wordpress.com/2016/02/12/geopark-merangin-dari-jambi-untuk-dunia/ 
http://scalatoba.blogspot.com/2017/04/mengenal-geopark-nasional-kaldera-toba.html
https://kwriu.kemdikbud.go.id/berita/5-destinasi-sabet-gelar-taman-nasional-geopark-di-indonesia/