Wednesday, September 17, 2025

Cerita Pickleball di Indonesia: Awal Mula Hingga Masuk PON

Pada tiga episode yang lalu, kita sudah mengetahui tentang sejarah Pickleball, ekspansinya ke berbagai negara hingga perkembangan olahraganya. Berikutnya kita akan ulik sejarah perkembangan Pickleball di Indonesia. Oke, jom!

Mengutip beberapa sumber, ada beberapa versi tentang awal mula pickleball masuk ke Indonesia. Versi pertama menurut wikipedia. Disebutkan bahwa Pickleball pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1996, kala itu sepasang suami istri mengenalkan pickleball di area komplek perumahan mereka dalam skala komunitas kecil, sehingga tak begitu berkembang pesat.

Versi kedua mengutip sebuah artikel dari Retizen Republika, yang menyatakan bahwa pickleball masuk ke Indonesia pada kurun waktu 2015-2017 yang dibawa oleh sekelompok ekspatriat Amerika dan Kanada. Mereka mulai memainkannya di klub-klub olahraga Jakarta, salah satunya dipelopori oleh sosok bernama Michael Thompson di JSRCC (Jakarta Sports & Recreation Community Center). Pada masa ini, permainan masih sangat terbatas di lingkungan komunitas internasional dan belum dikenal luas oleh masyarakat lokal.
Kendati demikian, kami belum menemukan referensi literatur yang cukup kuat untuk memverifikasi dua versi awal di atas.
Versi ketiga mengenai masuknya olahraga ini di Indonesia adalah tahun 2019. Tepatnya pada 14 April, seorang instruktur Pickleball England berkebangsaan Belanda bernama Jeff van der Hulst (Ambassador International Federation of Pickleball), bersama dengan Sri Dewi dan Susilo (Cak Sus) selaku Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta (FIKK UNJ) memperkenalkan olahraga ini di Indonesia. Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menjadi kampus pertama tempat olahraga ini dikenalkan.
Sri Dewi, Jeff van der Hulst, Hendry Winarto, dan Cak Sus
pionir Pickleball di Indonesia

Sambutan akan olahraga ini begitu besar, sosialisasi Pickleball pada tahun yang sama diperluas sampai ke Cirebon hingga ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada bulan november. Bahkan juga di bulan yang sama, pickleball sudah dikenalkan sampai di Kalimantan Timur.

Turnamen Pertama

Tak menunggu waktu lama, pada bulan November 2019, turnamen pickleball pertama di tanah air ini digelar. Turnamen bertajuk Jakarta Pickleball Championship 2019 ini berlangsung di Hall A Kampus FIK UNJ, dan diikuti oleh pelajar, mahasiswa, dosen dan guru-guru olahraga. 

Selain sebagai ajang kompetisi, turnamen perdana ini dilaksanakan juga bertujuan untuk mensosialisasikan pickleball kepada masyarakat luas, penjaringan dan pembinaan bibit atlet hingga penguatan komunitas. Beberapa tokoh ikut meramaikan turnamen pickleball perdana tersebut diantaranya Hendry Winarto (mantan atlet badminton nasional dan juga kini sebagai pelatih Badminton di USA juga sebagai atlet dan pelatih Pickleball), Jeff, Cak Sus, dan Sri Dewi.

Wadah Resmi

Pada tahun 2020 “Persatuan Pickleball Indonesia” (PPI) sebagai wadah resmi olahraga Pickleball di tanah air didirikan. Namun saat pengajuan akta notaris, PPI tidak disetujui dan akhirnya berubah menjadi “Indonesia Pickleball Federation” (IPF) dengan Dr. Komaruddin sebagai ketua PB IPF Pertama. 
Logo IPF
Dan kini, jaringan IPF kini sudah tersebar diberbagai provinsi di Indonesia.
Selain organisasi resmi, pickleball berkembang pesat lewat peran aktif klub dan komunitas. Komunitas di Kalimantan Timur dan Bali, misalnya, gencar menggelar pelatihan dan turnamen internal. Beberapa komunitas yang populer antara lain Borneo Pickleball di Kaltim dan Indonesia Pickleball Community (Indopico) yang bermarkas di Bali.

Kejuaraan Pickleball Nasional pertama diselenggarakan di Jakarta pada tahun 2021. Kejuaraan bertajuk CS Pro National Championship 2021 itu berlangsung pada bulan Maret tahun 2021 di Kampus FIKK UNJ di Jakarta. Selanjutnya, berbagai kejuaraan kerap dilakukan baik skala daerah, hingga internasional. Bahkan Balikpapan pernah menjadi tuan rumah Asia Flex League Indonesia, event pickleball regional bergengsi yang di-host Indonesia.

Lahirnya Atlet-atlet Berkualitas

Dari berbagai event yang diselenggarakan, lahirlah beberapa atlet nasional pickleball. Ada beberapa yang kami ketahui, seperti Bagus Adam, Dwi Mahendra, Bastian A.S., serta sederet nama potensial lainnya. Selain di Indonesia, para atlet ini juga mendulang prestasi di kancah regional.
Bagus Adam, Dwi Mahendra, dan Bastian A.S.

Keberhasilan para atlet menembus panggung regional membuktikan bahwa pickleball di Indonesia telah bertransformasi dari sekadar olahraga rekreasi menjadi cabang kompetitif yang menjanjikan. Untuk menjaga momentum ini, keberlanjutan regenerasi melalui pembinaan daerah dan penyelenggaraan turnamen berkala menjadi kunci utama agar Indonesia tidak hanya berpartisipasi, tetapi mampu mendominasi peta kekuatan pickleball di tingkat Asia.

Resmi Diterima KONI

Langkah besar terjadi pada tahun 2023, IPF secara resmi diterima dan diakui sebagai cabang olahraga prestasi di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Hal ini menandai bahwa pickleball memiliki legitimasi penuh untuk dipertandingkan secara resmi dalam agenda olahraga nasional maupun global.

Puncaknya, untuk pertama kalinya dalam sejarah Pekan Olahraga Nasional (PON), olahraga pickleball dipertandingkan sebagai cabang eksibisi pada PON XXI Aceh-Sumut 2024. Meski belum memperebutkan medali resmi, kehadiran pickleball di panggung olahraga terbesar se-Indonesia ini menjadi tonggak sejarah yang membanggakan. Para atlet dari berbagai daerah membuktikan bahwa olahraga yang dulunya asing ini mampu disajikan secara kompetitif, menarik, dan inklusif untuk segala usia.
Kontingen Pickleball dari Kaltim menyabet Juara Umum Cabor Pickleball
PON XXI Aceh Sumut 2024 (sumber: kaltimkita)

Momentum positif ini terus berlanjut. Dalam waktu singkat, IPF berhasil membangun jaringan kepengurusan di hampir seluruh 38 provinsi di Indonesia. Jumlah pemain aktif pun melonjak tajam dari segelintir orang pada 2019 menjadi ribuan dalam hitungan tahun. Prestasi kancah internasional pun mulai diukir, termasuk raihan medali emas dan perak pada ajang World Pickleball Championship (WPC) Series.

Kini, target berikutnya sudah jelas: menjadikan pickleball sebagai cabang olahraga resmi yang memperebutkan medali pada PON XXII 2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Jika terwujud, Indonesia akan mencatatkan sejarah sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memasukkan pickleball sebagai cabang olahraga bermedali penuh dalam multi-event nasional.

Dari lapangan kampus UNJ yang sederhana di 2019, hingga panggung PON dan mimpi Olimpiade, perjalanan pickleball di Indonesia memang terbilang cepat. Tapi justru di situlah daya tariknya. Olahraga ini membuktikan bahwa dengan semangat komunitas, dukungan lembaga, dan sedikit keberanian untuk mencoba hal baru, sebuah permainan yang lahir di halaman rumah di Amerika Serikat bisa tumbuh subur di tanah air.


Cerita pickleball, masih berlanjut......................



sumber:


Wikipedia
Portal Jurnal UNJ

Monday, September 8, 2025

Cerita Pickleball: Ekspansi dan Era Modern

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas tentang konsistensi pickleball, turnamen, hingga pembentukan organisasi pertamanya yang bisa diakses melalui tautan ini. Sekarang, lanjut lagi yak. Jom!

Setelah secara konsisten dimainkan di hampir seantero negeri, dan secara rutin menyelenggarakan turnamen setiap tahun. Pickleball terus melakukan inovasi. Padle awal yang menggunakan kayu selama 20 tahun akhirnya berevolusi dengan bahan komposit yang mulai digunakan pada tahun 1984an. Begitu juga dengan bola. Sejak penggunaan bola whiffle pada saat pertama ditemukan, penggunaan bola pickleball juga mengalami penyesuaian hingga yang kita gunakan saat ini.

Penyebaran olahraga ini juga tergolong cepat. Kanada adalah negara pertama tempat berkembangnya pickleball di luar Amerika. Kedekatan geografis merupakan salah satu faktor olahraga ini cepat berkembang di sana. Beberapa literatur menyebutkan, pickleball masuk ke Kanada pada awal 1970an, bahkan belum 10 tahun sejak pertama kali dimainkan. Sama seperti di Amerika, pickleball awal di Kanada didominasi oleh para "veteran", sebelum berkembang pesat hingga saat ini.

Federasi Pickleball Kanada, Singapura, dan Meksiko


Tahun 1984, atap gedung Doan Development menjadi pusat liga pickleball tempat bertanding 48 tim pickleball di Kanada. Tahun 2009, organisasi Pickleball Kanada resmi berdiri dengan nama Pickleball Canada Organization, yang selanjutnya berubah menjadi Pickleball Canada.

Selang belasan tahun setelah pickleball mulai populer di Kanada, olahraga ini menyebar ke Meksiko pada tahun 2000an yang dimainkan oleh ekspatriat Amerika yang tinggal di sana. Mereka memainkan pickleball di kawasan wisata seperti di Puerto Vallarta dan wilayah Danau Chapala/Ajijic. 

Pickleball masuk ke Asia pada tahun 1990an, dengan Singapura sebagai negara pertama. Pickleball dikenalkan di Singapura lewat komunitas lokal dan ekspatriat. Bahkan, Joel Pritcard sempat mengunjungi Singapura pada tahun 1996 dan memberikan kursus wasit di sana. Singapura mencatatkan dirinya sebagai negara di Asia pertama yang mengembangkan olahraga pickleball.

Munculnya Atlet dan Era Profesional

Oke, kita kesampingkan dulu negara-negara tempat penyebaran pickleball di seluruh dunia. Memasuki tahun 2000an, pickleball mulai memasuki era yang lebih serius. Atlet-atlet khusus pickleball mulai bermunculan, turnamen nasional dan internasional juga mulai rutin digelar, dan hadiah kompetisi pun semakin besar.

Nama-nama seperti Scott MooreTyson McGuffin, dan Ben Johns dikenal sebagai pionir atlet Pickleball modern. Dari sini, Pickleball tak lagi sekadar olahraga rekreasi, melainkan cabang olahraga dengan liga profesional, sponsor besar, dan liputan media yang luas.

Scott Moore, Tyson McGuffin, dan Ben Johns

Pickleball dan Perkembangannya di Dunia

Dalam satu dekade terakhir, popularitas Pickleball meningkat sangat pesat. Amerika Serikat masih menjadi pusat perkembangan, tetapi olahraga ini juga tumbuh cepat di Kanada, Eropa, Australia, hingga Asia.

Media sosial memainkan peran besar dalam penyebarannya. Video tutorial, cuplikan pertandingan, dan konten komunitas membuat Pickleball mudah dikenal dan dipelajari. Banyak negara kemudian membentuk federasi nasional dan mulai memasukkan Pickleball ke dalam agenda olahraga resmi.

Memasuki dekade 2010-an, Pickleball mengalami lonjakan popularitas yang signifikan. Media sosial, YouTube, dan platform streaming memainkan peran besar dalam menyebarkan olahraga ini ke luar Amerika Serikat.

Federasi Pickleball mulai terbentuk di berbagai negara, antara lain All India Pickleball Association di India (2008), Asociación EspaƱola de Pickleball di Spanyol (2012), Pickleball South Africa (PSA) atau The Pickleball Federation of South Africa di Afrika Selatan (2018) dan Pickleball Australia Association di Australia (2020), dan lain-lain.

Federasi Pickleball India, Spanyol, Afrika Selatan, dan Autralia

Turnamen internasional juga mulai banyak digelar, liga profesional dibentuk, dan Pickleball mulai diperkenalkan sebagai olahraga kompetitif serius, tanpa kehilangan sifat rekreatifnya.

Dari halaman belakang sebuah rumah di pulau kecil di Amerika, Pickleball kini menjelma menjadi olahraga global. Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik utama: mudah dipelajari, bisa dimainkan siapa saja, namun tetap menantang untuk dikuasai.

Mungkin itulah alasan Pickleball terasa relevan hari ini: olahraga yang tidak menuntut kesempurnaan, tapi menawarkan kegembiraan. Pickleball tidak lagi hanya olahraga rekreasi, tetapi telah menjadi industri olahraga.

Selanjutnya, kita bahas bagaimana Pickleball mulai masuk ke Indonesia.



Sumber:
https://pickleballcanada.org/
https://picklex.ca/
https://mexiconewsdaily.com/
https://www.afpickleball.org/

Tuesday, September 2, 2025

Cerita Pickleball: Konsistensi, Turnamen, dan Organisasi Pertama

Sejarah pickleball sudah kita bahas sebelumnya. Tulisan tersebut bisa diakses melalui tautan ini. Kali ini kita lanjutkan dengan perkembangan pickleball setelah ia mulai dikenal luas. Oke, gas!

Setelah artikel mengenai pickleball pertama kali dimuat di koran pada tahun 1975. Artikel-artikel tentang pickleball sering dimuat di berbagai media massa. Seperti pada tahun 1976, Tennis Magazine menerbitkan tulisan dengan judul “America’s Newest Racquet Sport” (Olahraga Raket Baru di Amerika) yang turut meningkatkan kesadaran akan olahraga tersebut dan memicu pesanan massal produk-produk pickleball. Hal tersebut kembali menegaskan keeksistensian olahraga baru tersebut.

Menariknya, pada fase awal, pickleball justru populer di kalangan usia dewasa dan lansia. Alasannya sederhana, lapangan kecil, gerakan tidak terlalu eksplosif, dan relatif lebih ramah bagi sendi dibanding tenis. 

Namun seiring waktu, persepsi itu berubah. Generasi muda mulai melirik Pickleball sebagai olahraga yang cepat, strategis, dan kompetitif, terutama dalam format ganda. Permainan net yang intens, refleks cepat, dan adu taktik membuat Pickleball terasa menantang, meski terlihat santai dari luar.

Memasuki akhir 1960-an hingga 1970-an, Pickleball mulai menyebar ke sekolah-sekolah dan pusat komunitas di Amerika. Setelah Pickle-Ball Inc. dibentuk pada tahun 1972 untuk mengakomodir kegiatan pickleball, termasuk aturan-aturan permaian hingga penjualan raket dan net yang mulai meningkat.

Pada musim semi tahun 1976, turnamen Pickleball pertama kali digelar di South Center Athletic Club di Tukwila, Washington, sebuah pinggiran kota Seattle. Turnamen bertajuk "The World’s First Pickleball Championship" ini sebagian besar peserta merupakan pemain tenis di kalangan perguruan tinggi, dan diantaranya ada yang belum pernah bermain pickleball sebelumnya.

Pada turnamen pickleball yang pertama ini, tampil sebagai juara adalah David Lester pada kategori Tunggal Putra (Men's Singles), sementara Steve Paranto menjadi juara kedua. Sedangkan untuk kategori ganda putra (Men's Double) dimenangkan oleh Scot Stover dan Rob Cahill setelah mengalahkan pasangan Dave Lester dan Steve Paranto di partai final.
Dave Lester (kiri) juara 1 turnamen dan Steve Paranto juara 2, mereka juga merupakan pasangan ganda putra yang meraih juara 2 pada turnamen yang sama.

Rob Cahill dan Scot Stover (kiri) sumber FB, Steve Paranto dan Dave Lester (kanan) dalam turnamen pickleball pertama yang digelar tahun 1976

Perkembangannya yang konsisten membuat pickleball banyak diminati berbagai kalangan. Pada tahun 1978, sebuah buku berjudul “The Other Racquet Sports” diterbitkan, yang memuat informasi tentang pickleball. Publikasi ini berfungsi sebagai sumber informasi edukatif, yang membantu meningkatkan kesadaran tentang olahraga tersebut dan peraturannya untuk kalangan pecinta pickleball.

Diakhir 1970an dan awal 1980an, seseorang bernama Sid Williams muncul, yang kelak akan dikenal sebagai tokoh terkemuka di kalangan komunitas pickleball. Semangatnya terhadap olahraga ini serta kemampuannya berorganisasi membuatnya memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan pickleball. Tahun 1982 ia mulai menyelenggarakan turnamen dan mengajarkan permainan tersebut kepada orang lain. Ia juga menjadi pionir penyelenggaraan turnamen dan acara di seluruh negara bagian Washington. 

Pada maret 1984, Sid William mendirikan USA Pickleball Association (USAPA). Ia juga yang menjadi presiden pertama organisasi pickleball tertua di dunia tersebut. Salah satu tugas USAPA adalah yang menyusun aturan resmi permainan. Awalnya, huruf “A” pertama dalam U.S.A.P.A. merupakan singkatan dari “Amateur.” Kemudian sekitar tahun 1986-1987, Sid mengubahnya menjadi “America” seperti yang dikenal saat ini. Di bawah kepemimpinan Sid sebagai Direktur Eksekutif dan Presiden, U.S.A.P.A. menciptakan sistem peringkat dan klasifikasi nasional untuk para pemain. Mereka mengembangkan dan memperluas aturan resmi untuk turnamen serta menerbitkan buku aturan pertama. Kurun tahun 1984 hingga 1995, Sid dan U.S.A.P.A. menyelenggarakan sekitar sepuluh turnamen setiap tahun. Banyak di antaranya merupakan acara amal untuk membantu Emergency Food Network dan Mary Bridge Children’s Hospital. Secara total, ia telah memimpin lebih dari 90 turnamen.

Sid Williams, pendiri dan presiden pertama USAPA (sumber: pickleballhalloffame.global)

Ia menerbitkan buletin triwulanan dan memperkenalkan ketentuan bahwa setiap pertandingan harus memiliki wasit. Para pemain yang kalah dalam suatu pertandingan diwajibkan untuk menjadi wasit pada pertandingan berikutnya. Selain itu, U.S.A.P.A. juga menyelenggarakan klinik dan seminar pelatihan, sekaligus mempromosikan kompetisi antarperguruan tinggi dan internal dengan distrik sekolah, serta secara resmi mengajukan permohonan untuk menjadi anggota aktif Dewan Presiden untuk Kebugaran Fisik dan Olahraga. Pada pertengahan 1980-an, Sid mendapatkan Nalley Fine Food Company sebagai sponsor mereka, menjadikan Nalley Fine Food Company sebagai pendukung komersial pertama pickleball.

Pada tahun 1984 seiring dengan perkembangan pickleball. Perlatan pickleball juga mengalami perkembangan dan penyesuaian. Pada tulisan sebelumnya kita telah mengenal Barney McCallum, rekan Joel dan Bill, seorang tukang kayu yang mengembangkan paddle pickleball dari kayu lapis yang ia kerjakan di bengkel kayu rumahnya pada tahun 1965. Bentuk dasarnya masih yang paling umum digunakan pada pddle saat ini. Paddle-paddle ini jauh lebih berat daripada paddle modern, dengan berat sekitar 13 ons. Butuh hampir 20 tahun bagi teknologi baru untuk menggantikan raket kayu tersebut.

Akhirnya pada tahun 1984, seorang insinyur industri Boeing bernama Arlen Paranto merancang dan membuat paddle pickleball komposit. Arlen ingin membantu putranya, Steve, yang pada saat itu menjadi salah satu pemain pickleball papan atas dan tidak menyukai raket yang lebih berat.

Sebagai seorang insinyur industri Boeing, ia memiliki pengetahuan dan material yang diperlukan untuk menciptakan paddle yang ringan. Raket barunya memiliki inti sarang lebah, sangat mirip dengan sebagian besar raket yang beredar saat ini. Ia dan Steve bekerja sama untuk membuat paddle di garasi mereka, dan akhirnya meluncurkan Pro-Lite Sports. Paddle-paddle ini dengan cepat menguasai pasar karena para pemain merasa sulit untuk menang menggunakan paddle lama mereka yang terbuat dari kayu.
Steve Paranto bersama rekanna Tony Longbrake dalam turnamen pickleball menggunakan paddle prolite, paddle komposite pertama buatan ayahnya. (sumber: FB)
Tahun 1990an, pickleball sudah berkembang pesat di Amerika. Di Arizona dan Florida, pickleball berkembang dan dimainkan di kawasan pensiunan dan menjadi olahraga rekreasi. Olahraga ini dipilih karena low impact (tidak terlalu membebani sendi dan otot), sosial, dan mudah dipelajari.

Pada era ini juga turnamen berskala nasional semakin sering digelar. Sistem peringkat pemain mulai diperkenalkan. Peralatan pun berkembang, paddle tidak lagi hanya dari kayu, tetapi menggunakan material komposit, fiberglass, dan karbon. Begitu juga dengan bola. Menegaskan pickleball perlahan masuk ke era modern. 

Akan kita bahas pada tulisan berikutnya, oke!


Sumber:
https://usapickleball.org
https://slopickleball.org/
https://www.sutori.com/
https://www.selkirk.com/
https://pickleballhalloffame.global/
https://picklego.co/
https://www.playpickleball.com/

Monday, September 1, 2025

Cerita Pickleball: Dari Belakang Rumah Hingga Mendunia

Beberapa tahun terakhir, dunia olahraga kedatangan “tamu” baru. Sebuah jenis olahraga yang disebut-sebut sedang naik daun terutama di Amerika Serikat dan mulai merambah Asia (setidaknya itu yang sering saya lihat dari berbagai video di YouTube).

Lapangan Pickleball di AS (sumber: californiasportssurfaces(dot)com)
Olahraga ini bernama Pickleball. Hingga tulisan ini dibuat, saya belum menemukan padanan kata yang pas untuk meng-Indonesia-kan namanya. Meski terkesan baru, sebenarnya Pickleball sudah ada cukup lama dan kini sedang naik daun.

Permainannya yang simpel serta lapangan yang tak begitu besar membuat permainan ini banyak disukai oleh berbagai kalangan. Bagi yang "sudah berumur", pickleball sebagai "pelarian" di kala bermain tenis sudah tidak sanggup karena lapangannya yang besar. Atau karena kaki sudah tidak bisa selincah bermain badminton. Dan bagi anak-anak dan pemula, pickleball menjadi alternatif baru olahraga yang simpel sebagai bagian dari penerapan hidup sehat.

Apa itu Pickleball?

Secara sederhana, Pickleball adalah olahraga yang menggabungkan tiga “leluhur” olahraga sekaligus, yakni tenis, bulutangkis, dan pingpong. Ia dimainkan di lapangan seukuran lapangan bulutangkis, dengan teknik permainan mirip tenis, namun menggunakan alat pemukul yang bentuknya menyerupai bet pingpong -disebut paddle-, serta bola plastik padat berlubang.

Dimensi lapangan pickleball dalam satuan kaki (ft). (sumber: oldworldgardenfarms(dot)com)

Secara rinci, Pickleball dimainkan di dalam lapangan persegi panjang, yang dibatas net dengan tinggi 82 cm dari atas permukaan. Ukuran lapangan terdiri dari panjang 13,41 meter, lebar 6,10 meter, dan ukuran kitchen 2,13 meter dari net pada masing-masing sisi. Kitchen merupakan area non-volley, dimana pemain tidak boleh melakukan pukulan volley apabila berada di dalamnya.

Sejarah dan Asal Nama Pickleball

Mengutip laman ppatour.com, Pickleball pertama kali dimainkan pada tahun 1965 di Pulau Bainbridge, sebuah pulau yang berada di sebelah barat Kota Seattle, Washington, Amerika Serikat. Olahraga ini diciptakan oleh Joel Pritchard, seorang Kongres Washington bersama dua temannya Bill Bell seorang pengusaha dan Barney McCallum.

Pencipta olahraga pickleball, Joel Pritchard, Barney McCallum, dan Bill Bell. (sumber pickleballhalloffame(dot)global)

Awalnya, Pickleball sama sekali tidak dirancang sebagai olahraga serius. Ceritanya bermula dari situasi yang sangat “rumahan”. Kala itu musim panas, Pritchard dan Bell mencari cara untuk "menghilangkan" kebosanan menghadapi musim panas tersebut. Karena rumah Pritchard memiliki lapangan badminton, Pritchard dan Bell mulai mencari peralatan badminton, tetapi tidak dapat menemukan cukup raket. 

Beruntung, mereka menemukan dua raket pingpong dan bola whiffle, yang mereka gunakan untuk memukul bola melintasi jaring badminton setinggi 60 inci. Saat terus bermain, mereka menyadari bola whiffle melambung dan memantul dengan baik di permukaan aspal. Jadi, mereka memutuskan untuk menurunkan jaring hingga ke tanah (36 inci di ujung dan 34 inci di tengah) dan membolehkan bola dipukul setelah memantul seperti permainan tenis.

Pekan berikutnya, Pritchard dan Bell mengundang Barney McCallum untuk mencoba permainan baru tersebut, dan ketiganya mulai mengembangkan aturan-aturan permainan. Dikenal sebagai orang yang “terampil,” McCallum yang merupakan tukang kayu itu membuat raket (yang selanjutnya disebut dengan paddle) secara manual di bengkel kayunya. Ia juga salah satu yang mencetus aturan zona non-volley di daerah kitchen. Hal tersebut menaruhnya menjadi anggota penting dalam sejarah pembentukan pickleball. 

Pada tahun 1967, Pritchard membangun lapangan belakang rumah yang permanen. Dalam beberapa artikel menyebutkan, tetangganya bernama Bob O'Brian yang membangun lapangan pickleball yang permanen.

Padle pertama? (sumber: dupr(dot)com)

Tak disangka, permainan itu justru terasa menyenangkan. Aturannya pun disesuaikan sedikit demi sedikit agar bisa dimainkan dengan nyaman, adil, dan tidak terlalu melelahkan. 

Dari sekadar permainan keluarga, Pickleball mulai dimainkan oleh tetangga dan komunitas di sekitar. 

Soal nama “Pickleball”, ada dua versi cerita yang sering beredar. Versi pertama menyebutkan bahwa nama ini diambil dari anjing keluarga Pritchard bernama Pickles, yang gemar mengejar bola saat permainan berlangsung. Versi lain menyebutkan istilah pickle boat dalam olahraga dayung, yaitu perahu yang diisi oleh atlet campuran dari berbagai tim.

Nah, masih menurut lama ppatour.com, istilah pickleball berasal dari istri Pritchard yang bernama Joan. Sesaat setelah olahraga ini mulai diperkenalkan, Joan menamakannya pickleball yang terilhami dari olahraga dayung. Dalam olahraga dayung, para pendayung yang tidak ikut balapan utama akan mengikuti balapan mereka sendiri. Para pendayung sisa tersebut berkompetisi hanya untuk bersenang-senang dalam balapan yang disebut dengan “pickle boat”. Atas dasar itu, Joan menamakannya sebagai pickleball, permainan yang tercipta dari sisa-sisa olahraga lain.

Joel Pritchard dan istrinya Joan (sumber pickleballhalloffame(dot)global)

Mengenai versi yang kedua, tentang nama anjing dari keluarga Pritchard, Pickles. Versi ini diragukan sebab anjing yang dimaksud baru ada pada tahun 1968, 3 tahun setelah permainan ini diciptakan, atau 1 tahun setelah Pritchard membuat lapangan pickleball yang permanen. Nama pickles diberikan karena anjing tersebut kerap mengejar bola ketika mereka bermain pickleball. 

Dan dalam tujuh tahun sejak permainan dikembangkan, yakni pada tahun 1972 sebuah organisasi resmi bernama Pickle-Ball Inc. dibentuk untuk mengakomodasi olahraga baru yang mereka ciptakan ini. Permainan ini dengan cepat menarik minat teman dan tetangga, sehingga berkembang pesat hingga keluar Pulau Bainbridge.

Pada tahun 1975, surat kabar National Observer menyoroti dan menulis artikel tentang pickleball. Hal ini menandai pengakuan awal terhadap pickleball di media arus utama. 

Selanjutnya, pickleball terus berkembang luas di Amerika. Perkembangan pickleball sampai ke Asia dan Indonesia akan dibahas di tulisan berikutnya, yap!


Sumber:
https://ppatour.com/the-origins-of-pickleball/
https://pickleballhalloffame.global 
https://oldworldgardenfarms.com
https://dupr.com
https://www.playpickleball.com
https://www.californiasportssurfaces.com

Monday, June 23, 2025

Dapoer Cik Milah Natuna, "Obat Piwang" Masakan Natuna di Batam

Bicara tentang kuliner memang tiada akan ada habisnya. Selalu ada hal baru yang datang dari dapur untuk disajikan di atas meja. Mulai dari tradisional hingga modern. Mulai dari resep turun temurun, hingga resep yang baru saja "turun". 

Hampir di semua tempat memiliki sajian khas. Entah itu di kampung, atau resepnya yang dibawa ikut merantau. Termasuk di Batam yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Banyak pilihan kuliner yang bisa dicicipi. 

Kemarin saat sedang berada di Batam karena ada sesuatu hal yang harus dilakukan, tiba-tiba saya merasa piwang (rindu) dengan makanan kampung. Sempat bingung ingin kemana sebab secara masakan sebenarnya tak jauh beda dengan Natuna yang sama-sama Melayu. Namun tiba-tiba langsung teringat suatu tempat yang sering seliweran di beranda medsos saya: Dapoer Cik Milah Natuna.
Dapoer Cik Milah Natuna
Dapoer Cik Milah Natuna berlokasi di Tiban, tepatnya di Jalan Raya Tiban BTH, Komplek Ruko Golden Wealth Development blok C nomor 10. Tak sulit mencarinya, baik dengan cara konvensional, apalagi sekarang bisa dengan bantuan gugel mep.

Perjalanan ku mulai dari kawasan Nagoya dengan kuda besi bersama teman. Menurut pembacaan gugel mep, perjalanannya hanya memakan waktu 10an menit saja. Melewati jalan Gajah Mada, lalu belok kanan menuju jalan Tiban 1. Check pointnya adalah Supermarket Primart. Dapoer Cik Milah berada di deretan ruko belakang Supermarket Primart ini. Saat tiba kami langsung disambut dengan senyum ramah oleh owner yang kebetulan sedang duduk melayani pelanggan di luar.

Cik Milah merupakan nama pengelola warung ini. Ia mengelola warung ini bersama dengan keluarganya. Dapoer Cik Milah Natuna di Batam ini merupakan warung kedua, dan sekaligus cabang pertama yang dibuka di luar Natuna. Warung pertama yang berada di Natuna berlokasi di Jalan Hang Tuah, Kelurahan Ranai Kota. Dapoer Cik Milah Natuna yang di Batam ini beroperasi dari pukul 7 pagi hingga 2 sore setiap hari kecuali hari jumat.

Dianterin langsung

Warung makan ini menyediakan berbagai makanan khas Natuna mulai dari Bubur Lambuk, Nasi Dagang hingga Lontong Tauco. Selain menu utama yang disebutkan di atas, ada pilihan menu lain seperti berbagai tambul (makanan ringan) yakni Uti Gendong (roti goreng), Kernas, Lempar, dan Cuco Lemak. Juga tersedia beberapa tapok (semacam toping atau pelengkap makanan) seperti telur rebus, duyok (gurita) dan sambal bilis (sambal teri). Dan beberapa pilihan minuman, baik panas maupun dingin. Kami memesan beberapa makanan untuk jadi pengganjal perut hari ini. Nasi Dagang, Bubur Lambuk Komplit dan beberapa minuman. 

Tak menunggu terlalu lama, pesanan kami tiba. Pesanan diantar langsung oleh Wak Yal, abang dari Cik Milah. Ssstttt, fyi, Wak Yal ini adalah Wakil Bupati Natuna periode 2021-2025, Rodhial Huda namanya. Memang sebelum terjun ke dunia politik, beliau seorang nelayan dan enterpreneur. Jadi beliau kembali meneruskan passionnya ini. Nah tadi senyum ramah yang kami terima saat tiba di sini adalah senyum dari beliau, sebab Cik Milah sendiri saat itu sedang tidak berada di tempat.

Nasi Dagang nya benar-benar enak, dengan lauk sambal tempe dan telur, serta gulai ikan yang jadi pelengkap rasa. Benar-benar seperti makan di rumah. Bubur Lambuk-nya juga juara. Dan menurut Wak Yal, menu spesialnya adalah si Bubur Lambuk ini, karena resepnya merupakan resep temurun dari kedua orang tua beliau.
Bubur Lambuk dan Nasi Dagang
Minuman juga tak kalah segar, kami memesan teh serai dan teh unyot (teh tarik). Aku memesan teh serai karena piwang sudah lama tak menyeruput teh ini di Natuna. Aku biasanya disuguhi teh ini ketika berkunjung ke rumah Wak Yal di Natuna. Jadi semenjak beliau di Batam sudah jarang berkunjung dan menikmati teh serai ini. 
Teh Unyot dan Teh Serai
Sambil menikmati makanan dan menyeruput teh serai ini, kami berbicara sejenak dengan Wak Yal. Namun tak begitu lama sebab beliau juga sedang melayani pelanggan lain yang lumayan ramai pagi itu. Namun nasi dagang yang sudah diproses di dalam perut ini sudah menjadi pengganti piwang akan masakan di kampung. Apalagi harganya terjangkau, dan worth it untuk rasa yang kamu dapat.

Jadi, bagi kamu yang sedang merantau atau yang saat ini berada di Batam, lalu piwang dan ingin mencoba makanan-makanan dari Natuna? Kamu kamu semua bisa mampir ke sini: Dapoer Cik Milah Natuna. 



Thursday, November 23, 2023

Kembali ke Ranah Minang Setelah Dua Dekade

Burung besi yang ku tumpangi mulai lepas landas dari Hang Nadim, meninggalkan kepulauan Melayu, terbang menuju barat mencari kitab suci. Aku sengaja memilih kursi di jendela, karena pada penerbangan kali ini ku begitu antusias, bukan karena untuk mengambil gambar yang biasa jadi bahan feed IG dari atas pesawat, namun karena tujuan pesawat ini. 

Penampakan di bawah selama lebih kurang 60 menit penerbangan ini didominasi oleh daratan luas pulau Sumatera yang masih tampak hijau. Agak berbeda dengan beberapa penerbangan ku sebelum-sebelumnya yang didominasi hamparan laut biru.

Burung besi yang ku tumpangi kali ini akan membawa ku pada suatu tempat, yang baru dua kali ku injakkan kaki di sana. Tempat dimana ulama hingga tokoh-tokoh besar dilahirkan, tempat dimana saksi perjuangan ditampakkan, tempat dimana adat dan budaya dipegang erat, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah: Ranah Minang, tanah leluhur.

Kampuang den, Sumatra Barat

Roda pesawat mendarat mulus sempurna setelah lebih kurang 60 menit di langit Sumatra. Minangkabau International Airport atau Bandara Internasional Minangkabau (BIM), satu dari puluhan bandara internasional di Indonesia (yang kabarnya akan dikurangi beberapa nanti). Aku baru pertama ke bandara yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman ini, karena saat pergi pertama kali ke sini puluhan tahun lalu itu, aku dan ayahku lewat jalur darat dari Pekanbaru, naik mobil. Melewati Lembah Anai dan Kelok Sembilan yang berhasil buatku unyai, mabuk tak berdaya.

Sambil menunggu bagasi di ruang tunggu, kami bertemu dengan panitia dan beberapa peserta kegiatan. Ohya, perjalananku kesini dalam rangka menghadiri kegiatan yang diadakan di Kabupaten Sijunjung. Setelah urusan selesai, kami menaiki bus yang ditentukan panitia. Roda bus berputar keluar dari bandara, menuju Kabupaten Sijunjung. Jarak dari BIM ke Sijunjung sekitar 150km, jika waktu normal, perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam perjalanan.

Gass menuju Sijunjung

Aku kembali memilih di jendela, menyandarkan kepala pada dinding kaca bus sambil melihat sekeliling. Melihat alam minangkabau, membuka memori masa kecilku tentang kampung leluhurku ini. Saat pertama pergi, usiaku baru 6 tahun, belum menyadari banyak hal. Ssaat itu aku hanya ingat, kami ke Padang, tempat keluarga nenek, bermain ke Jam Gadang, dan ke pantai Air Manih (tapi tak ke patung Malin Kundang nya). Lalu lanjut lagi ke Bukit Tinggi, kampung keluarga inyiak (kakek). Bermain ke kebun binatang dan taman bermain di sana. Bertemu saudara-saudara dari keluarga ayahku, yang aku sudah lupa namanya.

Bus terus melaju melewati jalan raya yang sedikit lengang. Singgah sebentar untuk istirahat makan siang, bukan di Rumah Makan Padang, tapi masakannya full khas RM Padang. Memang jarang ditemukan RM Padang di Sumatera Barat, sebab masakannya sudah menjadi bagian dari budaya, sehingga tidak perlu lagi melabeli "RM Padang" di rumah-rumah makannya.

Nasi Kapau jadi pengganjal perut di hari pertama ini. Sambil berkenalan dengan beberapa peserta kegiatan lain yang berasal dari berbagai tempat di seluruh Indonesia. Setelah makan siang, kami lanjut ke perjalanan ke Sijunjung.

Perjalanan ke Sijunjung ternyata cukup jauh, kami berhenti di beberapa titik, Baik untuk buang hajat dan belanja makanan ringan untuk dikunyah selama perjalanan. Kami juga melewati tikungan yang sedang viral-viralnya: Sitinjau Lauik. Jalanan ekstrim ini kerap kali lewat di beranda media sosial saya, dan akhirnya bisa lewat secara langsung, dan memang benar-benar ekstrim dan ngeri-ngeri sedap.

Sitinjau Lauik merupakan dataran tinggi dengan jalan berkelok yang terletak di jalan lintas Kota Padang dan Kabupaten Solok. Sitinjau Lauik berarti melihat laut dari kejauhan. Karena terletak di ketinggian lebih dari 1000 mdpl, kita bisa melihat laut di sisi barat pantai Sumatera. Selain terkenal dengan jalur yang ekstrim, jalur yang kerap tertutup awan ini memegang peranan penting bagi jalur transportasi dan distribusi logistik dari dan ke Padang, jalan ini juga menjadi penghubung beberapa daerah di ranah minang.

Rute ini juga melewati Tahura (Taman Hutan Raya) Bung Hatta. Penamaan ini merupakan suatu penghormatan kepada Proklamator asal minang tersebut. Tahura Bung Hatta berada pada ketinggian 300 - 1800an mdpl, dan merupakan rumah bagi ragam jenis flora dan fauna, termasuk jenis bunga bangkai dan beberapa jenis burung endemik.
Melewati Sitinjau Lauik
Perjalanan ke Sijunjung ternyata tak semulus yang dikira. Dari perkiraan awal berkisar 4 jam. Kami baru tiba di Sijunjung pada jam 7 malam. Kurang lebih 8 jam perjalanan. Setelah sampai di Sijunjung, kami disambut oleh "pemilik lahan" dalam acara gala dinner, yap Bupati Sijunjung dan Gubernur Sumatra Barat hadir dalam kegiatan ini.

Setelah semua kegiatan selesai, kami kembali ke tempat menginap, dan rebaaaaah. Akumulasi rasa letih selama 12 jam total perjalanan ditumpahkan di kasur tempat menginap. Mengumpulkan tenaga untuk mengikuti kegiatan besok, dan beberapa hari ke depan.

 

Wednesday, July 26, 2023

Lombok: Dari Museum Hingga "Ndek Wah"

Hari kedua di Gumi Sasak. Kegiatan masih berlangsung dalam ruangan utama. Beberapa peserta lain berada di ruangan pameran, dan beberapa lagi tidak tau entah kemana alias tidak berada di ruang utama, maupun ruang pameran. Dan saya, akan termasuk dalam kategori ketiga, karena berencana keluar hotel setelah kemarin malam googling mengenai tempat-tempat menarik.

Berbekal google map dan aplikasi ojek online, saya mengitari kota Mataram yang masih terasa sejuk meski matahari sudah mulai meninggi. Lokasi pertama adalah pasar mutiara Lombok, ini request dari orang rumah yang sedari pagi sudah wanti-wanti bahkan langsung mengirimkan lokasinya. Tapi jadi tujuan yang perlu dicatat untuk dikunjungi. Kemudian berlanjut ke Museum Daerah NTB yang terletak di jalan Panji Tilar Negara. Museum selalu menjadi top list tempat yang harus saya kunjungi ketika mengunjungi tempat baru. 

GIC Rinjani Lombok
Masih dalam komplek Museum, saya juga mengunjungi Geopark Information Center (GIC), GIC merupakan tempat yang -sepertinya- harus ada ketika suatu kawasan ditetapkan sebagai kawasan Geopark. GIC berisi informasi seputar kebumian wilayah yang ditetapkan sebagai Geopark dan apa yang ada di dalamnya. Dalam hal ini yakni unsur geologi, biologi dan budaya, dari hulu hingga hilirnya, juga termasuk produk-produk unggulannya. 

Dari GIC saya bertolak ke Mataram Islamic Center, yang lokasinya sangat dekat dengan hotel tempat kami menginap, sekaligus tempat acara dihelat. Masjid Hubbul Wathan namanya, terletak di pusat kota menjadikan Islamic Center ini mudah dijangkau. Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 7 hektar, Mataram Islamic Center ini terdiri dari 4 lantai dan 5 menara. Salah satu menara memiliki tinggi 99 meter yang mewakili nama-nama Allah, asma'ul husna

Mataram Islamic Center
Tak hanya sebagai sarana ibadah, Islamic Center ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, dan menjalankan sebenar-sebenar fungsinya sebagai pusat peradaban islam. Melengkapi julukan pulau Lombok sebagai Pulau 1000 Masjid.

Setelah perjalanan singkat tadi, saya kembali ke hotel untuk beristirahat. Sembari menunggu kegiatan ini yang mengirim saya ke tempat ini: Kongres 1 Indonesian Geopark Youth Forum (IGYF). Kegiatan perdana dalam menentukan pimpinan eksekutif dari organisasi yang telah kugeluti selama kurang lebih setahunan ini.

Hari ketiga, rangkaian kegiatan di Lombok masih berlanjut, dengan agenda terakhir yaitu site visit. Kali ini penyelenggara mengajak kami menuju ke beberapa gili yang ada di sebelah timur pulau ini. Gili berarti pulau. Lombok sudah terkenal sekali dengan Gili Trawangan nya. Namun kali ini penyelenggara akan mengajak ke gili-gili yang lain. Antimainstream memang, namun saya pikir ini merupakan sebuah trik untuk mengenalkan Lombok agar tak hanya Gili Trawangan saja yang dikenal.

Gili Petagan dan Gili Bidara
Dengan perahu wisata, kami mengunjungi Gili Bidara dengan melewati Gili Petagan terlebih dahulu, sebuah hutan mangrove yang indah dengan biota-biotanya. Di Gili Bidara kami menyempatkan diri untuk snorkling, melihat terumbu karang yang luar biasa indahnya dengan jarak yang sangat dekat dari bibir pantai. Kemudian beristirahat makan siang di Gili Kondo. Saya berkumpul bersama rekan-rekan pemuda yang laiin, juga bersama dengan panitia lokal. 

Sambil-sambil bercerita dan berbagi banyak hal, telinga saya ter-autofokus mendengar salah seorang berbicara dengan bahasa sasak kepada temannya. "Ndekwah", begitu lafaznya, seketika saya memberhentikan percakapan mereka dan bertanya.

Gili Kondo dan Gili Pasir

"tadi barusan bilang "ndekwah", apakah artinya itu tidak pernah?"

"iya, kok tau bang", jawab mereka dan kembali bertanya.

Ndekwah juga memiliki arti yang sama dengan bahasa Melayu Natuna, yaitu tidak pernah. Sebuah percakapan singkat dengan awalan kata "ndekwah" menjadi cerita panjang setelahnya. Perbincangan tentang pertukaran budaya antara Melayu Natuna dan Sasak di Lombok. Kata "ndek" sebelumnya sudah pernah saya dengar saat diajak oleh senior kampus saya yang juga berdomisili di sini ketika kami makan ayam taliwang, masakan khas Lombok. Namun "ndekwah" ini memiliki makna tersendiri bagi saya, dua pulau yang berjarak ratusan kilometer memiliki kesamaan kata dan makna. Barangkali ada kesamaan dalam hal tertentu yang terjadipada masa lampau.

Bukan lebay, namun ini tentang rasa saja. Dan saya yang sepertinya harus kembali mempelajari sejarah mengenai bahasa-bahasa di Nusantara. Barangkali "ndekwah" adalah salah satu dari sekian banyak kesamaan bahasa antara Melayu Natuna dan Sasak di pulau Lombok ini.

Geopark Rinjani Lombok memberikan pengalaman baru. Kesan pertama yang begitu "menggoda", semoga bisa kembali ke Gumi Sasak ini, kelak. Sampai jumpa lagi.



Cerita Pickleball di Indonesia: Awal Mula Hingga Masuk PON

Pada tiga episode yang lalu, kita sudah mengetahui tentang sejarah Pickleball, ekspansinya ke berbagai negara hingga perkembangan olahragany...