Showing posts with label Kalimantan Selatan. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Selatan. Show all posts

Tuesday, December 13, 2016

Museum Lambung Mangkurat, Wisata Sejarah Kalimantan Selatan

Terbangun dari tidur yang tak begitu panjang setelah pulang dari Taman Siring tadi malam. Waktunya pulang kembali ke Tanjung hari ini. Setelah sarapan di alpamaret samping tempat nginap, kami langsung pulang menuju Tanjung. Namun atas saran saya, kami singgah dulu ke museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru yang kebetulan searah jalan pulang ini. Istirahat sebentar sambil mempelajari sejarah Kalimantan Selatan, terutama Kesultanan Banjar.
Gedung Utama Museum
Museum ini merupakan museum umum milik pemerintah Kalimantan Selatan, museum ini terletak di Kota Banjarbaru. Lambung Mangkurat sendiri merupakan nama tokoh yang merupakan cikal bakal Kesultanan Banjar. Museum ini berdiri sudah lama, diresmikan pada tanggal 10 Januari 1979 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr Daoed Yoesoef. Memiliki bangunan seluas 2000 m2 yang dibangun di atas lahan seluas 15.000 m2. Fasilitas gedung tersebut terdiri dari Gedung Induk Pameran Tetap dua lantai, Ruang Pameran Temporer, Kantor dan Rumah Dinas Kepala. 
Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dan Tawing Halat
Kami terlebih dahulu mengisi buku tamu dan membeli tiket masuk seharga 3 ribu rupiah perorang. Saat pertama masuk gerbang. Mata saya sudah langsung terpana akan bentuk museum ini. Bentuk yang khas yang belakangan saya ketahui merupakan bentuk dari rumah adat Banjar yang disebut "Rumah Bubungan Tinggi" namun didesain secara modern, mewah, dan elegan. Ini merupakan bangunan utama museum. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan yang terpisah dengan fungsi dan bentuk bangunan yang berbeda pula, ada Ruang Pameran Temporer dan ruang pameran kain, keramik, lukisan bergaya eropa. Kantor Tata Usaha, ruang Kepala dan Perpustakaan bentuk atap pisang sasikat. Kantor tenaga teknis dan gudang koleksi dengan bangunan atap hidung bapicik.
Koleksi Museum Lambu Mangkurat #1
Ragam Koleksi Museum Lambu Mangkurat #2
Saya masuk ke bangunan utama yang terdiri dari dua lantai, saya masuk ke lantai atas terlebih dahulu. Dimana disana terdapat berbagai macam koleksi mengenai Banjar, foto-foto Banjar tempo doeloe, flora fauna, adat serta sejarah. Ada miniatur rumah tradisional Banjar "Rumah Bubungan Tinggi" yang terletak di aula utama. Dibelakang miniature rumah, terdapat sekat dengan ukiran dan hiasan beberapa pintu yang bernama “Tawing Halat”. Tawing Halat merupakan penyekat antara ruang tamu (paluaran) dan ruang tengah (paledangan) pada rumah tradisional Banjar. Oke, lanjuut. Kemudian ada pameran alat musik dan kesenian tradisional, juga menampilkan beberapa miniatur rumah adat yang lain. Lalu lanjut dengan beragam koleksi-koleksi mengenai adat Banjar, mulai dari permainan tradisional, kerajinan tangan, kegiatan sehari-sehari masyarakat Banjar, senjata tradisional, adat menikah, khitan, hingga persalinan. 
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Masih di lantai 2, di bagian belakang, terdapat sejarah mengenai tokoh Banjar yang termasyhur, seorang ulama terpandang. Beliau bernama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, semoga Allah merahmatinya. Beliau merupakan putra asli Banjar yang banyak berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Ayahnya bernama Abdullah, sejak usia belia, beliau sudah pandai melukis dan fasih membaca quran. Sehingga oleh Sultan Hamidullah, ia dibawa ke Kraton Kesultanan Banjar untuk dididik agama islam serta mendapat “beasiswa” dari kesultanan untuk belajar di Mekkah selama 30 tahun. Usia beliau terbilang cukup panjang dengan umur 102 tahun, dan telah banyak membuat kitab-kitab yang dicetak diberbagai negara, seperti Mekkah, Mesir dan Turki. Luar biasa, Alhamdulillah. Dan, mungkin gambar beliau-beliau ini yang kerap dipasang di rumah makan-rumah makan Banjar, sebagai bentuk penghormatan. link Wallahu a’lam. 

Setelah khatam disemua ruangan lantai 2, saya melanjutkan perjalanan ke lantai satu. Ada hal yang tak boleh terlewatkan disini menurut firasat saya, hhe. Di teras lantai satu, tepatnya di bawah tangga, terdapat tulang ikan paus serta miniature candi Borobudur dan Prambanan. Miniatur candi-candi ini kerap kali ditemukan di beberapa museum di Indonesia, seperti ada keterkaitan gitu deh ya. Hmm. Memasuki ruangan di lantai satu terdapat pameran peralatan yang dipakai oleh manusia purba, dan fosil gajah purba. Lalu terdapat foto-foto gubernur Kalimantan Selatan dari periode pertama hingga sekarang, serta lambang seluruh pemerintahan daerah yang ada di Kalimantan Selatan. Selain itu, juga menampilkan pameran di era penjajahan Belanda, terdapat tokoh-tokoh pahlawan, hingga senjata yang digunakan ketika berperang.
Gubernur-Gubernur Kalimantan Selatan
Dari beberapa tokoh tersebut, ada satu nama yang menarik perhatian saya, yaitu Demang Leman, dia merupakan pemimpin perang Banjar yang divonis mati oleh pengadilan militer Belanda. Nama Demang, mengingatkan saya tentang sejarah daerah saya sendiri, di Natuna. Bahwasanya seorang bernama Demang Megat yang merupakan suami dari seorang Putri Kerajaan yang “diasingkan” ke pulau Bunguran. Apa mungkin ada kecocokan? Jangan-jangan sepupuan lagi.. Hmmmm #cocoklogi. 
Tokoh Pejuang Banjar
Lalu yang terakhir yaitu penjelasan singkat mengenai Kerajaan Banjar, mulai dari Lambang, pernak-pernik hingga silsilah Kerajaannya. Saya sangat suka bagian ini. Pertama mengenai Lambang, yang hampir seluruh tulisannya bertuliskan arab, menandakan pengaruh budaya arab sangat kental menghiasi perjalanan bangsa ini, #gakkayaorangorangdimedsosyanggakngertisejarahitu. Makanya agak heran sama mereka yang agak alergi ke-arab-an. Ups. Lalu pernak-pernik kerajaan seperti dokumen, cap, senjata dan lambang kerajaan itu. Juga terdapat silsilah Kerajaan Banjar dari awal hingga berakhirnya tahun 1859. Menurut poster tersebut silsilah kerajaan Banjar erat kaitannya dengan ajaran Hindu/Budha, dari Khayangan dan dilemparkan ke Bumi, hingga akhirnya menjadi kerajaan Islam yang besar seperti yang kita ketahui ini. Dan Lambu Mangkurat yang merupakan cikal kerajaan Banjar ini merupakan putra dari Ampu Jatmika, dan cucu dari Raja Keling. Dari Lambu Mangkurat inilah lahir keturunan yang menjadi raja kerajaan Banjar dari Hindu/Budha hingga Islam yang tercatat dimulai pada tahun 1527 Masehi. 
Kesultanan Banjar

----------------------
Hari sudah mulai siang, sebenarnya masih ada ruangan-ruangan lain yang ingin saya kunjungi. Hanya saja waktu yang tidak memungkinkan dan didukung oleh batre android saya yang sudah memerah. Jadi tour de museumnya kami sudahi saja, dan bergegas untuk pulang ke Tanjung. Beberapa dokumentasi yang ada telah memenuhi rasa pengetahuan saya tentang sejarah Kalimantan Selatan, meskipun tak semua. Alhamdulillah.

#takmerantaukautaktau



Referensi :
http://kerajaanbanjar.com
http://wisatadanbudaya.blogspot.co.id/2009/10/museum-negeri-kalimantan-selatan.html

Banjarmasin, Jelajah Kota Sungai yang Super Kaya (2)

Setelah hanya melihat-lihat dan membayar rasa penasaran akan uniknya pasar terapung, serta bercengkerama dengan ratusan monyet di pulau Kembang, kami memutuskan untuk pulang, mencari sarapan dan istirahat sejenak di hotel. Lalu memikirkan perjalanan berikutnya.

Jembatan Barito
Saya telah googling tempat-tempat wisata yang ada di sekitaran Banjarmasin ini, namun yang keluar kebanyakan yang terletak jauh dari kota, ditambah passion teman-teman yang memang kurang untuk explore-explore jadi ya begitulah ya, hmm. Jadi yang terdekat yang bisa dikunjungi adalah Jembatan Barito. Namun sebelumnya kami pergi mengisi perut untuk menambah sedikit tenaga. Tujuan kali ini adalah Soto Banjar, nah ini baru bener-bener Banjar, karena soto banjarnya terletak di Banjarmasin, di “sarang”nya. 

Kulineran dulu bray.....
Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan ke Jembatan Barito, Jembatan kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Jembatan yang melintasi sungai Barito selebar 800 m dan melewati sebuah pulau kecil di bawahnya, pulau Bakut namanya, sebuah objek wisata mangrove untuk melihat hewan asli Kalimantan : Bekantan. Pulau Bakut ini memiliki lebar 200 m dan jika dilihat dari gugel mep, bentuknya hampir sama seperti pulau Kumala yang ada di Tenggarong.
Jembatan Barito
Jembatan Barito ini juga merupakan akses penting masyarakat, Jembatan yang memiliki lebar sekitar 10 meter ini menghubungkan jalan lintas provinsi ke provinsi Kalimantan Tengah, atau biasa disebut dengan jalan Trans Kalimantan. Berjarak 15 km dari Kota Banjramasin dan membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai tempat ini. Jembatan yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1997 ini memiliki tinggi ruang bebas jembatan berkisar 15-18 meter, sehingga dibawahnya bisa dilalu kapal-kapal yang kerap lalu lalang. Setelah sampai dijembatan Barito kami hanya berfoto dengan latar belakang tulisan jembatan Barito saja, tidak ada yang spesial (atau mungkin belum), karena saya tidak menemukan spot yang tepat untuk mengabadikan jembatan ini dengan molek. Keterbatasan daya, dan waktu. Hanya sebentar saja, lalu kami beranjak pulang dan istirahat, menunggu malam.


Wisata Sungai, dan Pasar Terapung Malam
Tujuan berikutnya adalah menikmati malam di kota seribu sungai. Nah tadi sore, si temen yang nyupir mengeluh tidak enak badan. Kami menyuruh dia istirahat, dan teman-teman lain menyuruh saya untuk nyetir. What! Tempat baru ini, langsung disuruh nyetir aje, tapi gak apa-apa lah, dari pada bengong sampai besok, mending nekat dengan bantuan gugel mep.

Pasar Terapun Taman Siring

Pasar Terapung Taman Siring
Tujuannya kali ini ke Taman Siring yang terletak di tepi Sungai Martapura. Alhamdulillah bisa sampai kesana dengan bantuan dek gugel mep. Taman ini selalu ramai dikunjungi, seperti alun-alunnya lah ya. Tempat nongkrong juga banyak tersedia disini, disisi darat maupun sungai. Nah, ada pasar terapung lagi saat malam, di taman ini kegiatan jual-beli diatas perahu masih tetap dilakukan, untuk menarik wisatawan akan termahsyurnya kegiatan ini. Banyak barang yang dijual, sayur, buah, dan lain-lain. Atau mungkin mau coba nongkrong dengan sensasi bergelombang? Ada beberapa kios-kios terapung yang menjual aneka makanan dan minuman, beli dan minum disitu sambil menikmati gelombang-gelombang kecil yang dibuat oleh arus pelan sungai juga bekas perahu-perahu klotok yang lewat sepertinya bakal menyenangkan.
Cafe Terapung
Kami berjalan kaki menyusuri  taman di tepian sungai ini, terdapat menara pandang, rumah adat, dan beberapa fasilitas umum. Tak jauh dari situ, berdiri gagah patung Bekantan yang menyemburkan air dari mulutnya, ala-ala Singapur gitu. Bekantan merupakan hewan asli Kalimantan, dan tempat ini merupakan spot foto yang paling digemari.
Patung Bekantan Taman Siring

Patung Bekantan Taman Siring
Kemudian kami mencoba untuk berwisata sungai naik perahu klotok. Dengan harga karcis 5000 rupiah, kita dibawa untuk menyusuri sungai ditengah-tengah kota ini. 5000 perorang untuk 20 menit wisata sungai di malam hari. worth it lah. Hari sudah mendekati tengah malam, taman Siring perlahan-lahan sepi, para pengunjung sudah banyak yang pulang. Tidak seperti tempat-tempat nongkrong yang biasanya selalu ramai hingga pagi, hmmm ini bertanda kami juga harus pulang, istirahat, untuk kembali ke Tanjung esok hari.
Wisata Sungai

Sumber : 
wikipedia

Banjarmasin, Jelajah Kota Sungai yang Super Kaya

Rumus : kerja sedang standby + temen ngajakin ke Banjarmasin + pake mobilnya temennya temen itu = perfect!

Masih diseputaran Kalimantan Selatan ni, kali ini perjalanannya ke Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimatan Selatan. Perjalananan dari Tanjung ke Banjarmasin normalnya memakan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Namun karena ini bareng temen yang bisa berhenti seenaknya aja, jadi 7 jam deh. Safety first kan. Start dari mess/apartemen saat magrib dan tiba di Banjarmasin jam 1 dinihari. Mencari-cari tempat nginap, akhirnya dapat di hotel Metro, biaya 175rb dengan fasilitas 3 kasur, kipas angin, kamar mandi dalam, free wifi dan sarapan teh & roti paginya. Penginapan yang pas banget untuk traveler ni. Recomended! 
Hotel Metro

Pasar Terapung dan Pulau Kembang
Setelah istirahat sekitar 4 jam, setelah subuh kami langsung berangkat, tujuan pertama dan utamanya kesini adalah ke pasar terapung yang ter-famous itu. Ingat gak (generasi 90an) saat nonton R*TI, ada nenek-nenek diatas perahu sambil milih-milih sayur kalo gak salah, terus kamera makin deket-makin deket tiba-tiba si nenek langsung ngacungin jempolnya tanda semboyan R*TI OKE itu? Nah disini ni tempatnya. Jadi tujuan pribadi saya mau cari itu nenek-nenek, hhe. :D 
R*TI okeeeee, via id.crowdvoice.com
Menuju pasar terapung harus menggunakan perahu klotok, kalau bahasa tempat saya adalah mutur. Tak susah menemukannya karena banyak tersedia perahu klotok di anak-anak sungai disini. Dan kami berhenti di pelabuhan depan sebuah masjid, yang katanya adalah masjid tertua di Banjarmasin ini, Masjid Sultan Suriansyah namanya, mungkin nanti ada bagian khusus untuk membahas masjid ini (mbe ajin nulis pulak). :)



Dermaga Wisata
Setelah menyewa perahu dengan harga 175k, harga paketan, pasar terapung dan pulau Kembang. Kami berangkat menuju pasar terapung itu, dari anak sungai menuju sungai Barito yang mengaliri 2 provinsi di Kalimantan ini membutuhkan waktu 15-20 menit. Perjalanan kami ditemani oleh pemandangan kegiatan-kegiatan pagi masyarakat sekitar yang berumah diatas sungai. 


Hampir semua aktifitas dilakukan di sini, mandi, mencuci pakaian, dan lain-lain. Lalu-lalang perahu-perahu kecil menghiasi perjalanan pagi yang cerah ini. Sesekali juga mereka melemparkan tersenyum atau bahkan melambaikan tangan ketika pandangan kami berpas-pasan dengan mereka, #khasIndonesia, #banggaIndonesia. Pemandangan awal yang saya dapati ketika memasuki sungai Barito adalah kapal-kapal tongkang yang mengangkut hasil bumi Borneo yang berasal dari berbagai tempat dan tak tau mau dibawa kemana, mungkin diolah sebelum dijual, atau apalah itu namanya ya. 
Sungai Barito


Setelah berjalan sekitar 20 menitan, perahu klotok kami melambatkan jalannya, lalu disambut dengan perahu-perahu kecil (bahasa daerah saya menyebutkan samban kulek) yang merapat di perahu kami menawarkan jajakannya, ada buah-buahan, sayuran, roti, air minum, sarapan pagi, wade/wadai (sebutan untuk makanan, kalau bahasa Ranai nya adalah "tambul"), kopi, bahkan sate sekalipun. Hmmm sepertinya asyik ya, makan sate di perahu yang dibuat sedemikian rupa seperti kafe terapung kecil dengan ayunan ombak-ombak kecil sungai. 
"kios" wadei (makan-makanan)

"Kios" buah-buah

"kios" buah-buah

Setelah sempat bengong beberapa saat, akhirnya saya sadar bahwa inilah pasar terapung itu. Hahaha. Soalnya dulu saya menganggap, pasarnya berada disatu tempat yang tetap, namun kios-kiosnya diganti oleh perahu-perahu. Hah, ternyata imajinasi saya salah. Awalnya mungkin kegiatan jual-beli ini merupakan kegiatan sehari-hari warga lokal yang memang daerahnya dialiri banyak sungai, namun lambat laun menjadi daya tarik wisata, terbukti ternyata tak hanya kami dipagi itu, ada sekitar 2 - 4 perahu klotok lain yang membawa wisatawan untuk pergi kepasar terapung ini. Yah, sekedar belanja, atau bisa juga hanya untuk update location diapikasi path kan.
"kios" souvenir



Kata teman yang membawa kami kesini, jam saat kami pergi ini sudah termasuk siang, jam 6.30 pagi, jadi perahu-perahu penjual pun sudah tidak banyak, waktu ideal ketempat ini adalah setelah subuh katanya. Yah, termasuk telat berarti saya dan kawan-kawan, alhasil nenek-nenek RCTI itu tidak bisa saya jumpa. Ya sudahlah, apa mau dikata. :D

Floating Market

Pasar Terapung

Pulau Kembang
Welcome to Kembang Island
Perjalanan berlanjut ke Pulau Kembang, salah satu dari sekian banyak pulau-pulau yang terbentuk di Sungai Barito ini. Belum juga sampai di pulau ini kami sudah disambut oleh puluhan monyet yang sudah menunggu di dermaga. Dan mereka seperti "senang" kami datang, sehingga ada yang melompat-lompat ke perahu, bagi yang tak biasa, teriak-teriaklah jadinya. Tapi ada acil-acil (sebutan untuk ibu-ibu atau mbak-mbak dalam bahasa Banjar) tourguide di pulau tersebut yang membuat aman.
Dermaga Pulau Kembang

Yang punya pulau ni.


Setelah membeli karcis masuk 7000an perorang, kami memasuki pulau Kembang tersebut, sebuah pulau berisi rawa-rawa yang dihuni oleh ratusan monyet, ini termasuk salah satu wisata mangrove di Banjarmasin, rute jalannya pun tidak panjang, hanya sedikit memutar di tepian pulau. Tidak ada monyet ketika kami masuk ke pulau, setidaknya belum, begitu kata si acil.
Koloni monyet Pulau Kembang
Ada beberapa koloni monyet ditengah-tengah pulau, namun enggan ke tepi, dan yang ini agak liar dan ganas, katanya lagi. Setelah memutar pulau tersebut kami kembali menuju dermaga, istirahat disana, sambil mendengar teriakan-teriakan pengunjung lain yang kaget mendapat "sambutan" para monyet ini. Jika ingin berinteraksi kita bisa membeli makanan dan memberinya, dan juga hati-hati dengan barang bawaan ya.

The Island of Apes, hhe
Hari sudah mulai siang, mataharipun sudah mulai memans, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan sambil memikirkan kegiatan apa selanjutnya. Perahu kami datang menjemput dan mengantar kami kembali ke dermaga pemberangkatan.
Masjid Sultan Suriyansyah
Saat sampai saya kembali kagum dengan masjid Sultan Suriyansyah ini, saya hanya mengambil beberapa gambar, ingin sekali mengetahui sejarah tentang masjid tertua di Banjarmasin ini. Namun waktu juga yang membatasi, akhirnya kami pulang istirahat di penginapan.


Saturday, November 19, 2016

Tanjung Tabalong (2), Yang Unik

Masih di Tanjung Tabalong vrooh, masih ada waktu beberapa minggu lagi disini (menurut kontrak kerja), masih sempat untuk explorasi tempat-tempat (sambil menunggu waktu yang pas untuk explorasi). Hal yang bisa dilakukan adalah mengamati yang bisa diamati dulu saja. Kali ini tentang kehidupan dan keunikan di Tanjung. Setiap kota atau daerah punya keunikannya to. Tak terkecuali Tanjung Tabalong ini. Ada beberapa keunikan yang menurut saya sayang untuk tidak dituliskan. Hahai.

Yang unik, yang unik :
Unik yang pertama :
Plat Kendaraan. Pernah mengamati plat kendaraan bermotor? Seperti plat kendaraan dari Sumatera yang diawali dengan huruf B, plat kendaraan di Jawa yang beraneka ragam, plat kendaraan di Bali dan Nusa Tenggara yang awalnnya D, di Kalimantan plat kendaraan berawal dari huruf K, KB untuk KalBar, KH untuk KalTeng, KT untuk Kaltim, KU (masih dalam usulan) untuk KalTara, dan KS untuk Kalimantan Selatan.  
Plat DA
Eeet, tunggu dulu, disini yang uniknya, plat kendaraan KalSel yang Tanjung Tabalong masuknya didalamnya bukanlah KS, melainkan DA. Nah jauh banget kan? Saat pertama-pertama belajar memahami kode plat kendaraan dulu, saya sendiri merasa bingung mengapa KalSel ini beda sendiri, mengapa harus DA gitu? Ada yang bilang DA untuk singkatan Dayak Asli, hweew, SARA coy. Ada juga yang bilang DA untu singkatan Daerah Air, karena KalSel memiliki banyak sungai. Tapi untuk menghilangkan rasa penasaran, yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah tanya mbah gugel dah, jadi katanya dulu Kalimantan merupakan satu kesatuan provinsi, oleh pemerintah pusat plat kendaraannya ditetapkan DA, setelah Kalimantan dimekarkan menjadi beberapa provinsi seperti sekarang ini dan masing-masing memiliki kode plat kendaraan sendiri, tinggallah KalSel dengan tetap menggunakan kode plat kendaraan DA, gitu aja deh sejarahnya. Hhe.

 
Unik yang kedua :
*ceritanya lagi laper, mau makan, pergi lah ke warteg*
"buk, pesen nasi campur ya"
"ia, ikan nya apa?"
*trus kamu lihat dipilihan lauk tidak ada lauk ikan sama sekali, dan kamu mulai bingung (bengong, garukin kepala)*
Ikannya apa?
Ternyata, istilah "ikannya apa?" setiap kita beli makan berarti menanyakan lauk, lauk apa yang akan kita pilih. Tak hanya di KalSel, di KalTim juga yang ada warung Banjar dan penjual asli Banjar nya rata-rata akan menanyakan hal yang sama ketika kita akan makan. Setelah saya tanya dengan ibu pemilik warung makan yang asli sini, jawabnya itu karena kebiasaan aja makan nasi dengan lauk ikan, jadinya setiap makan nasi yang ditanya itu apa ikannya, lama kelamaan jadi kata ikan ini pengganti kata lauk deh. Cmiiw. :D

"Ikannya apa?" berarti "mau lauknya apa?". Ya nanti jawab aja biasa, gini :

"bu, nasi campur, ikannya ikan harwan ya,"
"bu nasi campur, ikannya ayam goreng". :D
Unik yang ketiga,
Pernah liat lukisan ini atau semacamnya ketika makan di warung Banjar?
Jika kalian makan di warung banjar, atau pergi ketempat-tempat usaha lainnya. Sebagian besar akan kita temui figura seorang atau beberapa orang laki-laki, bersorban, sebagian ada yang berjanggut. Ya, khas tampilan ustadz atau ulama gitu. Ketika saya bertanya kepada ibu yang tadi tempat saya tanya tentang "ikan", secara singkat dan cepat beliau menjelaskan itu ada ulama dari Banjar, boleh juga dibilang "Wali Songo" nya Kalimantan, meskipun bukan songo (sembilan), ya berarti Wali lah ya. Beliau menyebut ada empat nama, ulama-ulama dari Banjar tersebut. Jadi menurut saya pemajangan gambar-gambar beliau ini merupakan suatu bentuk kehormatan kepada para ulama.

Saya rasa masih banyak unik-unik yang lain, sementara saya mencari, biarlah 3 unik ini dulu yang saya ceritakan ya. See ya.

Tuesday, November 1, 2016

Masjid Al-Abrar, Istana Megah di Belantara Borneo

Kalau kalian mencari masjid Al-Abrar via google map dan yang keluar adalah gambar di bawah ini : 
Lokasi Masjid Al-Abrar menurut gugel mep
Plis, it's a trap! Jangan ikuti.

Kebisaan saya saat berada ditempat baru adalah mencari sesuatu yang khas. Ntah itu tempat wisata, ikonnya, dan tempat ibadahnya. Nah setelah beberapa hari berada di Tanjung, saya menemukan banyak masjid, yang menandakan negeri ini dihuni oleh mayoritas muslim. Kemudian sejenak berfikir, tempat ini tentunya punya Masjid Agung / Islamic Center seperti ditempat-tempat lain. Nah iseng-iseng cek gambar di mbah gugel : "masjid agung Tanjung", maka yang keluar dari koreksi di gugel adalah Masjid Al-Abrar, pencet search maka yang keluar adalah suatu bangunan megah berwarna putih dengan beberapa menaranya. Foto-foto indah hasil jepretan para fotograper itu membuat saya segera ingin kesana dan juga mengabadikannya.

Karena baru berada ditempat ini, gugel mep lah yang bisa ditanyai. Searching nama, dan keluar peta seperti gambar diatas itu, yah its a trap, dan akan saya ceritakan disini. Setelah mengikuti persis alur yang ditunjukkan oleh peta, kami sudah berada diluar kota, masuk perkampungan dengan jalan setapak ditemani kebun karet kiri dan kanan. Awalnya kami sama sekali tidak curiga, apalagi di salah satu artikel mengatakan bahwa masjid ini terletak di tengah-tengah hutan Kalimantan. Namun setelah ditelusuri lanjut, masjid yang dicari tak kunjung ditemukan. Putus asa, kami berbalik arah, karena saat itu waktu ashar juga sudah dekat, dalam perjalanan pulang, kami bertemu penduduk kampung setempat dan menanyakan lokasi Masjid Agung ini, dan jawabanya adalah ; "jauuuh mas e, dekat Maburai", dengan logat khas Tanjung nya.
Masjid Al-Abrar
Merasa sudah fix salah, kami melanjutkan perjalanan pulang, istirahat ashar dimasjid Raya Tanjung "Ash-Shiraatal Mustaqiem" yang terletak ditengah kota, dengan harapan bisa bertanya pada orang-orang disana nantinya. Setelah ashar, ditempat parkir, saya bertanya pada seorang yang parkir nya bersebalahan dengan motor kami, dia menunjukkan detail jalannya, dan dengan baiknya dia bersedia mengantarkan kami kesana. Wau, mantap kan.
Lokasi yang benar
Perjalanan dari Masjid Kota ke Masjid Agung agak jauh memang, melewati jalan utama, Jl. Ir. PH. Moch Noor hingga bertemu Tugu Obor Tanjung, lalu belok ke kanan atau ke arah Banjarmasin, jalan Ahmad Yani lurus terus sekitar 3-5 km, kemudian ada pertigaan dan belok kiri, nah disanalah masjid agung yang ada di gugel imej itu berada. Megah memang. Dan memang juga berada "ditengah-tengah hutan". Sepertinya lahan ini baru dibuka, dan akan dibangun beberapa kantor atau yang lainnya sebagai sarana penunjang daerah. Saya kembali melihat gugel mep, jauh sekali jarak antara yang ditunjukkan dengan yang aslinya, apa mungkin si mbah ini salah? atau memang ada masjid Al-Abrar juga disana? Hmmm. Wes ah, udah sampai ini, ya kan.
Masjid Al-Abrar Tanjung Tabalong
Namanya Masjid Al-Abrar. Masjid kebanggaan warga Tanjung kabupaten Tabalong. Al-Abrar berarti golongan yang suka melakkan kebajikan kepada Allah Ta'ala. Bangunan yang dilapisi cat berwarna putih ini semakin menunjukkan nilai-nilai islam yang suci, dihiasi oleh 7 menara yang menjulang, serta bentuk kubahnya yang khas, kubah terbalik, seperti parabola. Unik, elegan, dan menawan.
Masjid Al-Abrar
Ohya, saya akan kenalkan seorang yang menunjukkan bahkan menyempatkan waktunya untuk mengantarkan kami disini. Namanya Jali, masih bersekolah di SMA N 2 Tanjung, saya lupa jurusannya. Yah setidaknya pahlawan kami untuk hari ini, membantu menjawab rasa penasaran akan indahnya Islamic Center Kabupaten Tabalong yang sebelumnya hanya kami lihat di gugel imej saja. Juga meredam letih dan amarah akibat ditipu-tipu oleh gugel mep. Emang dah kata lagu kan, "Bang Jali.... Bang Jali.... Orangnya bikin hepi, bukak sitik, joss!!!"
Masjid Al-Abrar Tanjung
Oke, balik ke Islamic Center ya. Nama kompleknya adalah Islamic Center Darul Napis Tabalong, dibangun oleh raksasa tambang batubara, PT Adaro Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan diresmikan pada Agustus 2012. Pembangunan ini sejalan dengan visi Kabupaten Tabalong : Mewujudkan Masyarakat Agamis dan Mandiri Secara Intelektual". Masjid Al-Abrar yang merupakan bagian dari Islamic Center ini dapat menampung hingga 3.500 jemaah. Kubah terbalik dibagian atas masjid menyimbolkan tangan yang menengadah berdoa kepada Allah Ta'ala. Selain masjid, komplek ini juga terdapat bangunan-bangunan lain seperti gedung pertemuan, miniatur Ka'bah dan miniatur perjalanan Sa'i dari Shafa ke Marwah, jelas sekali ini diperuntukkan untuk para calon jemaah haji yang akan melakukan ibadah ke tanah suci, ada juga komplek perumahan, perpustakaan, kantor dan auditorium.
Bentuk Kubah terbalik yang Khas membuat Masjid ini beda dari masjid-masjid besar yang lain
Saya memutari masjid, sambil mengambil beberapa gambar. Sayangnya tidak boleh mengambil gambar di dalam masjid (ada tulisannya gitu). Meskipun tidak terlihat penjaga masjid dan juga pengurus masjid disini. Tapi namanya peraturan ya kan, tetap saja saya tidak mengambil gambar didalam. Alhasil gambar-gambar saya ambil dari luar saja.
Miniatur Kabah
Disore hari, biasanya setelah ashar, Masjid ini ramai dikunjungi oleh warga, untuk bersantai, berfoto, sembari menunggu waktu magrib pikirku. Taman Masjid yang indah juga kerap dijadikan tempat foto pre-wedding bagi para calon pengantin. Setelah merasa puas, meskipun minim informasi untuk menanyakan hal yang lebih detail lagi, kami memutuskan untuk pulang, dan berpisah dengan bang Jali yang sudah menemani kami tadi. See you next time, bro!
Miniatur Kabah, Islamic Center Darul Napis Tabalong


Sumber :
Singgahkemasjid.blogspot.co.id
metrotvnews.com

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...