Showing posts with label Pulau Tiga. Show all posts
Showing posts with label Pulau Tiga. Show all posts

Wednesday, March 3, 2021

Kecamatan Pulau Tiga Setelah Belasan Tahun : Sejarah Singkat dan Potensi yang Ada

Beberapa waktu lalu, saya dan rekan komunitas bertemu dengan teman-teman dari TV Desa. Dari nongkrong-nongkrong gahol ini, kami menghasilkan beberapa kesepakatan. Satu diantaranya adalah meliput bersama di beberapa desa yang ada di Natuna. Berkolaborasi, TV Desa dengan programnya, dan komunitas kami, Kompasbenua juga dengan programnya. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Desa Serantas dan Desa Tanjung Batang di Kecamatan Pulau Tiga. 
Perjalanan menuju Pulau Tiga


Sejarah Pulau Tiga
Pulau Tiga merupakan gugusan kepulauan yang terletak di selatan pulau Bunguran Besar. Menurut warga setempat yang saya tanyai, penamaan Pulau Tiga berasal dari 3 pulau-pulau besar yang pertama berpenghuni, yaitu Pulau Sabang Mawang, Pulau Tanjung Kumbik dan Pulau Sededap. Pada awal-awal Natuna mekar menjadi kabupaten pada 1999, Pulau Tiga berada dalam wilayah Kecamatan Bunguran Barat dengan pusat pemerintahan di Sedanau yang terdiri dari 3 desa yaitu Desa Pulau Tiga, Desa Sabang Mawang dan Desa Sededap.
Pelabuhan Desa Sabang Mawang
Seiring berjalannya waktu, terjadi pemekaran desa-desa di sekitaran Pulau Tiga. Hingga akhirnya, wilayah Pulau Tiga menjadi kecamatan tersendiri yang menaungi 3 pulau besar yang saya sebut tadi dengan pusat pemerintahan berada di Nyit-nyit atau Tanjung Persenangan, di Desa Sabang Mawang Barat saat ini. Lalu pada tahun 2016, Kecamatan Pulau Tiga kembali mekar dengan lahirnya Kecamatan Pulau Tiga Barat dengan pusat pemerintahan di pulau Tanjung Kumbik.

Kecamatan Pulau Tiga saat ini terdiri dari enam desa, empat desa berada di Pulau Sabang Mawang yaitu Desa Sabang Mawang (yang lebih dikenal dengan Balai), Desa Sabang Mawang Barat, Desa Tanjung Batang dan Desa Serantas. Serta dua desa lagi berada di pulau Sededap, yaitu Desa Sededap dan Desa Teluk Labuh.
---------------

Perjalanan kami dari Ranai bermula pagi hari, karena mengejar jadwal mutur (kapal kayu kecil bermesin) yang sudah mulai jalan dari pelabuhan rakyat Selat Lampa dari jam 7 pagi. Rata-rata ukuran mutur tidak terlalu besar, bisa memuat sekitar 30 orang dan 5 buah sepeda motor di bagian atasnya.
Pemandangan di Kecamatan Pulau Tiga
Pulau Sabang Mawang, pulau terbesar di Kecamatan Pulau Tiga juga dimana pusat Kecamatan Pulau Tiga berada, terletak tepat di depan pelabuhan Selat Lampa. Jarak dari Selat Lampa menuju pulau ini memakan waktu kurang lebih 20 menit. Melintasi Selat Lampa dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya, suai untuk memanjakan mata.

Saya jadi teringat, terakhir mengunjungi pulau ini ketika SD dahulu, awal tahun 2000an ketika orang tua bertugas di Lampa. Saat itu hanya pergi di satu tempat saja, dan belum bisa mengeksplor pulau, (karena masih kecil belum boleh keluar sama mama 😔). 

Halan - halaaaan
Kami berhenti dan turun di pelabuhan Desa Sabang Mawang. Setelah sepeda motor dinaikkan ke pelabuhan, kami langsung berjalan mengitari pulau, melewati sisi pulau menuju Desa Serantas. Akses jalan sudah bagus, hanya beberapa tempat saja yang belum disemenisasikan. Jarak dari Desa Sabang Mawang menuju Desa Serantas berkisar antara 15 km. Sebenarnya sangat dekat, sebab Desa Serantas berada "di belakang" Desa Sabang Mawang, namun akses jalan yang memadai belum tersedia, jadi terpaksa memutar pulau untuk mencapai desa Serantas ini.


Potensi Wisata Kecamatan Pulau Tiga
Setelah semua desa di pulau ini kami datangi, tampaklah potensi wisata yang luar biasa. Pulau Sabang Mawang merupakan pulau yang unik. Selain pulau Setanau yang menjadi daya tarik wisata andalan dan juga merupakan salah satu geosite Geopark Nasional Natuna, ada juga daerah lain yang tak kalah indahnya.

Desa Sabang Mawang, selain "memiliki" pulau Setanau sebagai objek wisata anadalannya, Desa ini juga memiliki pelabuhan terpadu yang dibangun ketika Menteri Susi menjabat di kemenKKP. Pelabuhan ikan terpadu itu sering disebut dengan SKPT dimana usaha bisnis ikan di kabupaten ini berjalan.

Suasana di Desa Sabang Mawang
Di Desa Sabang Mawang Barat, view kantor Camat yang terletak di kampung Tanjung Persenangan juga very very amazing. Pemandangan "komplek" pegunungan selatan Bunguran dan Pulau Tanjung Kumbik milik Kecamatan Pulau Tiga Barat siap memanjakan mata. Tak jauh dari lokasi kantor camat, ada lokasi bekas kota tua dengan rumah besar sebagai "pusatnya". Rumah Raja-raja, begitu warga menyebutnya. Dahulu, lokasi bernama Nyit-nyit ini merupakan pusat perputaran ekonomi, banyak kapal-kapal besar yang singgah di tempat ini saat itu.
Kantor Camat Pulau Tiga dari kejauhan
 Lain pula di Desa Tanjung Batang. Desa dengan area terluas di Pulau ini memiliki potensi sejarah yang besar. Ada 7 kuburan tua yang tersebar di beberapa titik di Desa. Kuburan tua ini memiliki nisan dan badan kuburan yang terbuat dari batu karang dengan ukiran yang khas. Tim Arkeologi Nasional pernah meneliti kuburan ini dan belum mengeluarkan rilis pasti mengenai asal usul sampai, tahun pembuatan hingga siapa yang ditanam dikuburan ini. Desa Tanjung Batang juga memiliki masjid tua yang disebut dengan Masjid Al-Qyam, ada meriam yang dipasang di halaman masjid. Dahulu meriam ini digunakan warga untuk memberi tanda bahwa masuknya 1 Ramadhan dan 1 syawal. Dentuman yang dihasilkannya terdengar hingga ke pulau Sededap dan pulau Tanjung Kumbik.

Salah satu situs Kuburan Tua Desa Tanjung Batang
Dan Desa Serantas yang terletak di sisi timur Pulau Sabang Mawang tak mau ketinggalan. Desa yang menghadap langsung ke laut lepas ini memiliki alam yang indah. Pulau Genteng yang letaknya tak jauh dari desa juga memiliki pesona yang memikat. Dari sisi sejarah, daerah Serantas dahulu merupakan markas pusat tentara jepang ketika menginvasi Nusantara pada 1942-1945. Bahkan beberapa peninggalannya masih bisa kita lihat hingga saat ini. Laut sekita Desa dan Pulau Genteng dangat biru dan jernih, pantai di pulau Genteng berwarna putih berkilau bak memancarkan sinar terlihat dari kejauhan.
Peninggalan Jepang di Desa Serantas
------------

Itu beberapa potensi yang dimiliki Pulau Sabang Mawang di Kecamatan Pulau Tiga. Baru satu pulau saja, belum semuanya terekspos, dan sudah banyak potensi yang bisa dikembangkan. Yang tadi saya jelaskan baru dari sisi pariwisata secara umum. Belum lagi dengan potensi perikanan dan lautan. Pulau Sabang Mawang juga memiliki potensi budaya yang patut untuk dikembangkan. Keanekaragaman biologi dan geologi yang dimiliki pulau ini kemungkinan besar bisa membuat geosite dari Geopark Natuna bertambah satu. 😁


Pulaaaaaang








Monday, February 15, 2021

Desa Tanjung Batang, Misteri Meriam Belanda dan Makam Tua

Perjalanan kami di Pulau Sabang Mawang masih berlanjut. Setelah dari Desa Serantas, tujuan kami berikutnya adalah menuju Desa Tanjung Batang. Desa Tanjung Batang merupakan tetangga Desa Serantas, letaknya di sisi bagian barat dari Pulau Sabang Mawang, jarak dari Desa Serantas berkisar antara 7 - 10 km.

Di Pulau Sabang Mawang, Desa Tanjung Batang merupakan desa dengan wilayah terluas. Hampir separuh pulau Sabang Mawang menjadi milik Desa Tanjung Batang. Wilayah yang luas ini menjadikan Desa Tanjung Batang memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Selain wisata bahari yang memang menjadi unggulan di Natuna, ada hal lain yang sangat potensial : wisata budaya dan sejarah.
Lokasi Desa Tanjung Batang

Masih dalam rangka kolaborasi dengan TV Desa Natuna. Dalam pengambilan-pengambilan gambar untuk keperluan video, tibalah kami di SDN 002 Tanjung Batang dan di sambut oleh kepala sekolahnya. Setelah bincang singkat, beliau langsung menunjukkan lokasi kuburan tua tepat berada di belakang SD tersebut. Dari sini petualangan dimulai.

Kuburan tua yang ditunjuk oleh kepala sekolah tadi berjumlah dua buah, besar dan kecil. Nisannya terbuat dari batu karang dengan motif ukiran yang indah. Dilihat dari nisannya, ini bukan kuburan orang sembarangan. Beberapa peneliti sudah banyak datang kesini, baik dari daerah hingga pusat. Namun belum ada publikasi dari hasil penelitian atau kunjungan mereka (belum ada di google saat saya gugling). Dua makam tua ini juga masih simpang siur siapa pemiliknya, apakah suami istri, atau orang tua dan anak, karena ukurannya yang berbeda.


Situs Makam Tua Tanjung Batang (Belakang SD)


"Silahkan ke Haji Darman, untuk mengetahui info lebih lanjut tentang makam tua ini" Begitu kira-kira kata kepala SD 002 ketika kami bertanya tentang siapa "juru kunci" daerah ini.



Tak jauh dari SD, ada Masjid Al-Qiam yang merupakan masjid besar tertua di pulau ini. Bentuknya sudah modern, terlihat sudah beberapa kali mengalami renovasi. Di halaman masjid ada meriam berwarna kuning dengan panjang kurang lebih 1 meter yang mengarah ke pulau Tanjung Kumbik. Diameter ujung meriam berkisar 10 cm. Belum ada informasi detail mengenai meriam ini.

Kemudian kami menuju kekediaman bapak Haji Darman, alhamdulillah beliau ada di rumah dan menyambut kami dengan kopinya. Kedatangan kami selain untuk menanyakan perihal makam tua di dekat SD, juga memohon ijin untuk menelusuri makam-makam tua yang lain yang terletak di lokasi terpisah. Informasi tentang banyaknya makam tua ini kami dapati dari orang-orang desa, dan juga hasil diskusi dengan bidang kebudayaan disparbud Natuna via telepon. Dari pak Haji Darman pula kami bertanya banyak hal, termasuk tentang asal-usul dan cerita rakyat yang ada di sekitar Tanjung Batang ini.

Meriam di Masjid Al-Qiam

Beliau menceritakan tentang meriam di masjid Al-Qiam. Itu meruakan meriam peninggalan Belanda. Pada masa dahulu, meriam tersebut tersimpan di dalam masjid, dan digunakan untuk memberi tanda masuknya 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Posisi Masjid Al-Qiam di Tanjung Batang merupakan posisi yang strategis, jadi saat meriam dibunyikan, bunyinya terdengar hingga kampung Balai (Sabang Mawang), Teluk Melam, Serantas, hingga Kampug Batu Karut yang terletak di pulau Tanjung Kumbik di seberang. Setelah penduduk ramai dan technologi berkembang, barulah meriam itu "diistirahatkan".

Setelah dari kediaman pak Haji Darman, kami menuju ke lokasi makam tua di Aek Book dan Aek Nuse. Letak kedua daerah ini berdekatan. Dari jalan raya kita harus berjalanan kaki menuju lokasi ini. Kami didampingi oleh pak RT dan pak RW wilayah setempat untuk mengunjungi situs ini. Situs makam tua di Aek Book dan Aek Nuse juga memiliki karakteristik yang sama, badan dan nisan makam terbuat dari batu karang yang diukir dan menghadap kearah kiblat. Makam di Aek Nuse merupakan makam Tok Sirat, begitu kata pak Haji Darman menceritakan.
Situs Makam "Datuk Sirat" Aek Nuse

Situs Makam Aek Book

Situs makam tua berikutnya adalah di Semubon. Semubon terletak di wilayah selatan Tanjung Batang, jika dari Tanjung Batang, wilayah Semubon terletak di antara Botu Bulot dan Telok Melam. Ke lokasi ini, kami ditemani oleh bang Sup, pemuda Desa Tanjung Batang. Letak makam tua situs Semubon tak jauh dari jalan raya, hanya tertutup semak belukar saja mengharuskan kita jeli untuk mencarinya. Sama seperti makam-makam sebelumnya, situs makam Semubon terdiri dari satu buah makam saja dengan badan dan nisan kuburan terbuat dari batu karang yang diukir.
Situs Makam Semubon

Perjalanan kami berlanjut ke situs makam terakhir yang diketahui. Situs makam di Kampung Baru, letaknya di lereng bukit belakang Sanggar Seni Desa Tanjung Batang. Disini terdapat dua makam yang terpaut jarak kurang lebih 20 meter. Kami ditemani oleh pak RT kampung baru untuk mencapai lokasi ini. Makam tua yang juga mirip dengan makam-makam tua sebelumnya. Sebelum turun, pak RT menunjukkan satu situs lagi yang ia pun tidak tahu itu apa, jaraknya sekitar 50 meter dari situs makam tua di kampung baru, masih di lereng bukit. Bentuknya adalah tumpukan-tumpukan batu yang ditandai dengan batu hitam di atasnya. Kami belum dapat info lebih rinci tentang "situs" ini.


Situs Makam Kampung Baru

Total ada 7 makam tua dengan karakteristik yang hampir sama, dengan jarak yang berbeda-beda. Semua makam mengarah ke kiblat, badan dan nisan makam terbuat dari batu karang yang diukir dengan motif yang sama. Entah mengapa, saya sangat yakin, masih ada makam-makam tua yang tersebar di sekitar Desa Tanjung Batang ini. Kurangnya publikasi dan refrensi menghasilkan beberapa tanya yang ada dibenak kami. Info satu-satunya sejauh ini yang kami dapati adalah, bentuk nisan seperti ini, hampir menyerupai yang ada di Segeram (Natuna), Cirebon, dan Sulawesi.

Sunday, February 14, 2021

Menyusuri Jejak-jejak Jepang di Desa Serantas

Desa Serantas, merupakan satu dari empat desa yang ada pulau Sabang Mawang, Kecamatan Pulau Tiga. Dari pusat kota Ranai, menuju ke desa ini hanya bisa dilalui dengan jalur laut via pelabuhan rakyat Selat Lampa. Banyak pompong (kapal-kapal kayu kecil) yang membuka rute dari dan menuju desa ini. Pompong atau kapal kayu kecil ini merupakan alat transportasi utama untuk sebagian masyakarat yang tinggal di pulau-pulau. Ia bak "jembatan berjalan" yang menghubungkan pulau-pulau di sekitarnya.

Perjalanan kami dimulai dari Ranai menuju Selat Lampa, lalu naik pompong dan berlabuh di pelabuhan desa Sabang Mawang. Dari desa Sabang Mawang, dengan menggunakan sepeda motor kami langsung "cau" menuju desa Serantas. Melewati jalan utama di tepian pulau, melewati rumah-rumah penduduk dan melintasi desa-desa di pulau itu. Ada empat desa di pulau Sabang Mawang, yaitu Desa Sabang Mawang, Desa Sabang Mawang Barat, Desa Tanjung Batang, dan Desa Serantas.
Lokasi Desa Serantas

Desa Serantas yang terletak di sisi selatan pulau Sabang Mawang ini memiliki pemandangan yang luar biasa indahnya. Garis pantai membentuk teluk digunakan oleh masyarakat untuk membangun rumah di tepian laut. Lautnya biru nan jernih dengan terumbu karang yang indah-indah. Gunung Mayoh yang merupakan titik tertinggi di pulau ini menambah kegagahan Desa Serantas. Jika cuaca sedang teduh dan cerah, dari gunung Mayoh akan terlihat pulau Midai yang berjarak 80 mil di sebelah selatan. Dan pulau Genteng menjadi pelengkap keindahan Desa Serantas. Pulau Genteng terletak tak jauh dari daratan desa, bahkan jika air surut kita bisa ke Pulau Genteng dengan berjalan kaki saja dari Kukop Batu Sigon, sebuah tanjung yang merupakan titik terdekat di desa untuk menuju ke pulau Genteng. Pasir putih akan "muncul" ketika air sedang surut, memberi jalan kita untuk menuju pulau ini.

Tak sampai di sini kisah Desa Serantas, dibalik indahnya bentangan alam, tersimpan sejarah masa lalu yang jejak-jejaknya masih bisa kita lihat hingga saat ini. Jejak-jejak dimana belum ada nama Indonesia, negara ini belum resmi adanya, belum diakui keberadaannya. Jejak-jejak yang berumur lebih dari setengah abad. Jejak, sisa-sisa peninggalan Jepang di Natuna, berada di Desa Serantas, Kecamatan Pulau Tiga.
Diskusi Dengan Pemuda Desa

Cerita tentang peninggalan Jepang di desa ini baru saya dapati saat berdiskusi dengan rekan-rekan TV Desa Natuna beberapa waktu lalu. Saat itu kami sepakat pergi ke sini untuk mengulik lebih dalam. Setelah tiba, kami berisitirahat di kantor desa. Pak Kades dan Sekdes menyambut kami di ruang tamunya. Setelah bercerita mengenai sekilas tentang Desa Serantas, pak Sekdes memanggil bang Hasbullah, tokoh pemuda desa untuk menemani kami mengeksplor lokasi-lokasi peninggalan Jepang yang tersebar di beberapa titik.

Ada banyak peninggalan Jepang di desa ini, baik di darat maupun di laut. Namun banyak yang tidak terawat sehingga ia rusak, bahkan hilang tanpa bekas. Hanya beberapa saja yang masih bisa terlihat. Oleh karena itu, tanpa ingin membuang kesempatan, kami meminta ditunjukkan sisa-sisa peninggalan Jepang tersebut.
Jangkar Kapal Jepang

Yang pertama adalah buji atau jangkar kapal. Menurut keterangan, jangkar kapal ini milik kapal Jepang yang karam di laut Desa Serantas. Letakya tak jauh dari jalan raya di dekat kantor desa. Bang Asbul menceritakan, di tempat jangkar kapal ini diletakkan dulunya merupakan markas / kantor tentara Jepang dalam melaksanakan kegiatan operasinya, namun jejaknya saat ini tak lagi tersisa.
Lokasi Tempat Pemenggalan

Lokasi yang kedua adalah lokasi pemenggalan. Saat berkuasa dahulu, hukum penggal adalah hukum yang diterapkan Jepang bagi pelanggar aturan. Konon dahulu ada seorang warga desa yang akan menerima hukuman ini. Entah apa yang dilakukannya sehingga Jepang memvonis untuk memenggalnya. Lubang sudah digali, dan ia pun sudah siap berada di posisinya. Namun entah apa yang terjadi, hukum penggal itu urung dilakukan sehingga warga desa tersebut selamat dari mautnya saat itu. Hingga saat ini lubang persiapan pemenggalan tersbut masih bisa kita lihat. Letaknya tak jauh dari lokasi pertama, ada jalan setapak sedikit menanjak. Lokasinya sudah tertutup semak belukar, namun galian lobangnya masih bisa terlihat.
Kawah, Kuali Peninggalan Jepang

Lokasi ketiga adalah kawah, begitu warga desa menyebutnya. Ia semacam kuali besar yang digunakan untuk memasak. Kuali ini berdiamter sekitar 80 cm dengan tinggi sekitar 50 cm dan terbuat dari besi. Dahulu kawah ini terletak di dekat masjid Al-Istiqbal, nuje (penjaga masjid) meletakkannya di sana untuk menampung air wudhu. Saat ini kawah tersebut berada di depan rumah nuje yang terletak di seberang masjid untuk menampung air di rumahnya. Menurut cerita, kawah ini terakhir "menjalankan" tugasnya ketika para pengungsi Vietnam terdampar di pulau ini, kawah ini digunakan untuk memasak bubur guna memenuhi kebutuhan mereka.
Lubong Antu, Goa Persembunyian Jepang

Lokasi ke empat adalah Lubong Antu. Lubong Antu terletak di kaki gunung Langi. Menuju ke Lubong Antu dengan melalui jalan setapak di belakang masjid Al-Istiqbal. Sekitar 10-15 menit jalan kaki mengikuti pipa air dari paralon di gunung Langi akan mengantarkan kita ke Lubong Antu ini. Lubong Antu merupakan goa alami bentukan alam yang memiliki panjang lebih dari 50 meter dan memiliki tiga cabang di dalamnya. Bibir goa ini dahulunya besar namun tertutup setengah oleh batu ketika pemerintah membuat dam di depan bibir goa. Lubong Antu masih bisa dimasuki dengan cara merangkak sekitar sepuluh meter, lalu setelah itu kita bisa berdiri di dalamnya. Dahulu, Jepang menjadikannya sebagai tempat persembunyian dari ancaman musuh.

Masih menurut keterangan bang Asbul, ada satu lagi peninggalan Jepang di gunung Mayoh, ia berupa tanah datar tempat pengintaian. Mengingat gunung Mayoh merupakan tempat tertinggi di pulau ini, sangat memungkinkan untuk membuat pos pengintaian di gunung ini. Hanya saja karena keterbatasan waktu dan lain hal, kami belum bisa menuju kesana.

Begitulah adanya Desa Serantas. Desa yang tak hanya memiliki tempat-tempat indah menakjubkan, namun juga menyimpan jejak sejarah masa lalu yang semestinya kita jaga dan lestarikan. Monumen Peringatan Jepang layaknya boleh dibangun di Desa Serantas ini. Sebagai pengingat untuk generasi kini, bahwa negeri di ujung utara Indonesia ini juga menyimpan jejak-jejak sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jejak-jejak kelam masa penjajahan, yang bisa kita jadikan pelajaran.

Sunday, April 12, 2020

Berlayar (Kembali) Menuju Pulau Kecil di Tengah Laut Natuna

Deru ombak yang beradu dengan dinding kapal sudah menjadi alunan musik bagi ku, setidaknya selama 3 jam ini. Yap, aku berada diatas kapal kecil yang sudah lepas jangkar dari Pelabuhan Rakyat di Selat Lampa sejak tadi pagi, mengarah membelah Laut Natuna menuju arah selatan. Menuju ke pulau yang tiada pulau lain di dekatnya. Sendiri, kecil, mungil, namun indah dengan jutaan cerita dan kenangan yang tersimpan rapi. Pulau Midai.

Cuaca sangat bersahabat, cerah. Angin teduh, dan gelombang sedikit tenang. Meski begitu, aku masih merasakan sedikit pusing karena gelombang laut. Maklum, sudah lama tak berlayar sejauh ini. Kapal yang kami tumpangi tidak lah terlalu besar, panjang sekitar 20m, tinggi kapal kurang lebih 4 m, dan tinggi struktur 2 meter. Ia merupakan sumbangan dari salah satu kementrian di republik ini. 
Aktivitas masyarakat Pulau Tiga

Pulau-pulau di Pulau Tiga

Jarak dari Selat Lampa ke Midai kurang lebih 52 mil atau 83 km. Kapal ini biasa menempuhnya dengan waktu kurang lebih 5-7 jam tergantung pada cuaca. Kami mulai berlayar pukul 7 pagi dari Selat Lampa. Kapal berjalan pelan dan santuy melewati gugusan pulau-pulau di Pulau Tiga yang indah, melewati selat kecil diantara pulau Sabang Mawang dan pulau Tanjung Kumbik, kedua pulau ini berada di dua kecamatan yang berbeda, pulau Sabang Mawang berada di Kecamatan Pulau Tiga, dan pulau Tanjung Kumbik berada di kecamatan Pulau Tiga Barat. Air laut jernih serta aktifitas masyarakat di sekitar pulau yang sedang melaut menjadi pemandangan elok di pagi yang cerah itu.

Istirahat menunggu logistik dan perbekalan

Di perairan Tanjung Batang kapal melambat dan berhenti sejenak, menunggu kapal lain yang datang untuk mengisi perbekalan kapal. Setelah selesai, kapal kembali melanjutkan perjalanan, kembali dengan santuy, kapten kapal seakan mengerti betul kami tak ingin cepat-cepat melewati pemandangan indah ini, banyak pulau-pulau kecil nan indah yang kami lewati ketika melewati gugus pulau-pulau di Pulau Tiga. Ingin sekali rasa mengeksplor satu persatu pulau-pulau ini, menguak rahasia-rahasia keindahan yang terkandung di dalamnya yang tak bisa hanya dilihat dari kejauhan saja.

Saat ini kami sudah berada di pertengahan jalan. Karena cuaca sedang panas, aku lebih memilih duduk di luar, namun sesekali aku masuk ke ruang kapten, iseng saja sambil melihat GPS -meskipun aku tak mengerti- di dalam kapal yang menunjukkan arah yang lurus menuju ke tujuan. Kadang-kadang aku mengambil teropong milik kapten dan meneropong di sekitar. Hanya pemandangan laut lepas, dan beberapa kapal penangkap ikan saja yang terlihat. Kapal "cantrang" dari Jawa, begitu kata orang-orang di kapal yang aku tanyakan. Cantrang memang lagi jadi kata populer untuk masyarakat Natuna saat ini.
Cantrang

GPS dan teropong kapal

Aku masih melanjutkan meneropong sekeliling, kali ini mengarah ke sisi kanan kapal, tepatnya sebelah barat. Dari kejauhan terlihat titik-titik hitam di atas lautan, bak bebatuan yang mengapung diatas lautan. Batu-batu, itu jawaban yang kudapati ketika bertanya dengan paman. Seketika aku berfikir, tumpukan bebatuan yang menyembul di tengah-tengah laut, kemungkinan berjenis batuan granit yang memang banyak ditemukan di Natuna. Lalu berapa besar bebatuan yang "menyengul" di lautan lepas itu? Nanti aku googling saja ketika kembali ke Ranai, fikirku. Kapal masih terus berlayar, membelas laut Natuna menuju selatan.
Berlayar kita, nak

Akibat sedikit pusing tadi, selera makan pun menjadi ambyar, parahnya lagi sulit untuk memejamkan mata, ditambah lagi dengan pemandangan yang seluruhnya laut membuat rasa bosan memuncak, ingin cepat-cepat sampai dan berlabuh di dermaga. Aku tak hiraukan jika berangkat sendiri, rasa khawatir ini semakin bertambah dengan ikutnya istri dan jagoanku yang masih bayi. Ini pertama kalinya mereka berlayar jauh. Namun sejauh yang ku lihat, mamanya jagoan sehat-sehat saja, dan jagoanku masih "pengas" mengeksplor kapal, sesekali melihat laut dan mengoceh sendirian seakan meluapkan rasa penasaran. Tidak ada terlihat muka pucat dan mabuk laut di wajah mereka, alhamdulillah.

Perjalanan masih berlanjut, jam menunjukkan hampir pukul 11 siang. Ketika aku berdiri di haluan kapal dan melihat jauh ke depan. Sayup terlihat gundukan tanah memanjang di tengah lautan. Bentuknya sudah tak asing lagi, aku hafal betul dengan bentuk ini, dua gunung yang terlihat dari kejauhan membentuk huruf M, itu lah pulau Midai. Kecil, mungil, namun indah dan damai. Jika pulau Midai sudah terlihat, kurang lebih 2 jam lagi akan sampai, begitu kata pamanku.
Pulau Midai dari kejauhan

Selanjutnya yang ku lakukan adalah mondar mandir di kapal untuk menghilangkan rasa bosan, terkadang bergantian menjaga jagoanku yang masih saja aktif, hanya tidur sebentar saja tadi, itu juga di paksa mamanya. Dia senang sekali melihat laut. Kadang-kadang ikan terbang (Exocoetidae atau torani) menemani perjalanan kami, muncul dengan tiba-tiba dari dalam laut lalu terbang rendah di atas permukaan dan kembali lagi menyelam. Ikan terbang ini memang memiliki habitat di perairan pasifik dan hindia, jadi Lauta Natuna merupakan "rumah" yang pas untuk ikan yang mampu berenang dan terbang ini. Ia bisa terbang sejauh 40 - 500 meter jika dibantu dengan bantuan gelombang, dan juga bisa berenang dengan kecepatan 60 km/jam di air guna lari dari mangsa. Selian itu, potensi lain dari ikan ini adalah telurnya yang mahal, yang biasa ia tempelkan di tumbuhan-tumbuhan laut. Hmmm, mantap syekaleeh ya.
Midai

Jika beruntung, selama perjalanan baik menuju atau dari Midai terkadang juga ditemani oleh kumpulan lumba-lumba yang berenang di dekat kapal. Banyak video-video yang dibagikan oleh teman-teman di media sosial yang menunjukan mamalia laut ini mengiringi kapal yang sedang berlayar. Sayang, mereka enggan muncul dalam perjalanan kali ini. Hanya ikan "indosiar" lah yang jadi teman kami berlayar.

naldoleum
Masuk perairan Midai

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, kapal sudah memasuki perairan Pulau Midai. Pulau yang dari jauh berbentuk huruf M tadi perlahan "membesar", berwarna hijau pertanda masih rimbun dengan pepohonan. Cuaca yang cerah membuat birunya langit, hijaunya pulau dan birunya laut membentuk gradasi warna yang indah, perpaduan epik dari Sang Pencipta, Keagungan_Nya Yang Maha Sempurna. Rasa tak ingin cepat berlalu menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Sebentar lagi kapal akan berlabuh di pelabuhan. Laju kapal perlahan melambat seketika telah masuk di perairan Midai. Laut biru yang jernih hingga terlihat dasar laut yang dipenuhi karang-karang. Terkadang ikan-ikan berenang keluar masuk terumbu karang yang tampak dari atas kapal. Semakin dekat menuju dermaga, laut semakin jernih, dasar laut semakin jelas terlihat. Memang indah alam Natuna ini, tugas kita untuk menjaga dan memeliharanya.
naldoleum
Bentar lagi sampaiii

Kapten semakin melambatkan laju kapal, sebentar lagi akan merapat di dermaga. Ada banyak pelabuhan di pulau Midai. Hampir setiap desa dan kelurahan di pulau ini memiliki dermaga untuk berlabuhnya kapal, baik kapal nelayan maupun kapal penumpang. Kali ini kami akan merapat di pelabuhan WK, di Kelurahan Sabang Barat. Pelabuhan ini juga biasa digunakan untuk berlabuhnya kapal-kapal besar, seperti KM Bukit Raya dan Kapal-kapal Logistik lainnya. Mesin kapal dimatikan, tali ditambatkan di pelabuhan, alhamdulillah kami sampai di Midai dengan selamat.
naldoleum
Sampai Midai dengan selamat


Sunday, October 28, 2012

Kecamatan Pulau Tiga, Pintu Gerbang Alur Laut di Natuna

Ada satu kecamatan di Kabupaten Natuna yang mempunyai peran penting dalam alur laut di Natuna. Ia adalah kecamatan Pulau Tiga. Terletak di bagian selatan Pulau Bunguran Besar, Kecamatan Pulau Tiga sebelum menjadi kecamatan sendiri dahulu daerah ini berada dalam lingkup administratif kecamatan Bunguran Barat. Melihat potensi yang dimiliki, maka Bupati Natuna saat itu memekarkan daerah ini menjadi Kecamatan tersendiri.

Penamaan kecamatan Pulau Tiga diambil dari tiga pulau besar yang terdapat di gugusan pulau ini, yakni Pulau Sabang Mawang, Pulau Balai dan Pulau Tanjung Kumbik. Wilayah Kecamatannya meliputi pulau-pulau yang ada disekitarnya dan sedikit daerah di Pulau Bunguran Besar, namanya Lampa. Lampa merupakan pelabuhan penumpang yang kerap disinggahi oleh Kapal Penumpang KM. Bukit Raya milik PT. Pelni. Ini merupakan moda transportasi laut andalan masyarakat Natuna. Di desa Lampa juga terdapat fasilitas Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) milik PT. Pertamina. Dan Selat Lampa juga merupakan tempat dimana banyak kapal yang berlabuh jangkar.
Kapal Penumpang KM. Bukit Raya tiba di pelabuhan Selat Lampa
Selat Lampa, yang merupakan perairan antara Desa Lampa dan Pulau Balai merupakan area laut yang lumayan sibuk dengan lalu lalang transportasi lautnya. Selain KM Bukit Raya yang tida setiap seminggu sekali. Ada beberapa kapal lain yang melakukan bongkat muat bahan bakar untuk didistribusikan ke pulau-pulau lain disekitar Kabupaten Natuna.
Perahu Klotok (Mutur) yang merupakan transportasi utama, dan TBBM PT. Pertamina di Selat Lampa

Menuju ke Kecamatan Pulau Tiga tidaklah sulit, hanya memakan waktu kurang lebih 90 menit berkendara dari Kota Ranai menuju Lampa, kemudian naik perahu klotok (masyarakat menyebutnya mutur) menuju ke pulau-pulau di Kecamatan Pulau Tiga. Kenampakan alamnya terdiri dari pegunungan terjal dan bebatuan. Disini juga terdapat batu raksasa pemecah ombak. Masyarakat Natuna menyebutnya Tekul atau Setekul. Pulau Bunguran memiliki bebatuan pemecah ombak di empat penjuru pulau, Batu Setekul merupakan salah satunya. Di bagian utara ada Tanjung Datuk, sebeah timur ada Batu Sindu, sebelah barat ada Tanjung kapal. Pas, seperti ada pesan tersembunyi yang disimpan oleh alam.
Setekul, Batu Besar Pemecah Ombak
Pulau Tiga memiliki  banyak tempat wisata alam. Pulau Setanau salah satunya, pulau ini kerap ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar daerah, paling ramai ketika H + 3 sampai H + 5 Idul Fitri. Dan beberapa tempat lain yang berpotensi wisata sedang dalam tahap pengembangan. Sayangnya tak banyak dokumentasi dari saya untuk pulau ini. Semoga postingan berikutnya bisa menjelaskan lebih rinci ya. 
Panorama alam, Kecamatan Pulau Tiga
Trims.

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...