Sunday, November 16, 2014

Explore Semarang, Kota Tua di Utara Jawa Tengah

Mumpung masih di Jawa ya kan, sebuah pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia ini, namun juga banyak menyimpan sejarah dan tempat-tempat keren. Nah, trip kali ini, saya dan teman-teman akan memadukan keduanya, dengan tujuan : Semarang. Jejeeeeeng.


Perjalanan ke Semarang kami mulai dari Jogja, secara disini kita kuliah ya kan. Setelah segala persiapan kami siapkan secara baik dan benar. Langkah awal yakni ke halte TransJogja di dekat kontrakan dengan tujuan ke Stasiun KA Maguwoharjo dekat bandara. Lumayan hemat biaya, bayarnya juga 3000/orang. Setelah sampai di stasiun kami membeli tiket perjalanan Kereta Api lokal Jogja - Solo seharga 10.000 /org. Tujuan kami adalah stasiun Solo Balapan. Setelah sampai, kami istirahat sebentar sambil membuka dan makan bekal yang sudah dipersiapkan. Malam ini kami akan tidur di stasiun, karena kereta api Solo - Semarang baru berjalan besok pagi. Awalnya kami ingin numpang tidur di mushala, namun petugas KA tidak membolehkan, bahkan kami sempat akan diusir keluar stasiun. Tapi alhamdulillah tidak jadi, kami boleh menginap di area dalam stasiun sambil menunggu besok pagi melanjutkan perjalanan ke Semarang.
Neng Stasion Balapan
Pagi-pagi setelah shalat subuh, kereta api Kalijaga sudah standby di jalurnya, kami yang dari tadi malam sudah berada di stasiun langsung naik ke KA tersebut. Perjalanan dari Stasiun Solo Balapan Solo ke Semarang Poncol memakan waktu 3 jam lebih, tidak sesuai dengan yang tertera ditiket, tapi ya gak apa-apa lah. Biaya perjalanan dikenakan sebesar 10.000 /orang yang tiketnya sudah kami beli secara online beberapa hari sebelumnya (thanks technology). Di dalam kereta kami menyempatkan tidur sejenak untuk menyimpan tenaga. Setelah menikmati pemandangan indah yang tersaji selama perjalanan. Pukul 9 pagi kami tiba di Stasiun Semarang Poncol, Kota Semarang.
Kereta Api Kalijaga, gak pake sunan

LAWANG SEWU.
Lawang Sewu diambil Dari Sisi Kanan.
Tujuan utama setelah menginjakkan kaki ke Kota Lumpia ini adalah Lawang Sewu. Wisata andalan Kota Semarang, campuran wisata sejarah sekaligus wisata misteri. Dari stasiun ke Lawang Sewu kami berjalan kaki, letak nya tidak terlalu jauh (menurut mbah gugel). Berjalan selama 20 menit menikmati panasnya kota juga sambil melihat kalau-kalau ada penginapan untuk backpacker yang murah meriah. Akhirnya sampai kami di Lawang Sewu yang terkenal ini, terletak di simpang 5 yang satunya Semarang (karena ada setidaknya 2 simpang 5 yang besar di sini). Bangunan-bangunan disimpang 5 ini hampir semua berarsitektur Belanda, kami seakan kembali ke masa lalu saat berada disini. Barangkali tempat ini dulu merupakan pusat pemerintahan saat zaman penjajahan Belanda dulu.
Lawang Sewu....
Lawang Sewu sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti Pintu Seribu. Dulu bangunan ini merupakan kantor pemerintahan Belanda, kantor Perkeretaapian sekaligus penjara saat masa penjajahan Belanda dulu. Setelah membeli tiket seharga 10.000/orang + membayar jasa tour guide (wajib sepertinya) sebesar 30.000. 

"jangan foto pintu nya ya mas, "berat""

Itu adalah kata-kata dari sang pemandu yang saya ingat ketika dia memandu kami mengitari Lawang Sewu ini. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah toilet, hweew. Emang lagi kebelet sih. Toiletnya juga tak luput dari gaya arsitektur Belanda, kuno, namun elegan. Perjalanan berlanjut ke beberapa ruangan yang entah saya tak terlalu mendengarkan karena terlalu "exciting" dengan tempat ini, yang saya ingat sang pemandu hanya menunjukkan rungan kerja, ruangan pertemuan / pesta, ruangan bawah tanah, penjara bawah tanah, serta loteng. Di Lawang Sewu ini juga menampilkan berbagai dokumentasi dan artikel-artikel bersejarah mengenai Indonesia dan Semarang. Di samping bangunan Lawang Sewu terdapat lokomotif tua yang tentunya menjadi objek jepret-jepreet.
Lokomotif Tua
Setelah dari Lawang Sewu, kami berencana mengunjungi museum perjuangan yang berada tepat di seberang Lawang Sewu, namun saat dilihat dari luar sepertinya museum ini tidak sedang dibuka. Akhirnya kami merubah rencana : menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Menurut mbah gugel, letaknya agak jauh dari lokasi kami berada sekarang, setelah mencari refrensi dan bertanya sana sini, akhirnya kami menaiki TransSemarang dengan biaya 3500/orang. Cukup lama perjalanan, kemudian kami berhenti dihalte depan pusat perbelanjaan. Berhubung cuaca sangat panas, akhirnya kami sepakat ke pusat belanja tersebut, sambil istirahat sebentar. Setelah mempertimbangkan waktu serta kondisi tubuh, akhirnya perjalanan menuju Masjid Agung Semarang kami batalkan. Kami rubah haluan menuju Ambarawa, Bandungan. Dari tempat kami berada, kami harus menuju ke Banyumanik, kami naik angkot (2000/org), kemudian ganti angkot menuju Banyumanik (7000/org), dari Banyumanik kami naik bus menuju Bawean (Ambarawa) dengan biaya 15000/org. Sampai di Bawean, Ambarawa kami kembali naik angkot menuju Palagan Ambarawa dengan biaya 2500/org. Tempos dah bokong.

MUSEUM KERETA API
Museum Kereta Api Ambarawa
Dari Palagan Ambarawa, kami berjalan kaki menuju Museum Kereta Api Ambarawa. Tiket masuk museum 10.000/orang. Namun saat itu, 10.000 merupakan harga yang terlalu mahal, museumnya seperti sedang direnovasi, belum terlihat hal-hal yang menarik kecuali bangunan utama yang juga berarsitektur kuno dan kumpulan gerbong-gerbong tua. Mungkin saat ini museum Kereta Api Ambarawa sudah bagus. Coba aja datang lagi. :D

Setelah dari museum, kami kembali mencari spot-spot menarik di sekitar. Dan mbah gugel menunjukan sebuah waduk besar yang terletak jauh dari museum. Rawa Pening si mbah gugel bilang. Kami berjalan kaki selama 45 menit, melewati perkampungan, sawah hingga jalan raya untuk mencapai tempat ini. Sebuah objek wisata terapung sepertinya. Kami beristirahat sebentar dan mencoba kuliner dulu, kebetulan perut juga sudah lapar. Mencoba nasi jagung yang mantap sekali. Wisata Apung Kampung Rawa, begitu tertulis di gapura masuk utama, terdiri dari beberapa wahana bermain, cottage, dan fasilitas penyewaan perahu untuk mengitari waduk, dengan pemandangan yang sangat indah. 
Kampoeng Rawa
Tak memakan waktu lama, karena hari sudah beranjak malam,matahari pun sepertinya sudah redup, lelah menyinari. Kami kembali pulang menuju ke Polin, naik angkot (2000), kemudian berganti angkot dari Polin ke Bandungan (3000). Bandungan ini juga merupakan lokasi wisata andalan kabupaten Semarang, Kaliurang nya Semarang, boleh dibilang begitu, terletak di dataran tinggi membuat hawa dingin sudah menghampiri sejak sebelum turun dari angkot. Kami mencari tempat menginap, ketemu sebuah hotel dengan biaya 100.000/permalam dengan fasilitas tempat tidur untuk 2 orang, TV, kamar mandi di dalam dengan air panas, serta sarapan). Fix, hotel ini saja, badan pun sudah cape ingin istirahat, tapi kami mencari makan dulu, cacing diperut sudah demo setelah terguncang-guncang saat berada diangkot tadi. Ada rumah makan di dekat hotel dengan menu spesial : sate kelinci, enak boooo. Coba deh. :D
Umbul Sidomukti
Pagi hari setelah sarapan, mandi dan ganteng. Kami meneruskan perjalanan. Kali ini tujuannya adalah UMBUL SIDOMUKTI. Dari Bandungan kami naik angkot menuju jimbaran (3000), kemudian angkot berhenti dipersimpangan yang jalannya nanjak keatas. Tapi angkotnya lurus, kita ditinggalin dah. Dari Jimbaran ke Umbul Sidomukti kami sewa jasa ojek (15000). Tiket masuk objek wisataini dikenakan biaya sebesar 10.000/org. Terdapat banyak wahana permainan di tempat wisata ini, namun sayang tak didkung dengan fasilitas mushalanya yang berukuran kecil. Mengingat bekal finansial sudah mulai menipis, kami hanya main disalah satu wahana outbond saja dengan biaya 40.000/org. Kemudian, berisrihat sebentar dan pulaaang.
Wahana Outbond
Dari Umbul kembali ke Jimbaran kami naik ojek yang tadi setelah sebelumnya kami meminta no HP mamang-mamangnya. Biayanya masih sama 15.000 tak berubah, kaya cinta aku ke kamu. Dari Jimbaran kami harus menuju Pasar Babadan dengan upah jasa angkot sebesar 5.000. Dari pasar Babadan kami naik bus tujuan Semarang dengan biaya 7.000. Setelah beberapa waktu berkutat dengan padatnya penumpang bus, ditambah lagi dengan gaya khas supir bus yang melaju kencang + ngerem mendadaknya, akhirnya kami sampai kembali ke Semarang, hal pertama yaitu mencari hotel diseputaran Kota, dapat sebuah hotel kelas melati seperti nya, harga 120.000 / malam dengan fasilitas, tempat tidur untuk 3 orang (1 single, 1 double), kipas angin, kamar mandi di dalam. Setelah menaruh barang-barang dan beristirahat sebentar. Kami melanjutkan perjalanan mengitari Kota Tua Semarang.
Kantor Pos Semarang
Kembali merasa berada dimasa lalu dengan pemandangan bangunan-bangunan tua serta jalanan yang sepi. Namun sayang, kota ini terkesan kumuh, selokannya tidak mengalir yang mengakibatkan bau, sampah-sampah juga terkesan tidak diurus. Semoga saja kedepannya pemerintah kota lebih peduli akan hal ini. Perjalanan berlanjut ke beberapa tempat di sekitaran kota tua, bangunan-bangunan khasarsitektur Belanda menemani perjalanan kami, kantor pos Semarang, kantor Pelni, koperasi batik, Gedung Keuangan Negara, jembatan merah, semua bangunan bergaya kuno, namun tetap elegan. Kami beristihat di sebuah waduk kecil tempat oran-orang memancing. 
Kota Tua Semarang
Lalu perjalan kami lanjutkan melewati gedung marabunta sebuah rumah tempat panggung kesenian, namun kini sudah tak digunakan lagi, kemudian kami berjalan melewati pasar kaget sepertinya, yang menjual beberapa barang antik, hampir semua benda antik, mulai dari koin, alat minum, kamera, keramik, mesin ketik, sampai poster-poster zaman dulu juga tersedia disini. Hari sudah hampir gelap, kami beristirahat dan menunaikan kewajiban di Masjid Agung Semarang, masjid megah yang terletak di tengah-tengah Kota Tua Semarang. Setelah itu, kami mencari tempat mengisi perut lalu menuju hotel untuk beristirahat.
Pasar Barang Kuno
Pagi-pagi sekali kami sudah berada di Stasiun Semarang Poncol, dengan kereta yang sama dan harga yang sama pula. Kami menuju Solo Balapan, dan lanjut ke Maguwo Jogja dengan KA Prameks (6.000). Perjalanan kami akhiri dengan naik transJogja dari halte Maguwo (Bandara) menuju halte INSTIPER (3000) dan pulang kerumah lalu istirahat. Sebuah perjalanan yang lumayan luar biasanya.. :D

Tuesday, November 11, 2014

Pantai Teluk Selahang

Assalamu'alaikum,

Kali ini saye nak jelaskan salah satu destinasi pantai yang ada di Natuna, khususnya di Pulau Bunguran. Pantai ini bernama Pantai Teluk Selahang. Pantai ini merupakan satu dari sekian banyak deretan pantai indah di sisi timur pulau Bunguran, dan sekaligus menjadi ikon wisata Kabupaten Natuna.

Pantai Teluk Selahang dahulu disebut dengan nama Pantai Tanjung, terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, sekitar 7 km dari pusat Kota Ranai. Kita membutuhkan waktu kurang lebih 15-20 menit dengan kecapatan rata-rata kendaraan bermotor untuk sampai ke pantai ini. Pantai Teluk Selahang memiliki pasir landai yang putih, dihiasi oleh pepohonan kelapa, di depannya kita bisa langsung melihat Pulau Senoa yang seakan berhadapan mengajak bercengkrama, dan di belakang seakan pantai ini "dijaga" oleh Gunung Ranai yang kokoh.




Diakhir pekan, pantai ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik warga setempat maupun dari luar pulau untuk menikmati indahnya alam di sini. Bahkan pada saat-saat tertentu seperti liburan lebaran atau event-event lainnya, pantai ini menjadi padat oleh pengunjung. Pemerintah dan warga sekitarpun sudah menyediakan berbagai fasilitas seperti tempat parkir, tempat bilas, hingga warung yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman serta pondok-pondok kecil untuk bersantai. 

Pantai Teluk Selahang juga merupakan "pintu gerbang" untuk menuju pantai-pantai indah setelahnya seperti Pantai Pulau Sahi, Pulau Kambing, hingga deretan Pantai di Teluk Buton di Kecamatan Bunguran Utara.


Pulau Senua, terlihat dari Pantai

Lah kan? seperti itu lah penampakan pantai Teluk Selahang yang selalu ramai dikunjungi ini, semoga saja ada kepedulian pemerintah untuk menjadikannya lebih indah, aamiin.

Wednesday, October 29, 2014

Pantai dan Pulau Sahi



Setelah berkunjung ke Pantai Teluk Selahang, sempatkan memacu kendaraan anda ke utara. Berjarak kurang lebi 5 km dari Pantai Teluk Selahang, anda akan menemukan satu lagi pantai indah dengandi temani pulau batu di depannya. Yap, itulah pulau Sahi, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna.

Pulau Sahi (bahasa orang lokal adalah "Sai") yang berarti toples, begitulah cerita yang terdengar. Pulau ini disebut Pulau Sahi karena memang terlihat seperti Sahi / Serahi / Sai / Toples, bentuknya yang hampir lonjong dengan bagian depan berlubang (goa), mirip seperti toples / serahi terbuka yang tumbang melintang. Ditambah lagi ada semacam pulau kecil yang berada sekitar 10 / 15 meter di belakang pulau ini, seperti penutup toples atau serahi yang semakin menguatkan alasan atas pemberian nama pulau ini. Menurut cerita rakyat, cerita tentang asal usul pulau ini sama seperti cerita rakyat yang terkenal dari Sumatera Barat, yaitu Malin Kundang, hanya saja jika Malin Kundang dikutuk menjadi batu, maka yang ini menjadi Pulau. 

Jika air laut sedang surut, maka pantai akan menyatu dengan pulau sehingga anda bisa pergi kesana dengan berjalan kaki atau membawa sepeda motor. Namun jangan khawatir, jika anda tiba disini saat air pasang anda pun bisa kesana dengan berenang dan bahkan berjalan karena letaknya sekitar 300 meter dari pantai, dengan kedalaman air laut hanya sepingang orang dewasa. Namun anda harus berhati-berhati dengan bebatuan karang disekitar pulau.

SONG LAH ITE NONG GEMBO E. KESOI LAK TANGAN KU NGETEK-NGETEK NI.

Pulau Sahi

Gunung Ranai dari Pantai Pulau Sahi






Pulau Senoa dari PAntai Pulau Sahi



Hmmmmm, MANTAP KAN.!!

NATUNA gitu loooh. :D

Monday, October 27, 2014

PERGULATAN BATIN ANAK RANTAU NATUNA (part II)

Yup, kalau udah baca yang part I, sekarang mari kita lanjut ke part II... :)

7. SEBAGAI ANAK NATUNA YANG TINGGAL DI "UJUNG", MOMEN MUDIK BAGI MU ADALAH SUATU PERJUANGAN BESAR

Harga tiket via antaranews 
Pertama, Harga tiket yang melangit.
Tiket Pesawat 
Harga tiket yang mahal membuatmu sering-sering berfikir untuk pulang. Harga tiket dari Batam ke Ranai, bisa mencapai 1,4 juta. Nah bagi mereka yang merantau ke Jawa, harus menempuh paling cepat 2 hari perjalanan, sebab kamu harus menginap dulu di Batam atau Pontianak untuk menunggu jadwal pesawat besok paginya. Sehingga tak jarang bagi mereka yang memilih pulang paling tidak 1 tahun sekali ketika liburan Puasa dan Lebaran Idul Fitri, bahkan ada juga yang baru pulang 2 tahun sekali, bahkan lebih.

Rute lain yang agak murah meriah, dengan naik Kapal PELNI. 
Kapal Motor Bukit Raya via natuna.org 
Ya, rute ini biasa digunakan oleh rekan-rekan yang ada di Jawa, murah memang, namun lumayan menyita waktu, juga tenaga. Kalau kamu di Bandung atau Jakarta bisa ke Tanjung Priok, naik kapal tujuan Natuna dengan waktu 3 hari 2 malam. Kalau kamu di Jogja dan Malang, rute nya ke Tanjung Perak Surabaya, naik kapal tujuan Natuna dengan waktu yang kurang lebih sama.

Dan titipan orang rumah, teman, tetangga, juga bakal mengisi koper-kopermu.
koper kepenuhan via sisiwisata.blogspot.com 
Yap, pesanan....
Ini adalah fenomena yang seringkali dialami anak Natuna ketika akan mudik, lebih banyak titipan dari pada barang sendiri, hahaha. Barang titipan juga bermacam-macam, mulai dari cemilan lebaran, pernak pernih, makanan ringan, alat olahraga, sampai bantal juga. Alhasil, rencana mudik hanya bawa 1 ransel dan1 koper, bertambah menjadi 2 kardus dan bla-bla-bla nya. Makanya, sebagian dari mereka terkadang merahasiakan keMUDIKan mereka, yang tahu hanya 4 elemen saja : KAMU SENDIRI, ORANG TUA, TUHAN, DAN AGEN TIKET. Hahahahahahaha. :D

Belum lagi kamu harus menempuh jarak beberapa jam untuk sampai ke rumah.
Bagi kamu yang berada di Kecamatan Bunguran Barat, Pulau Laut, Pulau Tiga, Midai, Serasan dan Serasan Timur. Saat sampai di Ranai, baik menggunakan pesawat maupun kapal laut, kamu juga harus mempertimbangkan jadwal kapal laut kesana, jarak terjauh yang harus ditempuh berkisar 15 jam, itu juga kalo cuaca bagus, kalo pas dimusim UTARA, yaitu musim dimana angin ribut, hujan dan gelombang besar tiba. Yaaa, wassalam aja...

Dan bagi kamu yang tinggal di Kecamatan yang masih berada di Pulau Bunguran, kamu bisa menggunakan transportasi darat dengan waktu berjam-jam juga, tergantung letak dan kondisi jalan. hmm


8. TEMPAT HIBURAN??? SANGAT LANGKA UNTUK DITEMUKAN.
Jangan harap bisa menemukan mall di Natuna, karena memang tidak ada. Mall terdekat ada di Batam dan Pontianak, :D . Kendala letak berada di ujung ya ini, mall tidak ada, biskop gak nemu. Waterboom? Belum ada, adanya baru kolam renang biasa. Mau kopi sta*bucks atau J.C*? Mimpi dulu.

Tempat hiburannya paling cuma tempat karokean aja, itu juga baru taun 2012an mulai rame. Orang-orang menengah ke atas biasanya pergi ke Batam dan Pontianak untuk memanjakan diri, bingung mungkin mau habisin uang kemana. 

Namun, bagi warga lokal, cukup stay aja di Natuna. Mereka punya cara tersendiri untuk menyenangkan diri, tak harus ke mall, nongkrong di J.C* dll. :D


9. TAPI, ANAK NATUNA PUNYA ALTERNATIF LAIN UNTUK MENCARI HIBURAN SEBAGAI GANTI MALL-MALL BESAR
Kekayaan alam yang dimiliki oleh Natuna tak disia-siakan oleh warga setempat, sebagai pengganti hiburan di mall-mall besar seperti di kota-kota besar...

Wisata alam
Kekayaan alam yang dimiliki oleh Natuna memang pantas untuk deberdayakan dengan maksimal, sayangi alam, dan mereka pun akan memberi "kembalian" yang lebih pada anda. 
Anak Alam coy, via wisata.kompasiana.com 
Pantai-pantai
Karena Natuna berupa pulau-pulau, sudah barang tentu mempunyai deretan pantai-pantai yang indah, sayang banget kalau dilewatkan begitu saja.
Pantai Pulau Sahi 
Pantai Teluk Selahang 

Gunung-gunung
Daki saja gunungnya, gak terlalu tinggi kok, sekitar 999 mdpl.
Gunung Ranai dari Pantai Teluk Selahang 

Gunung Ranai dari Pantai Kencana

Batu-batu
Ini, salah satu daya tarik Natuna yang lain, batu-batu. Yap baik pantai dan gunung di Natuna banyak terdapat batu-batu granit besar dan indah.
Batu Alif 
Batu Rusia
Batu Sindu

Pulau-pulau
Banyak destinasi pulau-pulau kecil yang bisa dikunjungi di Natuna, dan semuanya, AMAZIIIING....
Pulau Pasir di Kecamatan Bunguran Barat, via natuna.org 

Pulau Senoa di Kecamatan Bunguran Timur, via warnanusantara.com 

AGAR PERJALANANNYA BAROKAH, SEKALIAN NI WISATA RELIGI
Masjid Agung Natuna

UNTUK MENGENANG SEJARAH, MUSEUM JUGA ADA

NDEKSEK MALL???
NDEK GEDOH ALU........

10. BICARA MASALAH KUNYAH MENGUNYAH, NATUNA JUGA PUNYA SEDERETAN KULINER KHAS YANG SANGAT SAYANG UNTUK DILEWATKAN.
Karena Natuna merupakan daerah Kepulauan, so makanan khas yang paling utama adalah makananyang berasal dari laut. Ikan, kerang, gurita, cumi dengan aneka bentuk masakan adalah hal yang sangat disayangkan bila anda melewatinya. Juga ada makanan khas nya loo. 

Ada tabel mando, // PizzaNa (Pizza Natuna)
Tabel Mando adalah makanan khas dari Natuna, terbuat dari sagu, ikan dan campuran rempah-rempah pilihan lainnya. Kami menyebutnya pizza Natuna, karena disajikan dalam bentuk bulat besar seperti pizza. Sangat mantap disantap selagi hangat, dicecah (dicocol) dengan saus dengan pasangannya air kahwe (kopi).

Ada kernas, cuco Ubi, aneka gorengan
Dipadu dengan air kelapa sambil bersantai di bebatuan dan pantai, wadaaaw, ajeeeb coy...

11. NATUNA JUGA PUNYA YANG KHAS

Kekah, hewan asli Natuna.
Kekah adalah hewan primata langka yang hanya ada di daerah Kabupaten Natuna yakni pulau Bunguran Besar. Nama latin primata ini adalah Presbytis Natunae. Kekah tersebar dalam beberapa tipe habitat dan ketinggian (gunung tertinggi adalah Gunung Ranai 1.035 m dpl). Habitat yang dihuni Kekah Natuna antara lain, hutan primer pegunungan, hutan sekunder, kebun karet tua, daerah riparian, dan juga ditemui beririsan dengan hutan mangrove dan kebun campuran.
Kekah, via natuna.org 

Burung Serindit,
Burung Serindit, via serinditriau.blogspot.com 
Kabupaten Natuna, khususnya Kota Ranai dijuluki sebagai Kota Serindit, dan ternyata itu merupakan nama Burung, yap Burung Serindit, atau Burung Punai. 

Serindit melayu atau dalam nama ilmiahnya Loriculus galgulus adalah sejenis burung yang terdapat di dalam genus burung serindit Loriculus. Burung ini berukuran kecil, dengan panjang mencapai 12cm. Bulunya didominasi oleh warna hijau dengan bulu ekor berwarna merah. Burung jantan dan betina serupa. Burung serindit jantan memiliki bercak kepala berwarna biru dan bercak tenggorokan berwarna merah. Burung betina berwarna lebih kusam dibanding jantan. (id.wikipedia.org)

12. ANAK NATUNA ITU BERBEDA LHO DARI ANAK-ANAK MUDA LAIN DI INDONESIA!
Masyarakat Natuna juga khas banget! via shiroanseras.wordpress.com

PERTAMA, SOAL LOGAT DAN CENGKOK BAHASA…
“Deak, mbese itak kohndok?”

“Lah lom? ”

‘”Deak au ni, nak goop ngan pak ngan nggo.”

“sah nak gaya lah, lik nu ku..."
Aneh, yaaa. Jangan kan di luar daerah-daerah melayu seperti Jawa, dan Kalimantan, sesama daerah Melayu saja seperti daerah Riau, Melayu Kalimantan Barat, bahkan sesam Provinsi Kepulauan Riau sendiri banyak yang tidak mengerti bahasa asli melayu Natuna ini. Aneeh, bahasa melayu yang aneh memang, lain dari pada yang lain. Keanehan itu mengartikan, bahwa Natuna pernah mempunyai peradaban yang besar pada masa dahulu.

Menurut cerita yang pernah saya dengar si, Bahasa Melayu Natuna sedikit berbeda dari bahasa Melayu lainnya, karena pada zaman dulu, seorang pembesar dari Kerajaan Malaysia, melarikan diri ke Pulau ini, dan untuk merubah identitas agar tidak diketahui, dia merubah / memodivikasi dialek dan bahasa melayunya, sehingga terciptalah bahasa seperti sekarang ini. 

Sebenarnya sih ada berbagai macam logat dan cengkok di Natuna. Di Bunguran Timur contohnya, huruf vokal dari bahasanya kebanyakan huruf "E" plus bahasa dan kata yang pengucapannya disingkat-singkat. Contohnya kata "Sungai Ulu" mereka bilang "Ngulu", kata Setengar mereka bilang "Tenga", kata "Pedek Pasek" mereka sebut "Dek esek". Ya gitu deh, hahaha

Lain lagi di Bunguran Barat, huruf vokal dalam bahasanya kebanyakan O, jadi kalau BunguranTimur bilang tidak itu "ndek" maa bunguran Barat menyebutnya "ndok". Belum lagi Midai, Pulau Laut, Serasan, semua punya keunikan masing-masing. Dan uniknya, ketika merantau si anak Natuna ini bisa cepat beradaptasi dengan logat setempat. Nggak heran, banyak orang yang nggak bakal percaya kalau kamu berasal dari Natuna. Dan logat itu tentu masih bakal keluar ketika kamu bertemu dengan sesama orang Natuna di tanah rantau. HEHEHE….


KEDUA, ANAK-ANAK MUDA NATUNA INI BANYAK YANG BERASAL DARI SUKU PENDATANG.
Penduduk Natuna bisa datang darimana saja. Bahkan, sepanjang tahun 1970-1980 banyak orang luar yang hijrah ke pulau ini lewat program transmigrasi. Mereka berkeluarga dan akhirnya menjadikan Natuna ini sebagai kampung halaman mereka. Bugis, Batak, Jawa, Lampung, kalau sudah lahir dan besar di pulau ini, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai anak Natuna. Yang uniknya ketika mereka memadukan bahasa ibu mereka dengan bahasa melayu Natuna,
"awan ndek nak, mbehal awak makse awan"
(Nah, coba baca dengan logat Jawa,.. :D)
Siapapun kamu, dan darimanapun asal darahmu, ketika orang bertanya asalmu darimana, kamu akan dengan mantap menjawab…
“NATUNA!”

13. SEBAGAI ANAK NATUNA, WALAU MERANTAU, KAMU AKAN TETAP BERNIAT PULANG DAN MEMBANGUN DAERAHMU.
Mahasiswa Natuna di Jogja
Banyak sekali penduduk Natuna, terutama mahasiswa, yang merantau dan menuntut ilmu di Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Setelah lulus, mereka rela pulang ke kampung halaman untuk membangun daerahnya. Dengan berbekal ilmu yang sudah didapat di tempat rantau, mereka pasti punya niat mengembangkan kota asal menjadi kota yang lebih besar. Yang menuntut ilmu Keguruan akan mengembangkan pendidikan di daerah nya. Bidang pembangunan, jelas ingin mengembangun daerahnya menjadi lebih baik. Bidang Pemerintahan ingin membangun daerah di sektor pemerintahan, menjadi pelayan bagi warga sipil. Dan banyak lagi. 

Sebagai anak Natuna, kamu tidak akan peduli dengan hiburan yang seadanya, jalan-jalan yang belum mulus, akses internet yang lamban dan listrik yang minim. Bagimu, yang terpenting adalah membangun tempatmu dilahirkan dan dibesarkan menjadi lebih baik. Ketika orang bertanya, 
"kamu bangga jadi anak Natuna yang tinggal di ujung sana?"
Tersenyum dan JAWABLAH DENGAN LANTANG
“JELAS LAH, AKU BANGGA!!!!!!” 



Thank to hipwee.com