Wednesday, August 16, 2017

Sejuba yang Kian Mempesona

Perkembangan teknologi saat ini sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Bahkan penggunaannya merupakan kebutuhan primer sebagian masyarakat. Salah satu teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah penggunaan jejaring media sosial. Media sosial sangat menjamur penggunaannya di negeri ini. Hal ini jika dimanfaatkan dengan baik maka akan menghadirkan hasil yang positif pula. Media sosial sangat ampuh digunakan sebagai ajang promosi. Mengenalkan produk, dan mengshare berbagai tempat baru yang kerap dilakukan oleh para penggiat media sosial. Hasilnya sangat ampuh untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Dan untuk menyeimbangkan hal tersebut, berbagai tempat wisata juga berlomba mempercantik diri agar lebih instagramable guna mendapat endorse gratis yang apik dari pengguna media sosial. Ini dilakukan tak lain adalah untuk membuat spot foto yang bagus yang kelak akan diposting ke akun media sosial para netizen. Para penggiat media sosial rata-rata mengupload foto lokasi wisata ini dengan tujuan mempromosikan tempat wisata baru, dan syukur-syukur foto mereka akan direpost oleh akun resmi para traveler Indonesia bahkan dunia dan juga dari kementrian pariwisata dan akun-akun lain yang berpengaruh serta memiliki banyak followers.
Perbandingan foto pantai Sejuba setelah 3 tahun.
Salah satunya adalah pantai Sejuba. Pantai Sejuba masuk dalam wilayah administrasi Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur. Pantai yang terletak di perbatasan dengan Kecamatan Bunguran Timur Laut ini memiliki susunan dan tumpukan-tumpukan batu yang cantik. Tumpukan bebatuan granit khas pantai Natuna. Saya terkahir ke pantai ini tahun 2014 lalu dan sempat mengambil beberapa gambar. Setelah lama tidak kesana, akhirnya saat mudik lebaran kemarin menyempatkan diri bermain kembali ke pantai ini.
Pantai Sejuba

Pantai Sejuba, versi kekinian.


Ada banyak perubahan ternyata, pantai Sejuba terkena virus kekinian dengan memoles bebatuan-batuannya. Tumpukan-tumpukan batu yang terhampar dari bibir pantai hingga agak ke tengah laut digabungkan dengan jembatan-jembatan kayu yang dibuat. Sementara di batu terakhir ditancapkan tiang, lengkap dengan kibaran bendera merah putihnya. Ada juga ayunan yang dibuat di laut. Juga sedang dibuat pondok untuk beristirahat yang masih dalam pengerjaan. Tumpukan-tumpukan batu ini sebenarnya memiliki nama, ada yang sudah bernama dari dulu, juga ada yang diberi oleh remaja hits kekinian.
Bendera Merah Putih

Tambahan ayunan laut yang kekinian banget
Masih di sekitaran Sejuba, ada tumpukan batu yang diberi nama Batu Cinta, dan saya yakin sebenarnya bukan ini nama aslinya. Entah motivasi apa mereka memberikan nama ini. Hhe. Hamparan bebatuan ini juga tak kalah bagusnya dengan bebatuan yang ada di tetangganya. Lalu bergeser lagi ke utara, ada pelabuhan nelayan yang juga instagramable banget. Pelabuhan sepanjang kurang lebih 200 meter ke laut ini dihiasi oleh bebatuan granit di pantai dan laut serta memiliki air yang jernih, dengan latar belakang gunung Ranai yang gagah berdiri. Tempat ini menjadi lokasi hunting favorit anak hits Natuna untuk diupload ke media sosial. Saya jadi ikut-ikutan untuk mengambil gambar di sini, dengan bekal action cam pinjaman punya adik, jepret-jepret deh, dan hasilnya not bad lah, meski belum kaya yang pro pro gitu. Lumayan dapat 100 lebih like. Jek pade ndek. wkwkwk
Ngandiel foto




Monday, August 14, 2017

How to get to Natuna

Indonesia consists of thousands of islands which spread from Sabang to Merauke. Each island has a unique characteristics. Indonesia has a lot of cultures, arts, and beautiful nature that each island has to offered.

Natuna Islands is one of them. Located in the north frontier which I often wrote in several articles on my blog. Natuna has beautiful scenery, good art, culture, etc. I have posted almost all parts in my blog. But I was thinking there’s something’s missing. I felt there was something that I have yet posted in my blog.
Ah yes, here it is : “how to go there?

It is useless when I have posted all about Natuna but I haven’t shared on how to go there, isn’t it? And I will do it right now. Being isolated makes the access to go there difficult. If you want to go there, there are 2 ways to reach Natuna, by plane or by sea. 

Read : Indonesia version

Air Transportation : 
We can go to Natuna by plane. Up until now, only one airport which serve flights to Natuna. It is Hang Nadim International Airport in Batam, so wherever you are, you have to go to Batam first, and then you can take the next flight to Natuna.
Plane Route
Or you can go there from Jakarta, but you have to get the first flight (in the early morning) to Batam, and take the 9 o’clock connecting flight to Natuna. So if you’re from other parts of Indonesia (e.g : Borneo or Java), you must go to Batam and stay overnight, then in the morning you can continue your journey to Natuna. So you have to find someplace to rest for the night. It only takes 1 hour flight from Batam to Natuna. The ticket price is varied, it depends on the time or season. The cost is around IDR 800k - 1.300k.
 Note : don’t go to Batam on Saturday, unless if you want to stay in Batam for 2 more nights. Because there is no available flight to Natuna on Sunday.

Sea Transportation : 
Because of Natuna is an islands. Sea transportation is the prime mode transportation for the local people. If you are in Java and you want to go to Natuna, there are 2 ways to get there. 
Ship Route

First, from Tanjung Priok Port (Jakarta) by PT Pelni ship. The routes are from Tanjung Priok (Jakarta) - Belinyu (Bangka Belitung) - Kijang (Bintan) - Jemaja (Anambas) - Siantan (Anambas) - Natuna. It will take about 4 days and 3 nights. Departure is scheduled on Thursdays from Tanjung Priok Port. 

The second route is from Tanjung Perak Port in Surabaya East Java, the routes you will pass are Tanjung Perak (Surabaya, East Java) – Pontianak (West Borneo) - Serasan (Natuna) - Midai (Natuna) - Natuna. It will take 4 days and 3 nights as well. The departure from Tanjung Perak is scheduled on Sundays. 

The ticket price for one trip with KM Bukit Raya (PT Pelni) are different, based on departure origin. If you are from Tanjung Priok or Tanjung Perak, the fares are less than IDR 500k for economy class. Another way (and the cheap one) to go there is using government ship, we usually call it kapal perintis, from Tanjung Pinang Port or Pontianak Port, it will take about 2 days 2 nights. And that is how to get to Natuna, you can choose which mode of transportation you want to use. Sea or airlines. Or you can combine both of them.
Kapal-kapal Perintis (Government Ships)
But you have to notice one thing.
These routes which I explained only take you to Bunguran Island, specially to Ranai, the capital city of Natuna, the biggest Island in Natuna. If you wanna go to the other islands or the subdistrics in Natuna such as Pulau Laut, Pulau Tiga, Sedanau, Midai, Serasan, & Subi, you have to use other sea transport to reach them.
Coral in Senua Island


Example :
1. Sedanau (capital city of West Bunguran subdistrict). You can use speedboat from Binjai Port, or you can use pompong/mutur (traditional ship) from Selat Lampa, Binjai, Kelarik, or Batubi Port. 
Mutur/pompong, (traditional ship)

2. Islands in Pulau Tiga and West Pulau Tiga Subdistric. You can use pompong/mutur from Selat Lampa Port. It takes about 1.5 hours from Ranai City to Selat Lampa Port by vehicle.

3. Islands in West Bunguran, North Bunguran and Pulau Laut. You can use mutur (traditional ship) from Kelarik Port. It takes about 2 - 3 hours from Ranai City to Kelarik village.

4. Pulau Laut Subdistrict, you can use government ship from Selat Lampa or Penagi Port. You can use mutur from Kelarik Port as well.


5. Midai and Suak Midai Subdistrict, you can use government ship from Selat Lampa Port and Penagi Port. It will take about 4 – 7 hours. Or you can board KM Bukit Raya to Tanjung Perak, and you can stop in Midai. 

6. Serasan and East Serasan Subdistrict. To go there, you can use the same transportation in Midai, KM Bukti Raya to Tanjung Perak Surabaya, and you stop in Serasan, or with government ship you can reach the island as well. 

7. Subi Subdistrict. Going to Subi Island can be reached by government ship the same as to Serasan.


The ticket price is varied. It depends on destination and the types of transportation you use. Its about IDR 15k to 200k.
Sindu Stone, Bunguran Island

After reaching the Natuna Islands, any fatigued will be paid of by the fantastic sceneries that awaits you. The granite boulders, the beaches, mountain, and beautiful corals will welcome you to revel in.

So, enjoy amazing Natuna.

Thank you. :)

Sunday, August 13, 2017

Pangkalan Brandan Lautan Api : Bukti Perjuangan Laskar Minyak Untuk Kemerdekaan dan Kemandirian Energi Nasional

Selama ini kebanyakan dari kita hanya mengetahui tentang peristiwa Bandung Lautan Api, itu juga karena ada dilirik lagu nasional yang kerap kita dengar dan nyanyikan dulu. Namun sebenarnya, masih banyak lagi “lautan api–lautan api” yang ada di Indonesia ini, tentu dengan ceritanya yang masing-masing pula. Salah satunya adalah Pangkalan Brandan. Peristiwa Pangkalan Brandan Lautan Api merupakan peristiwa besar dalam sejarah pasca kemerdekaan bangsa Indonesia, namun peristiwa ini kerap kali terlupakan. Padahal peristiwa Pangkalan Brandan Lautan Api ini merupakan deretan peristiwa penting di sektor energi Indonesia yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pejuang. Bagi kamu yang menekuni ilmu energi, Perjuangan Laskar Minyak di Pangkalan Brandan patut untuk kamu teladani. Namun sebelum membahas lebih lanjut tentang peristiwa besar ini, ada baiknya kita ulas dulu sejarah penemuan sumur minyak tertua di Indonesia yang saat ini sudah menginjak usia 122 tahun. 
Pangkalan Brandan Lautan Api, via malahyati.ac.id


**********

Pangkalan Brandan merupakan ibukota Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Terletak di pesisir pantai timur pulau Sumatera, sekitar 60 km di sebelah utara Kota Binjai. Di tempat ini lah, sumur minyak pertama Indonesia secara komersial berhasil ditemukan. 
Lokasi Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu
Orang pertama yang berhasil menemukannya adalah Aeliko Janszoon Zijlker, seorang ahli perkebunan tembakau yang bekerja di Deli Tobacco Maatschappij (perusahaan tembakau pada masa itu). Pada tahun 1880 di Langkat, ia menemukan minyak yang merembes ke permukaan dan tergenang bersama air. Kemudian sampel minyak tersebut dibawa ke Batavia (Jakarta) untuk dianalisis, dari hasil penyulingan minyak tersebut menghasilkan kadar minyak sebesar 59%. Pada 1882, Ia menghubungi sejumlah rekannya di Belanda untuk mengumpulkan dana guna melakukan eksplorasi. Begitu dana diperoleh, perizinan pun diurus. Persetujuan konsesi dari Sultan Musa (Sultan Langkat masa itu) diperoleh pada 8 Agustus 1883. Konsesi yang diberikan Sultan Musa cukup luas, mencakup wilayah pesisir Sei Lepan, Bukit Sentang sampai ke Bukit Tinggi, Pangkalan Brandan. Tak membuang waktu lebih lama, eksplorasi pertama pun segera dipersiapkan Zijlker. 
Sultan Musa, via : royalark.net
Pada 17 November 1884, setelah pengeboran berlangsung sekitar dua bulan, minyak yang diperoleh hanya sekitar 200 liter. Semburan gas yang cukup tinggi dari sumur yang saat ini dikenal dengan nama sumur Telaga Tiga itu membuyarkan harapan untuk mendapatkan minyak yang banyak. Namun Zijlker dan kawan-kawan tidak berhenti sampai di situ. Mereka kemudian mengalihkan kegiatannya ke Desa Telaga Said. Di lokasi kedua ini, pengeboran mengalami sedikit kesulitan karena struktur tanah lebih keras dibandingkan dengan struktur tanah di Telaga Tiga.

Usaha menembus struktur tanah yang keras itu akhirnya membuahkan hasil. Saat pengeboran mencapai kedalaman 22 meter, berhasil diperoleh minyak sebanyak 1.710 liter dalam waktu 48 jam kerja. Saat mata bor menyentuh kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan sudah mencapai 86.402 liter, dan jumlah itu terus bertambah. Hingga pada 15 Juni 1885 ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba-tiba muncul semburan kuat gas dari dalam berikut minyak mentah dan material lainnya dari perut bumi. Sumur itu kemudian dinamakan Telaga Tunggal I

Sumur inilah yang mencatatkan namanya dalam sejarah Perminyakan Indonesia yang merupakan sumur pertama yang berhasil memuncratkan minyak dari dalam perut bumi Nusantara. Ia merupakan pemicu gencarnya eksplorasi migas di berbagai tempat di Indonesia. Penemuan sumur ini hanya berjarak 26 tahun dari eksplorasi sumur minyak pertama di dunia pada 27 Agustus 1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania, yang diprakarsai Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company. 
Zijlker, via family-pata.blogspot.com
Akhirnya nama Aeliko Janszoon Zijlker pun tercatat dalam sejarah, sebagai penemu sumur minyak pertama dalam Sejarah Industri Perminyakan di Indonesia. Ia kemudian dengan sejumlah koleganya mendirikan perusahaan minyak dengan nama Royal Dutch atau yang lebih dikenal dengan nama Shell Dutch pada tahun 1885. Dan pada tahun 1890, Belanda secara resmi mendirikan perusahaan minyak di Indonesia yang diberi nama NV Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij, atau Royal Dutch Petroleum Company. Zijlker mengalihkan konsesinya ke perusahaan ini, dan ia meninggal pada Desember 1890 di Singapura. 
Reerink, via geomagz.geologi.esdm.go.id
Sejatinya Zijlker bukan orang pertama yang melakukan pengeboran minyak di Indonesia. Jauh lagi sebelum itu, pada tahun 1871, seorang Belanda lainnya bernama Jan Reerink menjadi orang pertama yang membor bumi Nusantara untuk mencari emas hitam. Reerink mencoba peruntungannya di Cibodas Tangat, Kecamatan Majalengka, Jawa Barat. Namun, karena kurang pengalaman dan peralatan yang minim, usaha itu mengalami beberapa kegagalan, dan dinyatakan gagal total pada 16 Desember 1874. 
Kilang Minyak dan Pelabuhan, via migasreview.com
Untuk mendukung kegiatan eksplorasi minyak di Pangkalan Brandan ini, maka dibangunlah Kilang Minyak dan jaringan pipa sebagai penunjang kegiatan eksplorasi. Kilang inilah nantinya yang menjadi saksi bisu perjuangan para pejuang kemerdekaan dalam membentuk kejayaan energi yang mandiri. Kilang dibangun oleh Jean Baptist August lewat De Koninklijke pada tahun 1891, dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892. Saat itu perusahaan dipimpin oleh De Gelder. Pengoperasian Kilang Minyak saat itu dengan peralatan yang masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga masih kecil. Pada tahun 1898, Belanda membangun tangki-tangki penimbun dan fasilitas pelabuhan di Pangkalan Susu guna mengekspor minyak yang sudah diolah, sekaligus menjadi pelabuhan pengekspor minyak tertua di Indonesia. 
Pelabuhan Pangkalan Susu, via http://1.bp.blogspot.com
Telaga Tunggal I sendiri akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 1934 setelah jutaan barel minyak sudah berhasil disedot dan dikeluarkan pemerintah Belanda melalui perusahaan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Beberapa sumur lainnya juga ditemukan di sekitar area Telaga Tunggal I, namun juga sudah ditinggalkan sejak lama. 
Setelah Kilang Minyak dioperasikan selama puluhan tahun oleh Belanda, pada tahun 1942 ketika Perang Dunia II sedang terjadi, Belanda mengalami kekalahan seiring gencarnya invasi dari tentara Jepang yang juga menginginkan minyak Indonesia. Sebelum meninggalkan Indonesia, Verielings Corps tentara Belanda membumihanguskan kompleks Perusahaan tambang minyak di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, terutama penyulingan Kilang minyaknya dalam kurun 9 – 11 Maret 1942. Ini dilakukan agar Jepang tidak bisa menikmati fasilitas Kilang Minyak tersebut. Jepang tiba di Pangkalan Brandan tanggal 13 Maret 1942 dan mendapati keadaan kilang minyak bumi di Pangkalan Brandan dalam keadaan 70% rusak.

Namun, Jepang ternyata bisa memperbaiki kilang-kilang tersebut dalam tempo singkat oleh ahli-ahli teknik konstruksi perminyakan yang tergabung dalam Nampo Nen Rioso Butai, (sebuah unit dalam Angkatan Darat Jepang). Lalu dengan kedatangan sejumlah ahli dan teknisi Perminyakan Jepang serta pemanggilan kembali para pegawai perminyakan Indonesia yang tadinya bekerja di BPM, Stanvac, Caltex dan lainya, membuahkan hasil dengan prestasi luar biasa. Dalam waktu yang singkat Jepang telah mampu memproduksi kembali minyak mentah maupun bahan bakar minyak, bahkan menemukan sumur-sumur produksi baru. Jepang merubah nama BPM menjadi Sayutai. Catatan yang ada menunjukkan, produksi minyak bumi Indonesia tahun 1943 saat Jepang berkuasa, hampir mencapai 50 juta barel. Sedangkan produksi sebelumnya pada 1940 adalah 65 juta barel. Hasil kilang pada 1943 sebesar 28 juta barel. Sedangkan pada tahun 1940 mencapai 64 juta barel. 
Menara Pemboran yang Dioperasikan Sayutai, via edyfranjaya.wordpress.com
Tenaga kerja perminyakan Indonesia yang dipanggil untuk bekerja dalam rangka rehabilitasi lapangan dan kilang–kilang minyak tersebut, oleh Jepang juga diajari berbagai keterampilan. Jepang juga memberikan kesempatan bagi pemuda-pemuda di sekitar Pangkalan Brandan untuk mendapatkan pendidikan perminyakan. Selain mata pelajaran teknis, bidang kemiliteran dan disiplin sangat diperhatikan dilembaga-lembaga pendidikan itu.

Selanjutnya latihan militer diperoleh para pemuda Pangkalan Brandan setelah dibentuknya badan-badan seperti Seinendan, Kaibodan, Pembela Tanah Air (PETA), Gyugun dan Heiho. Ternyata mereka yang pernah dilatih dalam badan-badan inilah nantinya pada masa revolusi tampil memegang peranan penting dalam menghadapi Pasukan Belanda yang hendak menjajah kembali negeri ini. 
Latihan Militer Jepang, via edyfranjaya.wordpress.com
Suatu kemajuan bagi buruh perminyakan Indonesia ialah diperolehnya kesempatan lebih luas untuk menempati kedudukan yang lebih tinggi diperusahaan, yang mana pada zaman penjajahan Belanda hanya boleh dijabat oleh bangsa Belanda saja. Salah seorang tenaga bangsa Indonesia yang mendapat kesempatan menduduki jabatan tinggi di Kilang Minyak Sayutai ialah S.H. Supardan, yang menjadi Kepala Bidang Administrasi pertengahan tahun 1942.

Dari kalangan buruh tambang minyak, terdapat Djohan yang merupakan pemimpin dari Laskar Minyak yang dibentuk. Ia adalah seorang bekas pegawai Shell yang dahulu pernah dikirim ke Negeri Belanda selama 6 bulan untuk menambah ilmu pengetahuan perminyakan, dia juga yang menolak tugas dari Belanda untuk membumihanguskan Pangkalan Brandan dulu, karena merasa sayang membinasakan sesuatu yang ia ikut membangunnya.

Seiring berjalan waktu, kekuatan pasukan perang Jepang di Pasifik mulai mengendor, pada hari kamis tanggal 4 Januari 1945, komplek Perusahaan Tambang Minyak Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu mendapat serangan mendadak, pesawat jenis Pembom Sekutu melakukan bombardir, Kilang Minyak ditembaki senapan mesin, para buruh minyak lari lintang pukang keluar kilang menyelamatkan diri. Akibatnya, instalasi tambang minyak mengalami kerusakan hebat, korban jiwapun tidak sedikit yang jatuh baik dari kalangan buruh tambang minyak, pasukan Heiho maupun tentara Jepang. Akan tetapi, sekali lagi Kilang dengan sangat cepat direhabilitasi, karena Jepang sangat membutuhkan minyak untuk mesin-mesin perangnya. Puncaknya tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Bom Atom dijatuhkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat di Hiroshima dan kemudian di Nagasaki, kedua kota tersebut kemudian hancur musnah seketika. Akhirnya Pemerintahan Jepang menyerah kalah tanpa syarat dengan Pihak Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 sekaligus mengakhiri kedigjayaan Jepang dalam Perang Dunia II. Hal ini langsung dimanfaatkan oleh sang Proklamator kita untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

Berita itu menyebar dengan cepat, dengung Proklamasi telah didengar rakyat Pangkalan Brandan. Sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Pangkalan Brandan, Bendera Merah Putih berkibar dengan megah di puncak Pretopping Kilang Minyak Pangkalan Brandan yang pada waktu itu masih dikuasai oleh Jepang. Aksi pengibaran bendera di Puncak Pretopping itu dikoordinir oleh BPI (Barisan Pemuda Indonesia) dan pelakunya adalah Bedul, peristiwa heroik itu sungguh menakjubkan dan membanggakan. Dan itu sebagai pertanda turunnya bendera Bola Merah Jepang, Hinomaru. Hingga puncaknya pada 19 Agustus 1945 di Komplek Tambang Minyak diadakan Upacara pengibaran Sangsaka Merah Putih di Pangkalan Brandan dan dihadiri oleh Panglima Tentara Jepang, sebagai tanda pengakuan resmi dari masyarakat Langkat dan Tentara Jepang yang sudah menyerah kalah. Usai upacara pengibaran sangsaka Merah Putih selanjutnya dibentuk KNI (Komite Nasional Indonesia) dan laskar-laskar pejuang kemerdekaan serta laskar-laskar buruh yang berkantor di Jl. Thamrin, dipimpin oleh pemuda-pemuda dan buruh, diantaranya Arifin Pulungan, Aminullah dll. 
Puncak Pretopping inilah Bendera Merah Putih Berkibar, via edyfranjaya.wordpress.com
Pengalihan kekuasaan seluruh Tambang Minyak Sumatera Utara yang sebelumnya dikuasai Jepang, akhirnya dikuasai Pemerintah Republik Indonesia. Pada September 1945 diadakan serah terima seluruh Tambang Minyak Pangkalan Brandan dari Penguasa Jepang kepada Anggota Pemerintah R.I di Sumatera Utara, disaksikan oleh Komisi Tiga Negara (KTN).

Pada 17 Juni 1946, setelah dengan perundingan serta mediasi panjang yang melibatkan Inggris. Dilaksanakan Serah Terima penguasaan atas Perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu kepada Pihak Pemerintah Indonesia. Penyerahan kekuasaan ini dilakukan secara sah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku ketika itu, diserahkan oleh Pemerintah Jepang diwakili oleh Nakamura kepada Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Residen Abdul Karim, Ms serta Pengacara Luat Siregar yang bertindak atas nama Gubernur Sumatera Utara Republik Indonesia yang dijabat oleh Teuku Moehammad Hasan yang ketika itu berkedudukan di Bukit Tinggi. Rombongan disambut oleh Bupati Langkat Adnan Nur Lubis, Wadana Teluk Aru Basir Nasution, dan Ketua KNI Wilayah merangkap Komandan Wilayah Teluk Aru Letnan Dua M. Haiyar. Acara serah terima secara formal dari Pihak Sekutu kepada Pemerintah Indonesia, dilaksanakan di Kantor Besar Perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara di Pangkalan Brandan (Sekarang Kantor Keuangan Pertamina Pangkalan Brandan) juga disaksikan oleh wakil Pers dari Medan Mohammad Said Pemimpin Redaksi Harian WASPADA Medan. Peristiwa ini disusul dengan pembentukan Perusahaan Minyak Nasional Pertama yang diberi nama Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (PTMNRI).

Tanggal 20 Juni 1946, Gubernur Sumatera Utara Teuku Moehammad Hasan mengeluarkan Surat Keputusan yang isinya adalah menugaskan KNI Wilayah Teluk Aru mengatur dan menerbitkan serta mengangkat orang-orang yang berkompeten untuk menjadi Pimpinan Umum serta Kepala Bidang PTMNRI Kabupaten Langkat. S.H. Supardan diangkat sebagai Pimpinan Umum PTMNRI dan Djohan sebagai Kepala Bidang Teknik PTMNRI.

Dengan ini kekuasaan untuk menguasai tambang minyak telah beralih ketangan Republik, seluruh pekerja bekerja dengan penuh semangat. Pemerintah Indonesia menerima Perusahaan Tambang Minyak itu, dengan kondisi Kilang penyulingan minyak dalam keadaan cukup baik, kerusakan-kerusakan akibat pemboman Sekutupa pada tanggal 4 Januari 1945 telah sepenuhnya diperbaiki dan memiliki kapasitas produksi sebanyak 2,4 ribu barrel per-hari. Minyak yang diolah disini didistribusikan ke Daerah Aceh, Sumatera Timur dan Tapanuli.

Seiring berjalannya waktu, Badan-badan Ketentaraan dan Kelaskaran berebut menginginkan jatah-jatah Istimewa, sehingga menyulitkan Pimpinan PTMNRI untuk mengatur dan membagi serta mendistribusikan minyak tersebut. Akhirnya Pemerintah Sumatera, setelah menerima laporan dari Bupati Langkat pada waktu itu Adnan Nur Lubis meminta kepada Panglima Komando Tentara Sumatera agar PTMNRI statusnya di Militerisasi-kan. Perihal kejadian tersebut dapat dimaklumi dan disetujui, dalam waktu singkat, yaitu pada bulan Oktober 1946, Mayor Jendral Suhardjo Hardjo Wardojo selaku Panglima Komandan Tentara Sumatera datang ke Pangkalan Brandan meresmikan Militerisasi PTMNRI, dengan melantik S.H. Supardan sebagai Mayor Tituler dan Djohan sebagai Kapten Tituler. Demikian pula kepada Kepala Bidang lainnya, dilantik menjadi Kapten Tituler dan Kepala Eksploitasi Pangkalan Susu menjadi Letnan Satu Tituler.

Sebulan kemudian, Tambang Minyak telah membentuk Batalyon Tentara Pengawal Kereta Api dan Tambang Minyak (TPKA&TM) dibawah Kepemimpinan Kapten Nazaruddin. Dalam penguasaan Indonesia, Kilang ini hanya menghasilkan sedikit bahan bakar yang hanya cukup digunakan oleh Kelompok Pejuang Republik Indonesia.

Penguasaan Pangkalan Brandan secara mandiri oleh bangsa Indonesia membuat Sekutu geram. Ternyata Belanda belum benar-benar ikhlas melepas sepenuhnya Indonesia. Apalagi sumber ekonomi mereka nyaris musnah, seiring perebutan perkebunan secara besar-besaran di wilayah Jawa dan Sumatra. Belanda masih ingat betul kejayaannya dimasa lampau itu, hingga masih ingin mengulangnya meskipun melanggar perjanjian yang telah disepakati.

Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H. J. van Mook melalui Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan ultimatum agar pemerintah RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km dari daerah perkebunan dan daerah sumber alam. Mook menyampaikan pidato diberbagai stasiun radio, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggarjati. Lebih dari 100.000 tentara terlatih, dengan persenjataan modern, lengkap dengan peralatan berat hasil hibah tentara Inggris dan Australia akan dikerahkan.

Serangan dilakukan disejumlah daerah strategis sejak 20 Juni 1947 hingga 22 Februari 1948 atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer Belanda I, sementara oleh Belanda operasi ini dinamakan Aksi Polisionil. Tanggal 21 Juli 1947 Belanda menuju Sumatera Utara, dengan Pangkalan Brandan yang menjadi sasaran utama, serangan dimulai dari Tandemhilir selanjutnya mengarah menuju Stabat. 
Peralatan Perang Pasukan Sekutu, via edyfranjaya.wordpress.com
Pada tanggal 23 Juli 1947, setelah terbentuk ”Komando Langkat Area” yang diprakarsai oleh Letnan Satu Zakarsdjah Aksdjah, maka pada keesokan harinya disusun lengkap struktur ”Komando Langkat Area” dan pimpinan komando dipegang oleh Mayor Widji Alvisah, yang sebelumnya adalah Komandan Batalyon I Resimen I Divisi X TRI merangkap menjadi PMC (Plantselijik Militer Comandant) di Tanjung Pura.
Ketika itu para pejuang yang tergabung dalam Komando Langkat Area bertekad : dari pada hidup dibawah telapak kaki penjajah, lebih baik mati berkalang tanah, demikian pula keberadaan tambang minyak Brandan, dari pada dikuasai Penjajah, lebih baik musnah.
Pada tanggl 31 Juli 1947, Komando Langkat Area mengadakan musyawarah dan mengambil keputusan bahwa kota Tanjung Pura tidak dapat dipertahankan lagi, maka diputuskan untuk membangun garis pertahanan baru disebelah Barat Laut, kerena sudah diperhitungkan pihak pejuang, bahwa pasukan Belanda akan melakukan penyerangan dari arah darat, laut dan udara menuju kota Pangkalan Brandan. 
Para Pejuang Kemerdekaan, via edyfranjaya.wordpress.com
Sementara Komando Langkat Area melakukan reorganisasi pasukan dalam tiga kelompok pada tiga sektor, berasal dari penyatuan Lasykar Rakyat yaitu Laskar Napindo yang bermarkas di jalan Dempo, Laskar Pesindo yang bermarkas di jalan Imam Bonjol (Gang Kunai) dan Laskar Harimau Liar dari kesatuan Batalyon 17 bersama komandannya Amir Hanafiah bermarkas di desa Alur Dua Pangkalan Brandan. Bersama dengan pembagian sektor oleh Komandan Batalyon 17 digabung dengan Batalyon Resimen I Divisi KTRI.

Selanjutnya konsolidasi dilakukan dan pelaksanaan pembagian sektor sebagai berikut : Batalyon II Hisbullah yang berasal dari Langkat Hulu dan Batalyon III Hisbullah yang berasal dari Medan Utara, digabungkan menjadi satu kesatuan tim dibawah pimpinan Rachmad Buddin. Batalyon Langkat Kesatria Pesindo dibawah pimpinan Amir Hanfiah yang merupakan sayap tengah pertahanan Pangkalan Brandan Area, karena terdapat Jalan Raya Tanjung Pura Pangkalan Brandan yang diperhitungkan akan menjadi sasaran utama Militer Belanda.

Batalyon TPKA & TM yang berada di bawah pimpinan Mayor Nazaruddin beserta kesatuan kesatuan kecil yang berasal dari Laskar Napindo Teluk Aru dibawah pimpinan Ahib Lubis dan Zainal Abidin dan Barisan Harimau Liar dibawah pimpinan Habib Umar yang tergabung dalam Batalyon 17, diberi tugas untuk mempertahankan kota Pangkalan Brandan di sebelah Utara hingga muara sungai Babalan dan daerah pantai di sekitar Teluk Meku yang terletak disebelah Timur Laut Pangkalan Brandan.

Sektor pertahanan ini merupakan sayap kiri medan pertahanan Pangkalan Brandan Area, dan yang menjadi Komandan Front sayap kiri ini ialah Mayor Nazaruddin yang juga Komandan Batalyon TPKA & TM, merangkap menjadi Komandan Militer kota (PMC).

Barisan Merah yang berasal dari Medan Utara dibawah pimpinan M. Djusuf, membangun medan pertahanan di daerah Bukit Mangkirai, terletak sekitar 4 km di sebelah Barat Laut Tanjung Pura, pertahanan Bukit Mangkirai ini adalah bagian dari pada sayap tengah pertahanan Pangkalan Brandan Area. Yang menjadi komandan front sayap tengah ini, ialah Komandan Langkat Area yaitu Mayor Widji Alvisah.

Tanggal 3 Agustus 1947, Pertahanan baru Brandan Area itupun telah selesai dibangun. Sementara, Pasukan Belanda mencoba mengadakan penyerangan dari darat, laut dan udara. Pembersihan, begitu istilah mereka. Mereka mulai dari aksi penerobosan Front Medan Area, selanjutnya menyerang dan merebut kota Binjai, kemudian kota Stabat diduduki dan membuat benteng pertahanan di pangkal jembatan Sei Wampu di kota Stabat, hal ini dapat dimengerti sebagai suatu pertanda bahwa Belanda sudah mulai melakukan ekspansinya ke daerah Langkat dan kalau begitu pastilah akan merampas Kota Pangkalan Brandan, kota tambang minyak sumber energi perang.

Menurut cacatan dari buku sejarah Brandan Bumi Hangus yang disusun tim Pemkab Langkat, pasukan sekutu yang dikenal dengan nama Komando Batalion 4-2, mengerahkan pasukan infantri didukung satu peleton Carrier, Panser serta satu Detasemen binaan Poh An Tui. Setelah berhasil melumpuhkan pasukan pejuang di Stabat, 5 Agustus 1947 pasukan sekutu berhasil melintasi Tanjungpura dan tertahan di Gebang oleh perlawanan pejuang. Sementara itu di Pangkalan Brandan, terjadi gejolak dan kecemasan karena mengetahui sasaran pasukan sekutu berupaya merebut Tambang Minyak tersebut. 
Pejuang dibatas Demarkasi Gebang, via edyfranjaya.wordpress.com
Pasukan Belanda Menghimpun kekuatan di Tanjung Pura, menyusul kemenangan mereka dalam beberapa rangkaian pertempuran. Namun untuk mencaplok kota Pangkalan Brandan pasukan Belanda menemui jalan buntu, rangkaian serangan Belanda dapat digagalkan oleh para pejuang. Pertempuran itu terjadi di batas Demarkasi Gebang, banyak korban jatuh disana, perang di Batas Demarkasi Gebang merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan bangsa yang penuh heroisme! Dalam pertempuran itu, Sekutu mengakui keunggulan para pejuang yang berjuang dengan senjata sederhana, pasukan Sekutu dan Belanda berhasil dipukul mundur, dan balik arah kembali ke Tanjung Pura.

Sementara itu, percaturan politik dan militer terus berjalan, disaat kekuatan tentara Sekutu di tarik dari Wilayah Indonesia, kesatuan Militer Inggris dan Gurkha meninggalkan perairan Indonesia. Namun pasukan Kolonialis Belanda tetap bertahan, mereka menampik kemustahilan dan tidak akan mengabaikan sumber kekuatan energi perang yang sekaligus mendatangkan keuntungan keuangan yang cukup potensial itu. Pangkalan Brandan, yang mengandung kekayaan bahan tambang yang dapat dijadikan tempat konsentrasi kekuatan merupakan posisi yang strategis yang bisa digunakan sebagai batu loncatan untuk melakukan penyerbuan ke daerah Aceh kelak. 
Karena itulah sebagian besar pasukan kita ditumpahkan mundur ke Pangkalan Brandan untuk bersiap siaga menghimpun semua kekuatan revolusi, dari garis belakang mengalir pasukan-pasukan baru, bersenjata aneka macam bedil dan senapan mesin, peluru dan mortir hasil rampasan dari Pasukan Jepang. Sepanjang front mereka siaga untuk mempertahankan tambang minyak dan daerah ujung pertahanan Langkat Area belahan Sumatera Timur bagian Utara. Pertahanan gigih dan mati-matian dipersiapkan setangkas semangat yang dipunyai dengan tekad “daripada berputih mata lebih baik berputih tulang, daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah”.

Kesibukan Tentara Belanda semakin meningkat, yaitu sejak tanggal 6 Agustus sampai dengan 12 Agustus 1947, pada setiap harinya terus terjadi kontak senjata di Front Gebang dan Bukit Mengkirai, pertahanan pejuang sangat solid. Namun sama sekali tidak menyurutkan misi Belanda untuk menguasai Kilang Minyak Pangkalan Brandan. Selanjutnya, Belanda menghimpun kekuatan dengan mendatangkan kekuatan induk, yaitu Batalyon 4-2 RI yang berkedudukan di Binjai, dipindahkan dan bermarkas di Tanjung Pura.

Dalam pada itu pesawat udara musuh yang terdiri dari Mustang, Capung dan Catalina, giat melakukan pengintaian udara diatas Kota Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu dan daerah daerah pertahanan KSBO (Komando Sektor Barat Oetara). Pesawat tempur jenis pemburu itu melayang-layang di atas kota, terbang rendah untuk pamer kekuatan. Mereka ingin membuat gentar hati rakyat dan Pejuang di Pangkalan Brandan. Di Front depan, pasukan Infanteri Belanda juga mengadakan “Show off Force”, menderu diatas jalan berdebu dibayangi kekuatan Tank, kenderaan lapis baja dan meriam-meriam.

Tanggal 8 Agustus 1947, KSBO mendapat laporan dari Badan Intelijen kita yang baru pulang dari penyelidikan di daerah pendudukan Belanda di Tanjung Pura, menerangkan bahwa Belanda menghimpun sejumlah besar pasukan di Tanjung Pura dan ada tanda-tanda yang jelas bahwa musuh akan segera melancarkan serangannya secara besar-besaran terhadap Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu guna merebut tambang minyak.

Pada tanggal 11 Agustus 1947, informasi penting ini ditanggapi secara serius oleh Komandan KSBO, karena cocok sekali dengan keterangan mata-mata musuh yang baru ditangkap. Namun kapan waktu penyerangan Pasukan Belanda itu ke Pangkalan Brandan, mereka bergerak dari mana dan berapa jumlah kekuatannya belum dapat diketahui, sehingga menciptakan suasana semakin tegang.

Sementara, pihak Belanda melakukan “Gertak Sambal” melalui Radio Hilversum di Jakarta, pada tanggal 11 Agustus 1947 menyiarkan berita propoganda bahwa Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu telah jatuh ketangan mereka, walaupun kedua Kota itu belum diduduki, ini adalah taktik yang biasa mereka pergunakan selama ini bila hendak menduduki suatu kota, psywar untuk menakut-nakuti musuh guna memperlemah semangat juang dan bertahan bagi para pejuang di front depan atas kota yang mereka incar untuk diduduki. 

Berbagai manuver oleh pasukan Belanda, diantaranya pada tanggal 11 Agustus 1947, dua pleton pasukan Belanda masuk dengan cara melambung dari sayap kanan pertahanan KSBO, merobos sampai ke Desa Securai. Pertempuranpun terjadi, Pasukan-pasukan Republik Indonesia yang berada di Pos penjagaan menghadang pasukan musuh dengan tembakan–tembakan gencar, mengakibatkan gugurnya seorang Srikandi barnama Hasanah Siregar, ditembak Pasukan Belanda dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Pertempuran itu terjadi beberapa jam. Pasukan Indonesia dapat memukul mundur, memaksa Pasukan Belanda kembali ke markasnya di Tanjung Pura. Setelah menghalau mundur, jembatan Securai diledakkan oleh KSBO sebagai antisipasi menghentikan penyerangan musuh.

Dalam berbagai pertempuran, laskar–laskar ini berjuang bahu-membahu dengan rekan-rekan dari TKR (Tentara Keamanan Rakjat) diberbagai sektor, dengan segala senjata yang dimiliki, seperti Bambu Runcing, para pejuang ini siap bertempur mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi, mereka membentuk barikade dan menghempang pergerakan Pasukan Belanda yang dilengkapi persenjataan mutakhir, truck dan jeep serta tank brengun carrier dan mortir, diperkuat oleh tembakan-tembakan (straffing) dari pesawat udara.

Sementara KSBO dibawah pimpinan Kolonel Hasbalah Hadji mengadakan penyiasatan tentang keadaan seluruhnya, penyiasatan ini telah sampai kepada pembahasan mengenai terjadinya penyerangan musuh, yang antara lain diperhitungkan :

  • Jika Belanda menumpahkan seluruh kekuatannya menyerbu benteng pertahanan kita yang ada di Front Gebang, dengan mendapat perlindungan Pasukan Kavaleri, Artileri dan mengerahkan pula Angkatan Udaranya, kepastiannya pertahanan kita akan hancur, sebab kekuatan kita tidak seimbang dan pasukan musuh dapat maju terus untuk menguasai Tambang Minyak Pangkalan Brandan.
  • Dalam pada itu keraguan musuhpun ada, karena sudah dicobanya pada Agresi tanggal 23 Juli 1947 yang lalu bahwa Pasukan Belanda yang melakukan serangan ke Jurusan Sumatera Timur dapat menjangkau sejauh 250 km, akan tetapi ke Jurusan Barat Utara Sumatera Timur hanya dapat dikuasai sejauh 50 km saja. Dan jika penyerangan itu diteruskan oleh Pasukan Belanda, dapat dipastikan korban akan bertambah banyak dipihak Belanda, berhubung jalan sepanjang menuju Pangkalan Brandan banyak dipasang Ranjau Darat oleh Pasukan Pejuang Republik, karena sebelumnya juga pernah terjadi beberapa kali korban dipihak Belanda yang mencoba menerobos masuk ke wilayah yang dikuasai para pejuang menuju ke Pangkalan Brandan terlindas ranjau darat yang dipasang Pasukan Pejuang dibelakang garis pertahanan musuh.
  • Memperhatikan akan letaknya medan pertempuran ini, besar kemungkinan Belanda akan menyerang dan menggunting pertahanan kita dari belakang dengan menerjunkan Pasukan Payung-nya di Komplek Tambang Minyak serta mendaratkan Pasukannya lewat laut di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, karena aba-abanya telah di dapat dari Pesawat Udara Belanda ”Catalina” dan disaat perdaratan tersebut maka pertahanan kita di Front Gebang akan digempur terus menerus yang seolah-olah pasukan mereka akan masuk dari jurusan depan Front kita.
Maka dibahas pula, bagaimana dengan Tambang Minyak seandainya Pangkalan Brandan juga terpaksa mengalami nasib yang sama seperti Kota Binjai, Stabat dan Tanjung Pura, apakah akan dibiarkan Tambang Minyak itu utuh dan jatuh ketangan musuh? Sudah tentu jawabannya tak mungkin sama sekali, sebab dalam perang, siapa yang dapat menguasai minyak maka dialah yang dapat menguasai Dunia, dan justru karena itu KSBO menetapkan Tambang Minyak harus diBUMIHANGUSkan.!

Pada 11 Agustus 1947, Mayor Nazaruddin selaku Komandan Batalyon TPKA & TM dan PMC bersama satu Kompi dari Batalion pimpinan Letnan Ahyar dan Laskar Rakyat Gabungan pimpinan Ahib Lubis, mengeluarkan maklumat yang ditujukan kepada seluruh penduduk tanpa kecuali, untuk meninggalkan Pangkalan Brandan dan sekitarnya sejauh 3 km selambat-lambatnya 12 Agustus 1947 dengan membawa segala sesuatunya yang masih dapat diselamatkan. Maklumat itu juga dikirimkan kepada segenap Badan-badan Resmi organisasi Masa Politik dan kepada Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantau (Chun Hua Chun Hui) di Pangkalan Brandan.

Pemerintah menyediakan pengangkutannya, dan untuk ini telah dibentuk panitianya yang dipimpin oleh Patih Sutan Naposo Parlindungan, yang bertugas antara lain menyiapkan Kereta Api khusus dan Truk-truk Gerobak untuk mengangkut para Pengungsi ke Daerah Besitang. Penduduk Pangkalan Brandan mematuhi maklumat itu, lalu pengungsian dimulai pada pagi hari tanggal 12 Agustus 1947. Sebaliknya penduduk Warga Tionghoa, hanya 11 orang saja yang ikut mengungsi, selebihnya sebanyak lebih kurang 5.000 orang masih tetap bertahan di Kota Pangkalan Brandan. Karena Ketua Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantauan (GPTP) yang merupakan pimpinan mereka, melarang mereka meninggalkan kota. 
Gelombang Pengungsian
Ketua GPTP itu dalam waktu singkat dapat mengumpulkan uang dari Penduduk Tionghoa Pangkalan Brandan untuk menyuap Perwira yang bertanggung jawab supaya Pangkalan Brandan jangan dibumihanguskan. Dengan demikian mereka akan dapat dengan tenang berada di dalam kota walaupun kelak Tentara Belanda memasuki kota Pangkalan Brandan, karena mereka merasa netral dan senantiasa dapat menerima dan bekerja sama dengan siapa saja yang berkuasa di daerah tempat tinggalnya. Dan diantara warga Tionghoa ini telah mempersiapkan bendera tiga warna didalam rumahnya untuk menyambut kedatangan tentara Belanda, dan hal ini ditemukan dikala dilakukan razia terhadap rumah-rumah warga Tionghoa di Pangkalan Brandan pada tanggal 26 Juli 1947. Upaya-upaya Pimpinan GPTP hendak melakukan penyuapan terhadap para perwira menemui kegagalan. Kota Pangkalan Brandan tetap akan dibumihanguskan.
 
KSBO selanjutnya membentuk 4 Pasukan Pioner dengan tugas menghancurkan semua instalasi dan bangunan Perusahaan di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, dipimpin oleh Letnan Satu Usman Amin, Tengku Nurdin, Umar Husni dan M. Yusuf Sukony. Tugas pasukan tersebut antara lain :
  1. Memindahkan mesin-mesin minyak dari pondasinya untuk dibawa ke Aceh.
  2. Pengangkutan dalam jumlah besar Premium dan Kerosine ke Daerah Aceh
  3. Pemasangan bom ukuran 250 kg dan 100 kg pada instalasi yang akan diledakkan.
  4. Pemasangan kantong-kantong mesin pada tangki-tangki raksasa.
Pada tanggal 12 Agustus 1947, jembatan Sei Lepan di Desa Pelawi yang merupakan pintu gerbang masuk ke Pangkalan Brandan dari arah Medan dihancurkan oleh Pasukan Zeni KSBO, sehingga akan sangat sulit untuk melewatinya karena medannya bertebing curam. Ini sebagai persiapan menahan lajunya serbuan Pasukan Belanda.

Pada penghujung tengah malam, diawal waktu terbitnya fajar siddiq tanggal 13 Agustus 1947, Tambang Minyak disulut dengan ledakan bom, diawali dengan meledakkan tangki–tangki raksasa, pondasi-pondasi penyulingan, bangunan dan gedung perusahaan Tambang Minyak di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, apipun berkobar merembet ke daerah Pelabuhan, langit menghitam berbunga api kemerahan bertebaran ke angkasa, kegelapan subuh berubah menjadi benderangnya kobaran api yang menjalar, suara ledakan dan kobaran api sungguh mencekam dan mengerikan semua orang yang menyaksikannya. Api berkobar membumi hanguskan Pangkalan Brandan. Strategi perang ini belakangan dikenal dengan politik bumi hangus. 
Pangkalan Brandan Lautan Api
Tak ayal, misi Agresi militer Belanda I ke Pangkalan Brandan pupus. Shell mengalami kerugian tak terkira. Padahal sebelumnya, dari Pangkalan ini dan dua pangkalan lain yang berada di Minas dan Rantau (yang dikuasai Caltex dan Stanvac) ketiga perusahaan yang dikenal dengan ”Tiga besar” menjadi penghasil minyak terbesar di kawasan Timur Jauh. Tentara Belanda pun meninggalkan Pangkalan Brandan dengan kekalahan. Mereka mencoba merebutnya kembali dalam Agresi Militer Belanda II tahun 1948 namun kembali gagal setelah kembali dibumihanguskan oleh pejuang.
************** 
Kondisi Bangunan pasca bumihangus, via edyfranjaya.wordpress.com
Hari Pangkalan Brandan Lautan Api adalah saat yang pas untuk merenungkan, semangat Laskar Minyak mempertahankan pengelolaan kilang minyak nasional secara mandiri. Sekalipun nama mereka tak pernah terukir dalam sejarah, tak pernah disematkan ‘Bintang Gerilya’ bersudut lima, sebagaimana pahlawan Gerilya lainnya, namun semangat mereka layak ditauladani. Bila saja perjuangan Laskar Minyak berhasil, bisa jadi Indonesia tak akan pernah mengalami krisis energi.

Pembakaran tambang minyak Pangkalan Brandan yang terjadi pada tanggal 13 Agustus 1947 oleh para pejuang kita terdahulu, harus dimaknai sebagai sebuah simbol perlawanan agar keberadaannya tidak menjadi milik penjajah yang berkehendak menguasai tambang minyak Indonesia. Laskar Minyak berperan besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Perjuangan mereka itu telah membuktikan bahwa bangsa yang baru merdeka telah sanggup membela kepentingan kita sendiri. Inilah satu bukti bahwa bangsa kita sanggup merdeka. Kita bukan kerbau atau keledai seperti kata penjajah dahulu.

Saya dulu saat kuliah pernah mengikuti seminar tentang minyak di kampus. Pematerinya mengatakan bahwa pekerja tambang minyak sejatinya adalah pahlawan Nasional. Andilnya yang besar dalam kemajuan negeri ini yang membuat mereka layak mendapatkan itu. Ditambah lagi dengan nilai-nilai historis yang salah satunya baru saja kita ulas diatas. Jadi bagi kita yang hanya tinggal menikmati kemerdekaan ini, sudah sepatutnya meneladani perjuangan mereka. Terlebih para pelakon Perminyakan dan Energi. Untuk mahasiswa Perminyakan, jika dulu semangat mereka tiada habis-habisnya untuk mempertahankan kemerdekaan dan kemandirian energi negeri ini. Kita hanya cukup belajar dengan baik dan giat, agar pengelolaan energi secara mandiri seperti apa yang para pejuang inginkan dahulu dapat tercapai. Jangan malas, jangan titip absen, jangan ngeluh kuliah! :D 
MERDEKA, via pertamina.com


Sumber-sumber :
langkatonline.com 
edyfranjaya.wordpress.com 
www.migasreview.com
www.kompasiana.com
id.wikipedia.org
lenteradiatasbukit.blogspot.co.id
finance.detik.com