Tuesday, September 18, 2018

Tarakan : Perminyakan dan Saksi Bisu Perang Pasifik

Sejarah perminyakan Tarakan tak lepas dari usaha keukeuh Belanda yang ingin menguasai seluruh hasil bumi Nusantara. Berawal dari Jan Reerink yang jadi orang pertama "melubangi" bumi Nusantara di Majalengka, Jawa Barat. Dilanjutkan oleh Zijlker yang mencatat namanya dalam sejarah perburuan minyak bumi di Nusantara setelah berhasil mengebor bumi Pangkalan Brandan, Sumatera Utara sekaligus menjadikan daerah penghasil minyak bumi komersial pertama di Nusantara. 

Setelah itu, era eksplorasi minyak di bumi Nusantara gencar dilakukan oleh Belanda, melalui perusahaan minyak yang didirikan bernama NV Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij (Royal Dutch Petroleum Company). Jawa, Sumatera, dan Kalimantan merupakan daerah yang menjadi tujuan Belanda untuk dibor buminya. Area operasi pencarian minyak bumi diperluas sampai ke Tarakan. Survei yang dilakukan oleh Belanda sudah dimulai sejak tahun 1896. 

Seperti yang pernah saya pelajari saat kuliah dulu, sebelum memulai operasi pemboran, terlebih dahulu dilakukan survei untuk menentukan dimana letak titik bor. Begitu juga yang dilakukan Belanda saat akan melakukan pengeboran di Bumi Paguntaka ini. Survei yang dilakukan belumlah menggunakan alat secanggih sekarang. Belanda melakukan survei dengan cara yang sangat "konvensional" berdasarkan pengalaman-pengalaman temuan lokasi prospektif di beberapa lokasi lain di Nusantara. Cara itu adalah dengan mencari rembesan minyak di permukaan tanah. Maka dari itu Belanda mencari informasi dari penduduk tentang daerah yang terdapat rembesan minyak. Karena memang terbukti, rembesan minyak (seepage) merupakan pertanda baik nan akurat yang menunjukkan kandungan minyak di daerah tersebut.

Rembesan minyak pertama kali ditemukan di Pamusian. Ini merupakan berita baik bagi tim eksplorasi Belanda. Rembesan tersebut diambil kemudian diteliti, dipetakan, dan diambil sampelnya untuk memastikan adanya kandungan minyak di wilayah tersebut. Hasil analisa geologis dengan mempelajari kondisi lingkungan dan struktur batuannya untuk kemudian dilakukan percobaan pengeboran.

Periode survei dan eksplorasi tahap awal terhadap daerah potensial minyak di Tarakan berlangsung antara tahun 1896 hingga 1900. Sementara di tempat terpisah ditahun 1897, J.H. Menten berhasil mengebor Bumi Kutai dan Balikpapan di daerah konsesi Louise dan Mathilda yang ia dapatkan atas persetujuan Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sultan Kutai saat itu. Hal ini membuat semakin gencarnya Belanda melakukan eksplorasi sumur-sumur minyak di Tarakan.

Akhirnya pada kurun waktu tahun 1901 - 1903, Belanda melalui sebuah perusahaan minyak bernama Nederlandsch Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM) atau Nederlandsh Indische Industrie en Hander Maatchaapij (NIHM) melakukan pengeboran pada koordinat X=1812,66 – Y=2974,24 dengan kedalaman 290 meter yang diberi nama sumur Pamusian 1. Pemboran ini belum dikatakan berhasil. Produksi secara komersial barulah didapat pada tahun 1904. Eksplorasi NKPM di Tarakan dilakukan selama delapan tahun mulai 1897 hingga 1905. 
Menara Pemboran di Tarakan, (link sumber)
Setelah masanya berakhir, eksplorasi dilanjutkan oleh perusahaan lainnya yang juga asal Belanda, yakni Batavia Petroleum Maatchaapij (BPM) pada tahun 1906. Pemboran di Tarakan pada tahap awal eksplorasi hingga tahun 1920an menggunakan menara dari kayu ulin. BPM merupakan perusahaan terlama yang melakukan eksplorasi minyak di Tarakan, yakni selama 40 tahun.  Produksi pertama BPM sebanyak 23 ton minyak. Pada tahun 1928, BPM sudah berhasil membor 418 sumur minyak di area Pamusian dengan produksi sebanyak 1.304.303 ton (setara 26.083 barrel per hari). Pada tahun 1929 mulai digunakan menara bor yang terbuat dari besi galvanis pertama kali yang digunakan di lapangan minyak Pamusian. Melihat produksi ini, perusahaan minyak Belanda ini memperluas wilayah pengeborannya ke Sesanip, Gunung Tjangkoel, Mangatal, dan Juwata. Sampai tahun 1935, BPM berhasil membor 937 sumur minyak. Sebanyak 857 sumur di Pamusian, 32 sumur di Sesanip, dan 68 sumur di Gunung Tjangkoel, dan Juwata.
Salah satu menara pemboran di Tarakan tahun 1920-1940, via wikipedia
Selama 40 tahun mengeksplorasi minyak di Bumi Paguntaka, Belanda membangun beberapa fasilitas penunjang perminyakan maupun fasilitas-fasilitas kota. Fasilitas penunjang perminyakan yang dibangun antara lain jaringan perpipaan, pompa, tangki pengumpul, bengkel dan alat-alat produksi hingga gudang logistik serta pelabuhan. Sementara fasilitas-fasilitas kota yang dibangun antara lain jalan, perumahan, gedung-gedung pemerintahan, sarana hiburan, ibadah dan olahraga, pasar, sarana air bersih hingga sarana kesehatan. Kegiatan perminyakan oleh Belanda di Tarakan ini berakhir pada tahun 1942 ketika pemerintahan kolonial sudah mulai melemah. Ditambah lagi kongsi dagang Belanda yakni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang bangkrut karena dirundung berbagai masalah pada 1942.
Kondisi Jalan dan Lingkungan dalam sebuah perumahan perusahaan minyak di Tarakan tahun 1920, (foto : koleksi Disbudparpora Kota Tarakan
Sementara itu, temuan cadangan minyak yang besar serta kualitas yang bagus di Tarakan sampai ketelinga Kekaisaran Jepang. Jepang yang saat itu sedang membutuhkan banyak cadangan bahan bakar untuk keperluan perangnya ditambah lagi dengan letak geografis antara Tarakan dan Jepang yang memudahkan untuk mengangkut minyak bumi, membuat Jepang langsung melakukan invasi besar-besaran ke Tarakan. Entah harus bangga atau tidak, Tarakan merupakan daerah pertama di Nusantara yang dimasuki oleh tentara Jepang pada dinihari, tanggal 11 Januari tahun 1942 dengan kekuatan 20.000 pasukan. 
Pendaratan Pasukan Jepang di Tarakan, (link sumber)
Saat konvoi kapal-kapal tempur Jepang sudah terlihat di horison utara Tarakan melalui pesawat ampibi Dornier Do 24 milik KNIL-ML. Belanda melalui komandan garnisun KNIL di Tarakan, Overstee Simon de Waal, segera memerintahkan evakuasi warga sipil dan perintah membumi-hanguskan fasilitas perminyakan yang ada di Tarakan. Gambaran sekilas tentang pembungihangusan Tarakan ini pernah ditayangkan dalam film Soekarno : Indonesia Merdeka yang dirilis tahun 2013 lalu. Ratusan sumur minyak produktif sengaja dirusak dan dibakar oleh BPM dengan tujuan agar Jepang tak bisa "menikmati" minyak Tarakan. Tarakan saat itu bagai neraka kecil, kobaran api beserta asap hitam membumbung tinggi di langit Tarakan. Ledakan-ledakan fasilitas yang dilakukan oleh Belanda membuat permukaan Tarakan membentuk kawah-kawah raksasa. Sehingga dari laut pesukan Jepang melihat seluruh daratan Tarakan bak lautan api.
Tarakan Lautan Api, tampak asap-asap membubung tinggi saat Belanda meledakkan sumur-sumur minyak. (link sumber)
Hanya butuh dua hari saja bagi 20.000 pasukan Jepang untuk menguasai Tarakan yang hanya dijaga oleh 2.000 pasukan Belanda. Separuh tentara Belanda tewas dalam pertempuran 2 hari itu, sementara Jepang kehilangan 225 pasukan. Para tawanan Belanda yang tertangkap dieksekusi dengan dipenggal kepalanya, dan sebagian ditenggelamkan hidup-hidup ke kolam-kolam minyak yang tumpah dari kilang yang baru saja mereka bakar, sebagai balasan atas tindakan pengrusakan fasilitas vital tersebut.
Kondisi Tarakan sesaat setelah pembumiangusan. (Sumber link)
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang, secara otomatis Tarakan berada di bawah pemerintahan kekaisaran Jepang. Termasuk pengelolaan minyak di Tarakan juga diambil alih Jepang. Saat pembungihangusan fasilitas perminyakan oleh Belanda dahulu ternyata masih menyisakan sumur-sumur produktif yang masih berjalan normal. Terutama di luar pulau Tarakan. Terdapat kurang lebih 70 sumur sisa Belanda yang terdapat di Pulau Ceram dan Lokasi Lemon yang masih produktif hingga menghasilkan 250 metrik ton perhari. Sehingga Jepang masih bisa menyuplai minyak bumi dari Hindia Belanda ke negaranya pada tahun yang sama.

Kondisi tambang minyak yang hancur lebur akibat dibakar oleh Belanda ini membuat Jepang tak bisa langsung menikmati hasil minyak bumi dari Tarakan. Jepang harus membenahi fasilitas-fasilitas tersebut agar bisa kembali berjalan normal. Ribuan personil sipil tenaga ahli pertambangan Jepang didatangkan ke Hindia Belanda untuk memperbaiki dan memulai eksploitasi minyak yang ada. Perbaikan fasilitas perminyakan di Tarakan pun tak seluruhnya dilakukan oleh Jepang, mereka hanya memperbaiki fasilitas-fasilitas vital yang berhubungan dengan produksi dan jaringan pipa penyaluran minyak menuju pelabuhan. 

Pada bulan Mei 1942, Jepang melakukan pengeboran sumur pertama di Pamusian dengan nama sumur E (Enemi) 657 yang kemudian berlanjut sampai bulan Juli 1945 membor sumur E 829. Atau hanya dalam waktu 3,5 tahun, Jepang berhasil membor 174 sumur minyak di Tarakan. Pada tahun 1943 sebagian sumur minyak telah berhasil diperbaiki oleh Jepang dan mulai berproduksi kembali. Jepang berhasil memproduksi 50 juta barel minyak, angka yang hampir menyamai perolehan produski saat masa damai yaitu 65 juta barel minyak. Meski hanya sebentar (dua tahun produksi), namun jumlah minyak yang diproduksi oleh Jepang dalam hitungan perbulan, jauh lebih banyak dibanding Belanda. Jepang gencar melakukan eksploitasi minyak guna menambah cadangan nasionalnya seiring dengan reaksi penyerangan mereka ke daerah tempur yang menggunakan bahan bakar minyak. Produksi minyak saat itu melejit diangka 350.000 ton perbulan, sebelumnya saat dikelola oleh BPM, hanya mampu memproduksi 80.000 ton minyak perbulan.

Periode kekuasaan Jepang di Hindia Belanda terjadi dalam waktu 40 bulan, dimulai dari 1942 hingga 1945. Pada bulan mei 1945, pasukan Australia dalam operasi yang bernama Obo Satu mengirimkan 20.000 pasukan untuk menyerang Tarakan yang saat itu hanya dijaga oleh 2.000 prajurit. Meski sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik, ternyata merebut Tarakan dari Jepang tidaklah mudah. Serangan dimulai dengan pengeboman Pulau Tarakan besar-besaran selama 4 hari penuh. Meski akhirnya tentara Australia bisa menguasai Pulau Tarakan, namun peperangan belum juga usai sampai dengan Bulan September 1945. Artinya mereka memerlukan 6 bulan penuh untuk benar-benar bisa menguasai Tarakan. Semangat tentara Jepang memang tidak mudah pudar. Meski kota Tarakan sudah dikuasai, tentara Jepang tetap melakukan perlawanan. Mereka bersembunyi di hutan dan bungker- bungker bawah tanah. Tentara Jepang melakukan penyergapan kepada patroli tentara Australia. Bahkan sampai dengan tahun 1960-an, masih ada rumor bahwa tentara Jepang masing tinggal di hutan-hutan di Tarakan.
Tentara Australi mendarat di Tarakan, via http://www.gahetna.nl
Selain dari jumlah tentara Jepang yang sangat sedikit dibanding dengan tentara Australia yang menyerang, kekalahan Jepang di Tarakan juga disebabkan oleh kebijakan pesawat-pesawat Jepang untuk mengutamakan pencegahan serangan ke Okinawa. Pesawat-pesawat Jepang melakukan pencegatan terhadap pesawat-pesawat Sekutu yang mempersiapkan diri menyerang negeri Jepang. Dengan jumlah pesawat yang semakin sedikit dan diprioritaskan untuk mengamankan dalam negeri, maka perang di Tarakan tidak mendapatkan cukup dukungan dari udara. Terlebih lagi ditambah dengan peristiwa bom atom Hiroshima Nagasaki yang membuat Jepang menyerah kalah dan turun dari panggung Perang Dunia II.
KNIL dan Seukutu mendarat di Tarakan, via http://www.gahetna.nl
"Tak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pertempuran Tarakan baik pada tahun 1942 maupun 1945. Namun setelahnya, seakan Tarakan jarang masuk dalam peta sejarah perang pasifik, padahal peran Tarakan dalam perang ini tak boleh dipandang sebelah mata. Sumber Daya Alam yang terkandung di Tarakan menjadikan pulau ini memiliki pengaruh yang tak kecil terhadap sejarah perang dan bahkan kemerdekaan Indonesia. Dalam beberapa buku sejarah bahkan Tarakan disebut dengan Pearl Harbour nya Indonesia!"  
Setelah Jepang mengalah pada tahun 1945, Indonesia memploklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sama seperti di Balikpapan, di Tarakan pun tak serta merta berita kemerdekaan Indonesia langsung terdengar, dikarenakan letak geografis yang jauh serta terbatasnya media dan alat komunikasi saat itu. Ladang minyak Tarakan kembali diambil alih oleh Belanda. Meski kembali rusak parah akibat perang dengan Jepang, ladang minyak Tarakan dengan cepat diperbaiki dan kembali berproduksi. Berita tentang kemerdekaan Indonesia sampai ke Tarakan mungkin juga dibawa oleh pekerja-pekerja minyak dari Jawa yang didatangkan oleh Belanda. Para insinyur dan teknisi tiba segera setelah pendaratan Sekutu dan pompa minyak pertama diperbaiki pada tanggal 27 Juni 1946. Dari bulan Oktober, ladang minyak pulau itu memproduksi 8.000 barel tiap hari dan menyediakan lapangan kerja bagi banyak penduduk sipil Tarakan.
"Penguasaan BPM atas ladang minyak Tarakan pasca kemerdekaan berlangsung hingga tahun 1950. Setelah melalui beberapa peristiwa penting, mulai dari agresi militer Belanda I dan II, pembentukan RIS, hingga pengakuan atas kedaulatan Negara Indonesia."
Akhirnya Belanda pun menyerahkan aset-asetnya kepada Pemerintah Indonesia, termasuk sumur minyak dan fasilitasnya. Melalui perusahaan Pertamin yang merupakan cikal bakal awal berdirinya Pertamina, Indonesia mulai melakukan pengelolaan di lapangan Tarakan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 pemerintah menyerahkan pengelolaannya kepada Pertamina. Pertamina mengelola ladang migas ini bersama Renvestadco (Amerika Serikat). Namun setelah berjalan hampir 2.5 tahun, pada 17 Maret 1971 Pertamina mengadakan Technical Assistance Contract (TAC) dengan REDCO, sebuah perusahaan minyak Amerika. Selanjutnya mengalihkan kepada Tesoro Petroleum Corporation, sebuah perusahaan Amerika  dengan nama Joint Operation Pertamina Tesoro (JOPT). Dan pada 1 Desember 1980 semua karyawan Pertamina yang diperbantukan ke Tesoro diintegrasikan ke perusahaan asing ini atau menjadi karyawan Tesoro Indonesia Petroleum Company (TIPCO). Tapi, pengelolaan lapangan minyak tetap menggunakan sistem TAC sampai kontrak berakhir pada tanggal 15 Oktober 1980 yang kemudian diperpanjang 20 tahun. Perusahaan ini berhasil mengebor 17 sumur baru dalam jangka waktu 10 tahun dengan kerja sama Production Sharing Contract (PSC).

Pada 15 juni 1992, saham Tesoro beserta assetnya dibeli oleh Arifin Panigoro, pengusaha nasional dan mengubah nama perusahaannya menjadi PT. Exspan Kalimantan.  PT. Exspan sendiri pada tahun 2004 merebranding perusahaannya menjadi Medco E&P Tarakan. Medco sendiri, selain memelihara sumur-sumur tua (TAC), juga berhasil menemukan 33 sumur-sumur minyak dan gas baru. Lalu pada tahun 2008, sebagian ladang migas Tarakan diambil oleh PT. Pertamina EP Asset 5, sebuah anak perusahaan Pertamina yang berfokus pada eksplorasi dan produksi migas.
Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Tarakan saat ini dikelola oleh setidaknya 2 perusahaan besar, PT. Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field dan Medco E&P Tarakan. PT. Medco E&P mengelola sebanyak 58 sumur minyak. Namun tidak semua berproduksi. Hanya ada 29 sumur yang aktif, kebanyakan merupakan sumur tua. Dengan kemampuan kapasitas produksi 1.880 barel minyak mentah perhari dan gas sekitar 1 MMBTU perhari.

WKP Pertamina EP Asset 5 Field Tarakan memiliki dua area kerja yakni area Sembakung - Nunukan, dan di Tarakan sendiri. Khusus area Tarakan hingga saat ini ada 1.442 sumur. Namun yang beroperasi keseluruhan hanya 254 sumur saja. Dulu ketika Belanda mengeksplorasi minyak di lapangan Tarakan, tidak ada pemukiman penduduk seperti yang terjadi saat ini. Saat ini kondisinya banyak ditemukan perumahan penduduk yang berdiri tanpa melihat tata ruang dan peta sebaran minyak yang ada di WKP. Hal ini menyebabkan banyak ditemukan kondisi sumur dalam keadaan terjepit karena berada di pekarangan rumah yang membuat Pertamina EP belum bisa maksimal dalam revitalisasi sumur-sumur tua.

Saat ini, jejak-jejak sejarah Perang dan Perminyakan di Tarakan masih bisa ditemui di beberapa tempat yang tersebar di Tarakan. Sisa-sisa menara pemboran, pompa angguk, dan wash tank yang setengah hancur akibat perang masih bisa kita lihat di sekitar Kampung Empat. Sisa-sisa perang juga bisa dilihat di Situs Peningki Lama, Bunker-bunker peninggalan Jepang dan Belanda. Bahkan Pemerintah Kota Tarakan tahun lalu meresmikan "Museum Kembar" yang berlokasi di Islamic Center Tarakan. Museum ini berisi tentang sejarah perang dan sejarah perminyakan di Kota Tarakan.


------------------------

Demikian penjelasan singkat Sejarah Tarakan, Perminyakan dan Perang Pasifik. Tulisan ini saya kutip dari berbagai sumber, jika ada sumber yang lebih valid, saya akan dengan senang hati untuk menerima masukan.





Sumber-sumber :
http://mulyanto8000.blogspot.com/2013/07/tarakan-kaya-sumur-sumur-tua.html
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/134138-T+27922-Pembentukan+identitas-Analisis.pdf
http://kaltara.prokal.co/read/news/6952-dieksplorasi-pertama-kali-pada-1897.html
https://www.kompasiana.com/sahrilpercikan/584421c36623bd9f041bc838/tarakan-kota-minyak-riwayatmu-dulu
https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Tarakan_(1942)
https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Tarakan_(1945)
https://indonesiana.tempo.co/read/122659/2018/02/12/handokowidagdo/tarakan-the-pearl-harbor-of-indonesia

Saturday, September 15, 2018

Mengeksplor Taman-Taman Kota di Bumi Paguntaka, Tarakan

Tarakan sebagai sebuah kota memang perlahan mulai "mempermak" dirinya menjadi kota yang nyaman dihuni. Salah satu nya adalah pengadaan taman-taman kota. Taman kota memiliki berbagai macam fungsi, mulai dari ekologis dan fungsi Sosial.

Fungsi ekologis taman kota diantaranya adalah sebagai paru-paru kota, peredam kebisingan, hingga memfilter asap kendaraan. Sedangkan fungsi sosial adalah taman kota merupakan tempat komunikasi sosial, biasanya komunitas-komunitas mengadakan kopdarnya di taman-taman kota, berfungsi juga sebagai sarana rekreasi dan olahraga, serta sebagai landmark bahkan ikon dari sebuah kota tersebut.
Taman-taman di Tarakan
Nah, Kota Tarakan memiliki banyak Taman Kota yang tersebar di berbagai tempat. Saya yang masih baru di bumi Paguntaka ini, ingin coba mengeksplor taman-taman kota tersebut. Setidaknya ada delapan taman kota yang akan saya jelaskan dalam tulisan ini. Kuy!

1. Taman Tugu 99 
Taman Tugu 99 merupakan taman yang terletak di dekat bandara internasional Juwata Tarakan, di jalan utama Mulawarman. -map-. Taman ini kerap dijadikan tempat untuk arena joging ketika pagi dan sore hari bagi warga. Lokasinya yang berada di dekat bandara merupakan nilai tambah bagi taman Tugu 99. 
Taman Tugu 99
Biasanya warga memakirkan motor di taman, lalu joging hingga ke bandara. Di Taman ini terdapat 6 monumen yang memiliki arti masing-masing. Monumen / tugu utama berada di tengah-tengah taman, sedangkan lima tugu lagi berada di tepi. Lima tugu tersebut merupakan kumpulan dari beberapa penghargaan yang diterima oleh Kota Tarakan. Mulai dari E-Government Award, Otonomi Warad, Kalpataru, Karya Pengelola Kota, hingga Adipura.

2. Taman Tugu PKK
Taman Tugu PKK
Sssstt, sebenarnya saya tidak tahu pasti dengan nama taman yang terletak tepat di seberang Bank Indonesia ini. Namun karena di depannya dipasang 10 peraturan PKK, maka saya menyebutnya dengan Tugu PKK. Ia terletak di jalan Mulawarman. -map-. Taman kecil ini juga kerap dikunjungi warga sambil santai menghitung kendaraan yang lewat di jalan. 😆 Di taman ini terdapat patung beberapa ekor Bekantan yang sedang memanjat batang pohon. Bekantan merupakan binatang khas Kalimantan yang dilindungi.

3. Taman Berlabuh
Taman Berlabuh terletak di jalan Yos Sudarso, daerah Lingkas Ujung Tarakan. -map-. Berhadapan langsung dengan laut merupakan keunggulan taman ini, saat siang hingga sore, taman ini merupakan tempat yang pas untuk dikunjungi sambil merefresh fikiran dengan melihat kapal-kapal yang berseliweran di laut Tarakan. 
Taman Berlabuh
Pemandangan sunset ditambah lalu lalang kapal juga sangat indah dipandang dari Taman Berlabuh ini. Saat malam, terlebih diakhir pekan, taman ini menjelma seperti alun-alun kota yang ramai dikunjungi warga. Berbagai macam acara rakyat kerap berpusat di taman ini, disamping itu banyak pula orang yang berjualan, dan menyediakan fasilitas-fasilitas bermain bagi anak-anak.

4. Taman Oval Lingkas
Taman Oval Lingkas
Taman ini terletak di Lingkas Ujung, tepat di depan pintu masuk pelabuhan PT. Pelindo Tarakan. -map-. Taman ini tak begitu besar dan berada di tengah-tengah jalan raya yang lumayan sibuk dan ramai karena letaknya di dekat pelabuhan. Salah satu keunikan taman ini adalah adanya tugu peringatan datangnya tentara Australia saat perang dunia ke 2 terjadi. Tugu kecil yang terletak di tengah taman itu menceritakan bagaiman tentara Australia masuk ke wilayah Kalimantan, Tarakan khususnya.

5. Taman Oval Markoni
Taman Oval Markoni
Ini merupakan taman publik yang terletak di daerah Markoni dalam. -map-. Taman ini memiliki pendopo di tengah-tengah dan sering mendapat "kunjungan" dari mahasiswa-mahasiswi karena fasilitas Wi-Fi gratis yang ada di sana. Ukuran taman tak terlalu besar, namun terkesan asri dan tenang, karena letaknya berada di dalam perumahan yang jauh dari keramaian jalan raya. Saat malam, di taman ini banyak yang berjualan, bikin nongkrong dan "berburu" Wi-Fi jadi semakin asyik.

6. Taman Bertuah
Taman Bertuah
Taman Bertuah terletak di dekat kantor Pertamina EP Tarakan Field. -map-. Beberapa kali saya lewati tempat ini belum pernah terlihat ramai, padahal taman juga tertata dengan indah dan juga terletak di tepi sungai. Di seberang taman ada rumah adat Baloy yang dikelola oleh Pemerintah. Rumah Adat Baloy merupakan rumah adat tradisional Suku Tidung, suku asli yang mendiami Tarakan. Letak yang strategis ternyata tak menjamin ramainya pengunjung di taman yang dihiasi beberapa tanaman indah ini. Pompa angguk (Sucker Rod) dan bekas menara perminyakan (Derrick) yang sudah tak terpakai juga dipajang disini, seakan ingin menegaskan bahwa Tarakan merupakan kota yang kaya minyak.

7. Taman Oval Ladang
Taman Oval Ladang
Taman ini terletak di komplek perumahan karyawan Pertamina, Polisi dan TNI AL. -map-. Tamannya juga tak begitu besar namun tetap asri dan sangat cocok sebagai tempat ngadem dan beristirahat karena jauh dari jalan raya dan lalu lintas yang tak terlalu ramai. Ada kursi dan meja serta stop kontak yang tersedia di taman bagi yang ingin bekerja atau mengerjakan tugas kuliah. Sama seperti Taman Oval Markoni, saat malam taman Oval Ladang banyak dikunjungi oleh warga yang sekedar nongkrong dan berkumpul-kumpul sambil makan dan minum yang ada dijual disana.

8. Taman Berkampung
Taman ini terletak di komplek Islamic Center Tarakan di Kampung Empat. -map-. Ini merupakan taman kota terluas di Tarakan. Seperti alun-alun nya deh. Taman yang luas ini kerap digunakan untuk acara-acara penting, salah satunya adalah upacara peringatan 17 Agustus, bahkan beberapa waktu yang lalu, tari masal Go Mu Fa Mi Re yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT TNI AL ke 73 juga dilaksanakan di taman ini. 
Taman Berkampung
Saat sore, taman ini merupakan tempat berkumpul warga, ada yang sekedar santai, olahraga, dan berwisata. Saat malam hari, tempat ini menjadi arena bermain dan wisata kuliner, banyak odong-odong yang dihiasi lampu warna-warni dan aneka kuliner juga tersedia di tempat ini. Di sekitar Taman Berkampung ini, terdapat perpustakaan daerah, gedung serbaguna KNPI, museum Sejarah, hingga Masjid Agung Baitul Izzah Tarakan yang melengkapi keindahan tempat ini. Jadi selain bersantai di taman, kita juga bisa menikmati fasilitas-fasilitas lainnya yang ada di sekitaran taman.

-------

Nah, itu tadi sekilas penjelasan tentang taman-taman yang di Kota Tarakan. Sebagian taman seperti kurang mendapat perhatian. Ditandai dengan rumput-rumput yang sudah memanjang, serta fasilitas taman yang terkesan kurang terawat, seperti lampu, pot, dan tong sampah. Ada baiknya sinergi warga dan pemerintah diperlukan untuk saling menjaga dan memperindah taman ini, sesuai dengan tslogan kota Tarakan yaitu BAIS (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Serasi), serta tujuan Tarakan yang ingin menjadi Singapore nya Indonesia.

Friday, September 14, 2018

Sejarah Tarakan, dari "Pulau Singgah" hingga Kota Minyak

Merantau, menjadi sebuah tradisi bagi keluarga kecil kami. Dimulai dari kakak yang sudah merantau dari SMA, sementara saya dan adik mulai meninggalkan kampung halaman saat akan berkuliah. Dalam beberapa kesempatan, hanya tiap lebaran idul fitri saja kami berkumpul lagi. Setelahnya lanjut merantau lagi.

Seperti yang pernah saya katakan. Menjadi perantau itu ngeri-ngeri sedap. Namun bila kita bisa membawa diri, maka itu akan jadi hal yang mengasyikkan. Bisa bertambah wawasan, teman dan pengalaman hidup. Setelah hampir 3 tahun di Balikpapan. Kali ini saya dirotasi perusahaan tempat saya bekerja ke Tarakan, sebuah Kota dan Pulau kecil yang berada di Provinsi Kalimantan Utara. Nah kali ini, saya akan mengulas tentang sejarah Tarakan, sebuah tempat yang baru 2 bulan saya tempati.

Tarakan........
Tarakan merupakan nama dari sebuah pulau sekaligus satu-satunya daerah tingkat II (kotamadya) yang ada di Provinsi Kalimantan Utara (Kal-Tara), provinsi termuda nan kaya raya di Indonesia. Dan Tarakan pun merupakan kota terkaya ke 17 di Indonesia. Luas kota dengan semboyan BAIS (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera) ini kurang lebih 250 km persegi. Kota Tarakan juga disebut dengan Bumi Paguntaka, yang berarti "Kota Kita", diambil dari bahasa Tidung. Suku Tidung merupakan suku asli yang mendiami pulau Tarakan.

Tarakan juga dikenal sebagai Kota Transit. Banyak orang yang singgah ke Tarakan untuk melanjutkan perjalanan ke Nunukan, Bunyu, Tanjung Selor, Derawan bahkan ke Tawau (Malaysia). Berstatus sebagai kota transit bukanlah tanpa alasan, fasilitas-fasilitas pendukung memang tersedia di Tarakan, seperti bandara Internasional dan pelabuhan internasional. Status kota transit juga dimanfaatkan oleh pebisnis-pebisnis hotel. Banyak terdapat penginapan dengan berbagai kelas di Tarakan ini.

Sama seperti Balikpapan, Tarakan sepertinya juga pantas menyandang julukan Kota Minyak. Ada ratusan sumur tua di sini yang sudah dieksplorasi dari tahun 1900an awal sejak era Hindia Belanda. Perusahaan besar migas juga menginvestasikan assetnya disini seperti Pertamina EP, Medco EP, dan Manhattan Kalimantan Investment (MKI). Tak hanya migas, Perusahaan Tambang, Sawit, Kayu dan Pelayaran juga banyak terdapat di sini.  Yap, Tarakan seperti jantungnya industri untuk wilayah Kalimantan Utara, ditunjang dengan fasilitas-fasilitas yang memadai.
Lambang Kota Tarakan, via wikipedia

Asal Usul Nama Tarakan
Menurut beberapa sumber yang saya temukan saat googling, asal mula nama Tarakan berawal dari Bahasa Tidung, Turakon. Dikisahkan dulu ketika para saudagar mengunjungi warga masyarakat Tidung. Terjadilah miskomunikasi, lantaran sama-sama tidak saling mengerti komunikasi akhirnya hanya menggunakan bahasa isyarat saja. Suatu saat, sang tuan rumah (orang Tidung) mengajak tamunya untuk makan, karena sulitnya menyebutkan “Mari makan”, maka sang tuan rumah mengatakan dengan bahasa Tidung, ”Ngakan”.

Ajakan makan tadi tidak mendapat respon dari sang tamu karena tak paham. Padahal sudah berulang kali di sebut sang tuan rumah tapi sang tamu hanya senyum-senyum saja. Akhirnya karena sudah kesal sang tuan rumah menawarkan makan dengan kata lain “Ngenturak”. (Ngenturak merupakan sebuah umpatan atau bahasa kasar sebagai tanda kekesalan). Lucunya, dengan nada umpatan yang diucapkan tuan rumah dengan nada keras, justru sang tamu malah tertawa. Melihat tamu tertawa sang tuan rumah semakin berang seolah mengejek tuan rumah. Karena saking kesalnya, muncullah kata-kata lebih kasar lagi sambil membentak tamunya tadi “Turakon”.

Komplek Rumah Adat Baloy Suku Tidung
Dengan bentakan tadi sang tamu kemudian mengingat-ingat kata “Turakon” itu. Lalu ketika para tamu itu tadi kembali dan berkumpul dengan teman-teman lainnya sesama pendatang, ia malah menyebut dari “Turokan”. Akhirnya kata Turakon menjadi santer bagi para pendatang termasuk para saudagar dari kolonialis Belanda. Lama kelamaan kata Turakon ini mengalami beberapa perubahan lafal, tergantung siapa yang mengatakannya baik warga setempat maupun pendatang. Ketika itu Adji Raden yang menjadi pimpinan masyarakat tidak setuju dan akan meluruskan Turakon yang terbilang kasar itu. Dan Adji Raden lah yang mengubah nama itu menjadi Tarakan.

Cerita lain mengatakan juga bahwa Tarakan berasal dari dua kata bahasa Tidung, Tarak” (bertemu) dan “Ngakan” (makan) yang secara harfiah dapat diartikan "Tempat para nelayan untuk istirahat makan, bertemu serta melakukan barter hasil tangkapan dengan nelayan lain".


Tarakan dari Masa ke Masa 
  • Kerajaan Tidung Kuno (1076 - 1557 M)
    • Kerajaan Tidung atau dikenal pula dengan nama Kerajaan Tarakan (Kalkan/Kalka) adalah kerajaan yang memerintah Suku Tidung di Kalimantan Utara. Ia berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di Salimbatu (Kabupaten Bulungan sekarang). Sebelumnya terdapat dua kerajaan di kawasan ini, selain Kerajaan Tidung, terdapat pula Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Tanjung Palas. Berdasarkan silsilah (Genealogy) yang ada, bahwa di pesisir timur Pulau Tarakan yaitu di kawasan Dusun Binalatung sudah ada Kerajaan Tidung Kuno (The Ancient Kingdom of Tidung), kira-kira pada tahun 1076-1156, kemudian berpindah ke pesisir selatan Pulau Tarakan di kawasan Tanjung Batu pada tahun 1156-1216, lalu bergeser lagi ke wilayah barat yaitu ke kawasan Sungai Bidang kira-kira pada tahun 1216-1394, setelah itu berpindah lagi, yang relatif jauh dari Pulau Tarakan ke daerah Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning, sekitar tahun 1394-1557, dibawah pengaruh Kesultanan Sulu.
    • Dari riwayat-riwayat yang terdapat dikalangan suku Tidung tentang kerajaan yang pernah ada dan dapat dikatakan yang paling tua di antara riwayat lainnya yaitu dari Kerajaan Menjelutung di Sungai Sesayap (kabupaten Tana Tidung sekarang) dengan raja terakhirnya bernama Benayuk. Kerajaan Menjelutung berakhir  karena ditimpa malapetaka berupa hujan ribut dan angin topan yang sangat dahsyat sehingga mengakibatkan perkampungan di situ runtuh dan tenggelam kedalam air (sungai) berikut sebagian warganya. Peristiwa tersebut dikalangan suku Tidung disebut Ghasab yang kemudian menimbulkan berbagai mitos tentang Benayuk dari Menjelutung. 
      Sejarah Kerajaan, via tirto.id
    • Dari beberapa sumber didapatkan riwayat tentang masa pemerintahan Benayuk yang berlangsung sekitar 35 musim. Perhitungan musim tersebut adalah berdasarkan hitungan hari bulan (purnama) yang dalam semusim terdapat 12 purnama. Dari itu maka hitungan musim dapat disamakan lebih kurang dengan tahun Hijriah. Apabila dirangkaikan dengan riwayat tentang beberapa tokoh pemimpin (Raja) yang dapat diketahui lama masa pemerintahan dan keterkaitannya dengan Benayuk, maka diperkirakan tragedi di Menjelutung tersebut terjadi pada sekitaran awal abad XI (tahun 1000an). Kelompok-kelompok Suku Tidung pada zaman Kerajaan Menjelutung belumlah seperti apa yang terdapat sekarang ini, sebagaimana diketahui bahwa dikalangan Suku Tidung yang ada di Kalimantan Timur dan Utara sekarang terdapat 4 (empat) kelompok dialek bahasa Tidung, yaitu Dialek bahasa Tidung Malinau, Tidung Sembakung, Tidung Sesayap, dan dialek bahasa Tidung Tarakan yang biasa pula disebut Tidung Tengara yang kebanyakan bermukim di daerah air asin. 
    • Dari adanya beberapa dialek Bahasa Tidung yang merupakan kelompok komunitas berikut lingkungan sosial budayanya masing-masing, maka tentulah dari kelompok-kelompok dimaksud memiliki pemimpin masing-masing. Sebagaimana diriwayatkan kemudian bahwa setelah Kerajaan Benayuk di Menjelutung runtuh maka anak keturunan beserta warga yang selamat berpindah dan menyebar kemudian membangun pemukiman baru. Salah seorang dari keturunan Benayuk yang bernama Kayam selaku pemimpin dari pemukiman di Linuang Kayam (Kampung si Kayam) yang merupakan cikal bakal dari pemimpin (raja-raja) di Pulau Mandul, Sembakung dan Lumbis. 
    • Berikut adalah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Tidung :
      1. Benayuk dari sungai Sesayap, Menjelutung (± 35 Musim)
      2. Yamus (Si Amus) (± 44 Musim)
      3. Ibugang (Aki Bugang)
      4. Itara (29 Musim)
      5. Ikurung (25 Musim)
      6. Ikarang (35 Musim), di Tanjung Batu (Tarakan)
      7. Karangan (± Semusim)
      8. Ibidang (± Semusim)
      9. Bengawan (± 44 Musim)
      10. Itambu (± 20 Musim)
      11. Aji Beruwing Sakti (± 30 Musim)
      12. Aji Surya Sakti (± 30 Musim)
      13. Aji Pengiran Kungun (± 25 Musim)
      14. Pengiran Tempuad (± 34 Musim)
      15. Aji Iram Sakti (± 25 Musim) di Pimping, Bulungan
      16. Aji Baran Sakti (± 20 Musim)
      17. Datoe Mancang ± 49 Musim)
      18. Abang Lemanak (± 20 Musim), di Baratan, Bulungan
      19. Ikenawai bergelar Ratu Ulam Sari (± 15 Musim)
  • Dinasti Tengara / Kerajaan Tarakan / Kerajaan Tidung (1557 - 1916)
    • Setelah Kerajaan Tidung Kuno runtuh akibat bencana alam yang dahsyat pada 1557. Maka bangkit lah setelah itu Kerajaan Tidung atau juga dikenal dengan Kerajaan Tarakan, dibeberapa sumber menyebutnya dengan Era Dinasti Tengara. Kerajaan / Dinasti ini berlokasi di kawasan Pamusian, Tarakan Tengah. Era bermulai pada tahun 1557-1916 Masehi, pemimpin pertamanya adalah Amiril Rasyid Gelar Datoe Radja Laoet pada tahun 1557 Masehi dan merupakan masa kejayaan Kerajaan ini. Era Datoe Radja Laoet berakhir pada tahun 1571. Dan diganti oleh penerus-penerusnya hingga 12 Raja. Raja yang terkenal adalah Raja Baki dengan gelar Datoe Adil yang memerintah selama 20 tahun (1896 - 1916). 
    • Pada masa pemerintahan Datoe Adil, saat itu Bumi Tarakan sudah "kedatangan" Belanda untuk mengeksplor minyak bumi di Tarakan. Kepemimpinan Datoe Adil dikenal arif dan bijaksana, serta tegas. Uniknya ia tidak ingin memungut pajak dari rakyat karena tak ingin membenani rakyatnya.
    • Namun karena campur tangan Belanda, akhirnya pada tahun 1916 Datoe Adil diasingkan ke Manado. Dua perdana menteri, Datu Jamalul (Adik Datu Adil) diasingkan ke Makassar dan Aji Maulana (Paman) diasingkan ke Banjarmasin. Tak hanya 3 orang pembesar kerajaan, 62 bangsawan juga diasingkan oleh Belanda ke Tanjung Selor (Kerajaan Bulungan). Pengasingan ini berdampak besar pada jalannya roda pemerintahan Kerajaan. 
    • Pusat Kerajaan yang berada di belakang stadion Datu Adil sekarang ini dihancurkan oleh Belanda. Kekuasaan akan wilayah Tarakan diambil alih oleh Kerajaan Bulungan dan Belanda. Belanda sepertinya memang berniat untuk menghapus habis Kerajaan Tidung di Bumi Tarakan.
      Selang 6 tahun setelah itu (1921), Datu Adil dan Aji Maulana dibawa ke Tanjung Selor Kesultanan Bulungan. Pada tahun 1922 Datu Adil meninggal dunia.

      Diasingkannya Raja Baki (Datoe Adil) pada tahun 1916 menandakan berakhirnya era Kesultanan / Dinasti Tengara di tanah Tarakan.
    • Raja-raja dari Dinasti Tengara
      1. Amiril Rasyid, Raja dengan gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)
      2. Amiril Pengiran Dipati I (1571-1613)
      3. Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)
      4. Amiril Pengiran Maharajalila I (1650-1695)
      5. Amiril Pengiran Maharajalila II (1695-1731)
      6. Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)
      7. Amiril Pengiran Maharajadinda (1765-1782)
      8. Amiril Pengiran Maharajalila III (1782-1817)
      9. Amiril Tadjoeddin (1817-1844)
      10. Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)
      11. Ratoe Intan Doera/Datoe Maoelana (1867-1896), Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana adalah putera Sultan Bulungan Muhammad Kaharuddin II
      12. Raja Baki dengan gelar Datoe Adil (1896-1916) 
  • Hindia Belanda (1916 - 1942)
  • Menara Pemboran oleh BPM di Tarakan, via wikipedia.org
    • Belanda dikatakan masuk ke Tarakan pada tahun 1896, dalam misi ekspansi dan mencari sumber daya alam. Setelah gencarnya pengeboran minyak yang dilakukan oleh Belanda di Nusantara sejak pemboran minyak pertama di Cibodas (Jawa Barat) dan pemboran besar-besaran di Langkat (Sumatera Utara), serta temuan minyak bumi yang besar di Kalimantan Timur, Belanda ternyata belum puas dan masih ingin mengeksplorasi minyak bumi di Hindia Belanda, dan Tarakan menjadi targetnya. Pada akhirnya ketenangan masyarakat Tarakan agak terganggu ketika pada tahun 1896, sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) menemukan adanya sumber minyak di pulau ini. Banyak tenaga kerja didatangkan terutama dari pulau Jawa seiring dengan meningkatnya kegiatan pengeboran. Permainan politik Belanda pun berperan penting dalam menghapus kedigdayaan Kerajaan Tarakan pada tahun 1916. Hingga Belanda menguasai sepenuhnya Tarakan mulai saat itu.
    • Mengingat fungsi dan perkembangan wilayah ini, pada tahun 1923 Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang Asisten Residen di pulau ini yang membawahi 5 (lima) wilayah, yakni: Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau. Belanda terus berada di Tarakan dan menyedot hasil minyak bumi hingga tahun 1942. Ketika Jepang memulai ekspansi mereka, Tarakan merupakan kota pertama di Hindia Belanda yang dijajah Jepang pada tahun 1942.
  • Pendudukan Jepang (1942-1945)
    • Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan pasukan Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari dimana separuh pasukan Belanda gugur. Saat itu ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, namun Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944. 
    • Menyusul menyerahnya Belanda pada Jepang, 5.000 penduduk Tarakan saat itu menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan yang berakibat banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai "jugun ianfu" (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.
    • Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat pada tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu. Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia. Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, pasukan Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.
Masa kependudukan Jepang di Tarakan

  • Negara Kesatuan Republik Indonesia
    • Setelah menyerahnya Jepang pada tahun 1945, Indonesia mengklaim kemerdekaannya. Lantas tak serta merta penjajah menerima hal itu. Berita tentang merdekanya Indonesia tak langsung menyebar keseluruh penuru Nusantara karena terbatasnya alat komunikasi. Di Balikpapan saja berita kemerdekaan dibawa oleh para pekerja minyak yang datang dari Jawa. Mungkin di Tarakan juga sama, hanya saya belum mendapat sumber jelasnya. Wilayah Tarakan berada dalam wilayah provinsi Kalimantan setelah merdekanya Indonesia. Lebih tepatnya lagi dibawah keresidenan Kalimantan Timur. 
    • Berturut-turut pada tahun 1956 Tarakan merupakan sebuah kecamatan dalam wilayah kabupaten Bulungan provinsi Kalimantan Timur. Letak dan posisi yang strategis telah mampu menjadikan kecamatan Tarakan sebagai salah satu sentra industri di wilayah Provinsi Kalimantan Timur bagian utara sehingga pemerintah perlu untuk meningkatkan statusnya menjadi Kota Administratif dibawah kabupaten Bulungan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1981. Status Kota Administratif kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-undang RI No. 29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 15 Desember 1997. Tarakan menjadi Daerah Otonom ke 7 di Provinsi Kal-Tim. Tanggal 15 Desember 1997 pun diperingati sebagai Hari Jadi Kota Tarakan. 
    • Seiring dengan perkembangan zaman dan disertai proses yang panjang. Sejak tahun 2012, Kota Tarakan merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Utara, seiring dengan pemekaran provinsi baru tersebut dari Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kaltara. Dan pada 22 April 2013, sesuai dengan Keputusan presiden (Keppres) Republik Indonesia (RI) Nomor 48/2013, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) atas nama Presiden RI saat itu melantik H. Iranto Lambrie sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Kaltara yang setelah itu menandatangani prasasti peresmian Provinsi Kaltara dengan cakupan wilayahnya terdiri dari 4 kabupaten (Nunukan, Tana Tidung, Bulungan dan Malinau), serta satu Kota Madya, yaitu Kota Tarakan.
Tarakan jaman now




Sumber-sumber refrensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tarakan
http://www.getborneo.com/kota-tarakan-kalimantan-utara/ 
http://risky-nurul.blogspot.com/2012/03/asal-usul-kota-tarakan.html
https://www.plukme.com/post/1522247141-runtuhnya-kerajaan-tidung 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur
http://kaltara.prokal.co/read/news/18466-begini-loh-asal-usul-terbentuknya-provinsi-kaltara.html