Sunday, October 15, 2017

Wisata Alam Kutai Kartanegara : Bukit Bangkirai

Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan kabupaten terkaya di Indonesia dengan hasil alamnya yang melimpah. Situs-situs tambang, minyak dan perkebunan hampir sepenuhnya meliputi kabupaten yang memiliki luas 18% dari luas keseluruhan Provinsi Kaltim ini. Sebanding dengan luasnya Kabupaten ini, Kukar juga menyimpan banyak tempat-tempat wisata yang menakjubkan. Mulai dari wisata alam, religi, sejarah, hingga budaya. Event tahunan ERAU contohnya, kerap diadakan oleh Pemkab Kukar bekerjasama dengan Kesultanan Kutai Ing Martadipura. Acara budaya tertua itu diadakan setahun sekali dengan level sampai mancanegara.
Bukit Bangkirai
Salah satu tempat rekreasi yang ada di Kukar adalah Bukit Bangkirai. Bukit Bangkirai merupakan wisata alam sekaligus wisata edukasi yang ada di Kabupaten Kukar. Terletak di Kecamatan Samboja, lokasinya lebih dekat dengan Kota Balikpapan, kurang lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai lokasi ini. Dari Kota Balikpapan melaju melewati jalan poros Balikpapan - Samarinda, hingga menemui pertigaan jalan di KM 37. Belok ke kiri, mengikuti jalan dan petunjuk untuk sampai ke lokasi ini.
Peta Taman Bangkirai

Bukit Bangkirai merupakan objek wisata dengan suasana hutan hujan tropis, hutan yang Indonesia banget. Terlebih di Pulau Kalimantan, yang masih menyandang status sebagai paru-paru dunia. Lokasi Bukit Bangkirai berada di tengah-tengah hutan Kalimantan. Memasuki lokasinya kita harus melewati jalan-jalan situs-situs tambang hingga memasuki area milik perusahaan perkebunan Nasional. Taman wisata hutan Bukit Bangkirai didominasi oleh banyaknya pohon Bangkirai yang tumbuh di area seluas 1500 hektar ini, mungkin itu juga sebagai alasan tempat ini diberi nama Bukit Bangkirai.
Taman Bukit Bangkirai


Pohon Bangkirai sendiri bisa tumbuh setinggi 40 - 50 meter, dengan diameter mencapai 2 meter dan bisa berumur hingga 150 tahun lebih. Selain pohon Bangkirai yang terdapai di taman hutan ini, ada bermacam-macam satwa dan tumbuh-tumbuhan, ini yang tadi saya bilang sebagai wisata edukasi. Dengan melihat langsung ke lapangan, biasanya pelajaran akan lebih mudah terserap kan. Selain itu, Bukit Bangkirai ini juga merupakan hutan konservasi yang memiliki tujuan untuk mengembangkan monumen hutan alam tropika basah. Dan yang memiliki keunikan sendiri adalah tumbuhnya banir (akar papan) yang besar dan kuat menjadikan pohon Bangkirai terlihat indah.
Pohon Ulin
Yang menjadi ikon dari taman hutan Bukit Bangkirai ini adalah jembatan gantung (Canopy Bridge), yaitu jembatan yang dibuat dengan ketinggian 30-40 meter yang menghubungkan antara 5 pohon Bangkirai. Untuk menuju tempat ini, telah disediakan jalur yang sedikit menanjak, melewati hutan dan dikelilingi pohon-pohon besar ratusan tahun. Di beberapa pohon juga diberi plang nama lengkap dengan nama latinnya. Selama perjalanan, kita ditemani oleh suara-suara alam nan indah, jika beruntung kita bisa melihat satwa-satwa yang hidup dengan bebasnya. Ditengah-tengah perjalanan juga disediakan gubuk untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Aneka tumbuhan sepanjang jalur menuju Canopy Bridge
Jembatan gantung ini merupakan tempat untuk uji adrenalin sebenarnya. Untuk menuju ke jembatan ini, kita harus menaiki menara yang terbuat dari kayu ulin yang menempel di pohon Bangkirai, ada dua menara pohon yang dibuat. Bagi yang ada masalah dengan ketinggian, melewati tempat ini merupakan kegiatan spot jantung yang bikin nyawa sudah berada di ubun-ubun. Sebaliknya, jika kita tidak memiliki masalah dengan ketinggian, bisa melewati jembatan ini dengan aman dan tentram sambil menikmati pemandangan hutan hujan tropis alami dari ketinggian di bumi Borneo ini. 
Taman Bangkirai
Canopy Bridge ini merupakan yang pertama di Indonesia, kedua di Asia, dan kedelapan di dunia. Konstruksinya dibuat di Amerika Serikat, aman dari segi keamanan dan keselamatan. Saya mecoba melewati jembatan ini, awalnya takut, namun setelah itu hilang, tertutupi oleh decak kagum akan indahnya alam yang terpampang luas di depan saya. Excelent bin amazing bin warbiyasaak!
Canopy Bridge
Selain wahana jembatan yang membuat spot jantung tadi, ada beberapa fasilitas lain yang terdapat di taman hutan Bukit Bangkirai ini. Tempat parkir yang luas, ruangan untuk pertemuan yang muat 100 orang, cafe dan toko souvenir, camping ground, taman anggrek, ada juga homestay dan jungle cabin bagi kita yang ingin menginap dan menikmati tempat ini lebih lama, dan juga terdapat mushala yang adeem banget. Wahana lain adalah arena outbond dan perahu kecil untuk kita bermain di sungai kecil buatan di arena outbond. Masuk ke lokasi ini dikenakan retribusi sebesar total lebih kurang 30.000 rupiah (lupa detailnya), sudah termasuk biaya parkir mobil, biaya masuk dan canopy bridge.
Mushala Nurul Sajaroh, Bukit Bangkirai





Sumber :
http://www.getborneo.com/bukit-bangkirai-kalimantan-timur/
http://www.kutaikartanegara.com/wisata/bukitbangkirai.html

Friday, August 18, 2017

Batu Alif, Pesona Sang Legenda

Siapa yang tak kenal Taman Batu Alif / Alif Stone Park. Komplek bebatuan ini berada di Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur. Taman batu ini merupakan pelopor tempat wisata baru di Natuna. Sebelumnya masyarakat Natuna "hanya" mengetahui tempat wisata adalah pantai Teluk Selahang, Pantai Cemaga dan beberapa pantai lain yang sudah "tersedia". Namun Alif Stone Park ini menyajikan sajian yang berbeda, wisata bebatuan granit yang memang sudah ada namun kurang maksimal dimanfaatkan. Bebatuan granit banyak tersebar di Natuna, baik di pantai maupun di gunung. Ukurannya beragam, mulai dari kecil hingga sebesar gedung. 
Alif Stone Park, foto diambil tahun 2012
Alif Stone Park merupakan salah satu dari sekian banyak hamparan batu granit di pantai yang Natuna miliki. Saya ingat, ketika tahun 2004-2006 (mohon koreksi jika keliru) saya melihat brosur taman ini di kantin sekolah. Media promosi sederhana yang kala itu internet belum banyak yang mengenal, apalagi di tempat saya. Taman Batu Alif dikelola oleh swasta, adalah bapak Both Sudargo yang mengelola tempat tersebut. Beliau pandai betul membaca situasi potensi wisata di Natuna.

Saya baru sadar, ternyata dulu saya pernah piknik di sini bersama teman-teman, namun tempat ini belum seterkenal sekarang. Taman Batu Alif terletak di Desa Sepempang, tidaklah sulit menemukan tempat ini, disisi kanan jalan jika kita jalan dari pusat kota Ranai. Tumpukan bebatuan yang besar yang menyambut perjalanan kita ketika akan memasuki Desa Sepempang itulah lokasi Taman Batu Alif.

Penamaan Taman Batu Alif bukanlah tanpa sebab, adalah batu berukuran besar yang tegak berdiri layaknya huruf Alif, huruf pertama dalam susunan huruf bahasa Arab menjadi alasan tempat ini bernama Alif Stone Park. Saat saya pergi kesini untuk pertama kali dahulu yang ada hanya satu pondok kecil dan antara bebatuan dihubungkan semen menyerupai dinding. Tahun demi tahun berlalu, melalui media sosial saya memperhatikan Alif Stone Park sangat gencar melakukan perubahan disana-sini.  

Monumen "woodhenge" Batu Alif. 😃
Tahun 2012 saya menyempatkan bermain di Taman Batu Alif ini, memang sudah banyak perubahannya, saat itu era media sosial sudah bangkit sehingga Alif Stone Park sudah banyak dikenal hingga keluar. Bahkan tempat ini selalu menjadi tempat wajib yang dikunjungi peliput-peliput dari TV Nasional ketika sedang meliput di Natuna. Tiap kali mudik saya ingin sekali bermain kesini, namun karena waktu mudik yang tidak lama, ditambah dengan banyaknya kegiatan, mengunjungi Alif Stone Park hanya tertulis dalam draft yang tidak dicoret, karena tak kunjung didatangi. Baru kemarin, saat mudik lebaran 2017 saya dan adik menyempatkan diri berkunjung kesana.

Taman Batu Alif benar-benar serius memake-up dirinya, guna mendukung pesatnya perkembangan pariwisata di daerah Natuna, serta menjadi alternatif wisata "Pantai Batu" yang saat ini sudah banyak menunjukkan dirinya. Namun tak seperti yang lain, Taman Batu Alif melakukan make upnya dengan matang. Setelah hampir 12 tahun sejak promosinya yang pertama. Kini Taman Batu Alif menjadi taman batu yang indah, disela-sela bebatuan dibuat jalan bagai lorong-lorong gua, tanaman-tanaman hias dibudidayakan dan disusun sedemikian rupa layaknya sebuah taman, pokoknya instagramable banget lah. Bahkan sudah ada homestaynya disini. Dengan fasilitas yang siap memanjakan kamu jika ingin menginap di Taman Batu Alif dengan biaya 800.000 per malam.
Penunjuk arah -ke hati mu-

Kinipun di sekitaran taman sudah diberi pagar. Saat masuk, monumen Jungkong yang disusun ala-ala Stonehenge di Inggis sudah mengucapkan selamat datang kepada kita. Karena monumennya dari kayu bukan batu, bolehlah kita sebut dengan woodhenge, wkkwkwk. Berjalan masuk kedalam kita melewati gerbang yang instagramable, ada dua jalan setelah gerbang masuk, lurus menuju homestay, dan belok kanan untuk menuju taman. Kami memasuki taman (karena gak ada uang mau ambil homestay), dan dikenakan biaya 5.000 perorang, untuk biaya perawatan dan kebersihan katanya. Jumlah yang sepadan mengingat taman Batu Alif ini sangat bersih dan tertata rapi.
 
Tanaman hias, dan Batu Bertanya, serta lafadz Allah pada Batu Bertanya
Plang penunjuk arah adalah objek yang pertama kali saya lihat ketika masuk. Dari papan tersebut, terdapat papan-papan penunjuk lokasi-lokasi wisata di 2 arah yang berbeda, satu arah ke taman kupu-kupu dan batu bertanya. Arah yang lain menunjukkan ke arah bebatuan di pantai yang terdiri dari kerangka paus, ayunan laut dan pemandangan pantai. 
 
Saya memilih untuk menuju ke arah taman kupu-kupu dan batu bertanya terlebih dahulu, menyusuri bongkahan-bongkahan batu granit yang sudah alam "susunkan" dan melewati tanaman-tanaman hias yang tertata rapi dan indah, cahaya matahari menyelinap disela-sela daun kelapa yang batangnya tinggi menjulang. Tak sebegitu jauh dari simpang penunjuk arah tadi, ada tanah yang cukup luas, juga di sini tempat berakhirnya jalan semenisasi yang dibuat, ujung jalan dibuat bulat, serta ada panah penunjuk arah kesebuah bongkah batu yang "bertumpak", tulisannya adalah Asking Stone (Batu Bertanya). 

Penampakan Homestay dari samping, dan Kerangka Ikan Paus.
Saya mendekati batu itu sambil bertanya-tanya kenapa namanya batu bertanya? Namun hanya selintas saja pertanyaan itu menggema direlung tanda tanya saya, dan akhirnya sebuah tanya terjawab kenapa namanya batu bertanya. (bingung sendiri gueh nulisnya). Batu Bertanya yang berada di taman Batu Alif ini hanya merupakan beberapa tumpukan batu seukuran sedang, namun pahatan alami pada batu tersebut menyerupai tulisan Allah dalam huruf arab. Mungkin inilah Batu Bertanya itu ya. Kenapa namanya Batu Bertanya sementara tidak ada tulisan atau tanda yang menunjuk ke arah atau simbol "tanya?", makanya itu namanya batu bertanya. (bingung lagi kan). wes ah skip jek. Wkwkwk.

Setelah dari Batu Bertanya yang penuh tanda tanya serta membuat kita bertanya-tanya tadi, saya menuju ke arah pantai. Dari simpang tempat penunjukan arah tadi, menuju arah pantai dan kembali melewati lorong yang dibuat oleh tumpukan-tumpukan batu granit, melewati sisi homestay, dan kerangka paus. Konon kerangka ini berasal dari ikan paus (ya iyalah) yang mati terdampar di pantai Pengadah sekitar tahun 2007 lalu. Kerangkanya dipajang di sini. Setelah melewati tempat tadi, barulah pesona Batu Alif yang memanjakan mata dan terkenal itu tampak. Susunan bebatuan yang terhampar di lautan serta tumpukan-tumpukan batu berbagai ukuran menghiasi alam serta Pulau Senua yang nampak dari jauh menjadi pelengkap panorama alam di taman batu ini.
Ayunan Laut kekinian.
Antar bebatuan dibuat jembatan sebagai penghubung. Spot-spot foto yang instagramable dibuat untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke sini. Ayunan lautpun (yang memang sedang trend di beberapa tempat wisata pantai Indonesia) dibuat dengan dekorasi sederhana namun berkesan. Kemudian disalah satu batu dipasang bendera merah putih, -sepertinya hal yang menarik, untuk setiap tempat wisata di Natuna dipasang bendera Merah Putih, selain sebagai objek foto wisatawan, juga mendandakan setianya kita kepada NKRI, cieeileeh-. Lalu ada semacam hall of fame, gate kecil dibuat semacam frame foto dengan tulisan welcome to Alif Stone Park dengan latar belakang Batu Alif yang menjadi ikon utama.
Spot foto instagramable

Pesona Batu Alif
Di sini kita bisa berenang sepuasnya, namun hati-hati dengan jenis-jenis mahkluk hidup yang menempel di bebatuan yang terendam laut, biasanya tajam dan dapat melukai hati kaki. Ada juga penyewaan alat-alat snorkling jika ingin menikmati surga bawah laut Natuna, dan juga penyewan kano dengan biaya 2.5000/jam jika ingin bermain laut namun tak ingin berbasah-basahan. Selain itu, dikala senja Batu Alif juga merupakan spot foto unik yang bertema sunset dan siluet. Sebuah tempat yang one for all banget di Natuna ini.
Last, but not least, siluet sunset bareng adek puan semata wayang. Batu Alif.
Setelah mendapatkan beberapa gambar, dan berhubung mataharipun sudah beranjak keperaduannya. Kami pun segera pergi karena malam sudah hampir tiba, -pamali orang-orang tua dulu bilang kalau magrib masih di luar rumah-. hhe. Belum puas memang, karena masih dibilang sebentar dan belum mencoba semua fasilitas disini. Namun setidaknya bisa mengobati rasa pensaran saya akan tersohornya taman Batu Alif yang melegenda ini. Juga ada bahan untuk pamer dengan rekan-rekan di KalTim dan dimana pun tempat saya merantau nanti.
 
So, enjoy Natuna!!!








More info tentang Alif Stone Park, bisa langsung kepoin medsosnya di : 
FB : facebook.com/alifstoneparknatuna/
IG : @alifstoneparknatuna
Telp : 0812 2605 8197


Wednesday, August 16, 2017

Sejuba yang Kian Mempesona

Perkembangan teknologi saat ini sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Bahkan penggunaannya merupakan kebutuhan primer sebagian masyarakat. Salah satu teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah penggunaan jejaring media sosial. Media sosial sangat menjamur penggunaannya di negeri ini. Hal ini jika dimanfaatkan dengan baik maka akan menghadirkan hasil yang positif pula. Media sosial sangat ampuh digunakan sebagai ajang promosi. Mengenalkan produk, dan mengshare berbagai tempat baru yang kerap dilakukan oleh para penggiat media sosial. Hasilnya sangat ampuh untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Dan untuk menyeimbangkan hal tersebut, berbagai tempat wisata juga berlomba mempercantik diri agar lebih instagramable guna mendapat endorse gratis yang apik dari pengguna media sosial. Ini dilakukan tak lain adalah untuk membuat spot foto yang bagus yang kelak akan diposting ke akun media sosial para netizen. Para penggiat media sosial rata-rata mengupload foto lokasi wisata ini dengan tujuan mempromosikan tempat wisata baru, dan syukur-syukur foto mereka akan direpost oleh akun resmi para traveler Indonesia bahkan dunia dan juga dari kementrian pariwisata dan akun-akun lain yang berpengaruh serta memiliki banyak followers.
Perbandingan foto pantai Sejuba setelah 3 tahun.
Salah satunya adalah pantai Sejuba. Pantai Sejuba masuk dalam wilayah administrasi Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur. Pantai yang terletak di perbatasan dengan Kecamatan Bunguran Timur Laut ini memiliki susunan dan tumpukan-tumpukan batu yang cantik. Tumpukan bebatuan granit khas pantai Natuna. Sebagian sebut bebatuan ini sebagai batu bersantai. Saya terkahir ke pantai ini tahun 2014 lalu dan sempat mengambil beberapa gambar. Setelah lama tidak kesana, akhirnya saat mudik lebaran kemarin menyempatkan diri bermain kembali ke pantai ini.
Pantai Sejuba

Pantai Sejuba, versi kekinian.


Ada banyak perubahan ternyata, pantai Sejuba terkena virus kekinian dengan memoles bebatuan-batuannya. Tumpukan-tumpukan batu yang terhampar dari bibir pantai hingga agak ke tengah laut digabungkan dengan jembatan-jembatan kayu yang dibuat. Sementara di batu terakhir ditancapkan tiang, lengkap dengan kibaran bendera merah putihnya. Ada juga ayunan yang dibuat di laut. Juga sedang dibuat pondok untuk beristirahat yang masih dalam pengerjaan. Tumpukan-tumpukan batu ini sebenarnya memiliki nama, ada yang sudah bernama dari dulu, juga ada yang diberi oleh remaja hits kekinian.
Bendera Merah Putih

Tambahan ayunan laut yang kekinian banget
Masih di sekitaran Sejuba, ada tumpukan batu yang diberi nama Batu Cinta, dan saya yakin sebenarnya bukan ini nama aslinya. Entah motivasi apa mereka memberikan nama ini. Hhe. Hamparan bebatuan ini juga tak kalah bagusnya dengan bebatuan yang ada di tetangganya. Lalu bergeser lagi ke utara, ada pelabuhan nelayan yang juga instagramable banget. Pelabuhan sepanjang kurang lebih 200 meter ke laut ini dihiasi oleh bebatuan granit di pantai dan laut serta memiliki air yang jernih, dengan latar belakang gunung Ranai yang gagah berdiri. Tempat ini menjadi lokasi hunting favorit anak hits Natuna untuk diupload ke media sosial. Saya jadi ikut-ikutan untuk mengambil gambar di sini, dengan bekal action cam pinjaman punya adik, jepret-jepret deh, dan hasilnya not bad lah, meski belum kaya yang pro pro gitu. Lumayan dapat 100 lebih like. Jek pade ndek. wkwkwk
Ngandiel foto