Friday, August 23, 2019

HDS, Tempat Nongkrong Kekinian Warga Kawasan +62 773

Padahal, rasanya belum lama saya tinggalkan kota kelahiran yang tercinta ini. Namun setiap mudik selalu ada saja perubahannya. Memang, sejak merantau 10 tahun lalu, rata-rata saya pulang kampung 1 tahun sekali yakni saat idulfitri saja. Mengingat jauhnya jarak antara kampung halaman dengan tempat merantau yang membuat saya tak bisa sering-sering mudik.

Perubahan yang terjadi di kota kecil ini beragam, mulai dari banyaknya proyek-proyek pembangunan, lahirnya tempat-tempat wisata baru, hingga "fasilitas penunjang" makhluk milenial seperti tempat nongkrong. 

Saat museng-museng di sekitaran kota, banyak saya temukan kios-kios kecil tempat enterpreneur muda memulai bisnis hingga kafe-kafe dengan konsep unik. Diantaranya ada yang menarik mata, ia adalah Hari Dah Sore, HDS.

HDS merupakan tempat nongkrong kekinian anak muda Ranai jaman now. Desain kafe yang unik, serta letak yang strategis ditambah lagi dengan free Wi-Fi menjadikan kafe ini sebagai the most favourite place for nongkrong-nongkrong bagi penduduk +62 773 ini.
dah buka neeh. doc : HDS crew
Kafe Hari Dah Sore, penggagasnya terdiri dari tiga orang, Dedi, Sadam dan Halim. Sadam dan Halim adalah teman lama saat dari sekolah dulu yang mencoba dunia bisnis kuliner dengan membuka kafe ini. HDS merupakan nama yang dipilih dari beberapa nama yang ada. Bukan tanpa alasan, ternyata sang owner punya filosofi tersendiri mengenai nama ini, yang sampai sekarang masih disimpan dalam hati.

HDS berlokasi di jalan Soekarno Hatta, di seberang Pantai Tanjung Sebung / Pantai Kencana, Ranai. Ini yang saya bilang strategis. Pusat kota, di tepi jalan, desain oke. Itu yang membuat HDS melesat menjadi pilihan utama mudamudi untuk hang out.

Sejak dibuka setahun yang lalu, kafe ini selalu penuh oleh pengunjung. Terutama saat malam hari. Saya memantau melalui akun instagramnya (@haridahsore) yang selalu update memposting kegiatan-kegiatan di kafe. Banyaknya pengunjung ini tak lepas dari ide-ide kreatif crew yang mendekorasi kafe dengan sangat kekinian. Konsep kafe outdoor dengan dengan susunan meja dan kursi yang rapi, serta tambahan lampu-lampu hias + poster-poster tulisan yang oke-oke punya membuat kita nyaman berada disini, cozy. Ada bangunan kecil di pojok HDS dimana di situ tempat segala macam menu diracik, juga tempat nongkrongnya kasir. Dan sepertinya akan ada fasilitas tambahan di HDS ini, terlihat dari beberapa pojok tempat yang mulai dibersih-bersihkan, we'll see yew.

Ragam menu tersedia di sini. Mulai dari snack khas nongkrong-nongkrong, hingga makan berat "ala nongkrong" juga tersedia. Makanan sejuta umat, apalagi anak kost : nasi goreng. Namun nasi goreng HDS ini beda, coba saja pesan biar tahu rasanya, saya kurang ahli dalam mendeskripsikan rasa. 😀
Nasi Goreng Serai / HDS, (doc : HDS crew)
Dari "sektor" minuman, juga tak kalah enak. Dari kopi hingga milk shake tersedia disini. Pengen nongkrong lama, bisa pesan kopi panas biar minumnya sambil nyeruput-nyerupu asyik dengan rekan-rekan. Tapi jangan lupa juga untuk mencoba es kopi susunya. Rasanya bisa merubah mood dan bisa jadikan nongkrongmu makin bermakna. 
Mocha Ice, (doc HDS crew)

Hot Capuccino and Ice Lemon Tea, (doc : HDS)
Untuk memperpanjang obrolan, bolehlah pesen makanan ringan ringan lagi sebagai pelengkap "buel nabuk", ada sosis hingga pisang goreng, dan beragam menu makanan ringan tersedia di HDS tinggal pilih, tunggu datang, dan kunyah. Nyam nyam.
Pisang HDS capucino, (doc : HDS crew)

Sosis goreng, (doc : HDS crew)
Ohya, soal harga, jangan khawatir. Harga menu makanan dan minuman di HDS bervariasi dan dijamin sesuai dengan saku dan berbanding lurus dengan kualitasnya. HDS buka mulai dari jam 5 sore hingga tutup, biasanya tutup hingga dinihari. So, what are you waiting for? Jom cah wel kat HDS.
Baru buka tjoy, (doc : HDS crew)

Tuesday, July 9, 2019

Balikpapan, Terimakasih

Bercerita tentang pertemuan, tentu ada perpisahan yang mengikuti. Dua kejadian ini merupakan satu paket dalam kehidupan yang tak bisa dipisahkan. Hanya saja masih menjadi misteri soal waktunya, kapan hal itu akan terjadi. Yah begitulah hidup, barangkali.
sumber : youtube.com
Tentang Balikpapan, kota minyak ini merupakan salah satu dambaan para perantau, untuk ditaklukan. Banyak perusahaan-perusahaan dan besarnya peluang untuk bekerja membuat kota ini kian hari semakin ramai dan padat didatangi oleh makhluk sosial yang bernama manusia dari berbagai penjuru negeri.

Saya salah satunya. 

Sejatinya kedatangan di Balikpapan bukanlah keinginan saya sepenuhnya. Bermula dari dinas kantor pertengahan tahun 2015, Balikpapan merupakan daerah di Provinsi Kalimantan Timur yang pertama kali saya datangi. Sepadan, karena ia merupakan pintu masuk segala jenis transportasi utama ke bumi energi ini. Tidak lama di Balikpapan saat itu, dinas kantor hanya beberapa hari saja. Puncaknya adalah akhir 2015, dibuktikan dengan surat tugas dari kantor, saya dirotasi dari kantor pusat di Jakarta menuju Balikpapan untuk mengisi kekosongan karyawan pada unit bisnis yang baru dibentuk.
First time in Balikpapan, 2015
Saat itu perjalanan ke Balikpapan terasa berbeda, saya harus mengatur ulang mindset saya. Yang dulu hanya pergi dinas, namun sekarang adalah bakal menetap di Balikpapan dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Sebelum berangkat, saya sudah gugling dulu tentang kota ini, apa saja yang ada di dalamnya. Wisata, komunitas, transportasi, kost bahkan biaya makan. Tak lupa juga saya menghubungi teman-teman alumni kampus yang barangkali ada yang bekerja dan berdomisili di Balikpapan.

Ternyata Balikpapan juga menyenangkan, teman-teman kerja yang baru, tempat nongkrong baru, komunitas baru hingga keluarga baru saya dapati disini. Dan dari Balikpapan pulalah, batu loncatan bagi saya untuk "menjelajah" sebagian tempat di Kalimantan. Sulawesi sebenarnya juga masuk dalam list, namun sampai pulang kampung ini belum pernah saya menjejakkan kaki di Pulau Rempah-rempah itu. 

Teman dan Keluarga Baru
Saat membuka unit bisnis baru, perusahaan juga merekrut beberapa orang untuk dijadikan karyawan. Diutamakan yang berdomisili di Balikpapan dan sekitarnya. Setelah melalui berbagai proses, didapatlah Pak Bro Salim, Gilang, Jono, Ahmad, Arnold, Ardy, Nanda dan Indra, yang merupakan karyawan baru perusahaan dan menjadi partner kerjaku di Balikpapan. Mereka kesemuanya asyik dan gokil, mengerti sekali diriku sebagai satu-satunya "orang baru" di Balikpapan.
Partner Kerja
Beberapa dari kami juga intens bertemu di luar jadwal kantor hanya untuk sekedar nongkrong dan bahkan menjelajahi berbagai tempat di seputaran Balikpapan. Nongkrong, nobar, ke pantai, sampai pergi ke rumah tua angker -sebagai bahan untuk ngisi blog- pun mereka temani. Balikpapan, selain kaya akan sumber daya alamnya, ia juga menjadi saksi bisu beberapa peristiwa besar saat penjajahan hingga kemerdekaan dulu. Tak heran, banyak peninggalan bersejarah yang berada di tempat ini.
Halan-halan

Komunitas Baru
Indobarca Chapter Balikpapan. Ini merupakan komunitas pertama yang aku "susupi" ketika di Balikpapan. Sebagai pecinta -bukan fanatik- klub Catalan tersebut, aku selalu mencari komunitas ini di tempat dimana aku merantau setelah pertama kali bergabung di Indobarca Jogja saat kuliah dulu. Sebenarnya masih mencari komunitas Melayu Kepri disini, namun belum juga menemukan titik terang. IBCB (Indobarca Chapter Balikpapan) pertama ku lihat lewat twitter, lalu chat adminnya. Singkat cerita langsung diajak ikut kopi darat (kopdar). Kopdar IBCB pertama dulu merupakan waktu yang pas, dimana saat itu anggota komunitas sedang rapat guna membahas musyawarah chapter. Berkat pengalaman organisasi saat kuliah dulu, aku dapat memberi beberapa masukan kepada peserta rapat yang 90% tidak kukenal, namun akhirnya akrab bak konco kentel.
Indobarca Balikpapan
Komunitas kedua, Ikatan Alumni Kampus - Chapter Balikpapan, sudah lama menunggu momen ini. Karena di kota yang banyak perusahaan tambang dan minyak, alumni kampus ku pasti banyak. Hanya saja dulu tidak tahu harus menghubungi siapa untuk dapat bergabung dengan alumni kampus energi ku ini. Perkenalan dengan beberapa "pentolan" alumi mengantarkanku pada petualangan baru : resign dan pindah kerja. Di Ikatan Alumni pun aku dipercayai sebagai sekretaris organisasi. Dari sini pulalah, aku banyak mengenal dengan para alumni baik yang seangkatan sampai dengan sesepuh kampus. Bertukar ide, bertukar cerita dan penglaman. Tak salah memang ketika jadi maba dulu, saah satu senior mengatakan kampus ini memiliki ikatan alumni yang solid, dimanapun berada. Dan itu terbukti dan sangat terasa bagiku di negeri rantau ini. Alhamdulillah.
Ikatan Alumni Kampus, tetap menggema di udara

Balikpapan : Batu Loncatan 
Tercatat selama di Balikpapan, saya pernah mengunjungi -baik sekedar hang out maupun dinas- beragam tempat di Kalimantan. Samarinda, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser, Bontang, dan Berau, sudah ada jejak kakiku disana. Tanjung Tabalong dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Barito Timur di Kalimantan Tengah. Bahkan sampai menetap di Tarakan, lalu jalan-jalan ke Tanjung Selor dan Pulau Bunyu di Kalimantan Utara.
Masjid Agung Penajam Paser Utara, 2017
Tempat-tempat baru ini memberikan pengalaman yang baru pula padaku. Mengenal berbagai bahasa dan budaya, kebiasaan dan tradisi. Setidaknya akan ada bahan ceritaku kelak ke anak cucu, sebelum sampai waktuku. Luas dan indahnya alam Indonesia yang harus kita syukuri karena telah menjadi bagian dari semestanya.
Pasar Terapung, Sungai Barito, Banjarmasin, 2016
Kesemuanya ini merupakan pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Balikpapan hampir mengajarkannya dengan sempurna. Menjadi pelengkap puzzle-puzzle cerita hidup merantau, menjadi penambah rangkaian cerita hidup di luar pulau. 
Situs Sejarah PD II, Peningki Lama, Tarakan, 2017


----------

Balikpapan, mungkin ceritanya belum usai, namun untuk saat ini kuanggap telah selesai. Barangkali sejenak menutup buku, untuk kelak akan terbuka lagi dengan lembaran baru. Sebab hidup adalah tentang menghargai masa lalu, menghadapi saat ini, dan bergerak maju menuju perjalanan baru. 



Dari Perbatasan Utara Indonesia,
Balikpapan, Terimakasih.

Wednesday, June 26, 2019

Lamaru, Wisata Pantai dan Jejak Jepang di Timur Balikpapan

Hampir tiga tahun saya pernah numpang hidup di kota minyak dan baru kali ini saya pergi mengunjungi pantai yang konon merupakan yang terbaik di Balikpapan. Ya minimal versi eike lah ya. Hmmm, selain tak sempat waktu, saya juga sudah terdoktrin oleh rekan-rekan di Balikpapan tentang harga masuk pantai ini yang agak "wow" dari wisata pantai-pantai lain yang ada di Balikpapan. Maka dari itu, sejak dulu saya belum pernah kesini. Dasar sobat misqueen, dasar aku.

Ho'oh, apalagi kalau bukan pantai Lamaru. Pantai yang terletak di daerah Lamaru, Balikpapan Timur ini bertetanggaan dengan pantai Manggar Segara Sari yang udah saya kunjungi dan juga sudah saya tulis diblog diawal-awal masa perantauan saya di kota minyak ini.

(Baca Pantai Manggar

Pantai Lamaru terletak sekitar 25 km dari pusat Kota Balikpapan. Atau sekitar 2 km dari pantai Manggar. Transportasi menuju kesini sangat mudah. Bisa dengan kendaraan pribadi, maupun transportasi umum. Kalo saya kemarin kesini nebeng mobil orang, karena ikut acara liburan keluarga. Hhaha. Perjalanan kami mulai dari Tenggarong selama kurang lebih 2,5 jam. Kalau dari Balikpapan kurang lebih 30 menitan saja.
Pantai Lamaru, Balikpapan

Biaya :
Biaya masuk pantai ini dikenakan 20k/orang diluar ongkos kendaraan. Untuk mobil dikenakan 20k, sedangkan roda 2 dikenakan 5k. Bagi yang menginap atau camping , dikenakan biaya 100k/orang, bagi yang mau foto pre-wedding dikenakan biaya 500k. Begitu lah kalau saya gak salah lihat ye.

Nah, 20k itu lah yang temen-temen saya bilang lumayan mahal untuk biaya masuknya. Dibanding dengan biaya masuk objek wisata pantai lain di Balikpapan. Tapi "sesuai" dengan fasilitas yang ada nanti, begitu kata temen-temen tadi melanjutkan omongannya. Emang ia juga sih menurut saya. Apalagi saya yang dari kampung di sana kalo ke pantai gak pernah bayar, mana cantik-cantik lagi pantainya. Makanya agak kaget saat tau biaya masuk pantai ini. Tapi saya penasaran dengan fasilitas yang ada di dalamnya. Hmmmm.
Pohon Pinus di sekitaran pantai
Setelah membayar tiket masuk, kami berjalan menuju pantai, bermobil maksudnya. Jarak dari gerbang masuk menuju pantai lumayan jauh. Sekitar 800an meter. Ditemani oleh pohon-pohon pinus dan jalan pasir keras berbatu. 

Fasilitas :
Setelah sampai, baru saya menyadari mengapa biaya masuknya agak "wow" gini. Pertama karena memang pantai ini dikelola oleh swasta, bukan pemerintah. Kedua, pantainya bersih gilaaa. Rapi dan teratur. Pohon pinus (yang memang menjadi khasnya pantai-pantai di pesisir timur Kalimantan ini) ditanam dengan rapi sehingga ia tumbuh dengan rapi pula, bangunan-bangunan fasilitas pendukung bisa kita jumpai disini, seperti aula terbuka, kantor informasi, gazebo, toilet dan tempat bilas gratis, dan tempat jualan makanan dan souvenir yang sudah teratur letaknya. Pantai ini juga punya klinik dan mushala. Juga dilengkapi dengan CCTV dan WiFi donk ya. 
Ragam fasilitas di Pantai Lamaru
Beberapa wahana lain juga tersedia seperti flying fox, sewa mobil golf, area berkuda (sepertinya). Di sekitaran pantai banyak orang-orang yang menyewakan pelampung, alat main pasir pantai dan layang-layang. Saya tidak sempat eksplor banyak tempat di pantai ini, (maklum gantian momong anak). Hanya sedikit spot saja yang bisa saya ambil gambarnya.

Jejeran pohon pinus yang tumbuh di sekitaran pantai menjadi daya tarik tersendiri bagi pantai Lamaru. Membuat teduh pengunjung, sambil bisa pasang hammock dengan mengaitkan antara 2 pohon, tidur-tiduran tampan sambil menikmati angin pantai timur Balikpapan. Keindahan pepohonan pinus yang tumbuh di sepanjang pantai ini juga jadi incaran bagi para penyuka fotografi atau para pengejar "like" di media sosial. Deretan pepohonan pinus yang tumbuh ini sebagai spot foto yang instagramable nan eksotis bingitz untuk dipajang bin upload dimedsos. Tak ayal, pihak pengelola bahkan memasang tarif khusus bagi para calon pengantin yang ingin foto pre-wedding disini.
Deretan "mobil golf" siap disewa

Gazebo Pantai Lamaru
Selain pepohonan pinus yang indah, pantai Lamaru juga memiliki pasir putih dengan pantai yang landai. Berada di sebelah timur pulau Kalimantan membuat pantai ini secara otomatis langsung mendapat "cipratan" ombak Selat Makassar. Ombak yang tak begitu besar sehingga aman untuk berenang meski juga harus dengan bimbingan orang tua. Atau kita juga bisa bermain di pinggir pantai sambil mencari kerang, kelomang atau mengumpul cangkang-cangkang kerang untuk dibuat kerajinan tangan. Anjungan pemboran dan tongkang pengangkut batubara yang tampak dari kejauhan menjadi pemandangan tambahan saat berkunjung kesini.
Kantor Pengelola

Wahana Flying Fox
Wisata Alam dan Wisata Sejarah
Selain pinus dan pantai berpasir putih, di pantai sini juga bisa kita temukan situs sejarah perang lho. Yeay. Ada benteng Jepang yang berada tepat di samping kantor pengelola. Benteng berbentuk segiempat berukuran sekitar 2 x 2 meter itu masih kokoh berdiri meski tinggal setengahnya yang tersisa. Barangkali hancur saat perang, atau termakan usia.

Peninggalan sejarah di kawasan sini memang banyak. Menurut akun instagram @bppn_doeloe yang saya follow, kawasan Manggar dahulu merupakan kota jadoel saat masa kolonial hingga perang. Bahkan konon ada Bandara juga disini. Terbukti dari fot-foto jadoel yang kerap diposting @bppn_doeloe dan temuan-temuan situs sejarah oleh warga. Monumen kuburan Jepang juga bisa Kita temui disini, letaknya sekitaran 5km dari pantai Lamaru. Juga pernah saya kunjungi dan saya tulis disini saat awal-awal berada di Balikpapan beberapa waktu lalu.
Benteng Jepang


Melihat sisa benteng peninggalan Jepang, saya langsung teringat dengan Tarakan Tempo Doeloe, sebuah komunitas pecinta sejarah di Tarakan yang saya dirikan bersama beberapa rekan di Tarakan kemarin. Memang secara sejarah, antara Balikpapan dan Tarakan tak jauh berbeda. Mulai dari yang hanya area kosong lalu berubah menjadi Kota karena temuan minyak, masa invasi Jepang, hingga pembebasan perang oleh tentara Australia. Maka dari itu, situs-situs sejarahnya pun tak jauh berbeda, seputaran Bunker, pillbox, benteng, dan lain lainnya yang masih banyak bisa ditemukan.

Mungkin ada lagi situs lain di sekitaran Lamaru ini, hanya saja waktu saya yang terbatas untuk mengeksplor lebih lanjut ke tempat-tempat lainnya. Saya juga tak sempat menikmati fasilitas-fasilitas lain seperti flying fox, mungkin karena bukan weekend makanya tidak dibuka (pergi hari selasa). But overall, masukkan Pantai Lamaru ini dalam list kunjungan wisata kalian di Balikpapan ya, gak nyesel dah. Sip. Bhay!