Saturday, December 22, 2018

HUT Tarakan : Gelar Adat Budaya Dumud dan Seruput Kopi Aceh

Desember ini merupakan bulan penting bagi kota Tarakan. Sebab, tanggal 15 Desember lalu merupakan hari jadi kota Tarakan yang pada tahun 2018 ini telah menginjak usia 21 tahun. Sebuah usia yang masih boleh dibilang baru "baru" bagi sebuah kota. Dalam rangka memperingati hari jadinya ini, beragam acara diselenggarakan oleh pemerintah mulai dari acara hiburan yang mendatangkan artis ibukota di Taman Berkampung, hingga gelaran adat budaya dan pesta rakyat -semacam pasar malam- yang diselenggarakan di jalan Agus Salim di dekat Masjid Agung Al-Ma'arif.

Gelar Adat Budaya Dumud
Saya lebih tertarik untuk ke acara gelaran budaya ini, selain ingin melihat lebih jauh tentang budaya Tidung suku asli Tarakan, disini juga banyak berdiri stan-stan orang yang berjualan, mulai dari pakaian hingga kulineran, lumayan kan bisa jajan-jajan. Setelah shalat magrib di Masjid Agung Al-Ma'arif saya langsung menuju ke lokasi acara yang terletak persis di sepanjang jalan samping masjid. Ternyata gelaran budaya baru akan dimulai ba'da isya. Maka dari itu, saya melanjutkan eksplorasi untuk mencari jajanan saja. 
Gapura Gelar Adat Budaya Dumud
Dumud berarti di darat, daratan. Pengaplikasiannya lebih ke sosial budaya masyarakat. Satu lagi adalah Tengkayu yang berarti Laut, Iraw Tengkayu, merupakan salah satu acara besar adat 2 tahunan suku Tidung, mungkin sama dengan adat Erau di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Acara Gelar Adat Budaya Dumud yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 22 Desember ini diselenggarakan oleh GAWAS (Gabungan Warga Selumit). Hampir separuh jalan Agus Salim di Selumit ini digunakan untuk pagelaran acara. Berawal dari gapura besar bernuansa merah hijau kuning yang dibuat di persimpangan jalan masuk Agus Salim hingga 200 meter masuk ke dalam dengan ujungnya panggung utama bernuansa merah, hijau, kuning. Ini yang menjadi ketertarikan saya, warna, ukirannya mirip dengan Melayu. 
Pasar malam, dari pakaian, papan dan pangan.
Di lain waktu saya kembali berkunjung kesini. Dari jauh sudah terdengar alunan musik yang tak asing di telinga dari panggung utama. Saya bergegas menuju panggung, melihat apa dan siapa yang perform. Sebuah tarian dengan gerakan yang familiar bagi saya, lenggak-lenggok para penari yang menyesuaikan dengan hentakan pemusik di belakangnya. Hal ini mengingatkan saya saat melakukan hal yang sama beberapa tahun lalu : sebuah tarian melayu, -sekarang dah pensiun-. Sepertinya harus cari lebih banyak refrensi lagi nih, biar tau lebih banyak tentang suku Tidung, kental sekali budaya Melayu nya, barangkali ada korelasi antar keduanya.

Perform dari salah satu sanggar dan antusias warga menonton pertunjukan.
Dan yang unik bagi saya adalah saat tarian selesai, lalu sepasang MC masuk ke panggung dan memimpin jalannya acara, dengan bahasa yang tidak saya mengerti, namun irama dan cengkoknya kembali familiar di telinga. Secara spontan saya bertanya kepada salah satu pengunjung disamping saya, dan benar, itu bahasa Tidung, suku asli Tarakan. Beberapa kata ada yang saya mengerti, beberapa terdengar seperti bahasa Terengganu di Malaysia, logat, cengkok dan iramanya bercampur antara Melayu, Banjar bahkan Thailand, unik sekali bukan? Alhamdulillah, ungkapan syukur bagi saya karena telah dilahirkan di negara dengan ragam suku budaya yang bernaung alam satu kesatuan yang utuh ini.

Kedai Filosofi
Di hari pertama saya berkunjung, disaat mengetahui bahwa acara di panggung utama baru dimulai ba'da isya, saya berjalan-jalan "mengamati" stan-stan jualan dari ujung ke ujung, akhirnya mata terauto-focused pada sebuah gerobak minimalis namun terlihat elegan, di dalamnya terdapat gelas-gelas plastik dan sejumlah papercup yang disusun terbalik, lalu di gerobak terdapat tulisan Kedai Filosofi 2018 dengan gambar cangkir kopi. Nah, ngopi pa ngopi!

Saya langsung menuju tempat ini, duduk, dan melihat menu. Beragam minuman dijual di Kedai "angkringan kopi" Filosofi ini, ada teh, kopi, coklat, dan susu. Saya memilih untuk memesan Kopi Aceh Susu. Namun harus menunggu sebentar karena air nya baru saja dimasak. Sambil menunggu ready, saya cuap-cuap sebentar dengan sang owner. Rilo namanya, mahasiswa Budidaya Perairan di Universitas Borneo Tarakan angkatan 2017 ini adalah otak dari terbentuknya kedai kopi bertema angkringan ini. 
"Angkringan Kopi"
Ia bersama rekan-rekannya mencetus sekaligus mengelola langsung Kedai Filosofi yang saat saya datangi baru berusia 3 hari ini. Baru buka banget, memanfaatkan momen hari jadi Tarakan, mereka mulai mencoba peruntungan dengan menjual kopi di stan yang disediakan panitia yang saat itu mengadakan event di Taman Berkampung, setelah selesai acara di sana, mereka lanjut di stan pasar malam gelar adat budaya Dumud ini.

Air sudah mendidih pertanda kopi saya ready untuk dibuat. Proses penyajian dan pembuatannya dengan cara konvensional. Biji kopi asli dari Aceh ini dimasukkan ke dalam saringan, lalu dimasukkan didalam canting berukuran sedang, selanjutnya diisi air yang mendidih tadi, kemudian disaring kembali ke canting sebelahnya, begitu terus hingga sekitar 7 kali. Setelah selesai, disajikan dengan takaran susu yang terukur di papercup, diaduk, dan Kopi Aceh Susu siap disrupuut. 
Proses Pembuatan Kopi Aceh Susu
Rasanya unik, biji kopi Aceh ini sama seperti kopi Gayo, hanya proses roastingnya yang berbeda. Roasting merupakan proses penggorengan biji kopi, dari proses roasting ini juga jadi penentu kualitas kopi, ada light, medium dan dark. Rasa Kopi Aceh lebih ke yang dark dan seperti ada kerasa menteganya. Pekatnya juga masih terasa meski sudah dicampur susu. Hmmm, saya tak berbakat dalam mendeksripsikan rasa. Yang jelas ini menjadi pengalaman baru bagi saya menikmati kopi Aceh di Tarakan. 

Hari lain saat ke Kedai ini lagi saya memesan kopi Aceh tok, panas, dan tanpa gula. Sengaja memesan tanpa gula - karena saya sendiri sudah manis -, krik krik. Yap, saya memesan tanpa gula agar lebih terasa citarasa biji kopi nya. Begitu saya diajarkan oleh seorang rekan tentang bagaimana cara menikmati kopi. Cara penyajiannya juga sama dengan yang lalu, biji kopi disaring dari canting satu ke canting yang lain, kurang lebih 7 kali. Dan kali ini, rasa asli kopi Aceh nya baru benar-benar terasa. 
Sang ownernya mengatakan, ia mempertahankan cara penyajian yang konvensioal ini selain peralatannya sederhana, harga terjangkau dan mudah untuk didapatkan, juga agar tak hilang khasnya cara penyajian kopi Aceh. Cara tradisional yang biasa digunakan dalam menyeduh atau membuat kopi Aceh hingga menghasilkan rasa yang pas dan khas. Ketika saya menanyakan apakah bakal ada alat-alat modern seperti di coffee shop kebanyakan, ia menjawab hal itu akan dipertimbangkan, dan kemungkinan juga ada.

Ada yang spesial kali ini, saat saya sedang sharing dengan dengan owner, datang pak Camat Tarakan Tengah -taunya setelah dikasih tau- yang juga ikut ngopi. Pak Zainuddin namanya, dulu beliau juga menjabat sebagai seorang kepala bidang Pemasaran dan Promosi Pariwisata di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tarakan. Hmmm ini membuat sharing dan diskusi semakin seru, kesempatan bagi saya untuk tahu banyak tentang adat budaya kota ini. Saya bertanya banyak hal tentang Tarakan dan beliau menerangkan lebih banyak hal lagi tentang Tarakan. Kami juga saling bertukar informasi, saya menerangkan tentang Melayu dan beliau menerangkan tentang Tidung. 

Mulai dari sejarah, adat, budaya hingga bahasa Tidung yang beliau sendiri bilang merupakan bahasa yang unik. Hanya saja ada kekhawatiran dari beliau, yaitu berkurangnya bahasa dan pengguna bahasa Tidung ini. Pak Jai -panggilan akrab beliau- mengatakan, menurut catatan kepala adat Tidung, kosa kata bahasa Tidung berkurang 20 tiap hari nya, suatu masalah yang lumayan serius karena menyangkut identitas suatu daerah. Salah satu penyebabnya adalah berganti menjadi bahasa Indonesia yang di Tidungkan.
Ngopi dengan pak Camat
Contoh kecil saja, Jalan dalam bahasa Tidung berarti Makow, sedangkan Kaki berarti Tanog. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, maka Jalan Kaki adalah Makow Tanog. Namun tidak dengan bahasa asli Tidung, Jalan Kaki dalam bahasa Tidung adalah Lemabod. Nah, kata-kata seperti Lemabod inilah yang hilang pelan-pelan. Semoga ada suatu program pemerintah beserta tokoh adat agar mempertahankan bahasa asli ini. Mari kita sama-sama jaga dan lestarikan.

----------

Balik ke kopi lagi ya. Ohya, buat kamu yang belum sempat merasakan nikmatnya nyeruput kopi di Kedai Filosofi ini, jangan khawatir. Kedai Filosofi akan tetap buka meskipun gelaran budaya adat Dumud selesai nantinya, hanya berpindah lokasi saja yang insya Allah berlokasi di jalan Yos Sudarso. 
Ngopi? Ayuuk.
Jadi, kapan ngopi bareng?



Wednesday, December 19, 2018

Jalan-jalan ke Agrowisata Karoengan, Cara Lain Menikmati Liburan di Tarakan

Mendapat predikat kota Industri tak membuat Tarakan mengenyampingkan sektor lain untuk dikembangkan. Pariwisata salah satunya, pulau kecil ini memiliki banyak tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan. Kebanyakannya wisata sejarah, mengingat Tarakan dulu merupakan saksi bisu perang dunia kedua. Selebihnya adalah wisata pesisir tepi laut, pantai, dan kawasan konservasi mangrove. Namun ada juga cara lain untuk menikmati liburan akhir pekan di Tarakan, tempatnya di Agrowisata Karoengan, wisata berbasis pertanian dan perkebunan ini pertama adanya di Tarakan. Letaknya di Karungan, Desa Mamburungan, Tarakan Timur. -map-

Awalnya saya mengetahui tempat ini dari salah seorang rekan, lalu gugling mencari refrensi. Namun tak banyak informasi mengenai tempat ini di laman mbah gugel. Dan baru kemarin saya berkesempatan untuk mengunjunginya. Banyak jalan menuju lokasi ini, dan saya memulainya dari tempat tinggal di pusat kota menuju Kampung Empat melewati Islamic Center Kota Tarakan. Dari jalan utama akan ada baliho penunjuk arah menuju ke Karungan masuk dan belok ke sebelah kanan. Setelah berjalan sekitar 1 km beloklah ke kiri ketika menemukan Y junction. Ikuti jalan tersebut, sampai menemukan gapura disebelah kiri jalan yang menandakan kita sudah sampai. 
Gapura masuk Lokasi Agrowisata
Saya menggunakan sepeda motor, sengaja melambatkan laju kendaraan agar bisa sambil menikmati perjalanan. Tanaman mangrove banyak ditemui di sepanjang jalan sisi kanan sebelum Y junction, lalu rumah-rumah dan penduduk yang ramah juga menemani perjalanan saya. Di sisi jalan yang menanjak ini terkadang juga terlihat pipa-pipa yang kemudian saya tahu bahwa itu adalah pipa yang menyalurkan migas dari sumur-sumur migas yang dioperasikan oleh Medco Energi. Ternyata Karungan ini masuk dalam WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) perusahaan energi tersebut. 

Setelah menemukan gapura masuk, saya turun ke bawah mengikuti jalan. Ada pos jaga di dekat gerbang namun kosong tanpa ada penjaga. Setelah memarkirkan sepeda motor, saya menuju pos karcis dan membeli tiket masuk seharga Rp. 3.000. Eksplorasi dimulai. 
Pos karcis, taman kecil, dan jalan menuju air terjun.
Saya datang jam 10an pagi, sengaja datang lebih cepat biar puas bisa eksplorasi sana-sini. Di depan pos karcis terlihat taman kecil yang berisi beragam tanaman hias, ada juga kadang burung yang dibuat berbentuk kubah. Di belakang pos karcis terdapat kantor pengelola kawasan ini. Dari pos karcis saya turun ke bawah langsung menuju "panggung utama" dari tempat wisata ini. Adalah air terjun buatan setinggi kurang lebih 10 meter yang jatuh ke dalam waduk super mini yang dijadikan kolam renang, ini merupakan objek utama dari Agrowisata Karoengan. Di dalam gugel mep namanya Niagara Karungan. Di dekat kolam sebelah kanan terdapat bilik-bilik tepat bilas, ada juga terdapat prasasti peresmian tempat ini yang langsung diresmikan oleh bapak Walikota pada Februari 2018, di dekat prasasti ada bangunan mushala kecil nan unik, toilet, dan sebuah bangunan kosong, yang dari desainnya seperti kantin.
"Niagara Karungan" di Agrowisata Karoengan, Tarakan
Perjalanan saya berlanjut ke sebuah alun-alun mini di samping kolam, tepatnya di belakang bilik bilas. Di sini terdapat beberapa gazebo, tempat duduk yang dibuat berbentuk hati dengan latar berlakang batu bara yang tersingkap, di atas singkapan batuan batu bara ada 2 buah tenda ala-ala indian yang membuat foto semakin instagramable. Perjalanan berlanjut mengikui alur jalan yang sudah disediakan. Ada aula terbuka yang terletak di atas tenda indian tadi, namun sepertinya tak terawat karena sudah ditumbuhi tumbuhan yang merambat hingga ke dinding dan tiang aula. Selama perjalanan mengelilingi tempat ini banyak terdapat gazebo keci, jadi tidak perlu khawatir untuk mencari tempat istirahat jika lelah berjalan.

Jalan kecil ini dibuat mengelilingi lokasi agrowisata, bunyi air terjun beserta bunyi hewan-hewan di sekitaran menambah kesan alami tempat ini. Ada 2 buah jembatan gantung yang di bawahnya mengalir sungai kecil yang menuju ke air terjun buatan tersebut, yang juga menjadi spot foto favorit di sini. Saya mengelilingi jalan ini hingga akhirnya berhenti di pos pembelian karcis tadi. Sebenarnya masih ada rasa penasaran saya mengenai tempat ini : dimana tempat pertanian dan perkebunannya selain taman kecil di seberang pos karcis tadi? 
Alun-alun kecil di samping kolam dan air terjun
Dan berhubung tempat lagi sepi, saya memberanikan diri untuk nongkrong di pos karcis tadi sambil mengobrol dengan penjaganya. Pak Vivin namanya, ia bersama seorang rekan lagi bertugas sebagai pengurus di lokasi wisata ini. Ia menceritakan bahwa tempat wisata ini sudah lama adanya, namun baru diresmikan sekaligus dikelola oleh pemerintah pada februari 2018 lalu sesuai yang ditulis di prasasti. Saat baru pertama dibuka pengunjung sangat ramai, bahkan mencapai 400an pengunjung, namun seiring berjalan waktu, pengunjung menjadi berkurang dan terus berkurang hingga saat ini.

Lokasi yang ada saat ini hanya 30% dari keseluruhan area agrowisata. Dan nanti akan ada rencana untuk mengembangkan lebih luas lagi area ini. Termasuk penambahan beberapa fasilitas seperti arena outbond, taman skateboard dan bumi perkemahan. Pak Vivin menjelaskan bahwa air terjun buatan itu sumbernya dari sungai Karoengan lalu dibuat semacam bendungan, dan juga dengan bantuan mesin air dialirkan ke lokasi wisata. Warnanya keruh karena sungai di hulu sana juga digunakan oleh penduduk lain untuk keperluan mereka. 
Fasilitas-fasilitas di kawasan Agrowista Karoengan
Di lokasi ini ada perkebunan durian, buah cempedak, nanas, salak, dan tanaman bambu serta sayur-sayuran yang nanti akan dikembangkan sebagai objek utama dari agrowisata ini. Hmmm, membayangkan gimana asyiknya makan nanas yang dipetik dari pohonnya dan langsung dimakan di tempat, atau sensasi memetik sayuran segar yang bisa langsung dibawa pulang (setelah bayar), sesuatu banget sepertinya ya. 

Saat ini Pak Vivin menjelaskan bahwa ia juga berencana mengusulkan untuk menambah spot-spot objek lainnya seperti kolam pemancingan yang nantinya ikannya bisa langsung dikonsumsi di kantin atau rumah makan yang tersedia di lokasi. Beberapa improvisasi yang sudah dibuat adalah adanya kandang kelinci dan kandang burung merpati yang terketak tak jauh dari tempat parkir. Sebagai tambahan untuk menarik wisatawan berkunjung ke sini. Sebuah gagasan yang bagus menurut saya, agar wisata Karungan ini menjadi wisata antimainstream yang ada di Tarakan.
Bunnyy bunny...
Setelah sharing panjang lebar dan menyumbang beberapa saran dengan pak Vivin, saya pamit pulang mengingat hari sudah beranjak siang dengan panas yang perlahan mulai menyengat. Sebelum pulang saya menyempati singgah di kandang kelinci terlebih dahulu, sambil mengambil bebapa gambar binatang imut dan jinak ini. Semoga segala rencana pengembangan terealisasi dengan baik untuk meningkatkan pariwisata Tarakan dan Agrowisata Karoengan ini.
Bye!






Saturday, December 15, 2018

Islamic Center Kota Tarakan : Masjid Baitul Izzah nan Megah dan Wah

Sudah lama rasanya ingin menulis tentang bangunan megah yang kerap mencuri perhatian saya ketika melintasi kawasan ini. Meski sering "numpang parkir" di halamannya, namun ada saja yang membuat untuk tidak melanjutkan mengeksplorasi hingga ke bagian-bagian lain bangunan ini. Bangunan dengan dominan warna cream ini merupakan bangunan termegah di Kota Tarakan, ia terletak di Jalan Sei Sesayap, Kelurahan Kampung Empat, Kecamatan Tarakan Timur.

Baitul Izzah, itu nama yang diberikan untuk sebuah bangunan masjid nan megah ini. Meski masyarakat Tarakan kebanyakan lebih akrab untuk menyebutnya Islamic Center. Akses menuju tempat ini sedikit agak sulit untuk wisatawan karena tiada kendaraan umum yang melintas kawasan ini. Kita bisa kesini dengan menggunakan kendaraan pribadi atau jasa transportasi online maupun konvensional. Islamic Center Kota Tarakan yang menjadi kebanggan masyarakat dan juga ikon kota Tarakan ini berdiri diatas lahan seluas 30 hektar, dan sudah banyak digunakan untuk event-event besar skala Nasional maupun Internasional, salah satunya adalah STQ tingkat Nasional pada tahun 2017 lalu. 
Islamic Centre Kota Tarakan, Masjid Baitul Izzah
Dengan kombinasi warna cream dan kubah berwarna merah marun, masjid Baitul Izzah makin terlihat megah dan elegan. Taman di depan masjid sangat luas, lebih luas dari luasan bangunan masjid, di sana terdapat bundaran dan air mancur yang mengingatkan kita akan arsitektur timur tengah. Di sebelah kiri bundaran air mancur masih berdiri tegak bekas menara pemboran sumur minyak yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Menara pemboran (derrick) setinggi kurang lebih 20 meter yang masih berdiri dengan gagahnya itu merupakan satu dari sekian banyak menara-menara pemboran minyak jadoel yang ada di Tarakan. 

Kita bisa melihat menara-menara bekas pemboran ini sepanjang perjalanan dari Kampung Satu menuju Islamic Center yang masuk dalam area kerja / WKP Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field. Sepertinya sengaja untuk tidak dibongkar meski sumur di bawahnya sudah tidak berproduksi lagi. Yah, barangkali pemerintah Tarakan ingin menekankan lagi status Tarakan sebagai Kota Minyak Indonesia. Karena memang bumi Paguntaka (julukan Tarakan) ini memiliki kualitas minyak yang bagus, sehingga dahulu Jepang menargetkan Tarakan untuk disinggahi pertama kali ketika hendak menjajah Nusantara (Indonesia) pada masa Perang Dunia II.

Baca juga : Tarakan, Saksi Bisu Perang Pasific

Masjid Baitul Izzah Islamic Center Kota Tarakan ini diresmikan pada tahun 2012. Masjid ini memiliki satu kubah raksasa di atas bangunan utama dengan empat kubah kecil yang mengelilinginya. Selain itu juga terdapat satu menara tinggi menjulang yang terpisah dengan bangunan utama namun terhubung oleh koridor-koridor yang bergaya timur tengah. Tempat wudhu berada di basement masjid, yang juga terdapat area parkir dan beberapa ruangan serbaguna dan sekretariat-sekretariat organisasi terkait, dan ada juga bangsal kecil yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat bagi jemaah yang berasal dari luar kota ketika di tempat ini ada perhelatan. 
Masjid Baitul Izzah, Tarakan : menara, interior, dan basement.
Saya naik ke atas melewati tangga dari basement menuju ruang utama menggunakan tangga bagian dalam basment. Saya memasuki ruang utama yang biasa digunakan untuk shalat dengan melewati pintu masuk besar dengan ukiran yang indah. Ada 15 pintu masuk ruang utama masjid ini yang terbagi menjadi 5 pintu ditiap 3 sisi nya, dihari biasa seperti sekarang hanya beberapa pintu saja yang digunakan. 

Ruang utama ini sangat luas, terdiri dari 2 lantai dan bisa menampung sekitar 10.000 lebih jemaah. Pantas saja masjid ini yang digunakan pemerintah ketika menyambut Ustadz kondang Abdul Somad dalam rangka safari dakwahnya ke Tarakan beberapa waktu lalu. Di bagian depan bangunan utama juga terdapat beberapa ruangan kantor pengelola dan aula yang lumayan luas. Ada bedug besar yang terletak di sebelah kanan ruang utama di serambi masjid. Namun sepertinya tidak untuk digunakan dalam setiap sebelum adzan. Hanya sebagai pajangan untuk menambah nilai estetika masjid ini, atau mungkin digunakan untuk acara-acara tertentu saja.
Bedug besar Masjid Baitul Izzah
Kemudian eksplorasi saya berlanjut hingga halaman belakang. Ada jalan koridor yang dibangun yang menghubungkan sisi kiri dan kanan masjid berbentuk kotak dengan halaman belakang yang luas dan terbuka. Koridor ini dibangun dengan 2 lantai dan juga terdapat tempat wudhu di sini. Dari sini saya mengambil beberapa gambar karena viewnya sangat bagus menurut saya. Megah sekali masjid Baitul Izzah ini. 

Namun sangat disayangkan, di beberapa titik masjid ini terdapat kerusakan, dan seperti kurang terawat. Pergerakan tanah sangat mempengaruhi, terlihat dari beberapa anak tangga yang retak dan turun kebawah. Semoga kedepannya akan ada perbaikan dan perawatan agar keindahan masjid Baitul Izzah ini tetap terjaga. Pengurus masjid ini namanya pak Ibrahim, hanya saja saat saya berada disana beliau sedang tidak ada di lokasi sehingga tidak bisa menanyakan beberapa informasi.
Halaman Belakang Masjid Baitul Izzah
Di samping kiri Islamic Center ini direncakan akan dibangun sport center yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Dan di sebelah kanan masjid terdapat Taman Berkampung, sebuah taman paling luas di kota Tarakan. Taman ini juga kerap digunakan dalam beberapa acara resmi pemerintah seperti upacara 17 Agustus dan beberapa acara besar lainnya. Saat sore di taman ini ada banyak jajanan yang di jual dan beberapa arena bermain untuk masyarakat. 

Tiap sore di daerah sini selalu ramai, baik untuk mereka yang suka olahraga, maupun sekedar jalan-jalan. Di dekat Taman berkampung ini juga berdiri megah bangunan kembar yang dijadikan museum daerah oleh pemerintah, Museum yang berisi ragam koleksi sejarah perminyakan dan sejarah Tarakan dari zaman kolonial hingga kemerdekaan. Di samping museum juga terdapat gedung perpustakaan dan gelanggang pemuda. Hmmm sepertinya disini akan dijadikan pusat keagamaan, olahraga, wisata dan kepemudaan.
Keren!
Masjid Baitul Izzah, dari Taman Berkampung