Sunday, February 7, 2021

Malam Puisi Natuna Bahagian Empat : Semangat Melestarikan Budaya di Tengah Corona

Euforia Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe yang ditaja oleh Mbecite Kelarik akhir januari lalu belum lagi hilang. Kali ini, diminggu pertama bulan februari ini giat budaya kembali diadakan di ibukota Kabupaten, Ranai. Giat budaya bertajuk Malam Puisi Natuna ini ditaja atas kerjasama Komunitas Natunasastra dan Kompasbenua.

Malam Puisi Natuna yang digelar ini merupakan yang ke empat kalinya. Dan kali ini adalah yang pertama hasil dari kolaborasi dua komunitas penggiat budaya yang ada di Natuna. Sebelumnya, malam puisi Natuna sudah pernah diselenggarakan oleh Natunasastra sejak 2018. Giat ini merupakan wadah untuk para penggiat sastra yang ada di Natuna, khususnya di pulau Bunguran untuk meluapkan ekspresi dan bakatnya.

Konsep acara pada Malam Puisi Natuna Bahagian Empat ini sedikit berbeda dari sebelumnya, mengusung tema Sejarah dan Budaya Sebagai Imunitas dan Identitas. Tema ini merupakan pilihan yang tepat di tengah-tengah kondisi saat ini. Ia sebagai bentuk pertanyaan sudah sejauh mana kita mengenal sejarah dan budaya, dan dampak pada kesehatan pikiran juga kekuatan identitas kita.

Acara ini digelar di aula Syamsul Hilal, SMA Negeri 1 Bunguran Timur, sabtu malam, 6 februari 2021. Penerapan protokol kesehatan sudah dimulai sesaat para pengunjung akan masuk ke aula. Wadah cuci tangan dan pengecekan suhu tubuh dan menggunakan masker harus dilalui untuk masuk ke dalam aula. Suguhan gambar-gambar lama koleksi Kompasbenua menyambut para pengunjung sesaat setelah masuk ke dalam aula, gambar-gambar Natuna tempo dulu menghiasi sisi kiri dan kanan labirin yang dibuat oleh panitia beberapa jam lalu ini. Ada juga lukisan hasil karya siswa-siswi SMP Negeri 1 Bunguran Timur, serta koleksi Natunasastra berupa puisi-puisi dan lainnya.
Ketua Kompasbenua sedang menjelaskan foto-foto jadul kepada pengunjung.

Masih di dalam labirin, para pengunjung diminta untuk menulis satu kata dalam bahasa daerah di selembar kain yang terpasang sebagai "tiket" masuk untuk menyaksikan acara, dan ada juga secarik kertas kecil tempat para pengunjung untuk menuliskan harapan akan sejarah, budaya, seni dan sastra Natuna kedepan. Di panggung utama, terdapat dekorasi-dekorasi aestetik dari beragam alat dan hasil kerajinan tradisional khas Natuna. Juga terdapat perkakas zaman dulu serta hasil kerajinan seni rupa prakarya hasil tangan-tangan kreatif siswa-siswi SMA Negeri 1 Bunguran Timur.
Ngah Disun, memainkan akordion di panggung

Acara dimulai dengan tarian zapin dari sanggar Dina Mahkota, empat orang gadis dengan lincah menarikan tarian zapin garapan Adinda ini. Sorak sorai serta tepung tangan penonton memenuhi aula sesaat ketika dua bocah cilik tampil di depan dengan pembacaan sajaknya yang sambung menyambung. Lalu penampilan-penampilan berikutnya dibawakan oleh para pendukung acara yang lain seperti Lasak SMANDa yang membawakan musikalisasi puisi serta tarian Bujang Lagak, juga pembacaan puisi dan gurindam. TBM (Taman Baca Masyarakat) Taman Ilmu dari Desa Mekar Jaya dengan balas pantunnya, Sanggar Tiara Mayang juga mau kalah dengan menampilkan puisi. Komunitas Mbecite Kelarik menjadi pelengkap pengisi acara dengan membawakan pantomim, monolog, syair dan puisi. Lalu ada tambahan pembacaan puisi "on the spot" dari pengunjung.

Penampilan yang tak kalah menarik perhatian pengunjung malam itu adalah pembacaan Suluk. Memang, suluk masih asing terdengar di telinga masyarakat Natuna, terlebih generasi muda seperti kami ini. Suluk merupakan syair tematik. Isi dari Suluk biasanya berkaitan dengan acara yang sedang berlangsung. Biasanya juga berisi pesan dan nasehat, dan bisa juga sebagai media dakwah. Lantunan syair Suluk dibawakan dengan apik oleh bang Said, semua mata tertuju padanya, larut dalam alunan syair Suluk yang dibacakan oleh budayawan muda ini.
Pembacaan Suluk oleh Bang Said


Disela-sela penampilan, penyelerenggara membagikan bubur kacang dan air mineral. Stand makanan ringan dan minuman kekinian juga tersedia di sebelah kiri panggung. Semuanya merupakan hasil kerjasama penyelenggara dengan Karaageku dan Hanata.

Malam Puisi Natuna Bahagian Empat ditutup dengan menyanyikan lagu khas melayu Natuna yaitu Palok Saguk. Lagu yang dinyanyikan dengan merdu oleh Adinda ini diiringi dengan apik oleh pemusik dari Lasak SMANDa yang berkolaborasi dengan Pak Hadisun yang memainkan akordion, pak Hadisun merupakan seorang budayawan dan seniman dari Natuna. Lagu Palok Saguk semakin semarak dengan diikuti tarian zapin oleh seluruh peserta dan dipandu oleh empat penari Sanggar Dina Mahkota.
Ritual wajib setelah acara, potopotoo

Suksesnya acara ini juga tak lepas dari para sponsor dan pendukung. Kami ucapkan kepada Green Computer, Natuna Mengajar, SMA Negeri 1 Bunguran Timur, Lasak SMANDa, TBM Taman Ilmu, Mbecite Kelarik, Sanggar Tiara Mayang, dan Sanggar Dina Mahkota. Sampai ketemu dievent-event berikutnya, yap!

Monday, February 1, 2021

Melayoe Tempo Doeloe, "Pelepas Dahaga" Kegiatan Budaya Melayu di Natuna

Akhir januari lalu menjadi catatan sejarah baru bagi para pecinta budaya di Natuna, khususnya di daerah Kelarik. Pemuda-pemudi di sisi barat Pulau Bunguran yang terkumpul dalam komunitas Mbecite Kelarik menginisiasikan acara Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe. Lapangan Desa Gunung Durian pun jadi saksi bisu untuk kegiatan yang menampilkan berbagai kesenian tradisional bernuansa melayu ini.



Mari flashback sebentar tentang komunitas ini. Mbecite Kelarik merupakan sebuah komunitas baru beranggotakan anak-anak muda yang dominan berusia sekolah. Gerak enerjik dengan ide-ide brilian memang bersarang pada anak-anak seusia itu. Memenangkan lomba video pendek tingkat kabupaten adalah contoh nyata dari kreativitas mereka. Mbecite Kelarik.

Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe, awal mula digagas oleh salah seorang penggerak dalam sebuah diskusi singkat. Lalu ditambah dengan dorongan dan dukungan dari rekan-rekan komunitas lain sehingga acara ini berwujud dengan persiapan yang boleh dibilang cepat. Dua minggu. Saya pribadi, pertama kali berinteraksi dengan anggota Mbecite Kelarik adalah saat acara Fun Camping yang dilaksanakan oleh GenPI Natuna akhir tahun lalu d pantai Sujung. Mbecite Kelarik menghadiri undangan dengan mengutus dua orang anggotanya. Sempat kami berdiskusi sedikit mengenai beberapa hal. Setelah kegiatan GenPI, salah satu anggota Kompasbenua mengumumkan bahwa :

"30 januari 2021, insya Allah Mbecite Kelarik akan mengadakan rindu melayu."

Yap, rindu melayu adalah branding awal kegiatan ini, tahun 2019. Kegiatan dengan tujuan untuk melestarikan budaya melayu ini pertama digelar di kecamatan Bunguran Timur, di rumah salah satu tokoh masyarakat di Kelurahan Bandarsyah. Lalu, acara serupa dengan nama berbeda berlanjut di Ranai Darat. Tahun 2020 menjadi tonggak awal bangkitnya kegiatan budaya di Natuna. Beberapa kegiatan budaya pada tahun 2019 lalu mendapat respon baik dari pemerintah. Pertemuan-pertemuan dengan para penggiat budaya dilakukan di kantor dinas untuk mengkonsepkan acara budaya sepanjang 2020. Hasilnya, 3 acara dilaksanakan di panggung terbuka pantai Piwang pada januari hingga maret 2020. Natunasastra, Kompasbenua dan Sanggar Langkadura menjadi "petugas piket" pada acara itu. Semua kegiatan berlangsung meriah dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Lalu, semua terhenti saat "mbah" corona mulai menyerang negeri. Semua kegiatan yang mendatangkan kerumunan dilarang untuk menekan lajunya penyebaran virus mematikan ini.

Namun, semangat akan menghidupkan budaya melayu tidak surut. Berbagai konsep sudah banyak disiapkan, menunggu untuk direalisasikan saja. Dan diujung 2020, angin segar datang dari kawan-kawan STAI yang tergabung dalam KKN di Desa Mekar Jaya. Setelah pertemuan dan diskusi singkat sebelumnya, mereka sepakat mengadakan kegiatan budaya bertajuk Sanggom Melayu. Acara ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat sekitar dan berharap acara seperti ini berkelanjutan.

Setelah lama berdiam diri, akhirnya Mbecite Kelarik berani unjuk gigi. Menjadi pioneer untuk mengadakan giat agar budaya tetap lestari. Menjadi yang pertama adakan kegiatan budaya melayu yang selama ini seakan mati suri. 

Dukungan dari Kecamatan dan Desa, serta komunitas-komunitas lain menyemangati mereka untuk mewujudkan acara ini. Forum Anak Bunguran Utara, LDK STAI Natuna dan Kompasbenua menjadi pendukung acara budaya yang sepakat digelar pada malam ahad, penghujung januari.

Tarian Persembahan (foto : Kiki Firdaus)

Tari persembahan menjadi pembuka acara, sebuah ritual "wajib" yang harus ada diacara-acara besar di seluruh negeri melayu, tarian ini dibawakan dengan apik oleh adik-adik dari sekokah dasar di sana. Sahut menyahut pantun mengisi lapangan desa ketika sepasang MC memimpin jalannya acara. Agar menjadi berkah, tepung tawar mengisi acara berikutnya. Tepung tawar merupakan salah satu tradisi masyarakat melayu, ia berisi syair dan doa-doa selamat agar apa yang kita kerjakan selalu mendapat ridho Allah Ta'ala. Biasanya tepung tawar terdiri dari satu orang pembaca doa dan beberapa orang / perwakilan yang didoakan. Caranya adalah dengan memasukkan tangan ke dalam baskom berisi air lalu pembaca doa mulai melantunkan syair dan doa dengan menepuk-nepuk air dengan beragam jenis daun yang sudah disatukan.

Tepung Tawar (foto : Mbecite Kelarik)

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan syair Noktah Bunguran Utara yang dilantunkan oleh sepasang adik-adik dari sekolah di Kelarik. Syair Noktah Bunguran Utara berisi cerita yang menggambarkan proses pemekaran kecamatan Bunguran Utara dari Kecamatan Bunguran Barat. Suara merdu dengan lantunan syair yang indah membuat penonton terpukau dengan aksi dua adik-adik ini.

Tarian Cik Abu (foto : Mbecite Kelarik)

Aksi berikutnya adalah penampilan tarian kreasi Cik Abu yang dibawakan juga oleh adik-adik cilik Kelarik. Tarian ini merupakan hasil kreasi dari tarian asli tradisional Kelarik dengan judul yang sama. Tarian Cik Abu merupakan tarian yang menggambarkan keseharian warga Kelarik dalam beraktivitas, terutama dalam kegiatan bertani kelapa. Tarian ini pernah dibawakan oleh Mbecite Kelarik diacara panggung Budaya yang ditaja oleh Kompasbenua pada februari 2020 lalu di pantai Piwang.

Disela-sela acara, panitia menyediakan tambul (makanan) untuk tamu. Makanan yang disediakan di dalam dulang ini antara lain sandan gilik, kueh benggiet, nganan cinjen, dan tipeng canggos. Ini semua merupakan makanan khas kampung-kampung yang disajikan ketika menghelat acara-acara besar. Penampilan berikutnya adalah penampilan gurindam dan marawis dari LDK STAI Natuna. Seni marawis merupakan kesenian Melayu perpaduan antara syair dan alat-alat musik. Kesenian ini biasa dibawa pada acara-acara keagamaan, lirik syair yang dilantunkan juga tak jauh-jauh dari dakwah, nasihat dan pengingat, serta petuah. 

Kueh Banggiet, Nganan Cinjen, dan Tipeng Canggos

Acara semakin meriah dengan tampilan flashmob zapin yang diikuti oleh panitia dan peserta acara. Irama melayu dari lagu Joget Toleh Menoreh milik Senario menggerakkan badan para penari dan peserta untuk berjoget seirama. Suasana meriah melengkapi keceriaan malam itu. Acara Pentas Budaye ini ditutup dengan penampilan kesenian alu yang dibawakan oleh Warga Desa Gunung Durian. Kesenian alu merupakan kesenian tradisional Natuna. Eksistensinya kini mulai meredup seiring jarangnya gawai-gawai besar yang diadakan. Dan Alhamdulillah kemarin kami masih bisa menyaksikan atuk-atuk kami mengangkat alu, mengayunkannya ke dalam lesung dan menghasilkan irama epik nan mulus masuk menggetarkan gendang telinga. 



Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe hadir bagai oase di padang pasir. Ia bak pelepas dahaga akan hausnya kami, masyarakat akan budaya daerah sendiri yang selama ini terkesan mati suri. Apresiasi dan dukungan banyak didapat untuk acara ini. Tak hanya dari daerah sekitaran Kelarik, tamu-tamu yang datang juga dari sisi timur pulau Bunguran dimana pusat ibukota kabupaten berada. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, BP Geopark Natuna, DPD KNPI Natuna, DPP Askar Melayu Natuna, GenPI Natuna, dan GenRe Natuna juga turut hadir meramaikan acara ini. Masyarakat sekitaran Kelarik, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, perangkatan Kecamatan dan Desa hingga anggota DPRD Natuna juga turut hadir meramaikan dan memberi dukungan.

Foto bersama (wajib)


Semoga acara-acara seperti ini tetap dilaksanakan secara berkala.
Salam budaya dari kami, pecinta, penggiat dan penikmat budaya.



Wednesday, January 6, 2021

Mengenal "Ngembeng", Tradisi Membuat 'Oatmeal'nya Natuna

Beberapa hari lalu, saat merenungi nasib di depan laptop, gawai saya berbunyi. Sebuah pesan WA masuk dari seorang kerabat yang mengundang untuk datang ke rumahnya. 
Acara syukuran dan 'ngembeng', yau. 
Begitu katanya.
Ngembeng, kata itu yang saya notice. Memang dalam beberapa waktu belakangan istilah itu kerap terdengar di telingan saya. Namun saya belum, sama sekali belum pernah menyaksikan secara langsung kegiatan ini. Saya tahan rasa penasaran hingga malam hari. Saat malam tiba, saya dengan kerabat yang lain bergegas menuju ke lokasi, dan saya masih penasaran akan ngembeng ini. Saat tiba di lokasi, belum ada hal menarik yang disuguhkan, hanya saja ada lampu terang yang sepertinya sengaja dipasang di halaman samping rumah. Setelah dipersilahkan masuk, kami langsung ditawari makan malam, acara doa syukuran sudah dilaksanakan setelah magrib, kami telat 30an menit. 

Kami disuguhi makan malam dalam dulang. Satu tulang terdiri dari sebuah talam berukuran besar yang di dalamnya terdapat berbagai kaghe (macam) lauk pauk. biasanya empat sampai lima kaghe lauk pauk. Satu dulang umunya disediakan untuk empat orang. Makan bedulang merupakan tradisi masyarakat melayu Natuna jika menyelenggarakan kegiatan besar, seperti kenduri, syukuran, do'a selamat, dan lain lain.
Padi yang siap di-mbeng-kan

Setelah makan malam, barulah acara ngembeng dimulai. Lampu yang dipasang di halaman samping rumah tadi ternyata merupakan "panggung atraksi" dari ngembeng ini. Ngembeng merupakan kegiatan membuat mbeng, makanan semacam oatmeal. Jadi boleh jugalah saya menyebutnya sebagai oatnya Natuna untuk memudahkan menjelaskan hal ini kepada orang luar. Bedanya, oat dari sereal / gandum, sedangkan mbeng ini dari padi.

Alat dan bahan yang digunakan dalam ngembeng ini antara lain tungku api, kuali, lesung dan alu, serta padi yang (biasanya) baru dipanen. Kerabat saya ini menjelaskan bahwa ngembeng merupakan tradisi orang-orang tua dahulu dalam memenuhi kebutuhan pangan. Padi yang baru dipanen biasanya dibuatkan mbeng karena keterbatasan alat untuk mengubah padi menjadi beras. 
Suasana ngembeng


Proses pembuatan mbeng dimulai dari menyiapkan tungku dan menyalakan api, lalu beras yang sudah disiapkan dimasukkan ke dalam kuali untuk disangrai. Beras disangrai hingga meletup bagai popcorn (kalau beras berarti namanya poprice, oke sip), lalu secara cepat langung dituang ke dalam lesung untuk ditumbuk hingga pipih seperti oat. Orang yang menumbuk padi dilesung biasanya terdiri dari tiga sampai empat orang. Dan untuk menghilangkan rasa bosan, para penumbuk lesung biasanya menumbuk dengan interval tertentu hingga menghasilkan irama-irama musik. 

Proses dari beras mulai meletup hingga penumbukan harus dilakukan cepat dan selagi panas. Sebab jika sudah dingin maka akan sulit menjadi mbeng saat dilakukan penumbukan. Proses ini dilakukan berulang-ulang hingga dirasa mbeng sudah cukup untuk dikonsumsi.
Suasana kekeluargaan dalam ngembeng

Beras yang sudah ditumbuk tadi diambil untuk ditampi terlebih dahulu, dipilah dan pilih untuk menghasilkan mbeng yang baik sebelum dikonsumsi, proses ini disebut tampek. Kemudian setelah mbeng didapatkan, barulah ia siap untuk dimakan. Penampakan mbeng sekilas mirip dengan oat, atau yang sering muncul di tipi-tipi itu sebagai quak*r oat atau energ*n sereal. Lalu bagaimana cara makan, ala tradisionalnya?

Nah, gini. Cara makan mbeng atau oatnya Natuna ini dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan sebagai berikut : mbeng yang sudah ditampi, nyok kuko (kelapa tua yang diparut), air putih masak, dan gula pasir. Persiapannya dimulai dengan menaruh air masak di dalam mangkuk, lalu masukkan mbeng dan nyok kuko dan ditambah dengan gula pasir. Takarannya menyesuaikan selera, namun direkomendasikan agar gulanya agak dilebihkan agar manisnya terasa. Serat dari mbeng yang bercampur air, ditambah dengan manisnya gula dan gurihnya kelapa parut bermain-main dalam mulut ketika kita mengunyahnya, ia menciptakan rasa yang lezat. 
Proses singkat ngembeng padi  (klik untuk nonton di YouTube)

 

Patut dicoba ni makanan asli Natuna yang satu ini.
Saat ini, tradisi membuat mbeng sudah jarang dilakukan oleh warga. Ngembeng dijadikan sebagai atraksi wisata budaya Natuna atau jika ada acara besar diselenggarakan. Kesenian lesung alu juga merupakan seni tradisi unggulan yang menjadi ikon wisata budaya di Natuna. Alu dalam atraksi wisata biasanya dimainkan oleh 7 orang dengan ukuran lesung yang besar. Tujuh orang pemegang alu yang menumbuk lesung menjadikan irama yang enak didengar.


Setuek, Bunguran Timur Laut,
2 Januari 2021

Monday, June 22, 2020

Cerita di Teluk Panglima, Camping Perdana di Indahnya Alam Bunguran Selatan

Cuaca yang tak menentu beberapa hari terakhir ini membuat sedikit mager untuk berkegiatan dan melakukan aktivitas di luar. Namun kemarin berbeda, mager harus dilawan karena ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Berawal dari chat-an teman di grup WA GenPI Natuna tentang spot wisata yang baru-baru ini viral. Saya yang diamanahkan sebagai ketua Divisi Offline komunitas yang tersebar di semua provinsi tersebut langsung merespon cepat, "yuk kita kemah saja di sana, sambil mengundang komunitas lain". Begitu kataku yang langsung diamini member grup yang lain.
Poster Kegiatan
"Rapat Online" pun dilakukan. Dengan segala pertimbangannya, akhirnya acara disepakati diadakan pada tanggal 20 juni. Tajuk acaranya adalah ground camping, yang kebetulan juga sudah masuk dalam program kerja kepengurusan periode ini, hanya lokasi saja yang berbeda. Sebelumnya direncanakan di Pulau Senua bersempena dengan malam puncak Festival Pulau Senua, namun karena cobaan pandemi covid19 ini jangankan ground camping, festival pun urung dilaksanakan. Hikmahnya, kami tetap bisa melaksanakannya di lokasi wisata yang lain, sedang hits pula : Teluk Panglima

Persiapannya boleh dibilang cepat, karena hampir semua pengurus GenPI Natuna berpengalaman dalam kegiatan outdoor. Setelah pengurus oke, selanjutnya adalah mengundang komunitas-komunitas yang ada untuk berkoordinasi. Karena Teluk Panglima merupakan tempat baru, akan ada beragam agenda yang direncanakan. Mapala STAI Natuna, Kompasbenua, dan Lensa Natuna adalah beberapa komunitas yang confirm dan hadir dalam rapat koordinasi ini.

Mapala nanti akan bertugas untuk konservasi sumber daya alam disana. Kompasbenua, komunitas yang bergerak dalam penelusuran sejarah dan budaya melayu Natuna ini akan menelusuri sejarah dan cerita rakyat tentang Teluk Panglima. Dan Lensa Natuna, mereka bertugas mengambil sebagus-bagusnya gambar yang nanti akan kami up kan di media sosial.

Teluk Panglima terletak di Kampung Pian Padang, Desa Cemaga Selatan, Kecamatan Bunguran Selatan (peta lokasi). Sebelah tenggara dari Pulau Bunguran Besar. Menuju ke lokasi tersebut saat ini sangatlah mudah, berkendara dari pusat kota Ranai ke lokasi yang berjarak sekitar kurang lebih 40 km ini bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam saja.
Brifing dan do'a dulu coy, biar aman dan berkah
Titik kumpul peserta berada di TIC (Tourist Informastion Center). Setelah brifing dan berdoa untuk kelancaran kegiatan, kami bersama-sama menuju lokasi kegiatan. Pergi bersama-sama membuat perjalanan terasa berbeda dan singkat. Dan alhamdulillah, cuaca mendukung hari ini, tiada hujan, hanya sedikit mendung. Rute perjalanan melewati jalan poros Ranai - Selat Lampa, lalu berhenti di pertigaan Pian Padang. Simpang khas dengan gunung Kelantang di pinggir jalan yang begitu ikonik.

Masuk ke jalan tersebut akan membawa kita menuju Kampung Pian Padang. Jalan lurus nan mulus menuju pantai. Sebelum mencapai ujung jalan, terdapat gang kecil sebelah kanan dengan jalan berpasir. Itulah jalan menuju tempat hits yang beberapa hari ini gambarnya berseliweran di lini masa.

Sekitar 5 menit perjalanan melewati jalan berpasir tadi menuju ke Teluk Panglima, melewati jalan kecil, sungai kecil, dan pelabuhan serta pabrik es. Perjalanan kami ditemani oleh segerombolan sapi yang sengaja dilepas oleh pemiliknya agar leluasa mencari makan.  Rombongan sapi yang "kaget" karena mesin kendaraan kami langsung berlarian di hamparan padang nan luas ini. Seperti di taman safari Afrika yang biasa ku lihat di NatGeo Wild saja rasanya.
Lokasi Teluk Panglima
Mercu suar menjadi penanda bahwa kami sudah sampai. Menara yang menjulang setinggi 30 meter itu berfungsi sebagai penanda bagi kapal-kapal di lautan. Kami memarkirkan kendaraan lalu menurunkan peralatan dan berbagi tugas. Ada yang memasak, membersihkan lokasi, dan mendirikan tenda. Setelah makan malam, agenda selanjutnya adalah berkumpul di tenda induk untuk sharing sekaligus perkenalan komunitas yang ikut berpartisipasi dan juga bersilaturahmi dengan Karang Taruna dan pemuda setempat. Serta menentukan kegiatan esok hari.
Biar kayak orang-orang
Ada banyak hal yang didapat ketika berkumpul, saya menyebutnya nongkrong. Terlebih dengan banyak perkumpulan yang berbeda latar belakang. Akan banyak ide dan aksi yang bisa dilakukan bersama-sama. Maka dari itu pula, saya sangat menyukai berkolaborasi setiap akan membuat suatu event
Yang penting gaya
By the way, ini merupakan kemping pertama ku setelah bertahun-tahun lamanya. Terakhir kemping saat masih kuliah dulu di Jogja. Makanya aku sangat excited sekali dengan acara ini, tntu dengan misi tersendiri pula. Alhamdulillah ibu nya jagoan mengizinkan, jadi kemping kali ini akan jadi hal yang menyenangkan. 😀

Kemajuan dan pemanfaatan teknologi yang baik menjadikan Teluk Panglima yang dulu hanya lokasi peternak memindahkan sapinya untuk mencari makan, menjadi hits dan happening dalam beberapa waktu belakangan ini.
Gaya lagi
Teluk Panglima merupakan tempat wisata unik menurut saya. Bebatuan karang yang berserakan di pantai hingga laut dengan pemandangan lautan lepas Natuna nan biru, disertai hamparan savana yang luas serta gunung Kelantang yang menjulang ini akan bisa menjadi daya tarik bahkan primadona baru wisata di Natuna. Tinggal kita poles dan kelola sedemikian rupa saja. Berkemah disini merupakan surga bagi para pecinta fotografi, momen sunsetnya luar biasa. Saat malam, milkyway jadi target utama. Dan ketika pagi menjelang, sunrise pula yang jadi "korbannya". 
Milkyway hasil jepretan salah satu peserta
Belum lagi hamparan savana luas membentang. Dengan spot dan teknik-teknik pengambilan gambar tertentu, hasil gambar di sini tidak akan ada yang menyangka bahwa tempat ini berlokasi di Natuna saking indahnya, meski tak seindah savana Gunung Merbabu dan savana Baluran di luar sana. Ditambah lagi dengan cerita dan legenda dibalik namanya ini. Kata Panglima pada nama teluk membuat kami penasaran akan asal usul dan sejarah lokasi ini, belum ada cerita yang valid dari narasumber atau orang-orang tua yang kami dapatkan, insya Allah akan jadi agenda kedepannya kelak. Selain lokasi yang indah nan menawan, cerita rakyat dan legenda juga bisa jadi penunjang pariwisata, kan.
Savana Gunung Kelantang, Teluk Panglima
Oleh karena lokasi ini masih baru, jadi belum terdapat fasilitas-fasilitas yang memadai sebagai penunjang pariwisata. Baru ada dua sumur kecil tempat berbilas setelah berenang di laut. Sedang fasilitas MCK, kantin dan lain-lain masih belum tersedia. Semoga ada peningkatan kedepannya.

Jadi, jom lah ke Natuna!?!






Sunday, April 12, 2020

Berlayar (Kembali) Menuju Pulau Kecil di Tengah Laut Natuna

Deru ombak yang beradu dengan dinding kapal sudah menjadi alunan musik bagi ku, setidaknya selama 3 jam ini. Yap, aku berada diatas kapal kecil yang sudah lepas jangkar dari Pelabuhan Rakyat di Selat Lampa sejak tadi pagi, mengarah membelah Laut Natuna menuju arah selatan. Menuju ke pulau yang tiada pulau lain di dekatnya. Sendiri, kecil, mungil, namun indah dengan jutaan cerita dan kenangan yang tersimpan rapi. Pulau Midai.

Cuaca sangat bersahabat, cerah. Angin teduh, dan gelombang sedikit tenang. Meski begitu, aku masih merasakan sedikit pusing karena gelombang laut. Maklum, sudah lama tak berlayar sejauh ini. Kapal yang kami tumpangi tidak lah terlalu besar, panjang sekitar 20m, tinggi kapal kurang lebih 4 m, dan tinggi struktur 2 meter. Ia merupakan sumbangan dari salah satu kementrian di republik ini. 
Aktivitas masyarakat Pulau Tiga

Pulau-pulau di Pulau Tiga

Jarak dari Selat Lampa ke Midai kurang lebih 52 mil atau 83 km. Kapal ini biasa menempuhnya dengan waktu kurang lebih 5-7 jam tergantung pada cuaca. Kami mulai berlayar pukul 7 pagi dari Selat Lampa. Kapal berjalan pelan dan santuy melewati gugusan pulau-pulau di Pulau Tiga yang indah, melewati selat kecil diantara pulau Sabang Mawang dan pulau Tanjung Kumbik, kedua pulau ini berada di dua kecamatan yang berbeda, pulau Sabang Mawang berada di Kecamatan Pulau Tiga, dan pulau Tanjung Kumbik berada di kecamatan Pulau Tiga Barat. Air laut jernih serta aktifitas masyarakat di sekitar pulau yang sedang melaut menjadi pemandangan elok di pagi yang cerah itu.

Istirahat menunggu logistik dan perbekalan

Di perairan Tanjung Batang kapal melambat dan berhenti sejenak, menunggu kapal lain yang datang untuk mengisi perbekalan kapal. Setelah selesai, kapal kembali melanjutkan perjalanan, kembali dengan santuy, kapten kapal seakan mengerti betul kami tak ingin cepat-cepat melewati pemandangan indah ini, banyak pulau-pulau kecil nan indah yang kami lewati ketika melewati gugus pulau-pulau di Pulau Tiga. Ingin sekali rasa mengeksplor satu persatu pulau-pulau ini, menguak rahasia-rahasia keindahan yang terkandung di dalamnya yang tak bisa hanya dilihat dari kejauhan saja.

Saat ini kami sudah berada di pertengahan jalan. Karena cuaca sedang panas, aku lebih memilih duduk di luar, namun sesekali aku masuk ke ruang kapten, iseng saja sambil melihat GPS -meskipun aku tak mengerti- di dalam kapal yang menunjukkan arah yang lurus menuju ke tujuan. Kadang-kadang aku mengambil teropong milik kapten dan meneropong di sekitar. Hanya pemandangan laut lepas, dan beberapa kapal penangkap ikan saja yang terlihat. Kapal "cantrang" dari Jawa, begitu kata orang-orang di kapal yang aku tanyakan. Cantrang memang lagi jadi kata populer untuk masyarakat Natuna saat ini.
Cantrang

GPS dan teropong kapal

Aku masih melanjutkan meneropong sekeliling, kali ini mengarah ke sisi kanan kapal, tepatnya sebelah barat. Dari kejauhan terlihat titik-titik hitam di atas lautan, bak bebatuan yang mengapung diatas lautan. Batu-batu, itu jawaban yang kudapati ketika bertanya dengan paman. Seketika aku berfikir, tumpukan bebatuan yang menyembul di tengah-tengah laut, kemungkinan berjenis batuan granit yang memang banyak ditemukan di Natuna. Lalu berapa besar bebatuan yang "menyengul" di lautan lepas itu? Nanti aku googling saja ketika kembali ke Ranai, fikirku. Kapal masih terus berlayar, membelas laut Natuna menuju selatan.
Berlayar kita, nak

Akibat sedikit pusing tadi, selera makan pun menjadi ambyar, parahnya lagi sulit untuk memejamkan mata, ditambah lagi dengan pemandangan yang seluruhnya laut membuat rasa bosan memuncak, ingin cepat-cepat sampai dan berlabuh di dermaga. Aku tak hiraukan jika berangkat sendiri, rasa khawatir ini semakin bertambah dengan ikutnya istri dan jagoanku yang masih bayi. Ini pertama kalinya mereka berlayar jauh. Namun sejauh yang ku lihat, mamanya jagoan sehat-sehat saja, dan jagoanku masih "pengas" mengeksplor kapal, sesekali melihat laut dan mengoceh sendirian seakan meluapkan rasa penasaran. Tidak ada terlihat muka pucat dan mabuk laut di wajah mereka, alhamdulillah.

Perjalanan masih berlanjut, jam menunjukkan hampir pukul 11 siang. Ketika aku berdiri di haluan kapal dan melihat jauh ke depan. Sayup terlihat gundukan tanah memanjang di tengah lautan. Bentuknya sudah tak asing lagi, aku hafal betul dengan bentuk ini, dua gunung yang terlihat dari kejauhan membentuk huruf M, itu lah pulau Midai. Kecil, mungil, namun indah dan damai. Jika pulau Midai sudah terlihat, kurang lebih 2 jam lagi akan sampai, begitu kata pamanku.
Pulau Midai dari kejauhan

Selanjutnya yang ku lakukan adalah mondar mandir di kapal untuk menghilangkan rasa bosan, terkadang bergantian menjaga jagoanku yang masih saja aktif, hanya tidur sebentar saja tadi, itu juga di paksa mamanya. Dia senang sekali melihat laut. Kadang-kadang ikan terbang (Exocoetidae atau torani) menemani perjalanan kami, muncul dengan tiba-tiba dari dalam laut lalu terbang rendah di atas permukaan dan kembali lagi menyelam. Ikan terbang ini memang memiliki habitat di perairan pasifik dan hindia, jadi Lauta Natuna merupakan "rumah" yang pas untuk ikan yang mampu berenang dan terbang ini. Ia bisa terbang sejauh 40 - 500 meter jika dibantu dengan bantuan gelombang, dan juga bisa berenang dengan kecepatan 60 km/jam di air guna lari dari mangsa. Selian itu, potensi lain dari ikan ini adalah telurnya yang mahal, yang biasa ia tempelkan di tumbuhan-tumbuhan laut. Hmmm, mantap syekaleeh ya.
Midai

Jika beruntung, selama perjalanan baik menuju atau dari Midai terkadang juga ditemani oleh kumpulan lumba-lumba yang berenang di dekat kapal. Banyak video-video yang dibagikan oleh teman-teman di media sosial yang menunjukan mamalia laut ini mengiringi kapal yang sedang berlayar. Sayang, mereka enggan muncul dalam perjalanan kali ini. Hanya ikan "indosiar" lah yang jadi teman kami berlayar.

naldoleum
Masuk perairan Midai

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, kapal sudah memasuki perairan Pulau Midai. Pulau yang dari jauh berbentuk huruf M tadi perlahan "membesar", berwarna hijau pertanda masih rimbun dengan pepohonan. Cuaca yang cerah membuat birunya langit, hijaunya pulau dan birunya laut membentuk gradasi warna yang indah, perpaduan epik dari Sang Pencipta, Keagungan_Nya Yang Maha Sempurna. Rasa tak ingin cepat berlalu menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Sebentar lagi kapal akan berlabuh di pelabuhan. Laju kapal perlahan melambat seketika telah masuk di perairan Midai. Laut biru yang jernih hingga terlihat dasar laut yang dipenuhi karang-karang. Terkadang ikan-ikan berenang keluar masuk terumbu karang yang tampak dari atas kapal. Semakin dekat menuju dermaga, laut semakin jernih, dasar laut semakin jelas terlihat. Memang indah alam Natuna ini, tugas kita untuk menjaga dan memeliharanya.
naldoleum
Bentar lagi sampaiii

Kapten semakin melambatkan laju kapal, sebentar lagi akan merapat di dermaga. Ada banyak pelabuhan di pulau Midai. Hampir setiap desa dan kelurahan di pulau ini memiliki dermaga untuk berlabuhnya kapal, baik kapal nelayan maupun kapal penumpang. Kali ini kami akan merapat di pelabuhan WK, di Kelurahan Sabang Barat. Pelabuhan ini juga biasa digunakan untuk berlabuhnya kapal-kapal besar, seperti KM Bukit Raya dan Kapal-kapal Logistik lainnya. Mesin kapal dimatikan, tali ditambatkan di pelabuhan, alhamdulillah kami sampai di Midai dengan selamat.
naldoleum
Sampai Midai dengan selamat


Monday, April 6, 2020

Midai, Setelah 6 Tahun

Mendengar ada info kapal yang akan ke Midai seketika memperbaiki mood yang beberapa waktu kemarin kurang nyaman. Jadi, aku langsung mengiyakan ajakan paman yang akan pulang ke Midai esok. Berhubung kerjaan sedang "stop" sementara. Memang dari dulu ingin balik ke Midai belum pernah kesampaian. Terkahir aku menginjakkan kaki disana saat libur kuliah pada ramadhan tahun 2014 lalu. Sudah 6 tahun tidak balik kampung, bagaimana dengan pulau itu sekarang? 

Misi pulang Midai kali ini juga ingin mengenalkan keluarga baruku dengan keluarga besar ku disana. Sejak menikah, mamanya jagoan belum pernah ke Midai dan si jagoan kecilku ini ingin sampai juga ke kampung nenek moyangnya di sana. Saya langsung packing barang, dan bersiap untuk berlayar besok, uhyey.
Packing

Perjalanan ke Midai kami mulai dari rumah menuju Pelabuhan Rakyat di Selat Lampa, lalu naik kapal menuju Midai. Ada banyak kapal menuju Midai, diantara yang biasa ditumpangi adalah KM Fisabilillah dari pemda, Kapal Nelayan "KKP" dari Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, dan beberapa kapal milik juragan-juragan Midai. Perjalanan dari Selat Lampa menuju Midai biasa ditempuh dengan waktu tempuh kurang lebih 5-7 jam tergantung pada cuaca. 

Kapal yang kami tumpangi lepas jangkar pada pukul 7 pagi, lalu sampai di pelabuhan Midai pada pukul 1 siang. Alhamdulillah cuaca pagi ini cerah dan bersahabat, laut "bagai air dalam talam", begitu masyarakat Natuna mengistilahkan laut tenang tanpa gelombang. Kami sampai dengan selamat.
Suasana di pelabuhan WK, Midai

Midai, pulau kecil di selatan Pulau Bunguran ini berada tersendiri tanpa "teman". Pulau terdekat adalah pulau Timau, itupun tiga jam perjalanan dengan perahu mesin untuk mencapai kesana. Letak  pulau Midai ini juga strategis untuk wilayah Kabupaten Natuna, sehingga saya sendiri sedikit bingung untuk menyebut pulau Midai ini masuk dalam gugusan Pulau Bunguran (Natuna Besar) atau gugus Kepulauan Natuna Selatan.

Saat ini Midai terbagi menjadi dua kecamatan, Kecamatan Suak Midai yang merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Midai diresmikan pada april 2016 lalu. Sepertinya unik, satu pulau dengan luas kurang lebih 18 km persegi ini memiliki dua kecamatan, namun saya rasa bagus, untuk mempercepat pembangunan dan pemanfataan sumber daya manusia yang ada.

Tak banyak perubahan yang nampak menurut saya setelah 6 tahun Midai tak saya kunjungi. Midai dahulu dan sekarang masih sama, masih asri, masih alami. Sedikit hasil pembangunan nampak di pulau ini, seperti kantor-kantor pemerintahan yang terlihat lebih modern setelah renovasi, bangunan-bangunan hasil bantuan dari pemerintah pusat, semenisasi jalan, dan banyak lagi mulai terlihat, itu yang membedakannya. Namun bahkan, ada yang "mundur" ke belakang, seperti beberapa bangunan dan pelabuhan yang tak terurus dan terawat. Rumah-rumah yang rusak tak terawat karena ditinggal penghuninya. Sarana olahraga banyak dibangun untuk menyalurkan bakat-bakat para olahragawan Midai yang memang terkenal apik sejak dulu. 
Tugu Midai

Ohya, kafe-kafe kekinian serta kios-kios minuman hasil karya enterpreneur muda Midai mulai tampak, terutama di Kelurahan Sabang Barat, satu-satunya kelurahan di pulau ini dengan penduduk yang sangat banyak, hampir menyamai 5 desa yang ada di dua kecamatan di pulau ini. Bisa di bilang Sabang Barat merupakan "ibukota" pulau Midai, dimana perputaran ekonomi berpusat di sini.  

Orang-orang menyebutnya Kedai, salah satu daerah di Sabang Barat dimana pusat keramaian berada. Kantor Lurah, Pelabuhan Rakyat, Bank, Masjid, Kelenteng, hingga warung kopi berada di kawasan ini. Tugu Proklamasi masih berdiri tegak di depan kantor Lurah, tugu yang ikonik. Tugu yang menjadi penanda, pulau kecil ini berada di bawah NKRI.

Bangunan-bangunan di Kedai

Saya menyebut daerah Kedai ini sebagai "kote tue". Bangunan-bangunan kayu dua lantai berada di sisi kiri dan kanan jalan. Sebagian masih utuh dengan kayu asli dan ukiran khas zaman dulu, sebagian lagi hancur, bahkan hilang sama sekali diganti semen dan besi.

Dahulu, di Kedai ini pernah berdiri perusahaan multinasional dijamannya, Ahmadi & Co, namanya. Ia merupakan gabungan syirkah-syirkah di Pulau Midai yang bekerjasama mengelola hasil bumi pulau ini untuk diekspor hingga keluar negeri. Midai menjadi pulau yang maju saat itu. Dulu. Sekarang tinggal bekas bangunan kantornya saja di dekat tugu Pemuda yang digunakan sebagai gudang.
Bekas Kantor Ahmadi & Co.

Kala senggang, saya mengelilingi pulau Midai bersama keluarga ketika sore hari. Dengan kendaraan bermotor, cukup 45 menit saja mengitari pulau ini. Melewati jalan utama di pesisir, terkadang juga kami memotong jalan dengan melewati gunung Jambat. Sekali lagi, tak banyak perubahan yang tampak di Midai. Masih tetap alami, dan asri. Pepohonan kelapa mendominasi pulau ini hingga ia menjadi komoditas utama pada masa kejayaan Ahmadi & Co dahulu. Kebun cengkeh milik warga akan mudah kita temui jika kita berseliweran jalan di gunung-gunung. Selain gunung Jambat, ada gunung Air Putih, Gunung Sebelat, Gunung Lampu, dan lain-lain. 

Ohya, saya sedikit yang saya catat ketika berada di sini. Adalah ramainya warga, terutama anak-muda yang nongkrong di pelabuhan ketika pagi dan sore hari. Bukan tanoa sebab, mereka ternyata mencari akses internet untuk kebutuhan "premier" mereka. Dan pelabuhan merupakan tempat "merdeka sinyal" di Midai. Begitulah, sejak dahulu, Midai memang agak susah untuk bidang komunikasi. Saat akses internet belum ada saja, orang-orang Midai susah untuk  menghubungi dan dihubungi lewat telepon selular biasa. Dan dijaman yang serba menggunakan akses internet seperti sekarang inipun demikian adanya.

Hmmmm satu lagi, selama saya di sana, ada satu yang saya fikir benar-benar hilang. Atau paling tidak, tidak saya temui selama beberapa hari berada di sana, yaitu gerobak sapi. Yap, dahulu saat saya liburan di Midai, naik gerobak sapi adalah tujuan saya kedua, setelah berenang di laut. Entah mengapa, bahagia saja menumpang naik gerobak sapi ini. Memang, sesederhana itulah bahagia. Namun saat ini, gerobak sapi sudah tidak saya temui lagi di Midai. Tugasnya diganti oleh yang lebih kuat dan praktis, sepeda motor roda tiga, atau yang biasa disebut tosa. Disisi lain, hal ini bagus, mengurangi eksploitasi binatang. Namun kenangan akan hal ini sulit dilupakan.

Sekitar seminggu kami berada di Midai, ini sebagai pembuka perkenalan kepada keluarga baruku tentang pulau mungil yang menyimpan banyak cerita dan sejarah. Lain waktu insya Allah kami akan kembali datang, menulis cerita baru, atau mengingat cerita-cerita lama untuk kembali menyegarkan ingatan betapa bahagia dan indahnya pulau ini, Pulau Midai.







Friday, February 7, 2020

6 Fakta Mengenai Natuna, Pulau yang Dijadikan Lokasi Karantina WNI Dari Wuhan

Cerita bermula dari salah satu media online nasional yang memuat artikel tentang tempat-tempat potensial untuk karantina WNI yang akan dievakuasi dari Wuhan. Dalam artikelnya tertulis Kepulauan Natuna diopsi terkahir. Berbagai tangkapan layar (screenshot) dibagian Natuna nya mengisi laman berbagai media sosial rekan-rekan disini. 

Serasa tidak akan mungkin. Mengingat Natuna ini berada jauh dari pusat ibukota dan daerah terdepan sehingga kecil kemungkinan untuk "diperhatikan" pemerintah pusat. Namun ternyata itu salah, Natuna fix jadi tempat karantina.

Meski harus melalui proses yang panjang, mulai dari berbagai aksi, audiensi hingga mediasi pada akhir januari hingga awal februari lalu. Pemilihan pulau Natuna sebagai tempat karantina WNI yang dievakuasi dari Wuhan tetap tidak berubah. Warga Negara Indonesia di Wuhan tiba di bandara Raden Sadjad pada minggu, 02022020 untuk dikarantina selama kurang lebih 14 hari.

Seujujurnya tak sedikit warga yang masih was-was akan kejadian ini. Beragam pertanyaan juga masih terlontar yang berarti belum terjawab semua rasa penasaran warga di Natuna, khususnya di pulau Bunguran, tempat dimana WNI dikarantina.

Namun apapun itu, warga Natuna menerima keputusan pemerintah pusat mengenai karantina WNI selama 14 hari setelah meminta beberapa poin usulan yang diajukan saat aksi penolakan. 

Sebentar saya flashback sedikit, aksi penolakan yang kami lakukan dulu berada didua "dunia", dunia nyata dan dunia maya. Di dunia nyata kami letih tenaga, di dunia maya kami letih fikiran dan emosi meladeni para netijen +62 dengan berbagai cercaannya, kebanyakan dari mereka tidak pernah bahkan tidak tahu bagaimana kondisi Natuna sesungguhnya, yang mereka lakukan adalah "ikut" mencmooh bagaimanapun keadaannya. Agak lucu denk.

Tapi tidak mengapa, kami warga Natuna terkenal dengan kebaikannya sedjak doeloe kala. Untuk itu, melalui artikel singkat ini, saya ingin menjelaskan sedikit fakta-fakta tentang Natuna, Kepulauan yang menjadi penjaga gerbang kedaulatan NKRI bagian utara di wilayah barat Indonesia ini.

1. Beretangga Langsung Dengan 5 Negara
Letaknya yang jauh berada di utara Indonesia ini membuat Kepulauan Natuna "berinteraksi" langsung dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina, hingga Tiongkok. Natuna juga kerap mendapat kunjungan dari para tetangganya ini, baik secara resmi, maupun secara ilegal, ada yang singgah menetap, atau hanya sekedar numpang lewat.
Natuna di tengah-tengah Asean
Hubungan Natuna dengan beberapa negara ini juga sudah "terjalin" sejak dulu, melalui sejarah, suku, dan budaya. Artefak-artefak masa lalu banyak ditemukan di Natuna rata-rata berasal dari Dinasti Kerajaan di China. Secara suku dan budaya, warga Natuna yang  mayoritas suku melayu ini memiliki hubungan historis yang kuat dengan kerajaan melayu di Malaysia.


2. "Masuk" Indonesia Pada Tanggal 18 Mei 1956
Natuna baru didaftarkan oleh pemerintah Indonesia ke PBB sebagai bagian dari wilayahnya pada tanggal 18 Mei 1956. Saya sendiri belum mendapat sumber valid mengenai lambatnya wilayah Natuna ke dalam NKRI. Natuna sejak masa sebelum kemerdekaan merupakan bagian dari wilayah kerajaan Riau Lingga yang berpusat di Pulau Penyengat, kota Tanjung Pinang saat ini. Bahkan pada beberapa keterangan foto perang dunia ke 2 tahun 1945 dari Australian War Memorial menyebutkan Natuna merupakan bagian dari wilayah Kuching Borneo (Malaysia Timur saat ini). 
Sumber foto : Australian War Memorial
Memang secara geografis, Natuna lebih dekat dengan Negara Bagian Serawak Malaysia, namun sisi historislah yang membuat Kepulauan Natuna menjadi bagian dari Indonesia. Ini ada kaitannya dengan perjanjian Anglo-Dutch antara Inggris dan Belanda pada tahuna 1800an dulu.


3. Mayoritas Suku Melayu
Berada dibawah naungan kerajaan Riau Lingga pada masa lampau serta diapit oleh dua negeri melayu sejak dulu menjadikan Kepulauan Natuna mayoritas dihuni oleh suku Melayu dan mengaplikasikan budaya melayu dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga bahasa Melayu, kami biasanya menyebutnya dengan Melayu Natuna, karena bahasanya agak berbeda dari kebanyakan bahasa Melayu yang familiar didengar orang-orang. Penasaran seperti apa? Makanya ke Natuna.
Kesenian melayu yang dibawakan mahasiswa dari Natuna
Namun, Natuna sangat terbuka untuk siapa saja. Selain suku Melayu yang mendominasi, kepulauan Natuna juga dihuni oleh beragam suku yang ada di Indonesia seperti Jawa, Bugis, Minang, Batak, hingga Tionghoa. Kami sudah hidupa berdampingan bin damai dan aman sejak sekian lama.


4. Kaya Akan Sumber Daya Alam
Di Ranai ada gunung,
Tempat mendaki para jawara,
Memang Natuna adanya di ujung,
Tapi jadi penyumbang devisa negara.

Itu sepenggal pantun yang saya ingat, dilantunkan oleh bupati kedua Natuna beberapa tahun lalu saat saya masih sekolah. Yap, kepulauan Natuna memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan juga menjadi pemasok devisa negara. Potensi sumber daya alam yang dimiliki Natuna antara lain pariwisata, kelautan dan perikanan, serta minyak dan gas bumi. Natuna memiliki cadangan gas bumi yang disebut sebagai cadangan gas terbesar di Asia, nama lokasinya adalah Natuna Block D Alpha, familiar dengan kata-kata itu? 
Cadangan Gas Alam Indonesia (medium.com)
Epp epp satu lagi, for your information, cadangan gas tersebar ini masih perawan loh ya, belum diapapain. Masih menunggu tangan-tangan terampil anak negeri untuk mengelola dan memanfaatkannya sebaik-baik mungkin.

5. Memiliki Alam yang Indah
Tak hanya memiliki sumber daya alam yang besar. Kepulauan Natuna juga dianugerahi alam-alam indah. Ada banyak lokasi wisata yang bisa ditemui jika kalian berkunjung ke Natuna. Mulai dari wisata pantai, pulau, maritim, hingga gunung dan bebatuan-bebatuan indah. Semua bisa ditemui saat kalian memilih memutuskan untuk berkunjung ke Natuna. Semuanya ini merupakan potensi wisata alam yang sangat sayang untuk dilewatkan.
Pulau Senua, (@qqfirdaoes)
Contohnya saja Pulau Senua. Pulau yang mirip dengan ibu hamil ini merupakan ikon wisata di Natuna. Jaraknya tak terlalu jauh dari Pulau Bunguran, hanya memakan waktu 15 - 30 menit saja untuk menuju pulau tersebut dengan perahu mesin tradisional milik warga setempat. Laut yang jernih, pasir yang putih, alam yang asri membuat Pulau Senua menjadi destinasi favorit, bahkan masuk dalam nominasi Anugerah Pariwisata Indonesia tahun 2019 dengan kategori Surga Tersembunyi.

6. Salah Satu Geopark Nasional
Keindahan yang dimiliki oleh Natuna ternyata menjadi magnet yang menarik para peneliti untuk datang kesana. Setelah dengan berbagai kajian, akhirnya Natuna pada akhir 2018 lalu ditetap oleh KNGI (Komite Nasional Geopark Indonesia) sebagai situs Geopark Nasional yang jug akan diajukan untuk masuk kedalam Jaringan Geopark Global atau UNESCO Global Geopark.
Batu Sindu, salah satu Geosite di Natuna
Geopark merupakan sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi dimana masyarakat diajak untuk ikut berperan serta melindungi dan meningkat fungsi dari warisan alam, termasuk nilai arkeologi, ekologi, hingga sejarah dan budayanya. Jadi kawasan yang ditetapkan sebagai situs geopark itu harus memiliki 3 unsur diantaranya keragam Geologi, keragam hayati (flora dan fauna) dan keragaman budaya. Tujuan geopark ini adalah, konservasi, edukasi dan peningkatan sektor wisata. Saat ini, Indonesia memiliki belasan geopark nasional dan lima diantaranya sudah diakui UNESCO dan masuk dalam Jaringan Geopark Global.


Nah, itu tadi 6 fakta mengenai Natuna, negeri elok di utara Indonesia yang saat ini sedang hot-hotnya jadi pembahasaan dan pemberitaan diberbagai media. 
Jadi #kapanmaukeNatuna? 

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...