Saturday, November 25, 2023

Menginap di Homestay Nirmala Sijunjung: Rasa Apartemen, Wak!

Matahari sudah lebih dari satu jam kembali ke peraduan ketika kami tiba di Kabupaten Sijunjung. Perjalanan panjang dari Bandara ke Sijunjung membuat badan letih sekali. Namun ada 1 kegiatan yang harus diikuti malam ini, yakni gala dinner penyambutan peserta di kediaman pimpinan daerah. Di sana aku bertemu dengan beberapa rekan, dulu kami bertemu pada acara serupa namun di tempat yang berbeda. Geopark ini "itu-itu saja" fikirku. 

Setelah kegiatan selesai, barulah kami kembali ke homestay untuk istirahat.

Jauh sebelum berangkat ke sini, panitia mengirimkan undangan yang juga berisi jadwal acara dan beberapa opsi penginapan. Aku memilih di penginapan Nirmala Homestay yang tak terlalu jauh dari lokasi acara. Melihat brosur yang ditawarkan, Nirmala Homestay ini merupakan homestay yang baru sehingga membuatku tertarik memilih homestay ini untuk jadi tempat menginap.

Brosur Homestay Nirmala

Homestay Nirmala ini terdiri dari 3 lantai, lantai bawah berfungsi sebagai ruangan resepsionis, lantai dua terdapat beberapa kamar yang juga digunakan oleh peserta kegiatan. Sedangkan kami menyewa kamar di lantai paling atas.

Aku tak tahu seperti apa kamar di lantai dua karena memang tak ke sana. Namun akan ku deskripsikan bagaimana tempat kami di lantai tiga. Jom!

di teras lantai tiga

Homestay di lantai tiga berbentuk seperti rumah. Rumah di atas rumah begitulah kira-kira yang bisa ku jelaskan. Dari tangga naik kita langsung memasuki teras rumah yang lumayan luas, bisa digunakan untuk bersantai dan juga menjemur pakaian.

Masuk ke dalam terdapat ruang tamu kecil lengkap dengan sofa full set. Di samping ruang tamu ada kamar tidur utama yang begitu luas dengan kamar mandi di dalamnya. Kelengkapan ruangan mulai dari kasur, lemari hingga pendingin ruangan semuanya serba baru, kesan elegan melekat berpadu tata letak yang pas.

Interior Nirmala Homestay

Kamar tidur satu lagi yang berukuran lebih kecil. Di sini tempat ku tidur, kamar seluas kira-kira 3x4 meter ini berisi sebuah kasur twins, lemari dan meja rias. Pendingin ruangan melengkapi ruangan kelas standart ini.

Keluar dari kamar, kita akan langsung terhubung ke ruang televisi yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. Dapur bersihnya dipisah oleh sebuah minibar, toilet berada di pojok ruangan. Peralatan dapurnya pun terbilang lengkap: tersedia alat makan, kulkas, hingga dispenser air minum. Beberapa sachet teh dan kopi juga disediakan gratis untuk tamu yang menginap.

Ruang makan sekaligus dapur, dan hospitality tray

Dan yang paling menyenangkan, semua peralatannya masih gress alias baru. Sebuah vibe yang sangat pas untuk mengantar tidur pulas malam ini.

-------------

Saat pagi tiba, pemandangan dari lantai tiga homestay sungguh menenangkan. View bukit dengan kubah masjid seakan-akan seperti imajinasi masa kecilku tentang desa yang aman dan tentram menjadi nyata. Dan itu ku dapati di ranah minang ini, kampung leluhurku. Lengkap sekali rasanya, setelah tidur begitu nyenyak tadi malam, paginya disambut dengan suasana seperti ini. Bikin betah!

Suasana pagi di homestay (atas) dan pemandangan di depannya (bawah)

Aktivitas pagi masyarakat mulai riuh di bawah, lalu lalang kendaraan, hiruk pikuk suasana pasar di kejauhan, hingga kesibukan siswa-siswi yang bersiap berangkat sekolah. Udara Kabupaten Sijunjung yang adem dan segar setia menemani ku pagi ini.

Tak lama berselang, petugas homestay datang membawa nampan sarapan berisi nasi goreng dan Bubur Kampiun sebagai hidangan penutup.

Nasi Goreng dan Bubur Kampiun khas Minangkabau

Bagi masyarakat Minangkabau, Bubur Kampiun (berasal dari serapan bahasa Inggris: Champion yang berarti Juara) adalah kuliner sarapan legendaris yang memadukan berbagai jenis hidangan manis dan gurih dalam satu mangkuk. Di dalamnya terdapat kombinasi bubur sumsum yang lembut, bubur kacang hijau, olahan ketan/lopek, hingga kuah santan dan siraman gula merah pekat. Rasanya benar-benar Champion! Perpaduan gurih-manis yang legit, hangat di perut, dan seketika menjadi "doping" alami yang sempurna untuk membakar semangat sebelum menghadapi agenda panjang hari ini.

Duduk di lantai tiga "apartemen" ini, menyantap sarapan lezat dengan latar belakang perbukitan asri dan riak kehidupan Ranah Minang Silokek, menjadi sebuah momen pembuka perjalanan yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyegarkan pikiran.


Nb:
Yang mau kepoin homestay nya bisa cek di ig nirmala homestay, yap!


Thursday, November 23, 2023

Kembali ke Ranah Minang Setelah Dua Dekade

Burung besi yang ku tumpangi mulai lepas landas dari Hang Nadim, meninggalkan kepulauan Melayu, terbang menuju barat mencari kitab suci. Aku sengaja memilih kursi di jendela, karena pada penerbangan kali ini ku begitu antusias, bukan karena untuk mengambil gambar yang biasa jadi bahan feed IG dari atas pesawat, namun karena tujuan pesawat ini. 

Penampakan di bawah selama lebih kurang 60 menit penerbangan ini didominasi oleh daratan luas pulau Sumatera yang masih tampak hijau. Agak berbeda dengan beberapa penerbangan ku sebelum-sebelumnya yang didominasi hamparan laut biru.

Burung besi yang ku tumpangi kali ini akan membawa ku pada suatu tempat, yang baru dua kali ku injakkan kaki di sana. Tempat dimana ulama hingga tokoh-tokoh besar dilahirkan, tempat dimana saksi perjuangan ditampakkan, tempat dimana adat dan budaya dipegang erat, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah: Ranah Minang, tanah leluhur.

Kampuang den, Sumatra Barat

Roda pesawat mendarat mulus sempurna setelah lebih kurang 60 menit di langit Sumatra. Minangkabau International Airport atau Bandara Internasional Minangkabau (BIM), satu dari puluhan bandara internasional di Indonesia (yang kabarnya akan dikurangi beberapa nanti). Aku baru pertama ke bandara yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman ini, karena saat pergi pertama kali ke sini puluhan tahun lalu itu, aku dan ayahku lewat jalur darat dari Pekanbaru, naik mobil. Melewati Lembah Anai dan Kelok Sembilan yang berhasil buatku unyai, mabuk tak berdaya.

Sambil menunggu bagasi di ruang tunggu, kami bertemu dengan panitia dan beberapa peserta kegiatan. Ohya, perjalananku kesini dalam rangka menghadiri kegiatan yang diadakan di Kabupaten Sijunjung. Setelah urusan selesai, kami menaiki bus yang ditentukan panitia. Roda bus berputar keluar dari bandara, menuju Kabupaten Sijunjung. Jarak dari BIM ke Sijunjung sekitar 150km, jika waktu normal, perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam perjalanan.

Gass menuju Sijunjung

Aku kembali memilih di jendela, menyandarkan kepala pada dinding kaca bus sambil melihat sekeliling. Melihat alam minangkabau, membuka memori masa kecilku tentang kampung leluhurku ini. Saat pertama pergi, usiaku baru 6 tahun, belum menyadari banyak hal. Ssaat itu aku hanya ingat, kami ke Padang, tempat keluarga nenek, bermain ke Jam Gadang, dan ke pantai Air Manih (tapi tak ke patung Malin Kundang nya). Lalu lanjut lagi ke Bukit Tinggi, kampung keluarga inyiak (kakek). Bermain ke kebun binatang dan taman bermain di sana. Bertemu saudara-saudara dari keluarga ayahku, yang aku sudah lupa namanya.

Bus terus melaju melewati jalan raya yang sedikit lengang. Singgah sebentar untuk istirahat makan siang, bukan di Rumah Makan Padang, tapi masakannya full khas RM Padang. Memang jarang ditemukan RM Padang di Sumatera Barat, sebab masakannya sudah menjadi bagian dari budaya, sehingga tidak perlu lagi melabeli "RM Padang" di rumah-rumah makannya.

Nasi Kapau jadi pengganjal perut di hari pertama ini. Sambil berkenalan dengan beberapa peserta kegiatan lain yang berasal dari berbagai tempat di seluruh Indonesia. Setelah makan siang, kami lanjut ke perjalanan ke Sijunjung.

Perjalanan ke Sijunjung ternyata cukup jauh, kami berhenti di beberapa titik, Baik untuk buang hajat dan belanja makanan ringan untuk dikunyah selama perjalanan. Kami juga melewati tikungan yang sedang viral-viralnya: Sitinjau Lauik. Jalanan ekstrim ini kerap kali lewat di beranda media sosial saya, dan akhirnya bisa lewat secara langsung, dan memang benar-benar ekstrim dan ngeri-ngeri sedap.

Sitinjau Lauik merupakan dataran tinggi dengan jalan berkelok yang terletak di jalan lintas Kota Padang dan Kabupaten Solok. Sitinjau Lauik berarti melihat laut dari kejauhan. Karena terletak di ketinggian lebih dari 1000 mdpl, kita bisa melihat laut di sisi barat pantai Sumatera. Selain terkenal dengan jalur yang ekstrim, jalur yang kerap tertutup awan ini memegang peranan penting bagi jalur transportasi dan distribusi logistik dari dan ke Padang, jalan ini juga menjadi penghubung beberapa daerah di ranah minang.

Rute ini juga melewati Tahura (Taman Hutan Raya) Bung Hatta. Penamaan ini merupakan suatu penghormatan kepada Proklamator asal minang tersebut. Tahura Bung Hatta berada pada ketinggian 300 - 1800an mdpl, dan merupakan rumah bagi ragam jenis flora dan fauna, termasuk jenis bunga bangkai dan beberapa jenis burung endemik.
Melewati Sitinjau Lauik
Perjalanan ke Sijunjung ternyata tak semulus yang dikira. Dari perkiraan awal berkisar 4 jam. Kami baru tiba di Sijunjung pada jam 7 malam. Kurang lebih 8 jam perjalanan. Setelah sampai di Sijunjung, kami disambut oleh "pemilik lahan" dalam acara gala dinner, yap Bupati Sijunjung dan Gubernur Sumatra Barat hadir dalam kegiatan ini.

Setelah semua kegiatan selesai, kami kembali ke tempat menginap, dan rebaaaaah. Akumulasi rasa letih selama 12 jam total perjalanan ditumpahkan di kasur tempat menginap. Mengumpulkan tenaga untuk mengikuti kegiatan besok, dan beberapa hari ke depan.

 

Wednesday, July 26, 2023

Lombok: Dari Museum Hingga "Ndek Wah"

Hari kedua di Gumi Sasak. Kegiatan masih berlangsung dalam ruangan utama. Beberapa peserta lain berada di ruangan pameran, dan beberapa lagi tidak tau entah kemana alias tidak berada di ruang utama, maupun ruang pameran. Dan saya, akan termasuk dalam kategori ketiga, karena berencana keluar hotel setelah kemarin malam googling mengenai tempat-tempat menarik.

Berbekal google map dan aplikasi ojek online, saya mengitari kota Mataram yang masih terasa sejuk meski matahari sudah mulai meninggi. Lokasi pertama adalah pasar mutiara Lombok, ini request dari orang rumah yang sedari pagi sudah wanti-wanti bahkan langsung mengirimkan lokasinya. Tapi jadi tujuan yang perlu dicatat untuk dikunjungi. Kemudian berlanjut ke Museum Daerah NTB yang terletak di jalan Panji Tilar Negara. Museum selalu menjadi top list tempat yang harus saya kunjungi ketika mengunjungi tempat baru. 

GIC Rinjani Lombok
Masih dalam komplek Museum, saya juga mengunjungi Geopark Information Center (GIC), GIC merupakan tempat yang -sepertinya- harus ada ketika suatu kawasan ditetapkan sebagai kawasan Geopark. GIC berisi informasi seputar kebumian wilayah yang ditetapkan sebagai Geopark dan apa yang ada di dalamnya. Dalam hal ini yakni unsur geologi, biologi dan budaya, dari hulu hingga hilirnya, juga termasuk produk-produk unggulannya. 

Dari GIC saya bertolak ke Mataram Islamic Center, yang lokasinya sangat dekat dengan hotel tempat kami menginap, sekaligus tempat acara dihelat. Masjid Hubbul Wathan namanya, terletak di pusat kota menjadikan Islamic Center ini mudah dijangkau. Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 7 hektar, Mataram Islamic Center ini terdiri dari 4 lantai dan 5 menara. Salah satu menara memiliki tinggi 99 meter yang mewakili nama-nama Allah, asma'ul husna

Mataram Islamic Center
Tak hanya sebagai sarana ibadah, Islamic Center ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, dan menjalankan sebenar-sebenar fungsinya sebagai pusat peradaban islam. Melengkapi julukan pulau Lombok sebagai Pulau 1000 Masjid.

Setelah perjalanan singkat tadi, saya kembali ke hotel untuk beristirahat. Sembari menunggu kegiatan ini yang mengirim saya ke tempat ini: Kongres 1 Indonesian Geopark Youth Forum (IGYF). Kegiatan perdana dalam menentukan pimpinan eksekutif dari organisasi yang telah kugeluti selama kurang lebih setahunan ini.

Hari ketiga, rangkaian kegiatan di Lombok masih berlanjut, dengan agenda terakhir yaitu site visit. Kali ini penyelenggara mengajak kami menuju ke beberapa gili yang ada di sebelah timur pulau ini. Gili berarti pulau. Lombok sudah terkenal sekali dengan Gili Trawangan nya. Namun kali ini penyelenggara akan mengajak ke gili-gili yang lain. Antimainstream memang, namun saya pikir ini merupakan sebuah trik untuk mengenalkan Lombok agar tak hanya Gili Trawangan saja yang dikenal.

Gili Petagan dan Gili Bidara
Dengan perahu wisata, kami mengunjungi Gili Bidara dengan melewati Gili Petagan terlebih dahulu, sebuah hutan mangrove yang indah dengan biota-biotanya. Di Gili Bidara kami menyempatkan diri untuk snorkling, melihat terumbu karang yang luar biasa indahnya dengan jarak yang sangat dekat dari bibir pantai. Kemudian beristirahat makan siang di Gili Kondo. Saya berkumpul bersama rekan-rekan pemuda yang laiin, juga bersama dengan panitia lokal. 

Sambil-sambil bercerita dan berbagi banyak hal, telinga saya ter-autofokus mendengar salah seorang berbicara dengan bahasa sasak kepada temannya. "Ndekwah", begitu lafaznya, seketika saya memberhentikan percakapan mereka dan bertanya.

Gili Kondo dan Gili Pasir

"tadi barusan bilang "ndekwah", apakah artinya itu tidak pernah?"

"iya, kok tau bang", jawab mereka dan kembali bertanya.

Ndekwah juga memiliki arti yang sama dengan bahasa Melayu Natuna, yaitu tidak pernah. Sebuah percakapan singkat dengan awalan kata "ndekwah" menjadi cerita panjang setelahnya. Perbincangan tentang pertukaran budaya antara Melayu Natuna dan Sasak di Lombok. Kata "ndek" sebelumnya sudah pernah saya dengar saat diajak oleh senior kampus saya yang juga berdomisili di sini ketika kami makan ayam taliwang, masakan khas Lombok. Namun "ndekwah" ini memiliki makna tersendiri bagi saya, dua pulau yang berjarak ratusan kilometer memiliki kesamaan kata dan makna. Barangkali ada kesamaan dalam hal tertentu yang terjadipada masa lampau.

Bukan lebay, namun ini tentang rasa saja. Dan saya yang sepertinya harus kembali mempelajari sejarah mengenai bahasa-bahasa di Nusantara. Barangkali "ndekwah" adalah salah satu dari sekian banyak kesamaan bahasa antara Melayu Natuna dan Sasak di pulau Lombok ini.

Geopark Rinjani Lombok memberikan pengalaman baru. Kesan pertama yang begitu "menggoda", semoga bisa kembali ke Gumi Sasak ini, kelak. Sampai jumpa lagi.



Tuesday, July 25, 2023

Perjalanan Ke Lombok, Kota Seribu Masjid dan Kejutan-Kejutan

Nusa Tenggara Barat, sebuah provinsi yang masuk dalam WITA (Waktu Indonesia Tengah) ini berada dalam list untuk ku "tinggalkan jejaknya". Dan alhamdulillah, akhir pekan lalu berkesempatan menginjakkan kaki di Gumi Sasak -Pulau Lombok- ini dalam rangka menghadiri beberapa agenda kegiatan di sini.

Nusa Tenggara menjadi nama gugusan kepulauan yang membentang di sebelah selatan pulau Sulawesi hingga selatan Laut Banda. Dahulu gugusan kepulauan ini bernama Sunda Kecil, nama Nusa Tenggara mulai resmi digunakan sejak UU 8 1958 diresmikan. Barangkali, Nusa Tenggara berarti pulau-pulau (nusa) yang terletak di sebelah tenggara NKRI. Secara administrasi, Nusa Tenggara ini dibedakan menjadi dua, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dua-duanya adalah nama provinsi. 

Nusa Tenggara Barat
Peta Nusa Tenggara Barat

NTB terdiri dari banyak pulau, dan didominasi oleh dua pulau besar, yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Pulau Sumbawa merupakan pulau terbesar di NTB. Pulau Lombok, meski bukan merupakan pulau terbesar di NTB (luasnya sekitar 1/4 dari pulau Sumbawa), ia merupakan tempat dimana pusat pemerintahan Provinsi NTB berada. Kota Mataram, yang merupakan ibukota provinsi NTB berada di pulau ini. Pusat pemerintahan dan ekonomi juga berputar cepat di pulau ini. Selain banyak pulau kecil nan menawan di sekelilingnya, Rinjani yang berdiri megah di tengah-tengah pulau menjadi pelengkap keindahan Sang Gumi Sasak.

Landing, the first time....
Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Lombok Internasional Airport (LIA) pada malam hari, sebuah perjalanan panjang dengan rute Natuna - Batam (bermalam) - Cengkareng - Yogyakarta - Lombok. Lampu-lampu kota Mataram sudah seakan menyambut kami dari atas sang burung besi. Di tempat tunggu pengambilan barang, kami berjumpa dengan delegasi peserta kegiatan dari daerah-daerah lain. Setelah chit-chat ringan dan berfoto tentunya, kami menuju hotel tempat acara dengan singgah ke sebuah rumah makan untuk menikmati ayam taliwang khas Lombok. Menikmati makanan khas dari tanahnya langsung.

Touchdown Lombok

Di tempat acara, saya menyempatkan diri bertemu dengan rekan-rekan yang sudah dahulu tiba, melepas rindu dengan berfoto bersama. Lalu kembali ke kamar untuk beristirahat. Perjalanan panjang dan duduk lama di dua moda transportasi (darat dan udara) akhirnya membuat badan ini meminta haknya. Tidur.

Perbedaan zona waktu membuat ku agak sedikit bingung dalam menentukan waktu subuh dan matahari terbit yang sudah saya rencanakan untuk hunting sejak tadi malam. Sembari mengeksplor hotel tempat menginap saya menemukan beberapa titik untuk mengambil foto sang surya yang sedang terbit. Sinar fajar berwarna jingga yang perlahan terbit dari timur masih tertutup dengan bayang-bayang raksasa yang baru ku ketahui adalah sebuah gunung. Gunung Argapura, tetangga gunung Rinjani ini berdiri kokoh di sebelah timur sehingga membuat cahaya arunika menyelip-nyelip manja dalam menampakkan indahnya. Pemandangan lain dari atas hotel juga tak kalah indah, kubah-kubah masjid terlihat sejauh mata memandang. Di segala penjuru arah. Tak salah memang jika pulau ini dijuluki kota seribu masjid dengan tujuan wisata halal terbaik di dunia versi Global Muslim Travel Indeks (GMTI).

Arunika dan Kubah-kubah Masjid

Dua kejutan tadi membuatku tak henti-hentinya mengucap rasa syukur. Sambil menerka-nerka, kejutan apa lagi yang diberikan Allah padaku melalui perantara Gumi Sasak ini.

Setelah terang, aku memutuskan untuk keluar hotel, berjalan-jalan sebentar sembari menunggu sarapan disiapkan. Berada di dekat gunung membuat udara pagi terasa dingin, jadi keluar sebentar sambil menghangatkan badan akan jadi kegiatan yang tepat. Tempat kami menginap berada di pusat kota Mataram. Benar-benar pusat kota. Sepertinya panitia sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kegiatan multinasional ini. Berada di pusat kota membuat hotel ini dikelilingi oleh berbagai instansi pemerintah, mulai dari DPRD, kantor-kantor pemerintahan, Bank Daerah, Islamic Center hingga bandara Selaparang (bandara TNI AU). Dahulu bandara Selaparang merupakan pintu masuk udara bagi para wisatawan yang akan mengunjungi Lombok pada tahun 2011an ke bawah, sampai "gerbang udara" ini dialihkan ke Lombok Internation Airport pada oktober 2011 hingga saat ini.

Perbandingan motif

Saat berjalan di trotoar, mataku autofocus pada ukiran penghias di lantai trotoar ini. Ukirannya mirip seperti ukiran melayu kaluk pakis yang digabungkan. Sebagai pengagum budaya, fenomena ini aku abadikan, sebagai bahan kajian ala-ala ku ke depan, barangkali ada benang merah antara suku Sasak dan Melayu. Dan ini juga kusebut sebagai kejutan.

Bersambung.......







Monday, July 24, 2023

Museum Daerah NTB: Wisata Sejarah Budaya di Gumi Sasak

Seperti sudah menjadi sebuah tradisi dalam diri, yaitu menyempatkan mengunjungi tempat-tempat bersejarah ketika berada di suatu tempat yang baru dikunjungi. Kali ini, mumpung sedang berada di "Gumi Sasak" Pulau Lombok, saya mengunjungi Museum NTB yang kalau dilihat dari peta, letaknya tak begitu jauh dari tempat acara yang saya hadiri.

Museum Negeri NTB

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, atau bisa juga disebut dengan Museum NTB ini terletak di pusat kota Mataram, tepatnya di jalan Panji Tilar Negara No 6 (map). Jarak yang masih terjangkau tempat saya menghadiri acara dengan menggunakan transportasi online. Terletak di kawasan tengah kota, Museum NTB sangat mudah dikunjungi. Berdiri di atas lahan seluas hampir satu hektar, museum ini memiliki lebih dari 7.000 koleksi, mulai dari sejarah, budaya, arkeologi, seni dan lain-lain.

Museum NTB terdiri dari beberapa bangunan, bangunan pertama yakni resepsionis, di sini tempat kita membeli tiket masuk museum. Antara bangunan depan dengan bangunan utama terdapat taman yang dihubungkan dengan koridor kecil. Beberapa barang bersejarah juga disusun rapi di dekat taman antara dua bangunan ini. Di sebelah kiri taman, di belakang loket tiket terdapat saung dan rumah adat di NTB. Sementara di sebelah kanan terdapat Geopark Information Center (GIC). Yap, Pulau Lombok sudah ditetapkan sebagai kawasan Geopark, bahkan saat ini menyandang status UNESCO Global Geopark (UGGP) yang sudah diakui dunia dengan nama resmi Rinjani Lombok UGGp.

Area sekitar taman museum

Saya memasuki bangunan utama melewati koridor kecil, dan disambut dengan Jaran Kamput. Jaran Kamput terlihat seperti mainan kuda-kudaan yang dihias sedemikian rupa, biasanya digunakan saat proses khitan anak laki-laki, dimana sang "pengantin" (anak yang dikhitan) akan naik di atas Jaran Kamput lalu diarak berkeliling kampung. Hal ini masih dilakukan oleh masyarakat suku Sasak di Lombok. Memasuki ruang utama adalah peta pulau Lombok dan pulau Sumbawa, dua pulau besar milik NTB ini dengan detail ditampilkan, sehingga kita bisa melihat keadaan geografi dua pulau ini, seperti dataran rendah, lembah, danau, hingga gunung Rinjani dan gunung Tambora, dua "atap langit" yang melegenda. Tulang belulang binatang purba yang ditemui di NTB, hingga proses kejadian serta produk kebumian juga bisa kita lihat di sini.

Ruangan berikutnya berkisah tentang peninggalan kesultanan dan kerajaan yang ada di NTB. Beberapa koleksi yang terlihat adalah foto Sultan/Raja, bekas pakaian yang digunakan dan lain-lain. Peta perjuangan masyarakat NTB melawan kekuasaan Hindia Belanda dengan jelas ditampilkan, sebagai pengingat, bahwa perjuangan pejuang-pejuang terdahulu dalam meraih hak-hak atas tanah air yang dijajah. Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, seorang tokoh, ulama, dan juga pahlawan Nasional yang mendirikan organisasi islam Nahdatul Wathan, profil singkat beliau rahimahullah bisa kit lihat di museum ini. Beliau yang bergelar Tuan Guru Kiyai Haji (TGKH) serta rekan-rekannya memiliki andil besar dalam penyebaran islam dan perjuangan pejuang di NTB.

Koleksi sejarah dan kebudayaan

Ruangan berikutnya menampilkan ragam kebudayaan dan beberapa peninggalan arkeologi seperti alat bertani dan berkebun, peninggalan keramik-keramik, alat memasak, hingga peralatan berkuda, serta alat-alat rumah tangga. Koleksi keris, permainan-permainan tradisional, alat musik, hingga motif tenun lombok -yang saya nilai paling estetik- juga dipamerkan di sini.

Perjalanan memutar museum membawa kita kembali ke pintu masuk. Sebelah kanan dari pintu masuk ini, terdapat koleksi flora dan fauna di NTB, mulai dari hasil produksi hutan, ragam reptil dan mamalia yang diawetkan, binatang-binatang laut, hingga buaya muara utuh yang diawetkan. Konon, buaya muara dengan panjang 4,1 meter ini pernah menggegerkan warga dan memangsa warga setempat. Setelah ditangkap dan diawetkan, buaya muara ini diserahkan ke museum pada tahun 2010 lalu.

Koleksi kebudayaan dan flora fauna

Sebagai informasi, Museum Daerah NTB ini diresmikan pada tahun 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Museum buka setiap hari mulai dari jam 8 pagi, kecuali senin dan hari-hari libur nasional. Tak perlu merogoh saku yang terlalu dalam untuk masuk ke museum ini, dengan harga yang terjangkau, kita sudah bisa menikmati Nusa Tenggara Barat dengan cara yang berbeda.

Museum saya pilih, sebab menjadi representasi tempat-tempat sejarah dan budaya di provinsi NTB. Sebab waktu yang saya miliki tak banyak untuk mengeksplor Gumi Sasak dan Tana Intan Bulaeng. Meski hanya informasi singkat, namun museum sudah bisa mewakili untuk saya melihat Lombok, dan NTB dalam dimensi yang berbeda.




Sumber:
https://id.lombokindonesia.org/museum-ntb-lombok/
https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/menambah-wawasan-di-museum-negeri-nusa-tenggara-barat-lombok/
https://museumntb.ntbprov.go.id/node/page/detail/40

Tuesday, July 11, 2023

Museum Maritim Belitung, Tentang Belitung Dari Sisi Kelautan

Masih dalam rangkaian kegiatan UNESCO Global Geopark Youth Marine Camp di Belitong UGGp, agenda kami berikutnya adalah ke Museum Maritim Belitung. Museum ini terletak di Desa Tanjung Tinggi, Kecamatan Sijuk. Sebuah bangunan besar berdiri megah sekitar 100 meter dari jalan raya, dan berada di dekat pantai. Tak jauh dari bangunan utama, ada pendopo kecil yang barangkali digunakan untuk beristirahat.

Museum Maritim

Sejatinya bangunan ini sudah saya lihat sejak perjalanan pada hari pertama. Namun tidak menyadari sedikitpun bahwa itu adalah sebuah museum, sebab tidak ada plang nama atau sebagainya yang menunjukkan bahwa itu sebuah museum.

Bis yang kami tumpangi perlahan menepi, keluar dari jalan utama dan masuk ke jalan yang ditumbuhi rerumputan berlapis kerikil. Setelah berhenti dengan sempurna, para peserta turun secara perlahan, bergantian. 

Foto dulu gaessss

Setelah menerima arahan dari panitia dan berfoto bersama, kami memasuki sebuah gedung besar yang setelah dilihat dari dekat, seperti baru selesai dalam pengerjaannya. Ada dua petugas keamanan yang berjaga di depan museum, menyambut kedatangan kami, dan mempersilakan kami untuk masuk.

Bangunan museum ini begitu luas, ruangan pertama yang kami masuki yakni bagian depan museum yang memuat informasi singkat, seperti front officenya barangkali. Lalu memasuki ruangan utama, sebuah ruangan besar dan luas di tengah-tengah gedung, terdapat replika kapal pinisi di sini. Replika kapal dengan ukuran panjang 22 meter, dan tinggi 18 meter yang terlihat sangat detail ini berdiri megah di tengah-tengah ruangan gedung. Kita yang melihat seakan berada di tepi dermaga yang menyaksikan kapal pinisi ini sedang akan bersandar dengan gagahnya. Dan mengutip beberapa sumber, kapal buatan khas Suku Bugis ini, pertama kali tercatat berlabih di Belitung pada tahun 1865.

Replika Kapal Pinisi

Dari ruangan utama, kami beralih ke ruangan sebelah, sebut saja ruang pendukung. Di ruangan ini ditampilkan sejarah singkat maritim Kepulauan Bangka Belitung, mulai dari kapal hingga tinggalan barang-barang antiknya yang khas. Tercatat, ada beberapa BMKT (Barang Muatan Kapal Tenggelam) di Belitung. BMKT merupakan sesuatu yang juga bisa saya temukan di Natuna, dan tak kalah banyak juga jumlahnya. Sekali lagi saya berucap di dalam hati, ini menambah daftar kesamaan antara Natuna dan Belitong yang saya dapati di sini.

Perkembangan singkat maritim Nusantara juga dijelaskan di museum ini. Dalam diorama-diorama yang ada menjelaskan transportasi laut yang digunakan saat perkembangan islam dan juga peran transportasi laut pada masa-masa kerajaan lalu. Perpaduan antara poster, diorama dan replika (atau mungkin asli) dari barang-barang maritim hasil temuan yang dipamerkan menambah lengkap isi pengetahuan tentang perkembangan maritim nusantara, khususnya wilayah Bangka Belitung. Tambahan teknologi digital juga menjadi pelengkap museum yang berarti menyesuaikan dengan perkembangan zaman. 


Ruangan pendukung ini berbentuk seperti huruf U yang setengah mengelilingi ruangan utama tempat replika kapal pinisi tadi berada. Sehingga setelah berkeliling akan kembali ke ruangan utama yang besar itu kembali. Museum ini memiliki dua lantai, namun karena masih tergolong baru, jadi lantai dua belum dibuka untuk umum.

Museum yang baru ini didesain sedemikian rupa, sehingga selain sangat cocok untuk menambah ilmu dan wawasan kemaritiman, juga cocok dijadikan tempat berswafoto ria. Terlihat dari beberapa peserta yang juga terlihat sibuk mengambil gambar epik nan estetik di beberapa pojok museum.


Dari museum ini saya dapat ambil kesimpulan bahwa kejayaan maritim nusantara juga terkenal sejak lama. Dari barang-barang temuan BMKT yang dipamerkan, semakin menambahkan keyakikan saya akan ke-saudarakembar-an antara Belitung dan Natuna. Dua tempat yang terpisah  sekian ratus kilometer, namun memiliki banyak kesamaan, baik dari segi kebumian, sejarah, hingga budayanya.






Monday, July 10, 2023

GIC dan Batu Bedil - Cerite di Belitong

Hari kedua di negeri Laskar Pelangi.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun, mempersiapkan diri untuk kegiatan-kegiatan yang akan dilalui hari ini. Namun sebelum peserta lain bersiap-siap, aku dan beberapa teman mengambil kesempatan untuk berjalan melihat-lihat sekitar hotel. Sebenarnya beberapa rekan sudah mengajak nongkrong tadi malam, namun karena badanku sangat letih, jadi ku memilih untuk beristirahat saja di kamar.

Hotel yang kami tempati ternyata berada di pinggiran pantai. Di pusat kota Tanjung Pandan, sebuah kota tua di Belitung, hal ini terlihat dari beberapa bangunan yang ada di sekitaran hotel yang memiliki ciri arsitektur khas Belanda. Berjalan kaki merupakan salah satu aktivitas favoritku ketika berada di tempat baru, sebab aku dengan leluasa bisa mengamati sekitar. Tak jauh dari hotel, kami singgah di warung kopi legendaris, Kong Djie namanya. Dari branding yang terpampang di logonya, warkop ini soedah ada sedjak 1943, sudah 8 dekade ia menemani ahli sruput di pulau Belitung. Dan masih terus berkembang dan memiliki banyak cabang di beberapa tempat. Sambil menikmati suasana tempo doeloe di warkop ini, tak lupa ku membeli beberapa produknya, sambil merasakan produk khas dari Belitung, lalu kembali ke hotel.

Kong Djie Coffee, 1943

Tujuan pertama pada hari kedua ini adalah Geopark Information Center (GIC), letaknya tak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap. Bangunan satu lantai yang sepertinya peninggalan Belanda ini, oleh pemerintah setempat "disulap" menjadi pusat informasi geopark. Oleh panitia, kami diarahkan menuju aula di belakang gedung, di sana sudah menunggu seorang bule Prancis. Setelah perkenalan singkat, ia langsung melakukan atraksi. Ruangan tadi merupakan studio wayang yang menampilkan pewayangan yang digerakkan dengan tali. Cerita yang diceritakan adalah beragam cerita lokal dari Belitong. Dalam geopark, hal ini masuk dalam cultural diversity, keragaman budaya yang menghiasi pulau Belitong.

Setelah dari ruangan, aku menyusuri ruang utama GIC. Di sini banyak terdapat informasi mengenai Geopark Belitong, mulai dari infromasi Geologi, Biologi hingga Budaya. Beragam fasilitas pendukung juga tersedia di GIC ini, seperti mesin informasi, perpustakaan dan beragam koleksi-koleksi lainnya.

Lalu ada juga ruangan semacam perpustakaan dengan interior yang bagus, layaknya sebuah kantor, ruangan ini digunakan oleh Belitong Geopark Youth Community (BGYC) sebagai sekretariat mereka. BGYC merupakan organisasi yang berisikan pemuda-pemudi Belitong dalam menggerakkan geopark di Belitong, ia merupakan komunitas pemuda Geopark pertama di Indonesia.

Belitong Geopark Information Center

Selesai di GIC, perjalanan kami berlanjut ke Geosite Batu Bedil, melewati tengah kota di Kabupaten Belitung, bus terus melaju melewati beberapa desa yang vibenya seperti di Desa Cemaga Selatan, di tempatku. Jalan melewati pesisir pantai dengan pemandangan laut dan bebatuan membuatku merasakan sedang berada "di rumah" saja. Selang beberapa waktu, kami tiba di Geosite Batu Bedil. Perjalanan tidak terasa jauh sebab di dalam bus kami saling bertukar cerita dan diskusi.

Geosite Batu Bedil sendiri mirip dengan Geosite Batu Kasah di Geopark Natuna. Ia terletak di Desa Sungai Padang, Kecamatan Sijuk, Belitung, kurang lebih 45 km dari hotel tempat kami menginap tadi malam. Nama Batu Bedil diberikan karena salah satu batuan granit di lokasi ini berbunyi seperti bedil (meriam) ketika dipukul dengan benda keras. Bunyi seperti bedil ditembakkan juga terdengar ketika ombak menghantam rongga-rongga batu. 

Cerita lain di Geosite Batu Bedil adalah dahulu di lokasi ini merupakan perkampungan tua. Dimana ketika para bajak laut datang, Batu Bedil dijadikan pertanda sehingga masyarakat bisa menyelamatkan diri. Konon bunyi bedil yang dihasilkan bisa terdengar mencapai radius berpuluh-puluh kilometer. Bunyinya bedil ini merupakan sebuah pertanda bahwa lanun akan datang, sehingga masyarakat bisa mengungsikan diri ke tempat yang saat ini disebut dengan Padang Pelarian.

Masih di Geosite Batu Bedil. Di dekat pantai terdapat sumur kecil yang dipercayai mengandung air yang beracun. Konon cerita air tersebut digunakan oleh tetua di kampung untuk mengelabuhi lanun yang datang. Ketika lanun meminum air dari sumur tersebut maka mereka akan mati. Sampai saat ini tiada yang berani meminum air dari sumur tersebut.

Geosite Batu Bedil dan Parut Mengale

Geosite Batu Bedil selain menawarkan panorama alam yang indah, juga didukung dengan fasilitas penunjang seperti beberapa tempat untuk bersantai, kantin, hingga mushala. Saat beristirahat, kami diberi makanan ringan khas Belitong. Namanya parut mengale, sajiannya berupa ubi rebus dengan parutan kelapa dan dibungkus dengan daun simpor. Gurih dan nikmat untuk mengisi perut sebelum makan siang. Di Natuna, kami mengenal dengan sebutan ubi ghebus, juga disajikan dengan nyok paghot (parutan kelapa) dan gule mighah (gula kelapa), namun tidak dibungkus dengan deun simpo (daun simpor), rasanya sama-sama gurih dan nikmat.

Dari Geosite Batu Bedil kami meneruskan perjalanan untuk melanjutkan agenda kegiatan berikutnya.




Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...