Sudah lama kiranya aku tak menulis. Ku akui semangat ini menurun beberapa waktu terakhir. Banyak hal-hal dan informasi yang tertinggal. Namun setelah mengumpulkan niat dan membulatkan tekad, sekarang mari kita lanjutkan lagi berbagi ilmu ini. Kali ini kita lanjut dengan sejarah penemuan migas di bumi Lambung Mangkurat: Kalimantan Selatan. Yap, jom!
Kalimantan Selatan yang biasa disingkat dengan Kalsel merupakan sebuah provinsi yang terletak di Pulau Kalimantan / Borneo. Meski menyandang predikat provinsi dengan luas terkecil di Kalimantan (38.744,23 km2), Kalsel merupakan salah satu provinsi tertua di Kalimantan. Ia berdiri pada tahun 1950 setelah sebelumnya merupakan 1 dari 3 keresidenan di Provinsi Borneo.
Sebagai salah satu pulau besar di dunia, Kalimantan memiliki berbagai macam sumber daya alam yang dikandungnya. Mulai dari permukaan tanah berupa air, dan ribuan jenis tanaman dan hewan, hingga sampai ke perut bumi yang berisi emas, batubara hingga migas.
![]() |
| Menara pengeboran minyak di Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong. (PERTAMINA) |
Sejarah perminyakan di Bumi Lambung Mangkurat -julukan Kalsel- ini bermula di suatu tempat bernama Murung Pudak yang menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Tabalong saat ini. Di suatu tempat bernama Warukin, pada tahun 1898, perusahaan Belanda bernama Mijn Bouw Maattschappij Martapoera mulai mencari minyak di daerah tersebut, namun belum menemukan hasil yang memuaskan.
Pada tahun 1912, eksplorasi migas dilakukan oleh lagi perusahaan migas Belanda lainnya yang bernama Dortsche Petroleum Maattschappic. Karena keterbatasan sesuatu dan lain hal, pada tahun 1930 Dortsche Petroleum Maatschappic tak mampu bekerja untuk mengeksplorasi migas di daerah tersebut hingga akhirnya memilih bergabung dengan NV BPM (Bataafsche Petroleum Maattschappic), perusahaan minyak yang berhasil mengeksplorasi wilayah Kalimantan Timur.
Di Murung Pudak, BPM aktif mengeksplorasi hidkrokarbon. Hingga akhirnya mereka menemukan struktur minyak di daerah Tanjung Tabalong (1934), Warukin Tengah (1937) dan Kambitin (1939). Pencarian tersebut terus dilakukan hingga tahun 1940 meski tak sempat diproduksi dalam skala besar karena pecahnya perang dunia II saat itu.
Pada tahun 1942, di saat wilayah Nusantara dikuasai Jepang. Pencarian migas di Murung Pudak-Tanjung dilakukan oleh Jepang. Dengan segala sisa yang ada, Jepang kembali mengeksplorasi migas yang pernah dilakukan oleh BPM tersebut. Usaha Jepang ini dilakukan untuk mensuplai kebutuhan energi guna mendukung perang Asia Timur Raya yang sedang bergejolak.
Jejak Jepang dalam pencarian migas di wilayah Murung Pudak-Tanjung tak berlangsung lama. Setelah kalah pada perang tahun 1945, secara otomotatis semua kegiatan ke-Jepang-an di Nusantara juga ikut terhenti.
Setelah lama terhenti, kegiatan migas di Murung Pudak ini kembali aktif pada sekitar tahun 1957-1958. Perusahaan BPM kembali mendapat kepercayaan untuk mencari sang "emas hitam" tersebut. Karena perkembangannya yang cukup signifikan. BPM membangun jaringan pipa penyalur sepanjang lebih dari 200 km menembus gunung dan hutan belantara dari Tanjung menuju Balikpapan yang memiliki kilang minyak. Jalur pipa dengan fasilitas pemompanya yang terletak di Manunggul ini selesai dibangun selama 3 tiga tahun dan selesai pada tahun 1961.
Pengelolaan minyak di Murung Pudak diambil alih oleh Royal Dutch Shell, dan mereka mencapai jayanya pada tahun 1963 dengan angka produksi 46.800 bopd. Namun kiprah perusahaan tersebut tak lama. Ia berakhir pada nasionalisasi perusahaan. Semuanya diserahkan pada PN Permina yang dipimpin Letjend Dr. Ibnu Sutowo pada tahun 1965 yang selanjutnya menjadi Pertamina pada tahun 1968.
Usaha eksplorasi minyak di wilayah Kalimantan Selatan terus berlanjut di era Pertamina. Lapangan-lapangan baru ditemukan, produksi ditingkatkan. Situs Tapian Timur ditemukan tahun 1967 dan baru diproduksi tahun 1977 dan dipompakan langsung ke Balikpapan. Situs Kambitin yang semula juga terkendala transportasi berhasil diatasi dengan membangun Test Unit dan saluran pipa yang juga dikirim ke Balikpapan.
Saat ini, PT. Pertamina terus berusaha menemukan sumur-sumur minyak baru dan menjalin kerjasama dengan perusahaan asing yang berminat mengelola minyak di bumi Tabalong.
![]() |
| Salah satu sumur yang di kelola Pertamina EP Tanjung (foto diambil tahun 2016) |
https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/11/04/menelusuri-tempat-bersejarah-di-kalsel-penggalian-minyak-di-murung-pudak
http://nurindarto.blogspot.com/2011/06/ladang-minyak-tabalong-1898-sekarang.html
https://hasanzainuddin.wordpress.com/2012/06/30/kota-tanjung-dengan-ratusan-subur-minyak/
https://metro7.co.id/daerah/kalimantan-selatan/tabalong/dari-tabalong-untuk-indonesia-seabad-tetesan-minyaknya-melayani-dengan-tulus-pembangunan-negeri/2020/



No comments:
Post a Comment