Thursday, June 6, 2024

Sejarah Perminyakan di Bumi Lambung Mangkurat

Sudah lama kiranya aku tak menulis. Ku akui semangat ini menurun beberapa waktu terakhir. Banyak hal-hal dan informasi yang tertinggal. Namun setelah mengumpulkan niat dan membulatkan tekad, sekarang mari kita lanjutkan lagi berbagi ilmu ini. Kali ini kita lanjut dengan sejarah penemuan migas di bumi Lambung Mangkurat: Kalimantan Selatan. Yap, jom!

Kalimantan Selatan yang biasa disingkat dengan Kalsel merupakan sebuah provinsi yang terletak di Pulau Kalimantan / Borneo. Meski menyandang predikat provinsi dengan luas terkecil di Kalimantan (38.744,23 km2), Kalsel merupakan salah satu provinsi tertua di Kalimantan. Ia berdiri pada tahun 1950 setelah sebelumnya merupakan 1 dari 3 keresidenan di Provinsi Borneo. 

Sebagai salah satu pulau besar di dunia, Kalimantan memiliki berbagai macam sumber daya alam yang dikandungnya. Mulai dari permukaan tanah berupa air, dan ribuan jenis tanaman dan hewan, hingga sampai ke perut bumi yang berisi emas, batubara hingga migas.

Menara pengeboran minyak di Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong. (PERTAMINA)

Sejarah perminyakan di Bumi Lambung Mangkurat -julukan Kalsel- ini bermula di suatu tempat bernama Murung Pudak yang menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Tabalong saat ini. Di suatu tempat bernama Warukin, pada tahun 1898, perusahaan Belanda bernama Mijn Bouw Maattschappij Martapoera mulai mencari minyak di daerah tersebut, namun belum menemukan hasil yang memuaskan.

Pada tahun 1912, eksplorasi migas dilakukan oleh lagi perusahaan migas Belanda lainnya yang bernama Dortsche Petroleum Maattschappic. Karena keterbatasan sesuatu dan lain hal, pada tahun 1930 Dortsche Petroleum Maatschappic tak mampu bekerja untuk mengeksplorasi migas di daerah tersebut hingga akhirnya memilih bergabung dengan NV BPM (Bataafsche Petroleum Maattschappic), perusahaan minyak yang berhasil mengeksplorasi wilayah Kalimantan Timur.

BPM adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Royal Dutch Shell yang mengkhususkan kegiatannya pada eksploitasi dan produksi, sedangkan Royal Dutch Shell sendiri merupakan merger dari dua perusahaan yaitu Royal Petroleum Company (De Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij) dengan Shell Transport and Trading Company pada tahun 1907. Untuk kegiatan pemasaran dilakukan oleh perusahaan afiliasi BPM yaitu Asiatic Petroleum sedangkan untuk transportasi ditangani oleh perusahaan afiliasi BPM yang lain yaitu Anglo Saxon Petroleum Company. BPM pada saat itu memiliki wilayah konsesi minyak di Sumatera Utara (Telaga Said & Perlak), Kalimantan (Sanga sanga, Balikpapan, Tarakan, Samboja, Bunyu dan Tanjung), serta Jawa (Cepu). Selain menangani operasional dan produksi, BPM juga memiliki unit kerja yang lain yaitu instalasi pipa-pipa penyalur serta operasional pengolahan berupa kilang-kilang penyulingan minyak bumi. Pada rentang waktu tahun 1930 – 1939 di bawah pengelolaan BPM, di daerah Tabalong ditemukan pula sumur-sumur minyak yang lain yaitu lapangan Warukin, lapangan Dahor dan lapangan Kambitin.
Wilayah Murung Pudak (Kabupaten Tabalong saat ini)

Di Murung Pudak, BPM aktif mengeksplorasi hidkrokarbon. Hingga akhirnya mereka menemukan struktur minyak di daerah Tanjung Tabalong (1934), Warukin Tengah (1937) dan Kambitin (1939). Pencarian tersebut terus dilakukan hingga tahun 1940 meski tak sempat diproduksi dalam skala besar karena pecahnya perang dunia II saat itu.

Pada tahun 1942, di saat wilayah Nusantara dikuasai Jepang. Pencarian migas di Murung Pudak-Tanjung dilakukan oleh Jepang. Dengan segala sisa yang ada, Jepang kembali mengeksplorasi migas yang pernah dilakukan oleh BPM tersebut. Usaha Jepang ini dilakukan untuk mensuplai kebutuhan energi guna mendukung perang Asia Timur Raya yang sedang bergejolak.

Jejak Jepang dalam pencarian migas di wilayah Murung Pudak-Tanjung tak berlangsung lama. Setelah kalah pada perang tahun 1945, secara otomotatis semua kegiatan ke-Jepang-an di Nusantara juga ikut terhenti. 

Setelah lama terhenti, kegiatan migas di Murung Pudak ini kembali aktif pada sekitar tahun 1957-1958. Perusahaan BPM kembali mendapat kepercayaan untuk mencari sang "emas hitam" tersebut. Karena perkembangannya yang cukup signifikan. BPM membangun jaringan pipa penyalur sepanjang lebih dari 200 km menembus gunung dan hutan belantara dari Tanjung menuju Balikpapan yang memiliki kilang minyak. Jalur pipa dengan fasilitas pemompanya yang terletak di Manunggul ini selesai dibangun selama 3 tiga tahun dan selesai pada tahun 1961.

Pengelolaan minyak di Murung Pudak diambil alih oleh Royal Dutch Shell, dan mereka mencapai jayanya pada tahun 1963 dengan angka produksi 46.800 bopd. Namun kiprah perusahaan tersebut tak lama. Ia berakhir pada nasionalisasi perusahaan. Semuanya diserahkan pada PN Permina yang dipimpin Letjend Dr. Ibnu Sutowo pada tahun 1965 yang selanjutnya menjadi Pertamina pada tahun 1968.

Usaha eksplorasi minyak di wilayah Kalimantan Selatan terus berlanjut di era Pertamina. Lapangan-lapangan baru ditemukan, produksi ditingkatkan. Situs Tapian Timur ditemukan tahun 1967 dan baru diproduksi tahun 1977 dan dipompakan langsung ke Balikpapan. Situs Kambitin yang semula juga terkendala transportasi berhasil diatasi dengan membangun Test Unit dan saluran pipa yang juga dikirim ke Balikpapan. 


Minyak Tanjung Raya berasal dari jebakan cekungan Barito. Sekalipun bersumber dari cekungan yang sama, uniknya minyak Tanjung Raya bervariasi titik tuangnya (pour point). Guna meningkatkan produksi minyak Tanjung (Murung Pudak), PN Pertamina berusaha menemukan sumur-sumur minyak baru, dan menjalin kerja sama dengan perusahaan asing yang berminat mengelola minyak bumi di Tanjung (Murung Pudak).

Beberapa perusahaan asing yang menjalin kerja sama dengan PN Pertamina untuk mengelola minyak bumi di Tanjung (Murung Pudak) di antaranya adalah PT Shoutern Cross, PT Bow Valley, dan yang terakhir sampai saat ini adalah PT Talisman dari Kanada.

Pertamina mengundang Talisman Energy pada era 1990an karena keahlian mereka pada kegiatan Perolehan Minyak Tahap Lanjut / Enhanced Oil Recovery (EOR), khususnya metode waterflood (injeksi air). Hal ini menjadikan Lapangan Tanjung menjadi lapangan pertama di lingkungan Pertamina yang menerapkan EOR waterflood. Teknologi ini menaikkan produksi ke level sekitar 5.000–10.000 bopd (puncak waterflood), meski kemudian menurun lagi. Mereka juga menerapkan program hydraulic fracturing (propped hydraulic fracturing) yang membantu menjaga produksi stabil di sekitar 7.000 bopd selama beberapa tahun dan menambah cadangan recoverable.

Kerja sama pengelolaan minyak bumi di Tanjung (Murung Pudak) tersebut kemudian dikenal dengan nama JOB PTTL (Join Operating Body Pertamina Talisman Tanjung Limited).

Saat ini, PT. Pertamina terus berusaha menemukan sumur-sumur minyak baru dan menjalin kerjasama dengan perusahaan asing yang berminat mengelola minyak di bumi Tabalong.

Salah satu sumur yang di kelola Pertamina EP Tanjung (foto diambil tahun 2016)

Meskipun sudah berumur 100 tahun lebih sejak pemboran pertamanya (mature field), lapangan Tanjung saat ini masih berproduksi dan dikelola 100% oleh PT Pertamina EP Tanjung Field (Zona 9, Regional 3 Kalimantan), di bawah naungan Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dan bekerjasama dengan SKK Migas.



Sumber:
https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/11/04/menelusuri-tempat-bersejarah-di-kalsel-penggalian-minyak-di-murung-pudak
http://nurindarto.blogspot.com/2011/06/ladang-minyak-tabalong-1898-sekarang.html
https://hasanzainuddin.wordpress.com/2012/06/30/kota-tanjung-dengan-ratusan-subur-minyak/
https://metro7.co.id/daerah/kalimantan-selatan/tabalong/dari-tabalong-untuk-indonesia-seabad-tetesan-minyaknya-melayani-dengan-tulus-pembangunan-negeri/2020/

No comments:

Post a Comment

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...