Sunday, August 13, 2017

Pangkalan Brandan Lautan Api : Perjuangan Laskar Minyak Untuk Kemerdekaan dan Kemandirian Energi

Selama ini kebanyakan dari kita hanya mengetahui tentang peristiwa Bandung Lautan Api, itu juga karena ada dilirik lagu nasional yang kerap kita dengar dan nyanyikan dulu. Namun sebenarnya, masih banyak lagi “lautan api–lautan api” yang ada di Indonesia ini, tentu dengan ceritanya yang masing-masing pula. Salah satunya adalah Pangkalan Brandan. Peristiwa Pangkalan Brandan Lautan Api merupakan peristiwa besar dalam sejarah pasca kemerdekaan bangsa Indonesia, namun peristiwa ini kerap kali terlupakan. Padahal peristiwa Pangkalan Brandan Lautan Api ini merupakan deretan peristiwa penting di sektor energi Indonesia yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pejuang. Bagi kamu yang menekuni ilmu energi, Perjuangan Laskar Minyak di Pangkalan Brandan patut untuk kamu teladani.
Pangkalan Brandan Lautan Api, via malahyati.ac.id
Setelah minyak bumi ditemukan oleh AJ. Ziljker pada akhir 1980an. Pangkalan Susu berubah menjadi sebuah kota industri kecil dengan hasil buminya itu. Oleh Belanda, guna memperlancar segala prosesnya, perusahaan minyak pun dibentuk. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) adalah perusahaan minyak yang paling lama dimasa penjajahan Belanda yang menyedot hasil bumi Pangkalan Susu ini. Kedigdayaan Belanda akhirnya mengendur ketika invasi negara adidaya Jepang ketika mereka menginvasi nusantara.

Meski sudah melakukan perlawanan, namun Belanda dipaksa kalah dan mundur oleh Jepang yang saat itu juga ngotot menginginkan minyak bumi guna mendukung peralatan perangnya dipanggung perang dunia kedua. Fasilitas-asilitas perminyakan juga sempat dihancurkan oleh Belanda sesaat sebelum invasi Jepang. Namun bukan Jepang namanya jika tak bisa memperbaikinya. Malah tercatat produksi minyak dimasa kependudukan Jepang (yang hanya kurang lebih 3 tahun) lebih besar dari total produksi Belanda dimasa penjajahannya!

Para pekerja minyak dari Indonesia (mantan pekerja minyak dimasa penjajahan Belanda) juga dipekerjakan oleh Jepang dimasa kekuasaannya di Nusantara. Beberapa diantaranya mendapat posisi yang baik, disekolahkan, dan juga diberi pelatihan militer lewat satuan-satuan yang dibentuk oleh Jepang. 

Baca : Sejarah Perminyakan di Pangkalan Brandan
 
Seiring berjalan waktu, kekuatan pasukan perang Jepang di Pasifik mulai mengendor, pada hari kamis tanggal 4 Januari 1945, komplek Perusahaan Tambang Minyak Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu mendapat serangan mendadak, pesawat jenis Pembom Sekutu melakukan bombardir, Kilang Minyak ditembaki senapan mesin, para buruh minyak lari lintang pukang keluar kilang menyelamatkan diri. Akibatnya, instalasi tambang minyak mengalami kerusakan hebat, korban jiwapun tidak sedikit yang jatuh baik dari kalangan buruh tambang minyak, pasukan Heiho maupun tentara Jepang.

Akan tetapi, sekali lagi Kilang dengan sangat cepat direhabilitasi, karena Jepang sangat membutuhkan minyak untuk mesin-mesin perangnya. Puncaknya tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Bom atom dijatuhkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat di Hiroshima dan kemudian di Nagasaki, kedua kota tersebut kemudian hancur musnah seketika. Akhirnya Pemerintahan Jepang menyerah kalah tanpa syarat dengan Pihak Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 sekaligus mengakhiri kedigdayaan Jepang dalam Perang Dunia II. Hal ini langsung dimanfaatkan oleh sang Proklamator kita untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

Berita itu menyebar dengan cepat, dengung Proklamasi telah didengar rakyat Pangkalan Brandan. Sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Pangkalan Brandan, Bendera Merah Putih berkibar dengan megah di puncak Pretopping Kilang Minyak Pangkalan Brandan yang pada waktu itu masih dikuasai oleh Jepang. Aksi pengibaran bendera di Puncak Pretopping itu dikoordinir oleh BPI (Barisan Pemuda Indonesia) dan pelakunya adalah Bedul, peristiwa heroik itu sungguh menakjubkan dan membanggakan. Dan itu sebagai pertanda turunnya bendera Bola Merah Jepang, Hinomaru. 

Hingga puncaknya pada 19 Agustus 1945 di Komplek Tambang Minyak diadakan Upacara pengibaran Sangsaka Merah Putih di Pangkalan Brandan dan dihadiri oleh Panglima Tentara Jepang, sebagai tanda pengakuan resmi dari masyarakat Langkat dan Tentara Jepang yang sudah menyerah kalah. Usai upacara pengibaran sangsaka Merah Putih selanjutnya dibentuk KNI (Komite Nasional Indonesia) dan laskar-laskar pejuang kemerdekaan serta laskar-laskar buruh yang berkantor di Jl. Thamrin, dipimpin oleh pemuda-pemuda dan buruh, diantaranya Arifin Pulungan, Aminullah dll. 
Puncak Pretopping inilah Bendera Merah Putih Berkibar, via edyfranjaya.wordpress.com
Penguasaan Pangkalan Brandan secara mandiri oleh bangsa Indonesia membuat Sekutu (baca : Belanda) geram. Ternyata Belanda belum benar-benar ikhlas melepas sepenuhnya Indonesia. Apalagi sumber ekonomi mereka nyaris musnah, seiring perebutan perkebunan secara besar-besaran di wilayah Jawa dan Sumatra. Belanda masih ingat betul kejayaannya dimasa lampau itu, hingga masih ingin mengulangnya meskipun melanggar perjanjian yang telah disepakati.

Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H. J. van Mook melalui Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan ultimatum agar pemerintah RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km dari daerah perkebunan dan daerah sumber alam. Mook menyampaikan pidato diberbagai stasiun radio, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggarjati. Lebih dari 100.000 tentara terlatih, dengan persenjataan modern, lengkap dengan peralatan berat hasil hibah tentara Inggris dan Australia akan dikerahkan.

Serangan dilakukan disejumlah daerah strategis sejak 20 Juni 1947 hingga 22 Februari 1948 atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer Belanda I, sementara oleh Belanda operasi ini dinamakan Aksi Polisionil. Tanggal 21 Juli 1947 Belanda menuju Sumatera Utara, dengan Pangkalan Brandan yang menjadi sasaran utama, serangan dimulai dari Tandemhilir selanjutnya mengarah menuju Stabat. 
Peralatan Perang Pasukan Sekutu, via edyfranjaya.wordpress.com
Pada tanggal 23 Juli 1947, setelah terbentuk ”Komando Langkat Area” yang diprakarsai oleh Letnan Satu Zakarsdjah Aksdjah, maka pada keesokan harinya disusun lengkap struktur ”Komando Langkat Area” dan pimpinan komando dipegang oleh Mayor Widji Alvisah, yang sebelumnya adalah Komandan Batalyon I Resimen I Divisi X TRI merangkap menjadi PMC (Plantselijik Militer Comandant) di Tanjung Pura.
---Ketika itu para pejuang yang tergabung dalam Komando Langkat Area bertekad : dari pada hidup dibawah telapak kaki penjajah, lebih baik mati berkalang tanah, demikian pula keberadaan tambang minyak Brandan, dari pada dikuasai Penjajah, lebih baik musnah.---
Pada tanggl 31 Juli 1947, Komando Langkat Area mengadakan musyawarah dan mengambil keputusan bahwa kota Tanjung Pura tidak dapat dipertahankan lagi, maka diputuskan untuk membangun garis pertahanan baru disebelah Barat Laut, kerena sudah diperhitungkan pihak pejuang, bahwa pasukan Belanda akan melakukan penyerangan dari arah darat, laut dan udara menuju kota Pangkalan Brandan. 
Para Pejuang Kemerdekaan, via edyfranjaya.wordpress.com
Sementara Komando Langkat Area melakukan reorganisasi pasukan dalam tiga kelompok pada tiga sektor, berasal dari penyatuan Lasykar Rakyat yaitu Laskar Napindo yang bermarkas di jalan Dempo, Laskar Pesindo yang bermarkas di jalan Imam Bonjol (Gang Kunai) dan Laskar Harimau Liar dari kesatuan Batalyon 17 bersama komandannya Amir Hanafiah bermarkas di desa Alur Dua Pangkalan Brandan. Bersama dengan pembagian sektor oleh Komandan Batalyon 17 digabung dengan Batalyon Resimen I Divisi KTRI.

Selanjutnya konsolidasi dilakukan dan pelaksanaan pembagian sektor sebagai berikut : Batalyon II Hisbullah yang berasal dari Langkat Hulu dan Batalyon III Hisbullah yang berasal dari Medan Utara, digabungkan menjadi satu kesatuan tim dibawah pimpinan Rachmad Buddin. Batalyon Langkat Kesatria Pesindo dibawah pimpinan Amir Hanfiah yang merupakan sayap tengah pertahanan Pangkalan Brandan Area, karena terdapat Jalan Raya Tanjung Pura Pangkalan Brandan yang diperhitungkan akan menjadi sasaran utama Militer Belanda.

Batalyon TPKA & TM yang berada di bawah pimpinan Mayor Nazaruddin beserta kesatuan kesatuan kecil yang berasal dari Laskar Napindo Teluk Aru dibawah pimpinan Ahib Lubis dan Zainal Abidin dan Barisan Harimau Liar dibawah pimpinan Habib Umar yang tergabung dalam Batalyon 17, diberi tugas untuk mempertahankan kota Pangkalan Brandan di sebelah Utara hingga muara sungai Babalan dan daerah pantai di sekitar Teluk Meku yang terletak disebelah Timur Laut Pangkalan Brandan.

Sektor pertahanan ini merupakan sayap kiri medan pertahanan Pangkalan Brandan Area, dan yang menjadi Komandan Front sayap kiri ini ialah Mayor Nazaruddin yang juga Komandan Batalyon TPKA & TM, merangkap menjadi Komandan Militer kota (PMC).

Barisan Merah yang berasal dari Medan Utara dibawah pimpinan M. Djusuf, membangun medan pertahanan di daerah Bukit Mangkirai, terletak sekitar 4 km di sebelah Barat Laut Tanjung Pura, pertahanan Bukit Mangkirai ini adalah bagian dari pada sayap tengah pertahanan Pangkalan Brandan Area. Yang menjadi komandan front sayap tengah ini, ialah Komandan Langkat Area yaitu Mayor Widji Alvisah.

Tanggal 3 Agustus 1947, Pertahanan baru Brandan Area itupun telah selesai dibangun. Sementara, Pasukan Belanda mencoba mengadakan penyerangan dari darat, laut dan udara. Pembersihan, begitu istilah mereka. Mereka mulai dari aksi penerobosan Front Medan Area, selanjutnya menyerang dan merebut kota Binjai, kemudian kota Stabat diduduki dan membuat benteng pertahanan di pangkal jembatan Sei Wampu di kota Stabat, hal ini dapat dimengerti sebagai suatu pertanda bahwa Belanda sudah mulai melakukan ekspansinya ke daerah Langkat dan kalau begitu pastilah akan merampas Kota Pangkalan Brandan, kota tambang minyak sumber energi perang.

Menurut cacatan dari buku sejarah Brandan Bumi Hangus yang disusun tim Pemkab Langkat, pasukan sekutu yang dikenal dengan nama Komando Batalion 4-2, mengerahkan pasukan infantri didukung satu peleton Carrier, Panser serta satu Detasemen binaan Poh An Tui. Setelah berhasil melumpuhkan pasukan pejuang di Stabat, 5 Agustus 1947 pasukan sekutu berhasil melintasi Tanjungpura dan tertahan di Gebang oleh perlawanan pejuang. Sementara itu di Pangkalan Brandan, terjadi gejolak dan kecemasan karena mengetahui sasaran pasukan sekutu berupaya merebut Tambang Minyak tersebut. 
Pejuang dibatas Demarkasi Gebang, via edyfranjaya.wordpress.com
Pasukan Belanda menghimpun kekuatan di Tanjung Pura, menyusul kemenangan mereka dalam beberapa rangkaian pertempuran. Namun untuk mencaplok kota Pangkalan Brandan pasukan Belanda menemui jalan buntu, rangkaian serangan Belanda dapat digagalkan oleh para pejuang. Pertempuran itu terjadi di batas Demarkasi Gebang, banyak korban jatuh disana, perang di Batas Demarkasi Gebang merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan bangsa yang penuh heroisme! Dalam pertempuran itu, Sekutu mengakui keunggulan para pejuang yang berjuang dengan senjata sederhana, pasukan Sekutu dan Belanda berhasil dipukul mundur, dan balik arah kembali ke Tanjung Pura.

Sementara itu, percaturan politik dan militer terus berjalan, disaat kekuatan tentara Sekutu di tarik dari Wilayah Indonesia, kesatuan Militer Inggris dan Gurkha meninggalkan perairan Indonesia. Namun pasukan Kolonialis Belanda tetap bertahan, mereka menampik kemustahilan dan tidak akan mengabaikan sumber kekuatan energi perang yang sekaligus mendatangkan keuntungan keuangan yang cukup potensial itu. Pangkalan Brandan, yang mengandung kekayaan bahan tambang yang dapat dijadikan tempat konsentrasi kekuatan merupakan posisi yang strategis yang bisa digunakan sebagai batu loncatan untuk melakukan penyerbuan ke daerah Aceh kelak.
Karena itulah sebagian besar pasukan kita ditumpahkan mundur ke Pangkalan Brandan untuk bersiap siaga menghimpun semua kekuatan revolusi, dari garis belakang mengalir pasukan-pasukan baru, bersenjata aneka macam bedil dan senapan mesin, peluru dan mortir hasil rampasan dari Pasukan Jepang. Sepanjang front mereka siaga untuk mempertahankan tambang minyak dan daerah ujung pertahanan Langkat Area belahan Sumatera Timur bagian Utara. Pertahanan gigih dan mati-matian dipersiapkan setangkas semangat yang dipunyai dengan tekad “daripada berputih mata lebih baik berputih tulang, daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah”.

Kesibukan Tentara Belanda semakin meningkat, yaitu sejak tanggal 6 Agustus sampai dengan 12 Agustus 1947, pada setiap harinya terus terjadi kontak senjata di Front Gebang dan Bukit Mengkirai, pertahanan pejuang sangat solid. Namun sama sekali tidak menyurutkan misi Belanda untuk menguasai Kilang Minyak Pangkalan Brandan. Selanjutnya, Belanda menghimpun kekuatan dengan mendatangkan kekuatan induk, yaitu Batalyon 4-2 RI yang berkedudukan di Binjai, dipindahkan dan bermarkas di Tanjung Pura.

Dalam pada itu pesawat udara musuh yang terdiri dari Mustang, Capung dan Catalina, giat melakukan pengintaian udara diatas Kota Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu dan daerah daerah pertahanan KSBO (Komando Sektor Barat Oetara). Pesawat tempur jenis pemburu itu melayang-layang di atas kota, terbang rendah untuk pamer kekuatan. Mereka ingin membuat gentar hati rakyat dan Pejuang di Pangkalan Brandan. Di Front depan, pasukan Infanteri Belanda juga mengadakan “Show off Force”, menderu diatas jalan berdebu dibayangi kekuatan Tank, kenderaan lapis baja dan meriam-meriam.

Tanggal 8 Agustus 1947, KSBO mendapat laporan dari Badan Intelijen kita yang baru pulang dari penyelidikan di daerah pendudukan Belanda di Tanjung Pura, menerangkan bahwa Belanda menghimpun sejumlah besar pasukan di Tanjung Pura dan ada tanda-tanda yang jelas bahwa musuh akan segera melancarkan serangannya secara besar-besaran terhadap Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu guna merebut tambang minyak.

Pada tanggal 11 Agustus 1947, informasi penting ini ditanggapi secara serius oleh Komandan KSBO, karena cocok sekali dengan keterangan mata-mata musuh yang baru ditangkap. Namun kapan waktu penyerangan Pasukan Belanda itu ke Pangkalan Brandan, mereka bergerak dari mana dan berapa jumlah kekuatannya belum dapat diketahui, sehingga menciptakan suasana semakin tegang.

Sementara, pihak Belanda melakukan “Gertak Sambal” melalui Radio Hilversum di Jakarta, pada tanggal 11 Agustus 1947 menyiarkan berita propoganda bahwa Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu telah jatuh ketangan mereka, walaupun kedua Kota itu belum diduduki, ini adalah taktik yang biasa mereka pergunakan selama ini bila hendak menduduki suatu kota, psywar untuk menakut-nakuti musuh guna memperlemah semangat juang dan bertahan bagi para pejuang di front depan atas kota yang mereka incar untuk diduduki. 

Berbagai manuver oleh pasukan Belanda, diantaranya pada tanggal 11 Agustus 1947, dua pleton pasukan Belanda masuk dengan cara melambung dari sayap kanan pertahanan KSBO, merobos sampai ke Desa Securai. Pertempuranpun terjadi, Pasukan-pasukan Republik Indonesia yang berada di Pos penjagaan menghadang pasukan musuh dengan tembakan–tembakan gencar, mengakibatkan gugurnya seorang Srikandi barnama Hasanah Siregar, ditembak Pasukan Belanda dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Pertempuran itu terjadi beberapa jam. Pasukan Indonesia dapat memukul mundur, memaksa Pasukan Belanda kembali ke markasnya di Tanjung Pura. Setelah menghalau mundur, jembatan Securai diledakkan oleh KSBO sebagai antisipasi menghentikan penyerangan musuh.

Dalam berbagai pertempuran, laskar–laskar ini berjuang bahu-membahu dengan rekan-rekan dari TKR (Tentara Keamanan Rakjat) diberbagai sektor, dengan segala senjata yang dimiliki, seperti Bambu Runcing, para pejuang ini siap bertempur mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi, mereka membentuk barikade dan menghempang pergerakan Pasukan Belanda yang dilengkapi persenjataan mutakhir, truck dan jeep serta tank brengun carrier dan mortir, diperkuat oleh tembakan-tembakan (straffing) dari pesawat udara.

Sementara KSBO dibawah pimpinan Kolonel Hasbalah Hadji mengadakan penyiasatan tentang keadaan seluruhnya, penyiasatan ini telah sampai kepada pembahasan mengenai terjadinya penyerangan musuh, yang antara lain diperhitungkan :

  • Jika Belanda menumpahkan seluruh kekuatannya menyerbu benteng pertahanan kita yang ada di Front Gebang, dengan mendapat perlindungan Pasukan Kavaleri, Artileri dan mengerahkan pula Angkatan Udaranya, kepastiannya pertahanan kita akan hancur, sebab kekuatan kita tidak seimbang dan pasukan musuh dapat maju terus untuk menguasai Tambang Minyak Pangkalan Brandan.
  • Dalam pada itu keraguan musuhpun ada, karena sudah dicobanya pada Agresi tanggal 23 Juli 1947 yang lalu bahwa Pasukan Belanda yang melakukan serangan ke Jurusan Sumatera Timur dapat menjangkau sejauh 250 km, akan tetapi ke Jurusan Barat Utara Sumatera Timur hanya dapat dikuasai sejauh 50 km saja. Dan jika penyerangan itu diteruskan oleh Pasukan Belanda, dapat dipastikan korban akan bertambah banyak dipihak Belanda, berhubung jalan sepanjang menuju Pangkalan Brandan banyak dipasang Ranjau Darat oleh Pasukan Pejuang Republik, karena sebelumnya juga pernah terjadi beberapa kali korban dipihak Belanda yang mencoba menerobos masuk ke wilayah yang dikuasai para pejuang menuju ke Pangkalan Brandan terlindas ranjau darat yang dipasang Pasukan Pejuang dibelakang garis pertahanan musuh.
  • Memperhatikan akan letaknya medan pertempuran ini, besar kemungkinan Belanda akan menyerang dan menggunting pertahanan kita dari belakang dengan menerjunkan Pasukan Payung-nya di Komplek Tambang Minyak serta mendaratkan Pasukannya lewat laut di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, karena aba-abanya telah di dapat dari Pesawat Udara Belanda ”Catalina” dan disaat perdaratan tersebut maka pertahanan kita di Front Gebang akan digempur terus menerus yang seolah-olah pasukan mereka akan masuk dari jurusan depan Front kita.
Maka dibahas pula, bagaimana dengan Tambang Minyak seandainya Pangkalan Brandan juga terpaksa mengalami nasib yang sama seperti Kota Binjai, Stabat dan Tanjung Pura, apakah akan dibiarkan Tambang Minyak itu utuh dan jatuh ketangan musuh? Sudah tentu jawabannya tak mungkin sama sekali, sebab dalam perang, siapa yang dapat menguasai minyak maka dialah yang dapat menguasai Dunia, dan justru karena itu KSBO menetapkan Tambang Minyak harus diBUMIHANGUSkan.!

Pada 11 Agustus 1947, Mayor Nazaruddin selaku Komandan Batalyon TPKA & TM dan PMC bersama satu Kompi dari Batalion pimpinan Letnan Ahyar dan Laskar Rakyat Gabungan pimpinan Ahib Lubis, mengeluarkan maklumat yang ditujukan kepada seluruh penduduk tanpa kecuali, untuk meninggalkan Pangkalan Brandan dan sekitarnya sejauh 3 km selambat-lambatnya 12 Agustus 1947 dengan membawa segala sesuatunya yang masih dapat diselamatkan. Maklumat itu juga dikirimkan kepada segenap Badan-badan Resmi organisasi Masa Politik dan kepada Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantau (Chun Hua Chun Hui) di Pangkalan Brandan.

Pemerintah menyediakan pengangkutannya, dan untuk ini telah dibentuk panitianya yang dipimpin oleh Patih Sutan Naposo Parlindungan, yang bertugas antara lain menyiapkan Kereta Api khusus dan Truk-truk Gerobak untuk mengangkut para Pengungsi ke Daerah Besitang. Penduduk Pangkalan Brandan mematuhi maklumat itu, lalu pengungsian dimulai pada pagi hari tanggal 12 Agustus 1947. Sebaliknya penduduk Warga Tionghoa, hanya 11 orang saja yang ikut mengungsi, selebihnya sebanyak lebih kurang 5.000 orang masih tetap bertahan di Kota Pangkalan Brandan. Karena Ketua Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantauan (GPTP) yang merupakan pimpinan mereka, melarang mereka meninggalkan kota. 
Gelombang Pengungsian
Ketua GPTP itu dalam waktu singkat dapat mengumpulkan uang dari Penduduk Tionghoa Pangkalan Brandan untuk menyuap Perwira yang bertanggung jawab supaya Pangkalan Brandan jangan dibumihanguskan. Dengan demikian mereka akan dapat dengan tenang berada di dalam kota walaupun kelak Tentara Belanda memasuki kota Pangkalan Brandan, karena mereka merasa netral dan senantiasa dapat menerima dan bekerja sama dengan siapa saja yang berkuasa di daerah tempat tinggalnya. Dan diantara warga Tionghoa ini telah mempersiapkan bendera tiga warna didalam rumahnya untuk menyambut kedatangan tentara Belanda, dan hal ini ditemukan dikala dilakukan razia terhadap rumah-rumah warga Tionghoa di Pangkalan Brandan pada tanggal 26 Juli 1947. Upaya-upaya Pimpinan GPTP hendak melakukan penyuapan terhadap para perwira menemui kegagalan. Kota Pangkalan Brandan tetap akan dibumihanguskan.
 
KSBO selanjutnya membentuk 4 Pasukan Pioner dengan tugas menghancurkan semua instalasi dan bangunan Perusahaan di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, dipimpin oleh Letnan Satu Usman Amin, Tengku Nurdin, Umar Husni dan M. Yusuf Sukony. Tugas pasukan tersebut antara lain :
  1. Memindahkan mesin-mesin minyak dari pondasinya untuk dibawa ke Aceh.
  2. Pengangkutan dalam jumlah besar Premium dan Kerosine ke Daerah Aceh
  3. Pemasangan bom ukuran 250 kg dan 100 kg pada instalasi yang akan diledakkan.
  4. Pemasangan kantong-kantong mesin pada tangki-tangki raksasa.
Pada tanggal 12 Agustus 1947, jembatan Sei Lepan di Desa Pelawi yang merupakan pintu gerbang masuk ke Pangkalan Brandan dari arah Medan dihancurkan oleh Pasukan Zeni KSBO, sehingga akan sangat sulit untuk melewatinya karena medannya bertebing curam. Ini sebagai persiapan menahan lajunya serbuan Pasukan Belanda.

Pada penghujung tengah malam, diawal waktu terbitnya fajar siddiq tanggal 13 Agustus 1947, Tambang Minyak disulut dengan ledakan bom, diawali dengan meledakkan tangki–tangki raksasa, pondasi-pondasi penyulingan, bangunan dan gedung perusahaan Tambang Minyak di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, apipun berkobar merembet ke daerah Pelabuhan, langit menghitam berbunga api kemerahan bertebaran ke angkasa, kegelapan subuh berubah menjadi benderangnya kobaran api yang menjalar, suara ledakan dan kobaran api sungguh mencekam dan mengerikan semua orang yang menyaksikannya. Api berkobar membumi hanguskan Pangkalan Brandan. Strategi perang ini belakangan dikenal dengan politik bumi hangus. 
Pangkalan Brandan Lautan Api
Tak ayal, misi Agresi militer Belanda I ke Pangkalan Brandan pupus. Shell mengalami kerugian tak terkira. Padahal sebelumnya, dari Pangkalan ini dan dua pangkalan lain yang berada di Minas dan Rantau (yang dikuasai Caltex dan Stanvac) ketiga perusahaan yang dikenal dengan ”Tiga Besar” menjadi penghasil minyak terbesar di kawasan Timur Jauh. Tentara Belanda pun meninggalkan Pangkalan Brandan dengan kekalahan. Mereka mencoba merebutnya kembali dalam Agresi Militer Belanda II tahun 1948 namun kembali gagal setelah kembali dibumihanguskan oleh pejuang.
Kondisi Bangunan pasca bumihangus, via edyfranjaya.wordpress.com
  
**************

Hari Pangkalan Brandan Lautan Api adalah saat yang pas untuk merenungkan, semangat Laskar Minyak mempertahankan pengelolaan kilang minyak nasional secara mandiri. Sekalipun nama mereka tak pernah terukir dalam sejarah, tak pernah disematkan ‘Bintang Gerilya’ bersudut lima, sebagaimana pahlawan Gerilya lainnya, namun semangat mereka layak ditauladani. Bila saja perjuangan Laskar Minyak berhasil, bisa jadi Indonesia tak akan pernah mengalami krisis energi.

Pembakaran tambang minyak Pangkalan Brandan yang terjadi pada tanggal 13 Agustus 1947 oleh para pejuang kita terdahulu, harus dimaknai sebagai sebuah simbol perlawanan agar keberadaannya tidak menjadi milik penjajah yang berkehendak menguasai tambang minyak Indonesia. Laskar Minyak berperan besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Perjuangan mereka itu telah membuktikan bahwa bangsa yang baru merdeka telah sanggup membela kepentingan kita sendiri. Inilah satu bukti bahwa bangsa kita sanggup merdeka. Kita bukan kerbau atau keledai seperti kata penjajah dahulu.

Saya dulu saat kuliah pernah mengikuti seminar tentang minyak di kampus. Pematerinya mengatakan bahwa pekerja tambang minyak sejatinya adalah pahlawan Nasional. Andilnya yang besar dalam kemajuan negeri ini yang membuat mereka layak mendapatkan itu. Ditambah lagi dengan nilai-nilai historis yang salah satunya baru saja kita ulas diatas. Jadi bagi kita yang hanya tinggal menikmati kemerdekaan ini, sudah sepatutnya meneladani perjuangan mereka. Terlebih para pelakon Perminyakan dan Energi.

---Untuk mahasiswa Perminyakan, jika dulu semangat mereka tiada habis-habisnya untuk mempertahankan kemerdekaan dan kemandirian energi negeri ini. Kita hanya cukup belajar dengan baik dan giat, agar pengelolaan energi secara mandiri seperti apa yang para pejuang inginkan dahulu dapat tercapai. Jangan malas, jangan titip absen, jangan ngeluh kuliah! :D ---
MERDEKA, via pertamina.com


Sumber-sumber :
langkatonline.com 
edyfranjaya.wordpress.com 
www.migasreview.com
www.kompasiana.com
id.wikipedia.org
lenteradiatasbukit.blogspot.co.id
finance.detik.com

Monday, July 31, 2017

Jelajah Pulau Kumala : Wisata Pulau di Tengah Mahakam

Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu tempat dengan beragam destinasi wisata di Provinsi Kalimantan Timur. Tenggarong yang menjadi ibukota kabupaten saja menyimpan banyak tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kedaton Kesultanan Kutai dan Museum Mulawarman merupakan magnet wisata Kabupaten Kukar, ada lagi museum kayu, planetarium, wisata budaya, juga berbagai festival rakyat hingga yang berskala internasional kerap diadakan di kota yang sudah berumur 3 abad lebih ini. Salah satu destinasi wisata yang tak boleh ketingggalan saat berada di Tenggarong adalah Pulau Kumala. Pulau Kumala merupakan pulau yang berada di tengah sungai Mahakam. Bentuknya khas, unik seperti kapal perang jika dilihat dari atas. Katanya dulu pulau ini adalah kapal perang penjajah yang dikutuk oleh Aji, sehingga menjadi pulau. Begitu cerita rakyat yang beredar. Aji merupakan gelar bagi orang-orang Kesultanan Kutai.
Jembatan Repo-repo Kal Senja
Tujuan kami kali ini ke pulau unik ini. Kendaraan kami parkir dan langsung menuju loket tiket. Harga tiketnya 7000/orang. Setelah membeli tiket kami langsung menuju pulau Kumala. Akses menuju pulau ini sekarang sangat mudah dengan telah dibangunnya jembatan repo-repo yang telah beroperasi 2015 lalu. Sebelum jembatan dibangun, dahulu akses menuju pulau Kumala dengan perahu klotok, dan juga kereta gantung. 
Denah Wisata
Setelah sampai di Pulau Kumala kami menuju alun-alun pulau. Di sini pusat keramaian, ada kantin, tempat sewa scooter dan sepeda. Kami menyewa sepeda gandeng untuk berkeliling-keliling pulau, terlalu besar pulau ini untuk dijelajahi dengan jalan kaki, mengingat waktu yang sudah mendekati senja. Selain penyewaan sepeda juga ada jasa transportasi kereta mobil untuk mengantar berkeliling. Sepeda kami sewa dengan harga 30.000/jam dan kami siap mengexplore Pulau Kumala. Uyee 😆
Cekrek cekrek
Tujuan utama adalah ujung pulau sebelah barat. Namun singgah di beberapa tempat terlebih dahulu seperti di rumah adat Dayak Experience Center, dan rumah Lamin. Melewati Pura dan sangkar burung raksasa, serta terminal kereta gantung. Melewati cottage indah namun kini ditinggal begitu saja tak terawat. Lalu sampai di ujung pulau. Di ujung pulau terdapat lokasi-lokasi yang instagramable banget. Ada dua rumah berbentuk segitia, kolam bundar, serta tulisan Pulau Kumala yang selalu jadi spot untuk berfoto ria. Di sini juga berdiri kokoh patung Lembuswana setinggi 13 meter, gagah, menghadap ke jembatan Kutai Kartanegara, ikon kota Tenggarong. Lembuswana merupakan hewan mitologi kerajaan Kutai, yang dipercaya sebagai tunggangan raja-raja Kutai dahulu. Bentuknya merupakan campuran dari berbagai binatang. Di bawah patung Lembuswana ada bangunan semacam aula terbuka yang di dinding-dindingnya terdapat poster tentang sejarah singkat Kerajaan Kutai dan Lembuswana. 
Patung Lembuswana
Setelah berfoto ria, kami kembali menuju alun-alun dengan tujuan ke ujung pulau satunya lagi, di sana ada kolam naga dan sky tower setinggi 75 meter. Namun karena waktu yang sudah tidak cukup akhirnya kami urungkan niat ke sana. Dan berjalan disekitar alun-alun untuk mengahbiskan waktu sewa sepeda. Saya melihat banyak arena bermain yang terbengkalai tak diurus. Membayangkan dulu betapa bagusnya tempat ini. Ada yang bilang Pulau Kumala adalah TMIInya Tenggarong. Ada kereta mini, komedi putar, wahana gokart dan beberapa wahana bermain lain, termasuk cottage yang saat ini ditinggal tak terawat.
Masjid di Pulau Kumala
Menurut sumber yang saya baca, masa keemasan Pulau Kumala ini adalah ketika tahun 2002 - 2005, ketika saat awal-awal dibuka. Saat itu Pulau Kumala cukup menjadi alasan orang-orang untuk datang ke Tenggarong, namun lambat laun menjadi sepi, ditambah lagi dengan insiden macetnya kereta gantung di tengah-tengah rel yang membuat trauma penumpang di dalamnya. Kemudian lambat laun Pulau Kumala menjadi sepi pengunjung hingga akhirnya tiada pengunjung bak kota mati. Pernah ditawarkan kepada swasta untuk mengelola namun berhenti ditengah jalan. Dan sekarang, kembali menggeliat setelah jembatan Repo-repo dibangun pada tahun 2014. Pulau Kumala pun terbangun dari tidur panjangnya selama bertahun-tahun. Semoga Pulau Kumala benar-benar bangkit dari tidurnya dan kembali menjadi tujuan wisata Kota Raja.
Pelabuhan Perahu Klotok yang masih berfungsi melayani pengunjung. Dan Sky Tower yang masih berdiri tegak


Sunday, July 30, 2017

Kamu Harus Tau Nih : 7 Pulau di Natuna yang Menjadi Penjaga Batas Kedaulatan Indonesia

Secara geografis, letak Kabupaten Natuna berada di ujung utara bagian barat Negara Indonesia. Kepulauan Natuna merupakan pulau-pulau kecil yang terhampar di selatan laut Tiongkok. Letaknya yang agak “sedikit ke atas” tersebut membuat kabupaten Natuna menjadi salah satu kabupaten “terluar dan terdepan” yang dimiliki Indonesia. Tak jarang, bahkan ada yang mengira bahwa kepulauan yang kaya Migas ini merupakan bagian dari Negara Malaysia. 
Pulau-Pulau terluar Indonesia, via batasnegeri.com
Letaknya yang berada di ujung Utara ini menjadikan Natuna bak penjaga pintu gerbang Kedaulatan Negara Indonesia. Kedaulatan laut merupakan prioritas, batas-batas dengan Negara tetangga dihitung dari pulau terluar, bila pulau yang menjadi titik awal pengukuran batas wilayah ini hilang, atau diambil asing, maka batas Negara pun akan bergeser. Kepulauan Natuna yang dikelilingi laut lepas menjadi batas langsung dengan Negara-negara di Asia. Ada Republik Rakyat Tiongkong, China Taipei, dan Vietnam di sebelah utara, Malaysia Timur dan Brunai Darussalam di sebelah Timur, Malaysia dan Thailand di sebelah barat. Keadaan seperti ini mengharuskan penanganan ekstra akan batas wilayah Negara. Dari 92 pulau-pulau kecil terluar penjaga perbatasan yang dimiliki Indonesia, Natuna memiliki 7 pulau  diantaranya yang akan kita ulas berikut ini. 
Pulau Penjaga Batas Natuna (titik-titik merah), Indonesia

1. Pulau Tokongboro
Pulau ini terletak di sisi barat Pulau Bunguran, masuk dalam administratif kecamatan Pulau Laut. Pulau Tokongboro terdiri dari bebatuan dan bertebing curam, dengan titik tertinggi mencapai 7 mdpl,
juga dijadikan sebagai titik dasar (TD.28) dan titik referensi (TR.28). Pulau ini tak memiliki pantai karena tepian pulau merupakan tebing curam yang langsung mengarah ke laut. Pulau Tokongboro merupakan penjaga batas paling barat yang dimiliki oleh Natuna, berbatasan langsung dengan Malaysia dan Thailand. Juga merupakan pulau terluar dengan letak paling jauh dengan akses paling sulit. 
Pulau Tokongboro, via www.unc.edu
Akses menuju pulau ini sangat sulit, kita bisa menyewa kapal motor dan berangkat dari pelabuhan Penagi dalam waktu tempuh 12 jam dengan kecepatan rata-rata 5-7 knot. Akses lainnya bisa melalui Pulau Sedanau di kecamatan Bunguran Barat. Pulau yang tak berpenghuni ini memiliki satu menara suar sebagai penanda batas.

2. Pulau Semiun
Pulau Semiun merupakan satu dari sekian banyak gugusan pulau dalam wilayah administrasi Kecamatan Pulau Laut. Pulau ini berbentuk bukit, memiliki pantai dengan tebing-tebing curam dan salah satu sisinya terdapat mercusuar sebagai penanda wilayah NKRI, sekaligus menjadi tanda bagi nelayan yang melintas. 

Pulau Semiun, via: http://lifestyle.okezone.com
Pulau ini tak berpenduduk kecuali oleh penjaga suar. Kabar terakhir mengatakan Pulau Semiun dihuni oleh 2 kepala keluarga. Akses menuju pulau ini adalah dengan menyewa kapal motor dan berangkat Pulau Laut, atau dari Sedanau di Bunguran Barat, maupun dari Kelarik di kecamatan Bunguran Utara.

3. Pulau Sebetul
Pulau berbentuk oval ini termasuk dalam wilayah Desa Air Payang, Kecamatan Pulau Laut. Pulau ini menandakan wilayah batas NKRI dengan adanya mercusuar. Topografi pulau Sebetul terdiri dari pantai berteping curam dengan dasar perairan berbatu. 

Pulau Sebetul, via http://www.panoramio.com
Tepian begitu rendah, semakin ketengah semakin tinggi, dengan tinggi pulau berkisar 1-3 mdpl. Akses menuju pulau ini tak terlalu sulit, karena banyak nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan di sekitar pulau. Akses terdekat adalah dari Pulau Laut.

4. Pulau Sekatung
Pulau Sekatung merupakan pulau paling utara dalam gugusan Kepulauan Natuna. Masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Pulau Laut, Pulau Sekatung menjadi benteng terakhir kedaulatan NKRI di sebelah utara bagian barat. Pulaunya dikelilingi gugusan terumbu karang yang cukup lebar, vegetasi rendah menutupi pulau ini sehingga tampak hijau dari jauh. Menuju Pulau Sekatung sangat mudah, dari Ranai, ibu kota kabupaten Natuna, kita bisa ke Pulau Sekatung dengan rute Ranai – Binjai dengan transpotasi darat, lalu menyebrang ke Sedanau dengan speedboat, lanjut ke Pulau Laut dengan kapal motor. Atau rute lain dari Ranai - Teluk Buton (Bunguran Utara) dengan transportasi darat, lalu menuju Pulau Laut dengan transportasi laut. 

Monumen Datuk Kaya Wan Muhammad Dun di Pulau Sekatung, via twiiter.com
Akses terdekat adalah dari Pulau Laut karena hanya terpisah selat Setakong dengan lebar 40 meter. Pulau paling utara ini terkenal dengan hasil lautnya yaitu ikan Napoleon dan berbagai jenis kerapu yang terkenal itu, serta komoditi lain yaitu teripang sebagai penunjang ekonomi masyarakat setempat. Di Pulau ini juga didirikan patung pahlawan Nasional dari Natuna, Datuk Kaya Wan Muhammad Dun yang tegak berdiri menghadap ke laut, seakan bersiap menghadang siapapun yang mengusik tapal batas NKRI wilayah utara ini.

5. Pulau Senua
Pulau Senua masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Bunguran Timur. Pulau dengan bentuk khas seperti orang hamil ini menyimpan pesona keindahan yang luar biasa. Pantai berpasir putih dan dikelilingi oleh terumbu-terumbu karang yang indah menjadikan pulau Senua primadona pariwisata andalan Kabupaten Natuna. Dibalik keindahan yang tersimpan di dalamnya, ternyata Pulau Senua merupakan pulau terluar yang dimiliki NKRI. Letaknya tak begitu jauh dari pulau Bunguran Besar yang ibukota Kabupaten Natuna berada disini, hanya terpisah oleh Selat Senua, dengan lebar sekitar 2 – 3 km. 

Pulau Senua dari Bukit Senubing
Selain dekat dengan pulau induk Bunguran Besar, pulau ini juga merupakan tujuan wisata masyarakat Natuna maupun wisatawan domestik hingga mancanegara, sehingga akses menuju pulau ini sangatlah mudah, kita bisa menggunakan perahu nelayan atau speedboat raider milik TNI dengan jarak tempuh sekitar 10 sampai 30 menit. Pulau ini tak berpenghuni tetap, hanya ada beberapa orang yang tinggal untuk menjaga sarang burung walet dan mendiami rumah yang disediakan untuk keperluan wisata. Menara suar terletak di sisi pulau yang menandakan Pulau Senua sebagai pulau terluar Indonesia.

6. Pulau Subi Kecil
Pulau ini masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Subi yang berada dalam gugusan kepulauan Natuna bagian selatan dan menjadi tapal batas NKRI dengan Malaysia Timur. Pulau ini cukup luas dan dihiasi pasir putih dan bebatuan di tepi pantai. Dan di sisi lain, pulau ini ditumbuhi mangrove yang begitu lebat. Pulau ini memiliki ketinggian berkisar dari 1 sampai 3 mdpl. 

Pulau Subi Kecil dari Udara, via http://awalinfo.blogspot.co.id
Tak seperti pulau-pulau perbatasan lain yang sudah kita bahas. Pulau Subi Kecil merupakan pulau yang berpenghuni. Sebagian besar wilayah pulau ditanami kelapa oleh penduduk setempat. Kelapa merupakan komoditas utama pulau ini dan menjadi mata pencaharian penduduk selain nelayan. Menuju pulau Subi Kecil adalah dengan naik kapal mesin dari pelabuhan Penagi menuju Kecamatan Subi. Sebagai pulau terluar, pulau Subi Kecil memiliki mercusuar dan bangunan tertulis titik dasar dan titik refrensi.

7. Pulau Kepala
Pulau Kepala merupakan benteng paling timur yang dimiliki oleh Kepulauan Natuna. Berbatasan langsung dengan Malaysia Timur, Pulau ini memiliki mercusuar yang menandakan ia adalah pulau terluar penjaga batas daulat Negara. Pulau Kepala masuk dalam gugusan kepulauan Natuna Selatan, masuk dalam administrasi Desa Air Nusa, Kecamatan Serasan. 

Pulau Kepala, via http://infonusantara.co.id
Akses ke pulau tak berpenduduk ini tidak sulit karena banyak nelayan yang melakukan kegiatannya di pulau ini. Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari dermaga Serasan. Meskipun dekat dengan pulau induk, pulau ini jarang dikunjungi karena perairannya yang berombak, terlebih saat musim utara. Pulau Kepala ditumbuhi pohon-pohon kelapa yang padat dan belum dimanfaatkan, dan pulau ini memiliki karang yang cukup baik dengan persentase penutupan 85%.

Itu tadi ketujuh pulau terluar yang dimiliki oleh Kabupaten Natuna yang datanya saya sadur dari buku “Nusa Penjaga Indonesia” terbitan kompas. Ada yang sudah pernah pergi ke semua pulaunya? Sebagai anak Natuna khususnya, adalah baik bagi kita untuk mengetahui hal ini, sebagai bentuk perhatian dan cinta akan daerah sendiri serta Negara Indonesia.

"Mun ukan itou, hapou agik yau?!"

ERAU : Salah Satu Gawai Akbar Tertua di Nusantara

Akhir juli kemarin ada gawai besar di Tenggarong, ERAU namanya. Saya tau tentang ERAU ini udah lama sekali -masih zaman friendster- ketika secara acak dapat temen yang berasal dari Tenggarong, berbagi cerita tentang budaya hingga Ia bercerita tentang Tenggarong, saya semakin penasaran dengan gawai akbar ini. Saat kuliah pun dapat teman-teman dari Tenggarong juga dan ada banyak waktu untuk berbagi tentang ERAU. Dan saat ini, setelah merantau ke Kalimantan Timur sejak akhir 2015, saya fikir merupakan saat yang tepat untuk menghadiri acara besar ini. Setelah tahun lalu saya tidak bisa hadir karena bergelut dengan pekerjaan di luar KalTim.

Nama ERAU berasal dari kata EROH yang berarti ramai, riuh, ribut yang penuh dengan suka cita. ERAU pertama kali diadakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Saat pengangkatan beliau menjadi Raja Kutai yang pertama (1300-1325) juga diadakan upacara ERAU. Sejak saat itu ERAU selalu diadakan ketika penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara. Lalu ERAU berkembang menjadi acara pemberian gelar bagi tokoh yang berjasa terhadap kerajaan. Upacara ERAU dulu dihadiri oleh banyak kalangan abdi kerajaan yang datang dari berbagai tempat dalam wilayah kesultanan dengan membawa bekal makanan, buah, ternak, hingga pelaku kesenian. Sultan dan kerabat kerajaan menjamu rakyat dengan baik sebagai tanda terimakasih Sultan atas pengabdian rakyatnya. Terakhir kali ERAU dilaksanakan menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara adalah tahun 1965 saat pengangkatan Putra Mahkota, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat. 

Seiring berkembangnya waktu, acara akbar ERAU ini digabung menjadi satu dalam agenda pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara, namanya pun berubah, menjadi EIFAF (Erau International Folk Arts Festival). Sebuah perpaduan acara adat, seni dan budaya berskala international yang dihelat selama kurang lebih 1 minggu. 

Saat melihat kalender dan mencocokkan dengan jadwal kerja, akhirnya saya dapatkan tanggal yang pas untuk menghadiri festival ini, tepat dihari pertamanya. Sudah lama memang saya persiapkan untuk datang karena dari dulu sudah penasaran dengan acara ini. Perjalanan dari Balikpapan saya mulai dengan naik bis dari Terminal Batu Ampar menuju terminal Sungai Kunjang di Samarinda dalam waktu kurang lebih 2,5 jam. Lanjut menuju ke Tenggarong dengan sepeda motor, perjalanan Samarinda - Tenggarong ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam perjalanan.

Kegiatan Hari pertama dari rangkaian kegiatan EIFAF ini adalah Kirab Budaya, yang diikuti oleh beberapa negara seperti India, Cina Taipei, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Slovakia, Bulgaria, dan Polandia. Negara-negara ini tergabung dalam anggota organisasi CIOFF (International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts). CIOFF adalah sekelompok perwakilan nasional non-profit festival seni lokal organisasi. Sebagai organisasi non-pemerintah, CIOFF adalah konsultatif berwenang untuk UNESCO. Organisasi CIOFF inilah yang mengurus pelestarian kebudayaan dan menjembatani hubungan antar bangsa melalui festival-festival kebudayaan rakyat. Selain beragam negara, kirab budaya ini juga diikuti oleh beberapa suku di Indonesia yang tumbuh dan berkembang di Kukar, ada Minang, Sulawesi Selatan, Banyuwangi, Bali, Dayak dll. 
Kirab Budaya dimulai dari sepanjang jalan utama Tenggarong menuju Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara. Kirab budaya ini menampilkan adat budaya masing-masing peserta. Penampilan puncaknya di halaman Kedaton Kukar, yang ditonton oleh unsur Kerajaan dan Pemerintahan serta undangan. Cuaca yang cukup panas saat itu tak menjadi halangan bagi peserta untuk unjuk kebolehannya. Bahkan masyarakat sangat antusias menonton kirab budaya tersebut. Terlebih lagi anak-anak sekolah yang mengincar kontingen Korea Selatan untuk berswafoto bersama oppa-oppa nya itu. 😐
Kontingen Korea Selatan yang jadi incaran anak sekolah.
Peserta menampilkan seni dan budayanya masing-masing di halaman Kedaton. Tampak hadir di sana adalah bu Rita, bupati Kabupaten Kukar yang sangat dicintai warganya, "Dia itu down to earth banget", kata rekan saya saat berbicara tentang beliau. Unsur-unsur pemerintahan yang lain juga tampak duduk di kursi tamu untuk menyaksikan penampilan peserta kirab budaya. Partisipasi warga dalam acara ini juga sangat besar, memadati halaman Kedaton Kukar. Sepertinya acara ini sangat ditunggu-tunggu mengingat acara ini merupakan acara tahunan yang sudah masuk dalam kalender wisata nasional. Sayangnya saya hanya bisa mengikuti kegiatan dihari pertama ini saja, karena keterbatasan waktu. Makanya momen langka bagi saya ini akan secara maksimal saya gunakan. Mengabadikan kegiatan kirab dan berfoto bersama peserta, sambil mengenali budaya mereka, (sambil-sambil promosikan Natuna), dan sedikit bertukar bahasa. Ada banyak bahasa yang saya dapati, namun hanya khop khun nya Thailand saja yang saya ingat. hhe. Khop khun berarti terimakasih. 😃
Khop Khun Thailand. :)
Kegiatan EIFAF ini diselenggarakan dari tanggal 22 sampai 31 juli 2017 diberbagai tempat di Tenggarong. Ada beragam kegiatan yang diselenggarakan, seperti mendirikan ayu, eksibisi permainan tradisional, berbagai lomba dan pentas seni, festival kuliner, street performance, beluluh, bapelas, beseprah, mengulur naga sampai belimbur, dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang lain. Rangkaian kegiatan ini merupakan gabungan dari acara adat Kesultanan Kutai yang berpadu dengan kegiatan dari pemda Kukar. Seperti Beseprah, merupakan acara makan bersama dengan masyarakat. Beseprah yang dalam fungsinya tidak hanya makan gratis, namun menjadi ajang pendekatan bagi kerabat keraton dan pemerintah dengan masyarakat sekitar merupakan bagian dari adat Erau. 
Jadwal EIFAF 2017
Mengulur naga juga merupakan acara yang sangat ditunggu-tunggu. Prosesi ini di gelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura, Replika Naga akan menyusuri sungai mahakam dan berakhir di Kutai lama, Anggana. Dan yang terakhir adalah Belimbur, Belimbur merupakan acara puncak dari rangkaian ritual ini. Dalam ritul Belimbur, seluruh masyarakat antusias mengikuti Belimbur dengan suka cita dan keceriaan sambil basah-basahan karena memang ini yang paling ditunggu-tungu warga. Hal ini juga menjadi ajang masyarakat untuk memperkuat tali silaturahmi antar warga dengan berpartisipasi dalam ritual Belimbur. Aturannya dalam belimbur ini adalah jangan marah ketika kita disiram air, tanggapilah dengan suka cita, karena memang itu tujuannya, selama tidak melanggar batas-batas norma yang ada. Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.

Berikut beberapa foto dan video Kegiatan Kirab Budaya EIFAF 2017 :
Peserta dari berbagai negara
Peserta dari berbagai daerah

Persiapan penampilan kontingen Jepang
Wefie sama babang babang India
Say something first. :D

Sayangnya, sekali lagi. Saya tidak bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini. Next time maybe. Sukses terus untuk Kukar atas terlaksananya EIFAF 2017 ini. Mantap.....



Sumber :
http://erau.kutaikartanegara.com
http://eifaf.visitingkutaikartanegara.com

Friday, July 14, 2017

Sekarang, sebutlah dengan nama : LAUT NATUNA UTARA

"Goodbye" Laut Cina Selatan
Lagi iseng buka facebook, lalu mata tertuju pada sebuah link artikel yang dibagikan seorang teman di wall FB nya tentang Natuna. Link yang di copy dari situs berita tempo.co tersebut menjelaskan bahwa ada perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Pemerintah. Terakhir Pemerintah mengupdate peta Indonesia pada tahun 2005. Banyak faktor yang mendasari perubahan peta ini diataranya adalah perkembangan hukum Internasional, pembaruan perjanjian antara Indonesia - Singapura, dan Indonesia -  Filipina, dan perkembangan terbaru proses batas maritim Indonesia dengan Malaysia, Singapura dan Filipina. 
Peta Natuna, via http://www.netralnews.com

Perubahan peta Indonesia ini melibatkan Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan 21 perwakilan Kementrian dan Lembaga Negara. Dalam update nya kali ini, salah satu perubahannya adalah adalah penamaan nama laut di utara Kepulauan Natuna. Sebelumnya laut di utara kepulauan kaya migas ini bernama Laut Cina Selatan, seperti yang tercantum dalam dokumen International Hydrographic Organization (IHO) pada tahun 1953. Dan terhitung tanggal 14 Juli 2017 ini laut tersebut berganti nama menjadi LAUT NATUNA UTARA. 
Letak Laut Natuna Utara, via http://economy.okezone.com
Pembaruan ini semakin memperkuat wilayah yuridiksi Indonesia. Mengingat di Laut Natuna Utara ini menyimpan potensi migas yang luar biasa. Seperti yang kita tahu, cadangan minyak bumi di Laut Natuna mencapai lebih dari 290 juta barel, sedangkan gas bumi mencapai lebih dari 55 triliun kaki kubik. Cadangan ini terletak di laut, dengan jarak beberapa mil dari Pulau Natuna. Hal ini banyak menggiurkan negara-negara tetangga untuk mengambil alih Natuna. Tiongkok dan Malaysia sangat sering masuk dalam headline berita tentang ketertarikannya pada sumber daya alam di laut Natuna ini.
Peta Cadangan Minyak Bumi, via http://migas.esdm.go.id

Peta Cadangan Gas Bumi Indonesia, Natuna yang terbesar, via http://migas.esdm.go.id

Saya pikir perubahan nama akan laut di utara pulau tempat kelahiran saya ini tepat, semakin menjelaskan bahwa Natuna berada dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia. Juga akan berdampak sangat bagus, terutama pada bidang ekonomi, (semoga, ya). Pernah suatu waktu ketika saya menunjukkan peta Natuna pada rekan-rekan, mereka bertanya-tanya apakah Natuna itu masih Indonesia atau bukan, tambahan pula laut di dekat Natuna bernama Laut Cina Selatan. Efeknya saya harus bersabar hati meluangkan waktu untuk menjelaskan betapa Natuna itu, Indonesia banget. Hhe


Anyway, terimakasih saya ucapkan pada Pemerintah atas perubahan nama ini. Semoga berdampak lebih dari sekedar bidang ekonomi karena adanya sumber daya alam yang melimpah di tempat kami ini. Lebih jauh adalah semoga kedaulatan NKRI semakin jaya selalu, mengingat Natuna merupakan pintu gerbang “utama” Negara-negara luar untuk masuk ke Indonesia. 
#NKRIhargamati

sumber berita : tempo.co

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...