Monday, August 10, 2015

Legenda Batu Kapal

Batu Kapal merupakan sebongkah batu granit besar menyerupai kapal yang terletak di Batu Kapal, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna. Tidak sulit bagi anda untuk mencapai tempat ini, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 10 menit saja dengan berkendara dari kota Ranai. 
Batu Kapal, dok pribadi
Batu ini disebut dengan Batu Kapal karena bentuknya memang seperti Kapal besar yang sedang bertengger di pelabuhan. Ada beberapa cerita yang menceritakan tentang asal usul batu yang besar ini. Salah satunya adalah cerita yang kurang lebih mirip seperti cerita Malin Kundang dari Sumatera Barat.


Batu Kapal ini, konon pada saat dahulu kala adalah sebuah Kapal besar yang sarat akan muatan, pemilik kapal ini adalah seorang pemuda yang sombong serta seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Ketika sang pemuda sudah menjadi orang sukses dan kaya raya, namun sang Ibunda masih tetap hidup serba kekurangan.

Sang ibunda sudah lama menanti kepulangan anak tercintanya dari kampung seberang, akhirnya berita kepulangan anak sampai di telinga ibunda melalui kabar dari tetangga-tetangga. Sang Ibunda mendengar ada seorang pemuda kaya yang pulang untuk memaerkan harta kekayaannya.
Batu Kapal, via sinarpelangionline.com

Sang ibu pun langsung menuju ketempat dimana kapal berlabuh untuk melihat seorang anak yang lama sudah tak dijumpainya, rindu dalam dada seolah sirna ketika ia melihat putranya sudah menjadi orang yang sukses. Seketika itu pula ia berlalri dan ingin memeluk sang anak. Melihat ada seorang wanita tua renta yang datang dan ingin memeluknya, maka ia pun menepis tangan sang ibunda, bahkan sang pemuda menyangkal bahwa wanita tua renta tersebut bukanlah ibu yang telah melahirkannya. 

Dengan rasa malu yang teramat sangat untuk mengakui bahwa itu adalah ibu kandungnya, namun keangkuhan pemuda mengalahkan segalanya. Ia menghardik sang ibu serta mengusirnya dari kapal dengan cara menendangnya. Sontak seakan tak percaya, kerinduan bertahun-tahun seorang ibu dibalas dengan hardikan dan makian, serta tendangan dari anak kandungnya sendiri. Seketika itu pula, rindu berubah menjadi murka, lalu secara spontan sang ibu berdoa agar si pemuda mendapat bala dari Yang Maha Kuasa.
Batu Kapal tampak belakang, via www.tumblr.com
Seketika itu pula doa ibu diijabah oleh Tuhan, langit menghitam, disertai dengan badai dan gemuruh yang dahsyat. Angin topan mengamuk sehingga menerbangkan apa-apa yang ada disekitaran kapal. Gelombang meninggi menghempas kapal sang pemuda hingga terbelah menjadi dua. Sang pemuda karena takutnya berlari ke buritan kapal untuk menyelamatkan diri, namun terlambat. Kapal beserta isinya termasuk sang pemuda berubah menjadi batu. Hingga kini masyarakat menyebutnya Batu Kapal.

Dulu saat saya masih SD, guru saya menceritakan saat mereka kecil, jika mereka bermain di sekitaran batu kapal, banyak ditemukan manik-manik dan asesoris-asesoris perhiasan. Guru yang lain menceritakan, jika air sedang pasang, dan saat gelombang menghantam "buritan" di Batu Kapal itu,akan terdengar suara "bu, bu, bu" yang konon adalah suara sang pemuda memohon ampun kepada ibu nya.

Jauh dari lokasi Batu Kapal ini, terdapat Pulau Kemudi dan Pulau Jantai, tepatnya di kecamatan Bunguran Selatan, konon cerita ini adalah kemudi dan rantai kapal yang terpental karena dihantam oleh badai yang dahsyat saat "proses" kutukan terjadi.

Apapun itu, baik nyata maupun hanya cerita, kisah-kisah zaman dulu yang diceritakan oleh orag tua kita sangat sarat akan makna dan pesan moral, untuk membimbing kita menjadi lebih baik. :)

sumber :
http://sinarpelangionline.com

No comments:

Post a Comment