Showing posts with label Bunguran Barat. Show all posts
Showing posts with label Bunguran Barat. Show all posts

Friday, May 20, 2022

Mantau Kekah, Cara Asyik Baru Menikmati Desa Wisata Mekar Jaya

Bicara tentang keanekaragaman hayati, Natuna memiliki potensi yang luar biasa. Beragam jenis flora dan fauna bisa ditemukan di daerah ini, beberapa di antaranya ada yang berada dalam status langka, beberapa yang lain ada yang hanya bisa ditemukan di Natuna, dan ada pula yang memiliki "hak paten" berupa nama-nama daerah di Natuna dalam sebutan ilmiahnya. Ada Leptobrachella serasanae, spesies katak kecil yang ditemukan di pulau Serasan. Dan ada juga Presbytis natunae, primata unik yang hanya ditemukan di Natuna.
Kekah di Desa Mekar Jaya
Presbytis natunae merupakan primata endemik Natuna, masyarakat Natuna menyebutnya Kekah. Habitatnya paling banyak tersebar di beberapa tempat di pulau Bunguran Besar. Batu Sindu, Sedarat Baru, Bandarsyah, Sungai Ulu, dan Mekar Jaya merupakan beberapa tempat yang diduga sebagai rumah dari si Kekah ini. Hewan ini tergolong langka, maka melestarikannya merupakan hal yang perlu dilakukan.

Kekah merupakan hewan pemalu yang hidup berkelompok, tubuhnya berwarna hitam dan berekor panjang, terdapat bulu berwarna putih di badan dan matanya sehingga terlihat seperti menggunakan rompi dan kacamata, lucu dan unik. Kekah dewasa memiliki taring panjang yang ia gunakan untuk membuka biji karet yang merupakan makanan favoritnya.

Karena langka, Kekah jadi bernilai tinggi, banyak yang ingin memeliharanya, untung saja "perburuan" Kekah belum masif terlihat. Namun tetap perlu waspada, sebab jika terus diburu akan mempengaruhi populasi hewan endemik Natuna ini. Saya dari kecil dulu jarang sekali melihat Kekah secara langsung, pernah secara tak sengaja di Batu Sindu, namun hanya sebentar, si Kekah langsung menghilang dalam belantara hutan. Dan dahulu juga tidak sepeduli seperti saat ini terhadap kelestarian Kekah.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin mengerti bahwa keberadaan Kekah memang harus dilestarikan. Pembangunan yang sedikit banyak telah membuat habitat asli Kekah juga tergerus pelan-pelan. Padahal, jika "dimanfaatkan", keberadaan Kekah di Natuna menghasilkan banyak peluang, penelitian dan wisata adalah beberapa dari sekian banyak potensi yang "dihasilkan" oleh si Kekah. Dan Desa Mekar Jaya, Bunguran Barat menyadari itu.

Beberapa waktu lalu, saya kembali mengunjungi desa ini. Sebuah desa yang terletak di bagian barat daya Pulau Bunguran Besar. Butuh waktu sekitar 90an menit dari pusat kota untuk mencapai desa Mekar Jaya. Cek Gu Ahdiani, inisiator kegiatan "mantau kekah" di Desa Mekar Jaya sudah menunggu kami di rumahnya. Setelah santai sejenak, kami langsung ke "inti acara" mengapa saya ke sini: melihat Kekah. Namun sebelumnya, kami diajak untuk mengitari sungai sambil makan siang di atas spitbut (perahu cepat) di tengah sungai dan hutan bakau. Lauk ikan balado menjadi menu terlezat hai itu.
Cek Gu Ahdiani (baju loreng) sang inisiator mantau kekah.
Menurut Cek Gu Ahdiani, Kekah di desa Mekar Jaya biasanya keluar dari sarang untuk mencari makan pada pagi hari sekitar pukul 5.30 - 9, dan sore hari sekitar pukul 3 - 6. Oleh karena itu kami diajak jalan-jalan di sekitar hutan mangrovenya terlebih dahulu sembari mengisi waktu.

Saat kami pulang dari makan siang, dalam perjalanan dari dermaga menuju kediaman Cek Gu, kami diberitahu warga bahwa ada segerombolan Kekah yang sedang nangkring di pohon karet. Warga ini memberitahukan kami dengan bahasa isyarat dari mulutnya, seakan-akan paham betul jika membuat gaduh gerombolan Kekah ini akan lari kabur. Setelah mendapat informasi tersebut, kami lalu melanjutkan perjalanan. Namun pandanganku tiba-tiba teralihkan oleh sekawanan Kekah yang sedang asyik makan di kebun karet milik warga. Karena teralu exited, saya sedikit berteriak sehingga membuat sekawanan Kekah tersebut ikut panik. Dan akhirnya, karena sifat pemalunya tersebut, mereka kembali ke hutan.
Beberapa kekah muda melompat di antara pepohonan karet menuju ke dalam hutan, sementara induk kekah yang menggendong bayinya terlihat sangat panik, seperti bingung antara lari menyelamatkan diri sementara ada bayi yang ia embok (gendong). Seekor Kekah, sepertinya sang Alfa, melompat kesana kemari memastikan anggotanya selamat, ia yang terlihat paling sibuk dalam rombongan itu. Teriakan Kekah bersaut-sautan, berkomunikasi, memberi komando untuk menyelamatkan diri.

Saya merasa bersalah, karena kehebohan yang sedikit tadi membuat mereka lari. Benar-benar Kekah ini hewan pemalu, jika keberadaannya diketahui, ia akan kembali ke sarangnya lagi. Padahal jika sedikit tenang dan sikap sedikit tak peduli, rombongan Kekah ini akan tetap santai menikmati makan siangnya. Sebab tempat kami menemukan Kekah ini hanya berjarak 50 meter saja dari rumah dan aktivitas warga. Namun alhamdulillah, kami mendapat beberapa gambar dan video Kekah, hingga rekaman suaranya, asli dari alam, "fresh from the oven".
Bisa melihat Kekah merupakan target utama, dan itu telah tercapai. Kami pulang ke kediaman Cek Gu dan beristirahat sejenak. Sambil berdiskusi ringan. Cek Gu berkata bahwa ada ratusan ekor Kekah di Mekar Jaya, dan terbagi dalam beberapa kelompok, dan ada beberapa tempat favorit Kekah di desa ini, kebun karet warga tadi salah satunya. Selain karet, Kekah juga menyukai rambutan dan buah matoa.
Mantau Kekah
Dalam kegiatan mantau Kekah, kita harus jeli melihat di sekitaran pohon, karena selain pemalu, Kekah juga ahli kamuflase, sulit menemukannya ketika ia berada di pepohonan kalau mereka tidak bergerak. Dan kita juga harus tenang ketika mengetahui keberadaannya. Karena jika sedikit heboh saja, si Kekah akan kabur menghilang.
Esok harinya di pagi hari, kami mencoba mantau Kekah lagi, kali ini di lokasi yang berbeda, salah satu tempat favorit Kekah. Namun pagi itu sepertinya kami belum hoki untuk menemukan sekelompok kekah di tempat ini. Malah kami menemukannya di lokasi kemarin, dan diduga masih dengan kelompok kekah yang sama dengan yang kami temui kemarin.

Pertemuan kedua dengan mereka ini tak saya sia-siakan. Saya lebih tenang, selow dan sedikit berwibawa 😄. Seperti tak terjadi apa-apa, namun teropong dan kamera saya standby untuk mengambil potret mereka. Beberapa gambar telah kami dapati, rasanya puas sekali, melihat langsung, mendengar suaranya, dan mendapatkan hasil jepretannya. Benar-benar pengalaman baru yang luar biasa. 
Ciluk, baaaaaa
Setelah dari lokasi ini, kami diajak oleh Cek Gu ke satu lokasi lagi. Sebuah kebun yang akan direncanakan untuk menjadi basecamp mantau kekah, dimana kelak di sini akan ditanam berbagai tanaman buah untuk memancing Kekah datang lalu kita bisa memantaunya sambil bersantai di pondok dan menikmati alam. Ini merupakan rencana Cek Gu dalam program mantau Kekah ke depan. Kami sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan untuk menjaga kelestarian hewan Natuna yang ikonik ini.

Semoga keberadaan Kekah tetap lestari. Sehingga bisa memperkenalkan negeri, bahwa tempat kita juga kaya akan keanekaragaman hayati.



Kekah, 
Dunianya beratapkan langit, 
jangan dikurung dalam kandang yang sempit.
Geraknya melompat di antara pohon dan batang, 
jangan dikekang dengan mengikatnya di tiang.
Biarkan mereka di hidup bebas di belantara hutan,
bukan untuk dijualbelikan.
Biarkan mereka nikmati alam,
sebagaimana kita juga ingin hidup tentram.

--------------------------------

instagram : @mantau_kekah

Wednesday, May 18, 2022

Ragam Cara Asyik Mengisi Liburan Produktif di Desa Mekar Jaya

Setelah sebulan berpuasa dan dilengkapi dengan kegembiraan di bulan syawal, saya rasa harus kembali melakukan banyak kegiatan biar produktif seperti kata orang-orang. Saat itu juga saya memutar otak memikirkan kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mengisi libur panjang kali ini. Lama juga mengingat satu demi satu tempat-tempat menarik di sekitaran kota untuk bisa dikunjungi. Memang, Kota Ranai dimana tempatku tinggal ini dikelilingi oleh tempat-tempat menakjubkan, mulai dari pantai, pulau, gunung hingga hutan.

Setelah memilah dan memilih, pilihan saya tertuju pada Desa Mekar Jaya. Desa ini sudah pernah saya review dalam tulisan saya terdahulu tentang wisata mangrovenya yang indah. Wisata alternatif yang digagas oleh para pemuda desa dalam menggali potensi alamnya. Hasilnya, meskipun terletak di sudut barat daya Pulau Bunguran ini, Desa Mekar Jaya banyak dikenal hingga saat ini, baik oleh para wisatawan, hingga peneliti. Desa Mekar Jaya juga masuk dalam 300 besar dalam acara Anugerah Desa Wisata Indonesia tahun 2022 ini. Kece gilee.!

Saya kagum dengan pemuda dan masyarakat desa ini yang tak henti-hentinya bergerak untuk menggali potensi yang ada. Selain tanaman bakau dan kuliner ketamnya yang lezat, Desa Mekar Jaya masih banyak menyimpan potensi alam yang harus lebih giat lagi digali, yang nantinya jika dikelola dengan baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi penduduknya.

Hutan bakau yang dijadikan wisata mangrove Mekar Jaya merupakan potensi wisata dan penelitian serta konservasi. Di desa ini juga banyak tersimpan berbagai macam barang antik yang kerap ditemui warga. Beberapa waktu lalu warga bersama dengan Disdikbud Natuna mengidentifikasikan peti mati kuno yang disinyalir berusia ratusan tahun. Ini menandakan desa Mekar Jaya merupakan perkampungan tua di masa lampau, dan bisa jadi pula merupakan peradaban awal di pulau Bunguran.

Lalu, desa yang dikelilingi hutan dengan pepohonan besar ini juga merupakan rumah bagi Kekah Natuna (Presbytis natunae). Primata sejenis langur ini dijadikan ikon untuk branding Natuna. Dan "istananya" berada di Desa Mekar Jaya ini. Hal ini juga yang dimanfaatkan oleh warga setempat untuk memanfaatkan potensi alamnya, mendatangkan tamu baik itu untuk berwisata maupun meneliti dengan mengenalkan paket Mantau Kekah.

Yap, Mantau Kekah merupakan sebuah paket dan aktivitas baru yang ditawarkan di Desa Wisata Mekar Jaya. Setelah memutuskan untuk pergi kesini, saya lantas menghubungi local hero, Pak Ahdiani yang akrab saya panggil Cek Gu. Menginfokan bahwa kami akan mengunjungi desa Mekar Jaya diakhir pekan untuk Mantau Kekah. Cek Gu "merestui" dan kami pun berangkat menuju ke sana.

Perjalanan dari Ranai Kota kami mulai pukul 8 pagi. Menuju Desa Mekar Jaya menempuh waktu kurang lebih 90 menit berkendara dengan kecepatan rata-rata. Rute yang dilewati adalah pesisir timur pulau Bunguran hingga melewati Kecamatan Bunguran Selatan. Lalu belok ke arah barat ketika menemui kantor PLN di Pian Tengah. Dari simpang PLN Pian Tengah menuju Desa Mekar Jaya yang berjarak 9 km itu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 15-20 menit dikarenakan kondisi jalan yang kurang memadai.
Bebuel nabuk (bincang santai) dengan Cek Gu
Setelah sampai di Desa Mekar Jaya kami sudah ditunggu Cek Gu di rumahnya. Bertamu sebentar sambil "sungkem" dan menikmati tambul raye (kue lebaran) karena masih dalam suasana syawal. Juga sambil ngobrol-ngobrol ringan seraya melepas lelah. Kemudian kegiatan kami langsung dimulai. Kali ini belum untuk mantau kekah, karena menurut Cek Gu, kekah akan keluar mencari makan sekitar pukul 3-5 sore hari, dan pukul 6-9 pagi harinya. Jadi kegiatan kami kali ini adalah menelusuri sungai di menuju hutan Desa yang masuk dalam hutan kawasan zona kuning dan hijau. Menuju kesana menggunakan spitbut/jungkong mesin (speedboat). 
Menelusuri hutan desa.
Turun dari pelabuhan Mekar Jaya Mangrove Park, kami menuju muara dan masuk ke wilayah dusun Sebuton, memasuki Sungai Temeghang dan Sungai Mak Keghak. Menelusuri sungai-sungai berdinding bakau merupakan cara asyik pertama dalam menikmati libur panjang akhir pekan ini. Bonus dari perjalanan menyusuri sungai ini adalah kami bisa melihat langsung buaya yang sedang "ngetem" di antara pohon bakau, dan sempat kami abadikan.
Potret buaya di sungai Temeghang.
Buaya yang terlihat masih remaja ini diperkirakan memiliki panjang 1 meter. Dengan tenang ia berada di antara pepohonan bakau, yang terlihat hanya moncong dan matanya. Setelah mendapatkan beberapa gambar, sang buaya pun menghilang, menyelam entah kemana. Saya pribadi baru kali pertama melihat buaya di alam seperti ini. Sangat heng (hoki) betul hari ini bisa melihat dan mengabadikan hewan karnivora yang terkenal ganas ini.

Cara asyik kedua dalam menikmati liburan kali ini adalah: makan siang di atas spitbut. Setelah mendapat foto buaya di pepohonan bakau tadi, Cek Gu mematikan mesinnya dan mengikat spitbut di pohon bakau yang baru tumbuh, terlihat dari diameternya yang tak begitu besar.
Makan siang di atas spibuut. (foto: @ahdiani_mt)


"Makan siang", begitu katanya memecah keheningan seraya mengeluarkan rantang plastik yang sudah disiapkan di bawah tempat duduk spitbut. Lauk ikan asam pedas dan sambal teri menjadi menu makan siang kali ini. Terlihat sederhana, namun momennya yang luar biasa menjadikan makan siang ini begitu lezat tiada tara. Makan siang di atas perahu di tengah-tengah hutan bakau akan memberikan sensasi tersendiri. Ditemani alunan musik alam dari suara gemercik air dan binatang-binatang penghuni hutan bakau akan jadi pengalaman tak terlupakan yang kelak akan dibawa pulang.

Setelah makan siang, kami menuju ke Tebing Tinggi. Tempat ini merupakan lokasi dimana peti mati kuno ditemukan warga, lalu penemian ini dilanjutkan dengan dilaporkan kepada pemerintah. Selesai dari Tebing Tinggi, kami pulang untuk beristirahat sejenak, kembali menyusuri sungai Aek Botang menuju dermaga Mekar Jaya Mangrove Park. Saat perjalanan dari dermaga menuju rumah Cek Gu, seorang warga desa memberitahukan kami bahwa ada segerombolan Kekah yang sedang nongkrong di pepohonan karet. 
Mantau Kekah (foto: @mantau_kekah)
Keluarga kekah
Sontak saya mengikuti arah yang warga desa isyaratkan dengan bibirnya tersebut. Dan benar saja, satu ekor, dua ekor, dan lebih dari lima ekor Kekah sedang nongkrong dengan santainya di pepohonan karet, padahal ada aktivitas warga dengan jarak sekitar 50 meter saja. Kejutan tak terduga ini kami manfaatkan untuk mengambil beberapa gambar Kekah, tak bisa banyak karena kehadiran kami terdeteksi oleh mereka, sehingga mereka langsung "membubarkan diri".

Cara asyik menikmati libur panjang yang ketiga adalah mengarungi laut berburu foto burung. Desa Mekar Jaya ini secara admnistrasi berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Bunguran Barat, Kecamatan yang berpusat di Pulau Sedanau ini memiliki potensi alam yang juga luar biasa. Salah satunya adalah Pulau Kembang, Pulau ini berada dalam administrasi Kelurahan Sedanau. Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari dermaga Mekar Jaya Mangrove Park untuk sampai ke pulau ini dengan spitbut. Pulau Kembang merupakan rumah bagi raturan spesies burung yang diantaranya berada dalam kategori terancam punah. Selain itu karang-karang yang mengelilingi pulau ini sangat indah terlihat dari atas spitbut karena air laut di puau ini sangat jernih.
Cekrek cekrek burung merpati
Kami mengitari pulau dengan pelan sambil mengamat burung-burung yang terbang kesana kemari. Matahari yang perlahan kembali ke peraduan membuat burung-burung ini juga kembali ke sarangnya setelah "bermain-main" seharian. Banyak burung yang kami dapati potretnya, dan diantaranya ada burung Pergam Perak yang saat ini statusnya kritis alias terancam punah. Setelah puas jepret-jepret hewan-hewan penguasa langit ini kami kembali ke Mekar Jaya saat matahari sudah mulai terbenam.
Senja di laut Bunguran Barat
Pagi harinya, masih dalam agenda Mantau Kekah. Kami kembali mendapati kekah di lokasi pertama yang kami temui kemarin, setelah memutar-mutar lokasi dimana mereka biasa nongkrong. Kata Cek Gu, mendapati Kekah ini untung-untungan, terkadang bisa ramai seperti kemarin, terkadang juga zonk tidak terlihat sama sekali. Kekah merupakan hewan pemalu yang jago kamuflase, sehingga saat mencarinya pandangan kita harus tajam dan teliti. Pagi ini kami hanya mendapati beberapa potret Kekah yang lumayan epik. Namun tak banyak karena mereka dengan cepat kembali ke hutan.

Setelah itu, kami kembali ke kediaman Cek Gu,
Selesai?
Belum ternyata.

Sampai di rumah, Cek Gu kembali mengajak kami ke satu lokasi lagi. Lokasi yang akan ia jadikan posko pengamatan kelompok Kekah. Lokasi ini terletak di tanah miliknya dan rencana akan ditanam beberapa tanaman yang menjadi makanan di Kekah untuk memancing ia datang. Sebagai penutup, kami ditawari teh khas Desa Mekar Jaya. Nama teh kahwe, kahwe berarti kopi dalam bahasa Melayu. Teh kahwe berasal dari daun kopi yang tumbuh di tanah Mekar Jaya. Rasanya nikmat dengan tekstur yang khas. Dan ini cara asyik yang ke empat.
Teh Kahwe khas Mekar Jaya
Mekar Jaya, desa dengan lokasi yang terpencil namun miliki potensi yang tak kecil. Wisata mangrove, wisata maritim, wisata budaya, hutan kawasan, konservasi sumber daya alam, merupakan beberapa potensi yang tampak dari desa yang berlokasi di barat daya Pulau Bunguran ini. 

Satu lagi yang bikin saya terkesan adalah ketika kemarin saat kami diberitahu warga mengenai keberadaan Kekah, ini mengindikasikan bahwa warga setempat secara tak sengaja ikut mendukung aktivitas mantau kekah yang digagas oleh Ce Gu. Mantau kekah ini juga masuk dalam paket wisata sehari di Natuna Dive Resort, lo.


Nah, nanti jika ingin melihat secara langsung hewan endemik Natuna ini di alamnya, maka Desa Mekar Jaya merupakan pilihan tepat. Mantau Kekah kegiatan utamanya, ditambah beragam "bonus" lainnya akan didapati juga. Jadi, jom ke Natuna, song gi Mekar Jaya!




Nb : info lebih lanjut tentang Mantau Kekah bisa kunjungi akun ig nya di @mantau_kekah ya.

Monday, July 5, 2021

Perjalanan Mendampingi Tim Kemendikbudristek (6) : Kelanga, Tapau dan Ketam Lada Hitam (Lagi)

Secangkir kopi di lobi resort mengawali kamis pagi ini. Setelah perjalanan panjang lintas kecamatan kemarin, saya rasa kopi memang pas sebagai doping untuk nyemangati diri. Hari ini merupakan hari-hari akhir dalam rangkaian kegiatan pendampingan kami dengan tim Kemendikbudristek. Dan saya, kembali ke "habitat" awal dengan menemani tim bahasa sebelumnya. 

Proses wawancara dengan masyarakat Desa Kelanga

Tujuan kami kali ini yaitu Kecamatan Bunguran Timur Laut, dan Kecamatan Bunguran Tengah. Pemetaan bahasa lokal di Desa Kelanga menjadi tujuan perdana kami hari ini. Desa Kelanga merupakan salah satu tempat dimana bahasa asli Ranai berasal. Bahasa Ranai ini banyak digunakan di wilayah Bunguran Timur lama yang mencakup Kecamatan Bunguran Timur, Kecamatan Bunguran Timur Laut, dan Kecamatan Bunguran Selatan saat ini.

Setelah dari Desa Kelanga, kendaraan kami melaju ke Kecamatan Bunguran Tengah, tepatnya di Desa Tapau. Desa Tapau merupakan desa terakhir di Kecamatan Bunguran Tengah yang kami kunjungi. Desa yang merupakan daerah transmigrasi ini banyak dihuni oleh masyarakat dari etnis Jawa, terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari hasil wawancara, bahasa Jawa sebagai bahasa ibu masih mereka pertahankan meski ada beberapa yang sudah lenyap karena jarang ditutur. Hujan menemani wawancara kami dengan penduduk Desa Tapau ini. Setelah data didapati, kami pamit undur diri. 

Wawancara dengan warga Desa Tapau

Selesai sudah proses wawancara dalam rangka penelitian ini. Saatnya acara bebas. Kali ini, saya akan bawa mereka ke Desa Mekar Jaya. Saya merasa berdosa jika tidak membawa tamu-tamu ini untuk menikmati keindahan Mekar Jaya Mangrove Park. Namun sebelumnya, mereka request untuk diantarkan ke Lampa, ada hal penting yang mereka lakukan. Ternyata hal tersebut adalah saat kejadian beberapa hari lalu ketika mereka melakukan penelitian di Pulau Tiga, mereka sepertinya lupa membayar makanan yang mereka beli di kantin. Jadi kedatangan kami ke Lampa ini adalah hanya untuk "melunasi" hutang tersebut. 

Saya fikir, ini luar biasa, ini menandakan mereka bukan orang-orang sembarangan. Tentunya pintar, lalu diiringi dengan akhlak yang baik pula. Bersyukur sekali saya selalu dipertemukan dengan makhluk-mahkluk Allah yang luar biasa ini.

Dari Lampa kami menuju Desa Mekar Jaya, menikmati mangrove dan berdiskusi ringan di sana dengan Cek Gu Ahdiani, pengelola Mangrove. Dan hal terpenting adalah makan ketam lada hitam lagi. Lauk wajib yang disediakan oleh Cek Gu Ahdiani ketika ada tamu yang berkunjung ke kediamannya. Alhamdulillah. 

Mekar Jaya Mangrove Park

Setelah berdiskusi banyak dan juga dijamu dengan makanan lezat, kami pamit pulang ke Ranai sebab haripun sudah mulai gelap. Dan para peneliti ini juga harus mempersiapkan diri untuk pekerjaan-pekerjaan administrasi dan kepulangannya pada hari sabtu kelak.






Friday, July 2, 2021

Catatan Perjalanan Mendampingi Tim Kemendikbudristek (5): Bunguran Barat, Mendu, Keminik dan Ketam Lada Hitam

Laut sedikit bergelombang ketika perjalanan baru berjalan sekitar 30 menit dari pelabuhan. Hal ini sempat membuat khawatir, namun kapten yang membawa kami ini merupakan "kapten tangguh" yang sangat direkomendasikan masyarakat Midai, jadi hal tadi tidak begitu kami hiraukan. Dan untuk menghilangkan mabuk laut, kami siasati dengan tidur saja, karena sudahpun larut malam, juga badan terasa letih setelah "melalak" seharian. 

Menjelang subuh saya terbangun, rupanya kapal yang kami tumpangi sudah memasuki perairan Pulau Tiga. Air tenang, kapal tak "segoyang" saat awal keberangkatan tadi malam. Sang kapten mengurangi laju kapal. Mungkin agar gampang menghindari karang-karang. Setelah membasuh muka, rasa kantuk menjadi hilang, saya memutuskan untuk naik ke atap kapal, duduk-duduk sambil hunting sunrise. 

Sunrise laut Sedanau

Saya juga membangunkan Tenggut, bang Jef, dan Bunit untuk ikut bersama-sama nangkring di atas kapal, menikmati sunsire di atas laut Bunguran Barat yang begitu menebarkan aura positif dan semangat. Cocok untuk memulai hari melanjutkan penelitian ini. Uhyey!

Kapal yang kami tumpangi sudah merapat di dermaga Sedanau, sebuah kota terapung besar yang ada di Natuna. Kami naik ke pelabuhan, istirahat dan sarapan mengisi perut yang selama 7 jam ini dikocok air laut. Setelah sarapan dan sedikit berkoordinasi, kami mulai bergerak. Kali ini tujuannya adalah bertemu dengan pelakon seni Mendu.

Cekrek dulu sama kapten kapal kece ini.

Mendu merupakan salah satu tradisi lisan yang saat ini masih terjaga. Mendu merupakan teater yang sudah dimainkan sejak zaman dulu. Beberapa sumber menyebutkan Pulau Laut merupakan awal mula kesenian Mendi di Natuna. Lebih jauh lagi, sepertinya mendu ini berasal dari negeri Thailand, karena dalam naskah cerita terdapat adegan seekor gajah putih, dimana hewan tersebut sangat banyak terdapat di negeri tersebut.

Bapak Abdul Gani, adalah narasumber kami kali ini. Kami bertemu dengan beliau di kantor UKSPF Bunguran Barat. Beliau merupakan salah satu pelakon mendu yang ada di Sedanau. Berlakon mendu ini sudah ia lakoni sejak muda dan sampai saat ini masih dilestarikan dengan mengajarkan pada generasi muda pula. Pak Ghani menceritakan banyak hal mengenai mendu, dan itu semua terekam dalam recorder yang memang sudah disiapkan sejak awal. Setelah dirasa cukup dalam mengumpulkan data, kami pamit untuk melanjutkan penelitian ke tempat berikutnya : Desa Mekar Jaya.

Proses wawancara dengan narasumber

Cek Gu Ahdiani sudah menunggu di pelabuhan Sedanau. Selain memang karena ada urusan, dia memang sudah kami beritahu bahwa kami akan ke Desa Mekar Jaya dari Sedanau. Yap, Cek Gu Ahdiani merupakan pemuda penggerak di Desa Mekar Jaya, desa yang akan jadi lokasi penelitian selanjutnya. Dari beliau inilah banyak info-info yang kami dapati seputar desa. Dan kali ini kami naik perahu cepatnya dari Sedanau menuju Desa Mekar Jaya.

Perjalanannya memakan waktu sekitar 20 menit, perahu cepat milik Cek Gu Ahdiani memang cepat, melaju membelah lautan Bunguran Barat, melewati Pulau Kembong, Pulau Sunguos dan Pulau Semaghong, lalu masuk ke sungai Aek Botang dan berlabuh di dermaga Mekar Jaya Mangrove Park. Sebelum melanjutkan penelitian, kami membawa para peneliti ini untuk menikmati mangrove terlebih dahulu, lalu istirahat makan siang dengan lauk ketam bakau lada hitam yang luar biasa lezatnya. 

Perjalanan Sedanau - Aek Botang

Setelah energi kembali, barulah kami lanjut ke acara inti. Menemui narasumber untuk mendapati beberapa data mengenai tradisi lisan. Kali ini kami menuju dusun Sebuton, tempat dimana narasumber berada. Tradisi lisan yang dimaksud adalah 'buong keminik'. Keminik merupakan "kita" dalam versi lain. Buong Keminik berarti membuang penyakit/sial melalui "perantara". Perantara ini biasanya berupa hewan yang dipercayai sebagai jelmaan/reinkarnasi dari datuk-datuk mereka. Dalam ritualnya, ada beberapa mantra yang harus dibacakan. Tradisi buong keminik ini sudah ada sejak lama di Desa Mekar Jaya, di tempat lain di Natuna seperti di Pulau Tiga juga memiliki tradisi yang hampir sama.

Mewawancarai narasumber 'buong keminik'

Data dirasa sudah cukup kami dapatkan, perutpun sudah penuh dengan ketam lada hitam, sempena dengan matahari yang beranjak di ufuk barat, kami pamit pulang kembali ke Ranai. Data yang ada sekiranya sudah cukup kami kumpulkan untuk nanti akan diolah kembali oleh para peneliti ini lalu akan dibuat rencana tindak lanjutnya, begitulah kira-kira.

------

  

Friday, January 31, 2020

Melunasi Rasa Penasaran di Mekar Jaya Mangrove Park

Mobil yang dikendarai big boss terus melaju membelah jalan poros dari simpang PLN Pian Tengah Bunguran Selatan menuju masuk ke dalam, ke sisi barat dari pulau Bunguran Besar ini. Jalan yang belum separuhnya beraspal dan bertanah keras tersebut penuh dengan batu, kadang juga melewati sungai kecil dengan jembatan yang ngeri-ngeri sedap saat melewatinya. Sekitar 30an menit perjalanan dari simpang masuk tadi, baru kami menemukan kampung sederhana yang rata-rata rumahnya berada di atas sungai bermangrove, Desa Pian Tengah.
Jalan menuju Desa Pian Tengah
Dari Desa Pian Tengah, perjalanan masih terus berlanjut ke arah barat mencari kitab suci sekitar 3 km. Kebun kelapa dan cengkeh menemani perjalanan ini. Dengan medan jalan yang "lumayan-agak" berat, perlahan tapi pasti barulah kami sampai ke sebuah desa yang cukup hits dan naik daun pada sejak tahun 2019 lalu, Mekar Jaya.
Desa Pian Tengah
Desa Mekar Jaya terletak di sisi barat Pulau Bunguran dan termasuk dalam wilayah Kecamatan Bunguran Barat. Desa Mekar Jaya saat ini memiliki dua dusun, dusun Sebuton dan dusun Air Batang.

Dua tahun belakangan ini Desa Mekar Jaya sedang hot-hotnya jadi pembahasan. Bahkan program-program serta bantuan yang berasal dari provinsi maupun pusat kerap memilih Desa Mekar Jaya sebagai objeknya.
Jalan menuju Desa Mekar Jaya
Saya pribadi mengetahui daerah ini ketika dulu saat masih di perantauan. Seorang sahabat meminta bantuan untuk membuat logo kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang ada disana, dengan wisata andalannya, mangrove. Setelah itu, saya hanya dikirim gambar-gambar kondisi saat ini beserta rencana pembangunan objek wisata mangrove ini. Seketika ingin cepat-cepat pulang dan menuju kesana kala itu, saking penasarannya.

Ide mengembangkan wisata mangrove di pulau dengan mayoritas memiliki pasir pantai putih serta pulau-pulau yang indah ini adalah ide yang sangat unik dan berani. Masyarakat Natuna nantinya akan disuguhkan dengan alternatif wisata lain jika kita "nyelek" (bosan) dengan wisata pantai, laut, pulau dan batu-batu granit besar. Mereka akan ke "hutan" bakau dan meninggalkan pemandangan indah pasir putih nan kemilau seperti yang sudah lama disajikan Natuna.
Pokdarwis Air Batang
Sejatinya, wisata mangrove di Mekar Jaya memang bukan yang pertama. Dulu, di tengah-tengah kota Ranai, tepatnya di jembatan Sasan di perkampungan Kampar, sudah pernah akan dibuat konsep wisata susur hutan bakau ini, namun entah mengapa menjadi terhenti tiba-tiba. Lalu muncul beberapa konsep pengembangan wisata mangrove di Pulau Bunguran, ada di Pengadah, Pering, Sebakung dan Mekar Jaya. Sempat lama menghilang, Mekar Jaya akhirnya membaca peluang, memilih start duluan dengan memanfaatkan fasilitas, promosi desa langsung digass.

Dan terbukti, setelah melalui masa perintisan sejak akhir 2018, dan dengan pemanfaatan teknologi yang ada, serta didukung oleh SDM yang kreatif serta inovatif. Wisata Mangrove dan Desa Mekar Jaya menjelma jadi primadona baru wisata "non-pantai" di Natuna.

Mekar Jaya Mangrove Park (MJMP), begitu branding dari tempat wisata yang berada di bawah asuhan Pokdarwis Air Batang ini. Letaknya tak jauh dari pusat desa Mekar Jaya. Jika kita telah memasuki desa ini maka kita akan dapati sebuah masjid, Masjid Al Ijtihad namanya. Tepat sebelum masjid ada gang kecil menuju MJMP, ada penunjuk arah yang dipasang disana sehingga memudahkan kita untuk menuju lokasi wisata tersebut (klik tautan ini).
Mekar Jaya Mangrove Park
Tak terlalu jauh, hanya berjarak sekitar 300 meter saja dari simpang masuk dari masjid Al-Ijtihad, kita sudah berada dalam "komplek" wisata MJMP. Bau khas bakau, serta kicauan hewan di sekitar akan menyambut kita saat kita masuk area mangrove menuju tempat parkir kendaraan.
Loket masuk MJMP
Loket sekaligus tempat parkir sepeda motor serta toilet adalah bangunan pertama dari tempat wisata ini. Biaya masuk dikenakan 10.000 per orang, dan gratis air mineral. Setelah mendapatkan tiket, baru kita menuju taman mangrive dengan melewti jembatan kecil nan tinggi. Sepertinya sengaja dibuat demikian, selain kesan estetika juga akan memudahkan mutur, perahu nelayan tradisional bermesin untuk lewat menuju tempat "docking"nya.

Fasilitas wisata MJMP saya beri nilai 85 dari 100. Ada kafe dan gazebo-gazebo yang kalau dilihat dari atas akan berbentuk kepiting, masyarakat Natuna menyebutnya ketam. Dan itu pula yang menjadi menu andalan jika kita kita berada disini. Sayang, kami tak bisa mencicipinya karena pada saat kami kesana, separuh dari pemuda-pemuda desa pergi ke pulau seberang untuk memanen cengkeh, petani cengkeh merupakan salah satu pekerjaan masyarakat Natuna selain nelayan.
Kafe Ketam MJMP
Ada juga mushala yang terletak tak jauh dari kafe Ketam tadi, namun pengerjaannya belum selesai sepenuhnya. Bahkan menjadi tempat istirahat pengunjung yang membuat kami urung untuk melihatnya lebih lama. Pun begitu pula dengan fasilitas-fasilitas lainnya, bertahap akan dilengkapi.

Saya mencoba menelusuri jembatan kayu yang dibuat pengelola untuk menelurusi hutan bakau nan hits ini. Pohon bakau yang rindang, dan terkadang dahan-dahan besarnya juga bebas melintas di tengah-tengah jalan pelabuhan, membuat kita harus berhati-hati dalam berjalan. Di beberapa titik disediakan spot-spot berfoto yang kekinian, dan tentunya instagramable benu. (Benu = Banget).

Spot-spot berfoto di MJMP

Rest Area dan toko souvenir
Jalan menelusuri hutan mangrove yang terletak di sisi sungai Aek Botang ini berujung di pelabuhan kecil yang akan diproyeksikan menjadi pelabuhan wisata untuk melanjutkan "paket wisata" kita ke Pulau Semarong. Pulau kecil dengan view yang indah, ia berada di antara Mekar Jaya dan Pulau Sedanau. Ada pohon Pelawan dan beragam biota laut yang ada di sekitar pulau akan jadi daya tarik ketika kita mengunjungi pulau Semarong. FYI, pohon Pelawan merupakan pohon yang menjadi bahan utama pembuatan gasing yang memiliki harga tinggi. Gasing merupakan permainan rakyat Melayu yang masih dimainkan hingga saat ini. Namun sayang, saat kami ke MJMP, air sedang surut, jadi belum berkesempatan menuju pulau kecil tersebut.
Muara sungai Aek Botang

Ujung jalan dan penampakan pulau Semarong
Perjalanan kami ditemani seorang sahabat yang juga menjadi pengurus pokdarwis Air Batang. Ia menyebutkan bahwa pembangunan objek wisata mangrove ini akan berlanjut lagi ke sisi sebelah dari sungai Aek Botang ini, maket serta gambar rencananya sudah ada, tinggal bertahap untuk direalisasikan. Dan jika terealisasikan sesuai rencana, ini akan menjadi objek wisata terlengkap yang ada di Natuna.

Salah seorang sahabat saya yang lain, seorang pemuda penggerak di Desa Mekar Jaya ini mengatakan, akan banyak program lain yang akan dilakukan di Desa ini. MJMP merupakan salah satunya, itu ia sebut sebagai ikon desa, dan pemancing untuk melengkapi fasilitas-fasilitas desa. Dia bilang jika suatu desa punya ikon, maka akan banyak fasilitas yang datang nantinya. Dan memang terbukti, sejak MJMP menjadi viral, beragam fasilitas Desa perlahan dilengkapi, mulai dari internet gratis di tempat-tempat strategis, jalan, akses internet dari operator telpon selular dan lain-lain. Bahkan tahun lalu Desa Mekar Jaya menjadi tuan rumah PORMATS (Pekan Olahraga MTs) se-Kabupaten Natuna.
Mekar Jaya Mangrove Park
Meski lokasinya kadang-kadang tak terbaca di gugel mep. Namun jangan khawatir akan sinyal. Salah satu operator telpon seluler disini sudah ada yang 4G! sudah bisa video call dengan warga di kota sana. Sah wate ye. Ohyap, menu andalan di kafe ketam ini adalah ketam bakau, kepiting mangrove yang dimasak dengan saos tiram yang kelihatannya maknyoss sekali. Menu lain yang tak kalah enaknyanya adalah aek nyok gule mighah besaguk, ini merupakan minuman khas, sensasi minum dan makan daging kelapa langsung dari buahnya ditambah gula aren dan sagu butir bercampur es. Segarnya sampai ke tulang tjoy!

Penasaran?

Jom kite datang ke Mekar Jaya Mangrove Park. 😀

Friday, April 24, 2015

Natuna dan Kaitannya dengan KTT Asia Afrika

Konferensi Tingkat Tinggi negara Asia Afrika (KTT AA) yang ketiga berlangsung di Jakarta dan Bandung pada tanggal 19 - 24 April 2015 kemarin. Kali ini KTT itu dihadiri oleh 106 Negara  yang terdiri atas 21 pemimpin negara, 80 wakil pemimpin negara (wakil presiden/perdana menteri), dan sisanya merupakan utusan khusus dan pejabat tingkat tinggi. Selain itu, sepuluh organisasi internasional juga akan hadir dalam pertemuan tingkat tinggi KAA, antara lain PBB, Uni Afrika, ASEAN, Bank Pembangunan Asia (ADB), Liga Arab, dan South Center.

Hasil dari KTT AA ini antara lain disepakatinya tanggal 24 April sebagai Hari Asia Afrika, juga dinobatkannya Kota Bandung sebagai Ibukota Solidaritas Asia Afrika, kota Bandung dipilih karena di Kota tersebutlah semangat Asia Afrika terbentuk. Di Konferensi Asia Afrika ini pula kembali diserukan mengenai kemerdekaan Palestina. Untuk diketahui, KTT Asia Afrika yang diadakan pada tahun 1955 silam didasari oleh rasa senasib sepenanggungan negara-negara yang pernah di jajah dan negara-negara yang baru saja merdeka. Oleh karena itulah dukungan atas Kemerdekaan Palestina ini merupakan agenda yang harus direalisasikan pada saat pertemuan tingkat tinggi Asia Afrika di Bandung, mengingat hanya Palestina saja yang belum merdeka di seluruh Asia Afrika.

Bercerita tentang Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrik (KTT AA) ini, seperti yang sudah saya ceritakan pada artikel sebelumnya, Natuna mempunyai ikatan yang kuat dalam sejarah  mengenai KTT Asia Afrika, yaitu jatuhnya pesawat Kashmir Princess, sebuah pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A, lepas landas dari Bandara Kai Tak, Hong Kong, pada 11 April 1955. Sebelumnya, ia mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India. Pesawat ini membawa delegasi dari China, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri China Zhou Enlai.

Kashmir Princess, via historia.id
Sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan. Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat. Dalam waktu sepuluh menit, situasi memburuk. Penumpang ngeri melihat api mulai melahap sayap pesawat dan membayangkan kematian di depan mata. Asap juga memasuki kabin dan kokpit. Kru sempat mengirimkan sinyal bahaya; memberi tahu posisi mereka di atas Kepulauan Natuna, sebelum radio terputus.

Buku Kashmir Princess, karya A. S. Karnik, salah satu awak pesawat yang selamat. 
via trivia.serendip.in


Bangkai Pesawat ketika diangkat, via fly.historicwings.com
Tak ada pilihan bagi pilot kecuali mencoba mendaratkan pesawat di laut. Para kru mengeluarkan jaket pelampung dan membuka pintu darurat. Pesawat menghujam ke laut. Sayap kanan menghantam air terlebih dahulu, merobek pesawat menjadi tiga bagian. Enam belas orang tewas. Tiga orang selamat yaitu :
  1. Anant Shridhar Karnik, teknisi perawatan pesawar Air India International Cooperation;
  2. Dixit, kapten perwira pertama;
  3. J.C. Pathak navigator penerbangan .
Capt D. K. Jatar, salah satu korban yang gugur dalam insiden tersebut. via fly.historicwings.com
Kesemua korban, dibantu oleh para penduduk setempat setelah kurang lebih sembilan jam terombang ambing di laut. Korban yang selamat kemudian dibawa ke Singapura, kemudian dibawa ke Mumbai oleh kapal Angkatan Laut Inggris atas perintah Pandit Nehru. Atas pertolongan penduduk setempat itulah, Presiden Soekarno mengundang mereka untuk datang ke Istana Negara,

Presiden Soekarno bersama dengan Penduduk Natuna yang membantu menyelamatkan korban Pesawat Kashmir Princess.
Pesawat tersebut jatuh di perairan di sebelah barat Pulau Bunguran Besar, diantara pulau Jalik dan Pulau Penganak, sebagian bangkai pesawat yang tidak terangkut masih bisa dilihat ketika air sedang surut.



sumber :
http://www.tempo.co
http://news.detik.com
http://warofweekly.blogspot.com

Saturday, April 18, 2015

Natuna Ternyata Juga "Kecipratan" Sejarah KTT Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika, atau biasa disingkat dengan KAA merupakan konferensi yang diadakan oleh negara-negara Asia dan Afrika yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaannya, pertama kali digelar pada tanggal 18 April 1955 di Bandung, tepat hari ini 60 tahun yang lalu. Oleh karena itu KAA juga sering juga disebut dengan Konferensi Bandung.
KAA saat pertama kali di gelar, via id.wikipedia.org
Negara-negara yang baru saja mendapat kemerdakaan itu antara lain, Indonesia, India, Pakistan, Sri Lanka, Burma (sekarang Myanmar), Libia, dan Filiphina. Negara-negara yang merdeka ini tidak melupakan masa lalunya, rasa senasib dan sepenanggungan menjadi jajahan itu lah yang membuat mereka mempunyai "ikatan bathin" yang sama. Maka dibuatlah Konferensi Asia Afrika yang berserajah ini. Negara-negara yang mengikuti KAA pada tahun 1955 adalah Afganistan, Yordania, Saudi Arabia, Burma, Kamboja, Srilanka, Jepang, Laos, Sudan, Ethiopia, Libanon, Suriah, Filipina, Liberia, Turki, Ghana, Libya, Vietnam Selatan, India, Thailand, Vietnam Utara, Indonesia, Mesir, Yaman, Irak, Nepal, Pakistan, Iran, dan RRC.
Suasana KAA, via stasiunbandung.com
Tujuan dari KAA ini adalah untuk kepentingan negara-negara Asia Afrika, meningkatkan kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya, kedaulatan negara, masalah imperialisme, dan rasisalisme, dan kedudukan Negara-negara Asia Afrika dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. KAA yang diadakan kali ini merupakan pertemua KAA yang ketiga sekaigus memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika, pertemuan yang ke 2 diadakan pada tahun 2005 sekaligus memperingati 50 tahun KAA.

Nah, ada cerita tentang penyelenggaran KAA yang pertama kali ini. Tepatnya pada tanggal 11 April 1955, muncul ketegangan politik yang tinggi menjelang perhelatan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 18-24 April 1955. Ketegangan itu dipicu peristiwa kandasnya pesawat Kashmir Princess milik maskapai Air India di perairan Natuna, Indonesia, tepatnya di Kecamatan Bunguran Barat sekarang, lebih tepatnya lagi di perairan antara Pulau Jalik dan Pulau Penganak. Penerbangan itu mengangkut delegasi Cina. Saat itu beredar isu bahwa Perdana Menteri China yang akan menghadiri KAA, Chou En Lai menjadi korban.

Pesawat Khasmir Princess, via
fly.historicwings.com
Kabar tersebut diterima oleh Mantan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri dan Konferensi Asia-Afrika 1955, Roeslan Abdulgani. Dalam bukunya, The Bandung Connection, mengisahkan ia mendapat kabar darurat tersebut sekitar pukul 17.00 dari pihak keamanan Bandara Kemayoran. Insiden itu terjadi sekitar pukul 11.30 ketika pesawat bertolak dari Hong Kong menuju Indonesia. Saat berjaga hingga malam harinya, Roeslan menepis spekulasi bahwa Chou En Lai berada di dalam pesawat nahas tersebut. "Belum ada kawat resmi kepada Joint Secretariat kapan Chou En Lai akan datang," kata Roeslan. Walau begitu, Roeslan percaya ada pihak yang mengincar Chou En Lai yang mungkin juga akan menggagalkan Konferensi Asia-Afrika. Keyakinannya muncul antara lain berdasarkan kabar bahwa Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru pada 13 Maret berhasil luput dari percobaan pembunuhan.

Baru keesokan harinya, kabar mulai jelas. Chou En Lai tidak berada di pesawat yang ditumpangi 11 anggota staf delegasi dan 2 wartawan Cina serta 3 awak pesawat warga India itu. Angkatan Udara RI dan nelayan setempat, menurut Roeslan, memberikan pertolongan pertama. Enam orang bisa diselamatkan, tiga di antaranya awak pesawat. Seluruh korban luka berat itu dibawa ke Singapura. "Lain-lainnya tak dapat diketemukan mayatnya," tulis Roeslan.
 Proses Pengangkutan Beberapa Bagian Pesawat, via http://trivia.serendip.in
Jarak titik jatuh pesawat Khasmir Princess ini 9 mil dari Pulau Sedanau. Sisa puing pesawat tersebut hingga kini masih bisa disaksikan dari permukaan air jika laut sedang surut. Lokasi puing-puing pesawat Khasmir Princess ini berada di dasar laut. Beberapa wisatawan memang sempat berkunjung dan ber diving ria di lokasi ini. Namun tidak banyak, karena memang tidak banyak yang tahu karena kurangnya publikasi. Pemerintah dan warga Kecamatan Bunguran Barat turut menjaga situs ini sebagai saksi bisu perjalanan sejarah dan perkembangan politik dunia, khususnya negara-negara Asia Afrika. Pihak Kecamatan Bunguran Barat sudah menyurati panitia KAA ke-60 mengenai hal ini, surat tersebut bertujuan agar para peserta kembali mengingat sejarah awal tentang gejolak-gejolak yang terjadi sebelum KAA pertama kali digelar. Dengan ini, Bunguran Barat, Natuna memiliki kaitan sejarah yang erat dengan penyelenggaraan KAA, itung-itung kan sekalian promosi, bro. Ya mungkin selama ini mereka hanya mendengar berita tanpa tau lokasi nya.

Pemerintah Kecamatan juga melakukan promosi wisata itu ke sekolah-sekolah yang ada di Bunguran Barat, sekaligus menambah wawasan mereka terkait sejarah KAA. Pemerintah juga sudah membuat tanda di laut dimana lokasi pesawat itu jatuh, untuk memudahkan wisatawan yang mau berkunjung ke situs tersebut.

Perkiraan Lokasi jatuhnya pesawat Khasmir Princess

Sementara itu, di Sedanau dibuat semacam tugu semen dengan bentuk pesawat. Tugu itu berada di Kampung Karang Princess, nama kampung itu terinspirasi dari nama pesawat yaitu Khasmir Princess. Karena dahulu di lokasi itu lah para korban dirawat sebelum dibawa ke Singapura, dan dikubur bagi para korban yang meninggal. Lokasi kuburan bisa ditempuh dengan jalan darat menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar 2 km. Akses ke sana pun masih bagus dan masih terawat. Hanya saja kurangnya publikasi maka situs ini belum dikenal luas. Pemerintah kabupaten pun seakan tak pernah terlihat terkait perkembangan situs ini.
Tugu yang dibangun warga Sedanau guna memperingati Peristiwa Jatuhnya Pesawat Kashmir Princess, via batampos.co.id


Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...