Showing posts with label Pemboran. Show all posts
Showing posts with label Pemboran. Show all posts

Tuesday, September 18, 2018

Tarakan: Sejarah Perminyakan dan Saksi Bisu Perang Pasifik

Sejarah perminyakan Tarakan tak lepas dari usaha keukeuh Belanda yang ingin menguasai seluruh hasil bumi Nusantara. Berawal dari Jan Reerink yang jadi orang pertama "melubangi" bumi Nusantara di Majalengka, Jawa Barat. Dilanjutkan oleh Zijlker yang mencatat namanya dalam sejarah perburuan minyak bumi di Nusantara setelah berhasil mengebor bumi Pangkalan Brandan, Sumatera Utara sekaligus menjadikan daerah penghasil minyak bumi komersial pertama di Nusantara. 

Setelah itu, era eksplorasi minyak di bumi Nusantara gencar dilakukan oleh Belanda, melalui perusahaan minyak yang didirikan bernama NV Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij (Royal Dutch Petroleum Company). Jawa, Sumatera, dan Kalimantan merupakan daerah yang menjadi tujuan Belanda untuk dibor buminya. Area operasi pencarian minyak bumi diperluas sampai ke Tarakan. Survei yang dilakukan oleh Belanda sudah dimulai sejak tahun 1896. 

Seperti yang pernah saya pelajari saat kuliah dulu, sebelum memulai operasi pemboran, terlebih dahulu dilakukan survei untuk menentukan dimana letak titik bor. Begitu juga yang dilakukan Belanda saat akan melakukan pengeboran di Bumi Paguntaka ini. Survei yang dilakukan belumlah menggunakan alat secanggih sekarang. Belanda melakukan survei dengan cara yang sangat "konvensional" berdasarkan pengalaman-pengalaman temuan lokasi prospektif di beberapa lokasi lain di Nusantara. Cara itu adalah dengan mencari rembesan minyak di permukaan tanah. Maka dari itu Belanda mencari informasi dari penduduk tentang daerah yang terdapat rembesan minyak. Karena memang terbukti, rembesan minyak (seepage) merupakan pertanda baik nan akurat yang menunjukkan kandungan minyak di daerah tersebut.

Rembesan minyak pertama kali ditemukan di Pamusian. Ini merupakan berita baik bagi tim eksplorasi Belanda. Rembesan tersebut diambil kemudian diteliti, dipetakan, dan diambil sampelnya untuk memastikan adanya kandungan minyak di wilayah tersebut. Hasil analisa geologis dengan mempelajari kondisi lingkungan dan struktur batuannya untuk kemudian dilakukan percobaan pengeboran.

Periode survei dan eksplorasi tahap awal terhadap daerah potensial minyak di Tarakan berlangsung antara tahun 1897 hingga 1900. Sementara di tempat terpisah ditahun 1897, J.H. Menten berhasil mengebor Bumi Kutai dan Balikpapan di daerah konsesi Louise dan Mathilda yang ia dapatkan atas persetujuan Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sultan Kutai saat itu. Hal ini membuat semakin gencarnya Belanda melakukan eksplorasi sumur-sumur minyak di Tarakan.

Akhirnya pada kurun waktu tahun 1901 - 1903, Belanda melalui sebuah perusahaan minyak bernama Nederlandsch Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM) atau Nederlandsh Indische Industrie en Hander Maatchaapij (NIHM) melakukan pengeboran pada koordinat X=1812,66 – Y=2974,24 dengan kedalaman 290 meter yang diberi nama sumur Pamusian 1. Pemboran ini belum dikatakan berhasil. Produksi secara komersial barulah didapat pada tahun 1904. Eksplorasi NKPM di Tarakan dilakukan selama delapan tahun mulai 1897 hingga 1905. 
Menara Pemboran di Tarakan, (link sumber)
Setelah masanya berakhir, eksplorasi dilanjutkan oleh perusahaan lainnya yang juga asal Belanda, yakni Batavia Petroleum Maatchaapij (BPM) pada tahun 1906. Pemboran di Tarakan pada tahap awal eksplorasi hingga tahun 1920an menggunakan menara dari kayu ulin. BPM merupakan perusahaan terlama yang melakukan eksplorasi minyak di Tarakan, yakni selama 40 tahun.  Produksi pertama BPM sebanyak 23 ton minyak. Pada tahun 1928, BPM sudah berhasil membor 418 sumur minyak di area Pamusian dengan produksi sebanyak 1.304.303 ton (setara 26.083 barrel per hari). Pada tahun 1929 mulai digunakan menara bor yang terbuat dari besi galvanis pertama kali yang digunakan di lapangan minyak Pamusian. Melihat produksi ini, perusahaan minyak Belanda ini memperluas wilayah pengeborannya ke Sesanip, Gunung Tjangkoel, Mangatal, dan Juwata. Sampai tahun 1935, BPM berhasil membor 937 sumur minyak. Sebanyak 857 sumur di Pamusian, 32 sumur di Sesanip, dan 68 sumur di Gunung Tjangkoel, dan Juwata.
Salah satu menara pemboran di Tarakan tahun 1920-1940, via wikipedia
Selama 40 tahun mengeksplorasi minyak di Bumi Paguntaka, Belanda membangun beberapa fasilitas penunjang perminyakan maupun fasilitas-fasilitas kota. Fasilitas penunjang perminyakan yang dibangun antara lain jaringan perpipaan, pompa, tangki pengumpul, bengkel dan alat-alat produksi hingga gudang logistik serta pelabuhan. Sementara fasilitas-fasilitas kota yang dibangun antara lain jalan, perumahan, gedung-gedung pemerintahan, sarana hiburan, ibadah dan olahraga, pasar, sarana air bersih hingga sarana kesehatan. Kegiatan perminyakan oleh Belanda di Tarakan ini berakhir pada tahun 1942 ketika pemerintahan kolonial sudah mulai melemah. Ditambah lagi kongsi dagang Belanda yakni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang bangkrut karena dirundung berbagai masalah pada 1942.
Kondisi Jalan dan Lingkungan dalam sebuah perumahan perusahaan minyak di Tarakan tahun 1920, (foto : koleksi Disbudparpora Kota Tarakan
Sementara itu, temuan cadangan minyak yang besar serta kualitas yang bagus di Tarakan sampai ketelinga Kekaisaran Jepang. Jepang yang saat itu sedang membutuhkan banyak cadangan bahan bakar untuk keperluan perangnya ditambah lagi dengan letak geografis antara Tarakan dan Jepang yang memudahkan untuk mengangkut minyak bumi, membuat Jepang langsung melakukan invasi besar-besaran ke Tarakan. Entah harus bangga atau tidak, Tarakan merupakan daerah pertama di Nusantara yang dimasuki oleh tentara Jepang pada dinihari, tanggal 11 Januari tahun 1942 dengan kekuatan 20.000 pasukan. 
Pendaratan Pasukan Jepang di Tarakan, (link sumber)
Saat konvoi kapal-kapal tempur Jepang sudah terlihat di horison utara Tarakan melalui pesawat ampibi Dornier Do 24 milik KNIL-ML. Belanda melalui komandan garnisun KNIL di Tarakan, Overstee Simon de Waal, segera memerintahkan evakuasi warga sipil dan perintah membumi-hanguskan fasilitas perminyakan yang ada di Tarakan. Gambaran sekilas tentang pembungihangusan Tarakan ini pernah ditayangkan dalam film Soekarno : Indonesia Merdeka yang dirilis tahun 2013 lalu. Ratusan sumur minyak produktif sengaja dirusak dan dibakar oleh BPM dengan tujuan agar Jepang tak bisa "menikmati" minyak Tarakan. Tarakan saat itu bagai neraka kecil, kobaran api beserta asap hitam membumbung tinggi di langit Tarakan. Ledakan-ledakan fasilitas yang dilakukan oleh Belanda membuat permukaan Tarakan membentuk kawah-kawah raksasa. Sehingga dari laut pesukan Jepang melihat seluruh daratan Tarakan bak lautan api.
Tarakan Lautan Api, tampak asap-asap membubung tinggi saat Belanda meledakkan sumur-sumur minyak. (link sumber)
Hanya butuh dua hari saja bagi 20.000 pasukan Jepang untuk menguasai Tarakan yang hanya dijaga oleh 2.000 pasukan Belanda. Separuh tentara Belanda tewas dalam pertempuran 2 hari itu, sementara Jepang kehilangan 225 pasukan. Para tawanan Belanda yang tertangkap dieksekusi dengan dipenggal kepalanya, dan sebagian ditenggelamkan hidup-hidup ke kolam-kolam minyak yang tumpah dari kilang yang baru saja mereka bakar, sebagai balasan atas tindakan pengrusakan fasilitas vital tersebut.
Kondisi Tarakan sesaat setelah pembumiangusan. (Sumber link)
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang, secara otomatis Tarakan berada di bawah pemerintahan kekaisaran Jepang. Termasuk pengelolaan minyak di Tarakan juga diambil alih Jepang. Saat pembungihangusan fasilitas perminyakan oleh Belanda dahulu ternyata masih menyisakan sumur-sumur produktif yang masih berjalan normal. Terutama di luar pulau Tarakan. Terdapat kurang lebih 70 sumur sisa Belanda yang terdapat di Pulau Ceram dan Lokasi Lemon yang masih produktif hingga menghasilkan 250 metrik ton perhari. Sehingga Jepang masih bisa menyuplai minyak bumi dari Hindia Belanda ke negaranya pada tahun yang sama.

Kondisi tambang minyak yang hancur lebur akibat dibakar oleh Belanda ini membuat Jepang tak bisa langsung menikmati hasil minyak bumi dari Tarakan. Jepang harus membenahi fasilitas-fasilitas tersebut agar bisa kembali berjalan normal. Ribuan personil sipil tenaga ahli pertambangan Jepang didatangkan ke Hindia Belanda untuk memperbaiki dan memulai eksploitasi minyak yang ada. Perbaikan fasilitas perminyakan di Tarakan pun tak seluruhnya dilakukan oleh Jepang, mereka hanya memperbaiki fasilitas-fasilitas vital yang berhubungan dengan produksi dan jaringan pipa penyaluran minyak menuju pelabuhan. 

Pada bulan Mei 1942, Jepang melakukan pengeboran sumur pertama di Pamusian dengan nama sumur E (Enemi) 657 yang kemudian berlanjut sampai bulan Juli 1945 membor sumur E 829. Atau hanya dalam waktu 3,5 tahun, Jepang berhasil membor 174 sumur minyak di Tarakan. Pada tahun 1943 sebagian sumur minyak telah berhasil diperbaiki oleh Jepang dan mulai berproduksi kembali. Jepang berhasil memproduksi 50 juta barel minyak, angka yang hampir menyamai perolehan produski saat masa damai yaitu 65 juta barel minyak. Meski hanya sebentar (dua tahun produksi), namun jumlah minyak yang diproduksi oleh Jepang dalam hitungan perbulan, jauh lebih banyak dibanding Belanda. Jepang gencar melakukan eksploitasi minyak guna menambah cadangan nasionalnya seiring dengan reaksi penyerangan mereka ke daerah tempur yang menggunakan bahan bakar minyak. Produksi minyak saat itu melejit diangka 350.000 ton perbulan, sebelumnya saat dikelola oleh BPM, hanya mampu memproduksi 80.000 ton minyak perbulan.

Periode kekuasaan Jepang di Hindia Belanda terjadi dalam waktu 40 bulan, dimulai dari 1942 hingga 1945. Pada bulan mei 1945, pasukan Australia dalam operasi yang bernama Obo Satu mengirimkan 20.000 pasukan untuk menyerang Tarakan yang saat itu hanya dijaga oleh 2.000 prajurit. Meski sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik, ternyata merebut Tarakan dari Jepang tidaklah mudah. Serangan dimulai dengan pengeboman Pulau Tarakan besar-besaran selama 4 hari penuh. Meski akhirnya tentara Australia bisa menguasai Pulau Tarakan, namun peperangan belum juga usai sampai dengan Bulan September 1945. Artinya mereka memerlukan 6 bulan penuh untuk benar-benar bisa menguasai Tarakan. Semangat tentara Jepang memang tidak mudah pudar. Meski kota Tarakan sudah dikuasai, tentara Jepang tetap melakukan perlawanan. Mereka bersembunyi di hutan dan bungker- bungker bawah tanah. Tentara Jepang melakukan penyergapan kepada patroli tentara Australia. Bahkan sampai dengan tahun 1960-an, masih ada rumor bahwa tentara Jepang masing tinggal di hutan-hutan di Tarakan.
Tentara Australi mendarat di Tarakan, via http://www.gahetna.nl
Selain dari jumlah tentara Jepang yang sangat sedikit dibanding dengan tentara Australia yang menyerang, kekalahan Jepang di Tarakan juga disebabkan oleh kebijakan pesawat-pesawat Jepang untuk mengutamakan pencegahan serangan ke Okinawa. Pesawat-pesawat Jepang melakukan pencegatan terhadap pesawat-pesawat Sekutu yang mempersiapkan diri menyerang negeri Jepang. Dengan jumlah pesawat yang semakin sedikit dan diprioritaskan untuk mengamankan dalam negeri, maka perang di Tarakan tidak mendapatkan cukup dukungan dari udara. Terlebih lagi ditambah dengan peristiwa bom atom Hiroshima Nagasaki yang membuat Jepang menyerah kalah dan turun dari panggung Perang Dunia II.
KNIL dan Seukutu mendarat di Tarakan, via http://www.gahetna.nl
"Tak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pertempuran Tarakan baik pada tahun 1942 maupun 1945. Namun setelahnya, seakan Tarakan jarang masuk dalam peta sejarah perang pasifik, padahal peran Tarakan dalam perang ini tak boleh dipandang sebelah mata. Sumber Daya Alam yang terkandung di Tarakan menjadikan pulau ini memiliki pengaruh yang tak kecil terhadap sejarah perang dan bahkan kemerdekaan Indonesia. Dalam beberapa buku sejarah bahkan Tarakan disebut dengan Pearl Harbour nya Indonesia!"  
Setelah Jepang mengalah pada tahun 1945, Indonesia memploklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sama seperti di Balikpapan, di Tarakan pun tak serta merta berita kemerdekaan Indonesia langsung terdengar, dikarenakan letak geografis yang jauh serta terbatasnya media dan alat komunikasi saat itu. Ladang minyak Tarakan kembali diambil alih oleh Belanda. Meski kembali rusak parah akibat perang dengan Jepang, ladang minyak Tarakan dengan cepat diperbaiki dan kembali berproduksi. Berita tentang kemerdekaan Indonesia sampai ke Tarakan mungkin juga dibawa oleh pekerja-pekerja minyak dari Jawa yang didatangkan oleh Belanda. Para insinyur dan teknisi tiba segera setelah pendaratan Sekutu dan pompa minyak pertama diperbaiki pada tanggal 27 Juni 1946. Dari bulan Oktober, ladang minyak pulau itu memproduksi 8.000 barel tiap hari dan menyediakan lapangan kerja bagi banyak penduduk sipil Tarakan.
"Penguasaan BPM atas ladang minyak Tarakan pasca kemerdekaan berlangsung hingga tahun 1950. Setelah melalui beberapa peristiwa penting, mulai dari agresi militer Belanda I dan II, pembentukan RIS, hingga pengakuan atas kedaulatan Negara Indonesia."
Akhirnya Belanda pun menyerahkan aset-asetnya kepada Pemerintah Indonesia, termasuk sumur minyak dan fasilitasnya. Melalui perusahaan Pertamin yang merupakan cikal bakal awal berdirinya Pertamina, Indonesia mulai melakukan pengelolaan di lapangan Tarakan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 pemerintah menyerahkan pengelolaannya kepada Pertamina. Pertamina mengelola ladang migas ini bersama Renvestadco (Amerika Serikat). Namun setelah berjalan hampir 2.5 tahun, pada 17 Maret 1971 Pertamina mengadakan Technical Assistance Contract (TAC) dengan REDCO, sebuah perusahaan minyak Amerika. Selanjutnya mengalihkan kepada Tesoro Petroleum Corporation, sebuah perusahaan Amerika  dengan nama Joint Operation Pertamina Tesoro (JOPT). Dan pada 1 Desember 1980 semua karyawan Pertamina yang diperbantukan ke Tesoro diintegrasikan ke perusahaan asing ini atau menjadi karyawan Tesoro Indonesia Petroleum Company (TIPCO). Tapi, pengelolaan lapangan minyak tetap menggunakan sistem TAC sampai kontrak berakhir pada tanggal 15 Oktober 1980 yang kemudian diperpanjang 20 tahun. Perusahaan ini berhasil mengebor 17 sumur baru dalam jangka waktu 10 tahun dengan kerja sama Production Sharing Contract (PSC).

Pada 15 juni 1992, saham Tesoro beserta assetnya dibeli oleh Arifin Panigoro, pengusaha nasional dan mengubah nama perusahaannya menjadi PT. Exspan Kalimantan.  PT. Exspan sendiri pada tahun 2004 merebranding perusahaannya menjadi Medco E&P Tarakan. Medco sendiri, selain memelihara sumur-sumur tua (TAC), juga berhasil menemukan 33 sumur-sumur minyak dan gas baru. Lalu pada tahun 2008, sebagian ladang migas Tarakan diambil oleh PT. Pertamina EP Asset 5, sebuah anak perusahaan Pertamina yang berfokus pada eksplorasi dan produksi migas.

Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Tarakan saat ini dikelola oleh setidaknya 2 perusahaan besar, PT. Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field dan Medco E&P Tarakan. PT. Medco E&P mengelola sebanyak 58 sumur minyak. Namun tidak semua berproduksi. Hanya ada 29 sumur yang aktif, kebanyakan merupakan sumur tua. Dengan kemampuan kapasitas produksi 1.880 barel minyak mentah perhari dan gas sekitar 1 MMBTU perhari.
Perjalanan Pengelolaan Migas di Tarakan
WKP Pertamina EP Asset 5 Field Tarakan memiliki dua area kerja yakni area Sembakung (Nunukan), dan di Tarakan sendiri. Khusus area Tarakan hingga saat ini ada 1.442 sumur. Namun yang beroperasi keseluruhan hanya 254 sumur saja. Dulu ketika Belanda mengeksplorasi minyak di lapangan Tarakan, tidak ada pemukiman penduduk seperti yang terjadi saat ini. Saat ini kondisinya banyak ditemukan perumahan penduduk yang berdiri tanpa melihat tata ruang dan peta sebaran minyak yang ada di WKP. Hal ini menyebabkan banyak ditemukan kondisi sumur dalam keadaan terjepit karena berada di pekarangan rumah yang membuat Pertamina EP belum bisa maksimal dalam revitalisasi sumur-sumur tua.

Saat ini, jejak-jejak sejarah Perang dan Perminyakan di Tarakan masih bisa ditemui di beberapa tempat yang tersebar di Tarakan. Sisa-sisa menara pemboran, pompa angguk, dan wash tank yang setengah hancur akibat perang masih bisa kita lihat di sekitar Kampung Empat. Sisa-sisa perang juga bisa dilihat di Situs Peningki Lama, Bunker-bunker peninggalan Jepang dan Belanda. Bahkan Pemerintah Kota Tarakan tahun lalu meresmikan "Museum Kembar" yang berlokasi di Islamic Center Tarakan. Museum ini berisi tentang sejarah perang dan sejarah perminyakan di Kota Tarakan.
peninggalan perminyakan di Tarakan
 ------------------------

Demikian penjelasan singkat Sejarah Tarakan, Perminyakan dan Perang Pasifik. Tulisan ini saya kutip dari berbagai sumber, jika ada sumber yang lebih valid, saya akan dengan senang hati untuk menerima masukan.





Sumber-sumber :
http://mulyanto8000.blogspot.com/2013/07/tarakan-kaya-sumur-sumur-tua.html
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/134138-T+27922-Pembentukan+identitas-Analisis.pdf
http://kaltara.prokal.co/read/news/6952-dieksplorasi-pertama-kali-pada-1897.html
https://www.kompasiana.com/sahrilpercikan/584421c36623bd9f041bc838/tarakan-kota-minyak-riwayatmu-dulu
https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Tarakan_(1942)
https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Tarakan_(1945)
https://indonesiana.tempo.co/read/122659/2018/02/12/handokowidagdo/tarakan-the-pearl-harbor-of-indonesia
Buku : Mereka yang Berpeluh : Kisah Para Pekerja Lapangan Minyak

Thursday, September 7, 2017

Jan Reerink dan Sumur Eksplorasi Minyak Pertama di Indonesia

Sejarah Industri perminyakan di Hindia Belanda (Indonesia) sudah dimulai sejak lama. Berawal dari laporan penemuan minyak bumi oleh Corps of the Mining Engineers, institusi milik Belanda, pada dekade 1850-an, antara lain di Karawang (1850), Semarang (1853), Kalimantan Barat (1857), Palembang (1858), Rembang dan Bojonegoro (1858), Surabaya dan Lamongan (1858). Temuan minyak terus berlanjut pada dekade berikutnya, antara lain di daerah Demak (1862), Muara Enim (1864), Purbalingga (1864) dan Madura (1866). Cornelis de Groot, yang saat itu menjabat sebagai Head of the Department of Mines, pada tahun 1864 melakukan tinjauan hasil eksplorasi dan melaporkan adanya area yang prospektif. Laporannya itulah yang dianggap sebagai milestone sejarah perminyakan Indonesia (Abdoel Kadir, 2004). 
Sumur Explorasi Pertama Indonesia, via facebook

Awal Mula....
Mari berkenalan dengan Jan Reerink (1836-1923). Menurut Poley (2000: 65), dia berasal dari Haarlem, Belanda. Anak ketiga H.J. Reerink, pemilik toko grosir terkenal H.J. Reerink & Zonen. Setelah berkecimpung di toko ayahnya, di pengujung tahun 1860, saat ia berusia 24 tahun Jan Reerink berangkat ke Hindia Belanda dengan kapal laut, dan mendapatkan pekerjaan di pabrik penggilingan padi. Kemudian ia membuka toko seperti ayahnya di Cirebon atas saran seorang teman yang ia jumpai di kapal. Namanya Toko Contant. Setelah bisnisnya berkembang pesat, pada 1867, Jan meminta saudaranya Johannes untuk bergabung mendirikan toko “Gebroeders Reerink”.
Jan Reerink, via poltekmigas.wordpress.com

Pada tahun 1871, Jan Reerink, saudagar toko kelontong di Cirebon ini mendengar cerita bahwa di lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, (Maja), Majalengka itu ada rembesan (seepage) minyak yang kerap dimanfaatkan penduduk untuk berbagai keperluan. Minyak tersebut merembes dari lapisan batuan tersier yang tersingkap ke permukaan. 
"Mungkin diinspirasi pengeboran sumur minyak oleh Kolonel Drake di Titusville, Pennsylvania, AS yang dilakukan di atas rembesan minyak juga pada tahun 1859, Reerink ingin melakukan yang sama. Minyaknya bisa banyak keluar bila dibor, begitu pikir Reerink."
Berdasarkan temuan itu, ia pun menghubungi teman-teman Belandanya untuk bekerja sama mendanai pengeboran sumur minyak, nanti hasilnya dibagi (sistem bagi hasil). Dan dana yang cukup pun terkumpul. Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink juga tak menemui kesulitan ketika ia melobi NV Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk menyokong usahanya mencari minyak. Ia bahkan berangkat kembali ke Belanda untuk negosiasi lebih lanjut. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke Lemberg dan Gracow di Galicia untuk mengunjungi perusahaan minyak dan menimba ilmu. Lalu ia pergi ke Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.

Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake saat mengebor sumur minyak pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia. 

Sumur pertama itu dinamai Maja-1 atau Cibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari generator yang dihela beberapa ekor kerbau (buffalo mill). Pada kedalaman sumur 700 kaki, ia mendapati minyak yang bagus mutunya walaupun sedikit. Reerink dan teman-temannya tentu bergembira. Minyaknya dibawa ke Cirebon setelah dibersihkan dari sedimen dan kandungan air dengan cara pengolahan sederhana. Lalu beberapa sumur lagi dibor untuk meningkatkan produksi. Sumur-sumur ini ada yang berhasil menemukan minyak ada yang gagal. Kegagalan tersebut karena mata bor menumbuk formasi batuan keras yang ada diluar batas kemampuan alatnya. Percobaan selanjutnya juga menunjukkan hasil yang sama, kualitas bagus namun jumlah yang sedikit, terlalu kecil untuk dikomersilkan. Total sumur yang dibor sebanyak empat sumur, dan menghasilkan 6000 liter minyak bumi yang merupakan produksi minyak bumi pertama di Indonesia.  
-Pengeboran ini berlangsung hanya berselang 12 (dua belas) tahun setelah pengeboran minyak pertama di dunia oleh Kolonel Edwin L Drake dan William Smith de Titusville (1859). Dengan sumur pertama yang dibor tahun 1871 di Maja, Cibodas, Majalengka, kaki Ciremai ini, menjadikan Indonesia (Hindia Belanda) termasuk satu dari negara-negara pioneer di dunia yang paling awal mengekplorasi dan memproduksi minyak bumi. Namun, sektor pertambangan khususnya minyak bumi, belum menjadi andalan pendapatan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu. Hal ini bisa dilihat dari adanya Indische Mijnwet, produk undang-undang pertambangan pertama, yang baru dibuat pada tahun 1899.- 
Lukisan Reerink mengenai lokasi dan gambaran pengeboran saat itu, via tatangmanguny.wordpress.com

Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka pada tahun 1873 Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap buatan Kanada, sebagai pengganti tenaga kerbau. Pada 25 Juli 1874, Reerink memulai periode kedua kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa sumur di Panais, Maja, dan Cipinang, semuanya berlokasi di lereng barat Gunung Ciremai, Majalengka. Namun semuanya gagal. Sumur lain di Palimanan bukan menghasilkan minyak, melainkan air panas yang menyembur setinggi 40 kaki. Meski mesin baru sudah dipakai, tapi nampaknya tidak cocok untuk lingkungan Pulau Jawa.

Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini. Dalam kurun waktu dari 1870, NV Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) telah mengeluarkan 200.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, sementara NHM mau-mau saja menghabiskan uang lagi untuk menggapai tujuan pengeboran, tapi sayangnya cadangan uang Reerink yang ia gunakan untuk berdagang di Cirebon sedang kosong. Karena seolah ditinggalkan begitu saja, toko Reerink terus merugi karena tidak ketat pengelolaannya.  
Peta letak Cibodas (Aardolie, minyak bumi) dekat sungai Cibodas, via tatangmanguny.wordpress.com
Sehingga akhirnya, masih pada tahun 1876, ia memutuskan menutup sumur-sumur tersebut dan kembali ke usaha dagang sebelumnya. Ia kembali memegang kendali usahanya dan saat Johannes meninggal pada 1882, bisnisnya sudah kembali lancar. Pada 1884, setelah menetap lebih dari 20 tahun di daerah tropis Hindia Belanda ini, Reerink menjual bisnisnya kepada asistennya, dan ia pulang ke kampung halamannya di Belanda.
---Selang beberapa tahun setelah Jan Reerink mengakhiri usahanya itu, pada tahun 1884, di kebun tembakau di tanah Deli Sumatera Utara, ada rembesan minyak yang biasa digunakan masyarakat untuk menyalakan obor. Dan Aeyko Ziljker, saudagar kebun tembakau, mengingat kisah Reerink di Majalengka tersebut. Diborlah rembesan minyak itu. Dan itulah penemuan lapangan minyak komersil pertama di Indonesia, Telaga Said.---
Setelah Jan Reerink kembali ke Belanda, dia tetap memonitor perkembangan pengeboran minyak di Pulau Jawa. Mesin yang digunakan untuk pengeboran di Maja masih tersimpan di Cirebon. Ia terus mengikuti perkembangan produksi minyak di Jawa. Sudah agak lama ia ingin mempelajari yang dilakukan “Royal Dutch” dengan wilayah kerja nya. Karena Reerink yakin Royal Dutch akan berhasil di sana. Reerink sebenarnya ingin kembali berkecimpung dalam dunia minyak yang ia rintis, namun kesehatan yang memburuk dan usia tua menghalanginya untuk melakukannya. Reerink hidup sampai tahun 1923.

Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut kemudian penemuan lapangan-lapangan penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju Ciremai. Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. 
Lokasi rembesan minyak di dekat sungai Cibodas, via http://geomagz.geologi.esdm.go.id/minyak-di-maja/
Apakah Ciremai, Kuningan, Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah minyak? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing eksplorasi. Sebuah keunikan geologi, tektonik, volkanisme, dan petroleum system terjadi di wilayah dari Majalengka-Banyumas.
"Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang pribadinya di lereng Ciremai. Ia hanya belum beruntung saja."
Keuntungan barangkali akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal ini. Perburuan bisa dimulai (lagi) dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, teliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut (Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data, sains, rekayasa, dan segala macam ilmu pendukungnya.

Keberhasilan rintisan yang dilakukan oleh Jan Reerink ini, meskipun secara ekonomi tidak menguntungkan, telah menjadi tonggak awal pengeboran minyak bumi di Indonesia. Segera setelah pengeboran minyak bumi di Maja, berturut-turut dilakukan pengeboran oleh pihak Belanda di Telaga Said (Sumatera Utara), Jawa Timur, Kutai dan Balikpapan (Kalimantan Timur), Sumatera Selatan dan beberapa lokasi lainnya. Ini merupakan era pioneer eksplorasi sumur minyak di Indonesia. Kini, ribuan sumur migas tersebar di seluruh pelosok Indonesia yang telah menjadi tumpuan roda perekonomian bangsa. Apapun, sejarah pengeboran minyak di Hindia Belanda atau Indonesia sekarang akan senantiasa mengingat nama Jan Reerink sebagai orang yang merintisnya. Ia patut dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak. 

Jan Reerink adalah independen pertama pengusaha minyak. Dan sumur Maja-1 adalah sumur ekaplorasi pertama di Indonesia. Dan Reerink benar, sumur lebih dalam harus dibor. Sumur-sumur Reerink hanya menembus kedalaman permukaan. Kita, para eksplorer Indonesia, yang harus melakukannya sekarang, bor lebih dalam. Seawal 1871 Reerink sudah mengebor di Cekungan Bogor pada play type intravolkanik. Luar biasa Reerink, meskipun tak disadarinya. ***



Sumber-sumber refrensi :
Tulisan Awang Satyana, SKK Migas : Sumur Minyak Pertama di Indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perminyakan_di_Indonesia
https://tatangmanguny.wordpress.com/sejarah-kabupaten-majalengka-bunga-rampai/1527-2/
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/minyak-di-maja/

Friday, February 10, 2017

Sejarah Perminyakan di Balikpapan : Sumur Mathilda dan Hari Jadi Kota Balikpapan

Memiliki julukan sebagai Kota Minyak ternyata mengandung makna dan sejarah yang mendalam bagi Kota Balikpapan. Bahkan hari jadi Kota bermaskot Beruang Madu yang diperingati tiap tanggal 10 Februari ini juga memiliki kaitan erat dengan proses perkembangan perminyakan di Bumi Manuntung ini. Balikpapan yang merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur ini bisa dikategorikan sebagai daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia, bahkan salah satu tempat pengelolaan minyak (refinery unit) milik Pertamina dibangun disini, dan akan dikembangkan lagi luas serta kapasitasnya.

Sejarah Balikpapan sebagai kota minyak berawal saat zaman Kolonial Belanda. Pada Agustus 1860, Departemen Pertambangan Kerajaan Belanda mengirim Jacobus Hubertus Menten ke Kalimantan Timur. J.H. Menten, lulusan teknik pertambangan Akademi Delft ini mendapat tugas berburu batubara. Perburuannya pun berhasil. Menten menemukan batubara berkualitas baik di sekitar Delta Mahakam, Kutai dan sekitarnya. Ia pun berhasil menjalin hubungan baik dengan Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman. Menten lalu diangkat menjadi manajer perusahaan batubara Kerajaan Belanda pada 1862. Setelah beberapa penugasan di Bangka dan Bogor, Menten mengundurkan diri dari Departemen Pertambangan pada 1882. Awal Desember di tahun yang sama, ia mendapatkan konsesi tambang batubara dari Sultan Kutai. Pada 1888, Menten menyerahkan konsesi ini kepada Steenkolen Maatschappij Oost Borneo (SMOB). 

Pada masa itu Menten sadar potensi minyak di wilayah Kalimantan Timur. Ia sempat mengundang kawannya, Sultan Aji Muhammad Sulaiman melihat rembesan minyak bumi di wilayahnya. Tak butuh waktu lama, Sultan Aji Muhammad Sulaiman memberi konsesi pada Menten pada 29 Agustus 1888. Menten mendapat konsesi eksploitasi minyak bumi meliputi hampir seluruh wilayah Kutai. Sementara Pemerintah Belanda baru menyetujui konsesi Louise pada 30 Juni 1891.

Sayangnya Menten tak memiliki modal. Para pemodal di Eropa, termasuk Kerajaan Belanda tak berminat memodali proyek nekad Menten mengeksplorasi minyak di Kalimantan. Untungnya Sultan Kutai memperpanjang izin eksplorasi hingga akhir 1897. Beruntung pada September 1895 Menten bertemu Sir Marcus Samuel dari Shell Transport and Trading Ltd yang bermarkas di London. Sir Marcus siap mempertaruhkan modal demi mencoba peruntungan di Kalimantan Timur. 
J.H. Menten and Marcus Samuel, via handryjonathan.blogspot.com
Menten memulai perburuan minyaknya di wilayah konsesi Louise. Wilayah ini berada di rawa-rawa (swamps) Delta Mahakam, dekat Sungai Sanga-sanga (anak Sungai Mahakam). Meski kesulitan terus merundung, Menten berhasil mendapatkan minyak komersil pada kedalaman 150 kaki di Sangasanga pada tanggal 5 Februari 1897. Minyak mentah (crude) yang mereka dapat ini memang tidak cocok untuk lampu. Namun, Samuel mengetahuinya sebagai sumber untuk bahan bakar mesin. Di waktu yang sama, Menten mencari lokasi yang tepat sebagai tempat pengolahan (refinery) minyak sekaligus pelabuhan. Dan ia menemukan lahan cocok di Teluk Balikpapan (Balikpapan Bay). Tanah luas di kelilingi hutan tropis dan vegetasi pesisir, serta laut yang dalam.

Saat survei, tanpa sengaja tim Menten melihat rembesan minyak saat di sekitar Tandjung Toekoeng, Balikpapan.
Menten segera mengajukan izin perburuan minyak di daerah konsesi Mathilde. Lokasi tersebut terletak di sisi timur kota Balikpapan, tepatnya di kaki gunung Komendur di sisi timur Teluk Balikpapan (di dekat Pelabuhan Semayang sekarang) -map-.  Sumur pemboran pertama yang dilakukan pada tanggal 10 Februari 1897 ini diberi nama dengan nama Sumur Mathilda. Hanya terpaut 38 tahun dari pengeboran sumur minyak pertama di dunia oleh Edwin L Drake di Amerika atau sekitar 13 tahun setelah explorasi sumur minyak pertama di Indonesia (sumur Telaga Said di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara).
Sumur Minyak Pertama Balikpapan, via muyhufe.wordpress.com
Sumur Mathilda memiliki kedalaman hingga 222 meter dengan produksi awal sekitar 184 barrel. Keberhasilan explorasi sumur Mathilda ini memancing eksplorasi sumur-sumur minyak di area konsesi sekitarnya, hingga akhirnya memiliki total sembilan sumur yang produktif pada masa itu. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 15 April 1898, Menten dan Samuel Marcus mendirikan perusahaan bernama Nedelandsch Indisch Indusrie en Handel Maatschappij (NIIHM) setelah mendapat modal dari Shell. Dilanjutkan dengan mulai melakukan pengeboran di konsesi Mathilde dan menemukan minyak pada kedalaman 180 m. Pada tahun 1898 produksi tahunan NIIHM mencapai 32,618 barrel minyak mentah yang berasal dari konsesi Louise dan Mathilde.
 
Pencarian J.H. Menten selama belasan tahun dan rekannya Mr. Samuel akhirnya berbuah manis. Di Balikpapan, Menten tak hanya mendapat pelabuhan, tetapi juga sumber minyak baru. Di sepanjang 1898, Menten mendatangkan pekerja pengeboran dan pengolahan ke Balikpapan. Kapal uap serta kapal layar pengangkut material dan peralatan pengeboran akhirnya merapat di Balikpapan. Pada 20 Agustus 1898 untuk pertama kali kapal tanker "Sabine Rickmers" milik Shell berlayar mengirimkan minyak mentah dari Kalimantan Timur menuju penyimpanan di Singapura. Disusul pengiriman langsung ke London dengan kapal uap Broadmain.  

Banyaknya sumur-sumur minyak yang produktif di konsesi Mathilda serta penemuan-penemuan minyak baru di konsesi Louise dan Nonny (Sangasanga) membuat pemerintah Belanda membangun tempat instalasi penyulingan minyak di Balikpapan pada tahun 1900. Belanda juga membangun fasilitas-fasilitas pendukung seperti perumahan, sekolah, rumah sakit, sarana olahraga dan sarana hiburan. Dengan selesai dibangunnya kilang minyak di kota Balikpapan pada tahun 1922, menjadikan kota Balikpapan sebagai pusat penyulingan minyak mentah di wilayah Kalimantan Tenggara (dengan lahan konsesi Mathilde, Nonny dan Lousie). Pada masa itu, baik minyak yang telah diolah maupun minyak mentah mampu memberikan kontribusi rata-rata lebih dari 50% dari nilai ekspor bagi Kalimantan Tenggara. Dalam kelanjutannya, kedudukan NIIHM digantikan oleh BPM.

Tahun 1903 merupakan akhir cerita dari sumur Mathilda. Setelah beroperasi selama kurang lebih 6 tahun dengan total kumulatif 68.375 barrel, sumur Mathilda ini ditutup. Saya belum temukan mengapa sumur ini ditutup, apakah karena cadangan dan tekanannya yang tak mampu lagi mengalirkan minyak keluar (natural flow) atau ada alasan lain mengenai sebab penutupannya. Namun sumur-sumur di area konsesi Mathilda yang lain masih beroperasi dan mengeluarkan banyak minyak.
Kilang Balikpapan, via wikipedia
BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) adalah anak perusahaan dari Royal Dutch Shell, perusahaan yang juga mengelola sumur-sumur minyak di Pangkalan Brandan. Pekerjaan BPM di Indonesia hanya mengebor. Penjualannya dilakukan perusahaan Inggris Shell. Sementara pengangkutannya oleh Anglo Saxon Oil Coy, yang mempunyai kapal tangker untuk diangkut ke negara-negara yang membutuhkan minyak. Dengan demikian, dari dulu memang industri minyak bumi ini melibatkan banyak perusahaan dan pihak. Pada tahun 1912 BPM memperoleh konsesi baru di wilayah Balikpapan yaitu Konsesi Batakan, Konsesi Manggar, Konsesi Manggar II dan Konsesi Teritip. Penambahan tersebut membuat BPM menguasi hampir seluruh kota Balikpapan dan memiliki wewenang dalam mengatur pola pembangunan infrastruktur fisik kota Balikpapan seperti wilayah pemukiman, ruas jalan, jalur pipa minyak, dan jalur komunikasi. Pengaturan tersebut pada dasarnya ditujukan untuk mendukung kepentingan pengembangan industri minyak di area teluk Balikpapan. Hal ini juga berdampak dalam pembentukan tatanan awal fisik dari Kota Balikpapan.
Kilang Minyak Balikpapan tahun 1930, via muyhufe.wordpress.com
Keberhasilan sumur-sumur minyak di Balikpapan ternyata sampai ketelinga para penguasa dunia. Hingga menjadi rebutan para penjajah. Hingga saat terjadi perang Pasifik, sumur-sumur ini merupakan salah satu target untuk dikuasai. Beberapa sumur minyak dihancurkan oleh Belanda agar tidak ada satu pihakpun yang dapat menikmatinya. Perang pasifik juga menyebabkan banyak sumur, tangki-tangki kilang dan fasilitas-fasilitasnya rusak parah. Tercatat, infrastruktur  BPM di Balikpapan dua kali di bumihanguskan. Pertama oleh pihak Belanda sendiri sebelum diduduki Jepang dan yang kedua oleh  pihak tentara Jepang.

Selama Perang Dunia II (tahun 1942-1945), kota Balikpapan dikuasai oleh pasukan tentara Jepang. Mereka membutuhkan sumber daya bahan bakar minyak untuk kendaraan lapis baja, pesawat tempur hingga lampu. Penyerangan ke Balikpapan setelah mereka berhasil menguasai Tarakan. Tetapi menguasai Tarakan menjadi tidak berguna karena kilang minyak di Tarakan sudah dihancurkan oleh Belanda pada saat itu. Ketika tentara Jepang menyerang Balikpapan pada 20 Januari 1942, kilang minyak dan Pelabuhan Balikpapan tetap utuh dan tidak di hancurkan seluruhnya karena pimpinan Jepang memberikan ultimatum akan membunuh semua tentara dan warga Belanda yang ditemukan di Tarakan dan Balikpapan. Masa penjajahan Jepang di Balikpapan tidak berlangsung lama. Perang Dunia ke II kemudian meletus.
Kantor Kilang Minyak, via muyhufe.wordpress.com
Tentara Sekutu yang terdiri dari angkatan Bersenjata Divisi 7 Australia dipimpin oleh Letnan Kolonel Edward Robson berusaha merebut kembali pelabuhan Balikpapan. Karena dari kacamata ekonomi, kilang minyak memiliki nilai strategis. Serangan tentara Sekutu berlangsung sejak 25 juni sampai 15 juli 1945. Untuk mematahkan pertahanan tentara Jepang, pihak tentara Sekutu melancarkan serangan udara. Skwadron angkatan udara Sekutu mengepung angkasa Balikpapan. Pesawat bomber menjatuhkan ratusan Bom dari angkasa sehingga menghancurkan fasilitas vital. Akibat serangan udara pasukan Sekutu itu, Kilang minyak dan pelabuhan Balikpapan mengalami kerusakan sangat parah. Tentara Jepang akhirnya mundur. Hingga akhirnya tanggal 21 Juli 1945 Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu di Balikpapan. 

Proklamasi kemerdekaan akhirnya berkumandang di Jakarta tgl 17 Agustus 1945. Namun karena minimnya sarana komunikasi, kabar proklamasi ini telat diketahui oleh masyarakat Balikpapan. Baru pada sekitar bulan november 1945, kabar proklamasi kemerdekaan ini sampai di Balikpapan. Namun, tidak serta merta hal tersebut membuat Balikpapan bebas dari penjajah. Belanda yang membonceng sekutu Australia waktu itu ingin menjajah Balikpapan kembali. Saat itu Balikpapan memang dalam status quo. Artinya belum masuk ke wilayah NKRI. Berbagai pertempuran pecah di Balikpapan antara kaum pejuang pribumi dan tentara Belanda.
Perang Balikpapan, via klikbalikpapan.co
Sekitar 1945-1946 pekerja BPM yang datang dari Jawa dalam rangka rehabilitasi Kilang Minyak yang hancur akibat perang yang dilanjutkan dengan pernyataan rakyat di Lapangan FONI. Namun karena Belanda berniat menguasai kembali kota ini, secara spontan, masyarakat menentang rencana BPM. Maka terjadi peperangan yang berlanjut sampai pada pertempuran Sangatta. Perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan. Dengan pertempuran dan perundingan-perundingan. Hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949, Balikpapan resmi masuk ke dalam Republik Indonesia. 

Pada tahun 1949 Pelabuhan Balikpapan diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Republik Indonesia. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah membenahi pelabuhan Balikpapan dan membangun kembali kilang minyak pada tahun 1950. Pembangunan dan penambahan fasilitas dermaga, fasilitas gudang dan peralatan pelabuhan dilakukan pemerintah guna menunjang pembangunan Kilang. Hingga tahun 1951, 50 buah tangki penyimpanan selesai dibangun. Daya penyimpanannya berjumlah sekitar 400.000 meter kubik. Cukup besar meski tidak sebesar 1.000.000 meter kubik seperti  sesaat sebelum perang. Sebagian terbesar dari jembatan pipa yang rusak digantikan ponton sebagai sarana transportasi pengganti dan sebagian lagi bisa diperbaiki. 

Sejak tahun 1890 sampai 1950, kota Balikpapan menjadi kota minyak yang awalnya merupakan kota tambang. Hal tersebut cukup beralasan, karena hasil produksi di wilayah tersebut terus megalami peningkatan secara bertahap. Sumur-sumur Mathilda kala itu mampu memproduksi minyak mentah dalam jumlah yang cukup besar, yang mencapai 620,895 barrel. Inilah yang menjadi cikal bakal era industri di kota Balikapapan dan mulailah berdatangan pada pekerja ke kota tersebut. Saat itu para pekerja sebagian besar bermukin di desa Jumpi (Kampung Baru) dan desa Tukung (Klandasan). Hasil produksi semula yang pada saat itu hanya menggunakan tiga kilang berjumlah 10.000 barrel perhari, kemudian 40.000, 50.000 hingga mencapai 60.000 barrel per hari dengan bertambahnya jumlah kilang.
Monumen Sumur Mathilda, via situsbudaya.id
Revolusi besar terjadi pada tahun 1982 karena adanya pengembangan dan penambahan jumlah kilang sehingga meningkatkan jumlah produksi hingga mencapai 260.000 barrel per hari. Saat ini hasil produksi kilang minyak Balikpapan mencapai 86 juta barrel setiap tahunnya dan kemungkinan besar kedepannya akan terus mengalami peningkatan mengingat kebutuhan akan bahan bakar dalam negeri terus mengalami peningkatan. Sumur minyak Mathilda saat ini telah dijadikan monumen dan dapat ditemui di pintu masuk jalan minyak. Tanggal pertama pengeboran explorasi yakni pada tanggal 10 Februari 1897 pun ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan.
Kilang Minyak Balikpapan sekarang, via klikbalikpapan.co
Minyak bumi dari Balikpapan cukup dikenal oleh para pedagang jauh sebelum penemuan sumur minyak di Sanga-Sanga. Para pedagang yang datang ke kota ini tidak hanya menjajakan dagangannya, namun mereka juga mencari minyak tanah (saat itu disebut dengan "lantung"), memang pada saat itu minyak tanah merupakan salah satu produk hasil olahan minyak bumi yang sangat diminati oleh masyarakat. 

Seiring perkembangan waktu. Kilang minyak di Balikpapan mengalami perkembangan yang pesat. Kilang minyak Balikpapan saat ini mengolah minyak mentah dari berbagai negara, seperti dari Nigeria, Iraq, Libya, Arab Saudi, Brunei. Selain mengolah minyak mentah dari luar negeri, unit pengolahan Balikpapan juga mengolah minyak mentah dari Sepinggan, Handil, Sanga-Sanga, Tarakan dan Bunyu (Kalimantan Utara) dan Tanjung (Kalimantan Selatan). Hingga saat ini, pemerintah melalui Pertamina sedang menjalankan mega proyek perluasan kilang minyak di Balikpapan dengan nama RDMP (Refinery Development Master Plan) yang dapat meningkatkan kapasitas produksi minyak dalam skala yang lebih besar dari sebelumnya. 
RDMP Pertamina RU V Balikpapan, via google


***********


Tulisan ini saya kutip dari berbagai sumber, jika ada sumber yang lebih valid, saya akan dengan senang hati untuk menerima masukan. 😁

Sumber-sumber refrensi :
https://www.prosesindustri.com/2015/06/sejarah-perminyakan-kota-balikpapan.html
https://www.kompasiana.com/jurnalgemini/56f3f9c11197735109a4de24/kota-minyak-balikpapan-awal-1950-an-menurut-reportase-dua-orang-jurnalis
https://situsbudaya.id/sumur-minyak-matilda-kalimantan-timur/
http://balikpapanku.id/hari-jadi-kota-balikpapan-berasal-dari-pengeboran-sumur-minyak-mathilda/
https://id.wikipedia.org/wiki/Bataafsche_Petroleum_Maatschappij
http://handryjonathan.blogspot.com/2015/09/balikpapan-meneer-menten-kota-yang.html
https://muyhufe.wordpress.com/2012/06/18/sejarah-kota-balikpapan/

Tuesday, January 7, 2014

Drilling Rig : Sistem Pencegah Semburan Liar (BOP System)

Fungsi utama dari blowout prevention system adalah menutup lubang bor ketika terjadi “kick”. Blowout merupakan suatu aliran fluida formasi yang tak terkendalikan sampai ke permukaan. Blowout biasanya diawali dengan adanya “kick” yang merupakan intrusi fluida bertekanan tinggi kedalam lubang bor. Intrusi ini dapat berkembang menjadi blowout bila tidak segera diatasi. Blowout prevention system terdiri dari dua sub komponen utama, yaitu BOP Stack dan Accumulator.
1. BOP Stack dan Accumulator
Ditempatkan pada kepala casing atau kepala sumur langsung dibawah rotary table pada lantai bor. Sedangkan accumulator biasanya ditempatkan agak jauh dari rig dengan pertimbangan keselamatan. BOP Stack meliputi peralatan berikut :
·   Annular preventer
·   Pipe ram preventer
·   Drilling Spool
·   Blind Ram Preventer
·   Casing Head
2. Supporting System terdiri dari :
·   Choke Manifold
·   Kill line


Komponen-Komponen Dasar Blowout Prevention System
Blowout Prevention System terdiri dari empat komponen dasar, yaitu Accumulator, BOP Stack, Choke Manifold, dan Kill Line :

1. Accumulator
Accumulator biasanya ditempatkan pada jarak sekitar 100 meter dari rig (karena alasan keamanan). Accumulator bekerja pada BOP stack dengan “High Pressure Hydraulis” (saluran hidrolik bertekanan tinggi). 

Accumulator
Fungsi dari accumulator adalah untuk menutup BOP Stack saat terjadi keadaan darurat. Mekanisme kerja dari accumulator adalah  dengan menghidupkan kontrol pada acumulator atau pada remote panel yang terletak pada lantai bor saat terjadi “kick”, dengan begitu crew dapat dengan cepat menutup Blowout preventer.

2. Blowout Preventer (BOP) Stack
BOP Stack ditempatkan pada kepala sumur di bawah lantai bor. Terdiri dari sejumlah valve (preventers) yang dapat menutup lubang bor bila terjadi “kick’.

3. Choke Manifold
Ditempatkan di luar substructure. Bekerja pada BOP Stack dengan “High Pressure Line” yang dapat memindahkan aliran lumpur bor pada saat terjadi “kick”.

4. Kill Line
Saluran yang merupakan perpanjangan dari mud pump ke BOP stack. Kill Line biasanya disambung berlawanan letaknya dengan choke line sehingga memungkinkan pemompaan lumpur berat ke dalam lubang bor.
***********

Komponen-Komponen Utama BOP System
Komponen-komponen utama Blowout prevention system terdiri dari BOP Stack, yang merupakan peralatan dengan valve tekanan tinggi yang didesain untuk menahan tekanan lubang bor bila terjadi “kick”, terdiri dari Annular Preventer, Ram Preventer, Drilling Spools, dan Casing Head.
 
1. Annular Preventer
Ditempatkan paling atas dari susunan BOP Stack. Annular preventer berisi rubber packing elemen yang berfungsi menutup lubang annulus baik dalam keadaan kosong ataupun ada rangkaian pipa bor.

Annular Preventer
2. Ram Preventer
Ram preventer hanya dapat menutup lubang annulus untuk ukuran pipa tertentu, atau pada keadaan tidak ada pipa bor dalam lubang. 
Pipe rams : digunakan untuk menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor barada dalam lubang. 
Blind or Blank rams : digunakan untuk menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor tidak berada dalam lubang bor. 
Shear rams : digunakan untuk memotong drill pipe dan seal sehingga lubang bor kosong (open hole), terutama pad offshore floating rigs.

Blind Ram Preventer

3. Drilling Spools
Drilling spool terletak di antara preventers. Drilling Spools berfungsi sebagai tempat pemasangan choke line (yang mensirkulasikan “kick” keluar dari lubang bor) dan kill line (yang memompakan lumpur berat). Ram preventer pada sisa-sisanya mempunyai “cutlets” yang digunakan untuk maksud yang sama.
Drilling Spools
4. Casing Head (Well Head)
Casing head terletak tepat di atas sumur. Ia merupakan alat tambahan pada bagian atas casing yang berfungsi sebagai fondasi BOP Stack.
Well Head


***********


Supporting System
1. Choke Manifold
Choke manifold merupakan suatu kumpulan fitting dengan beberapa outlet yang dikendalikan secara manual dan/atau otomatis. Bekerja pada BOP Stack dengan “High Pressure Line”, disebut “Choke line”.
Bila dihidupkan, choke manifold membantu menjaga back pressure dalam lubang bor untuk mencegah terjadinya intrusi fluida formasi. Lumpur bor dapat dialirkan dari BOP Stack ke sejumlah valve (yang membatasi aliran dan langsung ke reserve pits), mud-gas separator atau mud conditioning area back pressure dijaga sampai lubang bor dapat dikontrol kembali. 

2. Kill Line

Kill Line bekerja pada BOP Stack biasanya berlawanan dengan choke manifold (dan choke line). Lumpur berat dapat dipompakan melalui Kill Line ke dalam lumpur bor sampai tekanan hidrostatik lumpur dapat mengimbangi tekanan formasi. 

Kill Line

Peralatan Lain :
Gate Valve, merupakan salah satu bagian dari spesial tool (IBOP) untuk mencegah blowout. Tool ini terletak pada rangkaian pipa. Mekanisme kerjanya adalah ketika terjadi kick, maka system BOP akan mulai bekerja sehingga annular preventer akan menutup. Pada saat itu valve-valve akan menutup juga secara otomatis.
Gate Valve
_____________________********_____________________

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...