Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Sunday, July 24, 2016

Museum Mulawarwan Tenggarong, Wisata Sejarah di Kabupaten Terkaya Indonesia

Alhamdulillah, kembali diberi kesempatan mengunjungi kota Tenggarong. Sambil melanjutkan eksplorasi museum di Kota Raja. Kali ini berlanjut ke Museum Sejarah, Museum Mulawarman namanya. Museum ini terletak di jalan Sudirman di tepian sungai mahakam, berada dalam komplek Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Museum ini merupakan istana Kerajaan Kutai yang dibangun pada tahun 1963 sebagai pengganti istana sebelumnya yang terbakar.

Setelah membeli tiket masuk, kami pun memasuki area museum, ruangan pertama menyajikan singgasana kerajaan Kutai, terdapat dua buah pelaminan tempat duduk Sultan dan Permaisurinya. Disebelah kiri singgasana terdapat replika beberapa baju kerajaan yang biasa dipakai Sultan. Kemudian disebelah kanan singgasana terdapat kursi dan meja santai yang dipakai oleh SUltan Kutai ke 19, A. M. Parkesit. 
Singgasana Sultan
Dari sini perjalan berlanjut ke sisi kiri. Ruangan ini memamerkan berbagai furniture kerajaan, dan mahkota Kerajaan Pasir Balengkong, juga terdapat arca kecil dan pernak pernik kerajaan yang lainnya. Disamping ruangan ini terdapat ruangan yang memamerkan berbagai jenis tombak, senjata yang digunakan untuk berperang dikerajaan Kutai.

Kemudian memasuki lebih museum lebih dalam, terdapat aula besar yang memamerkan alat musik gamelan dan miniatur candi Borobudur dan Prambanan. Di sisi kiri nya terdapat banner yang menjelaskan sejarah singkat Kerajaan Kutai beserta para Raja nya. Wettsss, ternyata tak hanya satu kerajaan Kutai saja, ada lima Kerajaan lain yang ada disekitaran sini (entah itu pecahan atau bawahan dari Kerajaan Kutai, atau memang Kerajaan Independen yang berdiri sendiri). Ada kerajaan Gunung Tabur, yang merupakan kerajaan termuda (1768-1921), Kerajaan Sanduragas (1600--1815), Kerajaan Bulungan (1731-1958), Kerajaan Berau (abad ke XV), dan Kerajaan Sambaliung (1673-1962).
Daftar Kerajaan di sekitar Kerajaan Kutai
Terus berlanjut keruangan berikutnya yang menampilkan berbagai kerajinan adat daerah, pakaian adat serta pernak-pernik yang digunakan oleh masyarakat kerajaan maupun suku dayak di sini. Ruangan berikutnya merupakan aula luas yang menampilkan patung-patung yang menggambar kehidupan suku dayak sehari-hari. Berhubung saya phobia dengan patung jadi perjalanan saya teruskan.

Ruangan berikutnya merupakan Ruang Flora Fauna dan Pertambangan. Ruangan ini menampilkan berbagai macam binatang dan tumbuhan yang kerap ditemui di Bumi Kalimantan, serta kegiatan eksplorasi Produksi hasil bumi Kalimantan. Alangkah besarnya karunia Tuhan terhadap pulau ini, saya fikir pulau ini merupakan pulau yang lengkap, hampir segalanya ada, mulai dari flora dan faunanya yang bermanfaat, hingga hasil buminya yang berguna bagi masyarakat luas. Tinggal kita lagi yang merawatnya dengan benar.
Ruangan Flora Fauna dan Pertambangan
Ruangan selanjutnya menampilkan mesin tenun tradisional dan hasil tenun Kalimantan, dan dilanjutkan dengan ruangan kaya, yakni koleksi uang / alat tukar perdagangan zaman dulu yang digunakan. Terdiri dari uang logam dan uang kertas yang diperoleh dari berbagai negara. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara zaman dulu merupakan kerajaan penting yang selalu dikunjungi oleh bangsa / kerajaan lain. Ruangan selanjutnya menampilkan beragam senjata tradisional Kalimantan, yang terdiri dari mandau, tombak, sumpit dan berbagai macam keris dengan namanya masing-masing.
Ruang Tenun
Perjalanan masih berlanjut, dipojok kiri bangunan museum, tepatnya di sebelah kiri ruangan utama setelah pintu masuk. Terdapat ruangan yang menampilkan tempat tidur kerajaan dan di seberang ruangan tersebut ditampilkan beberapa pernak-pernik perlengkapan adat bagi bayi yang baru dilahirkan. Terdapat ayunan, kemudian berbagai macam buah, timbangan, dan meja baca alquran yang besar, ini menunjukkan Kerajaan Kutai merupakan kerajaan bercorak islam yang kuat. Ruangan terakhir yang kami kunjungi adalah ruangan bawah tanah. Weew. Wisata mistis ni kayanya. Tapi tidak seperti yang saya kira, di ruangan ini ditampilan berbagai jenis keramik dan tembikar, dan juga menampilkan berbagai macam pakaian adat dari seluruh Indonesia (dalam bentuk foto), serta patung yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat suku di Kalimantan. 

Eksplorasi di dalam museum selesai, achieve unlocked! Namun ini baru setengah perjalanan rupanya, masih banyak tempat lagi yang harus dikunjungi di museum ini. Kami keluar dan melihat ada patung "campuran binatang" yang dulu saya lihat di Pulau Kumala saat pertama kali ke Tenggarong, penasaran dan kami pun kesana, jepret-jepret lah yang terjadi. Kemudian saya dapatkan sebuah nama, yaitu LEMBU SUANA, namun tidak ada artikel yang dapat saya ambil untuk mengetahui apa binatang ini, malah saya disuguhkan dengan teka-teki rakyat :
Lembu Suana
"bermahkota bukannya Raja, berbelalai bergading lainnya Gajah, bersayap bukannya Burung, bersisik lainnya Ikan, bertaji bukannya Ayam, binatang apakah ini"
Ya, Lembu Suana, kata partner saya ini, merupakan makhluk mitologi rakyat Kutai, juga merupakan alat transportasi Raja-Raja Kutai zaman dahulu. Saya pernah mendengar cerita, bahwa Raja-Raja dahulu suka berjalan lintas waktu dan tempat dalam waktu singkat. Makanya mereka memiliki banyak relasi dan link dengan kerajaan-kerajaan lain yang jauh letaknya. Cara itu tak lain adalah dengan menggunakan transportasi ektra cepat, salah satunya mungkin ya Lembu Suana ini. Hmmmmm menarik kan, nanti deh kita sambung dengan artikel khusus. Aseeek.
Komplek Makam Raja-Raja Kutai
Disebelah kanan bangunan museum yang dulunya merupakan Kedaton Kesultanan Kutai ini, terdapat bangunan yang menyerupai pendopo. Karena penasaran, ya kesitu lah saya kan. Rupanya ini adalah komplek makam Raja-Raja Kutai dan keluarganya. Ada puluhan batu nisan disana, saya hanya melihat dari luar, tidak masuk ke dalam, dari luar saya melihat ada beberapa pengunjung yang bertakziah di dalam makam. Di dekat pintu masuk makam terdapat keterangan mengenai Raja-Raja dan silsilahnya mulai dari Kerajaan Kutai Hindu, masa transisi Hindu-Islam sampai pada Kerajaan Islam nya. Sedikit informasi dari yang saya baca, bahwa Kerajaan Kutai ini ada kaitannya pula dengan Kerajaan-Kerajaan besar seperti Tarumanegara, Majapahit, Singosari, sampai Kerajaan di Melaka dan Kamboja, luar biasa. Saya semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak lagi. Emang asyik sepertinya belajar sejarah ini ya.
Daftar silsilah Raja-Raja Kutai
Layaknya tempat objek wisata, Museum Mulawarman juga memiliki fasilitas lain seperti mushala, tempat makan, pusat oleh-oleh yang menjual souvenir-souvenir khas, kain dan batik corak Kaltim, dan lain-lainnya. Di sebelah pusat oleh-oleh, tepatnya bangunan setelah makam Raja-Raja tadi terdapat sebuah pendopo besar, yang sepertinya sedang direnovasi, sepertinya sebuah panggung kesenian. Kemudian seperti komplek-komlek Kedaton / Keraton lainnya, disini terdapat masjid Jami' Kedaton Kutai Kartanegara yang terletak di belakang Museum.
Masjid Jami' Kedaton Kutai
Yap, sepertinya sampai disini dulu pembahasan mengenai Museum Mulawarman, saya akan melanjutkan lagi perjalanannya yang nanti insya Allah akan saya ceritakan. Bhaaay!



sumber tambahan informasi :
id.wikipedia.org

Tuesday, July 19, 2016

Pamali Itu Bernama "CACOK".

...............................................
"mak, yak nak gi Betu Kasah lok ye mak"
-bu saya jalan-jalan ke Batu Kasah dulu ya
"ngan sape yak?"
-Dengan siapa nak?
"ni he ngan kawan-kawan kelas"
-sama teman-teman sekelas bu
"oh ye lah, mbe temu mende lain sah semberong cacok ye, hati-hati"
-baiklah, jika bertemu dengan sesuatu yang "aneh" jangan sembarangan "ditegur" ya"
"ye mak"
-ya bu

....................................
Cacok merupakan bahasa Ranai yang berarti menegur atau menyebut sesuatu. Dalam kontek percakapan diatas, cacok berarti menegur atau menyebut hal-hal aneh yang terdapat disuatu tempat baru. Jika kita pergi ke suatu tempat dan ketika pulang kita terkena penyakit atau bahkan mungkin "kesasau" (kesurupan). Warga setempat mempercayai bahwa selama berada di sana kita ada melakukan perbuatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan, sembarangan "cacok" mungkin salah satunya. Boleh percaya boleh tidak, ini merupakan mitos yang ada di wilayah Natuna, Ranai dan sekitarnya khususnya.

Jika dilihat dalam sudut pandang yang lain, memang benar jika kita mengalami sakit karena salah "cacok" ini dikarenakan gangguan makhluk-mahkluk lain penunggu daerah atau tempat tersebut. Tidak bisa kita pungkiri kan, kita memang hidup berdampingan dengan mereka, Al-quran juga sudah menjelaskan. Percayakan bahwa setiap tempat memiliki penghuni atau penunggu. Nah "mereka" di sini bertindak sebagai tuan rumah. Tuan rumah mana yang tak senang jika tempat mereka dikotori, ya kan? Nah salah cacok dan melakukan tindakan-tindakan yang tak dibenarkan merupakan hal-hal yang membuat "mereka" marah, dan imbasnya kita pun akan diganggu bahkan dibuat sakit oleh mereka. Ada pesan pesan moral dari pamali ini, yaitu dimanapun kita berada haruslah bersikap baik dan santun. Karena tak hanya kita (manusia) saja yang ada di dunia ini. Jangan merusak dan mengotori alam, serta selalu jaga keindahannya. 
Pulau Senua, dari Batu Sindu
Daerah Natuna ini dianugerahi oleh alam yang indah, air terjun, pulau-pulau, serta bebatuan pantai yang super amaziiing. Namun dibalik keindahan tempat-tempat ini, masyarakat meyakini adanya "peraturan-peraturan" tertentu ketika kita berkunjung kesana. Ada baiknya sebelum ke suatu tempat yang baru yang belum pernah kita kunjungi, kita menanyakan perihal tempat-tempat tersebut dengan orang lokal, agar tidak terjadi hal-hal tidak baik yang tidak kita inginkan. Ada beberapa cerita mengenai salah cacok yang dialami oleh beberapa teman dekat saya, juga yang diceritakan oleh teman-teman lain. Ada yang pulang langsung demam tinggi, ada juga yang kram kaki, badan tidak bisa bergerak, dan lain-lain.
What is on your mind?
Contohnya seperti ini, ada mitos yang tersebar di Ranai, jika kita pergi ke pulau Senoa lalu bertemu dengan tikus disana, nah jangan sembarang "cacok", jangan menunjukan dan bilang "eh ada tikus" atau yang lain sebagainya. Masyarakat percaya bahwa itu adalah penunggu pulau yang jika kita bertemu dengannya maka panggillah dengan sebutan "Cik Karim". Ada lagi mitos di daerah Bunguran Timur Laut, tentang sebuah sungai namun dihidupi oleh ikan-ikan laut. Sebuah anomali atau fenomena yang tak biasa memang, namun jangan kita "cacok" sembarangan, atau mungkin memancingnya di sungai tersebut. Bisa jadi anda akan terserang penyakit atau hal lain. Juga jika kalian ketempat baru, lalu melihat ada batu yang meyerupai sesuatu (binatang atau semacamnya), sebaiknya diam dan ada baiknya tanya dulu dengan warga setempat. Dan banyak lagi tempat-tempat lainnya.

Percaya tak percaya, namun semua kembali kepada diri masing-masing. Percaya bahwa kita hidup berdampingan dengan "mereka" itu tidaklah masalah, namun kepercayaan dan keimanan hakiki tetaplah hanya pada Allah Ta'ala saja.

Ingat, sah asal cacok ye.

Sunday, February 21, 2016

Balikpapan : The Urban Legend

Perjalanan teman saya terhenti, sambil menunjukkan arah rumah tua dengan bibir yang dimonyongkannya. Mata saya tertuju pada sebuah bangunan tua yang sudah tak beratap, terlihat usang dengan ditumbuhi semak belukar. Rumah berwarna putih tersebut sudah dipenuhi lumut dan coretan-coretan tangan "kreatif" manusia (anak kekinian). Namun tak mengurangi kesan angkernya.
Rumah Pembantaian
Yak, ini adalah rumah pembantaian yang melegenda itu. Terletak di kawasan Gunung Dubs di dalam komplek Pertamina Balikpapan. Disebut dengan rumah pembantaian dengan kisah yang bermula di zaman penjajahan Belanda dahulu. Saat itu Belanda sedang menguasai kilang minyak yang ada di Balikpapan. Kemudian datanglah pasukan Jepang ke Kalimantan yang masuk melalui utara lewat Tarakan. Saat itu merupakan masa peralihan kekuasaan antara Belanda dan Jepang yang terjadi di beberapa tempat di Nusantara. 

Jepang yang mengetahui adanya kilang minyak di Balikpapan ingin menguasainya dan mengirim pesan pada Belanda untuk tidak membakar kilang tersebut. Namun oleh Belanda pesan tersebut tak dihiraukan. Jepang yang mengetahui kilang minyak dibakar oleh Belanda menjadi murka dan merangsek masuk ke Balikpapan dan menangkap tentara Belanda di Balikpapan, dan pihak Jepang pun berusaha menangkap semua orang Belanda yang ada di Balikpapan.

Pihak Jepang menyisir semua tempat di Balikpapan dan akhirnya sampai di Gunung Dubs. Disana ada seorang suster bernama Maria van Veenen yang juga ikut tertangkap bersama beberapa orang Belanda lainnya. Sebagian orang Belanda yang ditangkap dibawa ke tempat yang bernama Banua Patra dan dibantai di sana (kejadian ini juga yang melatarbelakangi dibuatnya Monumen Perjuangan Rakyat). Suster Maria dan beberapa Belanda yang lain disekap di sebuah rumah di dekat jembatan gantung.

Terjadi perlawanan oleh orang Belanda pada Jepang di rumah itu. Beberapa orang lain termasuk suster Maria berhasil melarikan diri ke hutan-hutan menuju jembatan gantung yang terletak di belakang rumah tersebut. Namun usaha mereka sia-sia, sigapnya gerakan tentara Jepang menghalau perlawanan dan mengejar mereka yang melarikan diri.

Orang Belanda yang tak sempat melarikan diri dihabisi secara sadis dirumah tersebut. Termasuk keluarga suster Marie. Setelah membantai orang-orang Belanda, tentara Jepang mengejar sebagian lain yang kabur. Suster Marie dan beberapa yang lainnya akhirnya terdesak di jembatan gantung dan dihabisi satu persatu oleh tentara Jepang secara keji.

Hingga saat ini, rumah yang digunakan tentara Jepang untuk membantai orang-orang Belanda itu disebut dengan rumah pembantaian, dan jembatan tempat dibunuhnya suster Marie itu menjadi salah satu tempat paling angker. Sejak saat itu arwah suster Marie selalu muncul didaerah-daerah dekat tersebut, seolah tidak menerima kematiannya yang tragis.
Jembatan Gantung
Cerita tentang rumah pembantaian, jembatan gantung dan suster Marie sudah menjadi urban legend masyarakat Balikpapan. Sebuah daerah yang konon dihantui oleh hantu Suster Maria adalah kawasan Gunung Dubs, Gunung Pancur, kawasan Volker, dan sebuah rumah tua dan jembatan gantung. Seluruh tempat itu memiliki sejarah kelam yang berkaitan dengan kehidupan Suster Maria di masa lalu. Di tempat-tempat itulah, hantu Suster Maria kerap menampakkan dirinya dan mengganggu orang-orang yang memasuki daerahnya.

Menurut orang-orang setempat, Suster Maria sering menampakkan dirinya kepada pengendara ketika melintas di jalanan terjal yang ada di kawasan Volker. Beberapa orang mengaku, ketika melintas di sana, kursi tumpangannya yang semula kosong tiba-tiba terasa berat seolah ada penumpang yang tak kasatmata. Orang-orang yang mengendarai mobilnya juga mengaku melihat penampakan hantu suster di kursi kosong di belakangnya, ketika tanpa sengaja melihat dari kaca spion ketika melaju di tikungan dekat Gunung Dubs. Mitos yang beredar dimasyarakat adalah, konon jika kamu melintas di sana dengan menyisakan satu kursi kosong di kendaraamnu, maka hantu Suster Maria akan menampakkan diri kepadamu. Sosoknya yang mengerikan dengan pakaian lusuh penuh darah akan menghantui dirimu selama perjalanan. Tidak sedikit kejadian menakutkan semacam ini merupakan penyebab dari kecelakaan yang sering terjadi di kawasan Volker dan Gunung Dubs.

Menurut cerita, orang-orang yang pernah mampir di Gunung Dubs atau ke Volker – terutama di sebuah rumah tua, dan jembatan gantung yang ada di kawasan tersebut, pasti merasakan aura-aura mistis dari tempat itu. Beberapa dari mereka bahkan menceritakan pengalamannya melihat seorang perempuan berseragam suster tiba-tiba menampakkan diri di depan mereka. Suara-suara tanpa wujud juga kerap terdengar, seperti langkah-langkah di semak belukar yang ada di sana, siulan-siulan aneh juga sering terdengar bagi pengunjung di sana.





sumber :

Saturday, February 20, 2016

Balikpapan, the 2nd Trip : Wisata Misteri di Siang Hari

Waktu di Monpera sudah habis, saatnya melanjutkan perjalanan. Tujuan kali ini agak sedikit greget, wisata misteri ceritanya. Temen saya ini pernah bercerita tentang “rumah pembantaian” di Balikpapan. Yang ceritanya menjadi urban legend masyarakat. Karena penasaran, jadi pergilah kami kesana. Letaknya di dekat komplek Pertamina Balikpapan, yang memang rumah itu merupakan salah satu dari perumahan Pertamina.

Kami masuk dari arah masjid Istiqomah, kemudian naik ke atas, dan terus terus, ah lupa jalannya. Sebelum ke sana kami beristirahat sebentar di Bukit Lapangan Perahu untuk melihat pemandangan setengah Kota Balikpapan. Nama Lapangan Perahu diambil karena di sini terdapat lapangan yang berbentuk seperti perahu jika dilihat dari atas, udah itu aja. Jepret jepret sebentar, trus lanjut deh perjalanan.
Pemandangan Kota Balikpapan dari Bukit Lapangan Perahu
Perjalanan menuju TKP melewati komplek perumahan dengan khas arsitektur Belanda, serasa berada ditahun jebot saat lewati perumahan ini, udah terasa juga aroma-aroma mistis yang bikin merinding. Sampai akhirnya kita sampai di tempat yang dituju. Saya memarkirkan mobil agak masuk ke dalam di dekat bekas jalan kecil yang saya yakini merupakan jalan menuju “rumah pembantaian” tersebut. Lalu kami turun dari mobil dan menyisiri jalan setapak masuk ke semak-semak. Segerombolan nyamuk hutan sudah lebih dulu menyambut kedatangan kami sejak kami membuka pintu mobil, aliran sungai dan suara khas binatang semak belukar beradu menjadi simfoni irama yang sedikit mengerikan.

Tak lama perjalanan kami, ketika teman saya berhenti dan menunjukkan lokasi rumah pembantaian itu dengan mulutnya yang dimonyongkan. Saya hanya terdiam di tempat, tak berkata-kata, dan sesaat kemudian saya mengambil gambar rumah tersebut, hanya dari kejauhan. Teman saya menawarkan untuk masuk namun saya menolak, entah nyali saya menciut seketika dan tak berani untuk melanjutkan perjalanan memasuki rumah itu.
Penampakan Rumah Pembantaian
Saya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan kali ini masih adalah jembatan gantung. Letaknya sebenarnya tak jauh dari rumah tadi, hanya saja untuk mencapainya kita harus memutar jalan. Setelah sampai dan memarkirkan mobil, kami pergi ke jembatan tersebut, sebuah jembatan gantung tua namun saya yakin masih kuat, meskipun ada beberapa yang berlubang. Maklum Belanda mempunyai teknik arsitek dan bangunan terbaik di dunia sejak zaman dulu. Makanya banyak beberapa bangunan Belanda di Indonesia ini yang masih kokoh beridir hingga sekarang, termasuk jembatan gantung ini.
Jembatan Gantung
Tak lama kami berada disini, jepret sana jepret sini, lalu perjalanan kami lanjutkan ketempat yang lain lagi. Sebenarnya masih ada beberapa tempat tujuan "wisata angker" di perumahan ini, ada rumah Dalang, dan rumah Belanda yang tak jauh dari lokasi tadi. Hanya saja perjalanan kami terbatas dengan waktu. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkannya, keluar dari komplek dan berjalan melewati kilang, stadion Persiba, dan pulang istirahat. Mengenai cerita tentang rumah pembantaian dan jembatan gantung akan saya ceritakan di artikel selanjutnya. :)

Sunday, November 16, 2014

Explore Semarang, Kota Tua di Utara Jawa Tengah

Mumpung masih di Jawa ya kan, sebuah pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia ini, namun juga banyak menyimpan sejarah dan tempat-tempat keren. Nah, trip kali ini, saya dan teman-teman akan memadukan keduanya, dengan tujuan : Semarang. Jejeeeeeng.

Perjalanan ke Semarang kami mulai dari Jogja, secara disini kita kuliah ya kan. Setelah segala persiapan kami siapkan secara baik dan benar, -dengan budget mahasiswa tentunya-. Langkah awal yakni ke halte TransJogja yang kebetulan tak jauh kontrakan dengan tujuan ke Stasiun KA Maguwoharjo yang ada bandara. Lumayan hemat biaya, bayarnya juga 3000/orang. Setelah sampai di stasiun kami membeli tiket perjalanan Kereta Api lokal Jogja - Solo seharga 10.000/org. Tujuan kami adalah stasiun Solo Balapan. Setelah sampai, kami istirahat sebentar sambil membuka dan makan bekal yang sudah dipersiapkan. Malam ini kami akan tidur di stasiun, karena kereta api Solo - Semarang baru berjalan besok pagi. Awalnya kami ingin numpang tidur di mushala, namun petugas KA tidak membolehkan, bahkan kami sempat akan diusir keluar stasiun. Tapi alhamdulillah tidak jadi, mungkin petugasnya iba dengan kepolosan wajah-wajah kere kami. Kami boleh menginap di area dalam stasiun sambil menunggu besok pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Semarang.
Neng Setasion Balapan

Pagi-pagi setelah shalat subuh, kereta api Kalijaga sudah standby di jalurnya, kami yang dari tadi malam sudah berada di stasiun langsung naik ke KA tersebut. Perjalanan dari Stasiun Solo Balapan Solo ke Semarang Poncol memakan waktu 3 jam lebih, tidak sesuai dengan yang tertera ditiket, tapi ya gak apa-apa lah. Biaya perjalanan dikenakan sebesar 10.000/orang yang tiketnya sudah kami beli secara online beberapa hari sebelumnya (thanks technology). Di dalam kereta kami menyempatkan tidur sejenak untuk menyimpan tenaga. Setelah menikmati pemandangan indah yang tersaji selama perjalanan. Pukul 9 pagi kami tiba di Stasiun Semarang Poncol, Kota Semarang.
Kereta Api Kalijaga, gak pake sunan



LAWANG SEWU.
Lawang Sewu diambil Dari Sisi Kanan.

Tujuan utama setelah menginjakkan kaki ke Kota Lumpia ini adalah Lawang Sewu. Wisata andalan Kota Semarang, campuran wisata sejarah sekaligus wisata misteri. Dari stasiun ke Lawang Sewu kami berjalan kaki, letaknya tidak terlalu jauh (menurut mbah gugel). Berjalan selama 20 menit menikmati panasnya kota juga sambil melihat kalau-kalau ada penginapan untuk backpacker yang murah meriah. Akhirnya sampai kami di Lawang Sewu yang terkenal ini, terletak di Simpang Lima yang satunya Semarang (karena ada setidaknya dua simpang lima yang besar di sini). Bangunan-bangunan di Simpang Lima ini hampir semua berarsitektur Belanda, kami seakan kembali ke masa lalu saat berada disini. Barangkali tempat ini dulu merupakan pusat pemerintahan saat zaman penjajahan Belanda dulu.
Lawang Sewu....
Lawang Sewu sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti Pintu Seribu. Dulu bangunan ini merupakan kantor pemerintahan Belanda, kantor Perkeretaapian sekaligus penjara saat masa penjajahan Belanda dulu. Setelah membeli tiket seharga 10.000/orang dan membayar jasa tour guide (wajib sepertinya) sebesar 30.000 kami berkeliling-keliling area ini.
"jangan foto pintunya ya mas, "berat""
Itu adalah kata-kata dari sang pemandu yang saya ingat ketika dia memandu kami mengitari Lawang Sewu ini. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah toilet, hweew. Emang lagi kebelet sih. Toiletnya juga tak luput dari gaya arsitektur Belanda. Kuno, namun elegan. Perjalanan berlanjut ke beberapa ruangan yang entah saya tak terlalu mendengarkan karena terlalu excited dengan tempat ini, yang saya ingat sang pemandu hanya menunjukkan rungan kerja, ruangan pertemuan / pesta, ruangan bawah tanah, penjara bawah tanah, serta loteng. Di Lawang Sewu ini juga menampilkan berbagai dokumentasi dan artikel-artikel bersejarah mengenai Indonesia dan Semarang. Di samping bangunan Lawang Sewu terdapat lokomotif tua yang tentunya menjadi objek jepret-jepreet.
Lokomotif Tua

Setelah dari Lawang Sewu, kami berencana mengunjungi museum perjuangan yang berada tepat di seberang Lawang Sewu, namun saat dilihat dari luar sepertinya museum ini tidak sedang dibuka. Akhirnya kami merubah rencana : menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Menurut mbah gugel, letaknya agak jauh dari lokasi kami berada sekarang, setelah mencari refrensi dan bertanya sana sini, akhirnya kami menaiki TransSemarang dengan biaya 3500/orang. Cukup lama perjalanan, kemudian kami berhenti di halte depan pusat perbelanjaan. Berhubung cuaca sangat panas, akhirnya kami sepakat ke pusat belanja tersebut, sambil istirahat sebentar. Setelah mempertimbangkan waktu serta kondisi tubuh, akhirnya perjalanan menuju Masjid Agung Semarang kami batalkan. Kami rubah haluan menuju Ambarawa, Bandungan. Dari tempat kami berada, kami harus menuju ke Banyumanik, kami naik angkot (2000/org), kemudian ganti angkot menuju Banyumanik (7000/org), dari Banyumanik kami naik bus menuju Bawean (Ambarawa) dengan biaya 15000/org. Sampai di Bawean, Ambarawa kami kembali naik angkot menuju Palagan Ambarawa dengan biaya 2500/org. Tempos dah bokong.

MUSEUM KERETA API
Museum Kereta Api Ambarawa
Dari Palagan Ambarawa, kami berjalan kaki menuju Museum Kereta Api Ambarawa. Tiket masuk museum 10.000/orang. Namun saat itu, 10.000 merupakan harga yang terlalu mahal, museumnya seperti sedang direnovasi, belum terlihat hal-hal yang menarik kecuali bangunan utama yang juga berarsitektur kuno dan kumpulan gerbong-gerbong tua. Mungkin saat ini museum Kereta Api Ambarawa sudah bagus. Coba aja datang lagi. :D

Setelah dari museum, kami kembali mencari spot-spot menarik di sekitar. Dan mbah gugel menunjukan sebuah waduk besar yang terletak jauh dari museum. Rawa Pening, itu namanya kata si mbah gugel. Kami berjalan kaki selama 45 menit, melewati perkampungan, sawah hingga jalan raya untuk mencapai tempat ini. Sebuah objek wisata terapung sepertinya. Kami beristirahat sebentar dan mencoba kuliner dulu, kebetulan perut juga sudah lapar. Mencoba nasi jagung yang mantap sekali. Wisata Apung Kampung Rawa, begitu tertulis di gapura masuk utama, terdiri dari beberapa wahana bermain, cottage, dan fasilitas penyewaan perahu untuk mengitari waduk, dengan pemandangan yang sangat indah. 

Gapura Kampoeng Rawa
Tak memakan waktu lama, karena hari sudah beranjak malam, matahari pun sepertinya sudah redup, lelah menyinari. Kami kembali pulang menuju ke Polin, naik angkot (2000), kemudian berganti angkot dari Polin ke Bandungan (3000). Bandungan ini juga merupakan lokasi wisata andalan kabupaten Semarang, Kaliurang nya Semarang, boleh dibilang begitu, terletak di dataran tinggi membuat hawa dingin sudah menghampiri sejak sebelum turun dari angkot. Kami mencari tempat menginap, ketemu sebuah hotel dengan biaya 100.000/permalam dengan fasilitas tempat tidur untuk 2 orang, TV, kamar mandi di dalam dengan air panas, serta sarapan. Fix, hotel ini saja, badan pun sudah letih dan ingin istirahat, tapi kami mencari makan dulu, cacing di perut sudah demo setelah terguncang-guncang saat berada diangkot tadi. Ada rumah makan di dekat hotel dengan menu spesial : sate kelinci, enak boooo. Coba deh. :D
Umbul Sidomukti

Pagi hari setelah sarapan, mandi dan ganteng. Kami meneruskan perjalanan. Kali ini tujuannya adalah UMBUL SIDOMUKTI. Dari Bandungan kami naik angkot menuju Jimbaran (3000), kemudian angkot berhenti di persimpangan yang jalannya nanjak keatas. Tapi angkotnya lurus, kita ditinggalin dah. Dari Jimbaran ke Umbul Sidomukti kami sewa jasa ojek (15000). Tiket masuk objek wisata ini dikenakan biaya sebesar 10.000/org. Terdapat banyak wahana permainan di tempat wisata ini, namun sayang tak didukung dengan fasilitas mushalanya yang berukuran kecil. Mengingat bekal finansial sudah mulai menipis, kami hanya main disalah satu wahana outbond saja dengan biaya 40.000/org. Kemudian, berisrihat sebentar dan pulaaang.
Wahana Outbond

Perjalanan pulang dimulai dari Umbul kembali ke Jimbaran dengan naik ojek yang tadi. Sebelumnya kami meminta no HP mamang-mamangnya. Biayanya masih sama 15.000 tak berubah, kaya cinta aku ke kamu. Dari Jimbaran kami harus menuju Pasar Babadan dengan upah jasa angkot sebesar 5.000. Dari pasar Babadan kami naik bus tujuan Semarang dengan biaya 7.000. Setelah beberapa waktu berkutat dengan padatnya penumpang bus, ditambah lagi dengan gaya khas supir bus yang melaju kencang dan tak lupa ngerem mendadaknya, akhirnya kami sampai kembali ke Semarang, hal pertama yaitu mencari hotel diseputaran Kota, dapat sebuah hotel kelas melati seperti nya, harga 120.000 / malam dengan fasilitas, tempat tidur untuk 3 orang (1 single, 1 double), kipas angin, kamar mandi di dalam. Setelah menaruh barang-barang dan beristirahat sebentar. Kami melanjutkan perjalanan mengitari Kota Tua Semarang.
Kantor Pos Semarang

Kembali merasa berada dimasa lalu dengan pemandangan bangunan-bangunan tua serta jalanan yang sepi. Namun sayang, kota ini terkesan kumuh, selokannya tidak mengalir yang mengakibatkan bau, sampah-sampah juga terkesan tidak diurus. Semoga saja kedepannya pemerintah kota lebih peduli akan hal ini. Perjalanan berlanjut kebeberapa tempat di sekitaran kota tua, bangunan-bangunan khas arsitektur Belanda menemani perjalanan kami, kantor pos Semarang, kantor Pelni, koperasi batik, Gedung Keuangan Negara, jembatan merah, semua bangunan bergaya kuno, namun tetap elegan. Kami beristihat di sebuah waduk kecil tempat oran-orang memancing. 
Kota Tua Semarang

Lalu perjalan kami lanjutkan melewati Gedung Marabunta, sebuah rumah tempat panggung kesenian, namun kini sudah tak digunakan lagi, kemudian kami berjalan melewati pasar kaget sepertinya, yang menjual beberapa barang antik, hampir semua benda antik, mulai dari koin, alat minum, kamera, keramik, mesin ketik, sampai poster-poster zaman dulu juga tersedia disini.

Hari sudah hampir gelap, kami beristirahat dan menunaikan kewajiban di Masjid Agung Semarang, masjid megah yang terletak di tengah-tengah Kota Tua Semarang. Setelah itu, kami mencari tempat mengisi perut lalu menuju hotel untuk beristirahat.
Pasar Barang Kuno

Pagi-pagi sekali kami sudah berada di Stasiun Semarang Poncol, dengan kereta yang sama dan harga yang sama pula. Kami menuju Solo Balapan, dan lanjut ke Maguwo Jogja dengan KA Prameks (6.000). Perjalanan kami akhiri dengan naik transJogja dari halte Maguwo (Bandara) menuju halte INSTIPER (3000) dan pulang kerumah lalu istirahat. Sebuah perjalanan yang lumayan luar biasanya.. :D

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...