Wednesday, March 13, 2013

Pesona Sejuba, Potensi Wisata Natuna yang Terpendam

Sejuba merupakan daerah pesisir di Kecamatan Bunguran Timur. Kalau anda pergi dari Ranai. Ada bukit kecil sebelum sampai ke pantai Tanjung / Teluk Selahang, nah itu lah Sejuba. Memang tak banyak yang tau tempat ni. Tapi kalau untuk istirahat oke juga lah. Banyak batu-batu dan pantainya juga bersih.

Daerah Sejuba merupakan pantai yang berisi bebatuan granit yang berserakan. Bebatuan ini terhampar di sepanjang pantai Sejuba. Sebagian bebatuannya ada yang berkelompok, ada juga yang terlihat "memisah". Oleh masyakarat Natuna -terutama anak mudanya- beberapa batu atau kelompok bebatuan ini mereka beri nama masing-masing.

Bersantai di pantai Sejuba adalah cara lain untuk menikmati pantai-pantai di Natuna. Laut lepas dan pulau Senua beserta lalu lalang perahu nelayan adalah daya tarik yang ditawarkan pantai ini. Atau bisa melihat agungnya sunrise ketika pagi akan menyingsing. Dan kesemua ini bisa jadi salah satu potensi wisata Natuna yang terbaru kelak.

Bebatuan Granit di Pantai Sejuba

Hamparan Batuan yang "terserak"

Pantai Sejuba















Pulau Senua dari Pantai Sejuba






Batu "closet"




Midai, si Mungil nan Menawan


Postingan kali ini saya akan ceritakan tentang Midai. Pulau kecil yang terletak di sebelah selatan pulau Bunguran Besar ini memang agak jauh dan "menyendiri". Soalnya tidak ada pulau lain yang menemani. Jadi terkesan terisolir. Ada cerita unik mengenai asal muasal nama Midai ni. Kata orang-orang, jaman dulu ada orang Inggris yang sedang berlayar, sampai tengah jalan ia berlayar dia temukan pulau kecil. Tengah jalan. Lalu ia gunakan radio untuk memberitahukan kepada rekan-rekannya dan bilang "mid way. mid way mid way", maka jadilah Midai Midai Midai, hahhaa. Betul atau tidaknya belum tau lah ya.

Menuju ke Pulau Midai harus naik kapal laut. KM. Bukit Raya milik PT. Pelni dan kapal-kapal perintis yang merupakan transportasi andalan untuk mencapai pulau ini. Berbeda dengan kapal-kapal perintis, KM. Bukit Raya tak dempet di dermaga karena laut Midai boleh dibilang dangkal. Jadi kapal akan berlabuh jangkar di tengah laut, dan kita akan bertukar dengan perahu kayu yang lebih kecil untuk mencapai pelabuhannya.

Terkesan ribet, letih apalagi. Tapi bagi kamu kamu semua yang ingin merasakan ketenangan, Pulau Midai merupakan tempat yang pas. Penduduknya masih boleh dibilang sedikit, rumah-rumah penduduk juga tak begitu ramai, dan agak sepi. Namun penduduknya dikenal ramah-ramah, cantik-cantik dan ganteng-ganteng (kaya gueh). 😆

Kita juga bisa menikmati pantai-pantai yang mengelilingi pulau Midai. Pantai yang bersih, dan masih alami sekali. Seperti pantai Harapan di Desa Air Putih dan pantai Tanung Kapal.


ni pelabuhan WK namenye....


Pantai Harapan, Air Putih
Pantai Harapan Air Putih
Salah satu jalan umum di Desa Air Putih

Puncak
Puncak
Sunset Midai
Sunrise at Air Putih
Pagi Hari dari Pelabuhan Rakyat
Air Putih Sunset
Air Putih Beach

Sedikit Cerita Natuna Dimasa Sebelum Kemerdekaan

Sejak Pemerintahan Kolonial Belanda berkuasa di seluruh penjuru tanah air, para petinggi kolonial yang di tempati di daerah-daerah tertentu umumnya orang-orang yang berpendidikan tinggi, sekurang-kurangnya berasal dari militer dan lihai menerapkan sistem kolonialnya. Mereka-mereka ini diangkat sebagai pegawai pemerintah seperti Resident, Kontelir dan Asisten Resident termasuk juga Aspiran kantor Kontelir. Disamping ilmu pemerintahan, mereka juga menguasai bidang-bidang ilmu yang lain seperti ahli pertanian (land ‘bouw), ilmu suku bangsa dan kebudayaan (etnologi), dan ilmu manusia serta adat istiadatnya (antroplogi). Yang pernah meneliti tentang adat-istiadat Pulau Tujuh (Kabupaten Natuna) yaitu “Van de Tillaard” bekas Posthouder Pulau Tujuh tahun 1913.

Dibidang etnologi mereka dapat menguasai orang-orang tempatan agar mudah berunding dan diajak kerjasama. Dan dibidang pertanian (land ‘bouw), mereka sangat berminat karena Indonesia memiliki tanah yang sangat subur dan dapat ditanam apa saja untuk keperluan negeri Belanda.

Kepulauan Natuna sejak di berlakukan Stbld. 1911 No 599 terdiri dari Kepulauan Anambas, Kepulauan Natuna Utara, Kepulauan Natuna Selatan, Sedangkan Kepulauan Tembelan masuk wilyah Tanjung Pinang. Oleh karena wilayah Pulau Tujuh waktu itu masih termasuk Kerajaan Riau Lingga, maka di wilayah Pulau Tujuh di tempati seorang “Amir” (Camat) oleh Sultan untuk mendampingi para Datok-datok (Datok Kaya) selaku tokong Pulau (Penguasa Pulau) yang terdiri dari 7 (tujuh) orang Datok (Lihat sejarah perjalanan Raja Ali Kelana ke Pulau Tujuh tahun 1896), yaitu : Datok Kaya Jemaja, Datok Kaya Siantan, Datok Kaya Tambelan, Datok Kaya Serasan, Datok Kaya Pulau Subi, Datok Kaya Pulau Laut, Datok Kaya Bungguran Barat, Datok Kaya Bunguran Timur. Dan ketujuh Datok Kaya ini langsung sebagai Pemegang Adat dan Kepala Adat setempat yang mengatur sistem pemerintahan tradisional (lihat Hukum Adat Wilayah Pulau Tujuh karangan Van de Tilaard 1913). Seorang Amir yang ditempati atau diangkat oleh Sultan atas persetujuan Residen Riau, adalah sebagai pejabat yang membantu Kontelir dan segala laporan tentang keadaan wilayah kerjanya harus melapor ke Terempa (sekarang Kabupaten Anambas) tempat kedudukan Kontelir pertama adalah di Tanjung Belitung dan pada tahun 1906 pindah di Sedanau dengan memindahkan seperangkat Rumah dan Kantor Kontelir.

PEREKONOMIAN SAAT ITU
Berdasarkan inisiatif Kerajaan Riau Lingga, di Pulau Midai di buka lahan untuk ditanam pohon kelapa (1895) untuk kesejahteraan Kerajaan sehingga didirikanlah sebuah serkah atau sejenis koperasi yang diberi nama “Ahmadi” tahun 1906 yang oleh Bung Hatta di nyatakan Koperasi yang tertua di Indonesia. Setiap tahun, kerajaan memungut dan mengambil hasil dari hasil kopra yang dijual di Singapura dan termasuk pungutan pajak hasil bumi di setiap wilayah yang dikuasai Datok.

Ahmadi & Co.
Waktu itu wilayah Pulau Tujuh (Kabupaten Natuna) merupakan gudang kelapa kering terbesar di Kerajaan Riau Lingga, Sehingga bermunculan serkah-serkah (koperasi) di wilayah Pulau Tujuh. seperti : Koperasi yang pertama kali didirikan adalah “Syarikat Natoena Co. Sedanau” tahun 1318 H yang dipelopori oleh Amir Raja Idris, kemudian menyusul “Syarikat Ahmadi” di Midai tahun 1324 H (1906) dan “Syarikat Terempa tahun 1332 H (1913) yang di beri nama”Syarikat Maatschappailijk Kapital“.

Ahmadi & Co.
Setelah penguasa Belanda menghapuskan Kerajaan Riau Lingga berdasarkan Stbld. 1913 No.51, maka diterbitkan pula surat keputusan baru berdasarkan “Javache Ceorant dan Cewestelijkkeur 11.C” yang menetapkan bahwa pungutan cukai oleh Datuk Kaya diteruskan dengan catatan orang luar dikenai cukai, sedangkan bagi anak negeri bebas cukai.

Gedung Ahmadi & Co. Midai Natuna

Untuk menguatkan kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda di Wilayah Pulau Tujuh, maka diterbitkanlah sebuah keputusan Stbld.1913 No.19 agar dibentuk “Onderdistricht dan District” dengan menempatkan seorang Amir dimana adanya Datok sangat jelas begitu dibubarkannya Kerajaan Riau Lingga makin leluasalah Kolonial Belanda menjalankan roda Pemerintahan, dan terakhir dengan Stbld 1917 No. 55 menetapkan belasting (cukai) hasil kopra di wilayah Pulau Tujuh dan Kekuasaan Datok Kaya semakin lemah karena tindakan sepihak oleh penguasa Belanda. Habisnya kekuasaan Datuk Kaya di Wilayah Pulau Tujuh sampai menjelang penyerahan kedaulatan.
 
Pemerintahan Menjelang Perang Dunia II (1941-1945).
Sebelum pecah Perang Dunia II tahun 1941-1945 para pejabat yang masih menjabat sebagai “Amir” di Kepulauan Anambas dan Natuna adalah sebagai berikut :
  1. Pulau Jemaja : Almarhum Moehammad Yoenoes.
  2. Pulau Siantan : Almarhum Moehammad Dahlan.
  3. Pulau Midai : Almarhum Raja Moehammad (mantan Sekretaris Gubernur pertama Propinsi Riau).
  4. Pulau Serasan : Almarhum Amir Bismarack.
  5. Bunguran Barat : Almarhum Amir Rd. Soewardiono.
  6. Bunguran Timur : Almarhum Amir Ibrahim.
  7. Pulau Tembelan : Almarhum Encik Moehammad Apan (mantan Bupati pertama di Kepulauan Riau).
Para Pejabat ini tidak lagi keterkaitannya dengan penguasa Kerajaan Riau Lingga dan Kekuasaan Amir (Camat) waktu itu adalah penempatan yang diangkat oleh penguasa Belanda yang memperbantukan atasannya (Kontelir) di Wilayah Kepulauan Anambas dan Natuna.

Para Amir inilah yang selalu mewaspadai dirinya selaku Kepala Daerah, karena begitu Jepang masuk diantara pejabat yang di internir adalah Almarhum M. Dahlan (Amir Pulau Siantan) hingga tidak diketahui dimana meninggalnya.

Setelah Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, rupanya tentara Belanda masih ingin menjajah di Republik Indonesia ini dan terjadilah agresi melawan Belanda. Di Pulau Midai terjadi pemberontakan Merah Putih pimpinan H. Basri Sabeh dan di Ranai terjadi penembakan tentara Belanda oleh Sareng dan MS. Kambay. Sersan Yansen kena tembakan dan Komandan Letnan Engels sempat menyelamatkan diri.






sumber : 
natuna.org
media.kompasiana.com
Sumber Buku :
Imbas Perang Pasifik di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau)

Oleh Wan Tarhusin, Bsc

Asal Mula Keramat Binjai

Mendengar kata keramat membuat orang yang suka dengan hal-hal mistis jadi excited gitu kan ya. Yap, tapi ini lah namanya, KERAMAT BINJAI. Untuk orang Natuna umumnya, tentu tahu hal ini dan dimana letaknya. Nah lewat tulisan ini. saya ingin menceritakan sejarahnya, dengan menguti beberapa sumber. Yuk.

----------

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Putra Sultan Mahmud Syah yaitu Sultan Allauddin Riayat Syah mendirikan Kerjaan Johor pada tahun 1530-1564 merupakan kelanjutan dari Kerajaan Malaka.

Pada masa pemerintahan beliau menempatkan atau mengangkat Datuk Kaya -Datuk Kaya sebagi wakilnya di Pulau Tujuh, yaitu:
  1. Pulau Jemaja - Datok Amar Lela
  2. Pulau Siantan - Datok Kaya Dewa Perkasa
  3. Pulau Serindit (Pulau Bunguran) - Datuk Kaya Indra Pahlawan
  4. Pulau Sabda (Tambelan) - Datuk Kaya Timbalan Siamah.
Pada masa Pemerintahan Sultan Allauddin Riayat Syah III (1597-1655M) memerintah di Johor, menurut kisahnya Sultan Johor ini mempunyai seorang putri yang bernama Tengku Fatimah yang sejak kecilnya mengidap sakit lumpuh dan tidak dapat berjalan. Oleh karena itu Sultan merasa malu, maka Sultan mengambil keputusan untuk menempatkan Putrinya itu ke Pulau Serindit (Pulau Bunguran atau Natuna).

Dalam perjalanan mengarungi laut para rombongan yang terdiri dari pengawal serta inang dayangnya yang berjumlah 40 orang tersebut sebulat kata untuk menjodohkan sang putri dengan salah seorang dari anggota rombongan tersebut. Maka didapatlah salah seorang diantara mereka menjadi calon suami bagi sang putri tersebut. Tapi anehnya setelah dijodohkan sang calon suami meninggal seketika. Kemudian dipilih lagi calon yang kedua untuk sang Putri tapi malangnya calon kedua meninggal dunia pula. Karena kemalangan berturut-turut menimpa maka urunglah niat para rombongan itu untuk menjodohkan sang Putri untuk sementara waktu.

Pelayaran diteruskan ke haluan pulau-pulau Siantan dan mereka mengambil kesempatan untuk beristirahat di pulau tersebut. Setelah selesai selesai beristirahat mereka melanjutkan pelayaran kepulau Serindit (Natuna). Hampir seminggu pula mereka mengarungi laut dan sampailah pulau rombongan tersebut di Tanjung Galing Pulau Sabang Mawang dalam kawasan Serindit (Natuna). Mereka Berhenti beberapa hari dan setelah melihat tempat untuk bermukim kurang memuaskan, mereka meneruskan pelayaran ke Segeram.
Akhirnya rombongan ini terdampar di kukup (pulau pasir) Jalik namanya di Muara Sungai Segeram, dari sini mudiklah penjajap-penjajap itu masuk ke sungai Segeram dan berlabuh dekat suatu perkampungan. Mendengar kedatangan Tengku Fatimah Putri Sultan Johor di Pulau Serindit, maka Datuk Kaya Indra Pahlawan berdatang sembah.

Mengingat kedatangan sang Putri membawa Mahkota Kerajaan yang memerintah dari Sultan Johor maka dengan senang hati Datuk Kaya Indra Pahlawan menyerahkan kekuasaan memerintah di Pulau Serindit kepada sang Putri. Penyerahan itu di terima pula dengan senang hati oleh sang putri serta mengajak warga rakyatnya membangun pemerintahan baru.
Sekitar Tahun 1610 Masehi kedatangan sang Tengku Putri Fatimah di Pulau Serindit menurut ceritanya, di Segeram ada seorang yang di gelari Demang Megat, yang mana asal-usul sebenarnya tidaklah diketahui dengan pasti.

Alkisah selanjutnya menceritakan Demang Megat ini adalah seorang yang hanyut di atas rakit Buluh Betung atau Aur, kemudian rakit itu hanyut dibawa arus dan masuk ke sungai Segeram. Di pinggiran sungai Segeram banyak terdapat batang Laning dan rakit itu sangkut di antara sela-sela kayu tersebut dari situlah Megat merangkak naik ke darat. Dan tak lama kemudian dengan kedatangan ketujuh perahu penjajap dari Johor itu maka bertemulah rombongan Tengku Fatimah dengan Megat di Daerah Segeram itu. Pada pertemuan ini Megat di ajak berbahasa Melayu tetapi ia tidak mengerti bahasa melayu, rupanya Megat hanya bisa berbahasa Siam dan beragama Budha dan kemudian Megat diislamkan oleh para pengikut sang putri serta di kawinkan dengan Tengku Fatimah dengan tidak ada kemalangan apa-apa.

Dalam upacara perkawinan itu Megat diberi gelar Orang Kaya Serindit Dina Mahkota. Adapun maksud dari kata “Dina” atau Dana berasal dari keadaan Tengku Fatimah sendiri yang merasa dirinya “hina dina” papa kedana karena cacat lumpuh serta dibuang oleh ayahandanya, sang Sultan ke suatu negeri yang jauh dengan dibekali sebuah Mahkota Kerajaan.

Disamping acara perkawinan itu di adakan pula acara penurunan adat kawin raja dari adat 400 menjadi adat 120 serta lilin 8 (delapan) menjadi lilin 7 (tujuh) untuk kedaulatan Serindit atau Bunguran.

Maka sekitar tahun 1610 Masehi sejak kedatangan Tengku Fatimah ke pulau Serindit dan setelah Megat bergelar Orang Kaya Serindit Dina Mahkota mulailah Pulau Serindit memiliki pemerintahan sendiri, sejenis Daerah Otonom dari Kerajaan Johor atas kuasa Tengku Fatimah yang berpusat di Segeram.

Megat memerintahkan rakyatnya membuat sebuah mahligai tempat bersemayam Tengku Fatimah. Mahligai di buat dari bahan kayu Bungur, maka dari nama Kayu Bungur inilah Pulau Serindit bertukar menjadi Pulau Bunguran.

Setelah perkawinan berumur enam bulan Tengku Fatimah hamil, Megat mengutarakan keinginannya pada Tengku Fatimah bahwa beliau ingin bersemedi atau bertapa kesuatu tempat untuk mensucikan diri, ternyata keinginan tersebut dikabulkan oleh Tengku Fatimah meskipun dengan perasaan hati yang sangat berat sekali.  

Maka pergilah Megat dengan melayari sebuah penjajap kearah Timur melewati sungai Binjai dan akhirnya Megat berhenti singgah di pulau kecil batu pasir berbukit untuk tempat persemediannya. Ditempat persemedian atau pertapaan inilah Megat menghilang dan di pulau itu tiba-tiba terdapat sebuah kuburan yang dianggap keramat oleh anak negeri Pulau Bunguran. Kuburan atau makam ini lebih di kenal dengan Nama Keramat Binjai atau Keramat Datuk Bungur yang sampai sekarang masih tetap dikunjungi oleh para peziarah.
Sedangkan penjajap dan anak buahnya yang diperintahkan berlabuh di sebuah anak sungai (sekitar Tanjung Katung) tak pernah mau kembali lagi ke Segeram dan menetap di Binjai sebagai asal usul orang Binjai.



sumber : natuna.org

The Great Masjid (Masjid Agung Natuna)

Masjid Agung Natuna terletak di Pulau Bunguran. Masjid ini merupakan ikon baru kabupaten Natuna. Masjid yang katanya terbesar di Kepulauan Riau ini terletak tak jauh dari pusat kota, berkisar antara 1 sampai 2 km. Terletak di pesisir pantai sebelah timur pulau Bunguran dengan pemandangan depan adalah laut Natuna, dan pemandangan belakang adalah gunung Ranai. MA -seperti itu sebutannya oleh AGR (anak gaul Ranai)- baru diresmikan tahun 2008 silam, yang bertepatan juga pada saat Pembukaan MTQ II Provinsi Kepulauan Riau, Masjid ini telah digunakan meskipun dalam keadaan "setengah jadi". :)

Menurut maket pembangunan yang ditunjukkan oleh Bupati Natuna beberapa tahun lalu, Masjid Agung Natuna merupakan pusat kota, sekelilingnya secara melingkar akan dibangun beberapa banguna penunjang, mulai dari menara, hingga stadion sepakbola, semoga saja terealisasi dengan lancar.

Arsitektur Masjid Agung Natuna mengadopsi beberapa budaya, salah satunya timur tengah dan asia bagian selatan. Terlihat dari jalan utama, Masjid Agung Natuna seperti Taj Mahal yang ada di India.

                                     


Pemandangan MA dari Gunung Ranai


Masjid Agung Natuna


Masjid Agung Natuna dari jalan utama


Masjid Agung dari jalan Raya


Gerbang Masjid Agung Natuna

Salah satu sisi bangunan Masjid Agung


Kampus STAI Natuna
Di bagian depan masjid, beridiri gagah kampus kebanggan masyarakat Natuna, ia adalah STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Natuna. Sekolah Tinggi pertama dan satu-satunya (saat) ini yang ada di Natuna. Selain kampus STAI, di komplek Masjid AGung Natuna juga dioperasi beberapa kantor pemerintahan, gedung sekretariat dan asrama haji.


Demikian dulu yang bisa saya bagikan, selanjutnya akan ada postingan-postingan lagi tentang masjid megah ini. Okey.



Friday, December 28, 2012

Sekelumit Sejarah Natuna di Pulau Subi

Subi merupakan sebuah pulau yang terletak di bagian timur Kabupaten Natuna. Ia termasuk gugusan kepulauan Natuna Selatan bersama dengan pulau-pulau Serasan. Saat Natuna terbentuk jadi kabupaten tahun 1999, daerah pulau Subi dan sekitarnya masih masuk dalam wilayah adiministratif kecamatan Serasan. Seiring dengan perkembangan waktu, Subi akhirnya menjadi kecamatan beberapa tahun kemudian.

Tak banyak yang tahu memang, Pulau Subi menyimpan jejak-jejak sejarah perang masa lalu, yang sebagiannya masih bisa kita lihat hingga sekarang. Pulau Subi menjadi saksi bisu dahsyatnya perang dunia kedua puluhan tahun yang lalu.


Jepang Bangun Bandara untuk Pertahanan
Sekelumit sejarah Natuna yang dahulu disebut Pulau Tujuh juga ada di Pulau Subi. Pada saat itu, Pulau Tujuh bergabung dalam Kepulauan Riau, telah memerintah beberapa orang “Tokong Pulau”, Tekong atau Nahkoda, istilah yang diberikan kepada Datuk Kaya di wilayah Pulau Tujuh.
Bekas Bandara di Subi, via batampos.co.id
Di Pulau Subi, terdapat bekas lapangan udara, yang dibangun oleh pemerintah Jepang, saat melakukan penjajahan. Jepang mendirikan lapangan tersebut tahun 1942, sebagai salah satu pertahanan di Natuna.

“Kini, sisa-sisa peninggalan lapangan udara tersebut telah menjadi hutan rimbah dengan menyisakan tiang-tiang besi tua,” terang anggota DPRD Natuna, Baharuddin, SE, tentang sejarah kampung halamnnya, Desa Subi Kecamatan Subi, Kabupaten Natuna. Kisah ini diperkuat dengan catatan Wan Tarhusin, Bsc, salah seorang tokoh Pemuka Budaya yang ada di Kabupaten Natuna.

Katanya, pembangunan lapangan udara tersebut dilakukan Jepang dengan mengerahkan mengerahkan tenaga rakyat Pulau Subi sebagai tenaga Rodi, sampai dengan lapangan udara tersebut selesai. Namun begitu mendengar berita pasukan Belanda sudah berada di Ranai, pasukan Marinir Jepang yang ada di Pulau Subi, secara bertahap mulai keluar. Dan gelombang terakhir pasukan Jepang ini, terpergok pasukan udara Belanda yang sekonyong-konyong melintas di atas Pulau Subi, dengan menjatuhkan bom dari udara. Bom inilah yang menyebabkan lapangan udara Jepang di Pulau Subi, rusak berat.

Namun, dengan seribu akal tentara, Jepang tetap mencari jalan untuk dapat keluar dari Pulau Subi. Mereka kemudian menemui Datuk Kaya Pulau Subi untuk meminta bantuan. Mereka meminta agar rakyat Subi menyerahkan songkok (kopiah) kepada para tentara Jepang yang tersisa untuk digunakan sebagai penyamaran agar terlihat bagaikan orang Melayu Pulau Subi.

Kelihatanya akal ini berhasil. Dari Pulau Subi para tentara Jepang yang tersisa dapat keluar menuju ke tempat yang sangat dirahasiakan. Mereka keluar pada malam hari dengan menggunakan sampan berciau menuju ke tempat yang sudah diarahkan. Dan memang, tidak ada seorangpun tentara Jepang yang tinggal atau tersisa di Pulau Subi.

Menurut Baharuddin, kini lapangan udara Pulau Subi tersebut menyisakan hutan belukar. Letaknya di sebelah Tenggara Pulau Bunguran atau Ranai dan sebelah utara Pulau Serasan. Jarak antara Pulau Subi dengan Ranai sekitar 70 Mil dan jaran Pulau Serasan dengan Pulau Subi sekitar 35 mil.

Pada masa Kewedanan Pulau Tujuh masih berstatus District, Pulau Subi dimasukkan dalam satu wilayah dengan Onderdistrict Serasan dan dikepalai seorang Amir sekelas Camat saat ini. Sedangkan kini, Pulau Subi sudah dimekarkan menjadi sebuah Kecamatan yakni Kecamatan Subi. Pada masa itu, Pulau Subi diincar Jepang karena dianggap strategis. Itu pula yang mendasari Jepang membangun lapangan udara Jepang pada tahun 1942. Ini dilakukan sebagai pusat pertahanan udara Jepang di Natuna mendampingi Terempa sebagai tempat tentara Marinir Jepang dan pasukan Jutai.

Pulau Subi sudah di kenal International dalam sejarah zaman Jepang maupun zaman Hindia Belanda. Berdasarkan makalah: Seminar Sejarah Riau Desember 2003 oleh: Darmiati Jkt, di sekitar Pulau itu, pernah terjadi dimana sebuah kapal asing pecah. Peristiwa ini terjadi tanggal 13 Desember 1966 sekitar pukul 13.00 atau 1 siang. Kapal bernama “Pathol Salam” dipukul ombak dan hanya mampu bertahan selama 9 jam. Pada pukul 22.00 atau 10 malam, barulah kapal tersebut dapat sampai ditepi pantai Pulau Subi. (Kisah sejarah ini tersimpan dalam arsip nasional di Jakarta untuk dijadikan bukti sejarah tingkat Nasional).

Sementara itu, untuk kisah julukan “Tokong” yang juga berarti tanah Busut yang menonjol ke permukaan laut atau tanah Kukop atau batu karang yang menonjol ke permukaan laut, yang sangat berbahaya untuk lalu lintas kapal yang melewati areal tersebut. Julukan Tokong Pulau diberikan kepada Datuk Kaya di Pulau Tujuh untuk mengibaratkan seorang pemimpin yang mengendalikan pemerintah di wilayah terkecil, yang sewaktu itu diberi hak oleh Sultan Riau sesuai dengan ketentuan “Yayasan Adat”, yang sudah ada pada masa itu.

Dari kisah yang diperoleh, bahwa gelar yang diberikan dalam pembagian Wilayah Datuk Kaya Pulau Tujuh disebutkan bahwa untuk Wilayah Pulau Siantan diberikan kepada Pangeran Paku Negara dan Orang Kaya Dewa Perkasa, untuk Wilayah Pulau Jemaja diberikan kepada Orang Kaya Maha Raja Desa dan Orang Kaya Lela Pahlawan. Selanjutnya, untuk Wilayah Pulau Bunguran diberikan kepada Orang Kaya Dana Mahkota, dua orang Penghulu dan satu orang Amar Diraja. Untuk Wilayah Pulau Subi diberikan kepada Orang Kaya Indra Pahlawan dan Orang Kaya Indra Mahkota.

Juga diberikan Wilayah Pulau Serasan kepada Orang Kaya Raja Setia dan Orang Setia Raja. Wilayah Pulau Laut diberikan kepada Orang Kaya Tadbir Raja dan Penghulu Hamba Diraja. Dan Wilayah Pulau Tambelan diberikan kepada Petinggi dan Orang Kaya Maharaja Lela Setia.

“Orang-orang besar inilah yang pada zaman dahulu memerintah di wilayah Pulau Tujuh dengan masing-masing wilayah secara turun temurun, sampai pada akhir kekuasaannya,” terang Baharuddin.

Oleh karena pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu masih memegang peranan “Zich Bemoelen Met” ikut mencampuri urusan pemerintahan yang menyangkut strateginya di Pulau Tujuh, maka penempatan kedudukan para Datuk Kaya diatur sedemikian rupa dengan menerapkan imperialisme . Tujuan memecah belah persatuan dan kesatuan di wilayah Pulau Tujuh atau dengan menerapkan “Devide et Impera” yang semata-mata untuk menguntungkan pihak Belanda. (sm/dk)

sumber : haluankepri.com

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...