Tuesday, June 11, 2013

Hikayat Batu Rusia

Assalamu'alaikum.
Pada postingan kali ini kesempatan ni, saya akan ulas tentang batu. Kita mengetahui bahwasanya di Natuna ini khususnya di Pulau Bunguran banyak terdapat batu-batuan beragam ukuran. Ade Batu Sindu yang sudah terkenal, Batu Alif yang menyimpan potensi besar, Batu Kapal, Batu Kasah, Batu Rusia, Batu Gajah, hingga Batu Mayat, banyak lagi lah. Nah, pemberian nama-nama dari batu tersebut juga memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari cerita rakyat, kejadian, sampai peristiwa sejarah. Jom kita ulas satu-persatu. Kali ini yang kita bahas adalah Batu Rusia dulu ya.

Tentang Batu Rusia
Batu Rusia adalah salah satu peninggalan bersejarah yang dimiliki Kabupaten Natuna. Situs ini terletak persis di pinggiran jalan menuju Desa Sepempang, kurang lebih tiga kilo meter dari Kota Ranai. Atau 10 menit jika ditempuh dengan sepeda motor atau mobil. Tepatnya berada di Dusun Beringin Jaya, Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur. Google map.


Keberadaan Batu Rusia di sana mencatat bukti sejarah tentang orang-orang Rusia yang pernah ada di wilayah itu beberapa tahun silam. Kabarnya, sekoci orang-orang Rusia  terdampar di sana karena kapalnya menabrak karang di laut Natuna setelah dihajar ombak besar. Untuk menandai keberadaannya, mereka mencorat-coret, membuat tulisan semacam grafiti di atas batu tersebut.

Persisnya, cerita warga sekitar, Batu Rusia ini bermula pada saat terjadi peristiwa pecahnya kapal milik Rusia yang kandas di depan Pulau Senoa. Kapal Rusia itu memuat 40 orang penumpang termasuk tiga perempuan. Setelah terombang-ambing dan berjuang ke luar dari kapal yang tenggelam itu, mereka akhirnya selamat dan berhasil mendarat di Desa Sepempang, yang tidak jauh dari Pulau Senoa. Kemudian, mereka berduyun-duyun menuju ke Ranai untuk meminta bantuan tokoh masyarakat setempat bernama Datok Kaya A. Rasid. Karena kebetulan saat itu Ranai tengah panen padi, maka segala kebutuhan makanan orang-orang Rusia itu dijamin oleh Datok Kaya A. Rasid.

Saat berada di Ranai dan Desa Sepempang itulah, orang-orang Rusia itu sebelum kembali ke tanah airnya, menyempatkan diri menulis kata-kata di Batu Rusia menggunakan belati mereka. Beberapa kata yang terukir oleh mereka di batu itu di antaranya adalah kalimat berbahasa Indonesia “Selamat Tinggal” serta gambar dan lambang “USSR” dalam ukuran yang cukup besar. Terdapat juga tulisan berbahasa Rusia “bre-che” yang bermakna cukur janggut, “zambiar” yang berarti ular, serta “kuku-rasa” yang artinya gandum. Tulisan-tulisan itu hingga kini masih bisa ditemukan di sana, meski sebagian sudah terlihat kabur.
Batu Rusia

Bentuk batunya sendiri mirip seperti buritan kapal tangker yang membelakangi pantai. Sekarang di kelilingi oleh pagar besi bulat stainless antikarat. Diapit oleh batu-batu besar lain yang berbentuk unik, cukup membuat penasaran kita untuk mendekati dan memanjatnya karena di atas batu-batu itu juga ditumbuhi pepohonan liar dengan akarnya yang berjuntaian hingga ke bawah. Sangat artistik dan unik untuk dijadikan objek foto.

Lima puluh meter dari lokasi ini, kalau sudah cukup puas melihat-lihat Batu Rusia, kita bisa melihat kawasan pantai yang indah berpasir putih dan berair jernih. Anda bisa mandi atau berenang di sana. Jadi, sembari berwisata sejarah, Anda juga bisa sekalian berwisata pantai kalau mengunjungi Batu Rusia. Ya, sekali jalan, dua kesenangan bisa direngkuh.

Tidak diperlukan akomodasi untuk menjelajahi Batu Rusia ini. Tapi silakan saja mendirikan tenda kalau ingin bermalam, yakni di lokasi sekitaran pantai. Jangan lupa bawa perlengkapan untuk mendirikan tenda, seperti tali temali, lampu penerangan, sleeping bag, baju hangat, lotion antiserangga, dan lainnya.

Lokasinya dekat dengan Kota Ranai, jadi tidak perlu bekal yang berlebih bila ingin mengunjungi Batu Rusia. Apalagi dari Batu Rusia, pemukiman penduduk bisa ditempuh dalam hitungan menit, sangat dekat. Apa-apa mudah dibeli di sana kalau memang Anda kekurangan bekal makan atau minum.



sumber : Tulisan Edi Sutrisno,
http://haluankepri.com/jejak/36058-hikayat-batu-rusia-natuna-1.html
http://haluankepri.com/jejak/36058-hikayat-batu-rusia-natuna-2.html

Wednesday, May 15, 2013

KEKAH, selamatkan..!!!

Siapa yang tak tau binatang ni? Namanya Kekah, bahasa latinnya Presbytis natunae, kekah ini merupakan binatang endemik pulau Natuna, terutama di Pulau Bunguran Besar. Namun sayang, binatang langka ni terancam punah, joom kita liat artikel tentang Kekah ya.

Kekah adalah hewan primata langka yang hanya ada di daerah Kabupaten Natuna yakni pulau Bunguran Besar. Nama latin primata ini adalah Presbytis Natunae. Kekah tersebar dalam beberapa tipe habitat dan ketinggian (gunung tertinggi adalah Gunung Ranai 1.035 m dpl). Habitat yang dihuni Kekah Natuna antara lain, hutan primer pegunungan, hutan sekunder, kebun karet tua, daerah riparian, dan juga ditemui beririsan dengan hutan mangrove dan kebun campuran.

Kekah Natuna (Presbytis Natunae), merupakan fauna yang mengalami ancaman paling besar dan serius. Salah satu ancaman terbesarnya adalah kehilangan habitat akibat konversi lahan dan perburuan. Selain itu, jenis primata endemik ini sangat dikenal oleh masyarakat Natuna, karena memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Kekah Natuna dijual dengan harga antara Rp. 300.000 hingga Rp. 800.000 per ekornya. Kekah yang masih muda memiliki nilai jual lebih tinggi, begitu juga kekah dewasa yang sudah terlatih atau jinak.

Banyaknya orang yang ingin memelihara Kekah Natuna ini, karena secara morfologi bentuknya sangat lucu dan unik, tubuhnya dibaluti oleh bulu-bulu berwarna hitam tebal dan di selingi warna putih dengan ciri khas wajah seperti memakai kacamata. Selain itu hewan ini juga mudah jinak, dan dianggap memiliki nilai prestisius bila memeliharanya. Beberapa orang yang memelihara kekah mengaku sangat mudah merawatnya, karena kekah mau diberi makan apa saja, seperti makanan yang biasa dimakan manusia (nasi, roti, susu, pisang, dan sayur-sayuran). Tentu saja banyak kasus kekah yang mati dalam pemeliharaan akibat konsumsi pakan yang tidak sesuai.


Selain itu primata ini di anggap menjadi musuh petani karena hewan sejenis kera ini suka memakan buah-buahan, dedaunan, dan umbi-umbian. Dengan banyaknya penebangan hutan dan di bukanya perkebunaan karet hewan ini semakin terancam habitatnya Karena ketiadaan kawasan konservasi di Kepulauan Natuna. Oleh karena itu, aksi perlindungan terhadap Kekah Natuna sangat mendesak untuk segera dilakukan. Bila tidak, dalam waktu dekat Kekah Natuna akan mengalami kepunahan, dan bumi ini akan kehilangan salah satu jenis primata endemiknya di Indonesia.


Kampanye Melindungi Kekah
Belum ada aksi nyata tentang perlindungan binatang langka ini, namun baru-baru ini, organisasi mahasiswa Natuna di Yogyakarta (IPMKN-Y) mengkampanyekan perlindungan Kekah lewat kaos yang dikenakannya bekerja sama dengan LSM yang bersangkutan. Baju kaos ini digunakan pada saat acara Bulan Bakti IPMKNY di Natuna bulan Juli-September 2012. Semoga saja hewan langka yang menjadi ciri khas Natuna ini bisa terlindungi dan tidak punah. dukungan PEMERINTAH sangat diharapkan dalam aksi ini.



-

Tuesday, May 14, 2013

Mengenal Makanan Khas yang Ada di Natuna

Biasanya setiap daerah selalu ada yang khas, entah itu pakaian, rumah, budaya, tarian, kesenian, olahraga, hingga makanan. Kekhasan yang dimiliki itu merupakan identitas tersendiri yang menujukkan suatu daerah. Nah sekarang saya nak posting tentang makanan khas daerah tempat saya, Natuna.

Natuna memiliki beragam makanan khas, bahan dasarnya merupakan bahan baku lokal yang banyak terdapat di Natuna seperti hasil laut dan sagu. Ada beberapa makanan yang sudah terkenal hingga keluar daerah. Beberapa diantarannya Tabel Mando, Kernas/Kasam, Mie Sagu, dan lain-lain.

Tabel Mando
Kita mulai dengan tabel mando, bahasa keren yang dipakai kawan-kawan mahasiswa yang kuliah di luar untuk memperkenalkannya adalah PIZZANA, pizza dari Natuna. Resep tabel mando ini ada yang terbuat dari ikan simbek (tongkol), sagu, dan kelapa (maaf kalau salah, koreksi ye). Biasenya dibuat berbentuk lingkaran macam pizza, makanya disebut pizzaNa. Paling enak dimakan dengan "cecah sambel", terus pasangannya "aek kahwe (kopi)".

Nong gembo ni mbe nak nong tukoh e
Makanan ini sangat terkenal disana, biasanya setiap kali ada festival makanan ini pasti ada yang menjual. tapi sekarang ni mudah didapat, datang aje tiap minggu ke pantai Teluk Selahang, and enjoy it.!

Kernas / Kasam
Yang satu ni namanya kasam / kernas, ia merupakan makanan cemilan favorit di Natuna. Mudah dibuatnya, bahan yang digunakan juga sederhana. Makanan ini juga terbuat dari ikan tongkol atau simbek sama seperti Tabel Mando diatas. Jarang lho kalau orang udah mencobanya cuma 1 kali, pasti mau trus deh kalau udah coba. Jadi berhati - hati lah. 😀
Kernas
Bagi para pendatang yang ingin mencicipi makanan ini janganlah khawatir. Tabel Mando dan Kernas sangatlah mudah untuk ditemukan. Cemilan ini banyak dijual di kawasan wisata pantai Teluk Selahang di Kecamatan Bunguran Timur Laut. Ada banyak jenis jajanan yang tersedia yang siap menemani santai sambil menikmati indahnya pantai.
air kelapa + kasam, + gorengan2 = MAKNYOS...!!!!!!
Perpaduan kuliner yang mantap sambil menikmati indahnya pantai. :)



sumber : http://kelvin-pstoph.blogspot.com

Monday, May 13, 2013

Pesona Batu Alif, Taman Batu Besar di Natuna

Assalamu'alaikum.
Alhamdulillah akhirnya bisa ngeblog lagi. Kali ini saya ingin memposting tentang keindahan Batu Alif, bahasa kerennya adalah Alif Stone Park. Lokasinya berada di daerah Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, berjarak 7 km kalau dari kota Ranai, sekitar 15 menit perjalanan dengan kecepatan rata-rata kendaraan bermotor. Letaknya sebelum RRI Ranai, Alif Stone Park ini dihiasi oleh beragam batu-batu granit yang indah, kebanyakan batu-batunya bersusun bertumpak. Saya waktu kecil dahulu menyebut tempat ini sebagai komplek batuan betumpak (ngasal). Penasaran? jom lah kita liat gambar-gambarnya.


Kawasan Alif Stone Park, batu tegak tersebut merupakan simbol dari batu Alif, karena bentuknya tegak lurus seperti huruf Alif dalam abjad Arab



Pemandangan dari Batu Alif sangatlah indah. Antar batuan yang terhampar di dekat pantai dihubungkan dengan jembatan-jembatan kecil sehingga kita bisa menjangkau bebatuan di atas laut. Kita juga bisa melihat pulau Senua dari selah-selah batu yang terhampar di lautan. Saat sore, matahari tenggelam dibalik gunung Ranai merupakan momen yang ditunggu untuk diabadikan, begitu pula dengan view matahari terbit dipagi hari. Luar biasa!
Gunung Ranai dari Batu Alif

Pulau Senoa dilihat dari Batu Alif.
 



Sip, next posting semoga lebih banyak lagi yang dibagikan yak.

Saturday, May 11, 2013

Silsilah Ulama Masjid Jamik Sabang Barat Midai (bagian 3)

------lanjutan dari bagian 2-----


7. Haji Muhammad Jamin
Nama lengkapnya ialah Haji Muhammad Jamin bin Abdul Hamid. Beliau berasal dari Bunguran (Natuna). Mula-mula beliau belajar di salah satu pondok di Kedah, lalu meneruskan pengajiannya ke Patani. Antara pondok pengajian yang terkenal di Kedah semasa beliau menuntut di sana ialah Pondok Langgar, Pondok Gajah Mati dan lain-lain.

Ulama yang mengajar di pondok Gajah Mati pada ketika itu ialah seorang ulama besar yang bernama Sheikh Ibrahim bin Abdul Qadir bin Musthafa al-Fathani, iaitu saudara sepupu Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani. Ramai yang berasal dari Indonesia masuk pengajian di pondok Gajah Mati tersebut, di antara yang sangat terkenal dan menjadi ulama besar yang mengajar di Masjidil Haram, Mekah iaitu Sheikh Abdul Qadir bin Abdul Muthallib al-Mandailin (Mandailing).

Belajar ke Mekah dan guru-gurunya
Haji Muhammad Jamin juga belajar di Patani setelah pulang dari Midai. Kemudiannya beliau meneruskan perjalanan ke Mekah untuk melanjutkan pengajiannya. Antara ulama Patani yang menjadi guru beliau ialah Sheikh Daud bin Musthafa al-Fathani dan Sheikh Ismail bin Abdul Qadir bin Musthafa al-Fathani (Pak De El).

Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Arab, di antaranya Sheikh Muhammad Said al-Babshili, Sheikh Ali al-Maliki dan lain-lain. Apabila memperhatikan kitab-kitab peninggalan Haji Muhammad Jamin yang hampir dua pertiga dalam berbahasa Arab, maka cukup meyakinkan penulis bahawa beliau memang menguasai ilmu-ilmu alat Arabiyah seumpama ilmu Nahwu, Saraf, Bayan, Mantik dan lain-lain.

Kitab-kitab yang diajar
Seperti mana imam-imam sebelumnya, beliau juga mengajar beberapa kitab. Di antaranya Mathla al-Badrain, Munyatul Mushalli, Ushulut Tahqiq dan sebagainya.

Perwatakan Pribadinya
Haji Jamin adalah seorang yang alim serta warak. Antara perwatakan peribadinya yang lain, beliau dikenali sebagai seorang yang tidak banyak bercakap, melainkan perkara yang penting. Apabila ada yang tidak disukainya, maka beliau banyak mendiamkan diri, sekiranya keadaan tersebut memang tidak dapat untuk dinasihati.

Antara amalan rutin yang dikerjakannya seperti berzikir sesudah solat subuh, sembahyang Isyraq dan Dhuha yang dikatakan tidak pernah ditinggalkannya, sembahyang Tahajud yang hampir setiap malam dilakukannya, puasa setiap Senin dan Kamis dan lain-lain lagi amalan-amalan sunat. Perkara ini diketahui berdasarkan keterangan yang penulis peroleh daripada Haji Syafii yaitu menantunya yang tertua. Hobinya ialah memukat ikan.

Keturunan  
Haji Jamin pernah berkahwin beberapa kali. Perkahwinan yang pertama dengan Radhiah dan mendapat anak bernama Fatimah yang berkahwin dengan Haji Syafii. Perkahwinan kedua dengan Kasum, tetapi tidak mendapat anak. Perkahwinan ketiganya ialah dengan Hajah Zainab dan mendapat beberapa zuriat iaitu Aminah, Zalikha, Radhiah dan Hamidin. Terakhirnya pada perkahwinan keempat dengan Maryam mendapat anak bernama Rahmah.


----------------------

8. Haji Musa
Nama lengkap beliau ialah Haji Musa bin Muhammad Qasim @ Haji Bujang. Beliau tamat Sekolah Rakyat dalam tahun 1919 M. Belajar tentang ilmu Islam daripada beberapa ulama, antaranya Haji Abdullah Yusuf, Haji Abdur Rahman Ambon, Haji Muhammad Janik, Haji Muhammad Kepul, Haji Abu Bakar Pontianak, Haji Abdullah Terengganu dan lain-lain.
Lukisan wajah H. Musa yang dilukis menantu beliau

Haji Musa berkahwin dengan Hajah Aisyah, yang dilahirkan di Mekah. Haji Musa dikatakan seolah-olah sebagai pengganti Haji Abdullah Yusuf dalam mendidik masyarakat di Air Putih dan sekitarnya. Isterinya pula mendidik kumpulan perempuan. Antara ilmu-ilmu yang diajar oleh sepasang suami dan isteri itu adalah ilmu fiqih, usuluddin dan tasauf. Haji Musa juga dikenali sebagai tukang sunat atau istilah kini Tok Mudim.

Muzakarah penulis dengan Haji Musa
Penulis pernah bermuzakarah dengan Haji Musa pada tahun 1967 M, ketika beliau baru sembuh daripada sakitnya. Dalam muzakarah tersebut, antara yang dibincangkan adalah berkaitan Masjid Jamek Sabang Barat, membincangkan ilmu tauhid menurut metod Sifat 20, fahaman Abu Hasan al-Asyari dan Abu Mansor al-Maturidi.

Selain itu, beliau menunjukkan kepada penulis sebuah kitab Melayu/Jawi yang berjudul Bahjatus Saniyah, karangan Sheikh Daud al-Fathani. Kebanyakan perbicaraan antara penulis dengan beliau banyak berkisar permasalahan fiqh menurut Mazhab Syafie. Bahkan beliau menceritakan juga tentang amalan Salawat Dala-ilul Khairat yang berasal dari Sheikh Sulaiman al-Jazuli. Amalan tersebut diterimanya daripada Haji Abdur Rahman Ambon. Bahkan beliau menjelaskan bahawa ada beberapa perkara yang mesti dikerjakan setiap hari ke atas setiap orang Muslim iaitu, istighfar, zikir, selawat dan membaca al-Quran.

Beliau menjelaskan bahawa istighfar hendaklah dibuat sekurang-kurangnya 70 kali sehari. Zikir pula sekurang-kurangnya 300 kali, manakala selawat sekurang-kurangnya 40 kali dan yang terakhir membaca al-Quran sekurang-kurangnya tiga puluh ayat sehari semalam. Menurut beliau hal tersebut adalah seperti mana yang difatwakan oleh kebanyakan guru.

Keturunan
Haji Musa memperoleh 14 orang anak iaitu: Bakri, Fatimah, Zainab, Roqiah, Sabki, Sanusi, Zalikha, Fauzi, Salmah, Faruk, Jamilah, Khadijah, Fauziah dan Aminah.


----------------

9. Haji Abdur Rahman al-Mahmudi
Dilahirkan di Pulau Panjang Indoman, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Inderagiri, Indonesia. Beliau melanjutkan pengajian agama Islam di Padang, Sumatera Barat. Setelah tamat pengajian, beliau membuka Madrasah di kampung kelahirannya.

Tidak lama kemudian, keluarganya di Midai membawanya pindah ke Midai untuk mengajar mengaji al-Quran dan mendidik kaum keluarganya di Midai. Setelah itu, saudara sepupunya yaitu Fakih Muhammad Yusuf bin Muhammad Karim menghantarnya ke Mekah, bertujuan memasuki pengajian Madrasah Darul Ulum yang terkenal pada waktu itu.

Menurut cerita beliau kepada penulis, pada ketika itu telah terjadi satu kekacauan yang menyebabkan beliau terpaksa berhenti belajar dan mengikuti latihan ketenteraan. Tujuannya mengikuti latihan itu adalah sebagai satu peluang melarikan diri daripada penjagaan yang ketat. Maka setelah itu beliau berjaya meloloskan diri dari Mekah ke Pulau Pinang dan Singapura. Akhirnya terus pulang ke Midai. Setelah sampai di Midai, beliau meneruskan mengajar keluarga dan sanak saudaranya tentang ilmu-ilmu yang dituntutnya selama bertahun-tahun.

Kebolehan dalam ilmu al-Quran dan lain-lain
Selain mengajar sebagai imam Masjid Jamek Sabang Barat, beliau juga mengajar dengan kaedah berbentuk ceramah, secara langsung menterjemahkan al-Quran dan tafsirnya. Tidak dinafikan beliau seorang yang berkebolehan dalam bidang tersebut. Dalam bidang fiqih pula, beliau juga mengajar kitab Mathla al-Badrain seperti imam-imam sebelumnya. 

Haji Abdur Rahman al-Mahmudi diakui juga seorang yang fasih berbahasa Arab, yang sekaligus menguasai dalam bidang menterjemahkan al-Quran. Akan tetapi perkara ini tidak bererti bahawa beliau telah menguasai kitab-kitab Mazhab Syafie yang tinggi-tinggi ditulis dalam bahasa Arab.

Selain itu, beliau menguasai ilmu Nahwu dan Saraf, namun ia juga tidak bererti beliau juga menguasai ilmu bahasa Arab yang lain termasuk Ilmu Bayan, Badi, Balaghah, Arudh, Qawafi dan lain-lainnya. Hal ini penulis dapat ketahui ketika berdialog dengannya di Serasan, Indonesia pada tahun 1984 dan 1985.

Penutup
Tidak banyak perkara yang dapat diulas mengenai riwayat hidup Imam Masjid Sabang Barat yang kesembilan ini, iaitu Haji Abdur Rahman al-Mahmudi. Penulis hanya membicarakan secara umumnya sahaja berdasarkan kepada beberapa catatan-catatan yang ada dalam simpanan penulis.


-----------------------------
 

Mengenai Imam Masjid Jamek Sabang Barat yang terakhir, yaitu al-Fadhil Haji Sabkie bin Haji Musa tidak dapat dibicarakan lagi. Ini kerana data mengenainya telah hilang daripada catatan penulis. Hanya yang dapat dinyatakan bahawa beliau adalah anak kepada Imam Masjid Jamek Sabang Barat yang kedelapan, iaitu Haji Musa bin Muhammad Qasim.



Bersambung........

Sumber:
(Koleksi tulisan ALLAHYARHAM WAN MOHD. SAGHIR ABDULLAH)
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2008&dt=1006&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Friday, May 10, 2013

Silsilah Ulama Masjid Jamik Sabang Barat Midai (bagian 2)

------lanjutan dari bagian 1--------

3. Haji Abdur Rahman Ambon
Nama lengkap beliau ialah Haji Abdur Rahman bin Haji Muhammad Nur al-Ambuni. Beliau terkenal dengan gelar 'Pak Tuan Alim Ambon'. Menetap di Mekah dengan belajar sambil mengajar di sana sekitar 40 tahun lamanya. Banyak tempat yang dipelajarinya, termasuk dari ulama-ulama yang pernah mengajar Haji Wan Abdur Rahman bin Haji Abu Bakar, Imam Masjid Jamik Sabang Barat yang pertama yang pernah dibicarakan.

Penulis berpendapat, sebelum Haji Abdur Rahman Ambon datang ke Pulau Tujuh, beliau pernah mengembara ke Kalimantan Barat, Indonesia. Ini kerana penulis menemui sebuah kitab amalannya bernama Riyadhus Shalihin di Kampung Sungai Bundung, Kabupaten Pontianak, Indonesia. Di bagian pinggir kitab tersebut telah termaktub nama beliau. Berkemungkinan besar beliau ke Kalimantan Barat dengan seorang muridnya yang juga seorang ulama besar bernama Haji Muhammad Shalih dari Sarawak. Kubur ulama besar tersebut juga terletak di Sungai Bundung, Kalimantan Barat.

Bahkan dikatakan Haji Abdur Rahman Ambon juga mungkin pernah ke Sarawak, kerana hobinya memang gemar menyebarkan Islam dengan mengembara. Bahkan sebelum ke Midai, beliau pernah mengajar di Pulau Natuna (gugusan pulau Bunguran), terutama Pulau Tiga dan Sedanau. Haji Abdur Rahman Ambon dikenali sebagai seorang ulama ahli sufi dan dikatakan mempunyai beberapa kekeramatan. Diceritakan bahwa pernah terjadi satu kebakaran di Pulau Tiga yang menghabiskan banyak perkebunan kelapa. Maka beliau terus berdiri dan berdoa, lalu secara tiba-tiba saja datang angin serta hujan lebat yang secara tidak langsung memadamkan api.

* Murid-murid Haji Abdur Rahman Ambon
Murid-murid beliau sangat ramai, baik di Mekah, Kalimantan Barat maupun Sedanau, Pulau Tiga, dan juga Midai. Bahkan boleh dikatakan hampir kesemua imam Masjid Jamik Sabang Barat selepas beliau adalah muridnya. Mereka adalah:
  1. Haji Muhammad Shalih, yang berasal dari Sarawak seperti yang disebutkan. Beliau adalah ulama besar yang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat dan Sarawak. Semasa di Pontianak, beliau berkahwin dengan ibu saudara Haji Abdur Rani Mahmud, yaitu seorang ketua Majlis Ulama Kalimantan Barat. Mengenai beliau ini pernah disentuh oleh penulis tentang sejarah beliau secara terperinci. Haji Muhammad Shalih tersebut meninggal di Kalimantan Barat dan dimakamkan di Sungai Bundung, Indonesia.
  2. Haji Bujang, yaitu imam Masjid Jamik Sabang Barat yang keempat.
  3. Haji Mat Tali, imam yang kelima.
  4. Haji Muhammad Mirun, imam yang keenam.
  5. Haji Muhammad Jamin, imam masjid yang ketujuh.
  6. Haji Musa, imam yang kelapan.
Mengenai murid-murid beliau yang di tempat lainnya tidak dapat dinyatakan. Ini kerana hanya dapat diketahui bahwa beliau mempunyai ramai murid di berbagai tempat, tetapi nama-nama mereka tidak dapat dikenal pasti dengan mendalam.

Keturunan
Haji Abdur Rahman Ambon mendapat seorang anak perempuan lalu dikawinkan dengan murid dan anak angkatnya iaitu Haji Muhammad Mirun. Anak lelakinya juga hanya seorang yaitu Haji Bujang bin Haji Abdur Rahman Ambon. Tuan Guru Haji Abdur Rahman Ambon meninggal dunia di Midai, Indonesia pada 24 Jamadilakhir 1355H, dan dikuburkan di Perkuburan Suak Besar, berhadapan bekas Masjid Suak Besar.

Sekembalinya Tuan Guru Haji Abdur Rahman Ambon ke rahmatullah, maka digantikan pula dengan imam yang keempat. Terdapat sedikit pertikaian mengenai imam yang keempat ini, disebabkan banyak pendapat mengenainya. Menurut penduduk-penduduk Midai, imam Masjid Jamik Midai yang keempat adalah Haji Mat Tali dan ada mengatakan Haji Muhammad Mirun, juga Haji Bujang. 

Pun begitu, penulis meletakkan Haji Bujang sebagai imam yang keempat. Ini kerana jarak masa Haji Abdur Rahman Ambon meninggal dunia tidak jauh dengan meninggalnya Haji Bujang. Haji Abdur Rahman meninggal pada 24 Jamadilakhir 1355 H, manakala Haji Bujang meninggal dunia pada hari Rabu, 8 Syawal 1357 H.
----------------------------

4. Haji Bujang Bin Haji Ahmad Sulong
Nama lengkap beliau Haji Ali Ahmad bin Haji Ahmad Sulong. Beliau berasal dari Jawa. Menurut keterangan anaknya yaitu Syuamsuddin dari Solo, Jawa Tengah, pada saat H. Bujang membangun dan memelihara seluruh kemaslahatan Masjid Jamik Sabang Barat senantiasa berunding bersama-sama dengan dua sahabatnya. Mereka ialah:
  1. Haji Wan Abdullah bin Haji Wan Abdur Rahman. Beliau adalah selaku Kuasa Ahmadi & Co Midai. Beliau juga adalah nazir Masjid Jamik Sabang Barat.
  2. Penghulu Hasyim, iaitu saudaranya yang memang besar pengaruhnya, baik di mata masyarakat maupun pemerintah.
Sebelum Haji Bujang datang ke Midai, beliau banyak belajar di salah satu pondok pesantren di Jawa. Di Midai pula, beliau turut belajar kepada Haji Abdullah Yusuf dan Haji Abdur Rahman Ambon. Semasa menjadi imam di Masjid Jamik Sabang Barat, beliau bersama-sama saudara dan sahabatnya juga belajar dengan ulama besar yang datang ke Midai, yaitu Sheikh Umar. Oleh itu, Haji Bujang mempergunakan waktu yang baik itu untuk mendalami pengetahuannya, terutama ilmu tasauf. Sheikh Umar senantiasa berulang alik dari Midai ke Singapura dan Malaysia untuk mengajar. 

Selain sebagai imam, Haji Bujang juga seorang pedagang sukses pada zamannya. Beliau menikah sebanyak dua kali. Perkawinan pertama mendapat anak bernama Haji Ghazali, dan pernikahan kedua di Singapura dengan Fatemah. Melalui pernikahan kedua ini  mendapat beberapa orang anak iaitu Usman, Haji Ali, Khalid, Ishaq, Hamzah, Zainab, Khadijah, Syamsuddin, Siti Zalikha, Siti Zauyah, Siti Rahmah dan Siti Badariyah.

--------------------------

5. Haji Mat Tali
Mengenai beliau ini penulis tidak mendapat sebarang data. Dan hampir semua orang yang ditemui tidak dapat menjelaskan sebarang data mengenai beliau.

---------------------------

6. Haji Muhammad Mirun
Dimulai riwayatnya yang begitu mencintai ilmu pengetahuan, lalu mengembara hingga sampai ke negeri Patani. Pada zaman tersebut, Patani adalah tempat mendidik kader-kader Islam yang datang dari seluruh pelosok Tanah Jawi/Asia Tenggara. Semua guru pondok di zaman itu telah dididik oleh ulama-ulama Patani di Mekah, yaitu:
  1. Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani
  2. Sheikh Muhammad bin Ismail al-Fathani
  3. Sheikh Wan Ali bin ABdur Rahman al-Kalantani
  4. Sheikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani
  5. Dan lain-lain lagi
Pondok-pondok pengajian di Patani yang terkenal pada zaman Haji Muhammad Mirun ke sana adalah berikut:
  1. Pondok Burmin
  2. Pondok Kelaba
  3. Pondok Semala
  4. Pondok Kuala Bekah
Tidak dapat diketahui pondok tempat Haji Muhammad Mirun belajar, ini kerana hampir semua yang ditanya tidak dapat memberi keterangan yang lengkap. Namun, yang jelas beliau hanya belajar di Patani. Nama pondok dan gurunya tidak dapat diketahui secara jelas. Setelah mendalami ilmu pengetahuan, terutamanya ilmu fiqih, usuluddin dan tasauf di Patani, lalu beliau pulang ke Serasan, Indonesia dan mulai mengajar.

Saat beliau mengetahui ada seorang ulama yang baru pulang dari Mekah, beliau berhasrat untuk memperdalam ilmu dengan ulama tersebut, yaitu Tuan Guru Haji Abdur Rahman Ambon. Beliau seolah-olah anak angkat kepada ulama tersebut dan akhirnya, dikawinkan dengan anak perempuan gurunya itu. Haji Muhammad Mirun menerima baiah tarekat Qadiriyah, Selawat Dalailul Khairat dan lain-lain amalan daripada Haji Abdur Rahman Ambon itu.

Keturunan
Perkahwinan dengan anak Haji Abdur Rahman Ambon tidak mendapat anak. Lalu berkawin kali kedua dengan Aisyah binti Kasah, dan mendapat beberapa zuriat yaitu: Usman, Zaharah, Kamariah, Syamsuddi, Sirajuddin, Hasanuddin, Baharuddin, Aminuddin, Azizah dan Syamsu Karnain.

Kembali ke rahmatullah
Haji Muhammad Mirun meninggal dunia di Midai, pada hari Selasa. Sebelum wafat, beliau berwasiat supaya ditanam di samping gurunya Haji Abdur Rahman Ambon dan wasiat tersebut dijalankan oleh anak-anaknya sebagaimana yang diminta.


-------Bersambung part III---------


Sumber:
(Koleksi tulisan ALLAHYARHAM WAN MOHD. SAGHIR ABDULLAH)
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2008&dt=1006&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Thursday, May 9, 2013

Silsilah Ulama Masjid Jamik Sabang Barat Midai

Sejak mula berdirinya Masjid Jamek Sabang Barat pada 1 Syawal 1342 H bersamaan 6 Mei 1924 M, hingga diresmikan nama baru Baitur Rahman, tercatat jumlah yang menjadi imam ialah 10 orang. Mereka ialah:
  1. Al-alim al-'allamah Haji Wan Abdur Rahman bin Wan Abu Bakar al-Bughurani.
  2. Al-alim al-'allamah Haji Abdullah bin Yusuf al-Bughurani.
  3. Al-alim al-allamah Haji Abdur Rahman bin Haji Muhammad Nur al-Ambuni.
  4. Al-Fadhil Haji Mat Tali.
  5. Al-Fadhil Haji Bujang bin Ahmad Sulung.
  6. Al-alim al-Fadhil Haji Muhammad bin Mirun.
  7. Al-alim al-Fadhil Haji Muhammad Jamin bin Abdul Hamid.
  8. Al-Fadhil Haji Musa Muhammad bin Qasim.
  9. Al-Fadhil Haji Abdur Rahman al-Mahmudi.
  10. Al-Fadhil Haji Sabkie bin Haji Musa.
Daripada semua imam tersebut, lima daripadanya mendapat pendidikan langsung di Makkatul Mukarramah. Mereka ialah Haji Wan Abdur Rahman bin Wan Abu Bakar al-Bughurani, Haji Abdullah bin Yusuf al-Bughurani, Haji Abdur Rahman bin Haji Muhammad Nur al-Ambuni, Haji Muhammad Jamin bin Abdul Hamid dan Haji Abdur Rahman al-Mahmudi. Sementara dua orang di antaranya mendapat surat tauliah mengajar di Masjidil Haram, Mekah. Mereka ialah Haji Abdullah bin Yusuf al-Bughurani dan Haji Abdur Rahman bin Haji Muhammad Nur al-Ambuni.

Untuk lebih terperinci, maka disertakan riwayat hidup kesepuluh imam tersebut di bawah ini. Riwayat mengenai mereka ini dibicarakan secara teratur, dari imam yang awal hingga yang terakhir. Berikut dimulai dengan Imam Masjid Jamik Sabang Barat yang pertama, yaitu:

1. Haji Wan Abdur Rahman Bin Abu Bakar
Nama lengkap beliau ialah Haji Wan Abdur Rahman bin Wan Abu Bakar bin Wan Ta'sim. Berasal dari Pulau Bunguran (Natuna), Indonesia. Asal-usulnya adalah dari Johor, yang mana datuk-datuknya adalah seorang pembesar kerajaan Johor. Karena terjadi suatu perselisihan, beliau melarikan diri ke Pulau Bunguran (Natuna), Indonesia. Hal seperti itu adalah perkara biasa bagi keturunan beliau. 

Perkara-perkara seperti ini pernah terjadi kepada moyangnya yang berasal dari kerajaan Patani, di mana ketika terjadi perang antara Patani melawan Siam sekitar tahun 1632 M, lalu moyangnya bernama Faqih Ali berangkat ke Sulawesi dengan tujuan mencari bantuan untuk melawan Siam. 

Dalam pelarian itu, beliau (Faqih Ali) membawa Bendera Patani yang disebut bendera Buluh Perindu. Maka Faqih Ali diangkat oleh Sultan sebagai ketua orang Melayu di sana setelah beberapa lama pulang ke Johor. Beliau dikaruniakan ramai keturunan, dan dari sekelian ramai keturunannya itu adalah Haji Wan Abdur Rahman yang dibicarakan ini.

* Berangkat ke Mekah
Haji Abdur Rahman sejak mudanya telah berangkat ke Mekah. Di Mekah beliau ditampung oleh seorang ulama terkenal dengan karyanya Mathla' al-Badrain, yaitu Sheikh Muhammad bin Ismail al-Fathani atau nama lainnya Sheikh Muhammad Shaghir, juga terkenal dengan nama Sheikh Nik Mat Kecik al-Fathani. Bahkan di bawah pinggir kitab Bahjatul Mardhiah, dicatatnya bahwa beliau belajar kitab itu kepada pengarangnya tahun 1321 H. Beliau adalah tempat pertama Haji Abdur Rahman menuntut ilmu-ilmunya di Mekah. 

Selain itu, Haji Abdur Rahman juga belajar kepada ulama Patani yang terkenal di seluruh dunia Islam, yaitu Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Muusthafa al-Fathani. Dengan takdir Allah, Haji Abdur Rahman berbiras dengan ulama tersebut, kerana anaknya, Haji Wan Abdullah berkahwin dengan anak Sheikh Ahmad al-Fathani yang bernama Hajah Wan Zainab. Haji Abdur Rahman juga belajar daripada ulama yang berasal dari Kelantan iaitu Sheikh Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan al-Kalantani.

* Kitab-kitab yang diajar
Berdasarkan catatan-catatannya, terdapat beberapa kitab yang diajarnya di Masjid Jamek Sabang Barat. Semuanya adalah kitab Melayu/Jawi. Selain menjadi imam dan mengajar, beliau juga adalah seorang 'tukang nikah' atau kadi. Ini kerana di zaman tersebut masih belum ada tempat yang khusus seperti sekarang.

Khutbah Jumaat pada zaman beliau masih menggunakan bahasa Arab secara keseluruhannya. Khatib memakai tongkat dan bertutup kepala. Pada hari Jumaat, beduk berbunyi pada masa tertentu, yaitu pukul 6 pagi, 9 pagi, 11 pagi, 12 tengah hari dan 3.30 petang. Selain Jumaat pula, beduk akan dipukul semasa 12.30 tengah hari, 3.30 petang, 6 petang, 7 petang dan jam 4.30 pagi, yaitu sebagai petanda masuk waktu solat. Pada hari raya, beduk dibunyi dengan agak panjang. Haji Wan Abdur Rahman Wan Abu Bakar menjadi Imam Masjid Jamik Sabang Barat mulai 1 Syawal 1342 H / 6 Mei 1924 M sehinggalah wafatnya pada 22 Rejab 1344 H/ 18 Februari 1926 M (hari Isnin).

Keturunan
Haji Abdur Rahman hanya dikurniakan seorang anak yaitu Haji Wan Abdullah, seorang penguasa Ahmadi & Co Midai sejak tahun 1936 M sehingga 1958 M. Hasil perkahwinan Haji Wan Abdullah dengan anak dari Sheikh Ahmad al-Fathani, yaitu Hajah Wan Zainab, mereka dikurniakan 12 orang anak, yaitu:
  1. Wan Mohd Zain.
  2. Wan Ali.
  3. Wan Kalthum.
  4. Wan Nur.
  5. Wan Abdur Rahman.
  6. Wan Nafisah.
  7. Wan Abdur Rahim.
  8. Wan Abdul Halim.
  9. Wan Muhammad Shaghir.
  10. Wan Shaghiriah.
  11. Wan Taufiqiah.
  12. Wan Qadariyah.
Demikianlah riwayat ringkas Imam Masjid Jamek Sabang Barat yang pertama.
-------------------------

2. Haji Abdullah Yusuf Al-Bughurani
Ulama ini lebih muda dari Haji Wan Abdur Rahman. Beliau juga berasal dari Pulau Bunguran (Natuna), dan juga belajar di Mekah. Di Mekah, beliau belajar daripada ulama-ulama tempat di mana Haji Abdur Rahman juga belajar. Ini kemungkinan beliau dibawa ke Mekah dari Midai oleh Haji Wan Abdur Rahman sendiri. Berkahwin dengan Hajah Dayang, namun tidak memperoleh zuriyat / keturunan. 

Walaupun beliau seorang ulama besar, namun ketika di Midai beliau juga adalah seorang pedagang. Beliau mendirikan satu syarikat dagang dengan nama Air Putih Syarkah. Air Putih Syarkah ini pernah bergabung dengan Syarikat Ahmadi Midai, Syarikat Kampar-Kuantan dan syarikat-syarikat dagang bumiputera lainnya di seluruh Pulau Tujuh membuka perwakilan di Singapura tahun 1915 M. 

Segala pentadbiran dan pengelolaan diserahkan bulat-bulat kepada Syarikat Ahmadi Midai yang kemudiannya memakai nama Ahmadi & Co Midai cawangan Singapura. Di Mekah, beliau dikurniakan surat tauliah, yang mana membolehkannya mengajar di Masjidil Haram. Surat berharga itu ditulis dengan tinta emas dan merupakan satu jaminan bahawa beliau menguasai ilmu yang banyak dan kuat berhujah. 

Tidak banyak perkara yang dapat diketahui tentang beliau ini, namun beliau juga mengajar di masjid tersebut. Haji Abdullah Yusuf meninggal dunia di Singapura dalam perjalanan ke Mekah. Setelah meninggal, semua hak miliknya di Midai dijual kesemuanya oleh isteri beliau yang kemudiannya pulang ke Mekah. Dikatakan beliau meninggal dunia di Geylang, Singapura pada hari Sabtu, iaitu 30 Rabiulakhir 1345 H (6 November 1926 M) dan dikebumikan di Bukit Wakaf.

Selanjutnya diteruskan dengan imam-imam yang lain, antaranya al-Fadhil Imam Haji Abdur Rahman Ambon, al-Fadhil Imam Haji Bujang, al-Fadhil Imam Haji Mat Tali dan al-Fadhil al-Imam Haji Muhammad Mirun.

-----bersambung pada bagian 2-------

Sumber:
(Koleksi tulisan ALLAHYARHAM WAN MOHD. SAGHIR ABDULLAH)
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2008&dt=1006&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...