Sunday, July 9, 2023
Belitong: Sejarah dan Budaya
Saturday, July 8, 2023
Belitong: Kali Pertama dan Tentang Kesamaan
Belitong, pulau ini terletak di selat Karimata, sebuah selat yang menghubungkan antara Sumutera dan Kalimantan. "Perkenalanku" dengan Belitong ini sudah lama. Sering melihat atlas, dan peta dunia, termasuk Indonesia pada waktu kecil membuatku tahu sedikit tentang Belitung yang kala itu merupakan bagian dari Sumatera Selatan. Perkenalan selanjutnya dengan pulau ini lewat sebuah film fenomenal, hasil adaptasi dari best seller novel karya Andrea Hirata dengan judul yang sama: Laskar Pelangi.
Film yang menceritakan tentang kegigihan dan kecerdasan guru-guru dan siswa-siswi lokal di SD Muhammadiyah itu, juga menampilkan keindahan alam pulau yang kaya dengan hasil bumi ini. Pasir putih dan granit besar yang menjadi ciri khas alam Belitung.
Pantai dan batuannya sama dengan tempatku, Natuna.
Hal tersebut tentu saja menambah rasa penasaranku tentang pulau yang indah ini. Sehingga pulau Belitong yang saat ini sudah memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Selatan dan membentuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini menjadi target untuk ku datangi.
Terlebih Pulau Belitong ditetapkan menjadi kawasan Geopark Nasional dan 2020 resmi menyandang status global dari UNESCO. Geopark, sesuatu yang kelak membawaku sampai ke pulau ini. Geopark Belitong terletak di Pulau Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kawasannya berada di dua kabupaten yakni Belitung dan Belitung Timur.
Yap saya tidak salah tulis antara O dan U dalam penyebutan Belitung/Belitong. Secara administrasi, nama dua kabupaten memang menggunakan U, yakni Belitung dan Belitung Timur. Namun dalam ejaan bahasa melayu tempatan, Belitung disebut dengan Belitong, sesuai dengan tujuan Geopark yang memasukkan unsur budaya di dalamnya, sehingga penamaan resmi geopark pada kawasan ini mengambil dialek lokal: Belitong.
Gayung bersambut, kegiatan Pemuda Geopark di Geopark Belitong yang mulai digaungkan pada mei lalu seakan menjadi "batu pijakan". Setelah semua perkara selesai (baca: administrasi, ikut seleksi dari panitia dan ketersediaan dana dari sponsor dan pemerintah), aku bersama seorang teman dari Natuna berangkat menuju Pulau Laskar Pelangi ini.
Burung besi membawa kami dari Natuna menuju Jakarta via Batam, dan Soekarno Hatta menjadi titik kumpul para peserta yang datang dari berbagai wilayah di Jawa untuk sama-sama berangkat ke Belitong esok paginya. Punya waktu sekian jam di bandara membuat ku memilih untuk ngemper di bandara sambil menunggu kedatangan rekan-rekan yang lain dengan bermodalkan chat di WA group yang sudah dibuat beberapa hari lalu.
![]() |
| bersama rekan dari (calon geopark di) Bali |
Dini hari, rekan-rekan sudah berkumpul di gate keberangkatan sambil menunggu jadwal penerbangan. Jakarta - Belitong hanya memerlukan satu jam penerbangan karena jarak yang memang tak begitu jauh. Cuaca cerah dari Jakarta, namun tidak ketika tiba di H.A.S. Hanandjoeddin International Airport Belitung, hujan mengguyur bumi Laskar Pelangi tersebut.
Sembari menunggu kedatangan peserta yang lain dengan penerbangan berbeda, kami sejenak istirahat, mengisi perut yang memang belum diisi pagi ini. Silih berganti pesawat landing di bandara, membawa beberapa peserta yang ku kenal wajahnya, tak asing, sebab sudah bertemu pada kegiatan Pemuda Geopark di Batur UGGp tahun lalu. Reuni kecil-kecilan ceritanya.
![]() |
| Touchdown Belitong! |
Tujuan pertama adalah rumah adat melayu Belitong. Rumah adat ini sama seperti rumah-rumah adat melayu pada umumnya: rumah panggung. Rumah yang disebut dengan Rumah Limas ini terdiri dari beberapa bagian, bagian pertama yaitu bagian teras rumah, tempat tamu pertama kali masuk. Lalu yang kedua adalah ruang utama atau ruang tamu, tersedia dua kamar tidur di sini. Di ruang ini juga ditampilkan beberapa pernak pernik hantaran pernikahan adat melayu Belitong, dan di dinding-dindingnya terdapat foto Belitong tempo dulu.
Bagian berikutnya adalah dapur atau bagian belakang, antara bagian utama dan bagian belakang dihubungkan dengan penghubung seperti jembatan yang disebut dengan los. Di ruang belakang ini terdapat alat-alat dapur tradisional, juga terdapat alat-alat bertani dan melaut. Terpisah dari rumah induk, ada bangunan kecil di belakang yang disebut dengan pondok. Kata pemandu, itu semacam gudang untuk menyimpan kayu bakar, toilet berada di belakang pondok tersebut.
Saya tertarik dengan dokumentasi foto-foto lama di dinding ruang tamu. Gaya melayu tempo dulu dan stempelnya mirip juga dengan stempel tempo dulu yang ada pada koleksi foto-foto lama yang ada di Natuna. Pernak-pernik pernikahan juga hampir sama dengan yang ada pada melayu Natuna. Bagian dapur terdapat beberapa alat tradisional yang ada kaitannya dengan bertani, ada lesung seperti seni tradisi di Natuna: lesung alu. Dan mereka menyebutnya Lesung dan Lumpang. Ada juga gerobak tradisional yang mereka sebut dengan liu-liu. Pada perayaan hasil tani, masyarakat Belitong mengenal istilah marastaun, yakni sebuah perayaan panen padi yang dahulu dirayakan di tiap-tiap desa.
Setelah dari rumah limas, perjalanan kami berikutnya menuju ke Pantaii Tanjung Kelayang untuk beristirahat dan makan siang. Di Tanjung Kelayang, semua peserta kegiatan berkumpul. Peserta dari UNESCO Global Geopark Youth Marine Camp, dan peserta The 11th ASEAN Summit 2023 berkumpul di sini. Sebagai informasi, The 11th ASEAN Summit merupakan event bertemunya negara-negara ASEAN, dan Geopark Belitong menjadi salah satu tempat diselenggarakannya kegiatan tersebut, pemerintah memilih Belitong UGGp untuk menjadi host dalam kegiatan Running Into The Blue: Oceanic Adventure sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ASEAN Blue Economy Forum yang berlangsung di Belitung, 2-4 Juli 2023.
| Peserta UGG Marine Youth Camp |
Ini yang menjadi catatan saya: kegiatan kolaborasi. Semacam "aji mumpung" dalam melaksanakan kegiatan, dalam hal positif tentunya. Pemerintah menunjuk Belitong untuk menjadi tuan rumah kegiatan, dan Belitong UGGp mengambil kesempatan dengan berkolaborasi mengadakan kegiatan UGG Youth Marine Camp dengan skala internasional. Hal kolaborasi seperti ini yang mesti diterapkan, rangkaian kegiatan pada waktu yang sama. Kerja sama dalam event yang sekaligus besar. Hingga segalanya bisa dikerjakan bersama-sama.
Di Pantai Tanjung Kelayang, kami istirahat untuk makan siang dan belanja pada stand-stand pameran yang sudah tersedia. Transaksi yang dilakukan dengan membeli kupon yang nanti akan di tukar dengan produk yang akan dibeli.
Trip masih berlanjut, kali ini tujuannya adalah Pusat Informasi Geologi (PIG) Belitung. Tarian selamat datang yang dibawakan oleh penari cilik menyambut kami dalam kunjungan ke PIG ini.
Seorang pemandu dengan ramah menjelaskan hal-hl yang ada dalam PIG, termasuk timah, sumber daya alam bumi Belitiung yang sudah diexploitasi selama kurang lebih 100 tahun. Sejak zaman kependudukan Belanda, timah Belitung dieksploitasi untuk kebutuhan persenjataan terutama pembuatan peluru. Proses pengambilannya mulai dari cara tradisional yang dikenal dengan ngelimbang, hingga cara yang modern kala itu.
![]() |
| Pusat Informasi Geologi Pulau Belitung |
Selain unsur-unsur geologi, PIG juga menampilkan ragam potensi yang lain dari bumi Belitung, termasuk flora dan fauna dan lokasi-lokasi situs geopark Belitong. Yang saya notice adalah tarsius Belitong, masyarakat Belitung menyebutnya dengan pelile'an. Primata kecil yang jadi ikon dari Belitung ini, ternyata juga ada di Natuna. Yap, tarsius di Natuna baru ku dengar ceritanya dari seorang teman penggiat primata di Natuna, ditemukan di Pulau Subi dengan nama ilmiah Tarsius bancanus natunensis. Sebab nama ilmiahnya terdapat unsur Natuna, kemungkinan besar ia merupakan binatang endemik, seperti Kekah Natuna (Presbytis natunae).
Pelile'an atau Tarsius Belitung yang memiliki nama ilmiah Tarisus bancanus saltator ini adalah salah satu dari keragaman hayati di Belitong UGGp. Primata nokturnal ini bahkan ada dalam beberapa logo dan branding Belitong. Kesamaan yang kesekian kalinya antara Natuna dan Belitong ku dapati.
---bersambung---
Monday, April 10, 2023
Pertama ke Subi: Tur Singkat, Pra Ekspedisi
Subi, satu dari banyaknya kecamatan di kabupaten Natuna ini yang menjadi target untuk saya datangi. Letaknya berada di sebelah tenggara pulau Bunguran, pulau dimana aku berada. Jika melihat peta, Subi merupakan pulau kedua terbesar di wilayah Natuna setelah pulau Pulau Bunguran. Dan menurut jadwal kapal yang aku tumpangi, perjalanan dari pulau Bunguran ke Subi kurang lebih memakan waktu 5 jam. Waktu tempuh ini bisa berubah-ubah tergantung pada pelabuhan tempat berangkat, cuaca, dan jenis kapal yang digunakan.
Perjalanan perdanaku ke pulau Subi ini dengan menaiki Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Bahtera Nusantara 01. Kapal roro milik PT. ASDP yang baru sekitar 2 tahun beroperasi menyambung pulau-pulau di Natuna ini berangkat dari Pelabuhan Tanjung Payung di Penagi pukul 7.30. Melewati laut di sisi Bunguran Selatan hingga gugusan pulau Tiga, kapal roro ini melaju membelah lautan hingga sampai di pelabuhan Subi pada pukul 12.30.
![]() |
| Roro "ngetem" di Penagi |
Dermaga Subi memanjang sekitar 2 km dari bibir pantai, ini disebabkan pulau Subi dikelilingi karang dan laut dangkal sehingga tidak memungkinkan kapal-kapal besar untuk mendekat. Setelah turun dari kapal, saya langsung menuju penginapan, diantar oleh Memet, adik teman sekolahku yang kebetulan bertugas di pulau ini.
Kecamatan Subi terdiri dari banyak pulau, khas daerah kepulauan. Pulau-pulau besar di Kecamatan Subi adalah Pulau Subi Besar dan Pulau Subi Kecil yang dipisahkan oleh Selat Nasi. Kecamatan Subi memiliki 6 Desa, 2 Desa di Pulau Subi Besar, dan 4 Desa di Pulau Subi Kecil. Pusat pemerintahan dan keramaian berada di Pulau Subi Kecil, sebuah pulau yang merupakan satu dari tujuh pulau terluar NKRI yang dimiliki Natuna.
Pulau Subi ini tidak memiliki gunung, kontur buminya cenderung datar. Itu sebabnya selama perjalanan di kapal tadi agak sulit untuk menemukan pulau ini dari kejauhan karena tidak ada daratan yang "menonjol" di tengah laut yang bisa dilihat. Titik tertinggi Kecamatan Subi ini kemungkinan setinggi sekitar 10 mdpl dan berada di sebelah utara pulau Subi Kecil. Di tempat tersebut berdiri kokoh mercu suar, yang oleh warga sekitar disebut dengan gunung lampu.
Meski baru pertama menginjakkan kaki di pulau ini, namun pencarian informasi tentang Subi sudah lama ku lakukan, baik itu lewat buku, cerita-cerita teman sampai dari internet. Jadi kedatangan ke sini (selain melaksanakan dinas kantor), adalah langsung menuju ke lokasi-lokasi hasil "riset" singkatku dulu, ditambah informasi on the spot yang ku dapatkan.
Setelah menyelesaikan tugas wajib pekerjaan, aku mulai mengeksplorasi Subi. Fokusnya adalah seputar kebudayaan dan sejarah, sesuai dengan kompasbenua, komunitas yang kami dirikan dulu. Aku ditemani Dirga, pemuda Subi teman diskusi malam sebelumnya, dan juga Memet.
Tujuan pertama kami adalah Keramat Siti Balkis. Keramat Siti Balkis terletak di Pulau Subi Besar, sebelum Pos AL. Komplek keramat Siti Balkis terdiri dari beberapa kuburan dengan nisan besar dan kuburan-kuburan tua lainnya dengan nisan kecil. Nisan-nisan besar ini terbuat dari bebatuan karang, antaranya terdapat tulisan di nisan dengan tulisan arab. Namun sudah sulit untuk membacanya, hanya beberapa saja yang masih terlihat dan bisa dibaca. Nisan-nisan kecil pada kuburan yang lain terbuat dari batu granit, berbagai ukuran. Nisan batu granit serupa banyak ditemukan di wilayah Natuna yang lain, seperti di Bunguran Besar dan pulau Midai. Beberapa sumber mengatakan bahwa nisan granit ini dibuat di Temasik (Singapura saat ini), namun perlu data akurat yang lebih untuk kebenaran hal ini, sebab belum saya temukan batuan granit di Pulau Subi ini. Kalaupun ada, tidak pula ditemukan lokasi percetakan batu nisan tersebut di pulau ini.
![]() |
| Situs Keramat Siti Balkis |
Selanjutnya kami menuju situs kuburan tua yang lain, masih di Pulau Subi Besar, tak jauh dari pelabuhan. Nisan granit ini yang mencuri pandanganku ketika tiba di Subi kemarin siang. Ada beberapa nisan granit di kuburan ini, di dekatnya ada semacam pondasi bangunan yang sudah roboh. Hal serupa juga pernah kami temukan di Sekalong, Kecamatan Bunguran Timur Laut tahun lalu. Tak jauh dari kuburan tua tersebut, juga terdapat komplek pemakaman yang lain. Hanya saja, banyak nisan yang hancur, disebabkan makam-makam ini berada di bawah pohon kelapa, sehingga buah dan lighang (daun kelapa) yang jatuh mengenai makam dan merusaknya.
![]() |
| Situs Makam di Dekat Pelabuhan |
Perjalanan kami berlanjut ke Pulau Subi Kecil, menuju ke lokasi perigi butul, sebuah mata air di daerah Aek Genak, Pulau Subi Kecil. Mata air ini digunakan oleh masyarakat sekitar untuk berbagai kebutuhan sehari-sehari, mulai dari mencuci, mandi, dan air minum. Tak jauh dari perigi butol, di daerah Asek Singkap juga terdapat pemakaman tua, terlihat dari nisannya yang juga terdiri dari batuan karang dan batuan granit.
Selanjutnya kami menuju pemakaman tua yang lain, yang oleh orang sekitar disebut dengan kuburan Tok Kunde. Pemakaman ini sama seperti keramat Siti Balkis di Pulau Subi Besar, yakni terdiri dari beberapa kuburan besar dengan nisan batuan karang, dan kuburan lainnya dengan nisan yang lebih kecil dari batuan granit. Tak jauh dari kuburan tua ini, berjarak sekitar 100 meter, juga terdapat "komplek" pemakaman yang lain dengan model yang sama, masyarakat setempat menyebutnya kuburan Tok Uso. Di sini terdapat makam dengan nisan yang besar dan dikelilingi oleh makam-makam dengan nisan kecil di sekitarnya. Pada beberapa nisan besar masih terdapat tulisan yang lagi-lagi sudah agak susah dibaca.
![]() |
| Situs Tok Kunde dan Tok Uso |
Perjalanan kami berlanjut, kali ini mengarah ke utara, menuju Keramat Darah Putih. Sebuah kuburan tua yang dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai kuburan seorang syaikh penyebar agama Islam di Pulau Subi. Keramat Darah Putih dijadikan lokasi wisata religi yang kerap didatangi baik oleh masyarakat Subi maupun yang datang dari luar. Di samping Keramat Darah Merah terdapat beberapa makam tua bernisan besar seperti pada tempat yang lainnya, makam ini sudah tertutup semak belukar. Tak jauh dari Keramat Darah Putih juga terdapat kuburan-kuburan tua lain bernisankan batuan karang dan batuan granit, lagi-lagi tulisan arab pada beberapa nisan ini tak dapat saya baca.
![]() |
| Keramat Darah Putih dan makam2 tua di sekitarnya |
Di Subi juga masih banyak terdapat rumah-rumah dengan arsitektur tua. Sebagian besar ada yang sudah roboh sebagian, dan yang lain masih ditempati oleh si pemilik rumah. Rumah arsitektur melayu ini banyak ditemukan di Pulau Subi Kecil. Selain itu kami juga menyempatkan diri untuk bertanya ke beberapa narasumber terkait sejarah dan budaya Pulau Subi, beberapa sudah terekam, sisanya seperti mengisayaratkan seperti "au mang pelu gi Subi agik".
![]() |
| Bersama guide (bawah), dan narasumber (atas) |
Selain "kaya" akan makam-makam tua, Subi juga memiliki peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah tersebut beruba lapangan terbang yang hampir dioperasikan pada masa penjajahan Jepang tahun 1942-1945 lalu. Kini di area tersebut sudah tertutup tumbuh-tumbuhan dan dipasang plang milik TNI AU yang juga sudah roboh.
Tur setengah hari di Subi kali ini begitu mengesankan, Subi luar bisa. Hal ini menyisakan beberapa pertanyaan, seperti bagaimana Subi pada masa lampau, siapa "penghuni" makam-makam tua di Subi, siapa Keramat Darah Putih, siapa Siti Balkis, apa lagi peninggalan Jepang selain bandara yang ditinggalkan, dan masih banyak lagi. Untuk itu, kiranya memang perlu diadakan ekspedisi budaya dan sejarah dan penelitian lebih lanjut untuk menjawab ini semua: Ekspedisi Budaya Subi.
Thursday, March 2, 2023
Mengunjungi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Dari Sejarah Hingga Karya Fenomenal
Menjadi kebiasaan yang kubuat sendiri, bilamana ke suatu tempat minimal harus mengunjungi tempat bersejarahnya. Baik itu situs, ataupun museum. Nah kali ini, "targetnya" adalah museum di Kota Tanjungpinang: Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.
![]() |
| Ruang Depan Museum |
Meski sering wara-wiri di Tanjungpinang, museum ini sering kali terlewatkan, ada saja kendalanya. Padahal letaknya yang berada di pusat kota seharusnya tiada alasan untuk tidak ke sini. Dulu pernah sudah sampai masuk gerbang, tapi museumnya tutup, lalu ketika museumnya buka, kitanya yang gak mood. Ya gitu deh ya.
Kemarin, dengan tekad kuat yang sudah terkumpul, akhirnya sampai juga ke museum kebanggan kota ini. Kali ini diriku tak sendiri, ada junior dan mamake yang nemenin. So, song ite explore!
Museum ini terletak di jalan Ketapang no 2 Kemboja, di dekat area pasar lama, pusat keramaian di Tanjungpinang. Lokasinya juga berdekatan dengan GOR Kaca Puri, Masjid Agung Al-Hikmah, pelabuhan penyeberangan dan kawasan wisata kota taman tepi laut.
Nama museum ini diambil dari nama Sultan yang pernah memerintah Kerajaan Riau Johor Pahang Lingga yakni Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Ia memerintah pada tahun 1722 - 1760 yang pusat kerajaannya terletak di Sungai Carang (wilayah Kota Tanjungpinang saat ini).
Gedung dari museum ini merupakan bekas sekolah dasar masa penjajahan yang bernama Hollan Indische School (HIS) pada tahun 1918. Ia berganti nama menjadi Futsuko Gakko kala Jepang menginvasi Nusantara pada 1942-1945, lalu berganti menjadi sekolah rakjat dan menjadi SD 01 hingga tahun 2004. Atas dasar nilai sejarah yang dimilikinya, gedung ini direkomendasikan menjadi museum oleh pemerintah kala itu.
Pada bagian luar museum terdapat meriam dan miniatur gedung. Kami berfoto sejenak di liuar, sebab di ruang depan sedang ada kunjungan dari siswa-siswi sekolah. Setelah mengisi buku tamu, kami masuk ke ruangan museum.
Ruang utama berisi beragam peninggalan sejarah, mulai dari uang logam hingga perkakas kerajaan. Pada dinding-dinding museum tersaji informasi mengenai sejarah masuknya islam di Riau juga peninggalan zaman kolonial seperti senjata dan helm perang. Terus berjalan hingga ke belakang tersaji foto-foto sejarah masa lalu dimana kunjungan kepala negara hingga foto pemimpin-pemimpin di Kota Tanjungpinang.
Koleksi teknologi tempo dulu juga menghiasi isi museum di gedung utama ini. Di bagian akhir, kita akan disusguhkan dengan manuskrip-manuskrip tua serta karya sastra fenomenal Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang sangat mendunia itu.
Di sini langkahku terhenti, mencoba membaca dalam-dalam beberapa bait syair dari sang maestro ini. Decak kagum dan rasa bangga memenuhi dada, membaca syair yang sarat makna juga pesan moral yang begitu universal. Orang-orang zaman dahulu sudah sebegini luar biasanya dalam bersastra. Masya Allah. Semoga Allah merahmati Raja Ali Haji yang juga sudah dinobatkan sebagai pahlawan nasional di republik ini.
Sumber :
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/jejak-sejarah-sultan-sulaiman-badrul-alamsyah-i-1722-1760/
https://gokepri.com/berwisata-sejarah-di-museum-sultan-sulaiman-badrul-alamsyah/
Sunday, February 12, 2023
Kenalan Dengan "Saudara-saudara" Tenis Lapangan
![]() |
| Soft Tennis, sumber |
![]() |
| Touch Tennis, sumber |
![]() |
| Squash, sumber |
![]() |
| Pickleball |
![]() |
| Padel |
![]() |
| Tenis Pantai |
![]() |
| Royal Tennis, sumber |
![]() |
| Sphairistike |
![]() |
| Badminton, sumber |
Monday, November 21, 2022
Cerita Tenis Lapangan: Perkembangan Tenis Lapangan di Natuna
![]() |
| Bekas Lapangan Tenis di Simpang Empat, Kota Ranai |
Di Pulau Bunguran Besar, giat tenis semakin terlihat. Seiring berjalannya waktu, lapangan tenis kian bertambah dengan dialihfungsikannya lapangan voli di SMPN 1 menjadi lapangan tenis, dan lapangan tenis di Lanud Ranai (Bandara).
Saat ini, lapangan di Simpang Empat sudah beralih fungsi menjadi lapangan basket dan lapangan voli, dan lapangan SMPN 1 kembali menjadi lapangan bola voli dan bola basket yang digunakan siswa-siswi SMPN 1 untuk berolahraga.
Tenis di Natuna semakin berkembang, dengan dibangunnya beberapa sarana pendukung dan juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada tahun 2017, seiring dengan diresmikannya Komposit Gardapati di Natuna, di dalam komplek satuan TNI AD yang beralamatkan di Desa Sepempang ini juga dilengkapi lapangan tenis.
Friday, November 18, 2022
Cerita Tenis Lapangan: Masuknya Tenis ke Natuna dan Perkembangannya
Setelah terbentuk pada tahun 1935, PELTI dengan segala lika-liku perjalanannya telah melewati berbagai masa. Mulai dari pengaruh kolonial Belanda, tidak aktif dimasa Jepang, hingga perjuangan menghidupkan kembali pada masa pasca kemerdekaan. Semua dilalui PELTI dengan teguh dan pantang menyerah, sesuai dengan slogan pada logonya: PANTANG SURUT. Pelti terus mengembangkan program kerjanya dalam mengenalkan tenis ke seluruh pelosok Nusantara.
Dan itu terbukti dengan banyaknya atlet-atlet tenis di luar Jawa yang ikut serta dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung sejak tahun 1948 di Solo. Masa keemasan tenis Indonesia pada kurun 1968 hingga 1987 berimbas juga pada penyebaran olahraga ini di pelosok tanah air. Tak terkecuali di Natuna, sebuah kepulauan di ujung utara Republik ini.
Tenis diperkirakan masuk ke Natuna pada tahun 1970an, ia kemungkinan besar dibawa oleh para pekerja minnyak dan gas pada awal mula eksplorasi di laut Natuna ini berlangsung. Tahun 1960-1980 merupakan tahun-tahun dimana eksplorasi migas besar-besaran dilakukan di laut Natuna setelah ditemukannya cadangan hidrokarbon yang besar di perairan sebelah barat kepulauan itu.
Dalam kurun waktu 1970an itu pula, beberapa pulau di Natuna mendapat kunjungan tamu dari luar, baik dari pusat maupun negara asing. Ada yang tinggal dalam beberapa waktu, ada pula yang sebentar seperti melakukan perjalanan dinas kerja. Orang-orang dari luar inilah kemungkinan yang berperan besar dalam membawa tenis lapangan ke Natuna.
Lapangan tenis pertama di Natuna ada di pusat kota Ranai, tepatnya di dekat Simpang Empat. Lapangan tenis ini berjumlah dua buah dan terbuat dari semen. Menurut keterangan papa saya, Noorhidayat (Buyung), tahun 1970an ia sudah menjadi ballboys ketika ayahnya (kakek saya) bermain tenis dengan bule di lapangan tersebut. Raketnya yang digunakan masih berbahan kayu. Daerah tersebut memang merupakan pusat olahraga sekaligus pusat hiburan, karena di sebelahnya juga terdapat lapangan bola dan gedung pertemuan yang digunakan dalam berbagai acara.
![]() |
| Bekas Lapangan Tenis di SMP Negeri 1 Bunguran Timur |
Tenis
lapangan lambat laun mendapat tempat di hati masyarakat Natuna
khususnya di Ranai dan sekitarnya. Pada tahun 1980an ada dua lapangan
tenis tambahan yang dibangun, yang pertama di dekat SMPN 1 Bunguran
Timur, papa menceritakan bahwa lapangan tenis ini berasal dari lapangan
voli yang dialihfungsikan. Lalu yang kedua adalah di pangkalan udara TNI
AU, lapangan ini dibuat oleh TNI AU dan perusahaan minyak (yang saat
itu memiliki basecamp di hangar LANUD Ranai). Belum diketahui yang mana terlebih dahulu dibangun antara dua lapangan ini.
Seiring berjalannya waktu, tenis mendapat perhatian dari pemerintah. Ini terlihat dengan dibangunnya lapangan tenis pemda Natuna di kawasan Batu Kapal. Karena lokasi yang dekat dengan kota, lapangan tenis ini menjadi tempat lokasi favorit baru bagi para pecinta tenis. Sehingga lahir komunitas tenis yang diberi nama Natuna Tennis Community.
![]() |
| Lapangan Tenis Batu Kapal |
Giat tenis di lapangan pemda (selanjutnya lebih akrab dengan sebutan Lapangan Tenis Batu Kapal) ini semakin berkembang. Tak hanya sebagai ajang melepas hobi bagi para pemain dewasa, namun juga membuka kesempatan latihan bagi petenis muda untuk regenerasi kedepannya. Bahkan tenis junior Natuna pernah ikut serta dalam ajang Batam Tennis Junior Open pada tahun 2005. Dan pada tahun yang sama, salah satu atlet tenis junior Natuna menjadi delegasi kontingen Provinsi Kepulauan Riau (kontingen peninjau) dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2005 di Medan.
Saya kembali mengingat, kala itu masih kelas 3 SD, papa mengajak saya ke lapangan tenis, bermain, dan kemudian dilatih oleh bang Yanto, lalu dilanjutkan oleh bang Udin. Pertengahan taun 2000an, Pengkab Pelti Natuna mendatangkan pelatih tenis junior nasional asal Pontianak, bapak Zulkarnain (pak Jul) untuk melatih para petenis junior Natuna.
Latihan intens mulai dilakukan oleh pak Jul, metode pelatihan yang menyenangkan menarik banyak peminat petenis muda. Sayang, program ini tak bertahan lama. Pak Jul kembali ke Pontianak. Kepelatihan Tenis dilanjutkan oleh pak Rahman (alm), bang Kas, coach Nyat (Jamiat), dan lain-lain.
Kian hari, tenis di Natuna semakin banyak peminatnya, ia datang dari berbagai kalangan. Lalu, agar terciptanya wadah tempat para petenis ini bernaung, akhirnya dibentuklah Pengurus Kabupaten (Pengkab) PELTI Natuna dengan ketua pertamanya Darmansyah (alm). Pengurus PELTI pertama ini banyak melakukan kegiatan-kegiatan seperti tur persahabatan dengan Pengurus Kota (Pengkot) PELTI Pontianak, Kalimantan Barat, ikut serta dalam berbagai lomba tingkat provinsi, bahkan sampai ke negeri jiran, dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, pembinaan atlet muda juga terus dilakukan.
![]() |
| Tim Tenis Natuna pada Porprov Kepri 2022 di Bintan |
Tenis Natuna juga ambil bagian dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau, dari edisi pertama tahun 2006, hingga yang ke V di tahun 2022 ini. Meski dengan prestasi yang naik turun, namun tenis Natuna sudah bisa unjuk gigi dalam beberapa ajang perlombaan.
Ketua
PELTI kedua adalah bapak Kamaruddin, yang menjadi plt Ketua Umum
setelah bapak Darmansyah meninggal dunia. Lalu dilanjutkan dengan bapak
Marsidi yang menjadi ketua Pengkab PELTI Natuna hingga tahun 2020.
Tampuk kekuasaan Pengkab PELTI Natuna berpindah dari bapak Marsidi ke
bapak Iskandar Dj, sayang baru beberapa hari menjabat, beliau wafat
secara mendadak karena serangan jantung. Ketua Umum Pengkab PELTI Natuna
selanjutnya dipegang oleh Daeng Ganda Rahmatullah untuk periode
2020-2025.
![]() |
| Pelantikan Penkab PELTI Natuna 2020-2025 |
Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.
Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...
-
Negara Indonesia ini terdiri dari ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing pulau memiliki ciri khas tersendi...
-
Assalamu'alaikum. Pada kesempatan kali ini saya ingin posting tentang perusahaan-perusahaan migas yang beroperasi di Natuna. Sebagaiman...
-
Hari ini merupakan hari pergantian tahun untuk kalender masehi, boleh dibilang tidak ada yang istimewa dihari ini. Hanya saja saya sudah me...



.jpeg)
.jpg)









.jpg)


.jpg)
.jpg)
















.jpg)

.jpg)