Sunday, July 9, 2023

Belitong: Sejarah dan Budaya

Keindahan alam yang ada di Geopark Belitong selalu memantik rasa penasaranku. Setelah tadi pagi landing di bandara H.A.S. Hananjoeddin, aku dan peserta lain langsung menuju ke beberapa lokasi dalam rangkaian kegiatan UGG Youth Marine Camp. Sepanjang perjalanan aku kerap memperhatikan sekitar. Belitong, memang tak jauh beda dengan Natuna. Bentang alam, daerah pesisir, pulau-pulau dan granit, budaya, dan tempatnya hampir sama dengan Natuna. Hanya dalam segi infrastruktur, Belitung sudah jauh di depan. 
Perjalanan sebelum ini
Rumah Limas, Tanjung Kelayang hingga Pusat Informasi Geologi (PIG) adalah beberapa tempat yang kami kunjungi dari pagi hingga sore ini. Sebenarnya menurut rundown yang dibagi panitia, ada beberapa tempat yang seharusnya dikunjungi sebelum ke PIG, namun berubah karena sesuatu dan lain hal, hal yang sangat biasa terjadi dalam sebuah acara besar.

Setelah dari PIG, perjalanan kami berlanjut ke geosite Open Pit Nam Salu, sebuah lokasi bekas tambang timah yang sudah ditinggal lama. Bekas galian tambang ini membuat lapisan bebatuan jelas terlihat. Sehingga menjadikan geosite Open Pit Nam Salu sebagai objek penelitian geologi dan situs Geopark Belitong.
Open Pit Nam Salu dengan pemandangan Bukit Mulong
Nam Salu berasal dari bahasa Cina Haka (kalangan Cina pekerja). Nam berarti selatan, sedangkan salu berarti jalur. Situs tambang Nam Salu pada masa jayanya merupakan situs tambang timah besar. Sudah beroperasi selama 150 tahun hingga berhenti pada tahun 1928.

Dari Open Pit Nam Salu, kita bisa melihat alam pulau Belitung, perbukitan dan hutan. Bukit Mulong tampak indah di kejauhan, yang sering disebut dengan "jalur tengah", sebab Bukit Mulong terletak di perbatasan antara Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Uniknya tour guide pada kunjungan kali ini adalah warga lokal yang dibantu oleh pelajar tingkat SMP dan SMA. Ternyata hal ini masuk dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah mereka. Betapa besar dukungan pemerintah dalam pengembangan Geopark, hampir segala sektor digerakkan dalam mendukung upaya menjaga kelestarian bumi, baik untuk pendidikan, penelitian, hingga peningkatan ekonomi lokal. Sejatinya, inilah yang menjadi tujuan suatu kawasan ditetapkan sebagai tamanbumi atau geopark.

Setelah dari Geosite Open Pit Nam Salu, kami kembali ke meeting point, di sana dibagikan minuman khas lokal, saya lupa namanya, namun rasanya yang asam-asam manis dan segar itu cocok sebagai pengganti letihnya medan menanjak dan menurun dari dan ke geosite tadi, lalu para peserta juga diberikan souvenir oleh panitia.

Matahari perlahan mulai masuk dalam peraduannya, ketika bus yang kami tumpangi melaju ke tujuan berikutnya. Sebuah komplek rumah dinas tua, kemungkinan bekas dari PN. Timah yang dulu pernah berjaya. Rumah dinas yang barangkali sudah berumur puluhan tahun ini tak begitu besar, arsitekturnya khas Belanda. Di sini aku kembali bertemu dengan beberapa kawan yang baru datang menyusul, beberapa teman yang dulu bersama-sama dalam kegiatan UGG Youth Seminar and Camp di Batur UGGp. Agenda malam ini adalah makan malam, namun bukan makan sembarang makan. Panitia mengkonsep kegiatan ini dengan "memaksa" peserta untuk menjadi melayu Belitong: makan bedulang.

Makan bedulang merupakan salah satu tradisi melayu Belitong, dimana hal ini sering disajikan dalam acara-acara besar seperti kenduri, do'a selamat hingga pernikahan. Dulang merupakan wadah besar, seperti talam. Lauk pauk diletakkan di dalam dulang untuk disajikan kepada tamu, biasanya satu dulang untuk empat porsi atau empat orang. Sudah lengkap dengan nasi, air, hingga makanan ringan penutup. Makan bedulang sama dengan yang ada di Natuna, konsepnya juga sama, hanya pengucapannya saja yang sedikit berbeda, tergantung pada daerahnya. Masyarakat Bunguran Timur lama menyebutnya makan beduluong, sementara masyarakat pulau Sedanau dan gugusan Pulau Tiga menyebut makan bedulong. Sedangkan di Midai disebut makan bedulang, dan masyarakat Kelarik disebut makan bedulueng.
menu makan bedulang
Kesamaan ini semakin menambah "daftar kembar" antara Natuna dan Belitong. Baik secara alam dan budaya, yang ku yakin akan bertambah seiring perjalananku pada hari-hari berikutnya di bumi laskar pelangi ini.

Setelah makan bedulang, peserta menuju ke hotel untuk menginap dan persiapan menuju agenda esok hari.

Saturday, July 8, 2023

Belitong: Kali Pertama dan Tentang Kesamaan

Belitong, pulau ini terletak di selat Karimata, sebuah selat yang menghubungkan antara Sumutera dan Kalimantan. "Perkenalanku" dengan Belitong ini sudah lama. Sering melihat atlas, dan peta dunia, termasuk Indonesia pada waktu kecil membuatku tahu sedikit tentang Belitung yang kala itu merupakan bagian dari Sumatera Selatan. Perkenalan selanjutnya dengan pulau ini lewat sebuah film fenomenal, hasil adaptasi dari best seller novel karya Andrea Hirata dengan judul yang sama: Laskar Pelangi.

Film yang menceritakan tentang kegigihan dan kecerdasan guru-guru dan siswa-siswi lokal di SD Muhammadiyah itu, juga menampilkan keindahan alam pulau yang kaya dengan hasil bumi ini. Pasir putih dan granit besar yang menjadi ciri khas alam Belitung. 

Pantai dan batuannya sama dengan tempatku, Natuna.

Hal tersebut tentu saja menambah rasa penasaranku tentang pulau yang indah ini. Sehingga pulau Belitong yang saat ini sudah memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Selatan dan membentuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini menjadi target untuk ku datangi.

Terlebih Pulau Belitong ditetapkan menjadi kawasan Geopark Nasional dan 2020 resmi menyandang status global dari UNESCO. Geopark, sesuatu yang kelak membawaku sampai ke pulau ini. Geopark Belitong terletak di Pulau Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kawasannya berada di dua kabupaten yakni Belitung dan Belitung Timur. 

Yap saya tidak salah tulis antara O dan U dalam penyebutan Belitung/Belitong. Secara administrasi, nama dua kabupaten memang menggunakan U, yakni Belitung dan Belitung Timur. Namun dalam ejaan bahasa melayu tempatan, Belitung disebut dengan Belitong, sesuai dengan tujuan Geopark yang memasukkan unsur budaya di dalamnya, sehingga penamaan resmi geopark pada kawasan ini mengambil dialek lokal: Belitong.

Gayung bersambut, kegiatan Pemuda Geopark di Geopark Belitong yang mulai digaungkan pada mei lalu seakan menjadi "batu pijakan". Setelah semua perkara selesai (baca: administrasi, ikut seleksi dari panitia dan ketersediaan dana dari sponsor dan pemerintah), aku bersama seorang teman dari Natuna berangkat menuju Pulau Laskar Pelangi ini. 

Burung besi membawa kami dari Natuna menuju Jakarta via Batam, dan Soekarno Hatta menjadi titik kumpul para peserta yang datang dari berbagai wilayah di Jawa untuk sama-sama berangkat ke Belitong esok paginya. Punya waktu sekian jam di bandara membuat ku memilih untuk ngemper di bandara sambil menunggu kedatangan rekan-rekan yang lain dengan bermodalkan chat di WA group yang sudah dibuat beberapa hari lalu.

bersama rekan dari (calon geopark di) Bali

Bali, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan dan Jogja merupakan asal dari peserta-peserta yang membuat janji untuk bertemu dan kebetulan berada pada satu penerbangan yang sama rute Jakarta - Belitong. Tidur di kursi-kursi ruang tunggu bandara adalah hal yang kami lakukan sembari menunggu lengkapnya teman-teman lain yang datang. 

Dini hari, rekan-rekan sudah berkumpul di gate keberangkatan sambil menunggu jadwal penerbangan. Jakarta - Belitong hanya memerlukan satu jam penerbangan karena jarak yang memang tak begitu jauh. Cuaca cerah dari Jakarta, namun tidak ketika tiba di H.A.S. Hanandjoeddin International Airport Belitung, hujan mengguyur bumi Laskar Pelangi tersebut.

Sembari menunggu kedatangan peserta yang lain dengan penerbangan berbeda, kami sejenak istirahat, mengisi perut yang memang belum diisi pagi ini. Silih berganti pesawat landing di bandara, membawa beberapa peserta yang ku kenal wajahnya, tak asing, sebab sudah bertemu pada kegiatan Pemuda Geopark di Batur UGGp tahun lalu. Reuni kecil-kecilan ceritanya.

Touchdown Belitong!

Setelah semua peserta lengkap, bis penjemput yang sedari tadi sudah standby di parkiran bandara mulai berjalan, mengantarkan kami ke banyak tujuan. Acara sudah di mulai per hari ini.

Tujuan pertama adalah rumah adat melayu Belitong. Rumah adat ini sama seperti rumah-rumah adat melayu pada umumnya: rumah panggung. Rumah yang disebut dengan Rumah Limas ini terdiri dari beberapa bagian, bagian pertama yaitu bagian teras rumah, tempat tamu pertama kali masuk. Lalu yang kedua adalah ruang utama atau ruang tamu, tersedia dua kamar tidur di sini. Di ruang ini juga ditampilkan beberapa pernak pernik hantaran pernikahan adat melayu Belitong, dan di dinding-dindingnya terdapat foto Belitong tempo dulu.

Bagian berikutnya adalah dapur atau bagian belakang, antara bagian utama dan bagian belakang dihubungkan dengan penghubung seperti jembatan yang disebut dengan los. Di ruang belakang ini terdapat alat-alat dapur tradisional, juga terdapat alat-alat bertani dan melaut. Terpisah dari rumah induk, ada bangunan kecil di belakang yang disebut dengan pondok. Kata pemandu, itu semacam gudang untuk menyimpan kayu bakar, toilet berada di belakang pondok tersebut.

Rumah Limas, Belitong

Saya tertarik dengan dokumentasi foto-foto lama di dinding ruang tamu. Gaya melayu tempo dulu dan stempelnya mirip juga dengan stempel tempo dulu yang ada pada koleksi foto-foto lama yang ada di Natuna. Pernak-pernik pernikahan juga hampir sama dengan yang ada pada melayu Natuna. Bagian dapur terdapat beberapa alat tradisional yang ada kaitannya dengan bertani, ada lesung seperti seni tradisi di Natuna: lesung alu. Dan mereka menyebutnya Lesung dan Lumpang. Ada juga gerobak tradisional yang mereka sebut dengan liu-liu. Pada perayaan hasil tani, masyarakat Belitong mengenal istilah marastaun, yakni sebuah perayaan panen padi yang dahulu dirayakan di tiap-tiap desa.

Setelah dari rumah limas, perjalanan kami berikutnya menuju ke Pantaii Tanjung Kelayang untuk beristirahat dan makan siang. Di Tanjung Kelayang, semua peserta kegiatan berkumpul. Peserta dari UNESCO Global Geopark Youth Marine Camp, dan peserta The 11th ASEAN Summit 2023 berkumpul di sini. Sebagai informasi, The 11th ASEAN Summit merupakan event bertemunya negara-negara ASEAN, dan Geopark Belitong menjadi salah satu tempat diselenggarakannya kegiatan tersebut, pemerintah memilih Belitong UGGp untuk menjadi host dalam kegiatan Running Into The Blue: Oceanic Adventure sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ASEAN Blue Economy Forum yang berlangsung di Belitung, 2-4 Juli 2023.

Peserta UGG Marine Youth Camp

Ini yang menjadi catatan saya: kegiatan kolaborasi. Semacam "aji mumpung" dalam melaksanakan kegiatan, dalam hal positif tentunya. Pemerintah menunjuk Belitong untuk menjadi tuan rumah kegiatan, dan Belitong UGGp mengambil kesempatan dengan berkolaborasi mengadakan kegiatan UGG Youth Marine Camp dengan skala internasional. Hal kolaborasi seperti ini yang mesti diterapkan, rangkaian kegiatan pada waktu yang sama. Kerja sama dalam event yang sekaligus besar. Hingga segalanya bisa dikerjakan bersama-sama. 

Di Pantai Tanjung Kelayang, kami istirahat untuk makan siang dan belanja pada stand-stand pameran yang sudah tersedia. Transaksi yang dilakukan dengan membeli kupon yang nanti akan di tukar dengan produk yang akan dibeli.

Trip masih berlanjut, kali ini tujuannya adalah Pusat Informasi Geologi (PIG) Belitung. Tarian selamat datang yang dibawakan oleh penari cilik menyambut kami dalam kunjungan ke PIG ini.

Seorang pemandu dengan ramah menjelaskan hal-hl yang ada dalam PIG, termasuk timah, sumber daya alam bumi Belitiung yang sudah diexploitasi selama kurang lebih 100 tahun. Sejak zaman kependudukan Belanda, timah Belitung dieksploitasi untuk kebutuhan persenjataan terutama pembuatan peluru. Proses pengambilannya mulai dari cara tradisional yang dikenal dengan ngelimbang, hingga cara yang modern kala itu.

Pusat Informasi Geologi Pulau Belitung

Selain timah, Belitung juga memiliki batu satam atau yang juga dikenal dengan batu meteorit. Ia tersebar di beberapa tempat di pulau ini. Nama satam diberi oleh penambang dari Cina, sa berarti batu, tam berarti empedu, batu satam memang memiliki ukuran yang cenderung kecil dan berwarna hitam, seperti empedu.

Selain unsur-unsur geologi, PIG juga menampilkan ragam potensi yang lain dari bumi Belitung, termasuk flora dan fauna dan lokasi-lokasi situs geopark Belitong. Yang saya notice adalah tarsius Belitong, masyarakat Belitung menyebutnya dengan pelile'an. Primata kecil yang jadi ikon dari Belitung ini, ternyata juga ada di Natuna. Yap, tarsius di Natuna baru ku dengar ceritanya dari seorang teman penggiat primata di Natuna, ditemukan di Pulau Subi dengan nama ilmiah Tarsius bancanus natunensis. Sebab nama ilmiahnya terdapat unsur Natuna, kemungkinan besar ia merupakan binatang endemik, seperti Kekah Natuna (Presbytis natunae).

Pelile'an atau Tarsius Belitung yang memiliki nama ilmiah Tarisus bancanus saltator ini adalah salah satu dari keragaman hayati di Belitong UGGp. Primata nokturnal ini bahkan ada dalam beberapa logo dan branding Belitong. Kesamaan yang kesekian kalinya antara Natuna dan Belitong ku dapati.


---bersambung---

Monday, April 10, 2023

Pertama ke Subi: Tur Singkat, Pra Ekspedisi

Subi, satu dari banyaknya kecamatan di kabupaten Natuna ini yang menjadi target untuk saya datangi. Letaknya berada di sebelah tenggara pulau Bunguran, pulau dimana aku berada. Jika melihat peta, Subi merupakan pulau kedua terbesar di wilayah Natuna setelah pulau Pulau Bunguran. Dan menurut jadwal kapal yang aku tumpangi, perjalanan dari pulau Bunguran ke Subi kurang lebih memakan waktu 5 jam. Waktu tempuh ini bisa berubah-ubah tergantung pada pelabuhan tempat berangkat, cuaca, dan jenis kapal yang digunakan. 

Perjalanan perdanaku ke pulau Subi ini dengan menaiki Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Bahtera Nusantara 01. Kapal roro milik PT. ASDP yang baru sekitar 2 tahun beroperasi menyambung pulau-pulau di Natuna ini berangkat dari Pelabuhan Tanjung Payung di Penagi pukul 7.30. Melewati laut di sisi Bunguran Selatan hingga gugusan pulau Tiga, kapal roro ini melaju membelah lautan hingga sampai di pelabuhan Subi pada pukul 12.30.

Roro "ngetem" di Penagi

Dermaga Subi memanjang sekitar 2 km dari bibir pantai, ini disebabkan pulau Subi dikelilingi karang dan laut dangkal sehingga tidak memungkinkan kapal-kapal besar untuk mendekat. Setelah turun dari kapal, saya langsung menuju penginapan, diantar oleh Memet, adik teman sekolahku yang kebetulan bertugas di pulau ini.

Kecamatan Subi terdiri dari banyak pulau, khas daerah kepulauan. Pulau-pulau besar di Kecamatan Subi adalah Pulau Subi Besar dan Pulau Subi Kecil yang dipisahkan oleh Selat Nasi. Kecamatan Subi memiliki 6 Desa, 2 Desa di Pulau Subi Besar, dan 4 Desa di Pulau Subi Kecil. Pusat pemerintahan dan keramaian berada di Pulau Subi Kecil, sebuah pulau yang merupakan satu dari tujuh pulau terluar NKRI yang dimiliki Natuna.

Pulau Subi

Pulau Subi ini tidak memiliki gunung, kontur buminya cenderung datar. Itu sebabnya selama perjalanan di kapal tadi agak sulit untuk menemukan pulau ini dari kejauhan karena tidak ada daratan yang "menonjol" di tengah laut yang bisa dilihat. Titik tertinggi Kecamatan Subi ini kemungkinan setinggi sekitar 10 mdpl dan berada di sebelah utara pulau Subi Kecil. Di tempat tersebut berdiri kokoh mercu suar, yang oleh warga sekitar disebut dengan gunung lampu.

Meski baru pertama menginjakkan kaki di pulau ini, namun pencarian informasi tentang Subi sudah lama ku lakukan, baik itu lewat buku, cerita-cerita teman sampai dari internet. Jadi kedatangan ke sini (selain melaksanakan dinas kantor), adalah langsung menuju ke lokasi-lokasi hasil "riset" singkatku dulu, ditambah informasi on the spot yang ku dapatkan.

Setelah menyelesaikan tugas wajib pekerjaan, aku mulai mengeksplorasi Subi. Fokusnya adalah seputar kebudayaan dan sejarah, sesuai dengan kompasbenua, komunitas yang kami dirikan dulu. Aku ditemani Dirga, pemuda Subi teman diskusi malam sebelumnya, dan juga Memet.

Tujuan pertama kami adalah Keramat Siti Balkis. Keramat Siti Balkis terletak di Pulau Subi Besar, sebelum Pos AL. Komplek keramat Siti Balkis terdiri dari beberapa kuburan dengan nisan besar dan kuburan-kuburan tua lainnya dengan nisan kecil. Nisan-nisan besar ini terbuat dari bebatuan karang, antaranya terdapat tulisan di nisan dengan tulisan arab. Namun sudah sulit untuk membacanya, hanya beberapa saja yang masih terlihat dan bisa dibaca. Nisan-nisan kecil pada kuburan yang lain terbuat dari batu granit, berbagai ukuran. Nisan batu granit serupa banyak ditemukan di wilayah Natuna yang lain, seperti di Bunguran Besar dan pulau Midai. Beberapa sumber mengatakan bahwa nisan granit ini dibuat di Temasik (Singapura saat ini), namun perlu data akurat yang lebih untuk kebenaran hal ini, sebab belum saya temukan batuan granit di Pulau Subi ini. Kalaupun ada, tidak pula ditemukan lokasi percetakan batu nisan tersebut di pulau ini.

Situs Keramat Siti Balkis

Selanjutnya kami menuju situs kuburan tua yang lain, masih di Pulau Subi Besar, tak jauh dari pelabuhan. Nisan granit ini yang mencuri pandanganku ketika tiba di Subi kemarin siang. Ada beberapa nisan granit di kuburan ini, di dekatnya ada semacam pondasi bangunan yang sudah roboh. Hal serupa juga pernah kami temukan di Sekalong, Kecamatan Bunguran Timur Laut tahun lalu. Tak jauh dari kuburan tua tersebut, juga terdapat komplek pemakaman yang lain. Hanya saja, banyak nisan yang hancur, disebabkan makam-makam ini berada di bawah pohon kelapa, sehingga buah dan lighang (daun kelapa) yang jatuh mengenai makam dan merusaknya.

Situs Makam di Dekat Pelabuhan

Perjalanan kami berlanjut ke Pulau Subi Kecil, menuju ke lokasi perigi butul, sebuah mata air di daerah Aek Genak, Pulau Subi Kecil. Mata air ini digunakan oleh masyarakat sekitar untuk berbagai kebutuhan sehari-sehari, mulai dari mencuci, mandi, dan air minum. Tak jauh dari perigi butol, di daerah Asek Singkap juga terdapat pemakaman tua, terlihat dari nisannya yang juga terdiri dari batuan karang dan batuan granit.

Selanjutnya kami menuju pemakaman tua yang lain, yang oleh orang sekitar disebut dengan kuburan Tok Kunde. Pemakaman ini sama seperti keramat Siti Balkis di Pulau Subi Besar, yakni terdiri dari beberapa kuburan besar dengan nisan batuan karang, dan kuburan lainnya dengan nisan yang lebih kecil dari batuan granit. Tak jauh dari kuburan tua ini, berjarak sekitar 100 meter, juga terdapat "komplek" pemakaman yang lain dengan model yang sama, masyarakat setempat menyebutnya kuburan Tok Uso. Di sini terdapat makam dengan nisan yang besar dan dikelilingi oleh makam-makam dengan nisan kecil di sekitarnya. Pada beberapa nisan besar masih terdapat tulisan yang lagi-lagi sudah agak susah dibaca.

Situs Tok Kunde dan Tok Uso

Perjalanan kami berlanjut, kali ini mengarah ke utara, menuju Keramat Darah Putih. Sebuah kuburan tua yang dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai kuburan seorang syaikh penyebar agama Islam di Pulau Subi. Keramat Darah Putih dijadikan lokasi wisata religi yang kerap didatangi baik oleh masyarakat Subi maupun yang datang dari luar. Di samping Keramat Darah Merah terdapat beberapa makam tua bernisan besar seperti pada tempat yang lainnya, makam ini sudah tertutup semak belukar. Tak jauh dari Keramat Darah Putih juga terdapat kuburan-kuburan tua lain bernisankan batuan karang dan batuan granit, lagi-lagi tulisan arab pada beberapa nisan ini tak dapat saya baca.

Keramat Darah Putih dan makam2 tua di sekitarnya

Di Subi juga masih banyak terdapat rumah-rumah dengan arsitektur tua. Sebagian besar ada yang sudah roboh sebagian, dan yang lain masih ditempati oleh si pemilik rumah. Rumah arsitektur melayu ini banyak ditemukan di Pulau Subi Kecil. Selain itu kami juga menyempatkan diri untuk bertanya ke beberapa narasumber terkait sejarah dan budaya Pulau Subi, beberapa sudah terekam, sisanya seperti mengisayaratkan seperti "au mang pelu gi Subi agik".

Bersama guide (bawah), dan narasumber (atas)

Selain "kaya" akan makam-makam tua, Subi juga memiliki peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah tersebut beruba lapangan terbang yang hampir dioperasikan pada masa penjajahan Jepang tahun 1942-1945 lalu. Kini di area tersebut sudah tertutup tumbuh-tumbuhan dan dipasang plang milik TNI AU yang juga sudah roboh.

Tur setengah hari di Subi kali ini begitu mengesankan, Subi luar bisa. Hal ini menyisakan beberapa pertanyaan, seperti bagaimana Subi pada masa lampau, siapa "penghuni" makam-makam tua di Subi, siapa Keramat Darah Putih, siapa Siti Balkis, apa lagi peninggalan Jepang selain bandara yang ditinggalkan, dan masih banyak lagi. Untuk itu, kiranya memang perlu diadakan ekspedisi budaya dan sejarah dan penelitian lebih lanjut untuk menjawab ini semua: Ekspedisi Budaya Subi.




Thursday, March 2, 2023

Mengunjungi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Dari Sejarah Hingga Karya Fenomenal

Menjadi kebiasaan yang kubuat sendiri, bilamana ke suatu tempat minimal harus mengunjungi tempat bersejarahnya. Baik itu situs, ataupun museum. Nah kali ini, "targetnya" adalah museum di Kota Tanjungpinang: Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.

Ruang Depan Museum

Meski sering wara-wiri di Tanjungpinang, museum ini sering kali terlewatkan, ada saja kendalanya. Padahal letaknya yang berada di pusat kota seharusnya tiada alasan untuk tidak ke sini. Dulu pernah sudah sampai masuk gerbang, tapi museumnya tutup, lalu ketika museumnya buka, kitanya yang gak mood. Ya gitu deh ya.

Kemarin, dengan tekad kuat yang sudah terkumpul, akhirnya sampai juga ke museum kebanggan kota ini. Kali ini diriku tak sendiri, ada junior dan mamake yang nemenin. So, song ite explore!

Museum ini terletak di jalan Ketapang no 2 Kemboja, di dekat area pasar lama, pusat keramaian di Tanjungpinang. Lokasinya juga berdekatan dengan GOR Kaca Puri, Masjid Agung Al-Hikmah, pelabuhan penyeberangan dan kawasan wisata kota taman tepi laut.

Nama museum ini diambil dari nama Sultan yang pernah memerintah Kerajaan Riau Johor Pahang Lingga yakni Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Ia memerintah pada tahun 1722 - 1760 yang pusat kerajaannya terletak di Sungai Carang (wilayah Kota Tanjungpinang saat ini). 

Gedung dari museum ini merupakan bekas sekolah dasar masa penjajahan yang bernama Hollan Indische School (HIS) pada tahun 1918. Ia berganti nama menjadi Futsuko Gakko kala Jepang menginvasi Nusantara pada 1942-1945, lalu berganti menjadi sekolah rakjat dan menjadi SD 01 hingga tahun 2004. Atas dasar nilai sejarah yang dimilikinya, gedung ini direkomendasikan menjadi museum oleh pemerintah kala itu.

Museum ini diresmikan pada tahun 2009 oleh walikota Tanjungpinang saat itu. Dalam perjalanannya, museum ini mengalami berbagai perubahan untuk mengikuti perkembangan zaman, namun tidak menghilang nilai aslinya.

Pada bagian luar museum terdapat meriam dan miniatur gedung. Kami berfoto sejenak di liuar, sebab di ruang depan sedang ada kunjungan dari siswa-siswi sekolah. Setelah mengisi buku tamu, kami masuk ke ruangan museum. 

Ruang utama berisi beragam peninggalan sejarah, mulai dari uang logam hingga perkakas kerajaan. Pada dinding-dinding museum tersaji informasi mengenai sejarah masuknya islam di Riau juga peninggalan zaman kolonial seperti senjata dan helm perang. Terus berjalan hingga ke belakang tersaji foto-foto sejarah masa lalu dimana kunjungan kepala negara hingga foto pemimpin-pemimpin di Kota Tanjungpinang.

Koleksi teknologi tempo dulu juga menghiasi isi museum di gedung utama ini. Di bagian akhir, kita akan disusguhkan dengan manuskrip-manuskrip tua serta karya sastra fenomenal Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang sangat mendunia itu. 

Di sini langkahku terhenti, mencoba membaca dalam-dalam beberapa bait syair dari sang maestro ini. Decak kagum dan rasa bangga memenuhi dada, membaca syair yang sarat makna juga pesan moral yang begitu universal. Orang-orang zaman dahulu sudah sebegini luar biasanya dalam bersastra. Masya Allah. Semoga Allah merahmati Raja Ali Haji yang juga sudah dinobatkan sebagai pahlawan nasional di republik ini.

Dari gedung utama saya berjalan menuju gedung sebelah yang berisi studio. Pada saat itu saya memilih untuk tidak masuk, selain karena si junior yang sudah menunjukkan gelagat tidak betahnya, ada pengunjung lain dari sekolah yang sudah memenuhi ruangan. Asyik juga belajar dengan turun langsung ke lapangan seperti ini.

Saya bergegas menuju ruang terakhir, di ruang ini, informasi tentang kebudayaan dipamerkan. Mulai dari tenun, potret kehidupan maritim, perkakas kehidupan sehari-hari, seni tradisi, permainan tradisional, hingga gambaran pakaian dan gambaran majelis pernikahan adat melayu. Semuanya tersaji di museum kebanggaan Kota Tanjungpinang ini. Setelah kiranya sudah mengeksplor seluruh ruangan (kecuali studio), rasa penasaran saya terbayarkan, dan saya bisa kembali pulang ke Ranai dengan tenang.






Sumber :
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/jejak-sejarah-sultan-sulaiman-badrul-alamsyah-i-1722-1760/
https://gokepri.com/berwisata-sejarah-di-museum-sultan-sulaiman-badrul-alamsyah/

Sunday, February 12, 2023

Kenalan Dengan "Saudara-saudara" Tenis Lapangan

Tenis Lapangan atau yang familier disebut dengan tenis merupakan salah satu olahraga populer di dunia dengan jutaan pemain dan penggemar. Olahraga dari Prancis yang awalnya dimainkan dengan tangan ini menjadi cepat berkembang dan berinovasi sejak awal dikenalkan dan menjadi terkenal sampai seperti saat ini.
Secara garis besar, tenis adalah olahraga yang menggunakan raket dan bola sebagai medianya, lalu dimainkan di atas lapangan dengan ukuran tertentu dan dipasangkan net di tengah-tengah sebagai indikator untuk skor atau poin dalam menghitung permainan. Seiring berkembangnya waktu dan dengan berbagai inovasi, olahraga yang menggunakan raket, tempat, dan net tak hanya "milik" tenis saja, ada beberapa olahraga lain yang hampir serupa dengan tenis. Berikut ini kita bahas satu persatu saudara-saudara tenis ini, yap!


1. Tenis Meja (Table Tennis)
Tenis Meja atau biasa yang disebut pingpong merupakan salah satu olahraga populer di Indonesia. Sesuai dengan namanya, tenis meja dimainkan di atas meja berukuran panjang 274 cm, lebar meja yaitu sebesar 152,5 cm, tinggi meja dari lantai yaitu 76 cm, dan tebal garis sisi yaitu sebesar 2 cm.
Tenis meja bisa dimainkan secara tunggal maupun ganda. Permainan ini menggunakan raket yang biasa disebut dengan bet, dan bola kecil. Di Indonesia tenis meja berada di bawah organisasi Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI). Jika mau kepo kegiatannya yang lain bisa kunjungi instagram ni di pp_ptmsi.

2. Soft Tennis (Tenis Lembut)
Soft Tennis merupakan olahraga yang dikembangkan dari tenis lapangan. Dan juga dimainkan diatas lapangan yang sama. Perbedaannya hanya pada raket, bola dan perhitungan.

Raket yang digunakan merupakan raket yang didesain khusus, meski secara kasat mata sama seperti raket tenis lapangan. Bola yang digunakan juga berbeda dengan bola tenis lapangan, bola dalam permainan soft tennis cenderung lembut (soft) dan bisa dipompa. Begitupun dengan perhitungan, jika dalam permainan tenis dihitung dengan 15, 30, 40 dan game, dalam soft tennis perhitungannya adalah 1, 2, 3 dan game.
Soft Tennis, sumber
Di Indonesia, sejauh ini belum kami temui organisasi yang membidangi Tenis Lembut (Soft Tennis) secara khusus, bisa jadi karena bermain pada lapangan yang sama, Tenis Sentuh ini masih berinduk pada organisasi Tenis yaitu PELTI dan instagramnya di tennis indonesia.

3. Touch Tennis (Tenis Sentuh)
Jika sepak bola punya futsal, maka tenis lapangan punya tenis sentuh atau touch tennis. Tenis Sentuh adalah tenis lapangan dengan versi yang kecil. Ukuran lapangan tenis sentuh adalah 12 m x 5 m untuk permainan tunggal, dan 12m x 6m untuk permainan ganda. Raket dan bola yang digunakan juga sedikit berbeda dari permainan tenis lapangan.

Tenis sentuh diciptakan oleh Rashid Ahmad pada 2002/2003 yang semula untuk menghibur putrinya di halaman rumah. Lalu akhirnya olahraga ini berkembang pesat dan dimainkan di banyak negara hingga saat ini.
Touch Tennis, sumber
Peraturan tenis sentuh juga tak jauh beda dengan tenis lapangan. Perhitungan skor 0, 15, 30, 40, game. Jika skor sama 40-40 maka diberlakukan golden point, yaitu yang mendapat poin pertama kali setelah 40-40 adalah pemenangnya. Tenis sentuh dimainkan dalam 4 game, dimana bila skor 4-4 akan dilakukan tie break.

Sama seperti tenis lembut, tenis sentuh masih bernaung di bawah organisasi Tenis yaitu PELTI dan instagramnya di tennis indonesia.

4. Skuas / Tenis Dinding
Olahraga skuas (squash) ini menurut saya merupakan olahraga unik. Tak seperti kebanyakan olahraga lain, dimana pemain akan berhadapan dengan lawannya. Namun pada skuas, pemain akan "berdampingan" dengan lawannya.

Secara umum, tenis dan skuas memiliki kesamaan yakni sama-sama dimainkan dengan menggunakan raket dan bola. Hanya saja skuas secara umum dimainkan pada lapangan berukuran kecil (9,75 m x 6,4 m) sehingga lapangan skuas biasa ditemui di pusat kebugaran dan nebeng di stadion-stadion bola.
Squash, sumber
Pemain saling berbalas memukulkan bola skuas ke sebuah sisi ruangan yang menghadap pada kedua pemain (kegiatan ini disebut rally). Hal ini terus berlangsung hingga salah seorang pemain gagal mengembalikan bola hasil pukulan lawan atau melakukan kesalahan (misalnya memukul bola hingga 'out' atau memukul bola setelah memantul lebih dari dua kali). Perhitungan pada skuas memiliki 2 sistem, yaitu sistem tradisional dan sistem Amerika. Namun pada perhitungan internasional yang digunakan adalah sistem tradisional dimana hanya pemain yang melakukan servis (orang pertama yang mulai memukul bola) yang berhak memperoleh angka jika pemain lawan gagal mengembalikan bola hasil pukulan sang pemain atau melakukan kesalahan.

Di Indonesia, olahraga skuas berada di bawah naungan PSI (Persatuan Squash Indonesia). Bisa dikepoin di akun IG nya di psi_squash_id.

5. Pickeball / Tenis Dayung
Olahraga ini merupakan salah satu olahraga baru. Ia merupakan campuran dari 3 "saudaranya" yakni tenis, bulu tangkis dan tenis meja. Pickleball dimainkan di lapangan seukuran bulu tangkis, dengan net setinggi net pada permainan tenis. Raket yang digunakan seperti bet pada permainan tenis meja namun dengan ukuran yang lebih besar. Bola yang digunakan juga didesain khusus, bola pickle ball berlubang-lubang dengan berat tertentu. Olahraga ini bisa dimainkan secara tunggal maupun ganda.
Pickleball
Meski sudah ditemui pada tahun 60an, pickleball baru masuk ke Indonesia pada tahun 2019 setelah diperkenalkan oleh Jeff Van Der Hulst, ambassador International Federation Pickleball (IFP) yang datang ke Fakutas Ilmu Keolahragaan (FIO), Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Meski tergolong baru, namun perkembangan pickleball termasuk cepat di Indonesia. Olahraga ini berada di bawah naungan Federasi Pickleball Indonesia (Indonesia Pickleball Federation).

6. Padel
Padel merupakan olahraga yang juga menggunakan raket, bola dan net. Saudara tenis satu ini juga boleh dibilang unik. Hampir sama dengan pickleball, olahraga padel menggabungkan beberapa olahraga dari saudara-saudara tuanya seperti tenis, badminton, dan skuas. Raket yang digunakan hampir sama dengan pickleball / tenis dayung, dan bola yang digunakan seperti bola tenis dengan sedikit modifikasi. Ukuran lapangan olahraga padel adalah 1/3 dari ukuran lapangan tenis biasa.
Padel
Padel dimainkan untuk permainan ganda, dan pemainnya "dikurung" di dalam tempat semacam kerangkeng tak beratap. Oleh karena itu, olahraga ini tidak mengenal istilah "out", kecuali jika bola benar-benar melambung melewati batas tinggi tembok atau kerangkeng.

Di Indonesia, olahraga padel termasuk olahraga baru, belum semua tempat memiliki fasilitas olahraga ini. Sejauh yang terpantau, baru tersedia di Jawa dan Bali. Induk dari olahraga padel adalah PPSI (Perkumpulan Padel Seluruh Indonesia), bisa dikepoin di padelindonesia.org atau di instagram ppsi.

7. Tenis Pantai / Beach Tennis
Tenis Pantai merupakan cabang dari olahraga tenis lapangan. Sesuai namanya, permainan ini dimainkan di pantai, atau paling tidak dengan lapangan berpasir sama dengan pasir pantai. Tenis lapangan adalah bulu tangkis yang menggunakan bola tenis. Artinya permainannya mirip bulu tangkis, dimana bola tidak boleh menyentuh tanah sebagaimana permainan tenis pada umumnya.
Tenis Pantai
Raket dan bola yang digunakan juga sedikit berbeda dari tenis. Raket tenis pantai menyamai padel dan pickleball, dan bola yang digunakan juga merupakan bola khusus. Di Indonesia, tenis pantai belum begitu populer. Olahraga ini masih berinduk pada organisasi Tenis yaitu PELTI dan instagramnya di tennis indonesia.

8. Royal Tennis / Tenis Kerajaan
Royal Tennis, atau beberapa yang lain menyebut Real Tennis merupakan cikal dari tenis modern saat ini. Sesuai namanya, Royal Tennis dimainkan oleh para bangsawan, dan ini berlaku pada awal mula tenis berkembang.
Royal Tennis, sumber
Royal tenis dimainkan di dalam ruangan, lapangan berukuran panjang dan tidak memiliki garis tepi, karena garis tepinya adalah dinding. Raket yang digunakan memiliki diameter kepala raket yang lebih kecil dari raket tenis modern. Saat ini lapangan indoor untuk Royal Tennis masih tersedia di Inggris.

9. Sphairistike
Olahraga ini merupakan salah satu cikal bakal tenis lapangan saat ini. Sphairistike diciptakan oleh Mayor Walter Wingfield. Ia merupakan seseorang yang berjasa dalam perkembangan tenis masa lalu. Sphairistike dimainkan di lapangan yang berbentuk jam pasir, atau bentuk trapesium, bisa dimainkan secara tunggal maupun ganda.
Sphairistike
Permainan ini juga menggunakan raket, bola, dan net sebagai medianya. Kami belum mengetahui apakah olahraga yang menjadi "bapak" dari tenis modern ini masih eksis atau tidak.

10. Bulu Tangkis
Bulu Tangkis atau Badminton merupakan salah satu olahraga populer di dunia. Terlebih di Indonesia, olahraga ini begitu mendapat tempat di hati masyarakat, sebab Indonesia memiliki segudang atlet badminton yang banyak mengahrumkan bangsa.
Badminton, sumber
Badminton dimainkan dalam lapangan berukuran 13.40 meter x 6.10 meter, menggunakan raket dan bola yang disebut kok (shuttlecock). Tak seperti saudara-saudaranya yang lain, net pada permainan badminton "menggantung" di udara dan tidak menjejaki lantai lapangan.

Di Indonesia, bulu tangkis berada di bawah organisasi induk PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) dan bisa juga dikepoin IG nya di pbsibadminton.









Sumber:
https://www.sfidn.com/article/post/olahraga-pickleball-101-pengertian-aturan-dan-cara-bermain
https://aturanpermainan.blogspot.com/2019/12/cara-menghtung-set-dan-angka-permainan-olahraga-squash.html
https://padelindonesia.org/about/

Monday, November 21, 2022

Cerita Tenis Lapangan: Perkembangan Tenis Lapangan di Natuna

Setelah pertama kali masuk ke Natuna pada tahun 1970an, masyarakat Natuna memiliki alternatif olahraga baru. Meski baru beberapa saja yang mengayunkan raket, sebab saat itu tenis masih dianggap sebagai olahraga kalangan menengah ke atas. Namun lambat laun tenis semakin mendapat tempat di hati masyarakat.

Lapangan pertama yang dibangun adalah lapangan di area Simpang Empat Ranai, yang kala itu memang merupakan pusat kota dan pusat pemerintahan. Lapangan ini dibangun pada tahun 1970an seiring dengan banyaknya proyek nasional dan penemuan lapangan minyak di laut Natuna.
Bekas Lapangan Tenis di Simpang Empat, Kota Ranai
Olahraga tenis ini bahkan sampai ke pulau-pulau kecil di Natuna, tahun 1980an lapangan tenis dibangun di Pulau Serasan. Menyusul pada tahun 1990, lapangan voli di daerah Tanjung Keramat (depan Koramil Midai saat ini) diperlebar dan dijadikan lapangan tenis, bersempena dengan pembuatan pelabuhan kapal oleh PT. Waskita Karya (Pelabuhan WK) di Pulau Midai.

Di Pulau Bunguran Besar, giat tenis semakin terlihat. Seiring berjalannya waktu, lapangan tenis kian bertambah dengan dialihfungsikannya lapangan voli di SMPN 1 menjadi lapangan tenis, dan lapangan tenis di Lanud Ranai (Bandara).
Lapangan Tenis di SMPN 1 Bunguran Timur yang Berubah Menjadi Lapangan Basket dan Voli
Hadirnya banyak lapangan tenis membuat lapangan tenis di Simpang Empat sepi peminat, akhirnya lapangan tenis simpang empat dialihfungsikan menjadi lapangan bola voli. Pecinta tenis beralih bermain di lapangan SMP dan Lanud Ranai. 
Saat ini, lapangan di Simpang Empat sudah beralih fungsi menjadi lapangan basket dan lapangan voli, dan lapangan SMPN 1 kembali menjadi lapangan bola voli dan bola basket yang digunakan siswa-siswi SMPN 1 untuk berolahraga.
Tahun 2000an, pemda Kabupaten Natuna membangun lapangan tenis di kampung Batu Kapal. Sebuah lapangan yang dibangun di dekat pantai dengan pemandangan bebatuan di laut berlatar belakang gunung Ranai. Giat tenis di lapangan milik pemda ini aktif mulai dari pembinaan junior hingga orang dewasa. Turnamen-turnamen lokal juga sering diadakan di lapangan yang akrab disebut dengan Lapangan BK/ Lapangan Batu Kapal ini.

Selama beberapa waktu, Lapangan BK menjadi sentral permainan tenis bagi warga Ranai dan sekitarnya. Hampir tiap hari digunakan, baik untuk bermain ataupun untuk latihan. Lapangan Tenis milik Pemda ini juga merupakan markas bagi Klub Tenis Batu Kapal. 
Lapangan Tenis Batu Kapal
Masih di tahun 2000an, para pecinta tenis di kantor Pengadilan Agama Kabupaten Natuna menginisiasikan sebuah lapangan tenis di belakang kantor yang beralamatkan di Sual. Saat ini lapangan tersebut akrab disebut dengan Lapangan PA, markas klub PTWP (Persatuan Tenis Warga Peradilan).

Saat lapangan milik Pemda di Batu Kapal direnovasi dengan menambahkan satu lapangan tambahan pada tahun 2019, Lapangan PA menjadi alternatif tujuan pecinta tenis di Natuna untuk beberapa saat. Dalam waktu yang "beberapa saat" itu pula dimanfaatkan dengan baik oleh pelatih-pelatih tenis untuk mengajarkan tenis pada masyarakat pecinta olahraga yang ingin mencicipi permainan ini. Hasilnya adalah berdirinya Klub Tenis JR yang kemudian berubah nama menjadi JRPA dan juga menjadikan lapangan PA sebagai markasnya.
Lapangan PA dan JRPA Tennis Club
"Demam tenis" merambah ke kota terapung. Sekitar tahun 2009/2010 lapangan Tenis dibangun di Sedanau, mengingat banyaknya peminat olahraga ini di pulau sebelah barat Bunguran tersebut. Dengan pembinaan yang baik, talenta-talenta petenis Natuna banyak hadir dari pulau Sedanau. Klubnya bernama Natuna Gemilang dan sering meraih juara pada turnamen tenis beregu di Natuna.

Tenis di Natuna semakin berkembang, dengan dibangunnya beberapa sarana pendukung dan juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada tahun 2017, seiring dengan diresmikannya Komposit Gardapati di Natuna, di dalam komplek satuan TNI AD yang beralamatkan di Desa Sepempang ini juga dilengkapi lapangan tenis.
Lapangan Tenis Komposit
Lapangan tenis Komposit merupakan lapangan tenis pertama yang menggunakan cat fleksi. Sebuah pelapis lapangan tenis yag banyak digunakan untuk lapangan outdoor. Saat lapangan milik Pemda direnovasi pada 2019, Dankomposit saat itu juga mengundang pecinta tenis Natuna untuk bermain di lapangan Komposit ini.
 
Dan pada tahun 2020, melihat bayaknya pecinta tenis di Natuna yang pada saat itu "menganggur" bermain tenis akibat faktor cuaca, salah seorang komandan TNI AU di Natuna mengubah sebuah hangar di bandara menjadi lapangan tenis. Ini merupakan lapangan tenis "indoor" pertama di Natuna. Selain digunakan oleh anggota TNI AU untuk olahraga, pecinta tenis di Natuna juga sering diundang oleh Danlanud untuk sama-sama bermain tenis di sini.
Lapangan Tenis "indoor" Hangar Lanud Raden Sadjad
Peningkatan fasilitas juga disertai dengan kompetensi para pecinta tenis. Pengkab PELTI Natuna kerap mengadakan turnamen, mulai dari skala klub hingga kabupaten untuk menampung dan menyalurkan bakat petenis-petenis daerah. Dalam kesempatan lain, beberapa petenis Natuna juga kerap mengikuti turnamen yang diadakan di luar daerah, seperti Batam, Tanjungpinang, Pontianak, hingga Malaysia.

Friday, November 18, 2022

Cerita Tenis Lapangan: Masuknya Tenis ke Natuna dan Perkembangannya

Setelah terbentuk pada tahun 1935, PELTI dengan segala lika-liku perjalanannya telah melewati berbagai masa. Mulai dari pengaruh kolonial Belanda, tidak aktif dimasa Jepang, hingga perjuangan menghidupkan kembali pada masa pasca kemerdekaan. Semua dilalui PELTI dengan teguh dan pantang menyerah, sesuai dengan slogan pada logonya: PANTANG SURUT.  Pelti terus mengembangkan program kerjanya dalam mengenalkan tenis ke seluruh pelosok Nusantara. 

Dan itu terbukti dengan banyaknya atlet-atlet tenis di luar Jawa yang ikut serta dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung sejak tahun 1948 di Solo. Masa keemasan tenis Indonesia pada kurun 1968 hingga 1987 berimbas juga pada penyebaran olahraga ini di pelosok tanah air. Tak terkecuali di Natuna, sebuah kepulauan di ujung utara Republik ini.

Tenis diperkirakan masuk ke Natuna pada tahun 1970an, ia kemungkinan besar dibawa oleh para pekerja minnyak dan gas pada awal mula eksplorasi di laut Natuna ini berlangsung. Tahun 1960-1980 merupakan tahun-tahun dimana eksplorasi migas besar-besaran dilakukan di laut Natuna setelah ditemukannya cadangan hidrokarbon yang besar di perairan sebelah barat kepulauan itu. 

Dalam kurun waktu 1970an itu pula, beberapa pulau di Natuna mendapat kunjungan tamu dari luar, baik dari pusat maupun negara asing. Ada yang tinggal dalam beberapa waktu, ada pula yang sebentar seperti melakukan perjalanan dinas kerja. Orang-orang dari luar inilah kemungkinan yang berperan besar dalam membawa tenis lapangan ke Natuna.

Lapangan tenis pertama di Natuna ada di pusat kota Ranai, tepatnya di dekat Simpang Empat. Lapangan tenis ini berjumlah dua buah dan terbuat dari semen. Menurut keterangan papa saya, Noorhidayat (Buyung), tahun 1970an ia sudah menjadi ballboys ketika ayahnya (kakek saya) bermain tenis dengan bule di lapangan tersebut. Raketnya yang digunakan masih berbahan kayu. Daerah tersebut memang merupakan pusat olahraga sekaligus pusat hiburan, karena di sebelahnya juga terdapat lapangan bola dan gedung pertemuan yang digunakan dalam berbagai acara.

Bekas Lapangan Tenis di SMP Negeri 1 Bunguran Timur

Tenis lapangan lambat laun mendapat tempat di hati masyarakat Natuna khususnya di Ranai dan sekitarnya. Pada tahun 1980an ada dua lapangan tenis tambahan yang dibangun, yang pertama di dekat SMPN 1 Bunguran Timur, papa menceritakan bahwa lapangan tenis ini berasal dari lapangan voli yang dialihfungsikan. Lalu yang kedua adalah di pangkalan udara TNI AU, lapangan ini dibuat oleh TNI AU dan perusahaan minyak (yang saat itu memiliki basecamp di hangar LANUD Ranai). Belum diketahui yang mana terlebih dahulu dibangun antara dua lapangan ini.

Seiring berjalannya waktu, tenis mendapat perhatian dari pemerintah. Ini terlihat dengan dibangunnya lapangan tenis pemda Natuna di kawasan Batu Kapal. Karena lokasi yang dekat dengan kota, lapangan tenis ini menjadi tempat lokasi favorit baru bagi para pecinta tenis. Sehingga lahir komunitas tenis yang diberi nama Natuna Tennis Community.

Lapangan Tenis Batu Kapal

Giat tenis di lapangan pemda (selanjutnya lebih akrab dengan sebutan Lapangan Tenis Batu Kapal) ini semakin berkembang. Tak hanya sebagai ajang melepas hobi bagi para pemain dewasa, namun juga membuka kesempatan latihan bagi petenis muda untuk regenerasi kedepannya. Bahkan tenis junior Natuna pernah ikut serta dalam ajang Batam Tennis Junior Open pada tahun 2005. Dan pada tahun yang sama, salah satu atlet tenis junior Natuna menjadi delegasi kontingen Provinsi Kepulauan Riau (kontingen peninjau) dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2005 di Medan.

Saya kembali mengingat, kala itu masih kelas 3 SD, papa mengajak saya ke lapangan tenis, bermain, dan kemudian dilatih oleh bang Yanto, lalu dilanjutkan oleh bang Udin. Pertengahan taun 2000an, Pengkab Pelti Natuna mendatangkan pelatih tenis junior nasional asal Pontianak, bapak Zulkarnain (pak Jul) untuk melatih para petenis junior Natuna. 

Latihan intens mulai dilakukan oleh pak Jul, metode pelatihan yang menyenangkan menarik banyak peminat petenis muda. Sayang, program ini tak bertahan lama. Pak Jul kembali ke Pontianak. Kepelatihan Tenis dilanjutkan oleh pak Rahman (alm), bang Kas, coach Nyat (Jamiat), dan lain-lain.

Kian hari, tenis di Natuna semakin banyak peminatnya, ia datang dari berbagai kalangan. Lalu, agar terciptanya wadah tempat para petenis ini bernaung, akhirnya dibentuklah Pengurus Kabupaten (Pengkab) PELTI Natuna dengan ketua pertamanya Darmansyah (alm). Pengurus PELTI pertama ini banyak melakukan kegiatan-kegiatan seperti tur persahabatan dengan Pengurus Kota (Pengkot) PELTI Pontianak, Kalimantan Barat, ikut serta dalam berbagai lomba tingkat provinsi, bahkan sampai ke negeri jiran, dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, pembinaan atlet muda juga terus dilakukan. 

Tim Tenis Natuna pada Porprov Kepri 2022 di Bintan

Tenis Natuna juga ambil bagian dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau, dari edisi pertama tahun 2006, hingga yang ke V di tahun 2022 ini. Meski dengan prestasi yang naik turun, namun tenis Natuna sudah bisa unjuk gigi dalam beberapa ajang perlombaan. 

Ketua PELTI kedua adalah bapak Kamaruddin, yang menjadi plt Ketua Umum setelah bapak Darmansyah meninggal dunia. Lalu dilanjutkan dengan bapak Marsidi yang menjadi ketua Pengkab PELTI Natuna hingga tahun 2020. Tampuk kekuasaan Pengkab PELTI Natuna berpindah dari bapak Marsidi ke bapak Iskandar Dj, sayang baru beberapa hari menjabat, beliau wafat secara mendadak karena serangan jantung. Ketua Umum Pengkab PELTI Natuna selanjutnya dipegang oleh Daeng Ganda Rahmatullah untuk periode 2020-2025.

Pelantikan Penkab PELTI Natuna 2020-2025

Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...