Wednesday, March 13, 2013

Asal Mula Keramat Binjai

Mendengar kata keramat membuat orang yang suka dengan hal-hal mistis jadi excited gitu kan ya. Yap, tapi ini lah namanya, KERAMAT BINJAI. Untuk orang Natuna umumnya, tentu tahu hal ini dan dimana letaknya. Nah lewat tulisan ini. saya ingin menceritakan sejarahnya, dengan menguti beberapa sumber. Yuk.

----------

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Putra Sultan Mahmud Syah yaitu Sultan Allauddin Riayat Syah mendirikan Kerjaan Johor pada tahun 1530-1564 merupakan kelanjutan dari Kerajaan Malaka.

Pada masa pemerintahan beliau menempatkan atau mengangkat Datuk Kaya -Datuk Kaya sebagi wakilnya di Pulau Tujuh, yaitu:
  1. Pulau Jemaja - Datok Amar Lela
  2. Pulau Siantan - Datok Kaya Dewa Perkasa
  3. Pulau Serindit (Pulau Bunguran) - Datuk Kaya Indra Pahlawan
  4. Pulau Sabda (Tambelan) - Datuk Kaya Timbalan Siamah.
Pada masa Pemerintahan Sultan Allauddin Riayat Syah III (1597-1655M) memerintah di Johor, menurut kisahnya Sultan Johor ini mempunyai seorang putri yang bernama Tengku Fatimah yang sejak kecilnya mengidap sakit lumpuh dan tidak dapat berjalan. Oleh karena itu Sultan merasa malu, maka Sultan mengambil keputusan untuk menempatkan Putrinya itu ke Pulau Serindit (Pulau Bunguran atau Natuna).

Dalam perjalanan mengarungi laut para rombongan yang terdiri dari pengawal serta inang dayangnya yang berjumlah 40 orang tersebut sebulat kata untuk menjodohkan sang putri dengan salah seorang dari anggota rombongan tersebut. Maka didapatlah salah seorang diantara mereka menjadi calon suami bagi sang putri tersebut. Tapi anehnya setelah dijodohkan sang calon suami meninggal seketika. Kemudian dipilih lagi calon yang kedua untuk sang Putri tapi malangnya calon kedua meninggal dunia pula. Karena kemalangan berturut-turut menimpa maka urunglah niat para rombongan itu untuk menjodohkan sang Putri untuk sementara waktu.

Pelayaran diteruskan ke haluan pulau-pulau Siantan dan mereka mengambil kesempatan untuk beristirahat di pulau tersebut. Setelah selesai selesai beristirahat mereka melanjutkan pelayaran kepulau Serindit (Natuna). Hampir seminggu pula mereka mengarungi laut dan sampailah pulau rombongan tersebut di Tanjung Galing Pulau Sabang Mawang dalam kawasan Serindit (Natuna). Mereka Berhenti beberapa hari dan setelah melihat tempat untuk bermukim kurang memuaskan, mereka meneruskan pelayaran ke Segeram.
Akhirnya rombongan ini terdampar di kukup (pulau pasir) Jalik namanya di Muara Sungai Segeram, dari sini mudiklah penjajap-penjajap itu masuk ke sungai Segeram dan berlabuh dekat suatu perkampungan. Mendengar kedatangan Tengku Fatimah Putri Sultan Johor di Pulau Serindit, maka Datuk Kaya Indra Pahlawan berdatang sembah.

Mengingat kedatangan sang Putri membawa Mahkota Kerajaan yang memerintah dari Sultan Johor maka dengan senang hati Datuk Kaya Indra Pahlawan menyerahkan kekuasaan memerintah di Pulau Serindit kepada sang Putri. Penyerahan itu di terima pula dengan senang hati oleh sang putri serta mengajak warga rakyatnya membangun pemerintahan baru.
Sekitar Tahun 1610 Masehi kedatangan sang Tengku Putri Fatimah di Pulau Serindit menurut ceritanya, di Segeram ada seorang yang di gelari Demang Megat, yang mana asal-usul sebenarnya tidaklah diketahui dengan pasti.

Alkisah selanjutnya menceritakan Demang Megat ini adalah seorang yang hanyut di atas rakit Buluh Betung atau Aur, kemudian rakit itu hanyut dibawa arus dan masuk ke sungai Segeram. Di pinggiran sungai Segeram banyak terdapat batang Laning dan rakit itu sangkut di antara sela-sela kayu tersebut dari situlah Megat merangkak naik ke darat. Dan tak lama kemudian dengan kedatangan ketujuh perahu penjajap dari Johor itu maka bertemulah rombongan Tengku Fatimah dengan Megat di Daerah Segeram itu. Pada pertemuan ini Megat di ajak berbahasa Melayu tetapi ia tidak mengerti bahasa melayu, rupanya Megat hanya bisa berbahasa Siam dan beragama Budha dan kemudian Megat diislamkan oleh para pengikut sang putri serta di kawinkan dengan Tengku Fatimah dengan tidak ada kemalangan apa-apa.

Dalam upacara perkawinan itu Megat diberi gelar Orang Kaya Serindit Dina Mahkota. Adapun maksud dari kata “Dina” atau Dana berasal dari keadaan Tengku Fatimah sendiri yang merasa dirinya “hina dina” papa kedana karena cacat lumpuh serta dibuang oleh ayahandanya, sang Sultan ke suatu negeri yang jauh dengan dibekali sebuah Mahkota Kerajaan.

Disamping acara perkawinan itu di adakan pula acara penurunan adat kawin raja dari adat 400 menjadi adat 120 serta lilin 8 (delapan) menjadi lilin 7 (tujuh) untuk kedaulatan Serindit atau Bunguran.

Maka sekitar tahun 1610 Masehi sejak kedatangan Tengku Fatimah ke pulau Serindit dan setelah Megat bergelar Orang Kaya Serindit Dina Mahkota mulailah Pulau Serindit memiliki pemerintahan sendiri, sejenis Daerah Otonom dari Kerajaan Johor atas kuasa Tengku Fatimah yang berpusat di Segeram.

Megat memerintahkan rakyatnya membuat sebuah mahligai tempat bersemayam Tengku Fatimah. Mahligai di buat dari bahan kayu Bungur, maka dari nama Kayu Bungur inilah Pulau Serindit bertukar menjadi Pulau Bunguran.

Setelah perkawinan berumur enam bulan Tengku Fatimah hamil, Megat mengutarakan keinginannya pada Tengku Fatimah bahwa beliau ingin bersemedi atau bertapa kesuatu tempat untuk mensucikan diri, ternyata keinginan tersebut dikabulkan oleh Tengku Fatimah meskipun dengan perasaan hati yang sangat berat sekali.  

Maka pergilah Megat dengan melayari sebuah penjajap kearah Timur melewati sungai Binjai dan akhirnya Megat berhenti singgah di pulau kecil batu pasir berbukit untuk tempat persemediannya. Ditempat persemedian atau pertapaan inilah Megat menghilang dan di pulau itu tiba-tiba terdapat sebuah kuburan yang dianggap keramat oleh anak negeri Pulau Bunguran. Kuburan atau makam ini lebih di kenal dengan Nama Keramat Binjai atau Keramat Datuk Bungur yang sampai sekarang masih tetap dikunjungi oleh para peziarah.
Sedangkan penjajap dan anak buahnya yang diperintahkan berlabuh di sebuah anak sungai (sekitar Tanjung Katung) tak pernah mau kembali lagi ke Segeram dan menetap di Binjai sebagai asal usul orang Binjai.



sumber : natuna.org

The Great Masjid (Masjid Agung Natuna)

Masjid Agung Natuna terletak di Pulau Bunguran. Masjid ini merupakan ikon baru kabupaten Natuna. Masjid yang katanya terbesar di Kepulauan Riau ini terletak tak jauh dari pusat kota, berkisar antara 1 sampai 2 km. Terletak di pesisir pantai sebelah timur pulau Bunguran dengan pemandangan depan adalah laut Natuna, dan pemandangan belakang adalah gunung Ranai. MA -seperti itu sebutannya oleh AGR (anak gaul Ranai)- baru diresmikan tahun 2008 silam, yang bertepatan juga pada saat Pembukaan MTQ II Provinsi Kepulauan Riau, Masjid ini telah digunakan meskipun dalam keadaan "setengah jadi". :)

Menurut maket pembangunan yang ditunjukkan oleh Bupati Natuna beberapa tahun lalu, Masjid Agung Natuna merupakan pusat kota, sekelilingnya secara melingkar akan dibangun beberapa banguna penunjang, mulai dari menara, hingga stadion sepakbola, semoga saja terealisasi dengan lancar.

Arsitektur Masjid Agung Natuna mengadopsi beberapa budaya, salah satunya timur tengah dan asia bagian selatan. Terlihat dari jalan utama, Masjid Agung Natuna seperti Taj Mahal yang ada di India.

                                     


Pemandangan MA dari Gunung Ranai


Masjid Agung Natuna


Masjid Agung Natuna dari jalan utama


Masjid Agung dari jalan Raya


Gerbang Masjid Agung Natuna

Salah satu sisi bangunan Masjid Agung


Kampus STAI Natuna
Di bagian depan masjid, beridiri gagah kampus kebanggan masyarakat Natuna, ia adalah STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Natuna. Sekolah Tinggi pertama dan satu-satunya (saat) ini yang ada di Natuna. Selain kampus STAI, di komplek Masjid AGung Natuna juga dioperasi beberapa kantor pemerintahan, gedung sekretariat dan asrama haji.


Demikian dulu yang bisa saya bagikan, selanjutnya akan ada postingan-postingan lagi tentang masjid megah ini. Okey.



Friday, December 28, 2012

Sekelumit Sejarah Natuna di Pulau Subi

Subi merupakan sebuah pulau yang terletak di bagian timur Kabupaten Natuna. Ia termasuk gugusan kepulauan Natuna Selatan bersama dengan pulau-pulau Serasan. Saat Natuna terbentuk jadi kabupaten tahun 1999, daerah pulau Subi dan sekitarnya masih masuk dalam wilayah adiministratif kecamatan Serasan. Seiring dengan perkembangan waktu, Subi akhirnya menjadi kecamatan beberapa tahun kemudian.

Tak banyak yang tahu memang, Pulau Subi menyimpan jejak-jejak sejarah perang masa lalu, yang sebagiannya masih bisa kita lihat hingga sekarang. Pulau Subi menjadi saksi bisu dahsyatnya perang dunia kedua puluhan tahun yang lalu.


Jepang Bangun Bandara untuk Pertahanan
Sekelumit sejarah Natuna yang dahulu disebut Pulau Tujuh juga ada di Pulau Subi. Pada saat itu, Pulau Tujuh bergabung dalam Kepulauan Riau, telah memerintah beberapa orang “Tokong Pulau”, Tekong atau Nahkoda, istilah yang diberikan kepada Datuk Kaya di wilayah Pulau Tujuh.
Bekas Bandara di Subi, via batampos.co.id
Di Pulau Subi, terdapat bekas lapangan udara, yang dibangun oleh pemerintah Jepang, saat melakukan penjajahan. Jepang mendirikan lapangan tersebut tahun 1942, sebagai salah satu pertahanan di Natuna.

“Kini, sisa-sisa peninggalan lapangan udara tersebut telah menjadi hutan rimbah dengan menyisakan tiang-tiang besi tua,” terang anggota DPRD Natuna, Baharuddin, SE, tentang sejarah kampung halamnnya, Desa Subi Kecamatan Subi, Kabupaten Natuna. Kisah ini diperkuat dengan catatan Wan Tarhusin, Bsc, salah seorang tokoh Pemuka Budaya yang ada di Kabupaten Natuna.

Katanya, pembangunan lapangan udara tersebut dilakukan Jepang dengan mengerahkan mengerahkan tenaga rakyat Pulau Subi sebagai tenaga Rodi, sampai dengan lapangan udara tersebut selesai. Namun begitu mendengar berita pasukan Belanda sudah berada di Ranai, pasukan Marinir Jepang yang ada di Pulau Subi, secara bertahap mulai keluar. Dan gelombang terakhir pasukan Jepang ini, terpergok pasukan udara Belanda yang sekonyong-konyong melintas di atas Pulau Subi, dengan menjatuhkan bom dari udara. Bom inilah yang menyebabkan lapangan udara Jepang di Pulau Subi, rusak berat.

Namun, dengan seribu akal tentara, Jepang tetap mencari jalan untuk dapat keluar dari Pulau Subi. Mereka kemudian menemui Datuk Kaya Pulau Subi untuk meminta bantuan. Mereka meminta agar rakyat Subi menyerahkan songkok (kopiah) kepada para tentara Jepang yang tersisa untuk digunakan sebagai penyamaran agar terlihat bagaikan orang Melayu Pulau Subi.

Kelihatanya akal ini berhasil. Dari Pulau Subi para tentara Jepang yang tersisa dapat keluar menuju ke tempat yang sangat dirahasiakan. Mereka keluar pada malam hari dengan menggunakan sampan berciau menuju ke tempat yang sudah diarahkan. Dan memang, tidak ada seorangpun tentara Jepang yang tinggal atau tersisa di Pulau Subi.

Menurut Baharuddin, kini lapangan udara Pulau Subi tersebut menyisakan hutan belukar. Letaknya di sebelah Tenggara Pulau Bunguran atau Ranai dan sebelah utara Pulau Serasan. Jarak antara Pulau Subi dengan Ranai sekitar 70 Mil dan jaran Pulau Serasan dengan Pulau Subi sekitar 35 mil.

Pada masa Kewedanan Pulau Tujuh masih berstatus District, Pulau Subi dimasukkan dalam satu wilayah dengan Onderdistrict Serasan dan dikepalai seorang Amir sekelas Camat saat ini. Sedangkan kini, Pulau Subi sudah dimekarkan menjadi sebuah Kecamatan yakni Kecamatan Subi. Pada masa itu, Pulau Subi diincar Jepang karena dianggap strategis. Itu pula yang mendasari Jepang membangun lapangan udara Jepang pada tahun 1942. Ini dilakukan sebagai pusat pertahanan udara Jepang di Natuna mendampingi Terempa sebagai tempat tentara Marinir Jepang dan pasukan Jutai.

Pulau Subi sudah di kenal International dalam sejarah zaman Jepang maupun zaman Hindia Belanda. Berdasarkan makalah: Seminar Sejarah Riau Desember 2003 oleh: Darmiati Jkt, di sekitar Pulau itu, pernah terjadi dimana sebuah kapal asing pecah. Peristiwa ini terjadi tanggal 13 Desember 1966 sekitar pukul 13.00 atau 1 siang. Kapal bernama “Pathol Salam” dipukul ombak dan hanya mampu bertahan selama 9 jam. Pada pukul 22.00 atau 10 malam, barulah kapal tersebut dapat sampai ditepi pantai Pulau Subi. (Kisah sejarah ini tersimpan dalam arsip nasional di Jakarta untuk dijadikan bukti sejarah tingkat Nasional).

Sementara itu, untuk kisah julukan “Tokong” yang juga berarti tanah Busut yang menonjol ke permukaan laut atau tanah Kukop atau batu karang yang menonjol ke permukaan laut, yang sangat berbahaya untuk lalu lintas kapal yang melewati areal tersebut. Julukan Tokong Pulau diberikan kepada Datuk Kaya di Pulau Tujuh untuk mengibaratkan seorang pemimpin yang mengendalikan pemerintah di wilayah terkecil, yang sewaktu itu diberi hak oleh Sultan Riau sesuai dengan ketentuan “Yayasan Adat”, yang sudah ada pada masa itu.

Dari kisah yang diperoleh, bahwa gelar yang diberikan dalam pembagian Wilayah Datuk Kaya Pulau Tujuh disebutkan bahwa untuk Wilayah Pulau Siantan diberikan kepada Pangeran Paku Negara dan Orang Kaya Dewa Perkasa, untuk Wilayah Pulau Jemaja diberikan kepada Orang Kaya Maha Raja Desa dan Orang Kaya Lela Pahlawan. Selanjutnya, untuk Wilayah Pulau Bunguran diberikan kepada Orang Kaya Dana Mahkota, dua orang Penghulu dan satu orang Amar Diraja. Untuk Wilayah Pulau Subi diberikan kepada Orang Kaya Indra Pahlawan dan Orang Kaya Indra Mahkota.

Juga diberikan Wilayah Pulau Serasan kepada Orang Kaya Raja Setia dan Orang Setia Raja. Wilayah Pulau Laut diberikan kepada Orang Kaya Tadbir Raja dan Penghulu Hamba Diraja. Dan Wilayah Pulau Tambelan diberikan kepada Petinggi dan Orang Kaya Maharaja Lela Setia.

“Orang-orang besar inilah yang pada zaman dahulu memerintah di wilayah Pulau Tujuh dengan masing-masing wilayah secara turun temurun, sampai pada akhir kekuasaannya,” terang Baharuddin.

Oleh karena pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu masih memegang peranan “Zich Bemoelen Met” ikut mencampuri urusan pemerintahan yang menyangkut strateginya di Pulau Tujuh, maka penempatan kedudukan para Datuk Kaya diatur sedemikian rupa dengan menerapkan imperialisme . Tujuan memecah belah persatuan dan kesatuan di wilayah Pulau Tujuh atau dengan menerapkan “Devide et Impera” yang semata-mata untuk menguntungkan pihak Belanda. (sm/dk)

sumber : haluankepri.com

Thursday, December 20, 2012

Sedanau, Kota Terapung di Natuna

Sedanau merupakan pulau di sebelah barat pulau Bunguran Besar. Ia merupakan ibukota dari Kecamatan Bunguran Barat, Natuna. Ada beberapa rute menuju kesana. Salah satunya yang sering digunakan masyarakat yakni rute dari Binjai (ini biasa di pakai oleh orang yang domisili di pulau Bunguran Besar). Perjalanan dari Binjai bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam dari pusat Kota Ranai. Setelah sampai di pelabuhan Binjai, segera menuju loket pembelian tiket speed boat. Jadwal keberangkatan Binjai - Sedanau hanya 2 kali dalam sehari, pagi dengan petang.

Perjalan ke Sedanau ditempuh kurang lebih 60 menit, diawal-awal perjalanan kita disuguhkan dengan pemandangan muara sungai lengkap dengan tumbuhan-tumbuhan mangrovenya. Ada juga melewati Pulau Pasir yang konon jika laut sedang surut, pasir akan "timbul" memanjang sejauh 2 kilometer. Saat setelah melewati muara sungai, baru kita disuguhkan dengan pemandangan pulau-pulau indah di sekitaran pulau Sedanau. Saat akan sampai di pelabuhan Sedanau, kita akan banyak melihat keramba ikan. Yap, ini menunjukkan bahwa nelayan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Sedanau, disamping berkebun dan berdagang.
Pulau Pasir
Kota Sedanau merupakan kota terapung terbesar yang ada di Kabupaten Natuna, hampir 80% rumah-rumah penduduk berada di atas laut. Tak hanya rumah-rumah penduduk, penginapan, toko-toko bahkan masjid juga terletak di atas laut. Ini menjadikan Sedanau memiliki keunikan tersendiri. Layaknya tempat-tempat lain di Natuna, Sedanau memiliki bebrapa tempat wisata alam, budaya, dan sejarah. Salah satu wisata alam yang terkenal di Sedanau adalah Pantai Semarus / Pantai Pasir Marus, pantai dengan pasir putih dengan suasana yang nyantai banget ini bisa dinikmati dengan berkendara selama 15 menit saja dari Pelabuhan. 
Pantai Pasir Marus / Semarus, Sedanau
Sedanau juga merupakan saksi bisu atas dua peristiwa penting negara, yaitu tenggelamnya kapal penumpang KM. Djadajat dan jatuhnya pesawat yang membawa delegasi peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung. Sisa-sisa bangkai kapal maupun puing-puing pesawatnya masih bisa dilihat di laut sekitaran pulau Sedanau. Ini bisa dikembangkan untuk menjadi wisata bawah laut sekaligus sejarah, dimana pulau mungil ini menyimpan sebagian kecil dari sejarah Indonesia.
Sunset dan Sunrise di Sedanau

Sip lah, see you next post yak.

Wednesday, October 31, 2012

Mengenal Gunung Ranai, Gunung Tertinggi di Natuna

Gunung Ranai terletak sekitar 5 km dari pusat kota. Dengan tinggi kurang lebih 1000 m, Gunung Ranai mempunyai 3 cabang atau 3 puncak, yaitu Puncak Serindit (968 m), Puncak Erik Samali (999 m), puncak Datuk Panglime Husin (1.035). Meski terbilang rendah, apalagi bagi teman-teman mapala mungkin hanya diistilahkan sebagai "bukit" saja. Tapi percaya tak percaya boleh di coba naik ni Gunung. Mbe ndek ngiep-ngiep gek itak, heeehh.... 

Banyak tim ekspedisi yang menaklukan gunung ini, diantaranya adalah tim ekspedisi yang didatangkan oleh Pemda untuk mendaki Gunung ini pada tanggal 17 Agustus 2006 sambil mengibarkan bendera Merah Putih di sana, mantap kan?

Owya.. Gunung Ranai juga merupakan 1 dari tiga gunung yang ada di Pulau Bunguran besar, juga merupakan Gunung dengan Puncak tertinggi di Kabupaten Natuna. Tegak berdiri kokoh bak "tameng" yang menjaga Pulau Bunguran ini.

Sebagai perkenalan, mari kita lihat sejenak beberapa gambar Gunung Ranai ini. Masih pemanasan, artikel lebih lanjut tentang Gunung Ranai akan saya posting nanti, okey..


SONG ITE NONG......
tapi maaf..gambarnya baru dikit.... :)

Gunung Ranai dari Puak

Gunung Ranai dari Pulau Senoa

Gunung Ranai dari jalan Puak

Dari Ujung Utara Landasan


Gunung Ranai dari Ujung Landasan Udara

Dari Pantai Teluk Selahang





Sunday, October 28, 2012

Kecamatan Pulau Tiga, Pintu Gerbang Alur Laut di Natuna

Ada satu kecamatan di Kabupaten Natuna yang mempunyai peran penting dalam alur laut di Natuna. Ia adalah kecamatan Pulau Tiga. Terletak di bagian selatan Pulau Bunguran Besar, Kecamatan Pulau Tiga sebelum menjadi kecamatan sendiri dahulu daerah ini berada dalam lingkup administratif kecamatan Bunguran Barat. Melihat potensi yang dimiliki, maka Bupati Natuna saat itu memekarkan daerah ini menjadi Kecamatan tersendiri.

Penamaan kecamatan Pulau Tiga diambil dari tiga pulau besar yang terdapat di gugusan pulau ini, yakni Pulau Sabang Mawang, Pulau Balai dan Pulau Tanjung Kumbik. Wilayah Kecamatannya meliputi pulau-pulau yang ada disekitarnya dan sedikit daerah di Pulau Bunguran Besar, namanya Lampa. Lampa merupakan pelabuhan penumpang yang kerap disinggahi oleh Kapal Penumpang KM. Bukit Raya milik PT. Pelni. Ini merupakan moda transportasi laut andalan masyarakat Natuna. Di desa Lampa juga terdapat fasilitas Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) milik PT. Pertamina. Dan Selat Lampa juga merupakan tempat dimana banyak kapal yang berlabuh jangkar.
Kapal Penumpang KM. Bukit Raya tiba di pelabuhan Selat Lampa
Selat Lampa, yang merupakan perairan antara Desa Lampa dan Pulau Balai merupakan area laut yang lumayan sibuk dengan lalu lalang transportasi lautnya. Selain KM Bukit Raya yang tida setiap seminggu sekali. Ada beberapa kapal lain yang melakukan bongkat muat bahan bakar untuk didistribusikan ke pulau-pulau lain disekitar Kabupaten Natuna.
Perahu Klotok (Mutur) yang merupakan transportasi utama, dan TBBM PT. Pertamina di Selat Lampa

Menuju ke Kecamatan Pulau Tiga tidaklah sulit, hanya memakan waktu kurang lebih 90 menit berkendara dari Kota Ranai menuju Lampa, kemudian naik perahu klotok (masyarakat menyebutnya mutur) menuju ke pulau-pulau di Kecamatan Pulau Tiga. Kenampakan alamnya terdiri dari pegunungan terjal dan bebatuan. Disini juga terdapat batu raksasa pemecah ombak. Masyarakat Natuna menyebutnya Tekul atau Setekul. Pulau Bunguran memiliki bebatuan pemecah ombak di empat penjuru pulau, Batu Setekul merupakan salah satunya. Di bagian utara ada Tanjung Datuk, sebeah timur ada Batu Sindu, sebelah barat ada Tanjung kapal. Pas, seperti ada pesan tersembunyi yang disimpan oleh alam.
Setekul, Batu Besar Pemecah Ombak
Pulau Tiga memiliki  banyak tempat wisata alam. Pulau Setanau salah satunya, pulau ini kerap ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar daerah, paling ramai ketika H + 3 sampai H + 5 Idul Fitri. Dan beberapa tempat lain yang berpotensi wisata sedang dalam tahap pengembangan. Sayangnya tak banyak dokumentasi dari saya untuk pulau ini. Semoga postingan berikutnya bisa menjelaskan lebih rinci ya. 
Panorama alam, Kecamatan Pulau Tiga
Trims.

Friday, October 26, 2012

Bukit Arai, The Distric Center of Natuna

Bukit Arai merupakan sebuah bukit yang terletak sekitar 7 km dari pusat kota Ranai. Terletak di jalan Batu Sisir dan secara administratif masuk kawasan kelurahan Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur. Di sanalah pusat kantor-kantor pemerintahan Kabupaten Natuna (meski tidak semua) berada. Ya boleh lah di bilang Distric Center nya Natuna. 😊

BA, itu kata anak gaul Ranai. Dulu, tempat ini hanyalah sebuah hutan belantara. Oleh pemerintah daerah yang kala itu dipimpin oleh bapak Abdul Hamid Rizal, bupati pertama Kabupaten Natuna, bukit ini "disulap" menjadi susunan gedung-gedung yang ditata sedemikian indah dengan Gunung Ranai sebagai latar belakangnya. Pemilihan lokasi yang telah mempertimbangkan segala macamnya, akhirnya berdiri megah kantor Bupati dan beberapa kantor instansi Pemerintah Kabupaten Natuna yang menghiasi bukit yang dulunya hutan belantara tersebut. :D



Menuju ke kantor Bupati ini, jika kita dari pusat Kota di Ranai harus berkendara mengikuti jalan poros selatan Ranai - Selat Lampa. Setelah melewati kantor Polres Natuna akan ada simpang tiga, lalu belok kanan. Dari simpang tiga menuju gerbang kantor bupati diperkirakan sejauh 3 km. Dari gerbang pos menuju kantor, kita disuguhkan pemandangan menakjubkan akan megahnya kantor bupati yang gagah berdiri di atas bukit. Jarak dari gerbang pos menuju kantor bupati diperkirakan sejauh 1 km dengan jalan lurus menuju kaki bukit, lalu dilanjutkan jalan setengah melingkar untuk naik ke atas Bukit Arai.


Dalam maket pembangunan kabupaten, nantinya di seberang gerbang pos masuk akan di bangun rumah Dinas Bupati Natuna. Namun saat tulisan ini ditulis, belum ada tanda-tanda pekerjaan ini akan dimulai.

Jom, liat gambar-gambarnya.
Kantor Bupati dari Kejauhan
Jalan setengah melingkar menanjak menuju kantor.





Jalan dari pos jaga menuju Kantor Bupati





Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.

Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...