Bismillahirrohmaanirrohiim...
Alkisah,
pada suatu hari Tuhan merintahkan malaikat2_Nya utk menyusun surga yg
kala itu masih berupa "puzzle"... ketika puzzle2 surga itu disusun,
datanglah Malaikat Ena, bermaksud utk membantu, tapi malah menyenggol
dan menjatuhkan salah satu kepingan puzzle tersebut jatuh ke bumi.
"Ena, kau
harus tanggungjawab, cari puzzle yg telah kau jatuhkan, sebelum ia tidak
bisa diangkat lagi ke langit" kata sang teman. Malaikat Ena menjawab "baiklah, akan ku
ambil puzzle yg jatuh itu, tp tunjukkan dimana tempatnya"... Sambil
mencari2, akhirnya malaikat menemukan puzzle yg terjatuh di bumi itu
sambil memberi tahu Malaikat Ena,
"Na, itu Na puzzle nya, Na, tu Na, di
dekat laut", dengan keterbatasannya Malaikat Ena tak kunjung juga menemukan
puzzle yg dimaksud, "Na, tu Na puzzle nya, ituu.. cepat ambil, Na tu
Na, Na itu Na, Na tu Na, Na"...
Hingga batas waktu yg ditentukan akhirnya puzzle surga yang jatuh tersebut
tetap berada di bumi, mereka menyebutnya #Natuna.
Sekeping puzzle surga yg terjatuh di bumi.
*Hanya sebuah cerita
fiksi* :D
Tuesday, October 7, 2014
Monday, October 6, 2014
Pantai Batu Kasah (part II)
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah setelah sekian lama off akhirnya saya bisa
memposting lagi, mohon maaf dalam beberapa bulan kemarin tidak sempat
memposting sesuatu, dikarenakan saya lagi mudik di kampung halaman. Dan satu hal yang harus diketahui,
di tempat ku jangankan sinyal internet, sinyal HP aja susah men, tambah lagi listrik
yang sering padam. Yah, that is Natuna. But I love it. just the views.💗
Kali ini saya ingin mempromosikan satu destinasi baru di
Natuna, boleh dibilang baru karena ya baru dalam beberapa tahun ini objek wisata
ini dikembangkan. Terletak di sisi timur pulau Bunguran, kami menyebutnya
dengan BATU KASAH.
![]() |
| Pantai Batu Kasah, destinasi wajib ketika berkunjung ke Natuna |
Pantai Batu Kasah terletak di Kecamatan Bunguran Selatan,
sekitar kurang lebih 20 km dari pusat Kota Ranai, kalau menggunakan kendaraan
bermotor sekitar 30 - 45 menit kecepatan rata-rata. Perjalanan dari Ranai dengan rute melewati Sungai Ulu, Singgang Bulan, dan memasuki desa Batu Gajah,
kemudian memasuki daerah yang mempunyai jalan kecil baru lah menemukan tempat
indah ini, jika anda telah memasuki daerah Batu Gajah menuju ke Pantai Batu
Kasah anda sudah disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan indah, mulai dari
pantai-pantai dengan laut jernih hingga tumpukan-tumpukan bebatuan granit besar yang
luar biasa menakjubkan.
Sayangnya, perhatian pemerintah setempat terhadap objek
wisata yang satu ini kurang, mungkin untuk semua objek. Ini terbukti sampai saat
ini akses menuju Pantai Batu Kasah masih boleh dibilang tidak layak,
terlebih jika musim hujan tiba, jalan berlumpur dan licin ditambah lagi dengan
jembatan yang rusak akan sedikit menghambat perjalanan anda, mungkin mengurangi
sedikit mood. hmmm
Namun, letih perjalanan anda akan terbayar ketika sampai di
tempat ini. Pantai Batu Kasah. Pantai pasir putih yang indah, pohon kelapa yang
melambai, suasana tenang, ditambah dengan angin yang bertiup perlahan, dijamin
akan mengembalikan mood yang tadi sempat hilang diperjalanan.
Batu Kasah merupakan "komplek" bebatuan granit yang tersusun mengelompok di pantai-pantai, seperti membentuk sebuah formasi. Indah. Ombak yang perlahan menepi, angin yang bertiup pelan, sangat cocok untuk anda yang ingin melepas lelah, bersantai bersama sahabat atau keluarga. Laut yang jernih juga ditemani oleh dua pulau yang terlihat berdampingan di depan, Pulau Kemudi dan Pulau Jantai akan melengkapi sempurnanya hari bersantai anda di tempat ini.
ENJOY NATUNA... O:)
![]() |
| Pulau Jantai, dari Batu Kasah |
Thanks for visiting my blog.
Wednesday, February 12, 2014
Cerpen : Putri Lumpuh dan Datuk Kaya
Namaku Fatimah, hari
ini aku sangat sedih. Sedih sekali. Entah kenapa perasaan ini begitu
menghantuiku. Tidurku menjadi tak lelap, makan tak kenyang, mandi pun serasa
tak basah. Aku memikirkan suamiku yang sudah semingu ini tidak pulang. Katanya
pergi ke Binjai, untuk bersemedi mencari petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Binjai merupakan daerah dekat segeram, tempat
pertama kali aku menginjakkan kaki di Pulau Bunguran ini. Binjai sudah menjadi
tempat langganan suamiku bermeditasi, hanya sekedar untuk menenangkan diri.
Namun kali ini berbeda. Ia tak kunjung pulang. Bahkan saat ia pergi tidak satu pun menteri yang boleh
mengikutinya. Kini Aku sudah berbadan dua setelah satu tahun kami menikah. Hal
ini menambah rasa sedihku, Usia kehamilan yang sudah delapan bulan. Tinggal
satu bulan lagi Aku akan menimang seorang bayi.
“Ohh Megat, Aku
merindukanmu. Kini telah tujuh hari engkau tak pulang kerumah” rintihku.
***
Terlahir sebagai putri
kerajaan, Aku sangat bahagia. Namun dengan nikmat yang Tuhan berikan kepadaku,
membuat Ayahanda mengusirku dari istana.
Aku tak bisa menggerakan sedikitpun anggota tubuh bagian bawahku. Untuk
berpindah dari satu tempat ketempat lain Aku harus ditandu oleh menteri dan
dayang-dayang yang setia mengikutiku. Alasan Ayah mengusirku, karena malu
memiliki putri yang cacat. Dia begitu tersohor ke seluruh Nusantara.
“Apa kata orang jika
mengetahui penerusku hanyalah seorang putrid yang lumpuh.” begitu kata Ayah
kepadaku, tanpa memikirkan bagaimana
perasaan Aku sebagai anaknya.
Ibu tidak dapat
mencegah niat Ayah untuk mengusirku dari istana. Segala persiapan dan
perbekalan sudah Ayah siapkan demi penghidupanku di daerah tujuan. Ada sedikit
rasa sayang Ayah kepadaku, hanya saja rasa malunya yang mengalahkan kasih saying
itu kepadaku. Aku dibekali sebuah mahkota berwarna kuning emas. Harapan Ayah,
Aku dapat membangun kerajaan didaerah tujuan nantinya. Rombongan kami berjumlah
empat puluh orang terdiri dari dayang dan para menteri. mengarungi samudra dari
johor menuju sebuah pulau yang dulunya pernah dikunjungi Raja Kertanegara (Raja
majapahit), menaiki tujuh buah perahu yang di sumbangkan ayah. Pulau itu
dinamakan pulau serindit oleh Raja kertanegara, sebab saat Ia berkelana ke pulau
itu didapati banyak burung serindit yang bertenggeran di pepohonan dekat sungai
yang mereka singgahi.
Setelah beberapa hari
beradu dengan ombak, merapatlah rombonganku ketepian dekat pantai. kami telah berada
di pulau sabang mawang yang merupakan bagian dari pulau serindit. Pulau
serindit yang terdiri dari berbagai pulau, tersebar dan dikelilingi lautan.
Jaraknya sangat berdekatan, namun harus menggunakan kereta air untuk
menggapainya. Didaerah ini tidak berpenghuni, hanya ditemani hewan dan hutan
yang hijau merona. Kami menetap di daerah ini, berhari-hari bermukim, timbul
niat para dayang dan menteri untuk mencarikan suami untukku, Aku akan
dijodohkan dengan salah seorang menteri yang ada dirombongan. Aku setuju.
Akupun sudah menjadi wanita yang siap untuk dinikahi, namun mereka tetap
menyadari Aku hanyalah putri lumpuh yang diusir ayahnya dari kerajaan. Namun
hal itu tidak mengurung niat mereka, Aku dijodohkan dengan menteri tertua dalam
rombongan.
***
Pagi ini, Aku dan
menteri siap untuk dinikahkan. Tidak ada pesta, dekorasi bahkan makan-makan.
Aku tidak berhias atau didandan, seperti pengantin umumnya. Suasana tidak
semeriah pesta di istanaku, seandaninya aku menikah disana. Kami hanya
berkumpul dalam rumah yang sederhana, terbuat dari susunan kayu alam. Aku masih
didalam kamar, menunggu sang menteri yang sebagai penghulu kami memanggilku
untuk keluar. Kemudian seorang dayang dengan tergesa-gesa menghampiriku dalam
kamar.
“ Engku, engku”. Dayang
bersorak menuju kearahku. Panggilan engku khusus untuk wanita dari kesultanan Ayahku.
Sultan di Johor.
“Ada apa, dayang?”
tanyaku.
“Sang menteri, sang
menteri itu.”
“Sang menteri kenapa?”
aku terheran melihat dayang yang begitu tergopoh-gopoh pagi itu. Tidak biasanya
kejadian begini terjadi selama perjalanan kami.
“Menteri ditemukan
mengapung di tepi pantai, engku.” Jawabnya. Setelah bersusah payah menyebutkan
informasi itu kepadaku. Para menteri yang berada didekatku langsung menanduku
menuju keluar kamar. Diluar sudah tergelatak mayat sang menteri yang semalam
dijodohkan kepadaku. “Ya tuhan, pertanda apa ini?” batinku.
Semingu berlalu,
kejadian itu sudah menjadi kisah masa lalu bagi kami. Mereka kembali mencarikan
calon suami untukku, namun berkali-kaipun. Selalu saja calon itu meninggal
dunia sebelum menikahiku. Berbagai macam cara mereka tewas, entah apa
penyebabnya? Tidak satupun dari kami yang mengetahui asal masalahnya. Ada yang mati
tenggelam, menghilang dihutan, tergeletak didalam kamar, ada yang tiba-tiba
sakit perut dan kemudian nyawanya lenyap dan ada pula yang mati setelah menjamu makan malam.
Dengan kejadian aneh
ini, kami pun berkesimpulan berpindah lokasi. kembali mengarungi lautan mencari
wilayah yang cocok untuk membangun kerajaan. Ditempat itu bukan tempat yang
diberkahiNya, jangankan untuk membangun kerajaan. Untuk mencari pangeran untuk
sang putri saja tidak terkabulkan.
Kami kembali berkayuh. Beberapa
hari berlalu di lautan, perahu-perahu kami memasuki sebuah sungai kecil di
pulau serindit. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Segeram. Tidak ada satupun manusia yang kami temukan setiba
kami disana , hanya beberapa hewan buas dan lautan hutan yang lebat dan hijau.
“ Engku, mari kita
mencari tempat perteduhan untuk kita menetap di pulau ini.” Saran seoarng
menteri kepadaku.
“ Lakukan sesuka kalian
ditempat ini, Aku hanya bisa mengikuti kalian,” jawabku. Mereka membopongku menyelami
hutan lebat itu, hingga kami sampai disebuah lokasi yang rindang. Mereka
membangun gubuk untukku beserta para rombongan yang lainnya.
***
Seminggu sudah kami
menetap. Pagi itu, para menteri menyusuri hutan untuk berburu. Mencari hewan
untuk disantap, karena perbakalan yang disumbangkan Ayah sudah menipis dan
hampir habis. Di hutan yang hijau nan lebat itu, pohon-pohon sangat besar
menyerupai tower-tower masa kini, berdaun rindang. Binatang-binatang seperti
kera, burung, jangkrik, riuh menyapa kami setiap harinya. Saat kami ingin
melauk, kami menuju sungai atau meneruskan ke laut, Ikan-ikan di lautan juga
sangat mudah didapat. Disbanding zaman ini yang sangat sulit sebab telah banyak
terumbu karang yang telah rusak oleh ulah manusia yang tidak beradab. Di dekat
pohon yang agak besar, para menteri menyapa seorang pria yang duduk bersandar
dibawahnya.
“Ncik siapa?”. Tanya
seorang menteri dengan seorang pria yang mereka temui di tengah hutan yang
berjarak tiga kilometer dari pemukiman kami. Pria itu diam tanpa kata. Tubuhnya
ditutupi bulu, mirip orang hutan, namun dia memiliki pakaian. Entak berapa
tahun ia tidak mengganti pakaiannya, Nampak sangat lusuh. Dia bersandar
disebuah pohon besar, Balau nama
pohon itu. Ia masih terpaku melihat menteri yang mendatanginya.
Para menteri
mengajaknya menuju pemukiman, dan ia diajarkan bahasa melayu serta diislamkan
oleh para menteri. Dengan bahasa baru yang ia pelajari, ia dapat bercerita
siapa dirinya dan dari mana asalnya. Dalam ceritanya, bahwa ia adalah hanyut ke
pulau ini beberapa tahun yang lalu. Ia tidak tahu kenapa? Ia tidak dapat
mengingat masa lalunya kala itu, yang diingatnya bahwa Ia hanyut menaiki sebuah
buluh: bambu, terombang ambing
dilautan dan merapat di sungai segaram, tempat yang kami jelajahi. Untuk
mengidupi diri sejak kala itu, Ia hanya meminum air madu dari pohon balau tempat Ia berteduh sekalian pohon
itu sebagai rumahnya. Oleh karena hanya meminum air madu setiap harinya, maka
tubuhnya berbulu lebat. “Saya adalah orang pertama yang tinggal disini”
ungkapnya didalam cerita panjangnya. Ia menyebut namanya Megat. Dari bahasa
asalnya, ia sepertinya berbahasa siam dari Thailand. Namun entahlah, kebenarannya
tidak begitu akurat.
****
Hubungan Aku dan
Megatkian hari semakin dekat, sebab Ia selalu bersama kami dan tidak tinggal di
pohon itu lagi. Lama kemudian, para menteri berniat kembali menjodohkanku. Dan
calonnya kali ini ialah pria itu, Megat. Sepertinya yang kuasa sudah menuliskan
aturan ini, Ia pun setuju tentang niat para menteri itu. Apalagi Aku, Aku
sangat gembira ada seorang pria yang sudi menikahi perawan lumpuh sepertiku.
Namun dalam kesenangan itu, Aku khawatir kejadian lama itu kembali terulang.
“Apakah Megat juga akan mati?.” Aku bertanya dalam hatiku.
***
Kejadian seperti di
pulau sabang mawang tidak terulang kembali, ini tandanya keberkahan telah
merasuki perjalan kami ke pulau serindit. Aku dinikahkan dengan Megat. Karena Aku
adalah seorang putri sultan maka di kampung baruku, sang pangeran kami beri gelar
Datuk Kaya Dina Mahkota. Datuk kaya melambangkan seorang penguasa
di pulau bunguran yang kekuasaannya sama dengan sultan, dina mahkota mengandung arti seorang putri yang sangat hina dina,
dalam keadaan lumpuhnya, Ia juga diusir dari istana. Selepas menikahiku, Megat
membangun sebuah punggur, bangunan
rumah untukku, bangunan itu mirip lesehan rumah makan masa kini. Terbuat dari
kayu yang diambilnya dari hutan, beratap daun sagu. Dengan adannya punggur ini,
maka wilayah ini kami menyebutnya bunguran. Lebih lanjut turun temurun di sebut
Pulau Bunguran.
Setahun kemudian, Aku
mengandung anaknya dan memasuki usia kehamilan delapan bulan. Pagi itu, Megat
meminta izin untuk pergi bersemedi, seperti yang biasa dilakukannya untuk
menenangkan diri. Hari itu tidak seoarang pun menteri yang boleh ikut
dengannya. Aku menyetujui kepergiaannya. Daerah tujuannya disebut Binjai, tidak terlalu jauh dari
Segeram, tempat kami bermukim. Pagi itu pula menjadi hari akhir Aku melihatnya,
karena Ia tak pernah lagi kembali ke punggur. Entah kemana Ia menghilang bagai
ditelan bumi. Ketika menteri menyusulnya dan setiba ditempat biasa Ia berdiam
diri, hanya kekosongan yang mereka temukan. Oleh para menteri, tempat biasa
Megat duduk bersila di letakkan sebuah batu agak besar sebagai tanda. Kemudian
mereka kembali ke segeram.
“Ohh Tuhan, apakah ini semua sudah kehendakmu.
Diriku engkau karuniai lumpuh permanen, Ayah mengusirku dan para menteri telah
banyak yang tewas sebelum menikahiku, kemudian setelah memenukan seorang lelaki
yang mampu bertahan menikahiku, Ia malah menghilang entah kemana.”***
Cerpen Karangan: Siswari
Facebook: Siswari Senju (https://www.facebook.com/sis.wari.7?fref=ts)
SISWARI, kelahiran Sedanau, Natuna 1991. mahasiswa prodi Ekonomi SYariah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna 2010. Alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur angkatan 2009. memperkenalkan tanah melayu adalah cita-cita.
Thursday, January 23, 2014
Cerpen : Pulau Hamil
“Anginnya sejuk, Yah. Tempat apa ini?”
“Ini namanya Pantai, Nak.”
“Pantai apa, Yah?”
“Namanya Pantai Ujung”
“O, ujungnya yang mana, Yah?” ucap Latifah sementara dua jari telunjuk mungilnya yang baru berusia hampir lima tahun menunjuk ke arah yang berlawanan.
“Aduh, Fah, kamu banyak tanya. Dari tadi tidak pernah diam,” kata Maliki, sebuah tangannya merangkul tangan Latifah kecil yang hampir berlari di sampingnya.
“Yang mana, Yah?” ulang Latifah seakan tidak mendengar keluhan ayahnya. Pertanyaan beruntun tak putus-putusnya keluar dari mulut mungil anak itu, menghujani Maliki sejak mereka tadi meninggalkan Rumah dan di sepanjang jalan di dalam mobil, hingga mendarat di Pantai Ujung tidak jauh dari Kota. Tempat mereka biasa melepaskan kepenatan di akhir pekan.
Maliki tidak habis pikir dengan anak tunggalnya itu yang sangat rajin mengoceh dan tidak mengenal lelah. Padahal jarak dari rumah ke pantai tidak kurang dari lima jam perjalanan. Dan perjalanan itu pun mengantukkan bagi orang dewasa. Tetapi Latifah tetap bersemangat, kadang-kadang kasihan juga Maliki melihat anaknya. Dicobanya untuk mengajak istirahat sebentar sambil tidur-tiduran di tenda dekat mobil mereka diparkir, tetapi Latifah menolak. Dan terus bertanya.
“Kenapa pohon kelapanya banyak yang condong ke arah laut, Yah?”
“Itu karena angin lebih kencang dari darat ke laut,”
“Yah, disana itu apa?” Jari kecilnya menunjuk lagi.
“Semacam kapal. Ayah tidak tahu…”
“Bukan, Bukan kapal itu.”
“O, yang bulat itu. Namanya…”
“Bukan!” Suaranya meninggi. Kakinya yang mungil dihentak-hentakkan ke tanah, jengkel karena ayahnya tidak tahu apa yang dimaksudkannya. “Bukan Batu.”
“Yang mana?”
“Itu,” katanya sambil menunjuk lagi.
“Pulau itu?”
“Pulau? Pulau itu, apa, Yah?”
“Pulau adalah tanah yang ditumbuhi tanaman juga tempat hidup para binatang dan dikelilingi oleh air laut”
“Berarti seperti tempat tinggal kita juga, Yah?”
“Ya, kita dan semua orang juga tinggal di atas Pulau.”
“Apa disana ada orang, Yah?”
“Tidak, pulau itu tidak ada orangnya.”
Latifah menghentikan langkahnya. Dan terus memandang ke arah laut. Kemudian bertanya, “Mengapa pulau itu kelihatan seperti orang hamil, Yah?”
Maliki paling merasa susah jika ditanya “mengapa” oleh Latifah. Kalau “apa” masih tidak terlalu sulit untuk dijawab. Anak-anak lainnya seusia Latifah juga senang sekali bertanya. Ya, keingintahuan anak kecil. Namun, Latifah bertanya bukan hanya sekedar ingin tahu. Perhatian Latifah juga tertuju pada alam sekeliling, pada jawaban yang diberikan pada setiap pertanyaannya, baik oleh Ayahnya atau siapa saja.
“Itu ada ceritanya, Fah,” jawab Maliki. “Pulau itu namanya Pulau Hamil.”
“Bagaimana ceritanya, Yah?”
“Panjang ceritanya, Fah. Nanti malam Ayah ceritakan,”
“Janji, Yah?”
“Ya, Ayah janji.”
Latifah tambah senang hatinya dan tambah tegap langkahnya. Janji Maliki membuatnya berhenti bertanya tentang pulau itu, tetapi hujan pertanyaan makin lebat. Tentang air laut yang terasa asin, ombak yang bergiur diterpa angin, tentang serpihan binatang laut yang berserakan di bibir pantai.
Dahulu kala hidup di wilayah pantai ini sebuah keluarga kecil. Di dalam keluarga itu hanya ada dua orang: suami dan istrinya. Mereka sudah lama menikah namun belum mendapatkan buah hati. Mereka merupakan keluarga sederhana yang tidak kaya dan juga tidak begitu miskin. Pasangan itu hidup di sebuah pondok. Untuk menghidupi mereka, suaminya bekerja sebagai penangkap ikan dan istrinya sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).
Hidup di lingkungan bersama masyarakat setempat. Mereka merupakan keluarga yang sombong dan kikir, tidak pernah mau untuk membantu orang lain yang lagi kesusahan. Setiap ada warga yang meminta bantuannya selalu ditolak dengan berbagai alasan dan tepisan. Kadang tidak bisa membantu, tidak memiliki uang, lagi sibuk dan berbagai alasan lainnya selalu muncul dari bibir mereka baik suami maupun istrinya.
Hubungan keluarga itu dengan warga setempat pun semakin memburuk. Orang-orang sudah tidak begitu peduli dengan mereka. Kala itu, istrinya diketahui mendapatkan kado istimewa dari Tuhan yaitu kehamilan. Alangkah senang hatinya. Dia kemudian menceritakan kepada suaminya. Dan suaminya pun ikut senang. Tujuh bulan berlalu. Sang istri makin jelas kehamilannya dengan perut yang menonjol ke depan seakan sangat berat membawanya dan semakin nampak besar bulatannya.
Suatu hari, sang suami sedang pergi menangkap ikan. Tinggallah istrinya sendirian di rumah berduaan dengan anaknya yang masih dalam kandungan itu.
“Bapak ke laut dulu, Bu. Mencari ikan untuk kita makan nanti malam.”
“Iya Pak.” Jawab istrinya dengan nada rendah.
“Ibu baik-baik di rumah, ya, jaga kondisi Ibu dan buah hati kita!” pesan suami kepada istrinya, lalu pergi ke luar rumah dengan memikul serumpun jala.
Setelah beberapa jam berlalu suaminya pergi, tiba-tiba wanita itu sangat ingin makan buah lamun: buah dari tumbuhan laut yang bisa dipetik ketika air laut sedang surut dan rasanya manis. Berfikirlah Ia bagaimana cara mendapatkannya. Hendak keluar rumah untuk mencari, terasa agak begitu repot dengan kondisi kehamilannya. Karena terpaksa oleh keinginan yang tidak boleh ditunda-tunda. Keluarlah Sang istri menuju rumah-rumah warga untuk mencari segelintir bala batuan.
“Pak, saya sedang ingin makan buah lamun, dapatkah membantu untuk mencarikannya?” Pintanya kepada seorang warga yang tampak sedang duduk di teras rumah yang tidak jauh dari pondoknya.
“Saya sedang tidak sehat sekarang, Bu.” Jawab lelaki itu yang kemudian menghilang di balik pintu rumahnya.
Wanita itu terus mengayunkan langkahnya, berharap ada yang bersedia menerima permohonannya.
“Bu, bisakah mencarikan buah lamun untuk saya. Kebetulan air laut sedang surut.”
“Aduh Bu, saya sedang buru-buru mau ke pasar sekarang.” Jawab wanita yang ditemuinya itu.
Dengan mata sendu yang melambangkan keputusasaan serta langkah lesunya yang semakin melemah, wanita itu menuju pesisir pantai untuk mencari buah yang di idamnya. Tanpa harus menunggu bantuan yang tidak pasti, Dia terus berjalan di tepian. Air setinggi tumit mengharuskan pandangan matanya tidak lepas dari gundukan-gundukan pasir di bawah air dengan harapan menatap serumput lamun yang siap untuk disantap.
“Dimana buah itu, dari tadi tidak satupun ku temukan.” Gumamnya dalam hati. Kemudian Ia berenti sejenak mengenang kehadiran buah lamun yang tidak kunjung datang.
“Mungkin mereka hidup di air yang lebih dalam.” Pikirnya.
Teruslah dia menyusuri ke arah laut yang sedikit dalam dan menjauh dari pesisir pantai. Dengan alunan langkah yang lentur namun pasti, ditemukan juga buah lamun itu. Dan di petiknya lalu dimakan. “Mungkin disana akan lebih banyak.” Katanya sambil terus melangkah menyusuri lautan dangkal itu. Tidak sadar air laut semakin pasang yang kini sudah setinggi lutut rapuhnya. Melihat buah lamun yang makin banyak didapatkan, Dia semakin bersemangat.
Air laut terus meninggi. Hari mulai gelap tanda akan turun hujan. Bergegaslah ia hendak kembali kedaratan. Dengan ayunan langkah yang lamban dan keletihan sudah melanda dirinya. Ia terus menuju pesisir. Kini air laut mencapai dadanya. Semakin lambatlah langkah wanita renta itu. Silauan petir mulai terasa. Langit mulai gelap. Seketika wanita tua itu tergelam yang akhirnya mengapung dengan perutnya menonjol di atas permukaan laut. Jadilah ia sebuah Pulau yang berbentuk seperti orang hamil. Pulau itu hingga kini terletak didepan Pantai Ujung yang bisa kita datangi dengan berjalan kaki ketika air laut sedang surut.
“Kenapa wanita itu jadi Pulau, Yah?”
“Itu karena Tuhan marah kepadanya yang sombong dan pelit, Nak.”
“Orang yang sombong Tuhan tidak suka, ya?”
“Iya, Tuhan telah menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang lain.”
“Kalau badan berubah jadi pulau, sakit ya, Yah?”
“Tentu. Itu hukuman bagi orang yang tidak patuh kepada perintah Tuhan.”
Latifah terdiam. Maliki melihat anaknya menatap langit-langit. Matanya melukiskan bahwa otaknya sedang berputar cepat. Entah apa yang dipikirkannya. Maliki khawatir Latifah takut dengan ceritanya. Ia khawatir latifah ngeri membanyangkan sakitnya perubahan diri menjadi Pulau.
“Yah,” kata latifah sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Maliki yang berdekatan dengan wajahnya. Maliki memeluk anaknya yang terbaring di tempat tidur. Senyum manis Maliki mencoba meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutinya. “Kalau aku tidak patuh pada perintah Tuhan, apa tuhan akan menghukum aku.”
“Kamu anak yang baik.”
“Ini kalau saja, Yah. Bagaimana kalau aku tidak patuh?”
“Kamu akan jadi anak yang patuh, Fah.”
Lama Latifah berpikir. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya tidak menjawab pertanyaannya. Dia terlalu kecil untuk membaca kerumitan pikiran ayahnya. Pikiran kecilnya terlalu lugu untuk mengarungi pikiran orang dewasa yang selalu punya banyak pertimbangan.
“Ya, ini kalau. Kalau anak Ayah tidak patuh, bagaimana?”
“ayah akan berdo’a kepada Tuhan agar Latifah di ampuni-Nya.”
Latifah diam lagi. Lalu, “Kenapa, Yah?” tanyanya sambil memainkan kerah baju ayahnya.
“Karena Ayah sayang Latifah.”
“Kenapa, Yah?” lanjut Latifah.
“Kenapa Ayah sayang kepadamu?”
Latifah mengangguk.
“Itu kewajiban orang tua, Fah.”
“Apa disuruh Tuhan?”
“Ya, Tuhan menyuruh manusia berbuat baik sesama manusia. Orang tua sayang kepada anaknya dan anak sayang kepada orang tuanya.”
Latifah berpikir lagi. Kemudian, “Kalau begitu, warga tempat keluarga itu tinggal juga tidak patuh, ya, Yah?” Terkejut Maliki mendengar perkataan anaknya.
“Kenapa Fah?”
“Mereka tidak patuh kepada perintah Tuhan. Mereka juga tidak mau membantu keluarga itu. Apa warga tadi juga di hukum Tuhan, Yah?”
“Ayah tidak tahu.”
“Apa warga tidak mau menolongnya karena warga disana juga orang-orang yang tua renta, Yah?”
“Entahlah, Fah.” Kata Maliki sambil mengusap pipi Latifah yang dihinggapi nyamuk. Mata anaknya hampir tertutup. Kantuk makin terasa menguasai dirinya.
“Apa ayah yakin yang menjadi Pulau itu istri penangkap ikan. Bukan warga yang lain, Yah?”
“Ayah tidak begitu yakin, Fah. Ini cerita orang.”
Latifah terlelap dengan seulas senyum tercipta di bibirnya.
Cerpen Karangan: Siswari
Facebook: Siswari Senju (https://www.facebook.com/sis.wari.7?fref=ts)
SISWARI, kelahiran Sedanau, Natuna 1991. mahasiswa prodi Ekonomi SYariah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna 2010. Alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur angkatan 2009. memperkenalkan tanah melayu adalah cita-cita.
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-nasihat/pulau-hamil.html
dengan sedikit tambahan :)
“Ini namanya Pantai, Nak.”
“Pantai apa, Yah?”
“Namanya Pantai Ujung”
“O, ujungnya yang mana, Yah?” ucap Latifah sementara dua jari telunjuk mungilnya yang baru berusia hampir lima tahun menunjuk ke arah yang berlawanan.
“Aduh, Fah, kamu banyak tanya. Dari tadi tidak pernah diam,” kata Maliki, sebuah tangannya merangkul tangan Latifah kecil yang hampir berlari di sampingnya.
“Yang mana, Yah?” ulang Latifah seakan tidak mendengar keluhan ayahnya. Pertanyaan beruntun tak putus-putusnya keluar dari mulut mungil anak itu, menghujani Maliki sejak mereka tadi meninggalkan Rumah dan di sepanjang jalan di dalam mobil, hingga mendarat di Pantai Ujung tidak jauh dari Kota. Tempat mereka biasa melepaskan kepenatan di akhir pekan.
Maliki tidak habis pikir dengan anak tunggalnya itu yang sangat rajin mengoceh dan tidak mengenal lelah. Padahal jarak dari rumah ke pantai tidak kurang dari lima jam perjalanan. Dan perjalanan itu pun mengantukkan bagi orang dewasa. Tetapi Latifah tetap bersemangat, kadang-kadang kasihan juga Maliki melihat anaknya. Dicobanya untuk mengajak istirahat sebentar sambil tidur-tiduran di tenda dekat mobil mereka diparkir, tetapi Latifah menolak. Dan terus bertanya.
“Kenapa pohon kelapanya banyak yang condong ke arah laut, Yah?”
“Itu karena angin lebih kencang dari darat ke laut,”
“Yah, disana itu apa?” Jari kecilnya menunjuk lagi.
“Semacam kapal. Ayah tidak tahu…”
“Bukan, Bukan kapal itu.”
“O, yang bulat itu. Namanya…”
“Bukan!” Suaranya meninggi. Kakinya yang mungil dihentak-hentakkan ke tanah, jengkel karena ayahnya tidak tahu apa yang dimaksudkannya. “Bukan Batu.”
“Yang mana?”
“Itu,” katanya sambil menunjuk lagi.
“Pulau itu?”
“Pulau? Pulau itu, apa, Yah?”
“Pulau adalah tanah yang ditumbuhi tanaman juga tempat hidup para binatang dan dikelilingi oleh air laut”
“Berarti seperti tempat tinggal kita juga, Yah?”
“Ya, kita dan semua orang juga tinggal di atas Pulau.”
“Apa disana ada orang, Yah?”
“Tidak, pulau itu tidak ada orangnya.”
Latifah menghentikan langkahnya. Dan terus memandang ke arah laut. Kemudian bertanya, “Mengapa pulau itu kelihatan seperti orang hamil, Yah?”
Maliki paling merasa susah jika ditanya “mengapa” oleh Latifah. Kalau “apa” masih tidak terlalu sulit untuk dijawab. Anak-anak lainnya seusia Latifah juga senang sekali bertanya. Ya, keingintahuan anak kecil. Namun, Latifah bertanya bukan hanya sekedar ingin tahu. Perhatian Latifah juga tertuju pada alam sekeliling, pada jawaban yang diberikan pada setiap pertanyaannya, baik oleh Ayahnya atau siapa saja.
“Itu ada ceritanya, Fah,” jawab Maliki. “Pulau itu namanya Pulau Hamil.”
“Bagaimana ceritanya, Yah?”
“Panjang ceritanya, Fah. Nanti malam Ayah ceritakan,”
“Janji, Yah?”
“Ya, Ayah janji.”
Latifah tambah senang hatinya dan tambah tegap langkahnya. Janji Maliki membuatnya berhenti bertanya tentang pulau itu, tetapi hujan pertanyaan makin lebat. Tentang air laut yang terasa asin, ombak yang bergiur diterpa angin, tentang serpihan binatang laut yang berserakan di bibir pantai.
Dahulu kala hidup di wilayah pantai ini sebuah keluarga kecil. Di dalam keluarga itu hanya ada dua orang: suami dan istrinya. Mereka sudah lama menikah namun belum mendapatkan buah hati. Mereka merupakan keluarga sederhana yang tidak kaya dan juga tidak begitu miskin. Pasangan itu hidup di sebuah pondok. Untuk menghidupi mereka, suaminya bekerja sebagai penangkap ikan dan istrinya sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).
Hidup di lingkungan bersama masyarakat setempat. Mereka merupakan keluarga yang sombong dan kikir, tidak pernah mau untuk membantu orang lain yang lagi kesusahan. Setiap ada warga yang meminta bantuannya selalu ditolak dengan berbagai alasan dan tepisan. Kadang tidak bisa membantu, tidak memiliki uang, lagi sibuk dan berbagai alasan lainnya selalu muncul dari bibir mereka baik suami maupun istrinya.
Hubungan keluarga itu dengan warga setempat pun semakin memburuk. Orang-orang sudah tidak begitu peduli dengan mereka. Kala itu, istrinya diketahui mendapatkan kado istimewa dari Tuhan yaitu kehamilan. Alangkah senang hatinya. Dia kemudian menceritakan kepada suaminya. Dan suaminya pun ikut senang. Tujuh bulan berlalu. Sang istri makin jelas kehamilannya dengan perut yang menonjol ke depan seakan sangat berat membawanya dan semakin nampak besar bulatannya.
Suatu hari, sang suami sedang pergi menangkap ikan. Tinggallah istrinya sendirian di rumah berduaan dengan anaknya yang masih dalam kandungan itu.
“Bapak ke laut dulu, Bu. Mencari ikan untuk kita makan nanti malam.”
“Iya Pak.” Jawab istrinya dengan nada rendah.
“Ibu baik-baik di rumah, ya, jaga kondisi Ibu dan buah hati kita!” pesan suami kepada istrinya, lalu pergi ke luar rumah dengan memikul serumpun jala.
Setelah beberapa jam berlalu suaminya pergi, tiba-tiba wanita itu sangat ingin makan buah lamun: buah dari tumbuhan laut yang bisa dipetik ketika air laut sedang surut dan rasanya manis. Berfikirlah Ia bagaimana cara mendapatkannya. Hendak keluar rumah untuk mencari, terasa agak begitu repot dengan kondisi kehamilannya. Karena terpaksa oleh keinginan yang tidak boleh ditunda-tunda. Keluarlah Sang istri menuju rumah-rumah warga untuk mencari segelintir bala batuan.
“Pak, saya sedang ingin makan buah lamun, dapatkah membantu untuk mencarikannya?” Pintanya kepada seorang warga yang tampak sedang duduk di teras rumah yang tidak jauh dari pondoknya.
“Saya sedang tidak sehat sekarang, Bu.” Jawab lelaki itu yang kemudian menghilang di balik pintu rumahnya.
Wanita itu terus mengayunkan langkahnya, berharap ada yang bersedia menerima permohonannya.
“Bu, bisakah mencarikan buah lamun untuk saya. Kebetulan air laut sedang surut.”
“Aduh Bu, saya sedang buru-buru mau ke pasar sekarang.” Jawab wanita yang ditemuinya itu.
Dengan mata sendu yang melambangkan keputusasaan serta langkah lesunya yang semakin melemah, wanita itu menuju pesisir pantai untuk mencari buah yang di idamnya. Tanpa harus menunggu bantuan yang tidak pasti, Dia terus berjalan di tepian. Air setinggi tumit mengharuskan pandangan matanya tidak lepas dari gundukan-gundukan pasir di bawah air dengan harapan menatap serumput lamun yang siap untuk disantap.
“Dimana buah itu, dari tadi tidak satupun ku temukan.” Gumamnya dalam hati. Kemudian Ia berenti sejenak mengenang kehadiran buah lamun yang tidak kunjung datang.
“Mungkin mereka hidup di air yang lebih dalam.” Pikirnya.
Teruslah dia menyusuri ke arah laut yang sedikit dalam dan menjauh dari pesisir pantai. Dengan alunan langkah yang lentur namun pasti, ditemukan juga buah lamun itu. Dan di petiknya lalu dimakan. “Mungkin disana akan lebih banyak.” Katanya sambil terus melangkah menyusuri lautan dangkal itu. Tidak sadar air laut semakin pasang yang kini sudah setinggi lutut rapuhnya. Melihat buah lamun yang makin banyak didapatkan, Dia semakin bersemangat.
Air laut terus meninggi. Hari mulai gelap tanda akan turun hujan. Bergegaslah ia hendak kembali kedaratan. Dengan ayunan langkah yang lamban dan keletihan sudah melanda dirinya. Ia terus menuju pesisir. Kini air laut mencapai dadanya. Semakin lambatlah langkah wanita renta itu. Silauan petir mulai terasa. Langit mulai gelap. Seketika wanita tua itu tergelam yang akhirnya mengapung dengan perutnya menonjol di atas permukaan laut. Jadilah ia sebuah Pulau yang berbentuk seperti orang hamil. Pulau itu hingga kini terletak didepan Pantai Ujung yang bisa kita datangi dengan berjalan kaki ketika air laut sedang surut.
“Kenapa wanita itu jadi Pulau, Yah?”
“Itu karena Tuhan marah kepadanya yang sombong dan pelit, Nak.”
“Orang yang sombong Tuhan tidak suka, ya?”
“Iya, Tuhan telah menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang lain.”
“Kalau badan berubah jadi pulau, sakit ya, Yah?”
“Tentu. Itu hukuman bagi orang yang tidak patuh kepada perintah Tuhan.”
Latifah terdiam. Maliki melihat anaknya menatap langit-langit. Matanya melukiskan bahwa otaknya sedang berputar cepat. Entah apa yang dipikirkannya. Maliki khawatir Latifah takut dengan ceritanya. Ia khawatir latifah ngeri membanyangkan sakitnya perubahan diri menjadi Pulau.
“Yah,” kata latifah sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Maliki yang berdekatan dengan wajahnya. Maliki memeluk anaknya yang terbaring di tempat tidur. Senyum manis Maliki mencoba meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutinya. “Kalau aku tidak patuh pada perintah Tuhan, apa tuhan akan menghukum aku.”
“Kamu anak yang baik.”
“Ini kalau saja, Yah. Bagaimana kalau aku tidak patuh?”
“Kamu akan jadi anak yang patuh, Fah.”
Lama Latifah berpikir. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya tidak menjawab pertanyaannya. Dia terlalu kecil untuk membaca kerumitan pikiran ayahnya. Pikiran kecilnya terlalu lugu untuk mengarungi pikiran orang dewasa yang selalu punya banyak pertimbangan.
“Ya, ini kalau. Kalau anak Ayah tidak patuh, bagaimana?”
“ayah akan berdo’a kepada Tuhan agar Latifah di ampuni-Nya.”
Latifah diam lagi. Lalu, “Kenapa, Yah?” tanyanya sambil memainkan kerah baju ayahnya.
“Karena Ayah sayang Latifah.”
“Kenapa, Yah?” lanjut Latifah.
“Kenapa Ayah sayang kepadamu?”
Latifah mengangguk.
“Itu kewajiban orang tua, Fah.”
“Apa disuruh Tuhan?”
“Ya, Tuhan menyuruh manusia berbuat baik sesama manusia. Orang tua sayang kepada anaknya dan anak sayang kepada orang tuanya.”
Latifah berpikir lagi. Kemudian, “Kalau begitu, warga tempat keluarga itu tinggal juga tidak patuh, ya, Yah?” Terkejut Maliki mendengar perkataan anaknya.
“Kenapa Fah?”
“Mereka tidak patuh kepada perintah Tuhan. Mereka juga tidak mau membantu keluarga itu. Apa warga tadi juga di hukum Tuhan, Yah?”
“Ayah tidak tahu.”
“Apa warga tidak mau menolongnya karena warga disana juga orang-orang yang tua renta, Yah?”
“Entahlah, Fah.” Kata Maliki sambil mengusap pipi Latifah yang dihinggapi nyamuk. Mata anaknya hampir tertutup. Kantuk makin terasa menguasai dirinya.
“Apa ayah yakin yang menjadi Pulau itu istri penangkap ikan. Bukan warga yang lain, Yah?”
“Ayah tidak begitu yakin, Fah. Ini cerita orang.”
Latifah terlelap dengan seulas senyum tercipta di bibirnya.
Cerpen Karangan: Siswari
Facebook: Siswari Senju (https://www.facebook.com/sis.wari.7?fref=ts)
SISWARI, kelahiran Sedanau, Natuna 1991. mahasiswa prodi Ekonomi SYariah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna 2010. Alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur angkatan 2009. memperkenalkan tanah melayu adalah cita-cita.
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-nasihat/pulau-hamil.html
dengan sedikit tambahan :)
Cerpen : Nan Toa
“Jas merah”. Aku teringat akan pesan presiden perdana
Republik Indonesia, dalam buku sejarah yang ku pinjam di pustaka daerah
kemarin. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” itulah maknanya.
Hari ini, happy birthday ke Sembilan kabupaten daerahku, tepatnya 22 Oktober. Semangat patrionisme dalam dadaku memberontak keluar, seakan ikut berjuang kembali bersama Jendral Sudirman walau hanya bersenjata bambu runcing. Kemenangan akan selalu muncul dibalik semangat yang membara.
Aku bersiap menuju peraduan menimba ilmu, menunggu angkutan sekolah bersubsidi yang biasanya menjemput pukul Enam Setengah. Bersama teman sekampungku, Andi. Kami angkatan 1997. Empat puluh dua menit melaju, kami terjun di depan gerbang SMAN 1.
“Masih awal, gimana kalau kita ke kantin Pak Tomo”. Hasutku pada Andi. Pak Tomo guru Sosiologi di kelasku, Ia belum pulang dari kebunnya. Menasehati monyet-monyet nakal yang usil. Agar jangung manisnya tumbuh normal.
“Ayolah”, jawab Andi sambil melirik jam tangan hitam yang melingkari gelangan tangan kirinya.
“Kring, kring, kring,” terdengar raungan lonceng. Tanda Upacara bendera akan segera dilaksanakan.
“Topi, Oke. Sepatu, Oke. Rambut, No problem,” batinku. Mengingat selalu ada razia atribut.
“Aduh. Aku lupa ikat pinggang” rintih Andi.
“Terus gimana, nih?,” tanya ku khawatir. Saat upacara Pak Lubis: Guru kimia yang Killer, senang sekali menggeledah kesalahan anak didiknya. Dia sangat perhatian. Mungkin itu demi melatih kedisiplinan. Tanpa disiplin kita tidak akan sukses. Itulah Motonya.
“Begini sajalah,” cetus Andi, sambil menyodorkan sedikit bagian bawah baju putihnya, menutupi lingkaran pinggang.
“Yakin?” godaku.
“Aman, aman.” singkat Andi.
Kami menuju lapangan, dengan gerakan Sa’i : lari-lari kecil mirip jamaah haji di tanah Suci : Mekah. Setiap kelas berkumpul dan rapi berbaris bersama kelas masing-masing, jama’ah guru juga tepat di sisi kanan depan lapangan, 10 meter arah kanan tiang bendera.
Upacara dimulai, protokol mengeraskan suara bernada reporter dengan kecepatan 10 Km/jam. Komandan upacara, Tegas mengambil alih pasukan. Inspektur di jemput seorang ajudan bak bupati ketika menghadiri kondangan. Pandangan kami Lurus kedepan. Menerobos buaian cahaya yang melintas. Kaku, siap, dan serius. Tiga sosok : dua pria mengapit seorang wanita melangkah serentak, kaki silang-menyilang seperti hendak terbentur, namun itu mustahil. Mereka ahli. Tegap, tegas, bagai robot buatan Amerika. Merah putih di ulur menuju punjak kejayaan, melambai-lambai, tenang dan damai tersapu angin. Gema Indonesia raya menggelegar halaman. Motor, mobil dan sepeda yang lalu-lalang terpaku. Patriotisme bergejolak.
“Hiduplah Indonesia raya,” sayup-sayup lagu serentak berhenti. Gejolak patrionisme membara bagai api tersiram bensin tiga liter. Sang berani dan si suci telah menjulang, siap melayani sapaan awan. Melambai-lambai ria, mengingat tentara Belanda yang telah lama kocar-kacir.
Pak Hairul-Inspektur upacara terpancang tegak, tegap dan wibawa. Persis Soekarno kala 17 agustus 1945 yang tanpa teks di tangannya.
“Istirahat di tempaaaaat,” gaung komandan bernada guruh. Aku menikmati sinaran mentari pagi yang mengalirkan Vitamin D untuk penguatan tulang-tulangku. Terus berdiri dengan posisi kedua tangan terlingkung di belakang, tepat di atas bagian bokong. Protokol mengisyaratkan amanat Pembina upacara. Inspektur beraksi. Beberapa bait yang terekam dalam memori Super Giga titipan Tuhan kepadaku.
“kita patut bersyukur, hari yang berbahagia ini : Ulang tahun ke-9 Kabupaten kita. Jadikan moment ini untuk memacu semangat pendidikan kalian, bangunlah daerah ini memalui pendidikan, perkembangan pendidikan berbanding lurus dengan perkembangan daerah. Sebagai anak daerah kalian dituntut menguasai daerah. Menjelajah, Menggali potensi, dan mengembangkan kretifitas. Awali dengan sejarah daerah ini, dengan sejarah kita dapat dengan sempurna memahami sesuatu hal dari akar-akarnya. Begitu juga dengan Kabupaten ini, ungkapan “laut sakti rantau bertuah” harus kalian pahami.
Potensi alam tidak terhingga, ciptaan Tuhan yang kuasa memang tak terkira. Cadangan Gas alam 40% dari gas dunia. Laut terbentang 98% menggerogoti daratan. Cintailah daerahmu dengan berbuat hal yang berguna.”
Empat puluh satu menit sebelas detik. Kami tercengang. Masih kaku. Kaki terasa keram, ubun-ubun terserang demam dengan amper 100 derajat Celsius. Sengat mentari seakan berjarak beberapa kilo meter dari kepala. Panas, haus, dan menyenangkan. Upacara dibubarkan. Semangat Indonesia raya mesih tertanam, terus tertanam dan tetap tertanam.
Sore ini, Aku bersama teman sekelas, menuju pantai kencana. Persis pantai Nusa dua : Bali yang tanpa turis. Permainan rakyat dipajang memenuhi luasan tanah kuning, di atapi awan putih nuansa bias laut yang biru. Sepoi-sepoi melanda menghanyutkan pandangan, menerpa jiwa, menusuk sanubari, membuat membahana para pengunjung. Panjat pinang 3,5 meter dengan peserta 4 orang ditambah 1 orang. Bergelantungan kupon-kupon, melambai-lambai menunggu seorang pahlawan penyelamat : bermandikan Oli kotor. Merayap di pokok pinang. Tarik tambang antar kecamatan, tepat di sudut utara. Bersorak supporter bagaikan Derby manchester akan bertanding sore ini di stadion Old Trafford – Inggris. Sebelah selatan, tiang-tiang seukuran betis tercancang. Berbaris lingkar. Terdengar suara hitungan. “Satu, Ikat kepala. Dua, gulung penuh. Tiga, siap-siap”.
Benda pipih yang berputar dilemparkan bersamaan ke tanah, pak cik-pak cik sibuk memulung kembali menggunakan skop khusus: berbentuk sendok nasi namun agak besar dan rata terbuat dari triplek. Gasing tetap berputar. Menari-nari di atas kaca. Pakcik-pakcik duduk rapi. Posisi nol besar persis mengelilingi api unggun di malam penutupan camping : pramuka.
Terus berputar. Tiga puluh menit berlalu, lima gasing berhenti berputar. Mundur dari arena. Empat puluh tujuh menit, tersisa dua gasing. Bersaing ketat. Saling menunjukkan potensi. Meliuk-liuk, namun putaran semakin lembut nan lamban. Pertanda tenaga listrik : Baterai melemah. Lima puluh dua menit. Jawara bertahan. Angka dua juta rupiah sudah dibenak pak cik: Tuan gasing hitam nan berkilau. Juri mengintrogasi jawara. Mengukur diameter kemudian membelah dada sang gasing, khawatir ada besi atau timah yang memberatkan hingga perputaran gasing menjadi lebih lama. Tamatlah sang juara. Tuannya tentu tidak merasa iba. “Itulah aturan main yang disepakati,” jawabnya ketika kami tanya.
Kelompok ibu-ibu riuh di sisi tenggara, mengayam ketupat sambil berjalan. Gemuruh, nyaring dan menggelora. Hari mulai gelap, bukan karena corak hitam yang menggantikan awan putih. Mentari tersipu malu, cahaya memudar. Akibat rotasi bumi yang mengelilingi matahari hingga tercipta siang dan malam. Maghrib akan bertamu. Kami melangkahkan gerakan kaki ke arah peraduan, memaksa diri menuju rumah masing-masing.
Ingatanku terus berkobar. Penarasan tentang sejarah daerah ini semakin kuat. “Semua hal pasti ada sejarahnya”, pikirku. Manusia berasal dari tanah, sejarah dalam al-quran. Namun evaluasi Darwin bertentangan, Manusia berasal dari kera. Samakah sejarah daerah ini dengan perjalan Columbus yang menemukan daratan. Negeri Paman Sam itu. Siapakah manusia pertama pulau ini?, dari mana nama daerah ini dibuat?, Pertanyaan menyerang otak miniku. Aku pusing. Berharap terlelap lebih awal malam ini.
Harapan bermimpi tentang semua hal yang dipertanyakan di benakku, walau mimpi hanyalah bunga tidur. Itu sedikit memberikan jawaban. Aku mulai merangkai mimpi. Kawan, ternyata mimpi bisa dirancang. Aku pernah membaca di media massa. Tips merancang mimpi. Salah satu baitnya, “pikirkan terus menerus apa yang ingin kamu impikan hingga matamu terpejam.” Insyaallah hal itu menjelma dalam mimpimu. “Malam ini moment tepat untuk mengaplikasikannya”, pikirku. Benar saja, aku pun bermimpi sesuai rencana. Mimpi yang tak dapat dirangkai dalam sastra. kelu bila di ungkap pada bibir. Terputus-putus dalam dunia ingatan.
Pagi ini mata pelajaran sejarah di kelasku. Pak Usman menampakkan posturnya yang kurus tinggi legam di ruang tunggu para guru. Sebuah lorong yang dihuni bergantian oleh pahlawan tanpa tanda jasa. Sebelum berangkat berjuang berbagi ilmu pada penerus kecil yang setia menunggu di bilik kelas.
“Assalamu a’laikum,”
“Walaikum salam,” nada kami serentak.
“Selamat Pagi,” sapa Pak Usman.
“Pagi,” suara gemuruh bersamaan kembali menggelegar dalam kelas. Pelajaran Berlangsung. Aku dan Andi duduk bersebelahan. Tepat di sudut kanan, menempel di tembok bercorak putih orange. Baris ke dua dari muka. Aku kembali sakau. Ingin tahu sejarah daerahku. Sejarah amat penting bagiku demi menyelami lebih dalam potensi daerah ini dan demi kecintaanku pada tanah tumpah darah.
“Ini kesempatannya” batin ku. Tiga puluh menit lewat lima puluh satu detik. Pelajaran hampir selesai.
“Ada pertanyaan?,” Pak Usman melontarkan kalimat penting bagi muridnya. Kadang saat murid tidak bertanya itu tandanya paham, kadang pula murid itu paling tidak paham sehingga tidak bisa bertanya.
“Saya, Pak?,” sontak Aku mengacungkan tangan.
“Iya, Apa pertanyaanmu?,”
“Bisakah bapak bercerita tentang sejarah daerah ini?”
Pertanyaanku membuat Pak Usman harus mengulang kaji. Kembali ke singgasana merah tua : kursi. Melipat tangan, menegakkan badan dan memulai merangkai cerita.
“Pertanyaan bagus” puji Pak Usman bernada rata. Dia mulai melangkahkan kata-katanya. Seperti yang dijelaskan ilmu Fisika bahwa suara bisa di dengar manusia karena merambat melalui udara. Corong-corong rekaman dalam otak kanan dan kiri telah di aktifkan. Siap menangkap semua huruf, semua kata dan semua kalimat yang disampaikan Pak Usman.
“Kala itu adalah masa Pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan asal Sumatra. Ada seorang pendeta cina yang menjelajah laut cina selatan kemudian beristirahat dan singgah di Sriwijaya. Pendeta itu Bercerita bahwa dia sebelum sampai ke Sriwijaya telah mengarungi laut dan berjumpa gugusan pulau, ada yang besar ada yang kecil. Pulau besar itu dalam bahasanya di ungkapkan “NAN TOA”. Nan yaitu Pulau, Toa berarti Besar. Berangkat dari ungkapan tersebut, kemudian di adopsi masyarakat setempat menjadi sebutan NATUNA.”
Kami semua terdiam, merekam, menikmati, dan menangkap ide cerita. Pengetahuan baru tercipta di buku lintang ilmuku. Mempatri jejak-jejak yang di ukir Pak Usman. Melukis nuansa indah dalam hati bak lukisan manohara yang terkenal. Andi mendekatiku, mengganggu khayalanku, mengagetkan ku.
“Begitu rupanya,” kata Andi.
“Apanya?” sahutku sambil menepuk pundaknya.
“Cerita Pak Usman tadi, Benar atau Tidak, Ya.?”
“Entahlah, Aku percaya karena Ia lebih tua dari kita, pun di guru, kan.?” Jelasku.
Perjalanan menunggu Bis pulang sekolah, suasana hati terisi penuh, penasaran kabur. Angka-angka sejarah di benakku menghilang. Aku meyakinkan Andi.
“Mungkin saja NANTOA itu susah penyebutannya bagi pribumi kita,” Kata ku.
“Bisa saja, Kakek kita mungkin lebih mudah menyebutnya NATUNA” Ungkapan setuju Andi. Kami menuju perut angkutan itu. Melelepas kepenatan. Menunggu setengah jam lebih sejak pukul 12.30 bel pertanda pulang berjerit
Cerpen Karangan: Siswari
Facebook: Siswari Senju (https://www.facebook.com/sis.wari.7?fref=ts)
SISWARI, kelahiran Sedanau, Natuna 1991. mahasiswa prodi Ekonomi SYariah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna 2010. Alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur angkatan 2009. memperkenalkan tanah melayu adalah cita-cita.
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-dongeng-rakyat/nan-toa.html
dengan sedikit tambahan :)
Hari ini, happy birthday ke Sembilan kabupaten daerahku, tepatnya 22 Oktober. Semangat patrionisme dalam dadaku memberontak keluar, seakan ikut berjuang kembali bersama Jendral Sudirman walau hanya bersenjata bambu runcing. Kemenangan akan selalu muncul dibalik semangat yang membara.
Aku bersiap menuju peraduan menimba ilmu, menunggu angkutan sekolah bersubsidi yang biasanya menjemput pukul Enam Setengah. Bersama teman sekampungku, Andi. Kami angkatan 1997. Empat puluh dua menit melaju, kami terjun di depan gerbang SMAN 1.
“Masih awal, gimana kalau kita ke kantin Pak Tomo”. Hasutku pada Andi. Pak Tomo guru Sosiologi di kelasku, Ia belum pulang dari kebunnya. Menasehati monyet-monyet nakal yang usil. Agar jangung manisnya tumbuh normal.
“Ayolah”, jawab Andi sambil melirik jam tangan hitam yang melingkari gelangan tangan kirinya.
“Kring, kring, kring,” terdengar raungan lonceng. Tanda Upacara bendera akan segera dilaksanakan.
“Topi, Oke. Sepatu, Oke. Rambut, No problem,” batinku. Mengingat selalu ada razia atribut.
“Aduh. Aku lupa ikat pinggang” rintih Andi.
“Terus gimana, nih?,” tanya ku khawatir. Saat upacara Pak Lubis: Guru kimia yang Killer, senang sekali menggeledah kesalahan anak didiknya. Dia sangat perhatian. Mungkin itu demi melatih kedisiplinan. Tanpa disiplin kita tidak akan sukses. Itulah Motonya.
“Begini sajalah,” cetus Andi, sambil menyodorkan sedikit bagian bawah baju putihnya, menutupi lingkaran pinggang.
“Yakin?” godaku.
“Aman, aman.” singkat Andi.
Kami menuju lapangan, dengan gerakan Sa’i : lari-lari kecil mirip jamaah haji di tanah Suci : Mekah. Setiap kelas berkumpul dan rapi berbaris bersama kelas masing-masing, jama’ah guru juga tepat di sisi kanan depan lapangan, 10 meter arah kanan tiang bendera.
Upacara dimulai, protokol mengeraskan suara bernada reporter dengan kecepatan 10 Km/jam. Komandan upacara, Tegas mengambil alih pasukan. Inspektur di jemput seorang ajudan bak bupati ketika menghadiri kondangan. Pandangan kami Lurus kedepan. Menerobos buaian cahaya yang melintas. Kaku, siap, dan serius. Tiga sosok : dua pria mengapit seorang wanita melangkah serentak, kaki silang-menyilang seperti hendak terbentur, namun itu mustahil. Mereka ahli. Tegap, tegas, bagai robot buatan Amerika. Merah putih di ulur menuju punjak kejayaan, melambai-lambai, tenang dan damai tersapu angin. Gema Indonesia raya menggelegar halaman. Motor, mobil dan sepeda yang lalu-lalang terpaku. Patriotisme bergejolak.
“Hiduplah Indonesia raya,” sayup-sayup lagu serentak berhenti. Gejolak patrionisme membara bagai api tersiram bensin tiga liter. Sang berani dan si suci telah menjulang, siap melayani sapaan awan. Melambai-lambai ria, mengingat tentara Belanda yang telah lama kocar-kacir.
Pak Hairul-Inspektur upacara terpancang tegak, tegap dan wibawa. Persis Soekarno kala 17 agustus 1945 yang tanpa teks di tangannya.
“Istirahat di tempaaaaat,” gaung komandan bernada guruh. Aku menikmati sinaran mentari pagi yang mengalirkan Vitamin D untuk penguatan tulang-tulangku. Terus berdiri dengan posisi kedua tangan terlingkung di belakang, tepat di atas bagian bokong. Protokol mengisyaratkan amanat Pembina upacara. Inspektur beraksi. Beberapa bait yang terekam dalam memori Super Giga titipan Tuhan kepadaku.
“kita patut bersyukur, hari yang berbahagia ini : Ulang tahun ke-9 Kabupaten kita. Jadikan moment ini untuk memacu semangat pendidikan kalian, bangunlah daerah ini memalui pendidikan, perkembangan pendidikan berbanding lurus dengan perkembangan daerah. Sebagai anak daerah kalian dituntut menguasai daerah. Menjelajah, Menggali potensi, dan mengembangkan kretifitas. Awali dengan sejarah daerah ini, dengan sejarah kita dapat dengan sempurna memahami sesuatu hal dari akar-akarnya. Begitu juga dengan Kabupaten ini, ungkapan “laut sakti rantau bertuah” harus kalian pahami.
Potensi alam tidak terhingga, ciptaan Tuhan yang kuasa memang tak terkira. Cadangan Gas alam 40% dari gas dunia. Laut terbentang 98% menggerogoti daratan. Cintailah daerahmu dengan berbuat hal yang berguna.”
Empat puluh satu menit sebelas detik. Kami tercengang. Masih kaku. Kaki terasa keram, ubun-ubun terserang demam dengan amper 100 derajat Celsius. Sengat mentari seakan berjarak beberapa kilo meter dari kepala. Panas, haus, dan menyenangkan. Upacara dibubarkan. Semangat Indonesia raya mesih tertanam, terus tertanam dan tetap tertanam.
Sore ini, Aku bersama teman sekelas, menuju pantai kencana. Persis pantai Nusa dua : Bali yang tanpa turis. Permainan rakyat dipajang memenuhi luasan tanah kuning, di atapi awan putih nuansa bias laut yang biru. Sepoi-sepoi melanda menghanyutkan pandangan, menerpa jiwa, menusuk sanubari, membuat membahana para pengunjung. Panjat pinang 3,5 meter dengan peserta 4 orang ditambah 1 orang. Bergelantungan kupon-kupon, melambai-lambai menunggu seorang pahlawan penyelamat : bermandikan Oli kotor. Merayap di pokok pinang. Tarik tambang antar kecamatan, tepat di sudut utara. Bersorak supporter bagaikan Derby manchester akan bertanding sore ini di stadion Old Trafford – Inggris. Sebelah selatan, tiang-tiang seukuran betis tercancang. Berbaris lingkar. Terdengar suara hitungan. “Satu, Ikat kepala. Dua, gulung penuh. Tiga, siap-siap”.
Benda pipih yang berputar dilemparkan bersamaan ke tanah, pak cik-pak cik sibuk memulung kembali menggunakan skop khusus: berbentuk sendok nasi namun agak besar dan rata terbuat dari triplek. Gasing tetap berputar. Menari-nari di atas kaca. Pakcik-pakcik duduk rapi. Posisi nol besar persis mengelilingi api unggun di malam penutupan camping : pramuka.
Terus berputar. Tiga puluh menit berlalu, lima gasing berhenti berputar. Mundur dari arena. Empat puluh tujuh menit, tersisa dua gasing. Bersaing ketat. Saling menunjukkan potensi. Meliuk-liuk, namun putaran semakin lembut nan lamban. Pertanda tenaga listrik : Baterai melemah. Lima puluh dua menit. Jawara bertahan. Angka dua juta rupiah sudah dibenak pak cik: Tuan gasing hitam nan berkilau. Juri mengintrogasi jawara. Mengukur diameter kemudian membelah dada sang gasing, khawatir ada besi atau timah yang memberatkan hingga perputaran gasing menjadi lebih lama. Tamatlah sang juara. Tuannya tentu tidak merasa iba. “Itulah aturan main yang disepakati,” jawabnya ketika kami tanya.
Kelompok ibu-ibu riuh di sisi tenggara, mengayam ketupat sambil berjalan. Gemuruh, nyaring dan menggelora. Hari mulai gelap, bukan karena corak hitam yang menggantikan awan putih. Mentari tersipu malu, cahaya memudar. Akibat rotasi bumi yang mengelilingi matahari hingga tercipta siang dan malam. Maghrib akan bertamu. Kami melangkahkan gerakan kaki ke arah peraduan, memaksa diri menuju rumah masing-masing.
Ingatanku terus berkobar. Penarasan tentang sejarah daerah ini semakin kuat. “Semua hal pasti ada sejarahnya”, pikirku. Manusia berasal dari tanah, sejarah dalam al-quran. Namun evaluasi Darwin bertentangan, Manusia berasal dari kera. Samakah sejarah daerah ini dengan perjalan Columbus yang menemukan daratan. Negeri Paman Sam itu. Siapakah manusia pertama pulau ini?, dari mana nama daerah ini dibuat?, Pertanyaan menyerang otak miniku. Aku pusing. Berharap terlelap lebih awal malam ini.
Harapan bermimpi tentang semua hal yang dipertanyakan di benakku, walau mimpi hanyalah bunga tidur. Itu sedikit memberikan jawaban. Aku mulai merangkai mimpi. Kawan, ternyata mimpi bisa dirancang. Aku pernah membaca di media massa. Tips merancang mimpi. Salah satu baitnya, “pikirkan terus menerus apa yang ingin kamu impikan hingga matamu terpejam.” Insyaallah hal itu menjelma dalam mimpimu. “Malam ini moment tepat untuk mengaplikasikannya”, pikirku. Benar saja, aku pun bermimpi sesuai rencana. Mimpi yang tak dapat dirangkai dalam sastra. kelu bila di ungkap pada bibir. Terputus-putus dalam dunia ingatan.
Pagi ini mata pelajaran sejarah di kelasku. Pak Usman menampakkan posturnya yang kurus tinggi legam di ruang tunggu para guru. Sebuah lorong yang dihuni bergantian oleh pahlawan tanpa tanda jasa. Sebelum berangkat berjuang berbagi ilmu pada penerus kecil yang setia menunggu di bilik kelas.
“Assalamu a’laikum,”
“Walaikum salam,” nada kami serentak.
“Selamat Pagi,” sapa Pak Usman.
“Pagi,” suara gemuruh bersamaan kembali menggelegar dalam kelas. Pelajaran Berlangsung. Aku dan Andi duduk bersebelahan. Tepat di sudut kanan, menempel di tembok bercorak putih orange. Baris ke dua dari muka. Aku kembali sakau. Ingin tahu sejarah daerahku. Sejarah amat penting bagiku demi menyelami lebih dalam potensi daerah ini dan demi kecintaanku pada tanah tumpah darah.
“Ini kesempatannya” batin ku. Tiga puluh menit lewat lima puluh satu detik. Pelajaran hampir selesai.
“Ada pertanyaan?,” Pak Usman melontarkan kalimat penting bagi muridnya. Kadang saat murid tidak bertanya itu tandanya paham, kadang pula murid itu paling tidak paham sehingga tidak bisa bertanya.
“Saya, Pak?,” sontak Aku mengacungkan tangan.
“Iya, Apa pertanyaanmu?,”
“Bisakah bapak bercerita tentang sejarah daerah ini?”
Pertanyaanku membuat Pak Usman harus mengulang kaji. Kembali ke singgasana merah tua : kursi. Melipat tangan, menegakkan badan dan memulai merangkai cerita.
“Pertanyaan bagus” puji Pak Usman bernada rata. Dia mulai melangkahkan kata-katanya. Seperti yang dijelaskan ilmu Fisika bahwa suara bisa di dengar manusia karena merambat melalui udara. Corong-corong rekaman dalam otak kanan dan kiri telah di aktifkan. Siap menangkap semua huruf, semua kata dan semua kalimat yang disampaikan Pak Usman.
“Kala itu adalah masa Pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan asal Sumatra. Ada seorang pendeta cina yang menjelajah laut cina selatan kemudian beristirahat dan singgah di Sriwijaya. Pendeta itu Bercerita bahwa dia sebelum sampai ke Sriwijaya telah mengarungi laut dan berjumpa gugusan pulau, ada yang besar ada yang kecil. Pulau besar itu dalam bahasanya di ungkapkan “NAN TOA”. Nan yaitu Pulau, Toa berarti Besar. Berangkat dari ungkapan tersebut, kemudian di adopsi masyarakat setempat menjadi sebutan NATUNA.”
Kami semua terdiam, merekam, menikmati, dan menangkap ide cerita. Pengetahuan baru tercipta di buku lintang ilmuku. Mempatri jejak-jejak yang di ukir Pak Usman. Melukis nuansa indah dalam hati bak lukisan manohara yang terkenal. Andi mendekatiku, mengganggu khayalanku, mengagetkan ku.
“Begitu rupanya,” kata Andi.
“Apanya?” sahutku sambil menepuk pundaknya.
“Cerita Pak Usman tadi, Benar atau Tidak, Ya.?”
“Entahlah, Aku percaya karena Ia lebih tua dari kita, pun di guru, kan.?” Jelasku.
Perjalanan menunggu Bis pulang sekolah, suasana hati terisi penuh, penasaran kabur. Angka-angka sejarah di benakku menghilang. Aku meyakinkan Andi.
“Mungkin saja NANTOA itu susah penyebutannya bagi pribumi kita,” Kata ku.
“Bisa saja, Kakek kita mungkin lebih mudah menyebutnya NATUNA” Ungkapan setuju Andi. Kami menuju perut angkutan itu. Melelepas kepenatan. Menunggu setengah jam lebih sejak pukul 12.30 bel pertanda pulang berjerit
Cerpen Karangan: Siswari
Facebook: Siswari Senju (https://www.facebook.com/sis.wari.7?fref=ts)
SISWARI, kelahiran Sedanau, Natuna 1991. mahasiswa prodi Ekonomi SYariah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna 2010. Alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur angkatan 2009. memperkenalkan tanah melayu adalah cita-cita.
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-dongeng-rakyat/nan-toa.html
dengan sedikit tambahan :)
Wednesday, January 8, 2014
Hewan dalam Perminyakan
Assalamu'alaikum..
Berbicara
tentang perminyakan memang tak pernah habis, selalu ada saja topik yang
bisa diambil untuk dijadikan bahan disuksi dan pembelajaran, bahan
pengamatan, dan jugaaa bahan cacian. mulai dari isu tentang minyak yang
akan habis 10 tahun lagi (saya sudah mendengar ini ketika masih SD, dan
omongan yang sama masih saya dengar hingga sekarang, (-_-), isu yang
pasti memicu kemarahan publik : isu kenaikan harga BBM. Banyak lagi
isu-isu yang lain tentang bidang yang menjadi salah satu penyumbang
terbesar devisa negara ini (apa lagi ditempat saya).
Yah,
begitulah perminyakan, jurusan kuliah yang tak banyak orang tau ini
(juga hanya sedikit kampus yang memilikinya, hanya kampus-kampus keren
aja gitu), selain pelajarannya yang lumayan menguras pemikiran, juga
sedikit menguras dompet. :D. tapi kalo udah sukses di industri ini,
insya Allah uang kembali *iklan.
Industri perminyakan, selain dikenal dengan HIGH COST, HIGH RISK, and HIGH TECH, kedisplinan kerja yang tinggi ini, juga ternyata menyimpan banyak keunikan. Salah satunya adalah adanya binatang dalam perminyakan. Ya, binatang yang dimaksud adalah penggunaan
nama-nama binatang dalam istilah-istilah yang dipakai dalam perminyakan.
Terkadang sedikit bisa dicerna, namun ada juga yang memang gak nyambung
jika diartikan "mentah-mentah".
Ini
saya lampirkan beberapa penggunaan nama hewan dalam istilah perminyakan
yang saya ketahui, kalo kalian mempunyai refrensi yang lebih lengkap
silah kasih komentar untuk sama-sama berbagi. Yuppp, joooom.
1. Wild Cat
![]() |
| Wild Cat (sumber : namibian.org) |
Yaaaa, kalo diartikan perkata berarti Kucing Liar, KUCING GARONG gitu broo. hha. Tapi wild cat dalam perminyakan mempunyai arti SUMUR TARUHAN, sumur explorasi. Ya jelas yang belum pernah di bor. Orang yang akan mengebor sumur wild cat ini adalah orang yang sudah merencanakan segala hal dengan matang, karena bila ternyata sumur ini kosong (tidak menemukan minyak). Secara otomatis akan rugi besar bro, bisa-bisa bangkrut. HIGH RISK HIGH COST. Tapiiiiii, jika berhasil menemukan minyak, hmmmm Insya Allah uang kembali, *iklan lagi*.
2. Dog House![]() |
| Kegiatan Pemboran Sumur Eksplorasi, (sumber : www.satunews.com) |
![]() |
| Real Dog House (sumber : hippshelp.com) |
Rumah anjing. ya bener kalo itu diartikan secara "real english". tapi dalam industri perminyakan, terutama pemboran, dog house yang terletak di atas substructure adalah rumah tempat berisitirahat bagi para pekerja yang berada di dekat menara bor seperti operator menara bor, roostabout, juru bor, dan pekerja-pekerja lain. Juga berfungsi sebagai gudang kecil tempat penyimpanan sebagian peralatan.
![]() |
| Petroleum Dog House |
3. Cat Walk
![]() |
| Real Cat Walk ( sumber : jerichostageinc.com ) |
Sebagian orang mengartikan cat walk sebagai tempat seorang model untuk memperagakan sesuatu yang telah dibuat oleh seorang desainer. Hmmm beda hal nya dengan "cat walk" nya perminyakan, meski secara bentuk hampir sama. Cat walk di perminyakan berfungsi sebagai tempat "istirahat" sebentar bagi rangkaian drillstring sebelum dilakukan tripping in dan tripping out.
![]() |
| Petroleum Cat Walk |
4. Rat Hole
![]() |
| Real Rat Hole (sumber : cliffkule.com) |
Lubang binatang pengerat sejenis tikus. Yoaiii, tapi di industri perminyakan rat hole merupakan suatu lubang dimana kelly ditempatkan saat berlangsung cabut pasang pipa.
![]() |
| Petroleum Rat Hole (sumber : www.osha.gov) |
5. Mouse Hole
![]() |
| Mouse Hole (sumber : www.trekearth.com ) |
Yang pernah nonton tom and jerry, tentu tau mouse hole. Ini adalah lubang atau rumah untuk tikus. Nah kalau di perminyakan, mouse hole adalah tempat dimana drill pipe diletakkan saat dilakukan penyambungan pada kelly dan rangkaian pipa bor.
![]() |
| Petroleum Mouse Hole (sumber : en.wikipedia.org) |
6. Monkey Board
Jangan bilang kalo ini adalah tempat monyet. Monkey board dalam industri perminyakan adalah suatu tempat
kerja bagi para derrickman pada waktu cabut atau menurunkan rangkaian pipa bor. Serta tempat menyandarkan bagian
rangkaian pipa bor yang kebetulan sedang tidak digunakan (pada saat dilakukan
cabut pipa). Orang bekerja di monkey board disebut monkey man. :O
![]() |
| Monkey Board |
7. Horse Head
![]() |
| Real Horse Head ( sumber : wallpaperswide.com ) |
Kepala kuda, begitulah arti sebenarnya. Diindustri perminyakan terutama pada bidang produksi, horse head adalah bagian dari sucker rod, yang berfungsi menurunkan gerak dari walking bean ke unit pompa di
dalam sumur melalui bridle, polish rod dan sucker string atau merupakan kepala
dari walking bean.
![]() |
| Petroleum Horse head |
8. Snake Well
Ular yang baik. Yaah, begitu lah ketika secara umum diartikan, namun di Industri Perminyakan, snake well berarti sumur ular, yakni sebuah teknologi baru dalam pemboran untuk mendapatkan minyak. Adalah Shell yang menggunakan teknologi ini, dan diterapkan di Brunei. Snake Well merupakan teknologi yang boleh dikatakan baru, belum banyak oil or service company yang menerapkan ini. dan sampai saat ini kemungkinan masih diadakan pengembangan-pengembangan dalam metode snake well untuk menjadi lebih baik.
![]() |
| Snake Well ( sumber : www.shell.com ) |
9. Dog Leg
![]() |
| Real Dog Leg (sumber : bluekelpie.me ) |
Kaki anjing yak, ya bener kalo arti umumnya. tapi diperminyakan dog leg berarti "lubang cengkok", belokan pada pipa, selokan atau sumur yang disebabkan oleh perubahan
arah yang tajam. Ini biasanya terjadi pada operasi pemboran berarah / directional drilling. Dog leg bila tidak beres dalam pengerjaannya akan menyebabkab pipe sticking yang akan menghambat operasi pemboran.
![]() |
| Petroleum Dog Leg (sumber : www.drillingahead.com ) |
Ada yang lain???
Refrensi :
http://diglib.lemigas.esdm.go.id/opac.php
Tuesday, January 7, 2014
Drilling Rig : Sistem Pencegah Semburan Liar (BOP System)
Fungsi utama dari blowout prevention system adalah menutup lubang bor ketika terjadi “kick”. Blowout merupakan suatu aliran fluida formasi yang tak terkendalikan sampai ke permukaan. Blowout biasanya diawali dengan adanya “kick” yang merupakan intrusi fluida bertekanan tinggi kedalam lubang bor. Intrusi ini dapat berkembang menjadi blowout bila tidak segera diatasi. Blowout prevention system terdiri dari dua sub komponen utama, yaitu BOP Stack dan Accumulator.
1. BOP Stack dan Accumulator
Ditempatkan
pada kepala casing atau kepala sumur langsung dibawah rotary table pada lantai
bor. Sedangkan accumulator
biasanya ditempatkan agak jauh dari rig dengan pertimbangan keselamatan. BOP Stack meliputi peralatan berikut :
· Annular preventer
· Pipe ram preventer
· Drilling Spool
· Blind Ram Preventer
· Casing Head
2. Supporting System terdiri dari :
· Choke Manifold
· Kill line
Komponen-Komponen Dasar Blowout Prevention System
Blowout Prevention System terdiri dari empat komponen dasar, yaitu Accumulator, BOP Stack, Choke Manifold, dan Kill Line :
1. Accumulator
Accumulator biasanya ditempatkan pada jarak sekitar 100 meter dari
rig (karena alasan keamanan). Accumulator bekerja pada BOP stack dengan “High Pressure Hydraulis”
(saluran hidrolik bertekanan tinggi).
![]() |
| Accumulator |
Fungsi dari accumulator adalah untuk menutup BOP Stack saat terjadi keadaan darurat. Mekanisme kerja dari accumulator adalah dengan menghidupkan kontrol
pada acumulator atau pada remote panel yang terletak pada lantai bor saat terjadi “kick”, dengan begitu crew
dapat dengan cepat menutup Blowout preventer.
2. Blowout Preventer (BOP) Stack
BOP Stack ditempatkan pada kepala sumur di bawah lantai bor. Terdiri dari sejumlah valve (preventers) yang dapat menutup lubang bor bila terjadi “kick’.
BOP Stack ditempatkan pada kepala sumur di bawah lantai bor. Terdiri dari sejumlah valve (preventers) yang dapat menutup lubang bor bila terjadi “kick’.
3. Choke Manifold
Ditempatkan di luar substructure. Bekerja pada BOP Stack dengan “High Pressure Line” yang dapat memindahkan aliran lumpur bor pada saat terjadi “kick”.
4. Kill Line
Saluran yang merupakan perpanjangan dari mud pump ke BOP stack. Kill Line biasanya disambung berlawanan letaknya dengan choke line sehingga memungkinkan pemompaan lumpur berat ke dalam lubang bor.
***********
Komponen-Komponen Utama BOP System
Komponen-komponen utama Blowout prevention system terdiri dari BOP Stack, yang merupakan peralatan dengan valve tekanan tinggi yang didesain untuk menahan tekanan lubang bor bila terjadi “kick”, terdiri dari Annular Preventer, Ram Preventer, Drilling Spools, dan Casing Head.
1. Annular Preventer
Ditempatkan paling atas dari susunan BOP Stack. Annular preventer berisi rubber packing elemen yang berfungsi menutup lubang annulus baik dalam keadaan kosong ataupun ada rangkaian pipa bor.
2. Ram PreventerDitempatkan paling atas dari susunan BOP Stack. Annular preventer berisi rubber packing elemen yang berfungsi menutup lubang annulus baik dalam keadaan kosong ataupun ada rangkaian pipa bor.
Ram preventer hanya dapat menutup lubang annulus untuk ukuran pipa tertentu, atau pada keadaan tidak ada pipa bor dalam lubang.
Pipe rams : digunakan untuk menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor barada dalam lubang.
Blind or Blank rams : digunakan untuk menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor tidak berada dalam lubang bor.
Shear rams : digunakan untuk memotong drill pipe dan seal sehingga lubang bor kosong (open hole), terutama pad offshore floating rigs.
![]() |
| Blind Ram Preventer |
3. Drilling Spools
Drilling spool terletak di antara preventers. Drilling Spools berfungsi sebagai tempat pemasangan choke line (yang mensirkulasikan “kick” keluar dari lubang bor) dan kill line (yang memompakan lumpur berat). Ram preventer pada sisa-sisanya mempunyai “cutlets” yang digunakan untuk maksud yang sama.
![]() |
| Drilling Spools |
Casing head terletak tepat di atas sumur. Ia merupakan alat tambahan pada bagian atas casing yang berfungsi sebagai fondasi BOP Stack.
![]() |
| Well Head |
***********
Supporting System
1. Choke Manifold
Choke manifold merupakan suatu kumpulan fitting dengan
beberapa outlet yang dikendalikan secara manual dan/atau otomatis.
Bekerja pada BOP Stack dengan “High Pressure Line”, disebut “Choke
line”.
Bila dihidupkan, choke manifold membantu menjaga back
pressure dalam lubang bor untuk mencegah terjadinya intrusi fluida
formasi. Lumpur bor dapat dialirkan dari BOP Stack ke sejumlah valve
(yang membatasi aliran dan langsung ke reserve pits), mud-gas separator
atau mud conditioning area back pressure dijaga sampai lubang bor dapat
dikontrol kembali.
2. Kill Line
Kill Line bekerja pada BOP Stack biasanya berlawanan
dengan choke manifold (dan choke line). Lumpur berat dapat dipompakan
melalui Kill Line ke dalam lumpur bor sampai tekanan hidrostatik lumpur
dapat mengimbangi tekanan formasi.
![]() |
| Kill Line |
Peralatan Lain :
Gate Valve, merupakan salah satu bagian dari spesial tool (IBOP) untuk
mencegah blowout. Tool ini terletak pada rangkaian pipa. Mekanisme
kerjanya adalah ketika terjadi kick, maka system BOP akan mulai bekerja
sehingga annular preventer akan menutup. Pada saat itu valve-valve akan
menutup juga secara otomatis.
![]() |
| Gate Valve |
_____________________********_____________________
Labels:
Mahasiswa,
Pemboran,
Pengetahuan,
Perminyakan
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sejarah Perminyakan di Bumi Lancang Kuning: Langkah Nekat Hopper dan Lapangan Terbesar se-ASEAN.
Bumi Sumatra tak pernah habis memberi kejutan, setelah beberapa tahun lalu saya menulis tentang jejak penemuan minyak pertama di pulau ini, ...
-
Negara Indonesia ini terdiri dari ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing pulau memiliki ciri khas tersendi...
-
Assalamu'alaikum. Pada kesempatan kali ini saya ingin posting tentang perusahaan-perusahaan migas yang beroperasi di Natuna. Sebagaiman...
-
Hari ini merupakan hari pergantian tahun untuk kalender masehi, boleh dibilang tidak ada yang istimewa dihari ini. Hanya saja saya sudah me...

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)








.jpeg)














