Saturday, April 18, 2015

Natuna Ternyata juga "kecipratan" Sejarah KTT Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika, atau biasa disingkat dengan KAA merupakan konferensi yang diadakan oleh negara-negara Asia dan Afrika yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaannya, pertama kali digelar pada tanggal 18 April 1955 di Bandung, tepat hari ini 60 tahun yang lalu. Oleh karena itu KAA juga sering juga disebut dengan Konferensi Bandung.
KAA saat pertama kali di gelar, via id.wikipedia.org

Negara-negara yang baru saja mendapat kemerdakaan itu antara lain, Indonesia, India, Pakistan, Sri Lanka, Burma (sekarang Myanmar), Libia, dan Filiphina. Negara-negara yang merdeka ini tidak melupakan masa lalunya, rasa senasib dan sepenanggungan menjadi jajahan itu lah yang membuat mereka mempunyai "ikatan bathin" yang sama. Maka dibuatlah Konferensi Asia Afrika yang berserajah ini. Negara-negara yang mengikuti KAA pada tahun 1955 adalah Afganistan, Yordania, Saudi Arabia, Burma, Kamboja, Srilanka, Jepang, Laos, Sudan, Ethiopia, Libanon,  Suriah, Filipina, Liberia, Turki, Ghana, Libya, Vietnam Selatan, India, Thailand, Vietnam Utara, Indonesia, Mesir, Yaman, Irak, Nepal, Pakistan, Iran, dan RRC. 
Suasana KAA, via stasiunbandung.com

Tujuan dari KAA ini adalah untuk kepentingan negara-negara Asia Afrika, meningkatkan kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya, kedaulatan negara, masalah imperialisme, dan rasisalisme, dan kedudukan Negara-negara Asia Afrika dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. KAA yang diadakan kali ini merupakan pertemua KAA yang ketiga sekaigus memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika, pertemuan yang ke 2 diadakan pada tahun 2005 sekaligus memperingati 50 tahun KAA.

Nah, ada cerita tentang penyelenggaran KAA yang pertama kali ini. Tepatnya pada tanggal 11 April 1955, muncul ketegangan politik yang tinggi menjelang perhelatan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 18-24 April 1955. Ketegangan itu dipicu peristiwa kandasnya pesawat Kashmir Princess milik maskapai Air India di perairan Natuna, Indonesia, tepatnya di Kecamatan Bunguran Barat sekarang, lebih tepatnya lagi di perairan antara Pulau Jalik dan Pulau Penganak. Penerbangan itu mengangkut delegasi Cina. Saat itu beredar isu bahwa Perdana Menteri China yang akan menghadiri KAA, Chou En Lai menjadi korban. 

Pesawat Khasmir Princess, via
fly.historicwings.com

Kabar tersebut diterima oleh Mantan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri dan Konferensi Asia-Afrika 1955, Roeslan Abdulgani. Dalam bukunya, The Bandung Connection, mengisahkan ia mendapat kabar darurat tersebut sekitar pukul 17.00 dari pihak keamanan Bandara Kemayoran. Insiden itu terjadi sekitar pukul 11.30 ketika pesawat bertolak dari Hong Kong menuju Indonesia. Saat berjaga hingga malam harinya, Roeslan menepis spekulasi bahwa Chou En Lai berada di dalam pesawat nahas tersebut. "Belum ada kawat resmi kepada Joint Secretariat kapan Chou En Lai akan datang," kata Roeslan. Walau begitu, Roeslan percaya ada pihak yang mengincar Chou En Lai yang mungkin juga akan menggagalkan Konferensi Asia-Afrika. Keyakinannya muncul antara lain berdasarkan kabar bahwa Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru pada 13 Maret berhasil luput dari percobaan pembunuhan. 

Baru keesokan harinya, kabar mulai jelas. Chou En Lai tidak berada di pesawat yang ditumpangi 11 anggota staf delegasi dan 2 wartawan Cina serta 3 awak pesawat warga India itu. Angkatan Udara RI dan nelayan setempat, menurut Roeslan, memberikan pertolongan pertama. Enam orang bisa diselamatkan, tiga di antaranya awak pesawat. Seluruh korban luka berat itu dibawa ke Singapura. "Lain-lainnya tak dapat diketemukan mayatnya," tulis Roeslan. 
 Proses Pengangkutan Beberapa Bagian Pesawat, via http://trivia.serendip.in

Jarak titik jatuh peswat Khasmir Princess ini 9 mil dari Pulau Sedanau. Sisa puing pesawat tersebut hingga kini masih bisa disaksikan dari permukaan air jika laut sedang surut. Lokasi puing-puing pesawat Khasmir Princess ini berada di dasar laut. Beberapa wisatawan memang sempat berkunjung dan ber diving ria di lokasi ini. Namun tidak banyak, karena memang tidak banyak yang tahu karena kurangnya publikasi. Pemerintah dan warga Kecamatan Bunguran Barat turut menjaga situs ini sebagai saksi bisu perjalanan sejarah dan perkembangan politik dunia, khususnya negara-negara Asia Afrika. Pihak Kecamatan Bunguran Barat sudah menyurati panitia KAA ke-60 mengenai hal ini, surat tersebut bertujuan agar para peserta kembali mengingat sejarah awal tentang gejolak-gejolak yang terjadi sebelum KAA pertama kali digelar. Dengan ini, Bunguran Barat, Natuna memiliki kaitan sejarah yang erat dengan penyelenggaraan KAA, itung-itung kan sekalian promosi, bro. Ya mungkin selama ini mereka hanya mendengar berita tanpa tau lokasi nya

Pemerintah Kecamatan juga melakukan promosi wisata itu ke sekolah-sekolah yang ada di Bunguran Barat, sekaligus menambah wawasan mereka terkait sejarah KAA. Pemerintah juga sudah membuat tanda di laut dimana lokasi pesawat itu jatuh, untuk memudahkan wisatawan yang mau berkunjung ke situs tersebut.

Perkiraan Lokasi jatuhnya pesawat Khasmir Princess

Sementara itu, di Sedanau dibuat semacam tugu seme dengan bentuk pesawat. Tugu itu berada di Kampung Karang Princess, nama kampung itu terinspirasi dari nama pesawat yaitu Khasmir Princess. Karena dahulu di lokasi itu lah para korban dirawat sebelum dibawa ke Singapura, dan dikubur bagi para korban yang meninggal. Lokasi kuburan bisa ditempuh dengan jalan darat menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar 2 km. Akses ke sana pun masih bagus dan masih terawat. Hanya saja kurangnya publikasi maka situs ini belum dikenal luas. Pemerintah kabupaten pun seakan tak pernah terlihat terkait perkembangan situs ini.

Tugu yang dibangun warga Sedanau guna memperingati Peristiwa Jatuhnya Pesawat Kashmir Princess, via batampos.co.id

yah semoga saja nanti mereka sadar dan peduli akan sejarah-sejarah Natuna, ye...
sumber : http://www.tempo.co dan http://kabarnatunaku.blogspot.com

No comments:

Post a Comment