Thursday, October 15, 2015

Museum Zoologi, Bogor

Tinggal di Jakarta tapi belum pernah ke Bogor, rasanya gimana gitu yak. Letaknya yang dekat dan memiliki banyak tempat wisata, ditambah lagi dengan alamnya yang sejuk, Bogor merupakan tujuan destinasi sebagian warga Jakarta untuk menghabiskan akhir pekan. Ini juga yang saya lakukan, setelah stress dengan pekerjaan selama weekdays, ini saatnya untuk melepas segala fikiran, hati dan urat yang tegang. Hahaha. Saya memilih Bogor sebagai tempatnya.
Stasiun Bogor
Alhamdulillah sekarang tranportasi sudah mudah dan terjangkau. Perjalanan saya bermula dengan berangkat dari stasiun KRL Sudirman menuju stasiun Bogor, perjalanan menempuh waktu sekitar satu jam dengan biaya 5000an aja. Setelah sampai di Bogor, saya berjalan kaki menuju Kebun Raya, dengan museum Zoologi sebagai tujuan utama, saya termasuk orang yang suka mengunjungi museum-museum. Perjalanan dari stasiun menuju Kerbun Raya Bogor memakan waktu 30 menit, dengan berjalanan kaki, agak jauh memang, namun saya memilih jalan kaki karena bisa sambil menikmati alam dan keadaan sekitar.
Setelah membeli tiket masuk seharga 15000 ribu rupiah, saya langsung menuju Museum Zoologi Bogor, museum tentang hewan-hewan yang sudah ada dari zaman Belanda dulu. Dahulu museum ini bernama Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang didirikan di Bogor pada tahun 1894, merupakan bagian dari Land's Plantentuin (sekarang kebun raya Bogor). Pada awal didirikannya MZB berfungsi sebagai laboratorium zoologi yang memberi wadah penelitian yang berkaitan dengan pertanian dan zoologi, meliputi kegiatan inventarisasi fauna Indonesia. Kemudian berkembang menjadi unit tersendiri yang khusus bertugas menginventarisasi jenis-jenis fauna yang terdapat di wilayah Indonesia, yang pada saat ini menjadi Museum Zoologi Bogor yang dibangun pada 1901 sampai sekarang tidak mengalami perubahan dan menjadi salah satu gedung cagar budaya Kota Bogor. Museum ini dikelola oleh Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bidang Zoologi. Koleksi utama museum ini yakni keanekaragaman fauna Indonesia yang terdiri dari jenis-jenis serangga, molusca, ikan, reptil, amibia, burung dan mamalia. Jumlah keseluruhan koleksi di Museum Zoologi bogor yakni 1372 contoh fauna.
Museum Zoologi Bogor

KOLEKSI FAUNA INDONESIA
Bidang Zoologi telah mengembangkan koleksi binatang awetan dan binatang hidup untuk penelitian ilmiah. Koleksi ilmiah untuk kepentingan penelitian meliputi beberapa kelompok sebagai berikut:

1. Mamalia
Terdiri dari berbagai jenis binatang menyusui yang dikumpulkan dari berbagai kepulauan di Indonesia. Jumlah koleksi 650 jenis, terdiri dari 30.000 contoh binatang (spesimen).

2. Ikan
Koleksi Berbagai Jenis Ikan
Berbagai jenis ikan yang menjadi kekayaan koleksi terdiri dari 12.000 jenis yang diwakili oleh 140.000 contoh binatang.

3. Burung
Dikumpulkan dari wilayah Indonesia Timur dan Barat. Jumlah seluruhnya 1000 jenis, meliputi 30.762 contoh binatang.

4. Reptil dan Amfibi
Di daerah tropis, terutama di Indonesia jumlahnya tidak banyak. Koleksi yang tersimpan tercatat 763 jenis, diwakili oleh 19.937 contoh.

5. Moluska
Kekayaan koleksi moluska di Indonesia tercatat 959 jenis yang diwakili oleh 13.146 contoh.

6. Serangga
Adalah kelompok binatang yang paling banyak jumlahnya. Koleksi serangga tercatat 12.000 jenis, diwakili 2.580.000 contoh spesimen.

7. Invertebrata lain
Terdiri dari jenis-jenis invertebrata bukan moluska dan serangga. Koleksi yang terkumpul ada 700 jenis diwakili oleh 1.5558 contoh.


Rangkuman :
Alamat :  
MUSEUM ZOOLOGI BOGOR (KEBUN RAYA BOGOR)
Jl. Ir. H.Juanda no 9, Bogor

Tiket Masuk : 
Satu paket dengan harga tiket masuk Kebun Raya Bogor

Jam Kunjungan:
Senin-Kamis 08.00-16.00
Jumat 08.00-11.30  13.00-16.00
Libur 08.00-17.00

Cara Kesana :
Dari Jakarta naik KRL dengan biaya 5000 rupiah. Kemudian bisa dengan berjalan kaki selama 20 - 30 menit, atau naik angkot dengan biaya 3000 rupiah.

Peta : 
Peta menuju Kebun Raya Bogor (kanan), Peta menuju Museum Zoologi (kanan)


sumber : 
http://www.museumindonesia.com/museum/42/1/Museum_Zoologi_Bogor_Bogor
http://asosiasimuseumindonesia.org/anggota/9-profil-museum/80-museum-zoologi-bogor.html

Monday, October 12, 2015

Natuna ku, baru berumur "cabe-cabean"

Pekerjaan tadi pagi saya hentikan untuk mengambil jeda berfikir sejenak, sambil membuka akun BBM saya kembali menyekerol recent update dari status teman-teman BBM saya, kembali terhenti di status kakak yang intinya berisi 16 tahun Natuna. Detak jantung berdenyut sedikit lebih cepat disertai dengan putaran otak yang berfikir cepat mengingat sesuatu. Yak sesuatu itu adalah tanggal hari ini, 12 oktober, dan saya kembali kecolongan. Hari ini, 12 oktober adalah hari lahir Natuna, kabupaten tempat saya dilahirkan. Sangat-sangat lupa memang, saya pun cepat-cepat mengganti status di BBM dan mencari display picture yang tepat untuk mengekspresikan tentang hari ini : "16 Tahun Natuna, Tetaplah Bertuah" disertai dengan gambar khas ikon pariwisata Natuna, (cume ndok yang ade).

Tak lama setelah mengganti DP dan status BBM tersebut, sebuah pesan masuk di BBM, rupanya dari seorang teman di Natuna dan ia memberi pernyataan, "kawan ndek tau alu HUT Natuna hari ni yau". 
Nah lo, saya fikir hanya karena saya sedang berada di negeri rantau ini saja gaung HUT Natuna tidak terdengar, rupanya teman yang berada di Natuna sendiri tidak menyadari kalau hari ini merupakan HUT Natuna, tidak bergaung? tidak diperingatkan? Ada apa? 
Komentar serupa datang dari status BBM seorang teman yang lain : "HUT Natuna sepi benu yau", "ndek serase ultah, ndeksek acara", "tak semeriah tahun lalu, seharusnya semakin semarak, ini terbalik", begitulah beragam ekspresi teman-teman BMM saya menyikapi apa yang terjadi di HUT Natuna kali ini.

Kenapa peristiwa bersejarah ini tidak dirayakan? Kenapa tidak ada peringatan sama sekali (atau saya yang tidak tahu, tolong dikoreksi). Apakah kita lupa akan perjuangan masyarakat untuk "mengkabupatenkan" Natuna ini 16 tahun yang lalu, apakah tiada lagi penghargaan yang diberikan kepada mereka yang telah berjasa untuk (sedikit) memajukan daerah di ujung utara negeri Segantang Lada ini? JAS MERAH kata Soekarno, jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah.
Gerbang Utama di Bandara Ranai
Song lah kite flashback lok benda ye :
Sebelum menjadi kabupaten yang beridiri sendiri, daerah Natuna merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau dibawah Provinsi Riau. Kabupaten Natuna terbentuk berdasarkan UU no 53 Tahun 1999 yang meliputi enam kecamatan yaitu kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Jemaja, Siantan, Midai dan Serasan, serta satu Kecamatan Pembantu yaitu Tebang Ladan. Pada bulan juli tahun 2002 Kabupaten Kepulauan Riau menjelma menjadi Provinsi Kepulauan Riau sesuai dengan undang-undang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, maka secara otomatis pula Kabupaten Natuna berada dibawah Provinsi Kepulauan Riau. Pada tahun 2004 ini juga Kabupaten Natuna menambah jumlah kecamatan menjadi 10 kecamatan dengan terbentuknya Kecamatan Palmatak, Subi, Bunguran Utara, dan Pulau Laut. Kemudian menyusul kecamatan-kecamatan lain di wilayah kepulauan Anambas. Hingga pada tahun 2007 wilayah Natuna dimekarkan lagi menjadi 16 kecamatan. 
Daerah administrasi Kabupaten Natuna, via petatematikindo.wordpress.com

Kemudian berdasarkan UU No. 33 Tahun 2008 tanggal 21 Juli 2008, Natuna kembali "pecah" dengan terbentuknya Kabupaten Kepulauan Anambas yang merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Natuna dengan 7 kecamatan dibawah gugusannya. Hingga saat ini Kabupaten Natuna memiliki 12 kecamatan diantaranya Bunguran Timur, Bunguran Barat, Bunguran Selatan, Bunguran Utara, Bunguran Tengah, Bunguran Timur Laut, Pulau Laut, Pulau Tiga, Midai, Subi, Serasan, dan Serasan Timur.

16 tahun sudah Kabupaten Natuna ini berdiri, jika ibaratkan orang, umur 16 tahun adalah umur seorang anak dalam masa-masa puber untuk mencari jatidiri, ia lebih suka mengeksplorasi diri untuk menemukan dirinya yang sebenarnya. Jika terjerumus dalam situasi yang salah, maka akan berdampak tidak baik juga untuknya dimasa depan. Di beberapa tempat umur 16 tahun identik dengan jiwa muda yang masih suka foya-foya dengan kehidupan dunia, "cabe-cabean" kate orang lak, "genjiet" sengak mende di nak sengak e. Hahaha.
Ladeee, via wap.filezombi.com
Namun untuk sebuah daerah, 16 tahun merupakan waktu yang matang untuk untuk merealisasikan rencana-rencana awal dengan tambahan pemabaruan yang lebih baik tentunya. Saya memang tidak mengikuti alur pembangunan, karena itu memang bukan bidang saya. Namun sebagai orang awam, ijinkan saya "mempresentasikan" sedikit apa yang saya rasakan sejak Natuna menjadi Kabupaten hingga saat ini.
Masjid Agung Natuna, @noornaldo
  • Dari segi pembangunan, diawal-awal kelahiran, pembangunan sangat "laju" hingga terciptalah bangunan megah di atas bukit dan masjid terbesar di Provinsi Kepulauan Riau ini, namun setelah itu, pembangunan menjadi lesu, bahkan bangunanyang ada terkesan tidak terawat. Malah yang terjadi adalah penghilangan bukti-bukti sejarah yang pernah ada.
  • Dari segi pendidikan, banyak sekolah-sekolah baru dari tingkat bawah hingga menengah ke atas, bahkan mahasiswa yang berkuliah pun dibiayai dengan pemberian bantuan dana pendidikan, namun saat ini yang terjadi seperti ada hambatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan bantuan dana pendidikan ini, saya kurang tau pasti penyebabnya, namun yang sering saya dengar adalah "kita kekurangan dana".
  • Dari segi pekerjaan, belum ada lapangan pekerjaan yang tersedia untuk rakyat Natuna, malas nak cakap.......
Ah, itu sajalah dulu yang saya jabarkan, sebenarnya masih banyakyang ingin saya utarakan, hanya saja bukan kapasitas untuk menjelaskan ini lebih jauh. Apapun itu, 16 tahun Natuna harus dijadikan introspeksi untuk kemajuan yang lebih baik kedepannya. Bandingkan dengan "saudara-saudara" dari kabupaten lain yang berumur sama, sebagai referensi untuk Natuna lebih baik kedepannya, agar NATUNA MAS 2020 memang benar-benar tercapai seperti apa yang diimpikan oleh tetua kita.
"Selamat Milad Tanah Tumpah darah. Semoga tetap Sakti dan bertuah! Semoga mendapatkan pemimpin yang amanah, sehingga anak negeri tak lagi jadi sampah.."
-Henderiyana -suhu- 


sumber :
http://www.natunakab.go.id/sejarah.html