Wednesday, December 30, 2015

Eksplor Kepulauan Seribu : Kelor, Onrust dan Cipir

Mengisi liburan akhir pekan di Jakarta merupakan hal wajib bagi sebagian orang, termasuk saya. Saya yang dulu pernah menggerutu untuk tinggal di Jakarta karena mindset awal yang "tak bertanggungjawab" tentang hiruk pikuk ibukota, akhirnya lambat laun sangat menikmati tinggal di ibukota negara tercinta ini. Ternyata ada 1001 cara untuk menikmati Jakarta, sesuai bidang yang kamu suka tentunya. Berhubung saya menyukai jalan-jalan dan juga suka bersosial, bergabung dalam sebuah komunitas adalah hal yang harus bagi saya. Dan, hal itu mengantarkan saya berada di komunitas Backpacker Jakarta (BPJ) dengan anggota ribuan orang. Saking ramenya, grup whatsApp BPJ sampe dibagi-bagi, dan saya tergabung dalam grup whatsApp BPJ #9 (kami biasanya menyebut RT, jadi grup whatsApp 9 bilangnya RT 9) yang isinya makhluk-makhluk astral dengan otak sengklek. -_-

BPJ mempunyai banyak agenda yang kebanyakan dilakukan saat weekend, sangat memfasilitasi kebanyakan anggotanya yang sebagian besar bekerja dan mempunyai waktu saat weekend saja. Biaya ngetrip bareng BPJ yang terjangkau dengan sistem sharecost (patungan), membuat setiap perjalanan mempunyai nilai dan kesan tersendiri. Sayangnya, berkali-kali trip yang diadakan BPJ saya lewatkan begitu saja karena waktu yang kurang tepat. Namun minggu ini (kemarin) BPJ mengadakan ODT (one day trip) ke 3 Pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Kelor, Pulau Onrust dan Pulau Cipir. I must join that!

Dan Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga ikut tripnya BPJ setelah 8 bulan gabung, sebulan lagi melahirkan ni. Biayanya 65 rebu doank lo, dengan meeting point di Muara Kamal. Namun panitia menawarkan opsi lain bagi yang ingin berangkat bareng, nyumbang 20rebu lagi, ngumpul di depan Museum Indonesia, dan dari sana berangkat bareng naik kopaja ke Muara Kamal.

Saya antusias sekali karena ini trip kali pertama, hahaha. Jadi pagi-pagi udah bangun, jam 5 pagi ke stasiun Cawang naik KRL ke Stasiun Kota, di stasiun nemu beberapa orang (dari RT tetangga) dan akhirnya berangkat bareng ke tempat meeting point di museum Indonesia, tik tok tik tok nunggu bentar dan capcuss ke pelabuhan Muara Kamal.
Pelabuhan Muara Kamal
Nyampe disana rupanya udah ada beberapa anak BPJ yang sampe duluan. Duduk bentar pesen kopi 3 ribuan sambil nunggu panitia (entah apa yang mereka lakuin). Peserta kali ini ada sekitar 60an orang dibagi dalam 2 perahu. Sekitar jam 8 kita briefing bentar sebelum naik ke perahu menuju pulau. Do'a jangan lupa ya..
Berangkaaaaaat.
Temen Baru, Pengalaman Baru, hobby sama : Jalan2men!. Potooo dulu lah.

Pulau Kelor
Destinasi pertama adalah pulau Kelor, perjalanannya memakan waktu 30 menit aja dari pelabuhan Muara Kamal. Sepanjang perjalanan saya mengambil posisi paling depan, sambil jejemuran kaya turis lokal. B)
Ngerasa kaya Nahkoda, keren sendiri gitu kalo udah berdiri diujung perahu. hha

Hampir sampeee
Naik perahu dengan posisi duduk paling depan ini jadi mengingatkan saya dengan kampung halaman, (tiba-tiba homesick). Disana tiap nyebrang ke pulau-pulau selalu duduk didepan, ditemani laut biru. Bedanya disini ya itu, sepanjang jalan ditemani dengan hitamnya laut dan banyaknya sampah yang mengapung, sedikit merusak mata. -_-
Pulau Kelor memiliki Pasir Putih yang indah
Setelah berlayar selama 30 menit akhirnya kami sampai di pulau Kelor, tak terlalu luas memang, namun pulau Kelor memiliki pasir pantai putih yang menawan dan khas nya pulau ini adalah ia memiliki benteng peninggalan Belanda dari tahun 1600 - 1700an dan masih kokoh berdiri hingga saat ini : Benteng Martello namanya. Dahulu benteng Martello sangat besar dan digunakan sebagai pertahanan dari serangan bangsa Portugis. Namun kini hanya satu bagian saja yangmasih terlihat utuh, sisanya hanya kenangan mantan reruntuhan-reruntuhan benteng yang masih bisa kita lihat. Cuaca cerah, tempat bagus, dan kamera di tangan. Apalagi yang ditunggu? Hajarrrrr!!! hahaha
Potopoto dulu laaah.
Keindahan pulau ini juga sering menjadi tempat-tempat pribadi para artis dan konglomerat menyewanya untuk sebuah hajatan, biasanya sih resepsi pernikahan gitu.
Potoo duluuu


Pulau Onrust
Pulau Onrust dari kejauhan
Setelah puas di Pulau Kelor, perjalanan berlanjut ke Pulau Onrust. Pulau ini tak kalah kerennya dengan pulau Kelor. Pulau Onrust ini dulunya merupakan asrama Haji bagi para calon jemaah haji yang akan berangkat ke Mekkah, juga terdapat dok kapal yang dulunya digunakan untuk perbaikan kapal yang akan berlayar ke daerah Asia. 
Pulau Onrust

Pulau ini ditetapkan sebagai museum pulau, karena hampir seluruh isinya merupakan benda yang mengandung nilai sejarah. Terdapat reruntuhan asrama haji, benda-benda arkeologi, kuburan Belanda dan Pribumi, serta bangunan kuno dan reruntuhan benteng. Disini juga terdapat penjara yang digunakan saat kependudukan Jepang di Indonesia. 
Explor Pulau Onrust

Kami tiba disana saat sudah siang, jadi berjalan sebentar dan istirahat sambil makan siang, ini ni yang saya bilang tadi, trip bareng BPJ gak akan kelaperan deh, banyak banget makanan yang dibawa, ditambah lagi makan bareng2 semua diacampurin, semua sama, sama semua. hahaha. Maknyosss.. 
Ohya, tapi jika kamu lupa bawa bekal, jangan khawatir, disini terdapat beberapa kantin kok untuk membeli makan dan minuman.Harga "menyesuaikan" ya. :D
Ritual Wajib : Potoooooo
Pulau Cipir 
Pulau Cipir
Jembatan yang dibangun kembali
Destinasi terakhir adalah Pulau Cipir. Letaknya tak jauh dari pulau Onrust, bahkan zaman dulu pernah ada jembatan untukmenghubung kedua pulau ini. Dan saat ini jembatan tersebut akan dibangun kembali. Fasilitas pulau Cipir tak jauh beda dengan pulau Onrust, ada asrama Haji, barak2, rumah sakit, kakus umum, dan perkantoran. Juga terdapat reruntuhan benteng seperti benteng Martello di pulau Kelor. 
 
Pulau Cipir

Sekilas info ya, pulau Cipir dan Onrust dijadikan barak Asrama Haji pada masa kolonial, sebelum berangkat ke Mekkah dengan kapal laut, mereka dikarantina disini dulu selama beberapa hari, saat pulang dari Mekah juga mereka harus kembali ke karantina untuk dicek kesehatannya dan lain-lain sebelum kembali pulang ke keluarga mereka. Namun ada maksud lain bagi Belanda, mereka takut akan pergerakan islam yang akan memberontak di Nusantara, dan disini jugalah awal gelar Haji disematkan pada jemaah yang sudah pulang dari Mekah. Agar Belanda mudah mengontrolnya.
Kota Mati
Berada di pulau Cipir seperti ada di kota mati. Terlihat dari beberapa reruntuhan bangunannya, ada yang rata dengan tanah, ada pula yang runtuh sebagian, yang jelas bagus untuk spot foto. Loh.?!


Hari sudah sore, saatnya pulang, perjalanan dari Pulau Cipir ke pelabuhan Muara Kamal memakan waktu 20 menitan saja. Matahari yang hendak kembali ke peraduan menemani perjalanan pulang kali ini. Sayup bunyi mesin perahu serta ombak kecil yang menghempas ujung kapal menjadi simponi indah menuju dermaga. :)
Setelah sampai di pelabuhan Muara Kamal, kami berpisah, kembali pulang. Bagi kami yang tadi naik kopaja yang bayar 20rebu, masih nunggu kopaja nya datang dulu, trus pulaaaang. see u next trip.
Alhamdulillah.




Sumber :
http://www.pulauseribujakarta.com
nuswantaranews.blogspot.co.id

Tuesday, December 29, 2015

Wisata Kota Tua : Museum Bank Indonesia

Jalan-jalannya belum usaiiii, dan masih terus berlanjut. Nah kalo udah ke Museum Bank Mandiri, sekalian aja ke tetangganya : Museum Bank Indonesia. Letaknya persis di sebelah Museum Bank Mandiri, kalian hanya perlu keluar dari Museum Bank Mandiri, berjalan ke arah Kota Tua melewati para penjual makanan dan minuman di tepi jalan, trus nyampe deh ke Museum Bank Indonesia, perjalanan yang luar biasa kan? :D

Museum Bank Indonesia menyimpan sejarah tentang uang-uang dari berbagai negara. Dahulunya museum ini merupakan sebuah rumah sakit binnen Hospital, lalu digunakan menjadi sebuah bank. Yaitu De javasche bank pada tahun 1828 lalu setelah kemerdekaan pada tahun 1953, Bank ini dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia. Tidak lama yaitu tahun 1962 Bank Indonesia pindah ke gedung yang baru. Gedung ini dibiarkan kosong namun dewan Gubernur Bank Indonesia menghargai nilai sejarah yang tinggi atas gedung tersebut, sehingga memanfaatkan dan melestarikan nya menjadi museum Bank Indonesia. Museum ini diresmikan pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah. (Sumber : google) 


Beli tiket dulu, trus tas harus dititipin. Tapi dompet, kamera, HP boleh kok dibawa. Kenangan bareng mantan dititip aja daripada nyusahin ntar, kalau perlu dibuang. . . . . . tik tok tik tok...
Nanti ikuti arah panah sesuai dengan petunjuk yang ada  di museum dan kita bisa melihat seluruh benda-benda yang dipamerkan. 
Proses Dagang, dan Rempah-rempah yang Diinginkan Belanda
Di ruang galeri pertama di Museum Bank Indonesia, para pengunjung diajak untuk mengenal mata uang Indonesia melalui teknologi hologram. Sementara di ruang galeri berikutnya, para pengunjung bisa melihat bagaimana rempah-rempah Indonesia menjadi incaran para penjelajah Eropa. Semua penjelajah Eropa dan Asia yang pernah berkunjung ke Indonesia ditampilkan di ruang galeri ini. Mulai dari Marco Polo, Laksamana Cheng Ho, Juan Sebastian Del Cano, Alfonso d’Albuquerque hingga Cornelis De Houtmen. Bahkan diorama yang menceritakan penjelajah Eropa ketika datang ke Indonesia juga ditampilkan di Museum Bank Indonesia Jakarta ini. 
Selain memperkenalkan para penjelajah Eropa, para pengunjung akan diperlihatkan dan diberikan informasi mengenai dunia perbankan ketika para penjajah kolonial Belanda tiba di Indonesia. Bahkan informasi dunia perbankan ketika Jepang menjajah Indonesia juga ditampilkan di museum ini. Yang menarik tentu saja diorama 3 dimensi yang semakin membuat informasi menjadi lebih menarik.
Perkembangan mengenai mata uang Indonesia juga ditampilkan di museum ini. Para pengunjung juga bisa melihat replika dari ruang penyimpanan emas negara. Bahkan para pengunjung juga bisa berfoto di lembar mata uang Indonesia yang juga sudah disediakan oleh pengelola objek wisata Museum Bank Indonesia. 
 
Banyak lagi yang ditampilkan oleh Museum Bank Indonesia, mulai dari proses perdagangan jaman dulu, cerita tentang perjuangan bangsa, duplikat pakaian-pakaian jaman Kolonial Belanda, alat-alat tukar menukar jaman dulu hingga sekarang. Hingga tumpukan emas batangan. Asli.
Horang Kaya
Museum ini buka setiap selasa hingga jum'at dari jam 8pagi hingga jam 3 sore, namun saat weekend bukanya sampai jam 4 sore. Hari senin dan libur nasional tutup yak. Biaya masuknya saya lupa, antara gratis n bayar 5000. Tapi kayanya gratis deh, tapai bawa aja 5000, jaga jaga. ckckck.
Wassalam. baaaaaayy.


sumber :
http://wisatanesia.co/wisata-sejarah-museum-bank-indonesia/

Monday, December 28, 2015

Wisata Kota Tua : Museum Bank Mandiri

Masih mengeksplor Kawasan Kota Tua, kali ini tujuannya adalah Museum Bank Mandiri. Sebenarnya saya kesini sudah lama banget, tapi baru bisa posting saat ini, gak papa lah ya. ya iya lah blog blog gue. -_-
Museum Bank Mandiri
Museum ini terletak tepat diseberang halte Busway Jakarta Kota. Bangunan museum pada mulanya adalah kantor Nederlandsch Handel-Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias Maskapai Dagang Belanda. Kantor pusat NHM berada di Amsterdam, sedangkan Batavia (Jakarta) adalah kantor cabang. Akses menuju museum ini tidaklah sulit, naik busway koridor 1 dengan biaya 3.500 atau naik comutter line tujuan Jakarta Kota dengan biaya 2.000 saja kita sudah bisa sampai ke museum ini. 


Komputer Jadul
Museum Bank Mandiri merupakan bangunan cagar budaya yang menempati area seluas 1.039 m². Pada awalnya, gedung yang dibangun tahun 1929 dengan gaya arsitektur Neiuw-Zakelijk ini merupakan bangunan yang digunakan untuk kantor Nederlandsche Handel Maatschappij NV di Batavia. NHM Batavia dikenal dengan sebutan Factorij atau factory dalam bahasa Inggris yang berarti agen dagang di negara asing. Setelah Indonesia merdeka, NHM dinasionalisasi (1960), kemudian berkembang menjadi Bank Exim dengan kantor pusat di Gedung Factorij. Bank Exim kemudian bergabung kedalam Bank Mandiri (1999). Sejak 2005 Gedung Factorij difungsikan sebagai Museum Mandiri.
ATM Jadul
Mesin Pemotong
Saat masuk saja kita sudah disuguhi oleh suasana bank tempo dulu, dimana terdapat ruang teller lengkap dengan petugas-petugasnya. Kemudian disisi kiri terdapat komputer jadul, mesin pemotong serta ATM Bank Mandiri generasi awal. Serta berbagai mesin kerja pendukung di pojok ruangan yang ditata secara unik.


Susunan Mesin Ketik

Kemudian lanjut lagi masuk ke dalam kita akan menemukan koleksi-koleksi yang lain, ruang rapat, serta gambar-gambar pimpinan serta sejarah dari Bank itu sendiri. Berbagai koleksi perbankan diantaranya perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, buku besar, mesin hitung uang, brankas, dan lain-lain. Semua koleksi tersebut dapat kita nikmati di ruang tata pamer yang didesain menarik sehingga kita dapat merasakan nuansa perbankan tempo dulu. 
Museum Bank Mandiri
Hmmm, waktu kami berkunjung, museum ini digunakan sebagai tempat lokasi syuting film Comic 8. Itu lo, di scene-scene awal film yang merampok bank, nah rupanya disini lokasinya. Bonus deh, kunjungan museum + liat artis. Hahaha :D
Proses Syuting Film Comic 8
Biaya masuk museum ini adalah gratis bagi anda yang pelajar, mahasiswa, dan nasabah bank Mandiri. Namun jika anda tidak ketiganya, maka akan dikenakan biaya Rp 2000 perorang, atau 1000 perorang jika anda berada dalam rombongan lebih dari 20 orang.
Museum ini buka setiap hari selasa hingga minggu, dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, sedangkan hari senin dan hari libur nasional museum ini tidak dijadwalkan untuk menerima tamu. :D



Sumber :
http://www.wisatamuseum.com/id/mandiri-profile.php
http://www.museumindonesia.com/museum/54/1/Museum_Mandiri_Jakarta