Monday, December 14, 2015

Wisata Kawasan Kota Tua : Museum Fatahillah

Masih di sekitaran komplek Kota Tua Jakarta, perjalanan berlanjut ke Museum Fatahillah yang letaknya tak jauh dari Museum Wayang. Museum Fatahillah juga sering disebut dengan Museum Sejarah Jakarta. Museum ini terletak di Jalan Taman Fatahillah no 2, Jakarta Barat, atau tepat sebelah selatan alun-alun Kota Tua. 
Museum Fatahillah dari Alun-alun
Namun sebelum menuju ke Museum Fatahillah, sempatkan waktu dulu untuk menikmati asyiknya bermain-main di alun-alun Kota Tua. Berkeliling dengan menyewa sepeda onthel, berfoto dengan manusia-manusia patung, hantu-hantu dan beragam atraksi khas Betawi biasanya juga ditampilkan di alun-alun ini. Perut terasa lapar? hmmmm disana juga tersedia berbagai kuliner khas daerah, atau bisa juga nongkrong bentar di Cafe Batavia di seberang Museum dan Cafe Djakarte di sebelah barat museum. Ngerasa udah fresh, baru deh lanjutkan perjalanan ke Museum Fatahillah nya.


Museum ini awalnya merupakan Balai Kota (Stadhuis) yang diresmikan oleh Gubernur Jendral Abraham Van Riebeeck pada tahun 1710. Pembangunan gedung ini sendiri telah dimulai pada era Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen, pada tahun 1620. Kondisi tanah Jakarta yang labil membuat gedung ini sempat anjlok, sehingga dilakukan beberapa kali usaha pemugaran hingga peresmiannya.
Koleksi-koleksi Museum Sejarah Jakarta
Pada masa selanjutnya, gedung ini sempat mengalami beberapa kali peralihan fungsi. Gedung ini pernah berfungsi antara lain sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat (1925-1942), kantor pengumpulan logistik Dai Nippon (1942-1945), markas Komando Militer Kota/Kodim 0503 Jakarta Barat (1952-1968). Baru pada tahun 1968, gedung secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta pada 1968 dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

Museum ini menyimpan 23.500 koleksi barang bersejarah, baik dalam bentuk benda asli maupun replika. Koleksi ini berasal dari Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum) yang sebelumnya terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, yang saat ini ditempati Museum Wayang

Halaman Belakang Museum
Diantara koleksi yang penting untuk diketahui masyarakat adalah Prasasti Ciaruteun peninggalan Tarumanagara, Meriam Si Jagur, Patung Dewa Hermes, sel tahanan dari Untung Suropati (1670) dan Pangeran Diponegoro (1830). Ada pula lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda dari 1602-1942, alat pertukangan zaman prasejarah dan koleksi persenjataan. Selain itu, terdapat koleksi mebel antik peninggalan abad ke-17 hingga abad ke-19, sejumlah keramik, gerabah dan prasasti.

Berbagai koleksi yang ada dipamerkan dalam beberapa ruangan, sesuai periode asalnya. Ruang-ruang pameran yang ada yaitu, Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung dan Ruang MH Thamrin. Pembagian ruangan ini dan penataan koleksi yang ada sangat mempertimbangkan aspek artistik dengan harapan dapat berfungsi seoptimal mungkin sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Koleksi yang dipamerkan ke publik hanya sekitar 500 buah saja, sedangkan sisanya disimpan dalam ruang penyimpanan. Secara berkala, koleksi ini dirotasi sehingga dapat dilihat oleh masyarakat.
Penampakan Penjara Bawah Tanah
Ternyata, dahulu sebelum difungsikan sebagai Museum, bangunan tua ini tak hanya sekedar balai kota, namun juga merangkap menjadi penjara bawah tanah bagi para tahanan. Dan bila tiba saatnya, para tahanan yang mendapat vonis hukuman mati akan dieksekusi di halaman depan gedung dan dilihat oleh banyak orang. serem yak. :D

Biaya masuk Museum sebesar 3000 untuk mahasiswa, 5000 untuk umum dan 1000 untuk anak-anak. Harga bisa berubah-ubah yaa. Museum ini buka pada Selasa dan Minggu dari jam 9 pagi sampai 4 sore. 
Selamat bereksplorasiii. :)

sumber : http://www.indonesiakaya.com


Baca Juga: Museum Wayang

No comments:

Post a Comment