Thursday, March 10, 2016

Tulisan Perantau : Melipir ke Kota Raja Tenggarong Kutai Kartanegara

Gerbang Raja
Setelah dari Masjid ICS Samarinda, perjalanan saya berlanjut ke Kota Tenggarong. Perjalanan dari Samarinda ke Tenggarong memakan waktu 45 menit untuk jalan kendaraan dengan kecepatan sedang. Perjalanan dari Samarinda ke Tenggarong melewati hutan-hutan kota dan area pertambangan. Jalan yang berkelok-kelok membuat peut saya mual ingin mengeluarkan isi, mana duduk di mobil bagian belakang lagi. :D
Jalan Samarinda - Tenggarong, via huhulwinda.blogspot.com

Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya sampai juga saya di Kota Tenggarong ini. Kota Tenggarong merupakan ibukota dari Kabupaten Kutai Kartanegara, kabupaten dengan luas wilayah terluas di Provinsi Kalimantan Timur, juga merupakan Kabupaten Terkaya dengan APBD terbesar se Indonesia. Sekarang ini kami berada di Tenggarong Seberang, dan masih dalam perjalanan menuju kota Tenggarong nya. Dibagian kanan saya melihat sekomplek bangunan megah yang merupakan Pusat Olahraga Tenggarong, terdiri dari Stadion Sepak Bola Aji Imbut, sebuah stadion sepak bola yang berdiri megah, markas bagi tim Sepakbola Mitra Kukar, juga beberapa sarana olahraga lainnya yang dulu digunakan saat PON 2008. 
Jembatan Kartanegara, via www.1news.id

Perjalanan terus berlanjut melewati jembatan Kartanegara, sebuah jembatan kebanggaan masyarakat dan ikon kota Tenggarong itu sendiri. Jembatan yang dulu sempat ambruk ini kini telah kembali berdiri gagah yang menghubungkan Tenggarong Seberang dan Kota Tenggarong dan berdiri kokoh di atas Sungai Mahakam. Saat melewati jembatan, pandangan saya tertuju di bagian kanan jalan, terdapat pulau besar di tengah-tengah Sungai Mahakam. Pulau ini diketahui bernama Pulau Kumala, sebuah pulau berbentuk kapal jika dilihat dari atas, merupakan tempat wisata andalan warga Tenggarong. Di ujung pulaunya berdiri sebuah patung, entah apa bentuknya itu. Seperti campuran dari beberapa binatang, berbadan sapi, bersayap, berbelalai, bermahkota? Hmmm. Lembu Suana, itulah nama dari "campuran Binatang" tersebut. Sebuah mitologi masyarakat Kutai Kartanegara. Ada juga yang bilang bahwa ini merupakan transportasi para Raja Kutai.
Lembu Suana di Pulau Kumala, via www.indonesiakaya.com

Setelah melewati jembatan Kartanegara, akhirnya sampailah saya di Kota Tenggarong, pemandangan pertama saya tertuju pada daerah konstruksi yang sepertinya akan dijadikan taman kota, di bagian kanan juga terdapat seperti menara yang akan dibangun. Geliat pembangunan yang tak pernah berhenti. Tak jauh dari jembatan, berdiri megah kantor Bupati Kutai Kartanegara, khas dengan corak Kalimantan Timur nya. Didekatnya juga juga terdapat beberapa kantor-kantor penting, dan beberapa kantor lain yang akan dan sedang dibangun. Sepertinya tempat ini akan menjadi pusat perkantoran kabupaten.
Tulisan Tenggarong di Creative Park
Sama seperti Samarinda, Kota Tenggarong terletak di tepian Sungai Mahakam. Kota ini mendapat julukan sebagai Kota Raja. Karena dulu disini berdiri kerajaan besar Kutai Kartanegara, atau dengan lengkap bernama Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura dan Tenggarong merupakan ibukota Kerajaan terakhir setelah sempat beberapa kali berpindah tempat. Berada di tepian sungai Mahakam ditambah lagi dengan hasil bumi Kalimantan yang melimpah merupakan nilai plus tersendiri bagi kerajaan Kutai, yang menjadikannya kerajaan makmur. Hingga saat ini Kerajaan Kutai Kartanegara masih tetap ada. Meski tak sedaulat Kesultanan di Jogja, Kerajaan yang juga memimpin daerah, namun Kesultanan Kutai Kartanegara memegang peranan penting bagi kota dan masyarakat Tenggarong itu sendiri. Kerajaan Kutai pertama kali berdiri pada abad 13 merupakan Kerajaan Hindu, dan baru menjadi Kerajaan Islam pada abad ke 17. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1960, namun pada tahun 2001 Kesultanan Kutai Kartanegara dibangkitkan kembali untuk menjaga eksintensi dan budaya Kerajaan Kutai, bangkitnya kerajaan ini ditandai dengan dinobatkannya sang pewaris tahta yakni putera mahkota Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adinigrat sebagai Sultan Kutai dengan gelar Sultan Aji Muhammad Salehuddin II pada tanggal 22 september 2001. Istana Kerajaannya di Tenggarong disebut dengan Kedaton. Hmmm, menarik ni, sepertinya ada ulasan tersendiri ntar mengenai kerajaan Kutai ini. ;)
Jembatan Repo-repo yang Menghubungkan Tenggarong dan Pulau Kumala
Balik ke Kota Tenggarong ya. Kota Tenggarong sendiri tidak begitu luas. Pusat pembangunan memang berada di sini sebagai ibukota kabupaten. Selain pembangunan infrastruktur pemerintahan, pemerintah juga membangun sarana hiburan seperti taman kota, taman kreatif, tempat nongkrong yang unik di tepian sungai. Juga terdapat jembatan Repo-repo yang menghubungkan kota Tenggarong dengan Pulau Kumala. Program pemerintah Kutai Kartanegara adalah GERBANG RAJA, yang merupakan akronim dari Gerakan Membangun Untuk Rakyat Sejarhtera, hampir sama dengan daerah saya (baper untuk yang kesekian kalinya). Program pemerintah di kampung saya sana adalah GERBANG UTARAKU, sebuah akronim dari Gerakan Mebangun Untuk Kesejahteraan Sampai Ke Anak Cucuku. Ya hampir sama, sama-sama daerah tingkat II, sama-sama memiliki APBD yang besar (dua-duanya masuk dalam 20 besar daerah dengan APBD besar di Indonesia), sama-sama "gerbang" programnya. Bedanya aja "membangun" nya lebih kelihatan disini daripada disana. Hhaaaah, oke, skip.
Creative Park, Tenggarong
Karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa bermain di Creative Park Tenggarong, sebuah taman Kota di pinggiran sungai Mahakam, yang menjadi tempat nongkrong semua kalangan. Pemandangannya adalah pulau Kumala dan kapal-kapal tongkang yang membawa hasil bumi Kalimantan untuk diolah. Sebenarnya masih banyak lagi tempat yang mesti dieksplor jika masih punya waktu yang lebih.

"Berjalanlah dimuka bumi dan perhatikanlah....."

Sebuah arti dari ayat alquran, yang menyuruh kita untuk selalu "berjalan", agar kita banyak bersyukur. Jangan berdiam diri di kamar, karena kamar bukan semesta. Jangan berdiam diri, karena hanya air yang mengalirlah yang akan sampai ke samudera luas, meski melewati berbagai tempat dan rintangan. Maka, berjalanlah. :)

No comments:

Post a Comment