Sunday, May 21, 2017

“Merasakan” Dahsyatnya Perang Dunia di Bukit Peningki Lama, Tarakan



Pulau Tarakan terletak di Provinsi Kalimantan Utara. Pulau ini memiliki luas 303 km2, sebagian besar pulau ini diliputi oleh rawa dan bukit yang tertutup hutan lebat. Dulu, saat melihat peta, dengan luas seperti itu, saya pertama berfikir bahwa pulau ini memiliki kontur tanah yang datar, ternyata itu salah, ketika saya berada disana, kontur pulau ini juga terdiri dari bukit-bukit, sesuai dengan istilah petroleum system yang saya pelajari saat kuliah dulu, bahwa daerah kaya migas akan memiliki kontur antiklin, kontur berbukit-bukit, dimana akan mudah bagi hidrokarbon untuk terperangkap dan berakumulasi hingga akhirnya menjadi minyak dan gas yang bisa diambil kepermukaan untuk dimanfaatkan.

Selain menyimpan kekayaan alam yang besar, Pulau Tarakan juga menyimpan banyak sekali peninggalan bersejarah. Bahkan ada artikel yang mengatakan bahwa Tarakan merupakan Kota ratusan bunker. Ada 200an bunker di Tarakan, namun baru hampir 100 buah yang ditemukan. Peninggalan-peninggalan bersejarah ini tak lepas dari banyaknya sumber daya alam yang dimiliki oleh pulau yang terletak di sisi timur pulau Kalimantan ini. Sumber Daya Alam yang dimiliki Pulau Tarakan mengundang bangsa-bangsa luar untuk meninkmatinya. Sehingga mereka berebut datang ke pulau ini untuk mengambil SDA tersebut.

Sedikit kilas balik mengenai sejarah Tarakan dulu ya. Tarakan merupakan salah satu bagian dari Hindia Belanda pada tahun 1941 dan sangat penting karena sebagai pusat produksi minyak yang dapat memproduksi 80.000 barrel minyak setiap bulan. Menurut catatan sejarah, sebelum perang dunia kedua, Tarakan menghasilkan 6 juta barrel minyak setiap tahun. Sejarah perminyakan di Tarakan dimulai dari tahun 1897. Dari hal tersebut, sumber daya alam Tarakan sangat menguntungkan dan menjadi rebutan berbagai bangsa untuk mendapatkan minyak bumi. Untuk itu pemerintah kolonial Belanda berusaha mempertahankan Tarakan dengan sejumlah kekuatan baik di darat, laut, dan udara. Dalam mendukung pertahanan pulau Tarakan, Belanda membangun sejumlah bunker, meriam pantai, dan sejumlah bangunan pengintai pada kurun waktu tahun 1936 - 1939. Pertempuran Tarakan terjadi pada tanggal 11 dan 12 Januari 1942. Meskipun Tarakan hanya pulau kecil berawa-rawa, tetapi terdapat 700 sumur minyak, penyulingan minyak, dan lapangan udara yang merupakan tujuan utama Kekaisaran Jepang dalam Perang Pasifik (Anonim, 2011).
Cagar Budaya Bukit Peningki Lama, Tarakan
Saat saya berkesempatan untuk meng-explore pulau ini, tempat-tempat bersejarah pula yang menjadi tujuan untuk saya datangi. Saya berkeliling Tarakan dengan seorang teman di kampus dahulu yang memang berasal dari sini. Dan satu-satunya tempat bersejarah peninggalan Belanda yang saya datangi adalah situs Bukit Peningki Lama. Situs ini terletak di Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur, Kota Tarakan. Perjalanan ke sini memakan waktu 30-45 menit berkendara dari Bandara Internasional Juwata Tarakan. Situs ini terletak di bukit yang mengarah ke laut dan berhadapan langsung dengan pulau Kalimantan.
Situs Bukit Peningki Lama, Tarakan.
Kawasan Cagar Budaya ini menempati lahan seluas 6,1 hektar. Situs Bukit Peningki Lama ini memiliki tiga meriam artileri pantai buatan tahun 1902, empat bunker pengintai, dan satu gudang ransum. Situs ini dahulu merupakan basis utama pertahanan Belanda yang dapat mengawasi keseluruhan jalur laut dan darat memasuki Tarakan dari arah selatan. Tujuan utama pembangunannya adalah untuk mengamankan sarana vital Belanda yakni pelabuhan laut dan udara serta tambang minyak dan lingkungan kota. Sejak tahun 1869, Tarakan telah menjadi pangkalan kapal perang Belanda untuk mengawasi sisi utara Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia Timur yang saat itu berada dibawah kekuasaan Kerajaan Inggris Raya.
Pemandangan dari atas situs. Ada jalur tracking dan beberapa gazebo untuk istrahat
Situs Cagar Budaya ini berada di bukit sehingga pas bagi kita yang menyenangi tracking, jalurnya track nya pun sudah dibuat oleh pemerintah untuk memudahkan perjalanan. Di beberapa tempat juga sudah dibuat pondok-pondok kecil untuk beristirahat. Saya bertekad untuk mendatangi semua peninggalan yang ada disini. Saya memasuki area situs dan melihat susunan meriam-meriam artileri pantai. Meriam-meriam buatan Fried Krupp Essen Jerman tahun 1902 ini disusun berdekatan dengan garis pantai dan bertugas untuk mengamankan pantai dan laut dari serangan musuh. Gagah berdiri dizaman dahulu, namun kini meriam tersebut sudah diselimuti karat dan beberapa onderdilnya sudah hilang. 
Beberapa meriam artileri pantai.
Setelah meriam, saya menelusuri beberapa bunker. Bunker merupakan bangunan yang lazim ada saat peperangan. Bangunan ini merupakan tempat serdadu bersembunyi sambil menyerang musuh. Biasanya bunker dibuat tersembunyi, tertutup oleh tanah dan hanya meninggalkan sedikit celah untuk tentara mengeluarkan senjata, membidik dan menyerang musuh. Sayangnya saat berada disana, bunker-bunker yang ada banyak terendam air, alhasil saya tidak bisa merasakan bagaiaman berada di dalam bunker. Saya mendatangi keseluruhan 4 bunker yang ada, mengambil beberapa gambar dan lanjut tracking.
Beberapa bunker di situs
Tempat terakhir yaitu merupakan gudang logistik. Gudang tempat penyimpanan ransum untuk mendukung peperangan. Gudang ransum ini hanya terlihat pintu masuk depan, sementara sebagian lain tertutup tanah, sebagai bentuk kamuflase dalam perang, dan juga untuk meminimalisir getaran yang terjadi.
Gudang Logistik
Sunyi dan senyap saat berada di situs ini. Namun siapa sangka, dahulu disini merupakan saksi bisu pertumpahan darah dan desingan peluru yang “memeriahkan” perang dunia kedua. Yang ternyata Tarakan juga kecipratan “seru”nya. Cobalah berada di dekat meriam, memegang meriam dan membidik ke arah laut, rasakan kapal-kapal musuh yang datang dan kamu yang bertugas untuk menghancurkannya. Lalu pergilah ke bunker, “lihatlah” para tentara dengan senapannya dan siap selalu membidik musuh, jangan kasih kendorrr bosku. “Dengarkan” desingan-desingan peluru tentara yang terlepas dari senapan-senapan yang digenggam. Juga suara-suara pesawat tempur yang siap memborbardir area musuh saat lolos dari serangan. “Rasakan” juga bagaimana sibuknya personel gudang ransum dalam menyuplai logistic kepada serdadu-serdadu digaris depan pertahanan. Sungguh luar biasa sepertinya. Bak film-film perang buatan hollywood itu.
Meriam Artileri Pantai
Situs Cagar Budaya Bukit Peningki Lama merupakan museum terbuka di Kota Tarakan. Ada baiknya kita jaga, bantu pemerintah menjaga museum ini sebagai peninggalan sejarah yang berharga dengan tidak mencorat-coret dan mengambil barang-barang di sekitar situs. Agar kelak, generasi kedepan bisa mengetahui betapa besar bangsa kita, betapa banyak peninggalan bersejarah yang perlu dikaji untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan kita.
"tenang sayang, daulatmu akan ku bantu jaga, meski hanya dengan kata yang ku langitkan"
Salam perantau


Sumber :
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id
http://nationalgeographic.co.id
http://pijarkaltara.blogspot.co.id
http://beritatrans.com

No comments:

Post a Comment