Sunday, May 21, 2017

Melihat Lebih Dekat Rumah Adat Baloy, Rumah Milik Si “Pemilik” Wilayah Utara Kalimantan

Menjadi Provinsi termuda tidaklah sulit bagi Kalimantan Utara untuk menemukan “jati diri” nya. Provinsi yang beribukota di Tanjung Selor ini sudah memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari bentang alam, bahasa, suku dan budaya, sudah dimiliki oleh Provinsi yang akan menginjak usia 5 tahun pada bulan oktober nanti. Salah satu tempat popular di Kal-Tara adalah Pulau Tarakan. Tarakan menyimpan banyak peninggalan sejarah bekas Perang Dunia ke-II. Namun dibalik wisata sejarah yang memang menjadi daya tarik Kota yang kaya akan migas ini, ada terselip jenis wisata lain yang tak boleh dilewatkan begitu saja, yaitu wisata budaya. Tarakan yang merupakan pulau tersendiri yang terpisah dari pulau Kalimantan ini dihuni oleh penduduk asli Suku Tidung. Suku asli penguasa wilayah Utara Kalimantan.
Awalnya suku Tidung merupakan salah satu bagian dari 420 sub suku Dayak yang ada di Kalimantan, sehingga dulu disebut dengan Dayak Tidung. Namun, saat setelah ajaran islam masuk ke dalam budaya tersebut, penyebutan suku Dayak Tidung perlahan-lahan berubah menjadi suku Tidung saja. Oleh karena itu, ragam budaya serta adat suku Tidung tak lepas dari suku induknya yaitu Dayak. 
Salah satunya ciri khas Suku Tidung adalah Rumah Baloy. Rumah Baloy adalah sebutan untuk rumah Adat Suku Tidung. Rumah yang menjadi salah satu ikon Suku yang mendiami pulau Tarakan dan Kalimantan Utara ini berfungsi sebagai balai adat atau tempat tinggal kepala adat. Rumah Baloy atau yang dikenal juga dengan Rumah Adat Kalimantan Utara ini terletak tak jauh dari Bandara Internasional Juwata Tarakan. Terletak di sebelah selatan pulau, perjalanan kami tempuh dalam waktu sekitar 20 menit berkendara. Lumayan jauh terasa apalagi dengan medan berbukit dan dalan yang tidak rata. Namun perjalanan tetap kami teruskan untuk memuas hasrat akan keingintahuan ini. 
Tarif masuk ke dalam komplek wisata rumah adat sangatlah terjangkau. Kami hanya membayar Rp. 3000 perorang untuk masuk ke komplek ini. Setelah memarkirkan motor, kami langsung menuju ke komplek rumah Baloy. Komplek rumah Baloy terdiri dari beberapa bangunan. Bangunan utama yang menyambut kami setelah pos pintu masuk tadi adalah sebuah miniatur rumah adat, sekilas semacam pondok kecil, namanya Baloy Yaki. Baloy Yaki atau disebut juga dengan Balai Leluhur berbentuk seperti rumah panggung pada umumnya, memiliki pintu dan jendela tanpa tutup. Rumah ini merupakan tempat penyimpanan sesaji dan wadah untuk berkomunikasi dengan leluhur. 
Baloy Yaki.
Dari Baloy Yaki Lalu kami menuju bangunan utama, rumah Baloy Mayo namanya. Rumah ini berbentuk rumah panggung yang menyesuaikan dengan bentang geografis daerah ini yaitu peisisir dan rawa dengan arsitektur yang tak jauh beda dengan rumah Lamin, rumah adat Kalimantan Timur. Arsitektur rumah Baloy ini merupakan arsitektur yang unik bagi saya. Mengadopsi arsitektur dari rumah Lamin ditambah dengan ukiran-ukiran penuh makna pada bagian risplang dan atapnya dengan nilai-nilai filosofis khas Suku Tidung yang berhubungan dengan kehidupan pesisir dan laut. Sebuah kombinasi nan indah, dan elegan. 
Rumah Baloy Mayo
Rumah Baloy secara keseluruhan dibuat dari kayu ulin. Jenis kayu yang banyak terdapat di Kalimantan. Kayu Ulin merupakan kayu yang unik. Berbeda dengan jenis kayu lain yang jika terkena air akan melapuk. Bagi kayu Ulin semakin terkena air, maka semakin kuat dan keraslah ia. Oleh karena itu kayu Ulin menjadi bahan utama untuk membuat rumah bagi masyarakat pulau ini. 
Saya memutuskan untuk tidak (belum) masuk ke dalam rumah utama, karena masih ingin mengitari komplek ini. Di belakang bangunan utama terdapat bangunan yang didirikan di atas kolam penuh ikan. Bangunan ini disebut dengan Lubung Kilong atau Tamba Bayanginum. Bangunan dengan dua lantai ini difungsikan untuk menampilkan kesenian suku Tidung seperti tari Japen. Bangunan yang seakan terapung tersebut saat saya disana difungsikan menjadi café atau restoran bagi para wisatawan. Kita juga bisa memberi makan ikan-ikan yang dipelihara tersebut. 
Lubung Kilong atau Tamba Bayanginum
Lanjut lagi dibelakang, terdapat bangunan besar seperti aula terbuka. Bangunan ini bernama Lubung Intamu atau Bayaintamu Apmachkuta Adji Radin Alam, berfungsi sebagai tempat penonton menyaksikan pertunjukan dan juga berfungsi sebagai pertemuan masyarakat adat dalam skala besar, seperti acara pelantikan dan tempat bermusyawarah. 
Lubung Kilong dan Lubung Intamu
Komplek rumah adat Baloy ini sepertinya juga akan ditambah dengan fasilitas-fasilitas taman untuk semakin menarik wisatawan, terlihat dari beberapa pengerjaan taman dan wahana yang belum selesai, juga terdapat perahu-perahu gayuh yang tersedia di kolam yang dibuat. Di sisi bangunan Lubung Intamu terdapat rumah panggung tinggi, lebih cocok bagi saya untuk menyebutnya sebagai menara pendek. Disitu tertulis kata Tunon Mayo 1557, Laksmana Radja Laoet Singa Tuwo, Amiril Pingiran Abdurrasyid, Turakon. Kata “Turakon” ini memunculkan anggapan dalam benak saya yang mengatakan mungkin ini asal mula nama Tarakan. Namun ketika saya bertanya pada teman saya, dia tak bisa menjawabnya. Huft KZL
Turakon.
Disisi sebelah kanan dari bangunan utama terdapat tempat penjualan souvenir. Kami memasuki ruangan tersebut dan disuguhi beberapa foto yang dipajang di dinding ruangan serta souvenir-souvenir, pakaian adat dan batik. Batik dengan corak Kalimantan merupakan daya tarik sendiri dari toko souvenir ini. Kita juga bisa berfoto dengan menggunakan pakaian adat Kalimantan Utara. Namun sayang, informasi itu saya dapatkan ketika pulang melalui mbah gugel. Huft KZL lagi
Rumah Baloy Mayo, Suku Tidung
Dari ruang souvenir saya kembali lagi ke gedung utama yaitu Rumah Baloy Mayo. Ketika ingin masuk namun tidak ada pintu yang terbuka yang berarti sedang tutup, ya iyalah. Alhasil saya hanya bisa melihat bentuk dalam ruangan dari sela-sela jendela yang terbuka. Rumah Baloy terdiri dari beberapa ruangan yang disebut dengan Ambir. Setiap ruangan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ruang ambir kiri disebut dengan Alad Kait, yang merupakan tempat untuk menerima masyarakat yang mengadukan perkara, atau masalah adat. Berbeda dengan ambir tengah atau yang disebut dengan Lamin Bantong, di ruangan ini terdapat meja panjang dan kursi-kursi tersusun yang merupakan tempat pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara adat. Lain lagi ambir kanan yang biasa disebut dengan Ulad Kemagot, yakni diperuntukkan sebagai tempat beristirahat usai penyelenggaraan perkara adat. Terakhir, Lamin Dalom atau tempat singgasana dari Kepala Adat Besar Tidung. 

Di dalam rumah ini terdapat beberapa gambar yang saya tebak adalah gambar-gambar pemuka adat Suku Tidung. Sayang saya benar-benar lupa untuk mengabadikan gambar dalam Rumah Baloy ini. hiks. Rumah Baloy yang terbagi atas beberapa ruangan terebut, memiliki fungsi yang selalu dikaitkan dengan kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Ini menunjukan bahwa suku Tidung merupakan masyarakat yang mencintai perdamaian dan mau bermusyawarah untuk menyelesaikan suatu masalah. Ciri khas yang Indonesia banget
Komplek rumah Baloy ini juga dilengkapi dengan mushala, toilet, dan beberapa bangunan lain yang saya tebak merupakan penginapan atau vila atau juga rumah penjaga komplek wisata adat ini. Disetiap bangunan mempunyai nama masing-masing yang diambil dari nama keluarga Raja. Seperti Dayang Putri Sabah, Dayang Intan Djoera, AP Djamaloel Ail Qiram dan Dayang Fatimah. Keseluruhan bangunannya dibuat dengan arsitektur dan gaya khas suku Tidung. 
Rumah Baloy Adat Tidung, Tarakan, KalTara
Setelah puas melihat-lihat, sebetulnya ya kurang puas sih karena belum memasuki ruangan utama tadi. Hanya bisa melihat bagian dalam rumah dari luar. Tapi lumayan lah ya, secara keseluruhan feel nya udah dapet. Dan kami memutuskan pulang untuk melanjutkan perjalanan ke lain tempat.


Sumber tambahan :
https://www.merdeka.com
https://www.rumah-adat.com
https://yudibahtiar.com

2 comments: