Saturday, May 20, 2017

Tarakan Kal-Tara, the awesome "One Day Trip"

Perjalanan luar biasa saya kali ini adalah di Provinsi Termuda di Indonesia, yap Kalimantan Utara. Provinsi "Anak Bungsu" ini merupakan pemekaran dari Provinsi induk Kalimantan Timur pada tahun 2012. Dan jika berada disana, jangan sekali-sekali menyebut KalUt sebagai singakatan dari Kalimantan Utara, sebab penduduk disana tidak begitu senang dengan singkatan tersebut. Sebutlah dengan KalTara, (temennya Aang Avatar, sang pengendali air, #krik #okeskip), biar keren gitu.

Dan tempat tujuan saya kali ini adalah Pulau Tarakan. Tarakan merupakan sebuah pulau tersendiri yang terpisah dengan pulau induk Kalimantan. Terletak disebelah timur Kalimantan, bersama ratusan pulau-pulau kecil lainnya yang terbentuk di delta sungai Malinau.

Pulau Tarakan menyimpan pesona alam sendiri dan juga mempunyai peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Saya memilih tujuan ke Tarakan karena ada rekan saya yang tinggal di sini, jadi bisa minta bantuan-bantuan jika nanti ada kebutuhan. Dan benar saja, saya ditawari nginep di rumahnya, dan akan diajak jalan-jalan nantinya, (sudah berkurang budget untuk penginapan dan transportasi,  Uyeeeuyeeee).

Perjalanan singkat saya di Kota Minyak Tarakan ini dimulai dari siang hari. Jadwalnya sih dari pagi, hanya saja hujan sudah mulai turun dari dinihari hingga siang, jadi perjalanan kami undur hingga setelah zuhur.

1. Roemah Boendar.
Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Roemah Boendar, sebuah rumah unik peninggalan Belanda. Rumah yang dibangun tahun 1945 ini terletak di kawasan perumahan Kampung Baru di jalan Danau Jempang, kelurahan Pamusiang, Tarakan Tengah, -map- dulu daerah ini merupakan kawasan perumahan elit warga Belanda. Ada beberapa rumah bundar disini, namun hanya satu yang "dibudidayakan". Sebenarnya rumah ini berbentuk setengah bundar, tidak sepenuhnya bundar, karena kalau bundar sepenuhnya rumah ini akan bergelinding, Hahaha #krik #kriklagi.
Roemah saya -setengah- Boendar, -setengah- Boendar Roemah saya. Kalo tidak -setengah- boendar, bukan roemah saya, syalalalalalaa.
Sayangnya saat kami kesana, pagarnya terkunci, dan kami tidak bisa masuk kedalam, hanya melihat dan berfoto-foto dari luar saja. Di samping rumah bundar, masih di dalam pagarnya, ada dua mobil model jeep yang terparkir di depan garasi. Itu merupakan kendaraan umum, layaknya angkot zaman dulu. Tempat ini instagramable banget untuk anak-anak kekinian, berfoto dengan tema vintage dengan sedikit krearifitas untuk hasil yang luar biasa. Saya hanya mengambil beberapa gambar saja disini. Lalu kami pergi.

2. Rumah Adat Suku Tidung.
Tujuan selanjutnya adalah wisata budaya, dengan tujuan rumah Adat Suku Tidung. Rumah Baloy namanya. Tempat ini terletak di Karang Anyar, tak jauh dari Bandara Juwata Tarakan, -map-. Suku Tidung merupakan suku asli Pulau Tarakan, saya sebelumnya sempat mikir bahwa suku Tidung ini merupakan bagian dari Suku Dayak, Dayak Tidung. Namun ternyata bukan, suku Tidung merupakan suku sendiri, mempunyai Adat dan bahasa sendiri. Bahkan suku Tidung ini adalah suku "pemilik" wilayah Kalimantan bagian Utara. Pengetahuan saya jadi bertambah mengenai suku asli penghuni pulau Kalimantan ini. 
Rumah Adat Baloy Mayo, Tarakan
Kami membayar 3.000 perorang untuk masuk kesini, setelah memarkirkan motor, kami berkeliling Komplek Rumah Adat. Komplek rumah adat suku Tidung ini terdiri dari rumah induk, rumah terapung, restoran, satu pondok kecil, satu rumah tinggi, satu rumah souvenir, dan 3 rumah panggung kecil yang sepertinya disiapkan untuk yang mau menginap disini.
Komplek Rumah Adat Baloy Mayo, Tarakan
Saya mengitari komplek sambil mengamati bangunan-bangunan serta mengambil beberapa gambar. Dibagian tengah dekat rumah terapung kita bisa memberi makan ikan yang memang dipelihara di sana. Lalu ada juga tempat penyewaan perahu gohet untuk bermain di kolam buatan yang disediakan. Komplek ini belum selesai sepenuhnya, terlihat masih banyak pembangunan atau perbaikan di sekitaran komplek. Saya terautofocus pada tulisan di bangunan tinggi di atas tempat penyewaan perahu gohet. Memang tiap-tiap bangunan memiliki nama, yang sepertinya diambil dari nama yang ada dikerajaan. Tulisan itu adalah Tarukan, mungkin ini asal mula nama Tarakan, namun setelah saya bertanya pada teman saya ini, dia tidak bisa memberi jawaban, Hmmmm.
Restoran Terapung, Rumah Adat Baloy Mayo, Tarakan
Perjalanan berlanjut di sekitaran komplek, sebenarnya saya ingin masuk ke gedung utama, cuma Sepertinya sedang tutup, dan saya hanya bisa melihat dari luar saja. Gedung utama ini layaknya Balai Pertemuan orang-orang penting, terlihat di dalam ada meja dan kursi yang disusun melingkar, dan di dinding terdapat foto-foto yang saya tebak sebagai foto para Raja atau pemimpin-pemimpin adat disini. Lalu Kami menuju ruang souvenir, yang terletak di sebelah kanan gedung utama. Ruangan ini menjual beragam souvenir khas daerah, juga terdapat batik dengan corak khas Kalimantan, corak batik yang masih menjadi favorit saya. Komplek ini juga terdapat fasilitas toilet dan Mushala. Setelah puas mengitari dan mengambil beberapa gambar, Kamipun melanjutkan perjalanan.

3. Islamic Center Tarakan
Dari wisata budaya, beralih kewisata religi. Perjalanan kami menuju Tarakan Islamic Center. Terletak di jalan Sesayap, Kampung Empat -map-. Dari Rumah adat Baloy ke Islamic Center lumayan jauh, sekitar 15 menit berkendara, melewati sumur-sumur minyak tua, pompa-pompa angguk serta menara-menara pemboran jadoel milik Belanda yang sengaja tidak dibongkar. Saya selalu excited jika melihat peralatan-peralatan industri migas ini, akhirnya saya meminta teman saya untuk berhenti dan mengambil beberapa gambar disini. hhe
Sucker-rod, pompa angguk untuk memproduksi migas.
Masjid Baitul Izzah, itu nama masjid sebagai bangunan utama Tarakan Islamic Center, Masjid berwarna kecoklatan-keemasan ini berdiri megah dan merupakan terbesar di Kaltara. Di samping bangunan utama terdapat gelanggang pemuda, gedung perpustakaan dan dua bangunan putih yang akan difungsikan sebagai museum daerah katanya. Disisi lain juga akan dibangun sara olahraga. Sepertinya akan dijadikan satu komplek besar "peradaban" Tarakan disini, Pendidikan, Religi, dan Olahraga.
Masjid Baitul Izzah, Islamic Center Tarakan
Kami tidak masuk kedalam masjid, mengingat waktu yang terbatas. Kami hanya mengambil gambar dari luar saja. Dari kejauhan saya melihat masjid ini sedikit tak terawat. Dinding-dinding masjid sudah ada yang berlumut, retak, bahkan sudah ada yang roboh, sangat disayangkan bangunan megah ini tak dirawat dengan maksimal, -sama dengan masjid Agung Natuna, kampung saya-. Semoga nantinya akan dikelola secara baik, dan menjadi pusat Islam di Tarakan. Setelah mengambil beberapa gambar perjalanan kami lanjutkan.

4. Situs Bukit Peningki Lama
Perjalanan berikutnya yaitu wisata sejarah, -ini yang paling saya suka-. Terletak di Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur, -map- . Cagar Budaya peninggalan Belanda ini merupakan benteng pertahanan dari serangan musuh, terletak di bukit dan menghadap langsung ke laut bagian barat pulau Tarakan. Posisi strategis untuk menghalau masuknya musuh. Situs ini terdiri dari tiga jenis, beberapa meriam, beberapa bunker, dan gudang logistik.
Situs Bukit Peningki

Saya mendatangi semua tempat tersebut, totalnya ada 3 meriam artileri pantai yang dijejerkan dibarisan depan, lalu ada 4 bunker terletak acak, dan satu gudang logistik dibagian samping. Berada disini, melihat meriam bunker-bunker, seakan membawa saya ke masa perang dulu, apalagi didukung oleh imajinasi akan film-film perang bikinan hollywood itu. 
Peninggalan-peninggalan sejarah di Situs Bukit Peningki

Seakan merasa berada ditengah-tengah medan perang dahsyat. "Melihat" tentara-tentara berjaga-jaga di bunker dengan senjatanya, "mendengar" desingan peluru serta pesawat yang membordardir bumi Tarakan, "merasakan" dahsyatnya bumi Tarakan sebagai saksi bisu bagian dari perang dunia antara Belanda dan Jepang, dua negara Kerajaan adidaya saat itu. Setelah puas jeprat-jepret, kami melanjutkan perjalanan, tujuan berikutnya adalah wisata alam.

5. Pantai Binalatung dan Pantai Amal Lama
Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai, ada 2 pantai yang kami kunjungi, Pantai Binalatung dan Pantai Amal Lama. Pantai Binalatung merupakan pantai yang cukup unik bagi saya, terpisah oleh muara sungai kecil dan harus melewati jembatan untuk sampai kesana. Biaya masuknya 5.000/org. Pantai ini memiliki pair putih dan dihiasi oleh pohon-pohon pinus yang rindang. Cocok sekali untuk liburan keluarga, ditambah lagi adanya penginapan dan penyewaan motor ATV. Kami hanya sebentar berada disini, setelah mengambil beberapa gambar, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Amal Lama. 
Pantai Binalatung
Perjalanan menuju pantai Amal Lama dari Pantai Binalatung lumayan jauh, memakan waktu 10 menit berkendara dengan kecepatan sedang. Pantai Amal Lama tidak seperti Pantai Binalatung, ini lebih seperti muara sungai ditandai dengan pepohonan bakau yang tumbuh di tepian pantai. Ohya, Pantai Amal merupakan singkatan dari Area Militer Angkatan Laut. Karena Tarakan merupakan daerah perbatasan jadi wajar oom-oom AL membuat markas disini. 
Pantai Amal Lama
Di Pantai Amal Lama ini banyak tersedia pondok-pondok tempat beristirahat, juga banyak warung makan yang menjual beberapa makanan dan minuman, kami memilih satu pondok dan memesan air kelapa dan gorengan. Mengobrol santai sambil melepas lelah sembari menikmati alam Tarakan disaat senja. Setelah mengambil beberapa gambar, kemudian kami pulang dan beristirahat. 

Dan besok saya dapat jadwal penerbangan pagi menuju Balikpapan. 
Trims Tarakan, trims KalTara. 
Trims Irul n Josh.

1 comment:

  1. makasih info nya bang..jadi tau KALTARA itu sebutan utk kalimantan Utara :)

    ReplyDelete