Tuesday, December 13, 2016

Museum Lambung Mangkurat, Wisata Sejarah Kalimantan Selatan

Terbangun dari tidur yang tak begitu panjang setelah pulang dari Taman Siring tadi malam. Waktunya pulang kembali ke Tanjung hari ini. Setelah sarapan di alpamaret samping tempat nginap, kami langsung pulang menuju Tanjung. Namun atas saran saya, kami singgah dulu ke museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru yang kebetulan searah jalan pulang ini. Istirahat sebentar sambil mempelajari sejarah Kalimantan Selatan, terutama Kesultanan Banjar.
Gedung Utama Museum
Museum ini merupakan museum umum milik pemerintah Kalimantan Selatan, museum ini terletak di Kota Banjarbaru. Lambung Mangkurat sendiri merupakan nama tokoh yang merupakan cikal bakal Kesultanan Banjar. Museum ini berdiri sudah lama, diresmikan pada tanggal 10 Januari 1979 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr Daoed Yoesoef. Memiliki bangunan seluas 2000 m2 yang dibangun di atas lahan seluas 15.000 m2. Fasilitas gedung tersebut terdiri dari Gedung Induk Pameran Tetap dua lantai, Ruang Pameran Temporer, Kantor dan Rumah Dinas Kepala. 
Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dan Tawing Halat
Kami terlebih dahulu mengisi buku tamu dan membeli tiket masuk seharga 3 ribu rupiah perorang. Saat pertama masuk gerbang. Mata saya sudah langsung terpana akan bentuk museum ini. Bentuk yang khas yang belakangan saya ketahui merupakan bentuk dari rumah adat Banjar yang disebut "Rumah Bubungan Tinggi" namun didesain secara modern, mewah, dan elegan. Ini merupakan bangunan utama museum. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan yang terpisah dengan fungsi dan bentuk bangunan yang berbeda pula, ada Ruang Pameran Temporer dan ruang pameran kain, keramik, lukisan bergaya eropa. Kantor Tata Usaha, ruang Kepala dan Perpustakaan bentuk atap pisang sasikat. Kantor tenaga teknis dan gudang koleksi dengan bangunan atap hidung bapicik.
Koleksi Museum Lambu Mangkurat #1
Ragam Koleksi Museum Lambu Mangkurat #2
Saya masuk ke bangunan utama yang terdiri dari dua lantai, saya masuk ke lantai atas terlebih dahulu. Dimana disana terdapat berbagai macam koleksi mengenai Banjar, foto-foto Banjar tempo doeloe, flora fauna, adat serta sejarah. Ada miniatur rumah tradisional Banjar "Rumah Bubungan Tinggi" yang terletak di aula utama. Dibelakang miniature rumah, terdapat sekat dengan ukiran dan hiasan beberapa pintu yang bernama “Tawing Halat”. Tawing Halat merupakan penyekat antara ruang tamu (paluaran) dan ruang tengah (paledangan) pada rumah tradisional Banjar. Oke, lanjuut. Kemudian ada pameran alat musik dan kesenian tradisional, juga menampilkan beberapa miniatur rumah adat yang lain. Lalu lanjut dengan beragam koleksi-koleksi mengenai adat Banjar, mulai dari permainan tradisional, kerajinan tangan, kegiatan sehari-sehari masyarakat Banjar, senjata tradisional, adat menikah, khitan, hingga persalinan. 
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Masih di lantai 2, di bagian belakang, terdapat sejarah mengenai tokoh Banjar yang termasyhur, seorang ulama terpandang. Beliau bernama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, semoga Allah merahmatinya. Beliau merupakan putra asli Banjar yang banyak berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Ayahnya bernama Abdullah, sejak usia belia, beliau sudah pandai melukis dan fasih membaca quran. Sehingga oleh Sultan Hamidullah, ia dibawa ke Kraton Kesultanan Banjar untuk dididik agama islam serta mendapat “beasiswa” dari kesultanan untuk belajar di Mekkah selama 30 tahun. Usia beliau terbilang cukup panjang dengan umur 102 tahun, dan telah banyak membuat kitab-kitab yang dicetak diberbagai negara, seperti Mekkah, Mesir dan Turki. Luar biasa, Alhamdulillah. Dan, mungkin gambar beliau-beliau ini yang kerap dipasang di rumah makan-rumah makan Banjar, sebagai bentuk penghormatan. link Wallahu a’lam. 
 
Setelah khatam disemua ruangan lantai 2, saya melanjutkan perjalanan ke lantai satu. Ada hal yang tak boleh terlewatkan disini menurut firasat saya, hhe. Di teras lantai satu, tepatnya di bawah tangga, terdapat tulang ikan paus serta miniature candi Borobudur dan Prambanan. Miniatur candi-candi ini kerap kali ditemukan di beberapa museum di Indonesia, seperti ada keterkaitan gitu deh ya. Hmm. Memasuki ruangan di lantai satu terdapat pameran peralatan yang dipakai oleh manusia purba, dan fosil gajah purba. Lalu terdapat foto-foto gubernur Kalimantan Selatan dari periode pertama hingga sekarang, serta lambang seluruh pemerintahan daerah yang ada di Kalimantan Selatan. Selain itu, juga menampilkan pameran di era penjajahan Belanda, terdapat tokoh-tokoh pahlawan, hingga senjata yang digunakan ketika berperang.
Gubernur-Gubernur Kalimantan Selatan
Dari beberapa tokoh tersebut, ada satu nama yang menarik perhatian saya, yaitu Demang Leman, dia merupakan pemimpin perang Banjar yang divonis mati oleh pengadilan militer Belanda. Nama Demang, mengingatkan saya tentang sejarah daerah saya sendiri, di Natuna. Bahwasanya seorang bernama Demang Megat yang merupakan suami dari seorang Putri Kerajaan yang “diasingkan” ke pulau Bunguran. Apa mungkin ada kecocokan? Jangan-jangan sepupuan lagi.. Hmmmm #cocoklogi. 
Tokoh Pejuang Banjar
Lalu yang terakhir yaitu penjelasan singkat mengenai Kerajaan Banjar, mulai dari Lambang, pernak-pernik hingga silsilah Kerajaannya. Saya sangat suka bagian ini. Pertama mengenai Lambang, yang hampir seluruh tulisannya bertuliskan arab, menandakan pengaruh budaya arab sangat kental menghiasi perjalanan bangsa ini, #gakkayaorangorangdimedsosyanggakngertisejarahitu. Makanya agak heran sama mereka yang agak alergi ke-arab-an. Ups. Lalu pernak-pernik kerajaan seperti dokumen, cap, senjata dan lambang kerajaan itu. Juga terdapat silsilah Kerajaan Banjar dari awal hingga berakhirnya tahun 1859. Menurut poster tersebut silsilah kerajaan Banjar erat kaitannya dengan ajaran Hindu/Budha, dari Khayangan dan dilemparkan ke Bumi, hingga akhirnya menjadi kerajaan Islam yang besar seperti yang kita ketahui ini. Dan Lambu Mangkurat yang merupakan cikal kerajaan Banjar ini merupakan putra dari Ampu Jatmika, dan cucu dari Raja Keling. Dari Lambu Mangkurat inilah lahir keturunan yang menjadi raja kerajaan Banjar dari Hindu/Budha hingga Islam yang tercatat dimulai pada tahun 1527 Masehi. 
Kesultanan Banjar
----------------------
Hari sudah mulai siang, sebenarnya masih ada ruangan-ruangan lain yang ingin saya kunjungi. Hanya saja waktu yang tidak memungkinkan dan didukung oleh batre android saya yang sudah memerah. Jadi tour de museumnya kami sudahi saja, dan bergegas untuk pulang ke Tanjung. Beberapa dokumentasi yang ada telah memenuhi rasa pengetahuan saya tentang sejarah Kalimantan Selatan, meskipun tak semua. Alhamdulillah.

#takmerantaukautaktau



Referensi :
http://kerajaanbanjar.com
http://wisatadanbudaya.blogspot.co.id/2009/10/museum-negeri-kalimantan-selatan.html

No comments:

Post a Comment