Saturday, December 17, 2016

Review Film : Headshot!

Satu lagi ni film buatan anak negeri yang membanggakan, pertama liat posternya udah dari bulan oktober lalu, jadi penasaran sama film ini, diposter ditempeli muka Iko Uwais, Julie Estelle dan Chelsea Islan, piker ane bakal seru ya ni film. Dan akhirnya bisa nonton juga pas lagi free gak ada kerjaan kantor : Headshot!!!
Headsho, via http://www.imdb.com

Sinopsis.
Abdi (Iko Uwais) kehilangan ingatan setelah sisi kepalanya ditembak oleh "keluarganya" karena kedapatan berkhianat dengan memberitahu keberadaan "ayah" mereka kepada polisi. Ia hanyut ke pantai dan diselamatkan oleh seorang bapak tua yang kemudian diantar ke RS di daerah tersebut, adalah dokter Ailin (Chelsea Islan) yang merawatnya dalam keadaan koma hingga sadarkan diri. 
 
Masih hidupnya Abdi ini terdengar oleh sang "Ayah" yg sudah bebas (kabur) dari penjara. Kemudian sang Ayah yg dikenal dg nama Lee (Sunny Pang) tsb memerintahkan para "anak-anaknya" utk membunuh Abdi karena pengkhianatannya dulu.

Kilas balik, Abdi, Rika (Julie Estele), Tejo, Besi, dan Tono awalnya adalah korban penculikan anak-anak yang dilakukan oleh Lee. Lee sendiri merupakan sindikat penjahat besar dengan bisnis obat-obatan terlarangnya. Anak-anak yang diculik ini diajarkan untuk bertahan hidup dengan cara apapun, dan mereka dididik untuk menjadi penjahat dibawah asuhan ayah mereka. Abdi yang sadar akhirnya membelot dan menjadi informan polisi untuk menangkap Lee.

Berbagai cara dilakukan oleh saudara-saudara Abdi untuk membunuhnya, termasuk menculik dan menahan Ailin, sehingga Abdi kembali ke sarang nya untuk menjemput Ailin sekalian menghabisi Lee dan para anak asuhnya.
--------------
Pemain-pemain Headshot, via cityonfire.com
 
Film aksi ini disutradarai oleh Mo Brother (Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto), sutradara asli Indonesia. Dan mengambil lokasi syuting di Batam (Kepulauan Riau) dan Jakarta. Film ini dimainkan oleh artis-artis papan atas Indonesia, sebut saja Iko Uwais, nama yang mulai melambung setelah akting suksesnya dalam debut film Merantau (2009), kemudian lanjut pada The Raid 1 dan 2, juga ada Julie Estelle, Chelsea Islan, Zack Lee, David Hendrawan, dan Very Yulisman, serta artis luar negeri Sunny Pang.
Beberapa adegan dalam film, via http://hpu.hiff.org/
Di produksi oleh Screenplay Infinite Films dan diproduseri oleh Shinjiro Nishimura, Mike Wiluan, Wicky V. Olindo, Sukhdev Singh. Film ini mendapat banyak penghargaan, diantaranya Dua buah Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2016 untuk kategori Penata Suara Terbaik dan Visual Sound Efek Terbaik, padahal film ini belum ditayangkan di Indonesia (saat penghargaan ini diberikan). Pernghargaan lain juga didapati dari luar negeri diantaranya di Toronto dan Paris.

Hanya saja ada beberapa adegan yang tak masuk akal (bagi saya) dalam film ini, yang pertama saat diawal-awal adegan tembak menembak antara polisi dan tahanan yang kabur, adegan tembak menembak terjadi di gang sempit disebuah penjara, dalam adegan itu, meski suara tembakan sudah terdengar, namun mereka tetap saja saling maju tanpa terlihat ada yang terkena efek tembakan, terlebih yang berada didepan, rasanya tidak logis aja, jarak sedekat itu, terkena tembakan masih bisa jalan, gak langsung tewas, atau paling tidak jatuh lah, padahal tidak mengenakan rompi peluru. Namun, untuk sekelas film aksi, film ini harus diacungi jempol, kepiawaian Iko Uwais dalam teknik beladiri secara total dikeluarkan dalam film ini, full aksi, hanya diawal-awal saja yang beralur agak selooow. 
Headshot movie, via www.brilio.net
Kualitas gambar juga setara The Raid, dengan kesadisan yang 11:12 lah. Darah, tom tam tom tam bunyi senapan, dan adegan silat sampe patah-patah tulang. Meski diawal kebanyakan penonton beranggapan ini sama seperti The Raid, apalagi banyak alumni The Raid/Berandal yang main lagi di film ini. Namun oleh sang sutradara, hal itu ditepis dengan membuat perbedaan-perbedaan sehingga film ini tak terlihat seperti “The Raid 3”. Perbedaan mencolok adalah dilibatkannya Chelsea Islan. Yap, ini sepertinya merupakan film aksi pertama Chelsea. Jadi, para fansnya, jangan harap, kalau di film ini Chelsea bakal tampil anggun atau berwajah polos tanpa dosa, yang ada malah ia diperlakukan agak kasar, bahkan Chelsea juga membunuh penjahat dengan senapan, ajeeeb. Dan Chelsea memegang peranan penting mengapa film ini harus ditonton hingga selesai. Perbedaan lain yang membuatnya bukan “The Raid banget” adalah alur cerita yang bercampur antara aksi, humor (sedikit) dan romantis. 
 
Dan karena ini film garapan anak negeri, jadi unsur dalam negeri namun yang sudah mendunia tetap dibawa : Pencak Silat. Tidak hanya itu, ada berbagai beladiri di film ini, Kungfu dan Wushu, Street Fighter dan sebagainya yang menjadi satu buah kombinasi luar biasa untuk action laga. Ini satu-satunya film Action Indonesia, Martial Art. So, bagi kamu yang menyukai film aksi, apalagi ini buatan anak negeri sendiri, this movie is worth watching guys. Cintailah film-film Indonesia.


Sumber-sumber :
Liputan6.com/showbiz/
Bintang.com
davincioners.blogspot.co.id
http://raditherapy.com

No comments:

Post a Comment