Tuesday, December 13, 2016

Tulisan Perantau: Banjarmasin, Jelajah Kota Sungai yang Super Kaya

Rumus : kerja sedang standby + temen ngajakin ke Banjarmasin + pake mobilnya temennya temen itu = perfect!

Masih diseputaran Kalimantan Selatan ni, kali ini perjalanannya ke Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimatan Selatan. Perjalananan dari Tanjung ke Banjarmasin normalnya memakan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Namun karena ini bareng temen yang bisa berhenti seenaknya aja, jadi 7 jam deh. Safety first kan. Start dari mess/apartemen saat magrib dan tiba di Banjarmasin jam 1 dinihari. Mencari-cari tempat nginap, akhirnya dapat di hotel Metro, biaya 175rb dengan fasilitas 3 kasur, kipas angin, kamar mandi dalam, free wifi dan sarapan teh n roti paginya. Penginapan yang pas banget untuk traveler ni. Recomended! 
Hotel Metro

Pasar Terapung dan Pulau Kembang
Setelah istirahat sekitar 4 jam, lalu setelah subuh kami langsung berangkat, tujuan pertama dan utamanya kesini adalah ke pasar terapung yang ter-famous itu. Ingat gak (generasi 90an) saat nonton R*TI, ada nenek-nenek diatas perahu sambil milih-milih sayur kalo gak salah, terus kamera makin deket-makin deket tiba-tiba si nenek langsung ngacungin jempolnya tanda semboyan R*TI OKE itu? Nah disini ni tempatnya. Jadi tujuan pribadi saya mau cari itu nenek-nenek, hhe. :D 
R*TI okeeeee, via id.crowdvoice.com
Menuju pasar terapung harus menggunakan perahu klotok, kalau bahasa tempat saya adalah mutur. Tak susah menemukannya karena banyak tersedia perahu klotok di anak-anak sungai disini. Dan kami berhenti di pelabuhan depan sebuah masjid, yang katanya adalah masjid tertua di Banjarmasin ini, Masjid Sultan Suriansyah namanya, mungkin nanti ada bagian khusus untuk membahas masjid ini (mbe ajin nulis pulak). :)



Dermaga Wisata
Setelah menyewa perahu dengan harga 175k, harga paketan, pasar terapung dan pulau Kembang. Kami berangkat menuju pasar terapung itu, dari anak sungai menuju sungai Barito yang mengaliri 2 provinsi di Kalimantan ini membutuhkan waktu 15-20 menit. Perjalanan kami ditemani oleh pemandangan kegiatan-kegiatan pagi masyarakat sekitar yang berumah diatas sungai. 


Hampir semua aktifitas dilakukan disini, mandi, mencuci pakaian, dan lain-lain. Lalu-lalang perahu-perahu kecil menghiasi perjalanan pagi yang cerah ini. Sesekali juga mereka melemparkan tersenyum atau bahkan melambaikan tangan ketika pandangan kami berpas-pasan dengan mereka, #khasIndonesia, #banggaIndonesia. Pemandangan awal yang saya dapati ketika memasuki sungai Barito adalah kapal-kapal tongkang yang mengangkut hasil bumi Borneo yang berasal dari berbagai tempat dan tak tau mau dibawa kemana, mungkin diolah sebelum dijual, atau apalah itu namanya ya. 
Sungai Barito


Setelah berjalan sekitar 20 menitan, perahu klotok kami melambatkan jalannya, lalu disambut dengan perahu-perahu kecil (bahasa daerah saya menyebutkan samban kulek) yang merapat di perahu kami menawarkan jajakannya, ada buah-buahan, sayuran, roti, air minum, sarapan pagi, wade/wadai (sebutan untuk makanan, kalau bahasa Ranai nya adalah "tambul"), kopi, bahkan sate sekalipun. Hmmm sepertinya asyik ya, makan sate di perahu yang dibuat sedemikian rupa seperti kafe terapung kecil dengan ayunan ombak-ombak kecil sungai. 
"kios" wadei (makan-makanan)

"Kios" buah-buah

"kios" buah-buah


Setelah sempat bengong beberapa saat, akhirnya saya sadar bahwa inilah pasar terapung itu. Hahaha. Soalnya dulu saya menganggap, pasarnya berada disatu tempat yang tetap, namun kios-kiosnya diganti oleh perahu-perahu. Hah, ternyata imajinasi saya salah. Awalnya mungkin kegiatan jual-beli ini merupakan kegiatan sehari-hari warga lokal yang memang daerahnya dialiri banyak sungai, namun lambat laun menjadi daya tarik wisata, terbukti ternyata tak hanya kami dipagi itu, ada sekitar 2 - 4 perahu klotok lain yang membawa wisatawan untuk pergi kepasar terapung ini. Yah, sekedar belanja, atau bisa juga hanya untuk update location di path kan.
"kios" souvenir



Kata temen yang membawa kami kesini, jam saat kami pergi ini sudah termasuk siang, jam 6.30 pagi, jadi perahu-perahu penjual pun sudah tidak banyak, waktu ideal ketempat ini adalah setelah subuh katanya. Yah, termasuk telat berarti saya dan kawan-kawan, alhasil nenek-nenek RCTI itu tidak bisa saya jumpa. Ya sudahlah, apa mau dikata. :D

Floating Market

Pasar Terapung

Pulau Kembang
Welcome to Kembang Island
Perjalanan berlanjut ke Pulau Kembang, salah satu dari sekian banyak pulau-pulau yang terbentuk di Sungai Barito ini. Belum juga sampai di pulau ini kami sudah disambut oleh puluhan monyet yang sudah menunggu di dermaga. Dan mereka seperti "senang" kami datang, sehingga ada yang melompat-lompat ke perahu, bagi yang tak biasa, teriak-teriaklah jadinya. Tapi ada acil-acil (sebutan untuk ibu-ibu atau mbak-mbak dalam bahasa Banjar) tourguide di pulau tersebut yang membuat aman.
Dermaga Pulau Kembang

Yang punya pulau ni.


Setelah membeli karcis masuk 7000an perorang, kami memasuki pulau Kembang tersebut, sebuah pulau berisi rawa-rawa yang dihuni oleh ratusan monyet, ini termasuk salah satu wisata mangrove di Banjarmasin, rute jalannya pun tidak panjang, hanya sedikit memutar di tepian pulau. Tidak ada monyet ketika kami masuk ke pulau, setidaknya belum, begitu kata si acil.
Koloni monyet Pulau Kembang
Ada beberapa koloni monyet ditengah-tengah pulau, namun enggan ke tepi, dan yang ini agak liar dan ganas, katanya lagi. Setelah memutar pulau tersebut kami kembali menuju dermaga, istirahat disana, sambil mendengar teriakan-teriakan pengunjung lain yang kaget mendapat "sambutan" para monyet ini. Jika ingin berinteraksi kita bisa membeli makanan dan memberinya, dan juga hati-hati dengan barang bawaan ya.

The Island of Apes, hhe
Hari sudah mulai siang, mataharipun sudah mulai memans, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan sambil memikirkan kegiatan apa selanjutnya. Perahu kami datang menjemput dan mengantar kami kembali ke dermaga pemberangkatan.
Masjid Sultan Suriyansyah
Saat sampai saya kembali kagum dengan masjid Sultan Suriyansyah ini, saya hanya mengambil beberapa gambar, ingin sekali mengetahui sejarah tentang masjid tertua di Banjarmasin ini. Namun waktu juga yang membatasi, akhirnya kami pulang istirahat di penginapan.


No comments:

Post a Comment