Wednesday, March 13, 2013

Asal Mula Keramat Binjai

....KERAMAT BINJAI....
Mendengar kate keramat bikin org yang mempunyai dan suka yang mistis-mistis jadi gimaneeee gitu. hehhehee. Ye... tapi ni lah namenye. KERAMAT BINJAI. untuk org Natuna umumnye, tentu tau lah mende ni. nah lewat tulisan ni. saye nak ceritekan sejarahnye. Maaf nantek kalo salah tulis ye. (maklum agek belaja).. :D


>>>
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Putra Sultan Mahmud Syah yaitu Sultan Allauddin Riayat Syah mendirikan Kerjaan Johor pada tahun 1530-1564 merupakan kelanjutan dari Kerajaan Malaka.

Pada masa pemerintahan beliau menempatkan atau mengangkat Datuk Kaya -Datuk Kaya sebagi wakilnya di Pulau Tujuh, yaitu:
  1. Pulau Jemaja -Datok Amar Lela
  2. Pulau Siantan – Datok Kaya Dewa Perkasa
  3. Pulau Serindit (Pulau Bunguran) – Datuk Kaya Indra Pahlawan
  4. Pulau Sabda (Tambelan) – Datuk Kaya Timbalan Siamah.
Pada masa Pemerintahan Sultan Allauddin Riayat Syah III (1597-1655M) memerintah di Johor, menurut kisahnya Sultan Johor ini mempunyai seorang putri yang bernama Tengku Fatimah yang sejak kecilnya mengidap sakit lumpuh dan tidak dapat berjalan. Oleh karena itu Sultan merasa malu, maka Sultan mengambil keputusan untuk menempatkan Putrinya itu ke Pulau Serindit (Pulau Bunguran atau Natuna).

Dalam perjalanan mengarungi laut para rombongan yang terdiri dari pengawal serta inang dayangnya yang berjumlah 40 orang tersebut sebulat kata untuk menjodohkan sang putri dengan salah seorang dari anggota rombongan tersebut. Maka di dapatlah salah seorang diantara mereka menjadi calon suami bagi sang putri tersebut. Tapi anehnya setelah di jodohkan sang calon suami meninggal seketika. Kemudian dipilih lagi calon yang kedua untuk sang Putri tapi malangnya calon kedua meninggal dunia pula. Karena kemalangan berturut-turut menimpa maka urunglah niat para rombongan itu untuk menjodohkan sang Putri untuk sementara waktu.

Pelayaran di teruskan ke haluan pulau-pulau Siantan  dan mereka mengambil kesempatan untuk beristirahat dipulau tersebut. Setelah selesai selesai beristirahat mereka melanjutkan pelayaran kepulau Serindit (Natuna). Hampir seminggu pula mereka mengarungi laut dan sampailah pulau rombongan tersebut di Tanjung Galing Pulau Sabang Mawang dalam kawasan Serindit (Natuna). Mereka Berhenti beberapa hari dan setelah melihat tempat untuk bermukim kurang memuaskan, mereka meneruskan pelayaran ke Segeram.
Akhirnya rombongan ini terdampar di kukup (pulau pasir) Jalik namanya di Muara Sungai Segeram, dari sini mudiklah penjajap-penjajap itu masuk ke sungai Segeram dan berlabuh dekat suatu perkampungan. Mendengar kedatangan Tengku Fatimah Putir Sultan Johor di Pulau Serindit, maka Datuk Kaya Indra Pahlawan berdatang sembah.

Mengingat kedatangan sang Putri membawa Mahkota Kerajaan yang memerintah dari Sultan Johor maka dengan senang hati Datuk Kaya Indra Pahlawan menyerahkan kekuasaan memerintah di Pulau Serindit kepada sang Putri. Penyerahan itu di terima pula dengan senang hati oleh sang putri serta mengajak warga rakyatnya membangun pemerintahan baru.
Sekitar Tahun 1610 Masehi kedatangan sang Tengku Putri Fatimah di Pulau Serindit menurut ceritanya, di Segeram ada seorang yang di gelari Demang Megat, yang mana asal-usul sebenarnya tidaklah diketahui dengan pasti.

Alkisah selanjutnya menceritakan Demang Megat ini adalah seorang yang hanyut di atas rakit Buluh Betung atau Aur, kemudian rakit itu hanyut dibawa arus dan masuk ke sungai Segeram. Di pinggiran sungai Segeram banyak terdapat batang Laning dan rakit itu sangkut di antara sela-sela kayu tersebut dari situlah Megat merangkak naik ke darat. Dan tak lama kemudian dengan kedatangan ketujuh perahu penjajap dari Johor itu maka bertemulah rombongan Tengku Fatimah dengan Megat di Daerah Segeram itu. Pada pertemuan ini Megat di ajak berbahasa Melayu tetapi ia tidak mengerti bahasa melayu, rupanya Megat hanya bisa berbahasa Siam dan beragama Budha dan kemudian Megat di Islamkan oleh para pengikut sang putri serta di kawinkan dengan Tengku Fatimah dengan tidak ada kemalangan apa-apa.

Dalam upacara perkawinan itu Megat di beri gelar Orang Kaya Serindit Dina Mahkota. Adapun maksud dari kata “Dina” atau Dana berasal dari keadaan Tengku Fatimah sendiri yang merasa dirinya “hina dina” papa kedana karena cacat lumpuh serta dibuang oleh ayahandanya Sultan ke suatu negeri yang jauh di bekali sebuah Mahkota Kerajaan.

Disamping acara perkawinan itu di adakan pula acara penurunan adat kawin raja dari adat 400 menjadi adat 120 serta lilin 8 (delapan) menjadi lilin 7 (tujuh) untuk kedaulatan Serindit atau Bunguran.

Maka sekitar tahun 1610 Masehi sejak kedatangan Tengku Fatimah ke pulau Serindit dan setelah Megat bergelar Orang Kaya Serindit Dina Mahkota mulailah Pulau Serindit memiliki pemerintahan sendiri, sejenis Daerah Otonom dari Kerajaan Johor atas kuasa Tengku Fatimah yang berpusat di Segeram.

Megat memerintahkan rakyatnya membuat sebuah mahligai tempat bersemayam Tengku Fatimah. Mahligai di buat dari bahan kayu Bungur, maka dari nama Kayu Bungur inilah Pulau Serindit bertukar menjadi Pulau Bunguran.

Setelah perkawinan berumur enam bulan Tengku Fatimah hamil, Megat mengutarakan keinginannya pada Tengku Fatimah bahwa beliau ingin bersemedi atau bertapa kesuatu tempat untuk mensucikan diri, ternyata keinginan tersebut dikabulkan oleh Tengku Fatimah meskipun dengan perasaan hati yang sangat berat sekali.  

Maka pergilah Megat dengan melayari sebuah penjajap kearah Timur melewati sungai Binjai dan akhirnya Megat berhenti singgah di pulau kecil batu pasir berbukit untuk tempat persemediannya. Ditempat persemedian atau pertapaan inilah megat menghilang dan di pulau itu tiba-tiba terdapat sebuah kuburan yang dianggap keramat oleh anak negeri Pulau Bunguran. Kuburan atau makam ini lebih di kenal dengan Nama Keramat Binjai atau Keramat Datuk Bungur yang sampai sekarang masih tetap dikunjungi oleh para peziarah.
Sedangkan penjajap dan anak buahnya yang diperintahkan berlabuh di sebuah anak sungai  (sekitar Tanjung Katung) tak pernah mau kembali lagi ke Segeram dan menetap di Binjai sebagai asal usul orang Binjai.



sumber : natuna.org

No comments:

Post a Comment