Wednesday, March 13, 2013

Natuna sebelum Kemerdekaan (part I)

Sejak Pemerintahan Kolonial Belanda berkuasa di seluruh penjuru tanah air, para petinggi kolonial yang di tempati di daerah-daerah tertentu umumnya orang-orang yang berpendidikan tinggi, sekurang-kurangnya berasal dari militer dan lihai menerapkan sistem kolonialnya. Mereka-mereka ini diangkat sebagai pegawai pemerintah seperti Resident, Kontelir dan Asisten Resident termasuk juga Aspiran kantor Kontelir. Disamping ilmu pemerintahan yang mereka miliki di bidang yang lain mereka kuasai seperti : ahli pertanian (land ‘bouw), ilmu suku bangsa dan kebudayaan (etnologi), antroplogi (ilmu manusia serta adat istiadatnya). Yang pernah meneliti tentang adat-istiadat Pulau Tujuh (Kabupaten Natuna) yaitu “Van de Tillaard” bekas Posthouder Pulau Tujuh tahun 1913.

Dibidang etnologi mereka dapat menguasai orang-orang tempatan agar mudah berunding dan di ajak kerjasama. Dan di bidang Pertanian (land ‘bouw), mereka sangat berminat karena Indonesia memiliki tanah yang sangat subur dan dapat di tanam apa saja untuk keperluan negeri Belanda.

Kepulauan Natuna sejak di berlakukan Stbld. 1911 No 599 terdiri dari Kepulauan Anambas, Kepulauan Natuna Utara, Kepulauan Natuna Selatan, Sedangkan Kepulauan Tembelan masuk wilyah Tanjung Pinang. Oleh karena wilayah Pulau Tujuh waktu itu masih termasuk Kerajaan Riau Lingga, maka di wilayah Pulau Tujuh di tempati seorang “Amir” (Camat) oleh Sultan untuk mendampingi para Datok-datok (Datok Kaya) selaku tokong Pulau (Penguasa Pulau) yang terdiri dari 7 (tujuh) orang Datok (Lihat sejarah perjalanan Raja Ali Kelana ke Pulau Tujuh tahun 1896), yaitu : Datok Kaya Jemaja, Datok Kaya Siantan. Datok Kaya Tambelan, Datok Kaya Serasan. Datok Kaya Pulau Subi, Datok Kaya Pulau Laut, Datok Kaya Bungguran Barat, Datok Kaya Bunguran Timur. Dan ketujuh Datok Kaya ini langsung sebagai Pemegang Adat dan Kepala Adat setempat yang mengatur sistem pemerintahan tradisional (lihat Hukum Adat Wilayah Pulau Tujuh karangan Van de Tilaard 1913). Seorang Amir yang di tempati atau diangkat oleh Sultan atas persetujuan Residen Riau, adalah sebagai pejabat yang membantu Kontelir dan segala laporan tentang keadaan wilayah kerjanya harus melapor ke Terempa (sekarang Kabupaten Anambas) tempat kedudukan Kontelir pertama adalah di Tanjung Belitung dan pada tahun 1906 pindah di Sedanau dengan memindahkan seperangkat Rumah dan Kantor Kontelir.

sumber : natuna.org

baca part II, klik disini

No comments:

Post a Comment