Monday, September 22, 2025

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari sejarah kelahirannyamomen ekspansinyagerakan era modernnya, hingga awal masuknya ke Indonesia.

Pada bagian kelima ini, izinkan saya membawa cerita ini pulang ke rumah. Sebuah cerita bagaimana pickleball pertama kali meng"tiktok"kan bunyinya di Natuna.
Cerita ini bermula dari sebuah rasa penasaran.
Ada saat-saat di mana rasa penasaran membawa kita jauh lebih jauh dari yang pernah kita bayangkan. Bagi saya, seorang atlet tenis yang gemar membagikan pemikiran di dunia maya, semuanya berawal dari satu frasa yang saya jadikan judul artikel di blog ini dua tahun lalu: "Kenalan Dengan Saudara-saudara Tenis Lapangan".

Judul itu lahir bukan tanpa alasan. Saat membuka YouTube, entah dari algoritma mana, berbagai olahraga dengan raket terus bermunculan di beranda akun YouTube saya. Fenomena kecil di layar gawai itu mengilhami saya untuk menulis artikel baru, sekadar memberi nafas pada blog pribadi saya yang saat itu statusnya "hidup segan mati tak mau".

Ketika menelusuri mesin pencari di internet, monitor menampilkan jajaran olahraga raket. Beberapa sudah sangat familiar seperti badminton, squash, pingpong, hingga soft tennis. Namun, ada dua nama asing yang menyita perhatian saya: padel dan pickleball.

Entah mengapa, mata dan pikiran saya tertambat erat pada pickleball. Olahraga gabungan tenis, badminton, dan pingpong ini punya daya tarik magnetis yang sulit dijelaskan. Rasa penasaran itu pun bereskalasi menjadi aksi nyata.

Langkah awal saya cukup nekat. Setelah sempat sounding tipis-tipis ke beberapa teman tentang olahraga ini, saya memberanikan diri memesan sebuah paddle di e-commerce. Setelah menunggu beberapa waktu, bulan maret 2023 paddle pertama akhirnya sampai di tangan, namun masalah baru muncul: saya belum punya partner bermain di Natuna. Akhirnya niat untuk mengenalkan pickleball di Natuna "terkubur" sementara.
Paddle pertama, awal 2023

Namun semangat saya tidak berhenti di situ, saya mulai mencari tahu siapa pemegang kendali olahraga ini di Indonesia. Saya surfing di berbagai platform media sosial, baik instagram maupun facebook dengan keyword yang tak jauh-juah dari "Pickleball Indonesia". Pencarian itu membawakan saya kepada Cak Sus, Sekretaris Jenderal PB IPF (Pengurus Besar Indonesia Pickleball Federation) yang sudah terbentuk pada tahun 2020. Dari beliau, rantai komunikasi tersambung ke Pak Yaman, Ketua Pengurus Provinsi IPF Kepulauan Riau (kepengurusannya sudah ada sejak tahun 2022) yang berdomisili di Batam. Dari facebook, saya juga dapat beberapa kontak penjual peralatan pickleball.

Saat dihubungi, sambutan Pak Yaman sangat hangat. Tak berselang lama, pada bulan mei 2023 saat mendapat kesempatan berkunjung ke Batam, saya tidak membuang peluang untuk menjajal permainan ini di markas beliau. Paddle yang saya beli di e-commerce dulu sengaja saya bawa dengan bangga. Namun, begitu tiba di sana, paddle itu langsung "ditolak" halus karena ternyata belum memenuhi standar resmi. Pak Yaman dan tim akhirnya meminjamkan paddle standar untuk saya gunakan.
Bersama Ketua Pengprov IPF Kepri, pak Yaman (kaus biru)

Saat pertama kali mengayunkan paddle di lapangan Batam, rasanya begitu adiktif. Dengan basic tenis lapangan, saya tidak membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan cabor baru ini. Begitu paddle memukul bola plastik berlubang itu untuk pertama kali, serta bunyi tiktok-nya begitu candu terdengar, sebuah keyakinan yang haqul yaqin muncul di kepala saya: Olahraga ini harus sampai ke tanah Natuna.

Memburu Para "Orang Gila Olahraga"

Pulang ke Natuna, saya membawa misi besar. Namun, mendatangkan cabang olahraga baru ke sebuah pulau terdepan ini tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya sambil sounding olahraga ini ke beberapa kawan. Hingga akhirnya saya sadar, saya butuh kawan-kawan yang sebulu (sefrekwensi), orang-orang yang punya "kegilaan" serupa terhadap olahraga. 

Target "gerilya" pertama saya adalah Mas Andi, seorang sport enthusiast yang suka mencoba hal baru. Target kedua adalah Eby, seorang guru olahraga yang juga atlet pingpong daerah dengan banyak prestasi. Ketika saya menyodorkan konsep pickleball ini pada januari 2024, respons mereka di luar dugaan: sangat hangat dan penuh antusias. Tanpa ragu, kami sepakat membuat janji untuk menggelar sesi permainan perdana. Setelah sebelumnya saya kembali membeli padle dari kenalan yang saya dapat kontaknya dari facebook.
Namun, mengawalinya ternyata tidak semulus yang kami bayangkan.
Bukti "gerilya" di media sosial

Dari Penolakan hingga Magnet Pantai Piwang

Pada hari pertama eksekusi, 28 januari 2024, kami mendatangi GOR yang terletak di pusat kota. Sayangnya, langkah kami terhenti. Penjaga GOR tersebut belum bisa memberikan izin untuk olahraga asing yang bentuknya saja belum pernah ia lihat. Penolakan kecil yang sempat memercikkan rasa kecewa.

Tak hilang akal, Eby segera mengontak pemilik GOR Gemilang. Sebuah gedung olahraga yang biasa digunakan untuk bermain badminton, pingpong dan futsal. Gedung utamanya teridiri dari dua lapangan badminton. Berkat negosiasi cepat dan izin yang diberikan sang owner, di sinilah sejarah kecil itu resmi terukir: "tiktok" pickleball pertama bergema di tanah Natuna.
Bersama Mas Andi (kaos merah), Eby (kaos putih), dan Iwan (jersey hitam kuning yang kala itu bermain badminton)

Saat mencoba permainan, beberapa orang yang sedang bermain badminton di lapangan sebelah merasa penasaran, dan akhirnya ikut bermain bersama. Saat itu, kami belum memahami aturan, hanya dengan modal nekat: "tiktok"-an saja dulu pickleball di sini. Mengenai aturan permainan akan kita cari tahu nanti. Tak lama setelah itu, Klub Pickleball pertama Natuna terbentuk dengan nama Balubuong Natuna Pickleball Club.
Balubuong berarti bola berlubang yang merupakan ciri khas bola pickleball.
Kami juga mulai mempromosikan permainan ini lewat media sosial dan jejaring yang kami miliki masing-masing. Hingga saat mabar (main bareng) berikutnya, beberapa wajah baru mulai terlihat.
Suasana mabar perdana

Meski sudah punya tempat untuk mabar, kami sadar jika hanya mengurung diri di dalam GOR tertutup, pickleball tidak akan pernah dikenal masyarakat luas. Kami butuh panggung yang bisa dilihat semua orang. Maka, sebuah keputusan diambil: Kami mengubah lokasi mabar ke Lapangan Takraw alun-alun Pantai Piwang.

Setiap akhir pekan, Pantai Piwang adalah jantung keramaian publik di pulau Bunguran ini. Tempat ini menjadi lokasi ideal untuk menjalankan strategi "pemasaran gerilya" kami. Benar saja, bunyi khas paddle yang menghantam bola plastik menarik rasa penasaran warga. Dari satu-dua orang yang awalnya menonton dengan dahi berkerut, perlahan memberanikan diri untuk memegang paddle dan mencoba hingga beurujung menjadi atlet pickleball amatir. 
Dalam hitungan minggu, lapangan kecil kami di Pantai Piwang resmi menjelma menjadi titik kumpul (hub) baru.
Main perdana di pantai piwang, dan logo Balubuong Natuna PC


Dari Hobi Menjadi Warisan Resmi: Membentang ke Pulau Sedanau dan GeoDink

Apa yang dimulai dari ketikan iseng di Google kini berbuah manis. Komunitas kecil yang berawal dari tiga orang ini tumbuh masif hingga secara resmi terbentuk Pengurus Kabupaten Indonesia Pickleball Federation (Pengkab IPF) Natuna pada juni 2024 melalui SK Ketua Pengprov IPF Kepri. Hal ini menjadikan Natuna sebagai daerah pertama di Kepri yang memiliki organisasi pickleball resmi.

Komitmen kami tidak berhenti pada euforia bermain semata. Keseriusan kami untuk mengembangkan pickleball juga ditunjukkan oleh Mas Andi. November tahun 2024, ia terbang ke Jakarta untuk mengambil Lisensi Pelatih Nasional. Langkah berani itu mencatatkan sejarah baru: Mas Andi resmi menjadi Pelatih Pickleball Berlisensi Nasional pertama dan satu-satunya di Kepulauan Riau.
Mas Andi (baju biru) mengikuti Pelatihan Pelatih Nasional Pickleball di Jakarta

Sejak awal terbentuk hingga saat ini, gema bunyi "tik-tok" bola pickleball terus terdengar di Pulau Bunguran. Sosialisasi olahraga baru ini pun gencar dilakukan di sekolah-sekolah di sekitar pulau Bunguran. SMANSa Pickleball Club merupakan klub pickleball pertama yang terbentuk dari kalangan pelajar. Gerakan sosialisasi ini bahkan telah menyeberang lautan hingga ke Pulau Sedanau. Komunitas Balubuong Pickleball Club bersama Pengkab IPF Natuna rutin menggelar turnamen internal maupun fun game untuk terus mengasah kemampuan para pemain.

Dan bulan depan, kami bersiap melangkah ke panggung yang lebih besar: GeoDink 2025, Open Tournament Pickleball pertama skala kabupaten di Natuna.
join us!

Dari sebuah ide iseng, perburuan rekan sebulu, penolakan di pintu GOR, riuh tawa di Pantai Piwang, hingga penyeberangan ke pulau tetangga, Pickleball kini bukan lagi olahraga asing di Natuna. Ia telah menemukan rumahnya. Dan kami, baru saja memulai perjalanannya!

No comments:

Post a Comment

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...