Tuesday, May 29, 2012

Senua, Pulau Eksotik di Natuna

Pulau Senua, ia adalah salah satu pulau yang ada di Kecamatan Bunguran Timur. Terletak di sebelah timur pulau Bunguran. Pulau ini memiliki bentuk yang khas, seperti orang hamil kalau kita lihat dari Desa Teluk Baruk. (ceritanya nanti lah ya). 

Beberapa orang menyebut Pulau Senua ini
sebagai "bidadari yang tertidur". Perjalan ke Pulau ini bisa dilakukan dari pelabuhan Teluk Baruk. Kita membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dengan menggunakan perahu mesin untuk sampai kesana. Dalam perjalanan ke Pulau Senua, kite bisa nikmati pemandangan yang luar biasa sebelum sampai ke tujuan. Bila sudah dekat sampai ke pulau, akan tampak air laut yang sangat jernih, sehingga batu karang di dasar laut dengan kedalaman 3 sampai 5 meterpun masih bisa terlihat.
Pulau Senua dari Batu Sindu, Senubing


Bukit Senubing terlihat dari laut saat perjalanan menuju Pulau Senua.

Pulau Senua dari Kejauhan

Sudah hampir sampai

Karang-karang sudah terlihat 10 menit sebelum sampai.
nah yang ini pemandangan Gunung Ranai dari pulau Senua..... :D


Pantai di Pulau Senua
Owya ada yang unik di sini. Bentuk pulaunya kan seperti orang hamil, jadi  kita menyebut nama-nama tempat di sekitaran pulau ini seperti nama anggota badan gitu. Ada perut, kaki, kepala, bahkan telinga. hehheee

Di bagian telinga terdapat sarang burung walet yang terkenal banyak khasiat. Air laut di sekitar sini juga sangat jernih dan terlihat tenang. Terlihat hingga dasar-dasarnya. Bagi yang menyenangi snorkling atau diving. Di sini merupakan tempat yang pas untuk aktivitas tersebut. Yuk dicoba.



lah ok ye.. makin lame makin laen alo e..
andek ite lanjut lak... :D

Friday, May 25, 2012

Lirik Lagu LEGENDA SINDU

Sindu namenye ade di natuna.
Senubing kote awal mulenye.
terukir pule jadi cerite.
di kias jadi suatu legende.

berkisah crite Bujang dan Dare.
berpadu kaseh seakan ese.
restu dinanti tak kunjung tibe.
terlerai kaseh hampe di dade.


Reff:
Pilu di hati merasuk jiwe.
sembilu menyayat membelah due.
tak kuase diri berbuat murke.
tertulis sudah wasiat Bujang Dare.

ini legenda hai Batu Sindu.
tertoreh di hati anak Melayu.
kisahnye terus jadi tauladan.
buruk baeknye jadi acuan.

Tanjung Samak tak jauh bersulang.
lautnye dalam bercurah pantai.
kate orang tue jangan di tentang.
balak di jauh petuah dipegang.

Pulau Sahi memanjang Kaku.
Pantai Tanjung bak betatap muke.
berkaseh baek berperilaku.
serahkan diri pade Yang Kuase.

Batu Sindu

Ini merupakan lirik Lagu Legenda Sindu yang dinyanyikan oleh pak Erson Gempa S.Sos. yang tergabung dalam album Dendang Melayu Natuna yang diluncurkan beberapa tahun silam. Dapatkan VCD nya, mungkin di kantor Dinas Pariwisata ya.
hehheheeee

Thursday, May 24, 2012

Batu Sindu, Wisata Alam Andalan di Natuna

Sindu, untuk sebagian masyarakat Ranai (apa lagi anak gaulnya), tempat ini bukan hal yang asing lagi. Sebuah tempat yang indah untuk melepas kepenatan, menghilangkan segala kecamuk dalam fikiran, seakan menyatu dengan alam.

Yap... Bukit Sindu / Batu Sindu, merupakan tempat yang terletak sekitar 2 km dari pusat kota Ranai. Kalau kita hendak pergi ke Pantai Teluk Selahang, sampai di Bukit Senubing ada jalan masuk kekanan arah ke mercu suar, masuk dan ikuti jalan itu. Agak sulit memang untuk sampai ke sana, dengan jalanan yang menanjak dan berliku, bisa dilalui oleh roda 2 dan roda 4. Tapi setelah sampai di lokasi, itu semua akan terbayar oleh indahnya pemandangan alam yang ada di sana. 💗

Batu Sindu merupakan sebuah semenanjung dengan hamparan bebatuan granit yang besar. Ingat artikel saya tentang Pulau Tiga yang menyebutkan Setekul sebagai salah satu bebatuan pemecah ombak? Nah Batu Sindu merupakan salah satu bebatuan pemecah ombak di Pulau Bunguran sebelah timur. 

"Komplek" bebatuan di Batu Sindu ini makin indah jika dilihat dari bukit Senubing. Birunya Laut Cina Selatan, batu-batu yang seakan tersusun serta dengan sedikit tambahan eloknya Pulau Senoa menjadikan tempat ini merupakan satu dari sekian banyak tempat indah yang ada di Natuna.

Banyak orang yang datang ke sini hanya untuk bersantai bersama keluarga, teman, dan handai taulan. Melepas penat sambil melihat keindahan alam Batu Sindu ini. Dan tak lupa, potopoto tentunya.

aok lah. song ite nong gembo e.
CEKIDOT............

 Batu Sindu






Sesekali kalau kaki kuat, coba untuk turun ke bawah, pemandangan yang lebih alami ditemani dengan deburan ombak yang menghempas pantai dan batu-batu menambah kealamian tempat yang romantis ini.




Sip, itu dulu yang bisa saya bagikan.
Next akan ditambah lagi ya.

Thursday, March 15, 2012

Tentang Penduduk Natuna

Wilayah Natuna yang menurut sejarah merupakan bagian dari wilayah kerjaan Riau Lingga dihuni oleh masyarakat yang sebagian besar bersuku Melayu dan beragama islam. Ini merupakan suku dan agama mayoritas di Natuna. Selain Melayu, ada juga suku Minang dan Tionghoa yang mendiami wilayah Natuna sejak lama. Program pemerintah bernama transmigrasi era Soeharto dulu juga membuat daerah Natuna mulai dihuni oleh berbagai macam suku pendatang, seperti Lampung dan Jawa. Suku Batak juga ada terdapat di Natuna. Kesemuanya hidup rukun berdampingan.

Selain islam, penduduk Natuna juga memiliki kepercayaan Kristen dan Konghucu. Penduduk beragama Kristen berasal dari pendatang yang kebanyakan dari Jawa dan Batak. Terdapat beberapa gereja di Kecamatan Bunguran Timur dan Bunguran Tengah. Sedangkan Konghucu merupakan kepercayaan masyarakat Natuna yang bersuku Tionghoa. Kelenteng yang merupakan tempat ibadahnya terdapat di beberapa tempat yang tersebar di Natuna, seperti di Penagi (Bunguran Timur), Sedanau (Bunguran Barat), Kedai (Midai), dan lain-lain.

Jumlah penduduk Kabupaten Natuna pada sensus yang diadakan tahun 2010 ini tercatat 69.319 jiwa.  Kecamatan Bunguran Timur tercatat sebagai daerah terpadat dengan 23.230 jiwa dan Kecamatan Pulau Laut jadi daerah berpenduduk paling sedikit yakni 2.200 jiwa.

Sedangkan perbandingan laki-laki dan perempuan sebesar 107.05. Artinya laki-laki lebih banyak 7,05 persen dari perempuan. Secara nominal, laki-laki 35.780 orang dan perempuan 33.449 orang.

"Melihat grafik pertumbuhan penduduk di Natuna dalam kurun sepuluh tahun terakhir, penduduk tumbuh 2,79 persen," kata Kepala BPS Natuna Erida Gustety.

Penduduk Natuna, via antarakepri.com
Angka pertumbuhan sebesar 2,79 persen ini kata Erida, tergolong cukup tinggi. Meskipun dibanding daerah lain di Kepri, pertumbuhan penduduk untuk Natuna masih kecil. Sedangkan rata-rata pertumbuhan penduduk di Kepulauan Riau mencapai 5,03 persen.

"Sedangkan untuk rata-rata anggota rumah tangga adalah 17.961 rumah tangga dibagi jumlah penduduk 69.319 jiwa. Berarti banyaknya jiwa dalam satu rumah tangga secara rata-rata sebanyak 3,86 orang. Rata-rata anggota rumah tangga di setiap kecamatan berkisar antara 3,55 orang sampai dengan 4,22 orang, dan tertinggi di Kecamatan Pulau Laut yakni 4,22 orang," terangnya.

Dikatakan, secara berurutan, Kecamatan Bunguran Barat, menjadi daerah terpadat kedua setelah Bunguran Timur yakni 10.827 jiwa. Kemudian disusul dengan Midai, 5.015 jiwa, Pulau Tiga 4.822 jiwa, Serasan 4.458 jiwa, Bunguran Timur Laut 4.296 jiwa, Bunguran Utara 3.807 jiwa, Bunguran Tengah 2.830 jiwa, Serasan Timur 2.723 jiwa, Subi 2.576 dan Kecamatan Bunguran Selatan 2.535"

"Pertumbuhan penduduk di Natuna saat ini karena didukung oleh arus migrasi. Sekarang banyak penduduk yang masuk. Karena ada transportasi laut dan udara yang cukup mendukung, sehingga memudahkan arus keluar masuk barang dan juga mobilitas penduduk,"

Sedangkan Kecamatan Serasan dan Serasan Timur mengalami pertumbuhan penduduk yang terendah yakni -1,19 persen dan -0,08 persen. Pertumbuhan ini lanjut Tety, tergolong sangat rendah, dimana disebabkan banyaknya migrasi keluar untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi atau pun migrasi untuk bekerja.

sumber : Sijori Mandiri

Wednesday, March 14, 2012

Berbagai Potensi yang Terdapat di Natuna

Selain letaknya yang strategis, kawasan Kabupaten Natuna  pada hakikatnya dikaruniai serangkaian potensi sumber daya alam yang belum dikelola secara maksimal, bahkan ada yang belum dikelola sama sekali, yaitu:
1. Sumber daya perikanan dan laut yang mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun dengan total pemanfaatan hanya 36%, yang hanya sekitar 4,3% oleh Kabupaten Natuna. 
Wilayah Natuna yang sebagaian besar merupakan perairan merupakan surga bagi potensi laut. Bahkan dalam beberarapa tahun terakhir, TNI AL sering menangkap kapal-kapal nelayan asing yang mengambil hasil laut Natuna, ini membuktikan bahwa kekayaan laut Natuna sudah diakui oleh negara asing. 
Terdapat beragam jenis biota laut yang ada di Natuna, dan diantaranya memiliki nilai jual tinggi. Salah satunya adalah ikan kerapu. Bahkan diketahui, para pengusaha ikan di Natuna memasarkan ikan ini hingga ke Hongkong.

2. Pertanian & perkebunan seperti ubi-ubian, kelapa, karet, sawit dan cengkeh.
Potensi perkebunan untuk Natuna bisa dibilang besar. Vegetasi di Natuna banyak ditumbuhi oleh pepohonan kelapa dan cengkeh. Di beberapa tempat, masyarakat Natuna juga mengembangkan perkebunan karet dan sawit.
Potensi kelapa dan cengkeh di Natuna sudah terkenal sejak jaman dahulu. Ini yang dimanfaatkan oleh para pendiri Ahmadi & Co, sebuah perusahaan perdagangan dengan komoditi utamanya adalah cengkeh dan kopra. Ahmadi dan Co merupakan salah satu syirkah (perusahaan) tertua yang dimiliki Natuna. Berpusat di Pulau Midai dan memiliki cabang di Singapura. Menurut sejarah, Ahmadi & Co ini pula yang menjadi inspirasi tercetus ide Koperasi ole bapak Koperasi kita, Bung Hatta.

3. Objek wisata: bahari (pantai, pulau), gunung, air terjun, gua dan budaya.
Letak di perbatasan Indonesia juga tak menghalangi Natuna untuk memiliki ragam potensi wisata yang unik. Berada di tengah-tengah lautan China Selatan menjadikan Natuna memiliki keindahan alam yang luar biasa. Ini yang membuat Natuna memiliki potensi wisata yang bagus. Sebagai daerah Kepulauan, wisata bahari merupakan wisata unggulan daerah Natuna, ada banyak pantai yang tersebar di seluruh pulau, ada juga gunung dan air terjunnya, pulau-pulau dengan wisata lautnya. Serta budaya yang dimiliki oleh masyarakat Natuna merupakan potensi besar yang dimiliki oleh Kabupaten Natuna itu sendiri.
 
4. Ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km di sebelah utara Pulau Natuna (di ZEEI).
Ladang gas yang terletak di laut perbatasan ini merupakan potensi terbesar yang dimiliki oleh Natuna. Dengan total cadangan 222 trillion cubic feet (TCT) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCT, ini menjadikannya sebagai salah satu sumber daya alam terbesar di Asia, bahkan di dunia. Laut Natuna dikaruniakan limpahan cadangan minyak dan gas yang besar. Di beberapa tempat di laut Natuna, sudah dilakukan operasi pemboran dengan membangun platform-platform minyak, sebut saja Conoco Philip, Star Energy, dan Primer Oil yang sudah beroperasi puluhan tahun lamanya. Di beberapa tempat lain baru akan dilakukan eksplorasi untuk menemukan potensi-potensi migas terbaru.
Lokasi Ladang Gas di Natuna, via batamtoday.com
Dari potensi-potensi ini sudah jelas, bahwa Natuna merupakan daerah perbatasan yang harus diperhatikan karena memiliki potensi-potensi yang luar biasa besar. Semoga saja potensi-potensi ini dapat diolah dengan maksimal dengan tenaga lokal sebagai pengelolanya.


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Natuna

Tuesday, November 8, 2011

Natuna Secara Topografi, Iklim, dan Cuaca serta Geografis

Topografi 
Secara ilmiah (menurut wikipedia) memiliki arti studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami, dan asteroid. Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal (Ilmu Pengetahuan Sosial). Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi jenis lahan. Penggunaan kata topografi berawal dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat, dan graphia yang berarti tulisan. Objek dari topografi adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian. Mengidentifikasi jenis lahan juga termasuk bagian dari objek studi ini. Studi topografi dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya perencanaan militer dan eksplorasi geologi. Juga digunakan untuk kebutuhan konstruksi sipil, pekerjaan umum dan proyek reklamasi membutuhkan studi topografi yang lebih detail. 
Berdasarkan kondisi topografinya, Kabupaten Natuna merupakan tanah berbukit dan bergunung batu. Dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai. Daerah berbukit-bukit bisa ditemukan di hampir tiap pulau-pulau yang ada di Natuna. Titik tertinggi di Natuna adalah puncak Gunung Ranai yang ada di Kecamatan Bungruan Timur (1.035 mdpl). Sementara gunung yang lain terdapat di Pulau Serasan. Pulau Midai memiliki topografi berbukit dan berpantai landai. Pulau Sedanau juga memiliki topografi berbukit-bukit. Daerah Natuna memiliki vegetasi berupa pepohonan kelapa di daerah tepian pantai, tanaman mangrove di daerah muara sungai, serta batang pohon belian (pohon besar) yang banyak dijumpai di daerah dataran tinggi di Natuna.
Bukit Batu, di Setengar.
Ketinggian wilayah antara kecamatan cukup beragam, yaitu berkisar antara 3 sampai dengan 1.035 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 2 sampai 5 meter. Pada umumnya struktur tanah terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan yang tanah dasarnya mempunyai bahan granit, dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus.
Bebatuan Granit di Batu Sindu


Iklim dan Cuaca
Iklim dan cuaca di Kabupaten Natuna sangat dipengaruhi oleh perubahan arah angin. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli, ketika angin bertiup dari arah utara. Curah hujan rata-rata berkisar 137,6 milimeter dengan rata-rata kelembaban udara sekitar 83,17 persen dan temperatur berkisar 27,10 celcius. Sedangkan musim hujan terjadi pada bulan September – Februari, ketika angin bertiup dari arah timur dan selatan. Curah Hujan rata-rata pertahun berkisar ± 1.726,3 mm dengan kelembapan udara sekitar 82% dan temperatur berkisar 27,5º C.
Cuaca mendung, via areakepri.com
Tapi belum lama ini iklim dan cuaca di Natuna agak sedikit berubah dan terkesan tak menentu. ini mungkin di karenakan efek dari Global Warming.

Geografis

1.Wilayah Perairan dan Pesisir.
Secara teritorial, sejauh 12 mil laut dari garis pangkal pantai terluar dianggap sebagai wilayah Kabupaten Natuna (Indonesia), artinya kapal asing mempunyai hak untuk lewat dengan aman dalam perairan ini dengan dibatasi oleh alur lintas lautan yang sudah ditetapkan sebagai SLOC 1 (Sea Lane of Communication). Sedangkan berdasarkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ditetapkan jarak maksimum 200 mil laut dari garis pangkal pantai terluar, di dalamnya Indonesia mempunyai kekuasaan hukum terhadap eksploitasi dan pengawasan lingkungan sumber daya laut yang ada.

2. Wilayah Daratan.
Berdasarkan Peta geologi bersistem Indonesia, kondisi geologi Kabupaten Natuna terdiri dari Pulau-pulau yang dikelilingi oleh terumbu karang (coral reef) dan tersusun dari endapan permukaan batuan sedimen. Secara Umum kondisi geologi Kabupaten Natuna terdiri dari formasi-formasi aluvial, batuan granit, mafik dan ultramafik, diorit, andesit, rajang dan bijang, endapan pantai, batuan plutonik dan vulkanik. Sedangkan berdasarkan Tofografi Kabupaten Natuna terdiri dari tanah berbukit dan gunung batu. Puncak tertinggi di Gugusan Kepulauan Natuna adalah Gunung Ranai (1.035 mdpl). Dataran rendah dan landai pada umumnya terdapat dipinggiran pantai. Kondisi Tanah secara umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tanah mineral dan organik. Tingkat Kesuburan Tanahnya Berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Tanah (PPT) tergolong rendah hingga sedang.

3. Hidrologi.
Keberadaan hidrologi di Kabupaten Natuna dapat di lihat dari 2 hal, yaitu : air permukaan dan air Tanah. Air permukaan yang terdapat di wilayah Kabupaten Natuna berupa sungai-sungai dan air terjun. Di gugusan kepulauan Natuna umumnya terletak di sekitar gunung Ranai, seperti sungai Ranai, Ngusang, Sarang Batunagis, Batu Kilang, Jemengan, Siman dan Senipak. Kedalaman muka air tanah yang terdapat di Kabupaten Natuna umumnya berkisar antara 1-3 m di wilayah dataran dan di wilayah tofografinya berbukit sekitar 1-7 m.




sumber : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Natuna
natuna.org 

Sunday, November 6, 2011

Sejarah Singkat Natuna

Masa Kolonial Belanda
Tertulis dalam sejarah bahwa di Kabupaten Natuna yang dahulunya bernama Pulau Tujuh sebelum bergabung dalam Kepulauan Riau, telah memerintah beberapa orang “Tokong Pulau“ (Istilah yang diberikan kepada Datuk Kaya di Wilayah Pulau Tujuh) yang menurut kamus bahwa Indonesia yang berasal dari kata “Tekong“ yang berarti Nahkoda yang memegang peranan dalam pengendalian sebuah kapal atau perahu layar, di dalam pembicaraan sehari-hari, “Tokong“ artinya tanah Busut yang menonjol ke permukaan laut atau tanah "kukop" atau batu karang yang menonjol ke permukaan laut, yang sangat berbahaya untuk lalu lintas kapal yang melewati areal tersebut. Julukan Tokong Pulau yang diberikan kepada Datuk Kaya di Pulau Tujuh berarti seorang pemimpin yang mengendalikan Pemerintah di wilayah terkecil yang sewaktu itu diberi hak oleh Sultan Riau sesuai dengan ketentuan “Yayasan Adat“ yang sudah ada pada masa itu.

Dari keterangan yang diperoleh, bahwa gelar yang diberikan di dalam pembagian Wilayah Datuk Kaya Pulau Tujuh disebut sebagai berikut :
  1. Wilayah Pulau Siantan: Pangeran Paku Negara dan Orang Kaya Dewa Perkasa.
  2. Wilayah Pulau Jemaja: Orang Kaya Maha Raja Desa dan Orang Kaya Lela Pahlawan.
  3. Wilayah Pulau Bunguran: Orang Kaya Dana Mahkota, dua orang Penghulu dan satu orang Amar Diraja.
  4. Wilayah Pulau Subi: Orang Kaya Indra Pahlawan dan Orang Kaya Indra Mahkota.
  5. Wilayah Pulau Serasan: Orang Kaya Raja Setia dan Orang Setia Raja.
  6. Wilayah Pulau Laut: Orang Kaya Tadbir Raja dan Penghulu Hamba Diraja.
  7. Wilayah Pulau Tambelan: Petinggi dan Orang Kaya Maharaja Lela Setia.
Orang-orang besar inilah yang pada zaman dahulu memerintah di wilayah Pulau Tujuh dengan masing-masing wilayah secara turun temurun dan sampai pada akhir kekuasaannya.

Oleh karena pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu masih memegang peranan “Zich Bemoelen Met“ ikut mencampuri urusan pemerintahan yang menyangkut strateginya di Pulau Tujuh, maka penempatan kedudukan para Datuk Kaya diatur sedemikian rupa dengan menerapkan imperialisme yang bertujuan memecah belah persatuan dan kesatuan di wilayah Pulau Tujuh dan berpegang kepada “Devide et Impera“ yang menguntungkan pihak Belanda.

Oleh karena itulah jauh sebelumnya sudah ada ditetapkan seorang penguasa Belanda bernama Van Kerkhorff pada tahun 1908 di Tanjung Belitung atau di Binjai di depan Pulau Sedanau. Tempat itu dipilih mengingat laut di sekitarnya sangat dalam dan terlindung dari angin utara. Pada masa itu, hutan belukar di daerah Binjai dan sekitarnya sangat lebat dan penuh rawa-rawa yang merupakan tempat sarang nyamuk malaria maka tidak lama kemudian setelah tuan Kerkhorff terkena Malaria lalu pindah ke Sedanau dan tak lama kemudian meninggal dunia. 

Berkaitan dengan penempatan Van Kerkhorff mengingatkan kita kepada sejarah perjanjian “Treaty of London tanggal 17 Maret 1842 yang sudah dirintis sebelumnya oleh pemerintah Hindia Belanda bersama sekutunya Inggris yang membagi-bagi daerah jajahannya untuk keuntungan mereka yang berkelanjutan di masa depan. Maka Inggris dan Belanda mencoba menanamkan pengaruhnya di Asia Tenggara, sampai kepada Kerajaan Riau - Johor mendekati masa suramnya, sehingga wilayah Riau bekas Kerajaan Riau diserahkan kepada Kolonial Belanda sedangkan Singapura dan Johor termasuk semenanjung Malaysia dikuasai Inggris.

Sultan Abdul Rahman Al Muazam Syah beserta Tengku Besar Umar langsung dimakzulkan oleh Belanda pada tahun 1911 dan pada tahun 1913 dengan resmi Kesultanan Riau Lingga dibubarkan oleh penguasa Belanda dan bertempatan dengan itu berkumpullah seluruh Datuk Kaya yang ada di Riau di gedung tempat kediaman Residen (Gedung Daerah Sekarang) untuk menerima penjelasan-penjelasan dari penguasa Belanda diantaranya menyinggung tentang wilayah Pulau Tujuh mendapat perubahan pembagian wilayah yaitu :
  1. Wilayah Datuk Kaya Pulau Bunguran dibagi dua wilayah yaitu Bunguran Barat dan Bunguran Timur sedangkan Pulau Panjang tersendiri.
  2. Wilayah Datuk Kaya Jemaja di bagi dua, yaitu wilayah Datuk Kaya Ulu Maras dan Kuala Maras. 

Hasil dari pemecahan wilayah menunjukkan untuk memisah-misahkan puak-puak Melayu yang hidupnya sudah aman dan damai yang telah dibina oleh Datuk Kaya di Pulau Tujuh.

Masa Pasca Kemerdekaan Indonesia

Sejarah pembentukan Kabupaten Natuna tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kepulauan Riau, karena sebelum berdiri sendiri sebagai daerah Otonomi, Kabupaten Natuna merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau.

Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia No.9/Deprt tanggal 18 Mei 1956, Propinsi Sumatera Tengah menggabungkan diri kedalam Wilayah Republik Indonesia dan Kepulauan Riau yang diberi status Daerah Otonomi Tingkat II yang dikepalai oleh seorang Bupati sebagai Kepala Daerah yang membawahi 4 kewedanan sebagai berikut :
  1. Kewedanaan Tanjung Pinang, meliputi wilayah Kecamatan Bintan Selatan (termasuk Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur).
  2. Kewedanaan Karimun meliputi wilayah Kecamatan Karimun, Kundur dan Moro.
  3. Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Singkep dan Senayang.
  4. Kewedanaan Pulau Tujuh meliputi Wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur.
Kemudian terbit Surat Keputusan No.26/K/1965 dengan berpedoman pada Instruksi Gubernur Riau tanggal 10 Februari 1964 No.524/A/1964 dan Instruksi No. 16/V/1964 serta berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau tanggal 9 Agustus 1965 No. UP/247/5/1965 dan tanggal 15 November 1965 No.UP/256/1965 menetapkan semua daerah administratif kewedanan dalam Kabupaten Kepulauan Riau dihapuskan terhitung mulai 1 Januari 1966.

Lalu seiring berjalannya waktu, tercetuslah usul untuk memekarkan daerah. Hingga akhirnya terbentukalah Kabupaten Natuna berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999 dari hasil pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau, yang terdiri dari 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Jemaja, Siantan, Midai, dan Serasan dan satu Kecamatan Pembantu Tebang Ladan (Palmatak). Tanggal 12 Oktober 1999 merupakan tanggal lahirnya Kabupaten Natuna.
Logo Kabupaten Natuna
Seiring dengan kewenangan otonomi daerah, Kabupaten Natuna kemudian melakukan pemekaran daerah kecamatan, yang hingga tahun 2004 menjadi 10 kecamatan dengan penambahan, Kecamatan Palmatak, Subi, Bunguran Utara, dan Pulau Laut dengan jumlah 53 kelurahan/desa.

Hingga tahun 2007, Kabupaten Natuna telah memiliki 16 Kecamatan. 6 Kecamatan pemekaran baru itu diantaranya adalah Kecamatan Pulau Tiga, Bunguran Timur Laut, Bunguran Tengah, Siantan Selatan, Siantan Timur dan Jemaja Timur dengan total jumlah 75 kelurahan/desa.

Namun setelah keluarnya Undang-undang No. 33 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas pada tanggal 21 Juli 2008 dimana beberapa Kecamatan yang antara lain Kecamatan Siantan, Kecamatan Siantan Tengah, Kecamatan Siantan Selatan, Kecamatan Palmatak, Kecamatan Jemaja dan Kecamatan Jemaja Timur masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Anambas, maka pada saat ini daerah administrasi Kecamatan di Kabupaten Natuna hanya tinggal 12 Kecamatan, yakni Bunguran Timur, Bunguran Barat, Bunguran Utara, Bunguran Selatan, Bunguran Tengah, Bunguran Timur Laut, Pulau Tiga, Pulau Laut, Midai, Serasan, Sersan Timur, dan Subi.
Branding Wisata Natuna



Sumber :
http://www.natunakab.go.id/in/brief-history.pdf
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...