Saturday, November 19, 2016

Tanjung Tabalong (2), Yang Unik

Masih di Tanjung Tabalong vrooh, masih ada waktu beberapa minggu lagi disini (menurut kontrak kerja), masih sempat untuk explorasi tempat-tempat (sambil menunggu waktu yang pas untuk explorasi). Hal yang bisa dilakukan adalah mengamati yang bisa diamati dulu saja. Kali ini tentang kehidupan dan keunikan di Tanjung. Setiap kota atau daerah punya keunikannya to. Tak terkecuali Tanjung Tabalong ini. Ada beberapa keunikan yang menurut saya sayang untuk tidak dituliskan. Hahai.

Yang unik, yang unik :
Unik yang pertama :
Plat Kendaraan. Pernah mengamati plat kendaraan bermotor? Seperti plat kendaraan dari Sumatera yang diawali dengan huruf B, plat kendaraan di Jawa yang beraneka ragam, plat kendaraan di Bali dan Nusa Tenggara yang awalnnya D, di Kalimantan plat kendaraan berawal dari huruf K, KB untuk KalBar, KH untuk KalTeng, KT untuk Kaltim, KU (masih dalam usulan) untuk KalTara, dan KS untuk Kalimantan Selatan.  
Plat DA
Eeet, tunggu dulu, disini yang uniknya, plat kendaraan KalSel yang Tanjung Tabalong masuknya didalamnya bukanlah KS, melainkan DA. Nah jauh banget kan? Saat pertama-pertama belajar memahami kode plat kendaraan dulu, saya sendiri merasa bingung mengapa KalSel ini beda sendiri, mengapa harus DA gitu? Ada yang bilang DA untuk singkatan Dayak Asli, hweew, SARA coy. Ada juga yang bilang DA untu singkatan Daerah Air, karena KalSel memiliki banyak sungai. Tapi untuk menghilangkan rasa penasaran, yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah tanya mbah gugel dah, jadi katanya dulu Kalimantan merupakan satu kesatuan provinsi, oleh pemerintah pusat plat kendaraannya ditetapkan DA, setelah Kalimantan dimekarkan menjadi beberapa provinsi seperti sekarang ini dan masing-masing memiliki kode plat kendaraan sendiri, tinggallah KalSel dengan tetap menggunakan kode plat kendaraan DA, gitu aja deh sejarahnya. Hhe.

 
Unik yang kedua :
*ceritanya lagi laper, mau makan, pergi lah ke warteg*
"buk, pesen nasi campur ya"
"ia, ikan nya apa?"
*trus kamu lihat dipilihan lauk tidak ada lauk ikan sama sekali, dan kamu mulai bingung (bengong, garukin kepala)*
Ikannya apa?
Ternyata, istilah "ikannya apa?" setiap kita beli makan berarti menanyakan lauk, lauk apa yang akan kita pilih. Tak hanya di KalSel, di KalTim juga yang ada warung Banjar dan penjual asli Banjar nya rata-rata akan menanyakan hal yang sama ketika kita akan makan. Setelah saya tanya dengan ibu pemilik warung makan yang asli sini, jawabnya itu karena kebiasaan aja makan nasi dengan lauk ikan, jadinya setiap makan nasi yang ditanya itu apa ikannya, lama kelamaan jadi kata ikan ini pengganti kata lauk deh. Cmiiw. :D

"Ikannya apa?" berarti "mau lauknya apa?". Ya nanti jawab aja biasa, gini :

"bu, nasi campur, ikannya ikan harwan ya,"
"bu nasi campur, ikannya ayam goreng". :D
Unik yang ketiga,
Pernah liat lukisan ini atau semacamnya ketika makan di warung Banjar?
Jika kalian makan di warung banjar, atau pergi ketempat-tempat usaha lainnya. Sebagian besar akan kita temui figura seorang atau beberapa orang laki-laki, bersorban, sebagian ada yang berjanggut. Ya, khas tampilan ustadz atau ulama gitu. Ketika saya bertanya kepada ibu yang tadi tempat saya tanya tentang "ikan", secara singkat dan cepat beliau menjelaskan itu ada ulama dari Banjar, boleh juga dibilang "Wali Songo" nya Kalimantan, meskipun bukan songo (sembilan), ya berarti Wali lah ya. Beliau menyebut ada empat nama, ulama-ulama dari Banjar tersebut. Jadi menurut saya pemajangan gambar-gambar beliau ini merupakan suatu bentuk kehormatan kepada para ulama.

Saya rasa masih banyak unik-unik yang lain, sementara saya mencari, biarlah 3 unik ini dulu yang saya ceritakan ya. See ya.

Tuesday, November 15, 2016

Kopi Loper? Monggo mblo neng kene wae.

Satu lagi ni tempat nongkrong asik di Jogja "yang tetap istimewa" ini. Nongkrong sambil nikmati citarasa kopi Nusantara, spesial dari provinsi paling ujung barat sana : Nanggroe Aceh Darussalam. Berawal dari pesbuk, kakak saya ngetag foto mirip gerobak angkringan, tapi tulisannya “ngopi”. Trus dia bilang :

"mbe agik kat Jogja, au gi hini ye,"
(kalo lagi ke Jogja, mampir sini ya).
Gayo Ngopi, via facebook.com

Oke deh jawab ane kan. Sambil mencari-cari alasan untuk bisa ke Jogja lagi. Dan kebetulan tak lama setelah itu ada pelatihan di Jogja. Kesempatan ni, muleh nang Jogja, sambil cari waktu kosong sebentar untuk pergi ketempat itu.

Mbe se ndek lak…..

Trus ane jadi ingat, dulu punya temen satu kampus, satu angkatan, beda jurusan tapi. Trus saat mau lulus kita sempat ngobrol tentang rencana masa depan, dia mantap bilang pengen usaha. Weweh ternyata bener, bikin usaha kopi dia nya. Udah maju gini pula. Warbiyasaaak. Emang ya, usaha yang bagus itu adalah usaha yang dikerjakan, kata alm Om Bob. 
Yap, pas ada (curi-curi) waktu kosong gak ada kegiatan, langsung deh nancepin si kuda besi pinjaman ke TKP. Tidak sulit menemukan tempat nongkong ini. Letaknya di jalan Taman Siswa no 13, di dekat Asrama Mahasiswa Provinsi Aceh, tepat di seberang Lapas. Kalo dari utara, tempatnya disebelah kiri (sisi timur) jalan. 
Gayo Ngopi Arabica
Nama tempatnya adalah Gayo Ngopi Arabica. Gayo itu merupakan nama suatu dataran tinggi di Aceh, Tanah Gayo namanya. Ya seperti Dieng-nya Jateng, atau Bogor-nya Jabar kali ya. Nanggroe Aceh Darussalam selain dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah, juga dikenal dengan negeri penghasil kopi, kopi Gayo yang dikembangkan secara organic ini disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia, #banggaIndonesia. Karena itu pula, ngopi sudah menjadi "urat nadi", kegiatan yang tak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Ingat kata-kata legenda dari Teuku Umar, salah seorang pahlawan dari Tanah Rencong ini yang paling populer saat masa perang dulu? 
“Singoh beungoh tanjoe ta djeb kupi di Meulaboh atawa ion akan sjahid”
"Besok pagi kita akan ngopi di Meulaboh atau kita akan syahid."
Motivasi yang membakar semangat pejuang kemerdekaan untuk merebut apa yang sudah diambil, juga motivasi untuk berjihad, dan syahid. 
Tanah Gayo, via atjehkopi.blogspot.com

Berbicara tentang dataran tinggi Tanah Gayo, ada tiga kabupaten yang berada di dataran tinggi penghasil kopi nikmat khas Aceh itu, yakni Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Nah mungkin asal owner nya dari sana kali ya, makanya nama Gayo Ngopi yang dipilih. Nama ownernya adalah Agam, alumni kampus Energi di Jogja (kampus ane juga ni), dan dia juga baristanya (tukang ngeracik kopi). Perkenalan dengannya dulu emang gak disangka-sangka, tapi tentunya sudah ada Yang Ngatur kan, kakaknya dan kakak ane sekampus, trus kita ketemu di awal-awal jadi mahasiswa baru, dan silaturahim terus berlanjut hingga sekarang. Alhamdulillah. 
Barista s doing his job.
Gayo Ngopi ini baru berdiri diawal taun 2015 lalu. Namun untuk tempat yang baru, Gayo Ngopi Arabica boleh dikatakan tempat favorit, terbukti saat ane ngopi disana aja, sudah ramai pengunjung yang datang untuk menikmati kopi hasil racikan barista Aceh yang ganteng ini. 
Barista
Tempat Gayo Kopi Arabica didesain ala-ala angkringan gitu, gerobak dan bangku panjang di depannya, khas Jogja banget kan. Juga ada tambahan bangku dan meja ditempat lain untuk menambah kesan modern dan “nongkrong” nya. Simple place, great taste. Itu jargonnya. 
Peralatan "tempur"
Tempat yang sederhana, dengan rasa istimewa. Bijikopi pilihan langsung dikirim dari asalnya di Aceh sana. Rasa yang bener-bener istimewa bagi anda pecinta kopi, atau seperti saya hanya yang hanya penikmat sunyi ini. Rasa kopi Gayo dibilang berbeda karena hampir tidak meninggalkan rasa pahit, ditambah lagi dengan aroma yang harum dan rasa yang gurih. Ada beberapa varian kopi yang ditawarkan di Gayo Ngopi ini : Gayo Spesial, Gayo Abyssina, dan Gayo Peaberry, kesemuanya diracik menjadi 4 “spesies” kopi : Tubruk, V60, Aeropress dan Chemex. Gayo Spesial diproses dengan cara semi wash, Gayo Abysinna memiliki rasa agak manis, dan Gayo Peaberry (biji tunggal) memiliki karakter yang kuat dalam rasa. Juga ada tambahan kopi biasa jika kamu yang tidak atau belum terbiasa dengan kopi Gayo, ada kopi susu, espresso, es kopi dan es kopi susu. 
Menu
Harganya juga terjangkau, harga mahasiswa, harga Jogja pula. Dibandrol mulai dari 9k aja. So, para kopi lovers, Gayo Ngopi Arabica merupakan alternatif pilihan yang bijak untuk nongkrong karo konco-konco sambil bercerita tentang Jogja, tentang rasa yang tak pernah habis, bercerita tentang kisah-kisah kehidupan sambil menikmati citarasa kopi dari ujung barat Indonesia ini.

"Karena kopi mengajarkan kepada kita bahwa hitam tak selalu kotor, dan pahit tak selalu menyedihkan."

Sumber : 
http://pusatkopigayoaceh.blogspot.com/2013/02/sejarah-kopi-gayo-aceh.html

Tuesday, November 1, 2016

Masjid Al-Abrar, Istana Megah di Belantara Borneo

Kalau kalian mencari masjid Al-Abrar via google map dan yang keluar adalah gambar di bawah ini : 
Lokasi Masjid Al-Abrar menurut gugel mep
Plis, it's a trap! Jangan ikuti.

Kebisaan saya saat berada ditempat baru adalah mencari sesuatu yang khas. Ntah itu tempat wisata, ikonnya, dan tempat ibadahnya. Nah setelah beberapa hari berada di Tanjung, saya menemukan banyak masjid, yang menandakan negeri ini dihuni oleh mayoritas muslim. Kemudian sejenak berfikir, tempat ini tentunya punya Masjid Agung / Islamic Center seperti ditempat-tempat lain. Nah iseng-iseng cek gambar di mbah gugel : "masjid agung Tanjung", maka yang keluar dari koreksi di gugel adalah Masjid Al-Abrar, pencet search maka yang keluar adalah suatu bangunan megah berwarna putih dengan beberapa menaranya. Foto-foto indah hasil jepretan para fotograper itu membuat saya segera ingin kesana dan juga mengabadikannya.

Karena baru berada ditempat ini, gugel mep lah yang bisa ditanyai. Searching nama, dan keluar peta seperti gambar diatas itu, yah its a trap, dan akan saya ceritakan disini. Setelah mengikuti persis alur yang ditunjukkan oleh peta, kami sudah berada diluar kota, masuk perkampungan dengan jalan setapak ditemani kebun karet kiri dan kanan. Awalnya kami sama sekali tidak curiga, apalagi di salah satu artikel mengatakan bahwa masjid ini terletak di tengah-tengah hutan Kalimantan. Namun setelah ditelusuri lanjut, masjid yang dicari tak kunjung ditemukan. Putus asa, kami berbalik arah, karena saat itu waktu ashar juga sudah dekat, dalam perjalanan pulang, kami bertemu penduduk kampung setempat dan menanyakan lokasi Masjid Agung ini, dan jawabanya adalah ; "jauuuh mas e, dekat Maburai", dengan logat khas Tanjung nya.
Masjid Al-Abrar
Merasa sudah fix salah, kami melanjutkan perjalanan pulang, istirahat ashar dimasjid Raya Tanjung "Ash-Shiraatal Mustaqiem" yang terletak ditengah kota, dengan harapan bisa bertanya pada orang-orang disana nantinya. Setelah ashar, ditempat parkir, saya bertanya pada seorang yang parkir nya bersebalahan dengan motor kami, dia menunjukkan detail jalannya, dan dengan baiknya dia bersedia mengantarkan kami kesana. Wau, mantap kan.
Lokasi yang benar
Perjalanan dari Masjid Kota ke Masjid Agung agak jauh memang, melewati jalan utama, Jl. Ir. PH. Moch Noor hingga bertemu Tugu Obor Tanjung, lalu belok ke kanan atau ke arah Banjarmasin, jalan Ahmad Yani lurus terus sekitar 3-5 km, kemudian ada pertigaan dan belok kiri, nah disanalah masjid agung yang ada di gugel imej itu berada. Megah memang. Dan memang juga berada "ditengah-tengah hutan". Sepertinya lahan ini baru dibuka, dan akan dibangun beberapa kantor atau yang lainnya sebagai sarana penunjang daerah. Saya kembali melihat gugel mep, jauh sekali jarak antara yang ditunjukkan dengan yang aslinya, apa mungkin si mbah ini salah? atau memang ada masjid Al-Abrar juga disana? Hmmm. Wes ah, udah sampai ini, ya kan.
Masjid Al-Abrar Tanjung Tabalong
Namanya Masjid Al-Abrar. Masjid kebanggaan warga Tanjung kabupaten Tabalong. Al-Abrar berarti golongan yang suka melakkan kebajikan kepada Allah Ta'ala. Bangunan yang dilapisi cat berwarna putih ini semakin menunjukkan nilai-nilai islam yang suci, dihiasi oleh 7 menara yang menjulang, serta bentuk kubahnya yang khas, kubah terbalik, seperti parabola. Unik, elegan, dan menawan.
Masjid Al-Abrar
Ohya, saya akan kenalkan seorang yang menunjukkan bahkan menyempatkan waktunya untuk mengantarkan kami disini. Namanya Jali, masih bersekolah di SMA N 2 Tanjung, saya lupa jurusannya. Yah setidaknya pahlawan kami untuk hari ini, membantu menjawab rasa penasaran akan indahnya Islamic Center Kabupaten Tabalong yang sebelumnya hanya kami lihat di gugel imej saja. Juga meredam letih dan amarah akibat ditipu-tipu oleh gugel mep. Emang dah kata lagu kan, "Bang Jali.... Bang Jali.... Orangnya bikin hepi, bukak sitik, joss!!!"
Masjid Al-Abrar Tanjung
Oke, balik ke Islamic Center ya. Nama kompleknya adalah Islamic Center Darul Napis Tabalong, dibangun oleh raksasa tambang batubara, PT Adaro Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan diresmikan pada Agustus 2012. Pembangunan ini sejalan dengan visi Kabupaten Tabalong : Mewujudkan Masyarakat Agamis dan Mandiri Secara Intelektual". Masjid Al-Abrar yang merupakan bagian dari Islamic Center ini dapat menampung hingga 3.500 jemaah. Kubah terbalik dibagian atas masjid menyimbolkan tangan yang menengadah berdoa kepada Allah Ta'ala. Selain masjid, komplek ini juga terdapat bangunan-bangunan lain seperti gedung pertemuan, miniatur Ka'bah dan miniatur perjalanan Sa'i dari Shafa ke Marwah, jelas sekali ini diperuntukkan untuk para calon jemaah haji yang akan melakukan ibadah ke tanah suci, ada juga komplek perumahan, perpustakaan, kantor dan auditorium.
Bentuk Kubah terbalik yang Khas membuat Masjid ini beda dari masjid-masjid besar yang lain
Saya memutari masjid, sambil mengambil beberapa gambar. Sayangnya tidak boleh mengambil gambar di dalam masjid (ada tulisannya gitu). Meskipun tidak terlihat penjaga masjid dan juga pengurus masjid disini. Tapi namanya peraturan ya kan, tetap saja saya tidak mengambil gambar didalam. Alhasil gambar-gambar saya ambil dari luar saja.
Miniatur Kabah
Disore hari, biasanya setelah ashar, Masjid ini ramai dikunjungi oleh warga, untuk bersantai, berfoto, sembari menunggu waktu magrib pikirku. Taman Masjid yang indah juga kerap dijadikan tempat foto pre-wedding bagi para calon pengantin. Setelah merasa puas, meskipun minim informasi untuk menanyakan hal yang lebih detail lagi, kami memutuskan untuk pulang, dan berpisah dengan bang Jali yang sudah menemani kami tadi. See you next time, bro!
Miniatur Kabah, Islamic Center Darul Napis Tabalong


Sumber :
Singgahkemasjid.blogspot.co.id
metrotvnews.com

Monday, October 31, 2016

WisKul @Jogja : Icip-icip Pizza murmer neng IBARBO

Bicara tentang Jogja, tanpa menyertai kulinernya? itu sama kaya apa ya? ya itulah pokoknya ya. Nggak lengkap. Ngomongin tentang Jogja, bukan hanya semua sudut kota yang romantis aja, kata pak Anis. Namun harus libatkan juga ribuan macam kuliner karya pengusaha-pengusaha muda bidang "perut" ini. 
Daftar menuuuu.
Nah, mumpung lagi di Jogja (lagi) ni. Kesempatan ini tak akan saya lewatkan. (padahal dulu, kuliah disini gak kepikiran euy, nasiiib). Berawal dari perut yang tiba-tiba demo minta pizza. Mau yang itu tu, tapi mahalnya minta ampun. Jadi kita surfing-surfing neng instagram pake hastag apa gitu, lupa. Akhirnya nemu tempat yang pas, namanya IBARBO coy.. Mumpung dekat, langsuung capcus.

Ibarbo Jogja
IBARBO berlokasi di jalan Nologaten, Depok, Yogyakarta. Kalo dari Seturan, silahkan menuju ke Selokan Mataram, setelah bertemu perempatan OB, teruslah ke selatan, sekitar 200 meter di barat jalan ketemu deh sama tempat ini. Gampang nyarinya, Bangunan khas dari kontainer, berwarna kuning yang dimodifikasi sedemikian rupa, disulap jadi tempat nongkrong yang apik tenan.
Pizza nya Ibarbo ni broooo
Bangunannya khas dari kontainer dengan warna kuning. Logonya juga keren, orang berotot gitu, nyambung dikit sama namanya IBARBO, barbo, barbo, barbel, barbel orang berotot, ya itu lah ya, #cocoklogi. Menu andalannya adalah beragam jenis pizza dengan harga mulai dari 20k. Pizza nya dengan beragam toping loh. 

Pizza dengan harga 20k udah + mozzarela dan saus (tomato, chocolate, dan white saus). Toping yang tersedia juga beragam, beragam rasa dan beragam harga. Pilihan topingnya mulai dari ayam, telur, sosis, jamur, bawang, nanas, oreo, meses sampe keju chedar, ada 18 toping yang bisa kamu pilih sesuai dengan keinginan perut dengan harga mulai dari 3k. Saya sih karena suka coklat dan keju jadi pesan 2 pizza dengan toping keju dan meses + oreo gitu. Dan emang gak salah pesen, rasanya sampe nempel dihati, lebay.

Terus, menu lainnya yang harus kamu coba adalah nasi lidah sapi dengan harga mulai dari 19k, rasanya pedes-pedes ngangeni kaya Jogja, hmmmm, maknyoss. Harganya mahasiswa banget lah ya. yuuk bos monggo mampir.
Ibarbo Jogja

more info : 
instagram @ibarbo.jogja
https://twitter.com/ibarbo_jogja

Saturday, September 17, 2016

"Nyecah Punan" di Kalimantan Tengah

Kali ini dapat tugas kerja di Tanjung, kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Secara geografis, letak kabupaten ini berada di bagian paling utara dari Provinsi Kalimantan Selatan ini. Sebelah timur berbatasan dengan provinsi Kalimantan Timur, dan sebelah barat berbatasan dengan provinsi Kalimantan Tengah. Setelah melihat peta dan bertanya kepada orang sekitar. Ternyata hanya membutuhkan waktu 1 jam saja untuk menuju Provinsi Kalimantan Tengah. Nah, dengan tidak berfikir panjang, langsung saja kami atur waktu menuju kesana. Menunggu waktu stanby kerja, akhirnya saya dan rekan-rekan sepakat untuk melakukan perjalanan lintas provinsi ini. 😁

Dengan bekal 2 buah motor dan 2 buah helm pinjaman, kami menuju provinsi Kalimantan Tengah dengan modal nekat dan dengan sedikit bantuan mbah gugel. Lama juga perjalanan, melewati tepian sungai, jembatan, serta melintasi jalan tol khusus yang dibuat oleh perusahaan tambang besar, dan khusus untuk mobil-mobil trucknya saja yang melewati jalan tersebut menuju tempat loading batubara. 

Perjalanan masih berlanjut hingga akhirnya kami bertemu tugu perbatasan yang bertuliskan "Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah". Namun, kami tak langsung berhenti, karena belum menemukan hal greget disana. Kami memilih melanjutkan perjalanan hingga menemukan tanda bahwa kami benar-benar telah berada di provinsi Kalimantan Tengah.  
Tugu Burung Enggang Gading, di perbatasan Provinsi KalTeng dan KalSel
Sampai pada akhirnya kami menemukan tugu perbatasan di tengah-tengah jalan raya serta gapura kecil dan papan yang bertuliskan daerah Kalimantan Tengah. Oyeeay! Akhirnya sampai juga. Tepatnya di Kabupaten Barito Timur. Meskipun hanya pinggiran alias perbatasan, namun "jedilah, nyecah punan". Istilah "nyecah punan" dalam bahaya melayu Natuna berarti sesuatu yang sudah dikerjakan atau didapatkan walaupun hanya sedikit. Bahasa gaulnya bisa dibilang "daripada kagak, ya kan", begitu lah kira-kira ya.  

Berada di Kalimantan Tengah berarti sudah beda zona waktu lo ya. Di Pulau Kalimantan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mengikuti zona Waktu Indonesia Barat, sedangkan Kalimantan Selatan, Timur dan Utara mengikuti zona waktu Indonesia Tengah. Artinya kami tak hanya melintasi provinsi, namun juga melintasi zona dan waktu. 😎
Museum Lewu Hante
Tak jauh dari perbatasan, di sebelah kiri dari tugu ini terdapat museum. Seperti museum adat atau museum daerah Barito Timur. Namanya Museum Lawe Hante Pasar Panas. Kami pun singgah sebentar ke museum tersebut. Karena hanya ini hal menarik yang kami dapati. Komplek museum ini terdiri dari bangunan utama museum yang berbentuk rumah adat dayak dan taman yang tertata rapi di depannya. Museum ini jika dilihat dari luar berisi seluk beluk tentang suku dayak. Selain terdapat rumah adat, juga ada budaya pemakaman, serta panggung hiburan, dan pusat souvenir dan oleh-oleh. 

Saat kami tiba disana, sepertinya Museum ini sedang dilakukan perawatan sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam museumnya. Kami hanya menikmati dari luar saja apa yang bisa dinikmati. Alhasil, hanya jepret-jepret di luar, dan hasilnya not bad lah. Di tambah dengan cuaca yang sanga mendukung sekali dengan biru nya langit Borneo ini. Tak butuh waktu lama kami berada disini karena hasrat telah terpenuhi (menginjakkan kaki ke Kalimantan Tengah), pun kami tidak berniat untuk melanjutkan perjalanan karena terbatasnya waktu yang kami miliki. Lalu kami memutuskan untuk kembali pulang ke Tanjung.
Tugu Perbatasan yang lain.
Saat perjalanan pulang, kami kembali singgah di tugu perbatasan yang pertama kali kami lihat tadi. Tugu yang unik dengan gambar tameng dan ukiran khas suku dayak yang selalu eksotis nan elegan dimata saya. Tak lupa kami jepret-jepret lagi sebagai pembuktian. Hahaha. Lalu kembali pulang ke Provinsi Kalimantan Selatan.
Jejak

Secara pribadi ini merupakan pencapaian baru saya, "meninggalkan jejak" di semua Provinsi di Kalimantan. Dengan begitu, tinggal provinsi Kalimantan Utara lagi yang belum saya singgahi. Next time maybe. Yah meskipun di KalTeng hanya beberapa menit saja, pun juga di perbatasannya, namun biarlah daripada kagak ya kan ya, nyecah punan lok.

Tuesday, September 13, 2016

Tanjung Tabalong, si Kental Hitam dan Batu "Rupiah"

Akhir agustus lalu, saya kembali dapat perintah kerja dari kantor. Kali ini lokasinya berada di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, tepatnya di Tanjung yang merupakan ibukota kabupaten. Karena sudah mendapat isu-isu pekerjaan disini sebelumnya, jadi saya sempat browsing dan tanya ke beberapa teman tentang daerah ini. Segala dikepoin, mulai dari daerahnya, tempat wisatanya, living cost, sampai keadaan kota. Hahaha, biar ada gambaran kan ya. 
Pelabuhan Kariangau
Perjalanan dimulai dari kota Balikpapan, jarak dari Balikpapan ke Tanjung sekitar 300an km dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 8 jam. Kami naik jasa travel dengan biaya berkisar 300 rb rupiah. Perjalanan ke Tanjung Tabalong diawali dengan menyeberang "membelah" Teluk Balikpapan menuju Kabupaten Penajam. Kami menyeberang dengan menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Penyeberangan Kariangau di Balikpapan. Ini kali pertama saya naik moda penyeberangan yang kaya di tipi-tipi gitu : penyeberangan Banten - Lampung, atau Jawa - Bali. Kali ini penyeberangannya Balikpapan - Penajam aja. Rada-rada excited gitu deh jadinya. Hahaha, ndeso
Pemandangan dari Sungai yang memisahkan Balikpapan - Penajam
Penyeberangan memakan waktu kurang lebih 60 menit. Setelah sampai di Penajam, mamang travel langsung tancap gas menuju Tanjung, katanya kalo tidak ada hambatan, dari Penajam ke Tanjung bisa ditempuh dalam waktu 6 jam saja. Saya tidak begitu menikmati perjalanan ini karena hari sudah gelap, dan matapun mengantuk, tambah lagi hujan yang membasahi bumi Borneo, cuaca pas untuk "meraih mimpi". Yang saya tangkap ketika sesekali terjaga dalam perjalanan adalah kiri kanan hutan borneo yang masih lebat dan asri (semoga terus menjadi paru-paru dunia ya). 

Ohya, dalam perjalanan ini si travel berhenti dua kali, yang pertama berhenti makan malam, dan berhenti berikutnya adalah berhenti untuk ngopi, karena travel masih akan terus berlanjut perjalanannya ketika sampai di Tanjung nanti. Jarak dari tempat berhenti untuk ngopi ke Tanjung sudah sangat dekat, dan alhamdulillah kami sampai dengan selamat. 😇
 

Tanjung Tabalong,
Yap, ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Provinsi Kalimantan Selatan. Provinsi dengan mayoritas didiami oleh suku asli Banjar yang terkenal dengan Martapura : pusat intan berlian terkenal Nusantara dan pasar terapungnya. Provinsi yang dialiri oleh Sungai Barito. Provinsi, provinsi apa lagi ya, itu lah yaa pokoknya. 

Peta Kabupaten Tabalong
Tanjung sendiri merupakan ibukota dari Kabupaten Tabalong, sebuah kabupaten yang berada di bagian utara Provinsi KalSel, sebelah barat dan utaranya berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Tengah, dan sebelah Timurnya berbatasan dengan Provinsi KalTim. Kabupaten yang resmi berdiri pada tanggal 1 Desember 1965 ini memiliki sejarah yang panjang ternyata, hmm mungkin akan saya jabarkan nanti ya. 
Logo Kabupaten Tabalong
Penduduk Tanjung mayoritas beragama muslim, oleh karena itu, disini tidak susah bagi kita untuk menemukan masjid/mushola/langgar dalam jarak 5 km perjalanan kita bisa mendapati 2-3 tempat ibadah tersebut di sini. Pemerintah juga membangun masjid megah di Islamic Center Tabalong. Kabupaten ini dihuni oleh suku asli Banjar, dengan bahasanya yang agak mirip dengan bahasa melayu saya. Selain itu, juga terdapat suku dayak, dan beberapa lain yang merupakan pendatang. Tabalong juga memiliki bandara, yang terletak di Warukin, bandara kecil untuk penerbangan pesawat ATR sepertinya, namun sekarang pengoperasiannya dihentikan, dan kabarnya akan diaktifkan kembali setelah menunggu beberapa kajian dari pihak terkait. 
Pompa Angguk pada sumur-sumur migas tua di Tanjung - Tabalong
Dan, last but not least. Sumber daya alam : nah! seperti daerah-daerah lain di Kalimantan, Kabupaten Tabalong dianugerahi dengan limpahan cairan yang membuat dunia bisa perang, hahaha. Apalagi kalau bukan minyak dan gas, komoditi ini kerap menjadi sebab beberapa peristiwa besar di dunia. Ya, banyak sumur migas tua di kabupaten ini yang dikelola langsung oleh Perusahaan Migas milik Negara, dan disini lah lokasi tempat saya mengerjakan proyek dari kantor. Sumur migas di Tanjung Tabalong ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dahulu, ada ratusan sumur disini. Hasilnya juga dialirkan melalui pipa panjang sampai ke Refinery Unit 5 di Balikpapan sana untuk diolah menjadi bahan bakar minyak.
Tugu Obor, ikon Kota Tanjung
Dan gas nya ada yang dialirkan dan ada juga yang kembali digunakan sendiri oleh perusahaan, untuk pembangkit listrik dan untuk menghidupkan api Tugu Obor di tengah-tengah kota yang menjadi ikon Kota Tanjung. Selain itu Tabalong juga memiliki situs Batubara yang besar, dan banyak perusahaan-perusahaan besar dibidang batubara yang "main" disini. Meskipun saat ini industri batubara sedang "oleng", migas juga sih. Tapi kegiatannya tidak berhenti. Masih saja ada bus-bus yang tiap pagi dan sore mengangkut karyawan untuk diantarkan ke site kerja. Itu hasil mineral tambang migas. Tak hanya itu ternyata, Tanjung Tabalong memiliki SDA yang lain, hasil perkebunannya. Ada karet, sawit, cocoa. Ah, luar biasa pokoknya. Ini bisa menjadikan Kalimantan Selatan termasuk Provinsi kaya di Indonesia. 

Sekilas tentang Tanjung Tabalong, see you next time.

Melipir ke Ladaya Tenggarong, Perpaduan Wisata Keluarga dan Seni Budaya nan Edukatif


Mengeksplorasi Tenggarong emang gak ada habisnya, setelah kemarin ke Museum Kayu, Museum Mulawarman, sekarang ini giliran Ladaya yang kami kunjungi. Ladaya adalah singkatan dari Ladang Budaya, merupakan destinasi wisata alam berpadu dengan budaya. Wisata Ladaya terletak di Jl. H. Bachrin Seman Mangkurawang, Tenggarong, Kutai Kartanegara (google map). Dari pusat kota, kita memerlukan waktu sekitar 15-20 kecepatan rata-rata kendaraan bermotor. Biaya masuknya tergolong murah yakni 10K untuk dewasa dan 5K untuk anak-anak. Tempat ini berdiri diatas lahan yang luas (gak tau berapa hektar, pokonya luas). Ladaya Tenggarong ini selalu ramai dikunjungi diakhir pekan. Hanya saja kemarin waktu saya kesana saat weekday, jadi sepi, namun bagus juga untuk explorasi tempat. Yoi gak? Yonkruu mamen.
Odah Rehat
Ladaya Tenggarong menyuguhkan keeksotisan karya manusia yang berpadu dengan alam. Bangunan-bangunan dan tata letaknya sangat artistik. Dikelilingi hutan membuat tempat ini begitu asri, adem coy. Apalagi ditambah dengan suara alam dan kicauan burung-burung serta suara pepohonan yang tertiup angin, perpaduan antara keharmonisan karya indah manusia dan mahakarya Tuhan yang luar biasa, hhmmm lupa pulang kayanya. Di dalamnya terdapat kolam ikan beserta tempat santai, kemudian juga ada arena paintball, bangunan-bangunan unik berbentuk segitiga, seperti tenda, namun permanen yang dibuat dari kayu dan berada diatas kolam buatan, seakan berada di atas sungai jika kita berada disana, tempat ini namanya odah rehat dalam bahasa Kutai yang berarti tempat istirahat.
Tempat santai di cafe Ladaya
Berjalan sedikit keatas, terdapat vila, dan beberapa odah rehat yang lain, ada juga arena outbond, dan beberapa arena bermain lainnya. Ladaya juga menyuguhkan panggung seni dan ruang aula terbuka yang selalu menampilkan kesenian dan teatrikal adat diakhir pekan, memang Pemkab dan Masyakat Kutai sangat menjunjung tinggi seni adat dan budaya daerah. Pernah dengar Festival ERAU yang sudah terkenal itu? nah itu merupakan festival tahunan skala internasional yang diselenggarakan berkat sinergi kerjasama dan dukungan seluruh elemen masyarakat Tenggarong, Sultan dan Pemerintah Kabupaten Kukar.
Salah satu binatang di mini zoo Ladaya
Ladaya Tenggarong juga memiliki kebun mini dan mini zoo yang berisi hewan-hewan langka khas Kaltim. Ada buaya, monyet, beruang madu, burung merak, burung enggang, dan banyak lagi. Ada juga rumah adat Kutai dan cafe yang menyediakan es bruap yang jadi khasnya serta toko souvenir bagi kamu kamu yang mau beli kenang-kenangan. Fix dah, ini merupakan perpaduan tempat liburan dimana bersantai, bermain, dan edukasi serta belanja menjadi satu paket yang mantap. Ohya, menurut beberapa sumber yang saya dapatkan (berhubung kemarin saya tidak mencoba seluruh fasilitas permainannya), selain biaya masuk yang murah, wahana-wahana bermain yang tersedia juga murah loh ya. Flying fox 20k, pake starkit paintball 35k, dan untuk menyewa odah rehat dikenakan biaya 350k permalam untuk 2 orang + sarapan pagi.
Arena Paintball
Ohya, ternyata tempat ini punya nama asli lho, namanya adalah Ladang Budaya Lanjong, tempat ini dikelola oleh Yayasan Lanjong Kutai Kartanegara yang berdiri pada januari 2002. Lanjong sendiri berarti wadah. Semacam alat yang terbuat dari anyaman rotan tersebut biasa dipakai oleh masyarakat tradisional sekitar untuk membawa hasil panen dari ladang atau keperluan lain.
 
Selengkapnya bisa surfing di http://www.lanjongartfoundation.org.
Njosss tenan untuk Kukar!!!
Lawa.



Sumber-sumber informasi

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...