Wednesday, February 22, 2017

Pengenalan Teknik Produksi

Setelah beberapa waktu yang lalu kita sudah membahas tentang pengenalan teknik pemboran dan sistem-sistem yang ada pada operasi pemboran, kali ini insya Allah kita akan bahas mengenai Teknik Produksi minyak. Tulisan ini merupakan salinan dari praktikum peragaan Teknik Produksi yang merupakan salah satu mata kuliah yang saya pelajari dulu di teknik perminyakan UPN Jogja.

Teknik Produksi Migas, via syawal88.wordpress.com

Tahap operasi produksi dimulai apabila sumur telah selesai dikomplesi (Well Completion), dimana tipe komplesi yang akan digunakan tergantung pada karakteristik dan konfigurasi antara formasi produktif dengan formasi diatas maupun dibawahnya, tekanan formasi, jenis fluida dan metoda produksi.

Metoda produksi yang selama ini dikenal, meliputi metoda sembur alami (Flowing Well / Natural Flow) dan metoda pengangkatan / sembur buatan (Artificial Lift). Metoda sembur alami diterapkan apabila tenaga alami reservoir masih mampu mendorong fluida produksi keatas permukaan, sedangkan metoda pengangkatan buatan diterapkan apabila tenaga alami reservoir sudah tidak mampu lagi mendorong fluida produksi keatas permukaan maupun untuk maksud-maksud peningkatan produksi.

Setelah fluida produksi sampai permukaan, fluida tersebut dialirkan menuju Block Station melalui pipa-pipa alir (Flowline) untuk dilakukan pemisahan antara air, minyak dan gas. Gas hasil pemisahan, selain dapat langsung dimanfaatkan untuk industri dapat pula digunakan untuk injeksi gas lift ataupun pressure maintenance. Sedangkan minyak bumi mentah (Crude Oil) umumnya ditampung terlebih dahulu dipusat pengumpulan minyak sebelum dikirim menuju pengilangan atau terminal untuk dikapalkan.

Untuk operasi produksi lepas pantai, diperlukan fasilitas produksi lepas pantai berupa anjungan produksi (Production Platform) untuk menempatkan peralatan produksi seperti kepala sumur (Well-Head), silang sembur (X-mas Tree) sampai fasilitas pemisahan (Satellite) : Floating Tanker untuk menampung crude oil serta pengapalan. Di beberapa tempat dijumpai pula bahwa x-mas tree, manifold dan tangki pengumpul tidak ditempatkan diatas anjungan tetapi ditempatkan pada dasar laut.

Untuk operasi lapangan panas bumi (Geothermal) secara prinsip tidak jauh berbeda dengan operasi lapangan minyak dan gas bumi. Akan dijumpai perbedaan khususnya pada pengendalian uap akibat tekanan yang cukup tinggi dan adanya amplitudo yang cukup besar antara suhu uap dan suhu permukaan bumi, sistem pemisahan dan pemanfaatan energi. 
Sama halnya seperti pemboran dahulu, kali ini akan saya jelaskan perbab / persistem (sesuai dengan bab di praktikum), dan akan saya posting secara berkala. Namun mohon maaf apabila nantinya terdapat banyak kekeliruan, silahkan "revisi" dengan berkomentar di bawah. Semoga bermanfaat.

Tuesday, February 21, 2017

Wisata Batu Madu, Objek Wisata yang Tengah Naik Daun di Natuna

Sebenarnya cerita ini sudah hampir 8 bulan yang lalu saat libur lebaran, kami sekeluarga rekreasi ke komplek wisata Batu Madu di Kecamatan Bunguran Selatan. Seperti sebuah tradisi di sini, saat lebaran idul fitri hari ke 3 atau hari ke 4, masyakaratnya pergi rekreasi. Ya mungkin untuk me-refresh-kan fikiran sebelum masuk kerja esok hari nya, dan tentu saja sambil silaturahim dengan kerabat yang ditemui di tempat rekreasi di sana. Sambil melepas lelah, sambil menambah pahala dengan silaturahim (insya Allah). Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya (disini), komplek wisata Batu Batu terletak di Batu Bayan, kelurahan Cemaga Tengah, Kecamatan Bunguran Selatan, masih di satu Pulau Bunguran Besar di Natuna. Dari pusat kota Ranai menempuh waktu kurang lebih 20an menit saja dengan kecepatan rata-rata lebih dikit.

Kawasan Wisata Batu Madu
Nama Wisata Batu Madu ini di ambil dari nama “pulau” batu yang ada tak jauh dari pantai, namanya Batu Madu. Kenapa disebut dengan Batu Madu? Karena dulu di tumpukan-tumpukan batu granit yang indah ini terdapat sarang madu, agak aneh memang, yang biasanya madu atau lebah bersarang di dahan pohon di hutan, ini malah bersarang di batu, di tengah laut pula (belum tau ni spesies madu apa, hhe). Meski sekarang madu nya sudah tidak ada lagi, namun bekas sarangnya masih bisa terlihat.
Bekas Sarang Madu
Diakhir pekan saat hari biasa, tempat ini ramai dikunjungi, apalagi saat libur lebaran ini, sepertinya bakal penuh. Wisata Batu Madu menawarkan pantai yang indah, dengan ombak yang tenang serta angin yang sepoi-sepoi, pemandangan jadi lebih indah ditambah dengan dua “pulau” batu di depannya, Batu Kuoun dan Batu Madu. Lalu terdapat juga Pulau Kemudi yang terletak agak jauh dari pantai, namun tetap indah terlihat. Objek wisata ini juga menawarkan berbagai fasilitas untuk memanjakan rekreasi kita. 
Sepeda air.
Sepeda air
Ada penyewaan pelampung untuk berenang, air laut nya tenang dengan ombak-ombak kecil, tidak berarus kuat, sangat aman untuk anak-anak kecil yang berenang, meski harus tetap dalam pengawasan. Juga ada penyewaan tikar untuk alas duduk (semacam piknik ala-ala barat gitu). Lalu ada juga penyewaan perahu “sampan kulek” dan rakit bagi anda yang ingin ke Batu Madu dan Batu Kuoun tanpa ingin basah. Dan yang terbaru, ada sepeda air, asyik loo, coba deh. Di objek wisata ini juga terdapat sungai kecil yang bermuara dekat dengan batu Kuoun, selanjutnya mungkin akan dikembangkan wisata sungai atau wisata mangrove disini. Kita lihat saja nanti ya.

Batu Madu
Fasilitas lain adalah adanya lapangan voli bagi kamu kamu yang senang olahraga, juga ada mushala bagi wisatawan muslim, toilet dan tempat bilas juga disediakan untuk membersihkan diri setelah berenang di laut. Memasuki area wisata ini tidak dipungut biaya alias gratis, namun parkir lah kendaraan yang rapi. Peraturan lainnya adalah jauhi pohon kelapa karena buahnya bisa jatuh dan menimpa anda, dan jangan sekali-kali membawa minuman beralkohol serta obat-obat terlarang dan hal-hal lain yang melanggar peraturan serta syariat, bisa didenda nanti looo. Silahkan membawa bekal dari rumah. Namun jika tidak membawa bekal, jangan khawatir, Batu Madu juga menyediakan berbagai kuliner minuman dan makanan khas Natuna untuk mengatasi masalah keroncongan perut kamu.
Usah nyacak sambah weii
Dilarang maboook
Kami pergi agak pagi, untuk menghindari ramainya pengunjung, meski sudah “booking” tempat dulu, Hhe. Ohya, Batu Madu ini dikelola oleh swasta, saudara ane ni (saudara seiman), keluarga pak Usman namanya. Anaknya Eka, teman ane, jadi insya Allah gampang aja urusan. Saat kami sampai, sudah ada beberapa pengunjung yang datang. Dan Alhamdulillah, semesta mendukung refreshing kami kali ini. Langit biru dan cerah, air pasang sedang, angin juga menyapa dengan manja nya.
Kawasan Wisata Batu Madu, diambil dari atas batu Kuoun
Pulau Batu Kuoun
Kesempatan ini tak datang dua kali sepertinya, langsung aja ane dan adik serta ditemani Eka, yang punya, pergi ke Batu Kuoun untuk mengambil beberapa gambar, juga ane penasaran dengan bentuk di belakang batu Kuoun yang menyerupai ………….. hmmmm liat gambar aja deh nanti ya, hhe. Nanti insya Allah aka nada postingan sendiri mengenai sejarah atau cerita rakyat mengenai Batu Kuoun ini. Meski air pasang, perjalanan ke Batu Kuoun tidak perlu memakai rakit, jarak yang dekat membuat air pasangpun hanya berkisar selutut orang dewasa ganteng seperti ane ni. 
Batu Kuoun, hayo mirip apa hayo???
Pemandangan dari atas Batu Kuoun juga saat indah, bebatuan granit yang terhampar di laut seakan tersusun membentuk pola, pola alam, gunung Ranai di sebelah utara jauh juga terlihat gagahnya dari sini, pulau Kemudi dan Pulau Jantai seperti tepar pesona minta diperhatikan, luar biasa indah, alamku.  
Dari atas batu Kuoun
Numpang narsis bentar
Setelah dari Batu Kuoun, kami pergi ke Batu Madu. Itu tadi yang ane bilang semesta mendukung, alam “membuat” jalan ke Batu Madu sangat indah, pasir-pasir laut “muncul” menuntun jalan kami kesana. Batu Madu merupakan tumpukan-tumpukan batuan granit yang besar, meski tak sebesar Batu Kuoun. Dan memang, bekas sarang Madu atau lebah masih bisa dilihat di Batu ini. Juga yang tak kalah menariknya, goresan-goresan yang terpahat secara alami di Batu Madu ini membentuk lafadz Allah, masha Allah, luar biasa.
Batu Madu : Lafadz Allah

"Yaa Rabb, sungguh indah ciptaan_Mu, bantu kami menjaganya."
Hari sudah beranjak sore, pengunjung pun makin ramai memadati objek wisata ini. Kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah. Letih setelah puas-puas bermain dan mengambil beberapa gambar, ponakan ane juga dengan girangnya berenang di laut tadi, dan saya juga akan mempersiapkan diri untuk kembali merantau, mencari arti hidup dan jodoh, cieeeh. See ya.

Monday, February 20, 2017

Hal Greget Ini Hanya Dirasakan Oleh Kamu yang Pernah Jadi Mahasiswa UPN Jogja



"Mahasiswa UPN Veteran,
bersatu padu bernaung di bawah panji,

Menjunjung tinggi sumpah setia,
patuh setia pada negara.."

Masih ingat dengan potongan lirik tersebut? Itu merupakan mars mahasiswa UPN "Veteran" Yogyakarta. Kampus yang terletak di jalan lingkar Utara dan daerah Babarsari Jogja ini memiliki belasan jurusan dengan ribuan mahasiswanya. Kampus yang sering berganti nama dan status ini mempunyai slogan disiplin, kejuangan dan kreativitas. Sebuah slogan penuh “arti dan makna” bila kamu merupakan alumninya. Layaknya kampus-kampus lain, UPN Jogja ini menyimpan berbagai cerita unik bagi para mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan kuliah disana.
Siap-siap nostalgia ya. Kuy ah.

1. Saat PKK, Peserta dan Panitianya Mempunyai Sebutan-sebutan Unik.
PKK tjoyy, via dpm-km-upnyk.blogspot.co.id
PKK (Pengenalan Kehidupan Kampus) di UPN Jogja merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM KM (Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa) UPN "Veteran" Yogyakarta bagi para mahasiswa baru (maba). Acara ini biasanya berlangsung 3 sampai 4 hari. PKK ini bertujuan untuk mengenalkan UPN Jogja secara umum. Saat PKK, para maba disebut dengan Kopral, ketua PKK nya disebut dengan Panglima, koordinator tim P3K nya disebut dengan Jenderal Kesehatan. Unik kan ya? Ya karena mungkin dulunya UPN ini berada dibawah Departemen Pertahanan, jadi nya rada-rada militer gitu ya kan. Lambangnya aja ada Topi Baja. Sesuai lah ya. :D

2. Ketemu Banyak Kenalan Dari Berbagai Kalangan
Berbagai asal muasal, via perpus.upnyk.ac.id 
Namanya Jogja kota pelajar, dan itu juga berlaku di UPN Jogja. Kamu bakal ketemu banyak kenalan, dari Sabang sampai Merauke, bahkan negara-negara tetangga juga ada seperti Malaysia dan Timor Leste. Seakan tak peduli darimana asalmu, suku, dan agama. Kamu berkenalan dengan mereka dan mempunyai rasa yang satu : Mahasiswa UPN Jogja.

3. Puluhdadi, Seturan, Mancasan, Condongcatur, serta sebagian Babarsari merupakan Markas Pusat Bagi Anak-anak UPN
Gerbang Kampung Puluhdadi
Yap, daerah itu merupakan basis terkuat bagi mahasiswa/i yang kuliah di UPN, selain dekat dengan kampus, di sekitar tempat tersebut juga banyak tersedia sarana pendukung hidup bagi para mahasiswa. Tempat nongkrong? kita punya Go*boex Café, dan puluhan café di sepanjang jalan Wahid Hasyim, jl Seturan, Perumnas, Babarsari. Futsal, ada Telaga Futsal, Pele Futsal dan Gaol Futsal. Tempat les ada EME, Babe, See. Warnet? Ada tempat legend SATR*A NET. Laundry? Gak bisa dihitung lagi. Mau shoping dengan budget minim? Tenang, ada OB (Outlet B*ru). Minimarket? Ada Beta, Mirota Kampus Babarsari, Superindo dan Citrouli yang buka 24 jam. Dan beberapa fasilitas pendukung lainnya yang siap membantumu menjalani hidup sebagai mahasiswa.

4. Kuliah Pertama yang Mengesankan Hingga Rela Bangun Pagi Untuk Ikut Kuliah Olahraga
Olahraga dulu tjoy, biar sehat
Namanya juga mahasiswa baru, kuliah pasti hal yang sangat ditunggu-tunggu. Suasana baru, teman baru, lingkungan baru. Bagi yang sungguh-sungguh ingin kuliah, hari pertama merupakan hari yang sangat bersejarah, bahkan ada yang masih ingat mungkin tanggal pertama kuliah (ane sih masih, 7 september), mata kuliah sampe dosennya. Nah, yang unik di UPN ini adalah mata kuliah olahraganya ni. Jam nya selalu pagi, 6.30 dan 7.30, sebuah ujian yang sangat berat bagi mereka yang mengalami kesulitan bangun pagi. Dan, mata kuliah ini adanya didua semester awal. Emang sih Cuma 1 SKS, tapi kalau ngulang kan rasanya gimanaaa gitu. :D

5. Wimaya : ILMU ke-UPN-an, dan Outbond “Topi Baja”
Outbond dulu lah, sambil narsis, via wimayaupn.blogspot.co.id
Wimaya merupakan mata kuliah WAJIB bagi mahasiswa UPN Jogja. Layaknya kampus Muhammadiyah yang ada pelajaran ke-muhammadiyahan-nya. Nah UPN juga punya khasnya yaitu wimaya itu. Wimaya merupakan singkatan dari widya mwat yasa yang berarti belajar untuk membangun, juga berarti sesungguhnya adalah menuntut ilmu yang digunakan untuk mengabdi sebesar-besarnya kepada bangsa dan negara dengan hati yang suci dan bersih. Kaya dasar-dasar UPN gitu, Pancasila nya deh, boleh dibilang seperti itu, meski matkul Pancasila dan Kewarganegaraan juga ada. Nasionalis banget kan anak-anak UPN? Dan, sebagai salah satu syarat untuk keluarnya nilai matkul ini ada ikut outbond yang dibuat oleh kampus sendiri, dengan pembimbingnya dosen dan senior-senior yang tergabung dalam UKM Resimen Mahasiswa Kalimasada. Outbond nya gabung dengan seluruh jurusan, nah lumayankan sambil nyari-nyari calon.

6. Gak Hanya Melulu Belajar, UPN Jogja Punya Puluhan UKM yang Siap Memfasilitasi Bakat Terpendam Kamu.
UKM KSR PMI UPN
Saya banyak mendapat wejangan, bahwa kuliah saja tidak lah cukup untuk menatap masa depan, IPK tinggi tidak menjamin jika ilmu-ilmu tambahan diluar pelajaran tidak kita kuasai. Kita harus punya skill lain yang membuat kita berbeda, harus kembangkan bakat yang kita punya. Sarjana plus plus istilah lainnya. Oleh karena itu, kita membutuhkan wadah tersebut untuk mengimbangi antara belajar dan menyalurkan bakat bukan? Nah kampus UPN Jogja ini memiliki puluhan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang siap memfasilitasi bakat terpendam kamu. Bakatmu di seni? Kita punya UKM Seni, Marching Band, Paduan Suara yang prestasinya udah kemana-mana. Pengen jadi tentara tapi gak kesampaian? Ada Resimen Mahasiswa yang siap jadi tumpuan. Kegiatan sosial, kemanusiaan, kesehatan? UKM KSR PMI siap nampung kamu gaes. Suka dengan alam? Jelas, Mapala tempatnya. Olahraga? Yah UPN Jogja ahlinya tjoy. Mau seimbangkan antara dunia dan akhirat? UPN Jogja juga punya UKM-UKM Kerohanian. Komplit-plit-plit kaya nasi goreng special. Nah itu baru UKM, belum lagi lembaga-lembaga yang tersebar di kampus, tingkat fakultas dan jurusan. Ajiiiib banget kan?

7. Bagi yang Dikaruniai Sedikit Keahlian, nyambi Jadi Asdos dan Asleb leh uga tuch..
Asisten Laboratorium
Nah bagi kamu yang merasa punya sedikit kelebihan pada bagian otak, alias cerdas dikit gitu dan sedikit hoki. Bisa tu jadi asisten dosen di kampus, atau paling tidak jadi asisten laboratoriumnya deh. Nanti kamu bakal diajak untuk ikut serta dalam kegiatan dan ngerjain proyek-proyek yang dimiliki oleh dosen tersebut bersama dengan timnya. Banyak banget benefitnya kan, pengalaman dapet, ilmu apalagi, dan aji mumpung dapat sangu kan kalo yang dikerjakan dapat untung besar. Lumayan nambah uang jajan untuk beli paket internet. Hati-hati keenakan, banyak temen-temen yang kadang ada yang lupa sama skirpsi gara-gara ikut ini. Hahaii

8. Untuk yang di Kampus 1, Ketika Perut Lapar Namun Waktu Mepet, Kamu Bakal Tau RM Padang yang Hits dan Eksis Itu.
RM "legend", via foody.id
Saat siang, perut sudah minta hak nya. Namun waktu mu mepet karena setelah istirahat bakal ada jam kuliah lagi, sementara lidahmu kangen dengan masakan padang. Nah kamu tau harus kemana : RM Chani*go lah tempatnya. Mahasiswa yang kuliahnya di kampus 1 bakal tau RM yang hits ini. Letaknya di pojok, di selatan kampus, diseberang koperasi pegawai UPN. Kalau siang warung ini selalu ramai dikunjungi. RM Padang ini masih eksis dari sebelum ane kuliah, hingga sekarang ni. Menu makanannya boleh dibilang lengkap, dan rasanya yang cocok banget sama lidah anak Sumatera, ownernya asli Minang sepertinya, namun karena karyawannya banyak yang bukan minang, jadi citarasanya bercampur gitu yang bikin RM ini disukai banyak kalangan, alhasil banyak yang suka makan ditempat ini, murah lagi. Jogja gitu lo. Gak hanya mahasiswa kampus 1, mahasiswa yang kuliah di kampus 2 UPN yang di Babarsari juga sering makan disini, legend kan. :D

9. Ketika Saat Ujian Semakin Dekat, Ada Fotokopi-fotokopi Legend yang Bakal rame Didatangi.
Fotokopi *ilustrasi, via buletinpeluangusaha.blogspot.com
Mahasiswa-mahsiswa angkatan lawas yang kuliahnya di Kampus 1 wilayah timur mesti tau ni. Fotokopi YO*I dan PU*RA ROSYADI, ya to? Ngaku aja siapa yang sering fotokopi kerpean dalam ukuran kecil di tempat ini? (sssttt adegan untuk tidak ditiru!) Wkwkwk. Ya, fotokopi ini kerap dikunjungi oleh mahasiswa terutama jurusan di FTM, TeKim, dan FaPerta. Selain mendukung keperluan ATK bagi mahasiswa, disini juga banyak menyimpan arsip-arsip diktat kuliah. Dan yang paling penting ya itu tadi, ngopi kerpean. Hehehe. Maafkeun kecurangan kami dahulu, yaa Rabb. Dan sekarang kedua fotokopi tersebut sudah tidak ada lagi, mereka sudah berpindah tempat yang sulit dijangkau oleh mahasiswa UPN kalau lagi kepepet. Jadi angkatan dua ribu belasan keatas, gak bakal tau ni gimana legend nya tempat ini.

10. Moment Wisuda Merupakan MOMENT SAKRAL Bagi Mahasiswa UPN
Raja sehari, via youtube.com
Yah, hampir semua mahasiswa menginginkan wisuda bukan? Nah moment wisuda seperti yang kita ketahui merupakan moment yang sakral bagi mahasiswa. Selain menandakan bahwa kita telah selesai mengenyam bangku perkuliahan, wisuda juga merupakan moment pembuktian kepada orang tua kita di rumah akan amanah yang telah diberikan kepada kita kita selama beberapa tahun itu. Memakai jubah kebesaran serta toga merupakan hal yang paling diidam-idamkan. Membuat orang tua bangga, juga calon mertua, tersenyum haru, doa-doa yang selama ini dipanjatkan kepada Tuhan, salah satu nya terwujud hari itu. Nah UPN Jogja punya cara sendiri bagaimana cara menghormati para wisudawan, terlebih jurusan-jurusan teknik. Para wisudawan/ti akan diarak oleh junior mereka dari gedung jurusan hingga auditorium tempat acara berlangsung. Ketika prosesi selesai, dan saat keluar dari auditorium pun kita masih akan disambut oleh mereka. Di nyanyikan mars-mars jurusan yang sering dinyanyikan saat maba dulu, diberi bunga, dan lain sebagainya. Yah kalau pengantin mendapat istilah raja sehari, wisudawan di UPN boleh lah dibilang menjadi Raja dan Ratu 6 jam. Euforianya hanya berlangsung selama itu. Meskipun setelah itu mendapat gelar baru : Alumni dan Pengangguran.


Gimana gaes, udah kebayang lagi kisah-kisah lalu di UPN Jogja? Kalau dibuat satu buku mungkin bisa setebal kamus ya? Karena ada banyak cerita yang terjadi disini. Dan ingat, sejauh apapun kita pergi UPN Jogja pernah mewarnai lika liku hidup hingga mengantar kita seperti sekarang ini, jasmerah! dan jangan melupakan almamater, ah. :')

Salam wimaya. Salam Energi, Salam Bela Negara!

Friday, February 10, 2017

Sejarah Perminyakan di Balikpapan : Sumur Mathilda dan Hari Jadi Kota Balikpapan

Memiliki julukan sebagai Kota Minyak ternyata mengandung makna dan sejarah yang mendalam bagi Kota Balikpapan. Bahkan hari jadi Kota bermaskot Beruang Madu yang diperingati tiap tanggal 10 Februari ini juga memiliki kaitan erat dengan proses perkembangan perminyakan di Bumi Manuntung ini. Balikpapan yang merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur ini bisa dikategorikan sebagai daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia, bahkan salah satu tempat pengelolaan minyak (refinery unit) milik Pertamina dibangun disini, dan akan dikembangkan lagi luas serta kapasitasnya.

Sejarah Balikpapan sebagai kota minyak berawal saat zaman Kolonial Belanda. Pada Agustus 1860, Departemen Pertambangan Kerajaan Belanda mengirim Jacobus Hubertus Menten ke Kalimantan Timur. J.H. Menten, lulusan teknik pertambangan Akademi Delft ini mendapat tugas berburu batubara. Perburuannya pun berhasil. Menten menemukan batubara berkualitas baik di sekitar Delta Mahakam, Kutai dan sekitarnya. Ia pun berhasil menjalin hubungan baik dengan Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman. Menten lalu diangkat menjadi manajer perusahaan batubara Kerajaan Belanda pada 1862. Setelah beberapa penugasan di Bangka dan Bogor, Menten mengundurkan diri dari Departemen Pertambangan pada 1882. Awal Desember di tahun yang sama, ia mendapatkan konsesi tambang batubara dari Sultan Kutai. Pada 1888, Menten menyerahkan konsesi ini kepada Steenkolen Maatschappij Oost Borneo (SMOB). 

Pada masa itu Menten sadar potensi minyak di wilayah Kalimantan Timur. Ia sempat mengundang kawannya, Sultan Aji Muhammad Sulaiman melihat rembesan minyak bumi di wilayahnya. Tak butuh waktu lama, Sultan Aji Muhammad Sulaiman memberi konsesi pada Menten pada 29 Agustus 1888. Menten mendapat konsesi eksploitasi minyak bumi meliputi hampir seluruh wilayah Kutai. Sementara Pemerintah Belanda baru menyetujui konsesi Louise pada 30 Juni 1891.

Sayangnya Menten tak memiliki modal. Para pemodal di Eropa, termasuk Kerajaan Belanda tak berminat memodali proyek nekad Menten mengeksplorasi minyak di Kalimantan. Untungnya Sultan Kutai memperpanjang izin eksplorasi hingga akhir 1897. Beruntung pada September 1895 Menten bertemu Sir Marcus Samuel dari Shell Transport and Trading Ltd yang bermarkas di London. Sir Marcus siap mempertaruhkan modal demi mencoba peruntungan di Kalimantan Timur. 
J.H. Menten and Marcus Samuel, via handryjonathan.blogspot.com
Menten memulai perburuan minyaknya di wilayah konsesi Louise. Wilayah ini berada di rawa-rawa (swamps) Delta Mahakam, dekat Sungai Sanga-sanga (anak Sungai Mahakam). Meski kesulitan terus merundung, Menten berhasil mendapatkan minyak komersil pada kedalaman 150 kaki di Sangasanga pada tanggal 5 Februari 1897. Minyak mentah (crude) yang mereka dapat ini memang tidak cocok untuk lampu. Namun, Samuel mengetahuinya sebagai sumber untuk bahan bakar mesin. Di waktu yang sama, Menten mencari lokasi yang tepat sebagai tempat pengolahan (refinery) minyak sekaligus pelabuhan. Dan ia menemukan lahan cocok di Teluk Balikpapan (Balikpapan Bay). Tanah luas di kelilingi hutan tropis dan vegetasi pesisir, serta laut yang dalam.

Saat survei, tanpa sengaja tim Menten melihat rembesan minyak saat di sekitar Tandjung Toekoeng, Balikpapan.
Menten segera mengajukan izin perburuan minyak di daerah konsesi Mathilde. Lokasi tersebut terletak di sisi timur kota Balikpapan, tepatnya di kaki gunung Komendur di sisi timur Teluk Balikpapan (di dekat Pelabuhan Semayang sekarang) -map- Sumur pemboran pertama yang dilakukan pada tanggal 10 Februari 1897 ini diberi nama dengan nama Sumur Mathilda. Hanya terpaut 38 tahun dari pengeboran sumur minyak pertama di dunia oleh Edwin L Drake di Amerika atau sekitar 13 tahun setelah explorasi sumur minyak pertama di Indonesia (sumur Telaga Said di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara).
Sumur Minyak Pertama Balikpapan, via muyhufe.wordpress.com
Sumur Mathilda memiliki kedalaman hingga 222 meter dengan produksi awal sekitar 184 barrel. Keberhasilan explorasi sumur Mathilda ini memancing eksplorasi sumur-sumur minyak di area konsesi sekitarnya, hingga akhirnya memiliki total sembilan sumur yang produktif pada masa itu. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 15 April 1898, Menten dan Samuel Marcus mendirikan perusahaan bernama Nedelandsch Indisch Indusrie en Handel Maatschappij (NIIHM) setelah mendapat modal dari Shell. Dilanjutkan dengan mulai melakukan pengeboran di konsesi Mathilde dan menemukan minyak pada kedalaman 180 m. Pada tahun 1898 produksi tahunan NIIHM mencapai 32,618 barrel minyak mentah yang berasal dari konsesi Louise dan Mathilde.
 
Pencarian J.H. Menten selama belasan tahun dan rekannya Mr. Samuel akhirnya berbuah manis. Di Balikpapan, Menten tak hanya mendapat pelabuhan, tetapi juga sumber minyak baru. Di sepanjang 1898, Menten mendatangkan pekerja pengeboran dan pengolahan ke Balikpapan. Kapal uap serta kapal layar pengangkut material dan peralatan pengeboran akhirnya merapat di Balikpapan. Pada 20 Agustus 1898 untuk pertama kali kapal tanker "Sabine Rickmers" milik Shell berlayar mengirimkan minyak mentah dari Kalimantan Timur menuju penyimpanan di Singapura. Disusul pengiriman langsung ke London dengan kapal uap Broadmain.  

Banyaknya sumur-sumur minyak yang produktif di konsesi Mathilda serta penemuan-penemuan minyak baru di konsesi Louise dan Nonny (Sangasanga) membuat pemerintah Belanda membangun tempat instalasi penyulingan minyak di Balikpapan pada tahun 1900. Belanda juga membangun fasilitas-fasilitas pendukung seperti perumahan, sekolah, rumah sakit, sarana olahraga dan sarana hiburan. Dengan selesai dibangunnya kilang minyak di kota Balikpapan pada tahun 1922, menjadikan kota Balikpapan sebagai pusat penyulingan minyak mentah di wilayah Kalimantan Tenggara (dengan lahan konsesi Mathilde, Nonny dan Lousie). Pada masa itu, baik minyak yang telah diolah maupun minyak mentah mampu memberikan kontribusi rata-rata lebih dari 50% dari nilai ekspor bagi Kalimantan Tenggara. Dalam kelanjutannya, kedudukan NIIHM digantikan oleh BPM.

Tahun 1903 merupakan akhir cerita dari sumur Mathilda. Setelah beroperasi selama kurang lebih 6 tahun dengan total kumulatif 68.375 barrel, sumur Mathilda ini ditutup. Saya belum temukan mengapa sumur ini ditutup, apakah karena cadangan dan tekanannya yang tak mampu lagi mengalirkan minyak keluar (natural flow) atau ada alasan lain mengenai sebab penutupannya. Namun sumur-sumur di area konsesi Mathilda yang lain masih beroperasi dan mengeluarkan banyak minyak.
Kilang Balikpapan, via wikipedia
BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) adalah anak perusahaan dari Royal Dutch Shell, perusahaan yang juga mengelola sumur-sumur minyak di Pangkalan Brandan. Pekerjaan BPM di Indonesia hanya mengebor. Penjualannya dilakukan perusahaan Inggris Shell. Sementara pengangkutannya oleh Anglo Saxon Oil Coy, yang mempunyai kapal tangker untuk diangkut ke negara-negara yang membutuhkan minyak. Dengan demikian, dari dulu memang industri minyak bumi ini melibatkan banyak perusahaan dan pihak. Pada tahun 1912 BPM memperoleh konsesi baru di wilayah Balikpapan yaitu Konsesi Batakan, Konsesi Manggar, Konsesi Manggar II dan Konsesi Teritip. Penambahan tersebut membuat BPM menguasi hampir seluruh kota Balikpapan dan memiliki wewenang dalam mengatur pola pembangunan infrastruktur fisik kota Balikpapan seperti wilayah pemukiman, ruas jalan, jalur pipa minyak, dan jalur komunikasi. Pengaturan tersebut pada dasarnya ditujukan untuk mendukung kepentingan pengembangan industri minyak di area teluk Balikpapan. Hal ini juga berdampak dalam pembentukan tatanan awal fisik dari Kota Balikpapan.
Kilang Minyak Balikpapan tahun 1930, via muyhufe.wordpress.com
Keberhasilan sumur-sumur minyak di Balikpapan ternyata sampai ketelinga para penguasa dunia. Hingga menjadi rebutan para penjajah. Hingga saat terjadi perang Pasifik, sumur-sumur ini merupakan salah satu target untuk dikuasai. Beberapa sumur minyak dihancurkan oleh Belanda agar tidak ada satu pihakpun yang dapat menikmatinya. Perang pasifik juga menyebabkan banyak sumur, tangki-tangki kilang dan fasilitas-fasilitasnya rusak parah. Tercatat, infrastruktur  BPM di Balikpapan dua kali di bumihanguskan. Pertama oleh pihak Belanda sendiri sebelum diduduki Jepang dan yang kedua oleh  pihak tentara Jepang.

Selama Perang Dunia II (tahun 1942-1945), kota Balikpapan dikuasai oleh pasukan tentara Jepang. Mereka membutuhkan sumber daya bahan bakar minyak untuk kendaraan lapis baja, pesawat tempur hingga lampu. Penyerangan ke Balikpapan setelah mereka berhasil menguasai Tarakan. Tetapi menguasai Tarakan menjadi tidak berguna karena kilang minyak di Tarakan sudah dihancurkan oleh Belanda pada saat itu. Ketika tentara Jepang menyerang Balikpapan pada 20 Januari 1942, kilang minyak dan Pelabuhan Balikpapan tetap utuh dan tidak di hancurkan seluruhnya karena pimpinan Jepang memberikan ultimatum akan membunuh semua tentara dan warga Belanda yang ditemukan di Tarakan dan Balikpapan. Masa penjajahan Jepang di Balikpapan tidak berlangsung lama. Perang Dunia ke II kemudian meletus.
Kantor Kilang Minyak, via muyhufe.wordpress.com
Tentara Sekutu yang terdiri dari angkatan Bersenjata Divisi 7 Australia dipimpin oleh Letnan Kolonel Edward Robson berusaha merebut kembali pelabuhan Balikpapan. Karena dari kacamata ekonomi, kilang minyak memiliki nilai strategis. Serangan tentara Sekutu berlangsung sejak 25 juni sampai 15 juli 1945. Untuk mematahkan pertahanan tentara Jepang, pihak tentara Sekutu melancarkan serangan udara. Skwadron angkatan udara Sekutu mengepung angkasa Balikpapan. Pesawat bomber menjatuhkan ratusan Bom dari angkasa sehingga menghancurkan fasilitas vital. Akibat serangan udara pasukan Sekutu itu, Kilang minyak dan pelabuhan Balikpapan mengalami kerusakan sangat parah. Tentara Jepang akhirnya mundur. Hingga akhirnya tanggal 21 Juli 1945 Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu di Balikpapan. 

Proklamasi kemerdekaan akhirnya berkumandang di Jakarta tgl 17 Agustus 1945. Namun karena minimnya sarana komunikasi, kabar proklamasi ini telat diketahui oleh masyarakat Balikpapan. Baru pada sekitar bulan november 1945, kabar proklamasi kemerdekaan ini sampai di Balikpapan. Namun, tidak serta merta hal tersebut membuat Balikpapan bebas dari penjajah. Belanda yang membonceng sekutu Australia waktu itu ingin menjajah Balikpapan kembali. Saat itu Balikpapan memang dalam status quo. Artinya belum masuk ke wilayah NKRI. Berbagai pertempuran pecah di Balikpapan antara kaum pejuang pribumi dan tentara Belanda.
Perang Balikpapan, via klikbalikpapan.co
Sekitar 1945-1946 pekerja BPM yang datang dari Jawa dalam rangka rehabilitasi Kilang Minyak yang hancur akibat perang yang dilanjutkan dengan pernyataan rakyat di Lapangan FONI. Namun karena Belanda berniat menguasai kembali kota ini, secara spontan, masyarakat menentang rencana BPM. Maka terjadi peperangan yang berlanjut sampai pada pertempuran Sangatta. Perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan. Dengan pertempuran dan perundingan-perundingan. Hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949, Balikpapan resmi masuk ke dalam Republik Indonesia. 

Pada tahun 1949 Pelabuhan Balikpapan diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Republik Indonesia. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah membenahi pelabuhan Balikpapan dan membangun kembali kilang minyak pada tahun 1950. Pembangunan dan penambahan fasilitas dermaga, fasilitas gudang dan peralatan pelabuhan dilakukan pemerintah guna menunjang pembangunan Kilang. Hingga tahun 1951, 50 buah tangki penyimpanan selesai dibangun. Daya penyimpanannya berjumlah sekitar 400.000 meter kubik. Cukup besar meski tidak sebesar 1.000.000 meter kubik seperti  sesaat sebelum perang. Sebagian terbesar dari jembatan pipa yang rusak digantikan ponton sebagai sarana transportasi pengganti dan sebagian lagi bisa diperbaiki. 

Sejak tahun 1890 sampai 1950, kota Balikpapan menjadi kota minyak yang awalnya merupakan kota tambang. Hal tersebut cukup beralasan, karena hasil produksi di wilayah tersebut terus megalami peningkatan secara bertahap. Sumur-sumur Mathilda kala itu mampu memproduksi minyak mentah dalam jumlah yang cukup besar, yang mencapai 620,895 barrel. Inilah yang menjadi cikal bakal era industri di kota Balikapapan dan mulailah berdatangan pada pekerja ke kota tersebut. Saat itu para pekerja sebagian besar bermukin di desa Jumpi (Kampung Baru) dan desa Tukung (Klandasan). Hasil produksi semula yang pada saat itu hanya menggunakan tiga kilang berjumlah 10.000 barrel perhari, kemudian 40.000, 50.000 hingga mencapai 60.000 barrel per hari dengan bertambahnya jumlah kilang.
Monumen Sumur Mathilda, via situsbudaya.id
Revolusi besar terjadi pada tahun 1982 karena adanya pengembangan dan penambahan jumlah kilang sehingga meningkatkan jumlah produksi hingga mencapai 260.000 barrel per hari. Saat ini hasil produksi kilang minyak Balikpapan mencapai 86 juta barrel setiap tahunnya dan kemungkinan besar kedepannya akan terus mengalami peningkatan mengingat kebutuhan akan bahan bakar dalam negeri terus mengalami peningkatan. Sumur minyak Mathilda saat ini telah dijadikan monumen dan dapat ditemui di pintu masuk jalan minyak. Tanggal pertama pengeboran explorasi yakni pada tanggal 10 Februari 1897 pun ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan.
Kilang Minyak Balikpapan sekarang, via klikbalikpapan.co
Minyak bumi dari Balikpapan cukup dikenal oleh para pedagang jauh sebelum penemuan sumur minyak di Sanga-Sanga. Para pedagang yang datang ke kota ini tidak hanya menjajakan dagangannya, namun mereka juga mencari minyak tanah (saat itu disebut dengan "lantung"), memang pada saat itu minyak tanah merupakan salah satu produk hasil olahan minyak bumi yang sangat diminati oleh masyarakat. 

Seiring perkembangan waktu. Kilang minyak di Balikpapan mengalami perkembangan yang pesat. Kilang minyak Balikpapan saat ini mengolah minyak mentah dari berbagai negara, seperti dari Nigeria, Iraq, Libya, Arab Saudi, Brunei. Selain mengolah minyak mentah dari luar negeri, unit pengolahan Balikpapan juga mengolah minyak mentah dari Sepinggan, Handil, Sanga-Sanga, Tarakan dan Bunyu (Kalimantan Utara) dan Tanjung (Kalimantan Selatan). Hingga saat ini, pemerintah melalui Pertamina sedang menjalankan mega proyek perluasan kilang minyak di Balikpapan dengan nama RDMP (Refinery Development Master Plan) yang dapat meningkatkan kapasitas produksi minyak dalam skala yang lebih besar dari sebelumnya. 
RDMP Pertamina RU V Balikpapan, via google


***********


Tulisan ini saya kutip dari berbagai sumber, jika ada sumber yang lebih valid, saya akan dengan senang hati untuk menerima masukan. 😁

Sumber-sumber refrensi :
https://www.prosesindustri.com/2015/06/sejarah-perminyakan-kota-balikpapan.html
https://www.kompasiana.com/jurnalgemini/56f3f9c11197735109a4de24/kota-minyak-balikpapan-awal-1950-an-menurut-reportase-dua-orang-jurnalis
https://situsbudaya.id/sumur-minyak-matilda-kalimantan-timur/
http://balikpapanku.id/hari-jadi-kota-balikpapan-berasal-dari-pengeboran-sumur-minyak-mathilda/
https://id.wikipedia.org/wiki/Bataafsche_Petroleum_Maatschappij
http://handryjonathan.blogspot.com/2015/09/balikpapan-meneer-menten-kota-yang.html
https://muyhufe.wordpress.com/2012/06/18/sejarah-kota-balikpapan/

Sunday, January 15, 2017

Nyicip Makan Angkringan di Balikpapan : Little Jogja in Oil City

Baru beberapa hari lalu ni ceritanya, berawal dari perut yang minta jatah malam, ditambah oleh lidah yang mau nyoba rasa baru dan hati yang rindu (lagi) dengan Jogja, serta dompet yang udah kaya jeruk (nipis). Akhirnya kaki juga yang harus berkorban untuk berjalan mencari-cari kebutuhan tubuh. Keluar kost sambil nyari-nyari tempat, akhirnya kepikiran untuk gak makan nasi, mau beli martabak ceritanya. Nah pergilah ke tempat biasa beli martabak di dekat kost. Namun dari jauh liat bentuk yang familiar dan khas. Penasaran, makin dekat, dekat, makin kenal ni bentuknya. Masih belum puas, terus lagi, lagi lagiii dan aha! ANGKRINGAN TJOOY. Hahaha 
Angkringan duluu kita,
Pucuk dicinta ulampun tiba, kata pepatah jaman baheulak ya kan. Alhamdulillah, malam ini pas seperti apa yang dimaui badan. Perut lapar, lidah pengen rasa baru, dan hati yang (sedikit terobati) kangennya dengan Jogja. Ada angkringan, dekat ma kost lagi, luar biasa banget, #bahagiaitusederhana_banget ya. Nama angkringannya Angkringan Van Java, terletak di jalan jendral Sudirman, Balikpapan. Kalo kita dari patung Beruang Madu, letaknya sebelum pom bensin di depan Brimob. Saya mampir diangkringan dengan sumringah, melihat menunya tidak ada beda dengan angkringan di Jogja pada umumnya. Nasi kucing, gorengan, sate telur, sate usus, waaaaa, saya langsung excited kegirangan gitu, lebay. Lalu juga terdapat fasilitas bakar-bakar, bagi kita yang kembali ingin merasakan hangatnya makanan. Saya mengambil 2 nasi kucing, tempe goreng dan sate, minumnya air putih (wajib) dan teh anget. 
Jadi Kangen Jogja, :')
Rasa makanannya pun tak jauh beda, sambal nasi kucingnya juga mirip. Tambah lagi dengan lokasinya dipinggir jalan, ah jadi makin baper dengan Jogja ni. Mas-mas penjualnya (mungkin juga yang punya) orang jawa ni mesti. Jadi rasanya pas gitu bagi saya yang bertahun-tahun tinggal di Jawa. 
Menu ala angkringan yang kompliiit
Yah, angkringan, alternative makan para pencari ilmu di Jogja. Ada yang bilang angkringan is the cheapest fast food in Indonesia. Simpel dan mengenyangkan, murah pula. Emang kan, sekali makan paling total 10 ribuan, udah nasi, gorengan, es teh tu. Dulu sih sama bos di kampong, saya tidak diijinin makan di angkringan, namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, larangan itu dicabut, hha. Di angkringan juga kadang-kadang ide-ide kreatif diciptakan oleh para pemikir hebat ketika mereka sedang bertukar fikiran ditempat ini. Saling sapa degan teman sebelah yang tak saling kenal awalnya, karena bangkunya emang sempit, jadi terpaksa berbagi tempat duduk, sambil silaturahim kan, kali aja nemu jodoh. Tapi itu di Jogja dulu, lain di Balikpapan, saya tidak punya teman untuk ngobrol, nongkrong dan bertukar fikiran. Hanya bisa menyantap sajian makanan sederhana ini dengan diam, sepi. Ah, pengen sekali rasanya kembali ke Jogja, jika ada kesempatan nanti. 
The cheapest fast food ini Indonesia : Angkringan
Sebelum pulang saya mengambil beberapa gambar, untuk dipostingkan kelak. Saat hendak membayar, rada kaget dengar harga yang dibilang mbak-mbaknya yang jaga. Tadi saya makan 3 nasi kucing, gorengan, sate usus, air putih dan es teh : 20rb. Kaget sebentar, namun segera bangun dari lamunan karena sadar bahwa ini di Kalimantan yang apa-apa harga agak mahal, hhe. Tapi worth it lah untuk mengisi perut dan mengobat rindu akan Jogja. Dan saya bakal sering ni kesini. :)

Cerita Pickleball di Natuna: Gema "Tiktok" di Ujung Utara

Sudah empat episode cerita pickleball yang saya tulis di blog ini, mulai dari  sejarah kelahirannya ,  momen ekspansinya ,  gerakan era mode...